Hope you enjoy it!

*****

“Hamun, mianheyo. Aku tak bisa bersamamu saat Christmas Eve ataupun saat hari Natalnya,” ujar pria ini pada kekasihnya. Ia bahkan sudah mengatupkan kedua tangannya di depan wajahnya yang tampan.

“Aku mengerti, oppa,” kata gadis yang dipanggil Hamun tadi. “Seingatku, kau harus recording album EunHae di Jepang ya?” tanyanya.

Donghae mengangguk lemas. Wajahnya masih menyiratkan rasa bersalah yang mendalam. “Kau sedih, sayang?” tanyanya sambil mengelus pipi Hamun.

Hamun tak menjawab. Ia hanya mengangguk tanpa daya. Donghae yang melihat kesedihan Hamun, segera menarik gadis itu ke dalam pelukannya. “Kalau kau minta aku untuk tetap disini, aku akan berusaha untuk mengundur recording itu,” katanya.

Hamun melepaskan pelukan Donghae dan menatap pria itu dengan serius. “Meskipun ini Natal pertama kita sebagai sepasang kekasih, aku tak akan meminta hal itu. Aku tak mau menjadi egois hanya untuk kepentinganku dan akhirnya merugikan banyak orang. Oppa harus tetap menjalankan jadwal oppa. Arrachi?” ujar Hamun.

Donghae yang gemas melihat ketegasan gadis itu, akhirnya menarik wajah Hamun untuk dapat mencium bibirnya. “Hadiah untuk Kang Hamun karena sudah menjadi kekasih yang sangat bijaksana,” katanya.

Kini, giliran Hamun yang menarik kerah Donghae dan mencium pria itu dengan lembut. “Hadiah untuk Lee Donghae karena sudah menjadi pria yang tega meninggalkan kekasihnya sendirian di malam Natal,” ujar Hamun yang mendapat protes dari Donghae. “Yaa, Hamunie!” serunya.

“Aku hanya bercanda oppa. Jangan marah, ya,” kata Hamun sambil sekali lagi mencium kekasihnya itu.

“Kau curang. Kau sudah tahu cara untuk membuatku luluh,” kata Donghae. Ia tersenyum pada gadis itu sambil mengelus kepalanya lembut. Donghae sadar kalau Hamun sudah sangat mengenal dirinya. Ia yakin, Hamun juga tahu kalau dirinya akan meleleh hanya karena perbuatan manis Hamun.

*****

Malam Natal pun tiba. Donghae sudah pergi ke Jepang sejak dua hari yang lalu dan mungkin sampai dua hari yang akan datang. Setelah memastikan pakaiannya sudah rapi, ia keluar dari kamarnya.

“Hamun? Mau kemana?” tanya onniedul yang sudah berada di ruang tamu dorm SG bersama pasangannya masing-masing.

“Eng, onniedul sendiri mau kemana?” tanya Hamun bingung melihat penampilan mereka.

“Aku akan ke rumah Kyuhyun dan merayakan natal bersama keluarganya,” kata Hyejin sambil memamerkan tas jinjingnya.

“Sebenarnya, aku inginnya ke Swiss untuk merayakan Natal kali ini dengan orang tua Hyejin, tapi ia melarang,” cerita Kyuhyun oppa. Hyejin onnie hanya menyikutnya agar Kyuhyun oppa tutup mulut.

“Yang sabar ya, oppa,” kata Hamun sambil tersenyum sedih.

“Lalu, Eric oppa dan Minah onnie?” tanya Hamun.

“Shinhwa mengadakan Christmas Eve Party, jadi aku mau mengajak Minah,” jawab Eric oppa.

“Aku sudah tak sabar,” ujar Minah onnie yang semakin memeluk erat pinggang Eric oppa.

“Setelah itu, langsung pulang ya, onnie. Jangan berbuat macam-macam yang akan menimbulkan bekas kiss mark dimana-mana. Tanggal 26 SG akan ada show,” ujar Hamun mengingatkan. Minah hanya tersenyum lalu mencubit pipi magnaenya itu. “Aku akan mengingat pesanmu, sayang. Tapi sepertinya bukan hanya aku yang harus kau ingatkan,” kata Minah sambil melirik Hyejin, Jihyo, dan Hyunah.

