By @gurlindah93

 

“SS-yaaaa ini ketinggalan… Kamu ini kenapa selalu sembrono, lupa dengan barang milikmu” teriak Eric memanggilku saat aku sedang menunggu lift sambil terisak.

Aduh, kenapa liftnya lama sekali sih. Masih di lantai 21. Tidak, aku tidak mau menoleh, aku tidak mau dia melihatku menangis lagi.

“SS-yaaa” Eric berjalan mendekatiku. Dengan tidak sabar aku memencet-mencet tombol lift yang kutahu tidak ada gunanya. “Aiiiiisssshhh lift bodoh” omelku.

“SS-yaaa wae geurae?” dengan sedikit memaksa Eric memegang bahuku dan membuatku berhadapan dengannya.

“Kenapa menangis?” tanyanya. Aku tidak menjawabnya hanya menggeleng. Aku juga tidak tahu kenapa aku menangis. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku akhir-akhir ini.

“Kamu menangis gara-gara aku? Gwenchana… Terima kasih karena sudah menemaniku malam ini sehingga aku merasa lebih baik.. Thank you Park MinAh-ssi” ucapnya dengan lembut, baru kali ini aku mendengar sisi lain dari Eric Mun.

“Ne” sahutku dengan masih terisak.

Kemudian Eric mengelus-elus rambutku yang berhasil membuatku cukup tenang.

Lalu tiba-tiba dia memelukku. Aku tahu dia memelukku untuk menenangkanku, tapi sayangnya berada di pelukannya malah membuat tangisku pecah, aku menangis tersedu-sedu di pelukan bossku.

Tring.

“Liftnya” bisikku di tengah tangisan yang menderu. Lift yang kutunggu-tunggu akhirnya datang, aku bisa merasakan beberapa orang keluar dari lift.

“Biarkan, nanti juga terbuka lagi” balasnya santai.

Kami berdua saling berpelukan untuk beberapa saat. Sama seperti saat dia menggendongku saat aku sakit, sekarang aku juga merasa nyaman berada di pelukannya.

“Sajangnim sudah boleh melepaskanku sekarang” pintaku karena aku bisa mendengar beberapa langkah kaki berjalan mendekati kami. Aku tidak ingin siapapun yang melihat kami akan salah paham, terutama tetangga Eric.

“Shireo. Kamu belum menghentikan tangismu” tolaknya. Memang sudah tidak ada isakan terdengar dari mulutku, tapi air mataku masih keluar dan mungkin dia merasakannya karena t-shirtnya basah oleh air mataku. Jika dulu aku membasahi kemejanya dengan keringatku kini aku membasahi t-shirtnya dengan air mataku. Park MinAh, kamu sungguh merepotkan.

Setelah pintu terbuka untuk kelima kalinya dan berpuluh-puluh orang melewati kami, barulah aku bisa menghentikan air mataku.

“Sajangnim, air mataku sudah berhenti. Sungguh” kataku.

Dia melepaskan pelukannya dan memeriksa mataku “Aaaaaahhh jota.. Park MinAh pintar. Tolong jangan menangis lagi ya, apalagi gara-gara aku. Nanti akan kutraktir fettuccine salmon agar kamu tidak menangis lagi, bagaimana?” ucapnya. Memangnya aku anak TK?

“Sajangnim… Aku sudah dewasa, kenapa kamu memperlakukanku seperti anak TK? Menawarkan makanan agar aku tidak menangis. Apa-apaan itu” omelku.

“Yaaaaaa aku sudah berbuat baik menawarkan akan mentraktirmu tapi kamu malah mengomel. Dasar berisik” sahutnya dengan nada yang biasa dia gunakan bila berbicara denganku. Aku lega. Aku berharap dia akan selalu menggunakan nada seperti ini agar aku selalu ingat kalau aku adalah sekretaris Park.

“Sajangnim sih mengingatkan pada fettuccine salmon yang belum kuhabiskan” beradu argumen dengannya membuat garis pembatas di antara kami menjadi jelas kembali.

“Oleh sebab itu aku menawarkan untuk membelikanmu makanan itu lagi. Aaaahhh bicara denganmu selalu membuatku kesal” gerutunya. “Sama” balasku.

