“Happy New Year,” ucap Hyejin begitu melihatku membuka mata meskipun baru separuh. “Selamat pagi, tampan. Aku mau sarapan. Kau mau ikut atau mau tidur lagi?”

Aku melihat Hyejin sudah rapi dengan kaus dan celana pendeknya serta rambutnya yang diikat ekor kuda. Wajahnya juga sudah bersinar dengan bantuan sedikit polesan bedak dan lipstik. Wangi parfumnya sudah menguar di seluruh ruangan ini tapi aku tahu sebenarnya dia belum mandi. Jangan tanya bagaimana aku bisa tahu. Itu hanya akibat dari kebersamaan yang terlalu sering.

“Humm… Aku mau ikut sarapan tapi aku belum mandi,” jawabku tanpa ada niat sama sekali untuk melepaskan diri dari tempat tidur ini.

“Eat first, bath later. Kajja!” Sahutnya sambil menarikku bangun. Setelah ia berhasil, ia melemparkan kaus dan celana jeans dari koperku. “Ganti dulu pakaianmu.”

Aku pun segera mengganti piyama tidurku dengan baju yang baru saja dilemparkan Hyejin kepadaku. Setelah itu aku pergi ke kamar mandi untuk gosok gigi dan cuci muka sekedarnya. Aku sudah merasa cukup rapi ketika keluar dari kamar mandi tapi tampaknya Hyejin berkata lain.

“Ya Tuhan, kenapa rambutmu tidak pernah bisa rapi sih?” Omelnya lalu berdiri di atas kakiku untuk meraih kepalaku dan menyisir rambutku, yang entah kenapa selalu berantakan, dengan jari-jari tangannya.

Melihatnya yang begitu dekat denganku, tidak kusia-siakan kesempatan untuk menciumnya. “Morning kiss,” kataku setelah berhasil menciumnya.

Hyejin tersenyum cantik sekali.

“Nah, kalau rapi begini kan kau jadi jauh lebih tampan,” katanya kemudian melihat hasil sisiran tangannya.

Aku tersenyum bangga seolah aku adalah pria yang yang paling tampan di dunia ini. Aku tahu aku mungkin akan berada di peringkat 321.988.698 pria tertampan dari sekian milyar pria di dunia ini tapi bagiku ketika Hyejin mengatakan aku tampan, aku seperti berada di posisi pertama.

“Ayo kita turun ke bawah. MinAh dan Eric Oppa sudah menunggu. Selesai sarapan mereka akan langsung berangkat ke Mesir untuk bulan madu,” kata Hyejin sambil menggandengku keluar kamar.

“Mesir?” Tanyaku bingung. Dari sekian banyak negara di dunia ini kenapa harus Mesir? Mereka akan bulan madu. Itu artinya mereka membutuhkan suasana-suasana yang romantis untuk menghidupkan mood mereka. “Mesir?!” Tanyaku sekali lagi.

Hyejin menganggukkan kepalanya. “Iya, mesir. Kau heran ya? Aku juga heran. Tadinya malah Eric Oppa memberikan ide untuk ke Afrika Selatan,” ujar Hyejin membuatku geleng-geleng kepala.

“Pasangan gila,” gumamku.

“Aku setuju denganmu kali ini, Kyu,” sahut Hyejin membuatku menyengir kuda. Aku sengaja mengecilkan suaraku dengan maksud agar Hyejin tidak mendengarnya karena biasanya ia akan marah kalau aku mengatai temannya tapi rupanya kali ini ia sependapat denganku.

Eric hyung dan MinAh noona akhirnya menikah juga. Setelah perdebatan panjang dan pertengkaran nyaris setiap hari, pasangan paling tua itu akhirnya berhasil mengucapkan janji setia sehidup semati di depan seorang pendeta dan beberapa ratus tamu undangan yang merupakan keluarga dan teman-teman dekat mereka. Setelah menunggu selama 6 bulan, Eric hyung dan MinAh noona akhirnya mendapatkan tanggal untuk melaksanakan resepsi pernikahan mereka. 31 Desember. Pesta pernikahan sekaligus pesta malam tahun baru. Mereka membuatnya sangat meriah. Sayang aku tidak mengikutinya sampai selesai. Aku tidak tahu jam berapa pestanya berakhir karena pada saat aku kembali ke kamar jam setengah 3 pagi, Eric hyung masih semangatt ber-DJ untuk pestanya sendiri.

“Selamaaaaat pagi!!!” Sapa Hyejin dengan ceria kepada ketiga temannya yang sudah duduk dengan manis dengan sarapan mereka masing-masing. Kurang Jihyo dan Woobin. Kalau mereka tidak perlu dipertanyakan. Jam segini mereka pasti masih tidur. Menurut waktu bagian Korea Selatan sekarang sudah jam 8 pagi tapi menurut waktu bagian Jihyo dan Woobin mungkin masih jam setengah 5 pagi.

