Annyeong! Setelah semua ujian beres akhirnya bisa bikin ff lagi. FF ini ada hubungannya sama FF ‘Silence‘ yang uda lama pernah di post (sebenarnya pas bikin ff itu ga ada niatan sama sekali bikin sequel). Hope you enjoy it! Maaf kalau ada kekurangan. Your comments are love for me❤

******

“Kang Hamun, may i sit here? I want to have lunch with you,” ujar seorang pria bertampang bule pada gadis ini. Hamun tersenyum mempersilahkan akan tetapi tiba-tiba seorang pria muncul di antara Hamun dan pria bule itu.

“I’m sorry. This place already reserved by me,” ujar pria bertampang Asia itu dengan penuh kepercaya dirian.

Hamun menatap pria bule itu dengan lembut dan berkata, “Sorry, Michael. May be we can have lunch together later,”

“Or maybe, never,” sahut pria Asia itu yang kini sudah duduk di sebelah Hamun. Michael segera beranjak pergi dengan mulut komat-kamit yang Hamun yakin, ia sedang memaki pria di sebelah Hamun itu.

“He’s gonna hate you, Lee Donghae,” ujar Hamun pada pria itu sambil meneruskan makan siangnya.

“He should say thanks to me. Aku menolongnya agar ia tidak patah hati karenamu,” ujar Donghae yang mulai berbicara dengan bahasa ibu mereka. “Lagi pula kau kenapa sih selalu menolak pria yang mendekatimu itu?” tanyanya.

“Bukan urusanmu, Donghae ah,” jawab Hamun seadanya.

“Tentu saja urusanku. Sejak aku tahu ada orang Korea yang pindah ke kampus ini dan mengisi dorm kosong di sebelah dormku, aku sudah menganggapmu sebagai sahabat. I just want to make sure, kalau sahabatku ini normal,” ujarnya yang membuat Hamun tertawa.

“I’m normal. Don’t worry. Aku masih menyukai pria,” kata Hamun. “Daripada kau sibuk memikirkan urusanku, pikirkan dulu pacar-pacar bulemu yang lebih dari satu itu. Kenapa kau tak memacari salah satu dari mereka saja sih? Tak kerepotan?”

Kini giliran Donghae yang tertawa. “Mereka tak masalah dengan hal itu. Sampai aku menemukan gadis yang benar-benar pantas aku cintai, aku akan senang-senang terlebih dulu,” katanya.

“Terserah kau saja,” balas Hamun.

Donghae yang gemas dengan sikap dingin Hamun hanya bisa mencubit pipi Hamun dan segera beranjak dari tempatnya karena ia yakin Hamun akan mengomelinya. “Yaa, Lee Donghae!” seru Hamun.

Donghae tertawa usil lalu berteriak, “Nanti jangan langsung pulang! Tunggu aku! Kita pulang bersama!” serunya. Semua orang hanya memandangi mereka berdua tanpa tahu apa yang mereka katakan.

*****

“Hei, Hamun. Apa kau akan kembali ke Seoul summer nanti?” tanya Donghae dalam perjalanan pulang mereka.

“Sepertinya tidak. Kau akan ke kembali ke Busan?” tanya Hamun balik.

“Kalau dapat tiket murah, aku akan kembali. Aku sudah rindu rumah,” balasnya. “Btw, kau sudah mengerjakan tugas dari Mr. Smith?” tanya Donghae yang kini sudah berdiri di depan pintu dormnya, Hamun juga demikian. “Tentu saja sudah. Jangan bilang kau bahkan belum mencicilnya,” ujar Hamun yang dibalas dengan senyum oleh Donghae.

“Sepertinya aku akan merepotkanmu malam ini,” kata Donghae.

“Aku tak akan membiarkanmu masuk. Bye, Donghae,” ujar Hamun sembari membuka dormnya.

“Surprise!” seru sebuah suara dari dalam dorm Hamun. Hamun tampak sangat terkejut begitu juga Donghae. Hamun hanya terdiam dan terpaku menatap apa yang ada di hadapannya.