“Dasar… Ini ketinggalan, kalau pergi dari suatu tempat jangan lupa untuk mengecek semua barang-barang pribadimu. Bagaimana kalau ketinggalan di tempat umum?” Eric menyerahkan smartphoneku masih sambil menggerutu. Dasar ahjussi berumur 5 tahun.

“Omo, gamsahamnida sajangnim. Aigoo, aku tidak bisa membayangkan kalau aku berpisah darinya” aku mengelus-elus smartphoneku dengan penuh kasih sayang.

“Ckckck.. Pulanglah” ujarnya dengan nada mengusir. “Yaaaa tadi sajangnim yang tidak memperbolehkanku pulang” aku mengingatkan kalau dia yang menahanku agar tidak pulang.

“Yaaaaa aku tidak ingin kamu pulang dari apartmentku dalam keadaan menangis. Nanti orang-orang berpikir kalau aku bertindak kejam sampai sekretarisku menangis” aku tertawa mendengarnya.

“Memang sajangnim kan selalu bertindak kejam padaku, biar orang-orang tahu kalau sekretaris Park disuruh bekerja rodi oleh CEO Shinhwa mall. Hahahahahaa” Eric terdiam sebentar kemudian ikut tertawa.

Tring.

“Aku pulang sajangnim. Sampai bertemu besok” pamitku. Dia hanya mengangguk lalu kembali ke apartmentnya.

Di dalam lift aku mengambil surat pengunduran diriku kemudian merobeknya, aku tahu apa yang akan aku lakukan dan aku tidak akan menyesalinya.

Sampai di rumah aku langsung ke kamar Jungsoo oppa “Oppa!!!! Mianhae, aku tidak jadi ikut ke Athena. Jeongmal mianhae” kataku lalu langsung ke kamarku karena tahu apa yang akan terjadi.

“Park MinAh!!!!!!!!!!!!!!!” teriak Jungsoo oppa dengan penuh amarah sambil menggedor pintu kamarku yang sudah kukunci terlebih dahulu.

***

Dengan membawa kembali kardus berisi barang-barang yang kemarin kubawa pulang, aku masuk kantor diiringi pandangan ditambah bisikan dari pegawai-pegawai yang bertemu denganku.

“Apa benar sajangnim dan sekretarisnya pacaran?”

“Oooohhh jadi selama ini mereka selalu beradu mulut untuk menutupi hubungan di antara mereka”

“Aku kira sajangnim pacaran dengan PAnya, ternyata pacaran dengan sekretarisnya”

“Mereka sama-sama chaebol, tentu saja mereka saling jatuh cinta”

“Aku harus datang saat mereka menikah”

Itu baru sebagian omongan yang kudengar dari mulut mereka.

Aku yakin kejadian saat di tempat parkir karaoke sudah menyebar bahkan sampai mall sebelah. Ini semua gara-gara Eric yang tidak berpikir panjang sebelum memaksaku pergi dengannya di depan semua orang kemarin. Aiiissshhh pria itu selalu saja kekanakan.

Sambil menggerutu di dalam hati aku kembali menata barang-barangku di meja kerjaku.

“MinAh-yaaaa” Park JiAh tiba-tiba saja sudah berdiri di depanku bersama Kim SoEun.

“Omo, annyeong.. Apa kabar?” aku menyapa sekretaris seniorku.

“Eonni, seharusnya eonni memanggilnya MinAh-ssi, dia kan kekasih sajangnim” bisik SoEun dengan suara yang bisa didengar dalam jarak 5 meter.

Aku memaksakan diri untuk tersenyum “Gwenchana eonnideul, aku kan sudah kalian perbolehkan memanggil eonnideul jadi kalian panggil saja aku MinAh”

“Arraseo… Jadi……” kata JiAh lalu mendekatkan kepalanya ke arahku diikuti oleh SoEun. “Apa gossip itu benar?” tanya JiAh dengan tatapan sangat ingin tahu.

“Gossip apa?” aku tanya balik. Tentu saja aku tahu maksud dari penggosip-penggosip ini.

“Apa… MinAh benar-benar memilki hubungan dengan sajangninm?” SoEun bertanya dengan ragu-ragu. Kadar penggosip di dalam diri SoEun memang tidak setinggi JiAh, aku merasa kalau JiAh adalah guru bagi semua pegawai di sini. Master of gossip.

