Annyeooooing! Author @gyumontic is back!
2weeks to go to super show 6 bangkok and I can not wait any longer to meet oppadeul. Hahhahaha!

Enjoy this part..

Woman’s side

Setelah hari pertama aku gagal total mendapatkan kata ‘ya’ dari makhluk ini, aku akan mencobanya di hari kedua ini. Aku masih punya waktu 5 hari lagi dikurangi 1 hari karena aku harus ke Bali. 4 hari! Ya Tuhan, bagaimana caranya dalam 4 hari aku harus mendapatkan pacar?! Tambah lagi waktu yang dimiliki makhluk ini sangat terbatas. Dari 24 jam sehari yang dimilikinya, aku hanya punya waktu 10 menit untuk menemuinya dan itu pun tengah malam sebelum ia tidur.

Aku sudah pulang. Apa yang mau kau bicarakan? Jangan sampai aku keburu tidur.

Begitu membaca pesannya, Aku langsung ambil langkah seribu keluar dari kamar apartemenku menuju kamar apartemennya yang berada beberapa lantai di bawah lantai kamarku. Aku menunggu dengan tidak sabar lift yang akan membawaku menuju lantai 3. Handphoneku bergetar tanda ada pesan yang sedang masuk.

5 menit. Kalau kau tidak muncul, aku tinggal tidur.

Aku buru-buru membalas pesannya. Tunggu sebentaaaaaar!!! Aku sedang menunggu lift.

Lift yang aku tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Pintunya terbuka dan aku segera masuk ke dalamnya. Aku memencet tombol lantai tujuanku, lantai 3, dan memencet tombol penutup pintu lift berkali-kali berharap pintu lift ini akan tertutup lebih cepat namun pada kenyataannya ia akan menutup sesuai dengan sistem yang telah diatur. Dalam beberapa detik, aku sudah sampai di lantai 3 dan tanpa melihat kanan-kiri aku berlari menuju apartemen pria itu. Aku memasukkan password pintu apartemen itu lalu masuk ke dalam.

Aku melihatnya sedang menonton televisi dengan kaki yang berselonjor di atas meja. Ia masih memakai kemeja kerjanya yang sudah keluar dari celananya dengan tidak beraturan. Aku melihat dasinya yang tergeletak di samping kakinya. Seketika aku ingin menjambak rambutnya. “Yaaa! Kau bilang kau sudah mau tidur! Menyebalkaaaaaan!!” Seruku kesal. Aku sudah ngos-ngosan berlari dari lantai 24 untuk menemuinya rupanya ia masih santai-santai menonton televisi. Menurut kebiasaannya yang aku tahu jika seperti ini, ia baru akan tidur sejam lagi karena ia harus berendam dulu untuk membuat tidurnya lebih nyenyak. Tau begitu buat apa aku buru-buru menemuinya? Dasar brengsek.

Pria itu hanya menyengir tipis kepadaku seolah dia tidak bersalah apapun kepadaku. “Ya Tuhan! Kau baru saja membuat seorang wanita berlari sampai nyaris kehabisan nafas!” Omelku yang dengan santai hanya ditanggapinya dengan tawa selebar 2 jari. Hah! Hah!

“Apa yang ingin kau bicarakan?” Tanyanya langsung kepada pokok pembicaraan seperti yang aku inginkan. Ini sudah jam 12 malam dan seharusnya aku sudah tidur nyenyak di kamarku bukan di apartemen pria ini, memohonnya untuk jadi kekasihku untuk kedua kalinya.

Mulutku komat-kamit berdoa semoga hari ini mood-nya sedang berada dalam kondisi yang sangat baik sehingga ia bisa dengan mudah menyetujui untuk jadi pacarku tanpa mengeluarkan kata-kata yang membuatku ingin menendangnya dari lantai 15 apartemen ini.