Hyejin mengambil sarapan ke bagian makanan para bule sedangkan aku ke bagian tradisional Korea. Kami bertemu kembali di meja makan dan aku menyadari bahwa mereka, para wanita, rela berkumpul sepagi ini setelah tidur nyaris pagi juga ternyata bukan untuk sarapan melainkan mengobrol.

“Min, bagaimana malam pertamamu? Memuaskan? Sakit tidak?” Tanya Hyejin tanpa basa-basi membuatku nyaris tersedak mendengarnya. Astaga perempuan ini! MinAh tersenyum malu-malu sedangkan HyunAh dan Hamun mengikik geli. Eric hyung? Tidak usah ditanya. Dia tetap santai memakan sarapannya.

MinAh kemudian berbisik kepada ketiga sahabatnya itu. Aku tidak dapat mendengarnya.

“Andweee!!” Seru Hyejin dengan suara cemprengnya itu yang beruntung tidak sampai menggemparkan seluruh isi restoran ini. “Ayolaaaah Min, ceritakan pada kami… Iiiih…”

MinAh tersenyum penuh misteri. Ia menutup mulutnya rapat-rapat dan melirikku. “Kalau kau penasaran, rasakan saja sendiri, Hyejin-ah,” kata MinAh membuat tubuhku merinding.

“Ayolah, Min… Ceritakan pada kami…” Hyejin membujuk MinAh untuk menceritakan malam pertamanya dan MinAh masih bersikeras menutup mulutnya. Hyejin terus memaksa.

“Aku bilang rasakan saja sendiri nanti! Kalau aku ceritakan saja, tidak ada gunanya, Song Hyejin-ssi,” ucap MinAh dengan gigi gemeretuk saking kesalnya dengan pemaksaan Hyejin. Aku tahu kekasihku ini memang keras kepala.

“Hissssh!!! Kalau aku mau merasakannya berarti aku harus menikah dulu. Padahal aku belum ingin menikah. Hissssh!!!” Cerocos Hyejin.

Donghae hyung dan Hamun yang baru kembali dari mengambil makanan langsung menimpali. “Kalau gitu kenapa tidak menikah saja?” Tanya Donghae hyung.

“Kan sudah aku bilang, aku belum mau Donghae Oppa sayang,” jawab Hyejin.

“Kalau begitu kalian lakukan saja dulu baru menikah,” kata Donghae hyung sambil menunjuk aku dan Hyejin bergantian.

Hyejin memandangku dengan matanya yang menggoda. “Memangnya aku mau menikah denganmu, Kyu?”

“Kalau bukan denganku, memang ada pria lain yang mau menikah denganmu?”

“Banyak. Mau kusebutkan satu-satu?”

Sial. Perempuan ini memang suka sekali menggodaku dan ia tahu hal-hal yang bisa dia jadikan bahan godaan. “Jangan pernah menyebutkan nama mereka,” ancamku lalu menciumnya dengan mesra, tidak peduli mata-mata yang menatap kami dengan muak.

“Aku tidak percaya kalian tidak pernah melakukannya,” kata HyunAh tiba-tiba.

“Aku tidak pernah melakukannya, Jung HyunAh. Yang pernah kami lakukan hanya berciuman, pelukan, bergandengan tangan,…”

“Tidur bersama?”

“Ya, hanya tidur bersama tapi tidak melakukan apapun.”

“Don’t lie to us. Aku pernah melihat kissmark di dadamu. Tidak mungkin kalian tidak pernah melakukannya,” kata MinAh.

Hyejin mencoba mengelak dan semakin ia mengelak, semakin banyak rahasia-rahasia hubungan kami yang akan terungkap. Terpaksa, aku menyuapkan seiris roti dan telur dadar untuk menutup mulutnya.

“Kau terlalu banyak bicara, Song Hyejin-ssi. Kau mau membocorkan semua kehidupan kita kepada mereka?” Bisikku sedikit kesal.

Mata MinAh, HyunAh, Hamun, Donghae hyung dan Henry kini sudah beralih menatap aku dan Hyejin. Mereka menatap kami seolah menunggu pernyataan-pernyataan lanjutan akibat mulut besar si Hyejin. Eric hyung? Dia sedang mengambil sarapan ronde kedua.

“Jadi kalian sudah pernah melakukannya?” Tanya Donghae hyung.

Aku menatap kesal Hyejin. Dia terlalu banyak bicara sehingga tanpa sadar membocorkan apa yang seharusnya tidak perlu diketahui orang lain. Lima pasang mata itu masih menatap kami dengan intens, menuntut jawaban.