“Hamun, ada apa?” tanya Donghae heran dan menghampiri Hamun. Dari tempatnya berdiri sekarang, Donghae bisa melihat seorang pria tampan dan seorang wanita cantik dengan ras yang sama seperti mereka ada di dalam dorm Hamun. Donghae tak tahu siapa mereka. Hamun tak pernah bercerita sedikit pun tentang kehidupan pribadinya meskipun sudah 1,5 tahun Hamun menjadi sahabat dan tetangga Donghae.

“Kau kaget Hamun?” tanya wanita itu yang Hamun jawab dengan anggukan saja. “Yeobo, kita berhasil!” ujarnya pada pria itu. Pria itu tersenyum gembira lalu mencium puncak kepala wanita itu.

“Apa yang kalian lakukan disini, Siwon, Johee?” tanya Hamun yang masih berusaha menguasai dirinya.

“Kami sedang honeymoon yang kedua. Lalu, Johee ingin main ke tempatmu. Dengan segala kecerdasan kami, akhirnya kami bisa masuk ke dormmu dan memberimu kejutan tadi. Kau sedang Hamun?” tanya pria yang Hamun panggil dengan nama Siwon tadi.

Mata Donghae tak lepas dari Hamun. Ia bisa melihat raut wajah Hamun yang tadi terkejut kini sudah berubah dan dihiasi dengan senyuman. “Tentu saja aku senang melihat kalian, tapi jujur, kalian sangat mengagetkanku,” katanya sambil memeluk Siwon dan Johee bergantian.

“Ah iya, perkenalkan ini Donghae, tetanggaku dan sahabatku,” ujar Hamun sambil menarik lengan Donghae untuk mendekat pada mereka.

“Lee Donghae imnida,” ujar Donghae memperkenalkan diri, begitu juga dengan mereka.

“Kalian sudah makan? Kalau belum, biar aku traktir kalian,” kata Hamun yang membuat Siwon dan Johee senang. “Kau juga ikut ya, Donghae. Aku akan membantumu menyelesaikan tugas dari Mr. Smith,” ujarnya.

Donghae langsung meyetujui tawaran Hamun tetapi yang menganggu pikirannya sedari tadi bukanlah masalah tugas itu. Entah mengapa, Donghae merasa ada yang lain dari Hamun sejak kemunculan dua orang itu.

*****

“Siwon dan Hamun adalah sahabat sejak kecil, rumah mereka juga bersebelahan. Sedangkan aku, baru menjadi sahabat mereka saat junior high school. Lalu, aku jatuh cinta pada Siwon, Siwon jatuh cinta padaku, akhirnya kami menikah. Tak lama setelah itu, Hamun pergi ke Amerika karena dapat beasiswa untuk ambil S2,” ujar Johee bercerita panjang lebar pada Donghae.

“Ah, begitu rupanya,” kata Donghae.

“Donghae ah, temani aku membayar ini ke kasir. Kalian tunggu disini saja ya,” ujar Hamun. Hamun beranjak dari tempatnya, diikuti oleh Donghae.

“Kalau antriannya sudah sampai di kita, bayar saja ya,” ujar Hamun sambil memberikan dompetnya pada Donghae. “Aku mau ke kamar mandi sebentar,” katanya.

Sesuai perkiraan Hamun, antrian di depan mereka habis sebelum Hamun kembali. Saat Donghae membuka dompet gadis itu untuk membayar, ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Selesai melakukan kewajibannya, Donghae kembali membuka dompet itu untuk menghapus rasa penasarannya. Donghae melihat banyak foto Siwon dan Hamun tetapi hanya ada dua foto yang lengkap dengan Johee. Donghae melihat foto itu dengan seksama dan mendapati sesuatu yang mengejutkan di balik foto itu. Tanggal foto itu diambik dan tulisan tangan Hamun. ‘Aku mencintaimu, Siwon. Apakah kesempatan untukku sudah tidak ada sama sekali?’

Donghae terpaku di tempatnya. Sedikit demi sedikit ia mulai bisa mengaitkan keganjalan yang ia rasakan dengan kenyataan yang baru ia ketahui. “Sudah dibayar?” tanya Hamun yang muncul tiba-tiba di hadapan Donghae. Donghae bisa menyadari mata Hamun yang sedikit bengkak dan memerah. “Apakah ia menangis barusan?” tanya Donghae dalam hati.