Beruntung aku diselamatkan dari pertanyaan mereka “Sajangnim” panggilku saat melihat bossku baru datang.

“Sajangnim” sapa JiAh dan SoEun dengan canggung.

“SS, masuk” perintahnya.

“Mianhaeyo eonnideul, aku harus masuk. Biasa, perintah boss. Nanti kita lanjutkan lagi ya” segera saja aku masuk ke ruangan Eric setelah berbohong pada mereka. Tentu saja aku akan menghindari mereka agar mereka tidak memberondongku dengan pertanyaan yang aneh-aneh. Walaupun itu hanya gossip tapi aku malas menjawab atau mengklarifikasi pertanyaan mereka.

“Sajangnim!!!! Sajangnim tahu apa yang harus kualami pagi ini??? Semua orang menggosipkan kita!!! Bahkan aku dengar ada yang bilang kalau aku sudah hamil dan sajangnim ingin aku menggugurkan kandungan. Kalaupun itu benar aku tidak akan pernah menggugurkan anakku dengan alasan apapun. Never!” omelku dengan berapi-api. Melakukan aborsi? No way!

“Yaaaaaaa aku sudah menyelamatkanmu entah untuk keberapa kalinya dan kamu tidak mengucapkan terima kasih padaku tapi langsung mengomel tidak jelas. Lagipula siapa yang mau punya anak denganmu????” semburnya.

Ah iya, aku lupa bilang terima kasih “Gomawoyo sajangnim. Hehe… Tapi apa yang harus kita lakukan? Aaaahhhh kenapa mereka suka sekali bergosip sih?” aku tidak menyangka kejadian tadi malam cepat sekali menyebar.

“Biarkan saja, lama-lama juga hilang. Dulu aku pernah digosipkan pacaran dengan aktris terkenal hanya gara-gara kami tidak sengaja bertemu saat dia belanja di sini” ujar Eric dengan santai.

“Jinjja?” aku tidak percaya dia pernah digosipkan dengan aktris terkenal.

“Aaaahhh berisik. Sana kembali bekerja, banyak sekali pekerjaan hari ini. Hari ini ada 2 rapat kan?” apa benar hari ini ada 2 rapat? Karena aku tidak menyangka akan tetap bekerja di sini jadi aku tidak  mengecek jadwal bosskku hari ini.

“Aaaahhh ne…” jawabku tidak yakin.

“Ohya, siang ini aku ingin makan jajangmyeon dari restaurant China di sini” katanya.

“Hah?” lalu apa hubungannya denganku? Kalau mau makan ya makan saja.

“Mulai sekarang kamu merangkap sebagai PA. Tugas PA paling utama adalah menyiapkan makan siang untukku. Coba kamu lihat catatan yang dibuat Yoomi di ruangannya” jelasnya. Ah iya, mulai hari ini aku akan menjadi PAnya selama kami belum menemukan PA baru.

“Ah ne.. Lalu sajangnim, apa aku boleh menggunakan ruangan Yoomi-ssi?” tanyaku dengan pandangan memohon.

“No” jawabnya pendek tanpa menoleh padaku.

Aku mendengus kesal lalu mulai bekerja. Park MinAh fighting!

Setelah mendapat beberapa pengarahan dari Yoomi melalui pesan aku sudah mulai terbiasa melakukan pekerjaan PA. Sejak dulu aku memang quick learner hahaha.

Saat istirahat makan siang aku segera ke restaurant China di lantai 3 Shinhwa mall untuk membeli jajangmyeon pesanan Eric. Mencium baunya yang sedap aku memesan 1 lagi untuk diriku sendiri.

“Anda PA sajangnim? Tumben langsung beli di sini” ujar kasir yang melayaniku. Hmmmm sepertinya sajangnim belum pernah membeli makanan di sini. “Ah ne” aku hanya tersenyum mengiyakan. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk mendapatkan pesanan bossku.

“Sajangnim aku sudah membeli jajangmyeon pesananmu” kataku lalu meletakkan makanan pesanannya di mejanya.

Eric yang sedang bermain game berhenti lalu menatapku dengan heran.

“Waeyo?” tanyaku tidak mengerti.

