Annyeong!!!
Apa kabar semuaa? Semoga pada baik-baik dan sehat-sehat aja ya….
Hihihihi…

Sebelum author pergi ke Bangkok demi Super Show 6, author mau kasih FF. FF-nya sih gak jauh-jauh dari Kyu-Jin couple tapi nanti bakal ada cast2 lain juga kok.

FF kali ini berseri alias terbagi menjadi beberapa part yang gak panjang-panjang biar gak capek bacanya.😀

Semoga semua pada suka ya…
Mohon maaf kalau ada typo dan lain sebagainya.

Enjoy!!!
:*

—-

Woman’s side

Aku terus saja berjalan, menerobos masuk ke dalam ruangannya. Aku tidak peduli meskipun mereka melarangnya. Seorang wanita yang aku tahu adalah sekretaris memegang tangan kananku dan seorang pria yang merupakan petugas keamanan lantai itu memegang tangan kiriku. Entah mendapat kekuatan darimana, dengan sekali hentak aku dapat melepaskan tangan yang menahanku. “Nona, tuan sedang sibuk. Tidak bisa diganggu!” Seru mereka dengan wajah ketakutan untuk memperingatkanku tapi aku tidak mempedulikannya. Aku tetap memaksa masuk dan tampaknya peringatan mereka tidak sesuai dengan apa yang terjadi sebenarnya.

“Tuan, maaf. Kami tidak bisa menghentikan nona ini,” kata si sekretaris dengan buru-buru begitu aku berhasil menginjakkan kaki di ruangan ini. Aku mendengar nada ketakutan di suaranya. Si sekretaris bahkan membungkukkan badannya berkali-kali untuk meminta maaf.

Pria yang ingin aku temui ini memiliki aura dingin yang ditakuti oleh semua orang di kantornya. Aku tidak tahu itu betul atau tidak karena aku bukan orang sekantornya, aku hanya mendengar cerita. Ia mengangkat kepalanya dan menatap sekretarisnya dengan dingin. “Kembali bekerja,” katanya singkat. Si sekretaris kembali membungkukkan badan untuk pamit lalu berbalik keluar dari ruangan bos-nya ini.

Aku menatap pria ini dengan penuh cemooh. Tidak seharusnya ia bersikap sedingin itu, apalagi pada sekretarisnya yang telah banyak membantunya. Lagipula dia juga tidak sedang melakukan apa-apa. Ia hanya duduk di kursi kerjanya sambil bermain konsol game portabel-nya. Ia hanya tidak ingin diganggu karena sedang menamatkan sebuah game yang tidak pernah aku mengerti dimana letak keasyikannya.

Ia balas menatapku, seperti biasa, tatapan santai, cuek bahkan terkesan tidak peduli. Pernah ia melemparkan tatapannya yang dingin sedingin gunung es di Antartika kepadaku dan aku menjambaknya tanpa ampun serta memperingatkannya, “Kalau sampai kau berani melemparkan tatapan seperti itu lagi padaku, aku bersumpah tidak mau lagi mengenalmu!” Sejak saat itu ia tidak pernah lagi memandangku dengan dingin. Katanya sih sejak dilahirkan ia memang sudah seperti itu, entah bagaimana caranya dia bisa berubah sedikit. Sedikiiiiiit.

“Ada apa?” Tanyanya singkat lalu kembali fokus pada gadget-nya itu. See? Dia hanya berubah sedikit. Tatapannya saja yang berubah, selebihnya ia tetap begitu. Bicara seperlunya, kadang tanpa nada sehingga terkesan dingin dan dia selalu punya dunianya sendiri kalau sudah bekerja dan main game. Pria aneh.

Meskipun aku menyebutnya aneh tapi aku pikir dia adalah satu-satunya jalan keluar dari masalah yang aku hadapi sekarang. Tanpa basa-basi aku mengutarakan tujuanku yang jauh-jauh datang di sela-sela kesibukanku untuk menemuinya, “Jadi pacarku.”

Ia menghentikan kegiatannya. Diletakkannya konsol game bernama entah-apa-itu dan mengalihkan 100 persen fokusnya kepadaku. Kalau pria lain menerima tawaran seperti itu, reaksinya mungkin akan kegirangan lalu menerimaku atau bersedih penuh penyesalan untuk menolakku tapi pria ini hanya menatapku datar dan memintaku mengulangi perkataanku, “Apa kau bilang?”