“Hm, sudah. Kajja, kita pulang. Kau harus membantuku menyelesaikan tugas sampai esok pagi,” kata Donghae yang membuat Hamun tertawa.

*****

“Hamun, boleh kami menginap disini?” tanya Siwon yang membuat Hamun terdiam. Bisakah pria ini memahami perasaan Hamun? Bagaimana bisa Hamun bertahan bila ia mengetahui pria yang ia cintai tidur dengan istrinya dan mereka bisa melakukan apapun, yang dengan membayangkannya saja, hati Hamun sudah remuk redam.

Hamun terdiam tak sanggup menjawab sampai akhirnya Donghae yang membukaa suara. “Boleh saja, karena malam ini Hamun akan menginap di tempatku,” kata Donghae. Hamun menatap Donghae dengan heran. “Ingat, kau berjanji akan membantuku mengerjakan tugas,” katanya mengingatkan Hamun.

“Baiklah, silahkan kalian istirahat and i will take this girl with me,” kata Donghae.

“Apa Hamun berbohong tadi saat bilang kalian hanya bersahabat?” tanya Siwon tiba-tiba. “Kalian terlihat lebih dari sekedar itu,” lanjutnya.

“Itu rahasia antara kami berdua. Bye, Siwon shi,” kata Donghae yang menggenggam tangan Hamun erat dan membawanya pergi dari tempat itu.

*****

“Menurutku, kau bisa pakai teori ini untuk analisa kasusmu. Lalu, yang ini bisa kau taruh dibagian diskusi. Lalu, kenapa kau hanya diam saja menatapku, Lee Donghae? Kau dengar yang kukatakan tadi?” tanya Hamun yang sadar sedari tadi Donghae hanya menatapnya.

Donghae mengambil buku yang dari tadi Hamun pegang. Hal itu membuat Hamun memberikan perhatiannya pada Donghae. “Kau tidak mau aku bantu?” tanya Hamun.

“Bukankah saat ini kau yang butuh bantuan?” tanya Donghae sambil menutup telinga Hamun. “Hatimu sangat sakit kan mendengar desahan mereka berdua dari kamar mandimu?” ujar Donghae sambil menatap lembut Hamun.

Pertanyaan Donghae membuat hati Hamun kembali tersayat. Ya, hati Hamun terasa seperti ditikam setiap kali mendengar suara desahan yang keluar dari mulut orang yang ia cintai dan istrinya. Hatinya tak kuat merasakan sakit itu sampai akhirnya air matanya mengalir. Donghae menarik Hamun dalam pelukannya sambil tetap menutup telinga gadis itu.

“Sudah tidak ada suara mereka lagi Hamun,” ujar Donghae sambil melepaskan pelukannya dari Hamun.

“Hm, thank you,” kata Hamun sambil menghapus air matanya yang masih mengalir meskipun sedikit. “Sejak kapan kau tahu aku menyukainya?” tanya Hamun.

“Mencintainya, maksudmu? Sejak kau menitipkan dompetmu,” jawab Donghae jujur sedangkan Hamun hanya kembali terdiam. “Kau baik-baik saja Hamun?”

“Aku hanya tak menyangka mereka akan berbuat seperti itu di dormku. Aku juga tak menyangka suara mereka akan terdengar sampai tempatmu ini. Apa jika aku bernyanyi saat mandi kau mendengarnya?” tanya Hamun setengah tertawa.

“Tentu saja. Untung suaramu bagus. Jadi aku tak masalah,” balas Donghae seadanya.

“Hm, baiklah. Ayo kita lanjutkan tugasmu,” ajak Hamun.

“Apa karena kau masih mencintai Siwon makanya kau tak pernah menerima semua pria yang mengejarmu?” tanya Donghae lagi.

“Ya,” jawab Hamun.

“Kau tahu dia sudah punya istri, kau tetap mencintainya?”

“Ya,”

“Kenapa kau tak coba memulai hubungan baru agar kau bisa move on darinya?” tanya Donghae yang tak mengerti jalan pikir Hamun.