“Apa kamu membelinya di restaurant lalu membawanya ke sini? By yourself?” pertanyaan macam apa itu, tentu saja aku yang membeli dan membawanya ke sini. By myself.

“Yes” sahutku dengan bangga.

Tawanya meledak. “Hahahahahhahahaaa Park MinAh babo. Jinjja. Untuk apa gelar MBA di belakang namamu kalau kamu sangat bodoh seperti ini. Huahahahahahahahahaaa” Eric tertawa terbahak-bahak sampai menangis.

“Waeyo? Sajangnim…. Jawab aku” rengekku. Aku penasaran apa yang membuatnya tertawa seperti ini. Tidak ada kesalahan apapun yang kulakukan hari ini.

Aku melihatnya tertawa terus selama sekitar 10 menit kemudian barulah Eric bisa mengendalikan diri.

“Apa kamu sudah menghubungi Yoomi? Bertanya apa tugas-tugasmu?” Eric mengajukan pertanyaan yang bodoh.

“Tentu saja aku sudah menghubungi Yoomi-ssi, dia memberitahu apa yang harus kulakukan dan aku sudah melakukan semua” jawabku dengan percaya diri.

“Apa kamu bertanya apa yang harus kamu lakukan untuk mendapatkan makan siang yang kuinginkan?” ckckck sepertinya pikiran bossku ini sedang terguncang karena baru saja patah hati.

“Tentu saja membelinya. Sajangnim, hal seperti itu tidak perlu dijelaskan. Anak kecil saja tahu bagaimana cara membeli makanan. Kita datang ke restaurant, memesan, membayar, lalu membawa pulang” ucapku kesal.

“Apa kamu belum pernah mendengar delivery order? Fyi delivery order artinya pesan antar” untuk apa dia menjelaskan apa itu delivery order.

“Tentu saja sajangnim. Delivery order, kita tinggal angkat telpon lalu memesan apa yang kita inginkan…. Lalu diantar langsung ke kita…..” ups, aku baru menyadarinya. Park MinAh memang bodoh.

“Aku sudah tidak sanggup tertawa lagi. Pergilah, aku tidak ingin melihat wajah bodohmu” usirnya.

Dengan linglung aku meninggalkan ruangan Eric. Kenapa tidak terpikir olehku untuk menggunakan jasa delivery order ya?

Pantas tadi kasir di restaurant itu menanyakan hal yang aneh, ternyata maksudnya tumben sajangnim langsung membeli di restaurant dan tidak menggunakan jasa delivery order. Aaaahhh Park MinAh stupid!

Kubawa jajangmyeonku ke ruangan Yoomi, kugeledah sekali lagi mejanya dan menemukan ratusan nomer telepon restaurant dengan tulisan ‘Let’s Order Here^^’. Aku memakan jajangmyeonku dengan pikiran kacau.

‘SS, setelah istirahat temani aku berkeliling’ pesan dari Eric. ‘Ne sajangnim’ balasku.

Setelah menghabiskan makan siang yang tidak terlalu kunikmati aku mengerjakan beberapa tugas sebelum menemani boss titan berkeliling. Aku heran dengan hobbynya yang berkeliling mengecek store padahal dia bisa menyuruh pegawainya untuk melakukan hal remeh ini.

Tepat jam 1 siang dia keluar dari ruangannya, tanpa bertanya aku segera mengikuti. 3 bulan bekerja bersama Eric membuatku bisa menyeimbangi langkah kakinya yang panjang. Practice makes perfect,

Untuk store ketiga kami mengunjungi store busana pria terkenal, appa dan Jungsoo oppa sering membeli pakaian dengan merk ini. Aku melihat-lihat mungkin ada kemeja atau sweater yang cocok untuk Jungsoo oppa sebagai permintaan maaf karena sudah membatalkan perjalanan kami ke Athena.

“MinAh? Park MinAh” panggil seseorang yang suaranya tidak asing bagiku.

Andwae, tolong jangan dia. Tolong jangan dia. Kumohon bukan dia Tuhan.

Aku berbalik dan mendapat kenyataan yang mengerikan.