Bodohnya, Hyejin menganggukkan kepalanya. “Hanya sekali,” sahutku dan aku tidak yakin mereka akan mempercayainya. Aku tidak ingat sudah berapa kali kami melakukannya tapi tidak sering. Masih bisa dihitung dengan jari. Percayalah.

“Sejujurnya aku akan lebih tertarik kalau kalian belum pernah melakukannya. Melihat kelakuan kalian setiap hari, aku justru akan heran kalau kalian tidak pernah melakukannya,” kata MinAh yang sudah kembali mengalihkan perhatiannya kepada salad di atas piringnya, diikuti oleh Henry.

Tersisa HyunAh, Hamun dan Donghae hyung yang masih tertarik dengan pengakuan kami.

“Kapan pertama kali kalian melakukannya?”

“Apa tadi malam kalian juga melakukannya?”

“Bagaimana rasanya?”

Ketiga manusia itu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sama sekali tidak ingin aku jawab. Aku tidak marah. Aku hanya tidak ingin menjawabnya karena mengingat hal itu, membuatku merinding dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Sudah aku bilang kami melakukannya hanya sekali,” kataku sebal namun Hyejin dengan gamblang menjawabnya, bahkan sambil tertawa-tawa, “Aku tidak ingat kapan pertama kali melakukannya, yang pasti waktu itu kami sedang bertengkar hebat lalu minum dan berakhir begitu saja di tempat tidur.”

“Siapa yang berinisiatif?” Tanya HyunAh.

“Dia yang memintanya,” jawab Hyejin sambil menunjukku.

“Yaa… Kau yang menggodaku,” sahutku tidak terima.

“Benarkah?” Hyejin berusaha mengingat kejadian itu lalu dengan santai dia memberikan jawaban, “Aku tidak ingat lagi. Semua terjadi begitu saja.”

“Mwo? Jinjja? Kalian hanya melakukannya satu kali? Maldo andwe!” Tanya Donghae hyung dengan wajah innocent-nya yang menggemaskan itu.

“Serius, Oppa! Kami hanya melakukannya sekali itu! Ya Tuhan… Kenapa tidak percayaan begitu sih?” Tentu saja mereka tidak akan percaya melihat wajah Hyejin yang justru berkata sebaliknya.

“Kelakuan kalian tidak mencerminkannya soalnya,” kata Donghae Oppa.

“Sialan kau, Oppa.”

Harus aku akui, hampir segala sesuatu yang terjadi antara aku dan Hyejin berjalan natural. Keinginan-keinginan yang muncul dalam diri kami juga muncul begitu saja. Ketika aku berada dekat dengannya, tidak ada satupun bagian tubuhku yang ingin menjauh darinya begitu juga sebaliknya. Hal ini mengakibatkan aku dan Hyejin menjadi memiliki terlalu banyak skinship sampai aku tidak tahu sudah berapa kali aku memeluk Hyejin atau menciumnya atau kadang-kadang melakukannya.

“Lalu apa eonni menyesal?” Tanya Hamun ikut-ikutan.

Hyejin menggelengkan kepalanya dengan mantap. “Karena ternyata aku tidak pernah hamil,” jawab Hyejin dengan senang hati.

Aku menjambak pelan rambutnya. “Seharusnya aku menghamilimu sehingga kita bisa menikah,” kataku, penuh penyesalan.

“Konsepmu terbalik sayang. Yang ada, orang itu menikah dulu baru hamil. Bukan hamil dulu baru menikah. Kau mau membuat namaku jelek di mata orang-orang?” Ujar Hyejin.

Aku tidak peduli. “Salahmu sendiri kenapa tidak mau menikah denganku,” sahutku kesal. “Seharusnya aku menghamilimu sehingga setidaknya aku punya alasan untuk mengikat kau dengan bertanggung jawab menikahimu!”

Donghae hyung memandang Hyejin dengan heran. “Iya, kenapa kau tidak mau menikah dengan Kyuhyun?” Tanya Donghae hyung.

Hyejin sudah membuka mulutnya untuk seribu alasan yang sudah aku dengar seribu kali. Dengan terpaksa aku membungkam mulutnya dengan setusuk daging bacon ke mulutnya. “Donghae hyung, sebaiknya kau memikirkan urusanmu sendiri. Apa kau sudah menyatakan cinta pada Hamun?” Tanyaku. Skakmat.

Donghae hyung menundukkan kepalanya sedangkan Hamun hanya tersipu malu-malu. Hamun mengelus punggung Donghae hyung dengan lembut. “Donghae Oppa sudah menyatakannya padaku semalam waktu pergantian tahun. Ia memberikan cincin ini untukku,” kata Hamun sambil memamerkan cincin di jari manis kanannya. “Romantis sekali kan?” Lanjut Hamun lalu mencium Donghae hyung dengan mesra membuat kami melongo menatap pasangan baru itu.

Kkeut!
—-