“Ah, Hyejin onnie dan Kyuhyun oppa juga! Kyuhyun oppa, jangan macam-macam ya pada onnieku,” peringat Hamun.

“Aku tak bisa janji, Hamun sayang,” ujarnya yang langsung menyambar bibir Hyejin.

Hamun tak peduli lagi dengan pasangan yang paling susah dinasehati itu. Kini tatapannya beralih ke pasangan Evil, Woobin dan Jihyo.

“Malam ini oppa dan onnie mau kemana? Rapi sekali?” tanya Hamun.

“Kami mau makan bersama omma, appa, dan Siwon oppa,” jawab Jihyo.

“Ini pertama kali aku bertemu dengan omma dan appa Jihyo. Ternyata cukup menegangkan,” kata Woobin yang sedari tadi memang terlihat pucat. Mungkin karena dia nervous.

“Good luck, oppa. Mereka sangat baik. Jadi, tenang saja,” ujar Hamun yang memang sangat dekat dengan keluarga Jihyo karena dulu ia adalah kekasih Choi Siwon.

“Lalu, Hyunah onnie dan Henry oppa?” tanya Hamun pada pasangan terakhir di tempat itu. “Henry ada show malam ini. Aku mau menontonnya,” kata Hyunah.

“Setelah itu, kami akan menghabiskan malam ini berdua. Romantis, kan?” ujar Henry yang membuat Hyunah onnie tersipu malu.

Hamun menghela nafas untuk menjauhkan semua rasa iri yang sempat hadir. Memang, Christmas is not about houw you spend the night with your boyfriend or all the things in this world. Tapi, alangkah senangnya jika moment ini bisa ia nikmati bersama dengan Donghae seperti onniedul dan kekasihnya.

“Kau sendiri mau kemana, Hamun?” tanya Hyejin onnie.

“Donghae oppa belum pulang?” tanya Minah onnie.

“Aku mau ke gereja. Aku mendaftarkan diri untuk membantu acara lansia disana karena aku tak ada jadwal show dan aku tahu Donghae oppa tidak akan pulang malam ini atau pun besok,” jelas Hamun yang membuat semua orang disitu menatapnya lirih.

“Hei, onniedul oppadeul. Aku sudah biasa sendiri. Tenang saja,” kata Hamun menenangkan mereka.

“Apa kau mau ikut dengan kami saja, Hamunie?” tanya Jihyo onnie.

“Atau mau ikut lihat show-nya Henry?” tanya Hyunah onnie. Hamun hanya menggeleng sebagai bentuk penolakannya.

Eric menghela nafas panjang dan memberikan pelukan khusus untuk Hamun yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Sayangnya, Hamun lebih menganggapnya seperti Paman. “Kalau aku jadi Donghae, aku pasti tidak akan selamat,” katanya yang langsung mendapat protes dari Minah onnie.

“Baiklah, karena sepertinya aku hampir terlambat, aku pergi dulu ya onniedul dan oppadeul,” pamit Hamun. “Jangan lupa pesanku tadi!” serunya saat ia sudah di ambang pintu.

*****

Pada malam Natal ini, para lansia di gereja Hamun mengadakan acara ibadah dan makan bersama untuk anak yatim piatu, anak berkebutuhan khusus, dan kakek-nenek yang sudah sangat renta. Rencananya mereka akan sama-sama menunggu detik-detik menjelang hari Natal lalu bertukar kado. “Selamat makan, haraboeji,” ujar Hamun yang bertugas untuk membagikan makanan. “Makan yang banyak ya, dongsaengi,” katanya lagi.

“Onnie, onnie, pacar onnie dimana? Apa tidak ikut kesini?” tanya salah seorang anak.

Hamun tersenyum sambil mengelus kepalanya. “Donghae oppa sedang sibuk sayang. Maafkan, ya,” kata Hamun.