“Ilwoo? Jung Ilwoo” aku pura-pura terkejut saat melihat mantan kekasih yang terakhir kupacari berdiri di depanku. Dari semua mantan kekasihku, Jung Ilwoo berada di urutan terakhir pria yang ingin kutemui.

“MinAh… Ternyata benar kamu.. Aku agak ragu melihat outfitmu hari ini… Kamu terlihat…. Professional” Ilwoo memperhatikanku dari atas sampai bawah.

Aku menyengir dengan canggung.

“Kenapa kamu tidak pernah membalas pesanku atau mengangkat teleponku? Tapi kamu baik-baik saja kan? Tidak ada yang buruk terjadi padamu? Aku sungguh mengkhawatirkanmu” ujar Ilwoo dengan nada cemas.

“I’m fine Ilwoo-yaa.. Tidak ada yang berubah dariku, masih Park MinAh seperti yang dulu kamu kenal” aku tidak ingin bercerita kalau aku sudah bekerja apalagi bekerja di sini. bisa-bisa setiap hari dia kemari untuk menemuiku. Sudah cukup aku diteror olehnya selama 3,5 bulan. 3,5 bulan yang mengerikan.

“Syukurlah.. Aku benar-benar ingin menemuimu, mencoba menjalin hubungan lagi denganmu. Apalagi kamu terlihat semakin cantik MinAh, terlihat dewasa dan bahagia” terlihat dewasa mungkin, dengan pakaian kerja formal ini tentu saja aku terlihat dewasa. Terlihat bahagia? Benarkah? Tapi dia bukan orang pertama yang bilang aku terlihat bahagia.

Secara otomatis aku mencari-cari Eric dan menemukan Eric berjalan mendekat. Andwae. Jangan kemari sajangnim, tolong jangan kemari. Menjauhlah.

“Tuan Jung, kemeja yang anda inginkan sudah ada. Silahkan fitting” seorang pegawai berhasil menyelamatkanku dari situasi berbahaya ini.

“Ah okay, tunggu di sini ya MinAh, aku akan segera kembali” Ilwoo beranjak pergi mengikuti pegawai yang tadi menyuruhnya fitiing.

Dengan kecepatan cahaya aku segera menghampiri Eric “Sajangnim, kajja” ajakku dengan cemas. Aku memegang tangannya lalu menariknya pergi sejauh mungkin dari store itu.

“MinAh, MinAh. Mau ke mana? Tunggu aku” Ilwoo berteriak dan membuat langkahku semakin cepat.

“Yaaa yaaaaa. Ada apa ini? Siapa dia?” tanya Eric kebingungan. “Mantan kekasihku. Sudah jangan banyak tanya, kita harus menemukan tempat untuk sembunyi” aku mencari-cari tempat untuk bersembunyi tapi semuanya begitu terbuka. Kulirik ke belakang  dan kulihat Ilwoo sedang mengejar kami. Aduh kenapa mall ini tidak punya tempat untuk bersembunyi sih.

Tiba-tiba Eric berhenti dan menarik tanganku mengikutinya berjalan ke arah Ilwoo “Yaaaaa sajangnim, jangan ke sana. Kita harus menjauhinya” tolakku. Aku berusaha menariknya ke arah sebaliknya untuk menjauh dari Ilwoo tapi tenaganya 5 kali lipat lebih kuat daripada tenagaku.

“Masuk” perintahnya. Eric membuka pintu bertuliskan ‘Janitor’ kemudian mendorongku masuk ke dalam, dia ikut masuk dan berdiri di depanku.

Ternyata ruangan ‘Janitor’ ini adalah ruangan berukuran 2m x 2m yang dipenuhi alat-alat kebersihan sehingga sebenarnya tidak ada tempat lagi bagi 2 orang berada di sini.

“Gwenchana?” bisiknya. Desahan nafasnya bisa kurasakan di telingaku karena kami berdiri sangat dekat. Bukan, bukan sangat dekat, tapi menempel. Aku bisa mencium aroma after shave dari wajahnya. Pantas saja hari ini dia terlihat sangat bersih. Dan tampan.

“Gwenchana sajangnim. Gomawo” ucapku tanpa memandangnya.

Aku merasa detak jantungku meningkat 3 kali lipat dan aku yakin bukan akibat dari berlarian untuk menghindari Ilwoo.

***

tbc

Enjoy ^^