“I’m in love with him. If you’re looking for the word that means caring about someone beyond all rationality and wanting them to have everything they want no matter how much it destroys you, it’s love, and when you love someone, you don’t stop. Ever. Even when people roll their eyes or call you crazy, even then. Especially then. You just – you don’t give up. Because if i could give up, if i could just take the wholw worlds advice and move on and find someone else, that wouldn’t be love. That would be some other disposable thing that is not worth fighting for. That is not what this is,” jawab Hamun. Mungkin ini adalah kalimat paling panjang yang pernah Donghae dengar dari Hamun dan Donghae tersadar kalau gadis ini tulus mencintai pria itu.

Donghae tak tahu harus bagaimana. Ia rasa dirinya tak pantas memberi nasihat apapun mengingat dirinya tak pernah mencintai seseorang seperti Hamun. Ia hanya bisa mengelus kepala Hamun. Hamun tersenyum pada Donghae, ia bisa merasakan kepedulian temannya itu. Hamun tahu, tetap mencintai Siwon adalah keputusannya dan rasa sakit ini adalah pilihannya. Hanya ia juga yang dapat memutuskan apakah perasaan ini layak untuk dipertahankan atau ia lupakan.

“Baiklah, waktu kita kurang dari lima jam untuk menyelesaikan tugasmu. Kajja,” ajak Hamun yang menyadarkan Donghae kalau tanggung jawabnya belum beres.

*****

“Hamun, bangun,” ujar Donghae membangun Hamun yang tertidur di sova.

“Tugasmu sudah selesai?” tanya Hamun. “Mianhe, aku ketiduran,” lanjutnya.

“Tentu saja sudah. Kau meremehkan otakku?” tanya Donghae.

“Aku tidak berkata apapun mengenai isi kepalamu, Donghae,” kata Hamun yang membuat Donghae tertawa.

“Siwon mencarimu. Katanya ia ingin diajak mengelilingi daerah sini,” ujar Donghae. “Dia sudah dewasa, apa tidak bisa sendiri saja? Dasar,” lanjutnya.

“Sepertinya kau tidak menyukainya,” ujar Hamun sambil mengenakan mantelnya.

“Setelah apa yang ia perbuat padamu? Tentu saja,” kata Donghae yang juga mulai mengenakan mantelnya.

“Kau mau kemana?” tanya Hamun.

“Aku ikut dengan kalian,” kata Donghae yang tak mempedulikan ucapan Hamun selanjutnya.

“Kau cemburu karena aku mengajak Hamun pergi berdua?” tanya Siwon tiba-tiba di tengah jalan. Kini mereka berjalan sejajar bertiga dengan Hamun di tengah Siwon dan Donghae.

“Bukan urusanmu,” jawab Donghae dingin tanpa memandang Siwon.

Mereka bertiga berjalan dalam diam sampai akhirnya tiba di taman kompleks mereka tinggal. Hamun memilih duduk di ayunan, begitu juga Donghae. Sedangkan Siwon memutuskan untuk mendorong ayunan Hamun. “Aku jadi ingat. Sewaktu kecil kau pernah terluka karena aku mendorong ayunanmu terlalu keras,” ujar Siwon yang membuat Hamun tertawa.

“Jika kuingat-ingat, rasanya sering sekali aku menyakitimu. Hatimu juga,” ujar Siwon yang membuat Hamun menghentikan ayunannya dan terdiam. Siwon berdiri di depan Hamun sambil menatap gadis itu dengan lirih. “Aku tahu kau menyukaiku, Hamun. Aku bisa melihatnya dari perbuatanmu,” katanya. Hati Hamun rasanya tercekat mendengar kenyataan itu.

“Tapi aku tidak pernah mencintaimu. Aku hanya bisa mencintai Johee sejak pertama kali bertemu dengannya,” katanya. Hamun mengeratkan pegangannya pada ayunannya. Berusaha sekeras mungkin tidak meneteskan air mata.

“Aku berpura-pura untuk tidak mengetahui perasaanmu. Sengaja menunjukan kemesraanku dengan Johee di depanmu. Aku pikir hal itu akan membuatmu melupakanku tapi ternyata aku justru makin menyakitimu,” katanya.