“Jadi pacarku,” kataku sekali lagi tanpa ragu dan itu sukses membuatnya tertawa terbahak-bahak, setengah mengejek dan setengah menghinaku. Jangan bayangkan ia tertawa terbahak-bahak seperti orang normal tertawa. Untuk pria ini, ia bisa membuka mulutnya selebar tiga jari saja sudah memenuhi definisi tertawa terbahak-bahak meskipun suara yang keluar hanya, “Hah! Hah!”

Aku bisa memahaminya. Mana ada sih pria, pria yang masuk kategori baik-baik, yang mau pacaran dengan orang yang tidak dicintainya, meski itu sahabatnya sendiri. Sampai saat ini, aku telah mengenal pria ini 3/4 lamanya dari umurku dan aku yakini dia adalah pria baik-baik terlepas dari sikap dinginnya dan perbuatan-perbuatan menyebalkan lainnya yang sering membuatku naik darah. Anehnya, aku selalu memasukkan namanya di setiap doa-doaku.

Ia masih menatapku dan tertawa lagi untuk yang kesekian kalinya. Tawa yang masih sama menyebalkannya yang membuatku ingin menyumpal mulutnya. “Kau pasti sedang stress. Aku akan menemanimu ke psikolog begitu ada waktu kosong,” ejeknya dengan santai membuat keinginanku untuk menyumpal mulutnya meningkat 2 kali lipat. Namun teringat aku sangat membutuhkannya saat ini, aku memilih untuk mengalah.

Dengan sabar dan pelan-pelan aku menjelaskan maksudku, “Aku sedang tidak stress, teman pria-ku yang paling baik dan tampan serta bijaksana. Aku serius. Aku ingin kau menjadi kekasihku. Jebaaaal…” Pria itu hanya menatapku tidak percaya. Ia mengangkat kedua alisnya seolah berkata ‘Masih ada yang belum kau katakan. Katakan!’

Aku terpaksa membeberkan rahasiaku padanya. Aku membutuhkannya dan ia berhak tahu segalanya untuk bisa menolongku. “Aku ada sedikit masalah dengan teman-temanku. Aku hanya punya waktu 7 hari untuk bisa mendapatkan kekasih. Kalau tidak, mereka akan meninggalkanku. Kau tahu, aku tidak bisa hidup seorang diri,” kataku dengan nada memelas, berusaha menggugah hatinya. Sebenarnya aku masih punya waktu 6 hari lagi tapi karena lusa aku harus berangkat ke Bali untuk pemotretan, otomatis tenggat waktuku akan berkurang minimal 1 hari. Aku tidak mau kehilangan teman-temanku.

Pria itu kembali menatapku. Ia menatap tanpa ekspresi sehingga aku tidak bisa membaca apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan. Tiba-tiba dia tertawa makin keras. Aku ingatkan definisi tawa keras untuknya tidak sama seperti tawa keras orang-orang pada umumnya. Dia membuka mulutnya lebih lama diikuti suara ‘hah!’ yang agak lebih banyak itu sudah memenuhi definisi tawa keras a la dirinya. “Hah! Hah! Kau. Hah! Hah!Kau benar-benar sedang stress. Aku akan minta waktu kosong kepada sekretarisku besok. Aku akan mengantarkanmu ke psikolog. Aku tidak bisa kalau melihatmu gila,” katanya yang sebenarnya terdengar sedang mengejekku. Ia bangkit berdiri, tersenyum irit sambil menepuk kepalaku “Aku mau rapat. Kau pulang saja. Istirahat. Permisi.”

Ia kemudian meninggalkanku dan mengeluarkan tawanya yang aneh bin menyebalkan itu. “Dasar brengsek,” runtukku kesal. Bagaimana bisa pria itu pergi begitu saja padahal ada seorang wanita yang sedang memohon-mohon untuk menjadikannya kekasih? Aku akan menghajarnya kalau dalam seminggu ini ia masih menertawaiku seperti itu.