“Sama seperti kemarin. Ayo kita pacaran. Aku mohon,” pintaku sememelas mungkin. Aku bahkan siap berlutut di hadapannya jika ia menolak permohonanku.

Ia tersenyum kepadaku. Tatapannya terlihat mengasihaniku tapi dengan cara yang sangat ngeri. Aku tetap dengan wajah memelasku. “Aku mohon,” kataku sekali lagi.

Pria dingin itu menarik nafas panjang. Ia menurunkan kakinya ke lantai lalu mengangkat tubuhnya dari sofa. “Aku harus berendam air hangat dulu untuk mendapatkan jawabannya. Kau mau tunggu?” Ujarnya lalu meninggalkanku ke kamar mandinya. Dasar brengsek! Dari jauh aku ingin melempar bantal-bantal sofa ini ke kepalanya.

Kembali pada kenyataan bahwa aku yang membutuhkannya, aku merelakan diri untuk menunggunya. Aku duduk di sofa dan menonton televisi yang entah kenapa terasa sangat membosankan. Aku bolak-balik menengok pintu kamar mandi pria itu tapi ia juga belum keluar-keluar. Cepatlaaaaaah!

Tanpa terasa aku sudah hampir setengah jam menunggu dan pria itu belum keluar juga padahal mataku sudah mulai menutup. Aku berusaha tetap terjaga sampai mataku tidak bisa menahannya lagi. Aku tertidur di sofa dan terbangun beberapa jam kemudian di atas tempat tidur empuk dengan selimut yang hangat.

Aku melihat jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul setengah 6 pagi dan sudah masuk ke tanggal keberangkatanku ke Bali. “Aku terlambaaaaaat!!!” Seruku kencang dan segera melompat dari tempat tidur yang aku sadari adalah tempat tidur pria itu.

Aku keluar dari kamar untuk mencari pria itu tapi tampaknya ia sudah pergi karena ada catatan di pintu apartemennya : aku akan pergi 3 hari, jangan mengacaukan apartemenku.

Aku sudah biasa mendapat pesan seperti itu. Pria itu memang suka bepergian untuk urusan pekerjaannya tapi kenapa harus saat ini?! 3 hari? Berarti aku hanya punya kesempatan 1 hari lagi?! Aaaaaargh!!!

Aku kembali melihat jam tanganku. Waktu sudah berlalu tanpa arti selama 15 menit dan aku semakin terlambat. Aku akan memikirkan masalah itu nanti. Aku bisa kena marah manajerku kalau sampai terlambat ke bandara.

—–

Aku kembali ke apartemenku dan merebahkan tubuhku di atas tempat tidur besar yang aku harap dapat menyedot semua rasa lelah yang menjalar di tubuhku. Bayangkan, aku lari-lari di bandara mengejar pesawat hanya karena aku terlambat bangun pagi. Aku baru bangun jam setengah 6 pagi dan pergi ke bandara jam 7 kurang untuk penerbangan ke Bali jam 8 pagi. Sampai di sana jam 3 sore dan aku langsung disuruh untuk berpose. Pemotretan selesai jam 9 malam dan kami langsung terbang kembali ke Korea dengan penerbangan jam setengah 12 malam. Begitu menginjakkan kaki di Korea, yang ada di pikiranku hanyalah tempat tidur yang nyaman ini. Aku butuh tidur sekarang. Tempat tidur ini yang paling mengerti aku. Dalam hitungan detik, aku sudah terlelap.

Duk! Duk! “Yaa! Yaaa!” Aku merasakan ada seseorang yang menendang-nendang bokongku sekaligus meneriakiku. Aku membuka mataku dan menemukan pria itu berdiri di samping tempat tidurku. Ia menatapku dengan tatapan yang sangat menyebalkan. “Apa yang kau lakukan di tempat tidurku?” Tanyanya.

Aku melihat wajahnya yang seharusnya tidak berada di tempat ini. “Kau sudah pulang? Katanya pergi 3 hari,” racauku dengan mata setengah terpejam.