“Lalu, apa maksudmu mengatakan semua ini?” tanya Hamun. Donghae bisa mendengar kalau suara gadis itu mulai bergetar. Ia menatap Hamun dengan cemas.

“Karena aku melihat kau sudah menemukan pria lain yang kau cintai dan aku rasa aku bisa mempercayakanmu pada Lee Donghae shi,” lanjut Siwon sambil menatap Donghae.

“Darimana kau yakin kalau aku mencintai Donghae?” tanya Hamun lagi.

Siwon mendekati Hamun dan mengelus kepala Hamun. “Aku sahabatmu, aku mengenalmu,” ujarnya. “Aku dan Johee akan pergi pagi ini, jadi aku harus kembali terlebih dahulu untuk beres-beres,” kata Siwon. “Donghae shi, aku titip Hamun ya,” lanjutnya.

“Bye, Hamun,” pamit Siwon tapi Hamun tak membalas sedikit pun. Siwon tersenyum lirih lalu pergi dari tempat itu.

Donghae segera menghampiri Hamun yang sejak tadi masih duduk diam di ayunannya. Donghae berjongkok agar dapat melihat wajah gadis itu. “Hamun, gwencana?” tanya Donghae.

“Kau dengar apa yang ia katakan tadi? Ia bilang, ia sengaja menyatakan cintanya untuk Johee di depanku. Ia sengaja melamar Johee di depanku. Ia sengaja mencium dan memeluk Johee di depanku. Ia melakukan itu semua meskipun tahu aku sangat mencintainya. Ia sengaja menyakiti hatiku, Donghae,” ujar Hamun dengan air mata yang mulai menderu. “Siwon sangat jahat padaku!” seru Hamun histeris ditengah tangisannya. Ia tak kuat dengan rasa sakit yang menghancurkan hatinya. Kenyataan ini sangat menyakitkan bagi Hamun. Ia merasa hatinya dipermainkan oleh orang yang paling ia sayangi. Siwon anggap apa perasaan Hamun selama ini? Apa ia tak tahu rasa cintanya sangat besar sampai-sampai setiap hari Hamun hidup dengan rasa sakitnya melihat Siwon dan Johee bersama?

“Ia tak tahu apa-apa tentangku. Ia bilang aku mencintamu padahal aku masih sangat mencintainya!” ujar Hamun yang sudah sangat kacau. Donghae segera menarik Hamun ke dalam pelukannya. Ia hanya membiarkan Hamun menangis sekencang-kencangnya.

*****

Hamun kuliah dengan kondisi yang kacau hari ini. Untung ada Donghae yang selalu menemaninya. Ia bahkan mengabaikan semua panggilan dari kekasih-kekasihnya. Entahlah, ia hanya ingin berada di dekat Hamun dan menjadi kekuatan gadis itu untuk sementara.

“Ingat, jangan menyanyi di kamar mandi. Aku bisa mendengarnya,” ujar Donghae bercanda saat ia dan Hamun sudah sama-sama berdiri di depan pintu dorm masing-masing. Perkataan Donghae membuat Hamun kembali mengingat apa yang ia bayangkan kemarin dan perkataan Siwon tadi pagi. Semuanya terasa sangat nyata dan kembali membuat Hamun tersakiti. Hamun yang tak kuat akan itu semua terjatuh di tempatnya berdiri barusan sambil kembali meneteskan air matanya.

Donghae yang melihat itu semua segera menghampiri Hamun dan memeluk gadis itu. “Mianhe, Hamun. Mianhe. Aku yang salah sudah membahas hal-hal itu. Hari ini kau istirahat di tempatku saja, ya?” ujar Donghae sambil memapah Hamun menuju kamarnya.

Setelah beberapa saat, akhirnya Hamun mulai tenang. “Terima kasih. Maaf merepotkanmu,” ujar Hamun pada Donghae yang duduk di tepi tempat tidur bersamanya.

“Akhirnya kau merepotkanku juga. Rasanya selama ini hanya aku yang menyulitkanmu,” ujar Donghae untuk mencairkan suasana. Hamun hanya tersenyum mendengar ucapan Donghae.