“Sial,” runtukku lagi yang kali ini aku tujukan tidak hanya kepada pria itu tapi juga teman-temanku yang punya ide gila super menyebalkan ini.

Ini semua berawal pada saat aku, MinAh, HyunAh, Jihyo dan Hamun sedang makan malam bersama di District 10 Bar and Restaurant, tempat kumpul favorit kami berlima. Kami berlima bersahabat. Aku, HyunAh dan MinAh teman sekampus waktu kuliah. Aku dan Jihyo teman satu sekolah waktu SMA sedangkan aku dan Hamun adalah saudara sepupu. Persahabatan kami terjadi begitu saja karena seringnya kami bertemu dan menemukan kecocokan satu dengan yang lainnya. Namanya bersahabat pasti tidak selalu mulus. Aku akui sering ada perdebatan, pertengkaran, perselisihan tapi biasanya bisa kami selesaikan dengan cepat dan baik-baik.

Kembali pada awal permasalahan bagaimana bisa aku merendahkan diriku untuk meminta seorang pria yang terkenal tampan namun dingin dan memiliki kemampuan membuat orang kesal hanya dalam waktu hitungan detik, untuk menjadi kekasihku. Anehnya, dia tetap dipuja-puja karena katanya ia sangat bijaksana. Aku mendengar cerita, kantor pria itu pernah membuat vote untuk penghargaan akhir tahun yang memang diberikan untuk pegawai-pegawai terbaik di kantor itu dan ia menyapu bersih semua penghargaan itu kecuali yang dikategorikan khusus untuk wanita. Awalnya aku tidak percaya tapi saat masuk ke ruangannya dan melihat deretan trofi-nya, aku tidak bisa menyangkal lagi. Manager of the Year. Best Employee of the Year. The Best Strategic of the Year. Favorite Male Employee of the Year. The Highest Contribution Margin of the Year. Aku melihat masih banyak lagi trofi-trofi lainnya tapi aku tidak sanggup mengingatnya.

Pada saat itu, aku sedang makan malam bersama dengan keempat sahabatku dan tiba-tiba datang seorang pria yang menurut kami berlima tidak akan ada yang mampu untuk menyangkal ketampanan dan daya tarik pria itu. Pria itu hanya memakai kemeja biru kotak-kotak dan celana jeans serta tatanan rambut yang dia biarkan jatuh begitu saja menutupi keningnya namun pesonanya sudah menyihir kami semua. Aku, MinAh, HyunAh, dan Jihyo tidak ada yang berkedip menatap pria itu. Kami menatapnya seolah ingin menelanjanginya dan menyentuh seluruh bagian tubuh pria itu. Berbeda dengan Hamun yang hanya menundukkan kepala, memainkan sumpit dan garpunya untuk mengalihkan salah tingkahnya.

Pria itu datang menghampiri kami berlima di saat kami sedang tertawa lepas cekikikan seperti wanita yang tidak pernah diajarkan tata krama saat sedang makan. “Boleh aku duduk di sini?” Tanyanya. Pria setampan itu minta duduk bersama kami. Siapa yang sanggup menolaknya? Seketika mulut kami berlima tertutup. Aku bisa membayangkan betapa bodohnya wajah kami saat itu. Kami melongo dengan mulut menganga habis-habisan melihatnya. Terlebih saat ia tertawa kecil melihat reaksi kami. Aku pikir aku akan pingsan saat itu juga.

Jihyo menjadi orang pertama yang berhasil menguasai diri. “Silahkan, Oppa. Kebetulan masih ada satu kursi kosong,” katanya kepada pria itu yang kemudian duduk di kursi yang kebetulan berada di sebelahku dan berseberangan dengan gadis yang paling muda di antara kami, Kang Hamun. Hamun hanya diam, menatap piringnya yang sudah kosong dengan wajah yang memunculkan semburat-semburat merah di wajahnya. Ia tidak berani mengangkat kepalanya untuk menatap pria di hadapannya meski hanya beberapa detik. Ia pasti sedang sangat malu. Aku berani taruhan, jantungnya pasti sedang berdebar tidak karuan. Aku tertawa geli melihat tingkahnya. Wanita kalau sedang jatuh cinta sangat menggemaskan.