“Sayang sekali kau sudah punya pacar. Padahal aku ingin mengenalkanmu pada cucuku,” ujar Nenek Kim, salah satu sosialita di daerah sini dan menjadi peyelenggara acara ini. Meskipun ia sudah lansia, tapi ia terlihat sangat bugar. “Kalau kau pacaran dengan cucuku, aku tak akan membiarkan cucuku meninggalkanmu sendirian di hari ini. Apa mau kau pertimbangkan?”

Hamun tersenyum. “Jeongmal mianhe, nek. Sayangnya, aku cuma bisa jatuh cinta pada Donghae,” hanya itu yang bisa Hamun ucapkan.

Percakapan Hamun dan Nenek Kim terpotong akibat suara yang menggelegar di gedung gereja itu. “Ho ho ho! Siapa disini yang mau hadiah?” tanya seseorang yang mengenakan baju Santa Claus, beserta perut buncitnya, rambut putih dan janggut putih. Ia berjalan dari ambang pintu gereja sambil membawa dua karung yang terlihat sangat berat. Anak-anak yang sudah selesai makan, langsung menghampiri Santa dan membantunya membawa karung itu.

“Nenek memesan seseorang untuk menjadi Santa Claus?” tanya Hamun. Seingatnya, hanya ada acara tukar kado dan tidak ada pembagian hadiah dari Santa Claus.

“Acara tambahan, supaya anak-anak itu makin bahagia,” kata nenek Kim.

“Yang ingin mendapat hadiah, harus duduk manis dan mendengarkan cerita dari Santa Claus. Arrachi?” ujar Santa Claus dengan suara khas kakek-kakek itu.

Semua orang pun mulai hanyut dengan cerita dan lelucon Santa Claus. Begitu juga dengan Hamun. Rasanya, ia ingin Donghae mendengarkan cerita ini bersamanya. Ia yakin Donghae pasti suka.

*****

“Ini minum untuk Santa,” ujar Hamun sambil memberikan segelas air putih. Ia sadar kalau suara Santa itu mulai serak.

“Terima kasih kakak yang baik,” ujar Santa itu pada Hamun.

“Nah, karena tadi adik-adik sudah menjadi anak yang baik dan mendengarkan ceritanya. Santa mau bagi-bagi hadiah,” katanya. Anak-anak tampak sangat antusias menunggu namanya dipanggil oleh Santa Claus itu.

“Hadiah terakhir!” ujar Santa Claus, padahal rasanya semua anak sudah mendapat hadiahnya.

“Untuk Kang Hamun,” katanya.

Hamun diam saja di sebelah nenek Kim. Ia pikir, itu bukan dirinya. Ia sudah terlalu dewasa untuk menerima hadiah dari Santa Claus.

“Hamun onnie, kau dipanggil,” ujar anak-anak itu.

“Aniya, pasti salah orang,” sangkal Hamun.

“Apa ada yang bernama Kang Hamun disini?” tanya Santa itu lagi.

“Di gereja ini yang bernama aneh seperti itu hanya kau saja, Hamun,” kata Nenek Kim yang membuat Hamun tertawa.

Setelah dipaksa oleh nenek Kim dan ditarik oleh anak-anak kecil itu, akhirnya kini Hamun berdiri di depan Santa Claus.

“Ah, jadi kakak ini yang bernama Kang Hamun. Pantas saja ia mendapat hadiah. Kakak ini sangat baik sekali. Betul?” tanya Santa pada anak-anak dan mereka semua menyetujuinya.

“Ada pesan khusus ternyata untuk hadiah Kang Hamun,” kata Santa sambil membaca kertas yang ada di atas box hadiah Hamun tadi. “Hamun harus berdiri di depan gereja,” katanya.

“Untuk apa?” tanya Hamun tak mengerti.

“Ho ho ho! Santa juga tidak tahu. Mari kita cari tahu bersama-sama,” ujarnya sambil menarik tangan Hamun dan membawa gadis itu keluar.