“Apa yang kau lakukan di tempat tidurku?” Tanyanya sekali lagi.

Aku melihat sekelilingku dan tersadar bahwa aku bukan berada di kamarku melainkan di kamar pria yang sudah berbelas-belas tahun menjadi sahabatku. Aku terlalu sering keluar masuk apartemennya sehingga tidak jarang aku menganggap apartemennya seperti apartemenku sendiri. Salahnya memberitahukan password apartemennya kepadaku. Aku menyengir lebar menyadari kesalahanku. “Mian. Aku terlalu lelah jadi aku melangkahkan kaki sekenanya saja tadi,” kataku.

Pria itu tersenyum mengejekku. “Bangun! Kembali ke apartemenmu sana. Aku mau tidur,” katanya. Ia tidak menunggu aku bangkit dari tempat tidurnya. Ia menarikku sampai berdiri dan bergantian dengannya untuk mengisi tempat tidur tersebut. Ia menarik selimutnya kemudian memejamkan mata.

Seperti yang aku bilang, dia begitu mudah membuat tensi orang meningkat dan ingin menendangnya. Aku menendangnya. Hitung-hitung sebagai balas dendam karena ia sudah menendangku tadi. “Yaaaa!!! Ini kan masih pagi. Kau harusnya berada di kantor bukan tidur di sini!!” Teriakku kesal.

Pria ini sama sekali tidak mempedulikanku. Ia memeluk gulingnya dengan lebih erat sehingga terlihat seperti ia sedang berciuman dengan guling itu. “Pergilah. Aku sudah 3,5 hari tidak tidur. Aku tidak peduli sekarang masih pagi, siang atau sudah malam. Aku mau tidur,” katanya tanpa membuka matanya apalagi melihatku.

Hal itu membuatku semakin kesal padanya. Aku menarik tubuhnya dan merasakan panas yang menjalar dari tubuhnya ke telapak tanganku. “Ya Tuhan! Kau demam!!” Seruku panik. “Ya Tuhan! Kenapa kau tidak bilang? Kau panas sekali!! Kau sudah minum obat? Ayo kita ke dokter!!”

Pria ini tidak mendengarkanku. Ia tetap pada posisinya, memejamkan mata sambil memeluk gulingnya dengan erat. “Aku hanya butuh istirahat,” katanya. Satu lagi sifatnya yang aku tahu dan yakini adalah sifat asli yang mendarah daging sejak ia lahir. Keras kepala.

Seribu kali aku membujuknya, seribu satu kali ia akan menolakku. “Aku tidak mau ke dokter,” katanya dan aku tidak boleh kehabisan akal jika berhadapan dengannya. “Aku akan memanggil dokter ke sini kalau begitu.”

Aku menelepon dokter rujukan kantornya yang memang biasa menangani manajer sampai Direktur di tempat pria ini bekerja. Begitu sampai, sang Dokter langsung memeriksa kesehatannya dan memberikan resep obat yang harus dibeli untuk menyembuhkannya. “Dia terlalu lelah. Dia butuh istirahat minimal 2 hari dan harus minum obat ini,” kata Dokter kepadaku.

“Aku tidak mau minum obat,” ujarnya yang telah dipasang infus di pergelangan tangan kanannya. Ia terlihat sangat lemah. Wajahnya yang seputih susu pucat terlihat semakin pucat seperti mayat.

Aku menatapnya dengan galak. “Kau harus istirahat dan minum obat. Jangan membantah!” Bentakku dan ia akhirnya terdiam. Ia hanya duduk lemah di tempat tidurnya, menatapku sebal. Ia ingin melawanku tapi ia tahu kemampuannya yang sedang terbatas. Aku tahu, ia sudah memasrahkan dirinya kepadaku.