“Hai,” sapanya kepadaku dan aku baru menyadari pria ini sedang menatapku, entah sudah berapa lama. Aku menoleh padanya dan mendapati ia sedang tersenyum kepadaku.

“Hai,” balasku dengan ramah tanpa ada maksud menggoda sama sekali sambil tersenyum. Aku tersenyum dengan perasaan tidak enak. Aku merasa empat pasang mata sedang menatapku dengan tajam dan aku berusaha untuk mengabaikannya.

“Hahahahaha. Sudah lama tidak melihatmu ternyata kau sudah secantik ini,” katanya dan sukses membuat paru-paruku kembang kempis dengan irama yang aneh sehingga membuatku kesulitan bernafas. Konyol.

Aku batuk seperti habis tersedak saking sulitnya untuk bernafas hanya karena seorang pria tampan memujiku cantik. Aku pasti sedang tidak waras. Aku sudah sering mendengar ucapan itu tapi baru kali ini aku sampai tidak tahu cara menghirup oksigen dan melepaskannya kembali dengan baik. “Uhuk! Uhuk! Uhuk!”

Pria itu menepuk-nepuk punggungku dengan lembut. “Gwencanayo?” Tanyanya sambil terus menepuk punggungku. Aku menganggukkan kepalaku. Dia menyodorkan air putih kepadaku dan langsung aku teguk dengan harapan dapat mengurangi tingkah konyolku saat ini.

“Gomawo,” ucapku singkat, padat dan jelas diiringi senyuman kecil yang sebisa mungkin aku keluarkan di sela-sela batuk yang sangat mengganggu ini. Pria itu dengan sabar membantuku agar bisa kembali bernafas normal.

Aku menarik nafas panjang dan kemudian menghembuskannya lagi. Aku merasa lebih baik. Pria itu menatapku dengan senyum lega. “Gwencana?” Tanyanya.

Aku memperhatikannya dan aku benar-benar kagum akan ketampanan dan kebaikan hati yang ia miliki tapi aku teringat kepada satu orang yang seharusnya tidak boleh melihat ini. Mataku langsung tertuju pada magnae yang sedang menatap kami, aku dan pria ini, dengan tatapan sedih. Aku bahkan bisa melihat setitik genangan air di pelupuk matanya. “Magnae, maafkan aku,” ucapku dalam hati. Aku tahu dari kami berlima, Hamun lah yang lebih dulu menyukai pria ini. Hamun yang paling mencintainya.

“Gwencana,” jawabku meskipun agak telat. Aku tersenyum kepadanya dan ia tersenyum semakin lebar kepadaku. Pesonanya semakin memancar dan aku harus semakin kuat bertahan untuk tidak tertarik semakin dalam.

Aku menarik nafas panjang lagi setelah aku yakin pernafasanku telah kembali normal. Konyol, gangguan pernafasan akibat pujian dari pria tampan. Aku tertawa geli dalam hati. Aku tidak berani tertawa karena mata MinAh, HyunAh dan Jihyo sedang menatapku dengan tajam seakan sedang menyudutkanku.

“Syukurlah. Aku sudah mau membawamu ke rumah sakit saja tadi. Aku cemas setengah mati. Kau tahu?”

Aku melihat kecemasan dalam wajahnya dan aku hanya menyengir untuk menanggapinya. “Mian,” ucapku. Tatapan di sekelilingku semakin tajam dan membuatku bingung. Aku tahu mereka menginginkan aku untuk melepaskan diri dari pria ini tapi apa tidak aneh jika tiba-tiba aku memasang wajah dingin, menggeser tempat dudukku, berdiri dan meninggalkan tempat ini begitu saja. Lagipula, ia bersikap baik selayaknya pemilik restoran kepada pelanggan. Tidak baik kan menolak kebaikan orang?

“Restoranmu makin ramai,” kataku sambil melihat sekeliling restorannya, berusaha mengalihkan perhatiannya dariku.

Pria itu mengikuti pandanganku dan kemudian kembali menatapku. Ia tersenyum sangat manis. “Ya begitulah,” jawabnya dan kami berdua terdiam. Ia begitu intens menatapku dan aku hanya bisa salah tingkah dibuatnya.