“Kau istirahatlah. Aku mau mandi terlebih dulu,” ujar Donghae. “Okay,” balas Hamun.

Setelah Donghae mandi dan masuk ke kamarnya, ia melihat Hamun sudah tertidur dengan lelap. Dengan segera, ia menyelimuti Hamun agar gadis itu tidak kedinginan. Ia tahu dirinya tak boleh berada disini, tapi ia ingin bersama dengan Hamun lebih lama lagi. Ia pun tak tahu kenapa dorongan itu ada dalam dirinya.

Ia duduk di tepi kasurnya dan menatap lekat gadis itu sambil mengelus puncak kepalanya dengan lembut. “Apa yang harus kulakukan untuk mengurangi rasa sakitmu ini, Hamun?” tanyanya.

*****

“Hamun, buka pintunya. Ppali!” seru sebuah suara yang membuat Hamun dengan segera bangkit dari sova ruang tamunya. Hamun sangat kaget saat melihat Donghae berdiri dengan tampang kesakitan dan pipinya yang membiru.

“Donghae, apa yang terjadi?” tanya Hamun yang dengan segera mencari obat-obatan di dorm Donghae itu.

“Aku tidak punya obat-obatan Hamun. Dikompres saja,” ujar Donghae yang dengan segera dilakukan oleh Hamun.

“Apa yang kau lakukan sampai babak belur begini?” tanya Hamun heran.

“Aku memutuskan semua pacarku. Mereka semua memukulku di pipi yang sama sampai akhirnya jadi seperti ini,” katanya Donghae yang cukup membuat Hamun tercengang.

“Kenapa?” tanya Hamun tak mengerti. “Kau sudah menemukan gadis yang menurutmu pantas untuk dicintai itu?” tanya Hamun.

“Sudah,”

“Siapa?”

“Kau,”

“Auw!” seru Donghae karena Hamun menekan pipi Donghae. “Yaa, Kang Hamun!”

“Jangan main-main,” kata Hamun. Ia hendak beranjak dari tempatnya namun Donghae menahannya.

“Aku juga belum mencintaimu sepenuhnya. Mungkin saat ini masih 25%. Tapi aku ingin belajar mencintaimu,” kata Donghae tulus penuh kejujuran, Hamun bisa merasakannya.

“Kau tahu aku belum bisa melupakan Siwon,” kata Hamun  mengingatkan Donghae.

“Melupakannya dan belajar mencintaiku, semuanya itu pilihanmu. Aku akan membantumu untuk melupakannya,” ujar Donghae.

“Tapi, jika aku tidak membalas perasaanmu, ujung-ujungnya aku hanya akan menyakitimu,” kata Hamun mengingatkan Donghae.

“Remember what you said? And i think, this is something worth to fighting for,” kata Donghae. “I will let this feeling grow,” lanjutnya sambil menatap lekat Hamun dan mengelus wajah gadis itu.

Donghae bisa merasakan segelintir air mata Hamun kini mengalir kembali. “Aku takut kalau akhirnya aku akan melukaimu seperti Siwon melukai hatiku,”

“You know how it feels, right? Aku tahu kau tak akan membiarkanku merasakan hal itu,” kata Donghae penuh percaya diri.

Hamun menghapus air matanya lalu menghela nafas panjang untuk menenangkan hatinya. “Baiklah, sudah kuputuskan. Mulai hari ini, aku akan melupakan Choi Siwon dan belajar mencintai Lee Donghae,” kata Hamun.

“Bagus,” ujar pria itu sambil mengelus kepala Hamun. “Ini hadiah untukmu,” katanya lalu mencium kening Hamun. Hamun terkesiap dan tersenyum padanya.

“Kalau kita sudah benar-benar saling mencintai, aku akan menciummu disini,” ujarnya sambil menunjuk bibir Hamun. “So, let me know if you already fall in love with me,” katanya.

“Terima kasih,” kata Hamun lalu mencium pipi Donghae yang terluka. “Jika kau selingkuh, aku akan memukulmu di pipi ini,” lanjut Hamun memperingatkan.

“Kau tak ingat yang kukatakan? Saat aku menemukan gadis yang pantas kucintai, and it is you, i will love you beyond rationality,”

*****

kkeut!