Pria ini hidup sebatang kara. Dia tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini kecuali dirinya. Hanya aku dan orang tuaku yang sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri karena kami sudah mengenalnya sejak kecil. Karena itu juga aku bersahabat dengannya. “Aku mau keluar beli makanan dan obatmu. Kau istirahat dulu,” kataku yang dijawab dengan anggukkan lemah kepalanya. “Jangan sentuh apapun yang berhubungan dengan pekerjaanmu. Kau lebih baik tidur.”

“Dari tadi aku juga mau tidur tapi kau menggangguku,” katanya membuatku kesal tapi aku menahan untuk tidak menjitak kepalanya atau menjambak rambutnya. Aku tidak boleh menganiaya orang yang sedang sakit. Aku hanya melemparkan tatapan mengancam agar ia menuruti perintahku sebelum aku pergi meninggalkannya.

Aku pergi secepat yang aku bisa dan membeli obat serta sebanyak mungkin makanan yang sekiranya cocok untuk orang yang sedang sakit dan tidak nafsu makan. Bubur dan sup aku rasa yang paling cocok saat ini. Aku membeli banyak bahan makanan untuk itu.

“Hei, banyak sekali belanjaanmu,” tegur seseorang sambil menepuk bahuku dan nyaris membuatku menjatuhkan semua belanjaan di tanganku.

“Lee Donghae-ssi.” Aku mengucapkan namanya dan ia tersenyum. Melihatnya, membuatku teringat akan tenggat waktu 7 hari yang diberikan MinAh kepadaku dan aku hanya punya sisa waktu 4 hari lagi. Sejak hari itu juga tidak ada yang pernah menghubungiku baik MinAh, HyunAh, Jihyo apalagi Hamun. Group chat KaTalk kami pun tidak ada suaranya. Ya Tuhan kenapa kau harus memberikan pilihan yang susah kepadaku.

“Akhirnya aku bertemu denganmu. 2 hari yang lalu aku melihat teman-temanmu di restoranmu tapi kau tidak ada. Kemarin aku juga melihat mereka tapi mereka hanya berempat. Kau kemana saja?” Tanyanya.

“Aku sedikit sibuk,” jawabku sedikit berbohong. Aku memang sibuk tapi hanya untuk kemarin. Sejak hari lalu itu sampai hari sebelum kemarin, aku punya waktu 24 jam kosong. MinAh, HyunAh, Jihyo dan Hamun berkumpul bersama tanpa diriku. Aku tersenyum kecut di bawah tundukkan kepalaku agar paling tidak Donghae tidak melihatnya.

“Kau mau memasak?” Tanyanya melihat belanjaanku. Ia mengambil sebagian besar belanjaan dari tanganku dan memindahkannya ke trolinya.

“Humm. Temanku sedang sakit jadi aku harus mengurusnya,” jawabku. Aku kembali melihat-lihat bahan makanan yang menurut perkiraanku akan dibutuhkan selama pria itu terbaring lemah di tempat tidurnya. Donghae berada di sampingku, melihat-lihat diriku.

“Kau baik sekali. Apa tidak ada orang yang mengurusnya?”

Aku menggelengkan kepalaku. “Dia hidup seorang diri. Hanya aku satu-satunya orang yang paling dekat dengannya,” jawabku. Aku mengambil sebongkah sawi putih dan memasukkannya ke dalam troli. “Aku sudah selesai belanja. Kau masih mau belanja?”

Ia tersenyum. “Aku juga sudah selesai,” katanya. Ia mendorong trolinya ke kasir, membayar semuanya, termasuk belanjaanku, kemudian membawa belanjaan itu menuju mobilnya. “Aku akan mengantarmu pulang,” katanya. Aku tidak menolaknya. Dengan senang hati, aku masuk ke dalam mobilnya. Sedikit bagian dalam hatiku mengatakan aku pengkhianat namun sebagian lagi mengabaikannya. Aku memutuskan untuk menikmati Lee Donghae untuk diriku sendiri toh mereka tidak mengetahuinya seperti aku tidak tahu bahwa sebenarnya mereka telah mengabaikan aku.