Hamun menatap aku penuh memelas rasa kasihan. Ia nyaris menangis melihat pria yang ia cintai tidak mengindahkannya sama sekali malah tersenyum terbaik kepada wanita lain yang merupakan saudara sepupunya sendiri. Fokus ketiga temanku yang lain terbagi menjadi dua, menatap Hamun dengan khawatir dan menatapku dengan kesal. “Maafkan aku, magnae. Aku sudah berusaha sebisaku, teman,” ucapku dalam hati. Aku tidak tahan lagi. Untung, salah satu karyawannya memanggil sehingga pria itu harus meninggalkan meja kami.

Hamun menjadi orang pertama yang bangkit berdiri setelah pria itu pergi meninggalkan kami. Ia tersenyum pahit kepadaku. Dengan cepat ia memakai coat-nya lalu menyampirkan tas ke bahunya lalu berpamitan kepada kami, “Onniedeul, aku duluan ya. Permisi.” Tanpa memberikan kami kesempatan untuk membalas salamnya, Hamun pergi begitu saja.

Karena Hamun sudah pergi, fokus MinAh, Jihyo dan HyunAh sepenuhnya tertuju kepadaku. Mereka menatapku yang semakin lama semakin tajam. “Kita pernah berjanji untuk tidak merebut Donghae dari Hamun. Kita sama-sama menyukainya tapi Hamun…mencintainya. Kita pernah saling berjanji untuk tidak jatuh cinta pada pria yang sama. Harus berapa kali aku mengingatkannya padamu?” Ujar MinAh dengan tegas dan tajam seakan menusuk langsung ke dalam jantungku.

“Aku tidak jatuh cinta pada Donghae,” ujarku berusaha menjelaskan namun ketiga menatapku tidak percaya.

“Saat ini, kau tidak jatuh cinta padanya. Tapi nanti siapa yang tahu? Apalagi Donghae terlihat tertarik kepadamu.”

Aku menatap ketiga sahabatku dengan perasaan serba salah. Aku ingin meminta maaf tapi aku bingung bagaimana caranya. Apa salahku? Tidak ada perjanjian yang aku langgar dalam hal ini. Aku tidak mencintai pria yang sama dengan sahabat satu kelompokku. Aku juga tidak pernah mendekati pria yang disukai oleh sahabat satu kelompokku.

Sejujurnya, bukan salahku jika Donghae lebih tertarik kepadaku. Aku tidak pernah menggodanya. Dia sendiri yang datang mendekatiku. Aku hanya menanggapinya sebatas menjaga hubungan baik yang sudah ada selama ini. Masa aku harus memasang wajah masam setiap bertemu dengan dirinya, membalas setiap perkataannya dengan kasar atau melarikan diri setiap dia menghampiriku. Ia salah satu pria tertampan dan terbaik yang pernah aku temui. Rugi besar kalau aku menolak berteman dengannya.

Jihyo dan HyunAh masih menatapku dengan tajam tapi mereka tidak berkata apa-apa. Jihyo, mungkin karena ia lebih muda dariku jadi ia segan sedangkan HyunAh bukan tipe orang yang banyak bicara. Ia lebih banyak menyimpan sendiri pemikirannya. MinAh yang merupakan juru bicara kelompok kami yang lebih banyak bicara, tentu saja tanpa segan menyampaikan pemikirannya dengan blak-blakan, “Kami tidak mau tahu. Dalam seminggu, kau harus menjauh dari Donghae. Cari pacar kek, apa kek, terserah. Pokoknya dalam 7 hari, kalau kau tidak berhasil menjauh dari Donghae, kita terpaksa berpisah. Kau ingat janji kita kan? Kita tidak akan saling mengkhianati,” kata MinAh lalu pergi meninggalkan meja bersama dengan seluruh barang-barangnya, diikuti oleh HyunAh dan Jihyo.

Ya Tuhan. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menyodorkan Hamun setiap bertemu dengan Donghae? Mengatakan kepada pria itu : Hei, maafkan aku tidak bisa bertemu lagi denganmu. Ini dongsaengku, namanya Kang Hamun. Ia sangat mencintaimu jadi kau dengannya saja. Jaga ia baik-baik ya. Bye.

Yang benar saja!

—–

To be continued
Xoxo @gyumontic