Hamun terenyuh sesaat sewaktu Santa menggenggam tangannya. Hamun sangat ingat kehangatan ini. ‘Tapi, apakah mungkin? Tidak. Tidak. Donghae masih di Jepang sana untuk menyelesaikan recordingnya.’ ujar Hamun dalam hati.

*****

“Apa hadiah untuk Hamun onnie, Santa?” tanya salah seorang anak yang sudah ikut keluar saking penasarannya.

“Sepertinya kita harus menunggu semenit lagi. Ho ho ho!” kata Santa sambil melihat jam tangan milik anak kecil itu.

“Ho ho ho! Sebentar lagi! Kita hitung bersama! 1… 2… 3!” Bertepatan di hitungan ketiga, kembang api bermunculan di atas langit. Berwarna-warni dan sangat indah. Semua anak-anak dan kakek-nenek disitu tampak sangat bahagia. Terlebih lagi Hamun. Ia sangat terkesima dengan pemandangan di hadapannya.

“Kau suka, Hamun sayang?” tanya sebuah suara yang sangat Hamun kenal. Hamun menoleh ke sampingnya dan melihat Santa Claus tadi sudah melepas kumis dan janggutnya. Sekarang, ia dengan jelas melihat wajah pria yang paling ia sayangi.

“Lee.. Donghae? Ba-ba-bagaimana.. Kau..”

“Aku dan Eunhyuk kerja rodi selama dua hari kemarin. Yeonhee mengancam Eunhyuk. Kalau Eunhyuk berani tidak pulang saat malam natal, ia tidak memperbolehkan Eunhyuk untuk menciumnya selama dua bulan,” jelas Donghae yang membuat kekasihnya tertawa.

“Nenek Kim yang memberikanku ide untuk menjadi Santa. Katanya, sekalian menbantu acara ini,” cerita Donghae. Hamun melirik nenek Kim yang masih asik menikmati kembang api.

“Fireworks itu hadiah pertama dariku untuk gadis yang paling aku sayangi,” kata Donghae. Ia mengeluarkan sebuah kotak dan membukanya di depan Hamun. “Ini hadiah kedua untuk pacarku yang paling pengertian. Mianhe, aku tak bisa memberikan emas atau perak padamu. Jadi, aku membelikan jam tangan sporty ini,” katanya. Ia langsung memakaikan jam tangan itu di tangan Hamun dan memamerkan jam tangan yang ia gunakan. Sama persis dengan milik Hamun.

“Ini couple?” tanya Hamun. “Nomu joha,” katanya yang sampai beberapa saat masih memandangi jam itu. Donghae terus tersenyum sambil mengelus kepala gadis itu. Ia senang karena Hamun menyukai hadiah yang ia berikan.

“Omona, oppa!” seru Hamun tiba-tiba.

“Aku tidak menyiapkan apa-apa untukmu karena aku tak menyangka kau akan kembali hari ini,” ujar Hamun panik.

Donghae tertawa. “Gwencana Hamunie,” katanya.

Meskipun Donghae sudah berkata demikian, wajah Hamun masih menyiratkan rasa bersalah. “Aku telepon restaurant daerah sini untuk reservasi,” kata Hamun. Tapi beberapa kali ia coba menelpon, tak ada satu pun tempat yang tersedia.

Tiba-tiba Donghae merebut ponsel Hamun. “Gwencana Hamun, sayang. Berapa kali perlu kubilang, hm?”

“Tapi, oppa, aku..”

“All i want for Christmas is you, Hamun,” ujar Donghae sambil mencium bibir Hamun lembut.

Kini, anak-anak atau kakek nenek disitu tidak lagi melihat kembang api itu. Mereka justru menyoraki Hamun dan Donghae. Hamun yang sadar tempat segera mendorong Donghae menjauh darinya. “Yaa, oppa!” seru Hamun.

“Kau mau memberikan hadiah Natal untukku, kan? Should i say it once more? All i want for Christmas is you,” katanya lalu kembali menarik Hamun dalam pelukannya dan kembali mencium gadis itu.

*****

kkeut!