—-

Pria itu sedang terlelap nyenyak saat aku sampai di apartemennya. Aku mengecek suhu tubuhnya yang sudah lebih baik dari pertama kali aku menyentuhnya tadi pagi. Aku kembali ke dapur untuk membongkar belanjaanku dan memasak bubur serta sup ayam untuknya.

Aku membangunkannya di tengah-tengah kegiatan memasakku karena ia harus minum obat yang harus diminum satu jam sebelum perutnya diisi dengan makanan yang lebih berat. Tanpa protes, pria itu menelan obatnya dan kembali tidur. Aku kembali memasak makanan untuknya. Sejam kemudian, aku kembali membangunkannya.

“Kau harus makan,” kataku sedikit galak dengan maksud agar ia tidak banyak protes atau beralasan untuk menunda-nunda makannya. Aku membantunya duduk dengan bersender pada kepala tempat tidurnya beralaskan bantal empuk yang menopang punggungnya. Ia benar-benar sangat lemah. Aku jadi tidak tega kepadanya.

Aku menyuapkan bubur dan sup ayam ke mulutnya perlahan-lahan. Dengan sabar aku menunggu ia menelan makanannya dan kemudian menyuapkan sesendok bubur dan sup ayam yang berikutnya. Terus begitu sampai makanannya habis. Aku menyodorkan obat-obatannya dan aku melihatnya menatap obat-obatan itu dengan sebal. Dia benci obat. “Kenapa harus sebanyak ini?” Keluhnya.

“Ini antibiotik, penurun panas dan vitamin. Hanya tiga. Tidak banyak kok. Aku pernah minum obat lima sekaligus,” kataku berusaha agar ia tidak terlalu antipati dengan obat-obatannya. Ia menatap obat itu dan berganti menatapku dengan pasrah.

Aku menyerahkan obat itu satu per satu yang langsung ditelannya dengan bantuan dua gelas air putih. “Tunggu 15 menit. Setelah itu, kau boleh kembali tidur,” kataku tapi seperti biasa ia jarang mendengarkan kata-kataku. Ia langsung menurunkan tubuhnya, menarik selimut, memeluk guling dan kemudian memejamkan matanya. Sebenarnya, pria ini sangat menggoda jika sedang tidak berdaya.

—-

Kadang, melihatnya terkapar adalah salah satu hal terbaik yang ada di dalam hidupku. Ia jauh lebih manis dan tidak buat sakit kepala jika dibandingkan dengan dirinya yang normal seperti sekarang ini. Dokter ternyata telah memberikan obat yang terlalu ampuh untuk pria ini. Hanya dengan dua kali minum, ia sudah hampir kembali pulih seperti sedia kala.

“Kau sudah ke psikolog?” Tanyanya tanpa basa-basi. Aku langsung menangkap maksudnya. Ia sudah bisa duduk di meja makan dengan santai, melihatku yang sibuk memasak tanpa keinginan sedikit pun untuk membantuku.

“Tidak usah bertanya kalau kau tidak mau membantuku,” sahutku ketus dan ia sudah tertawa terbahak-bahak sambil mengunyah rotinya.

“Hahahahaha! Siapa suruh dirimu tiba-tiba muncul dan memintaku jadi pacarmu. Aku pikir kau sedang stress,” katanya dengan santai.

Aku menghela nafas panjang. Ini sudah keempat kalinya ia menyebutku stress dan aku benar-benar ingin menjambak rambutnya. “Aku tidak stress! Aku sedang dalam posisi terjepit,” kataku.

“Wae?” Tanyanya cuek sambil meneguk susu coklat yang aku buatkan untuknya.

“Jadi…” Aku mulai menceritakan segalanya padanya, “Ada seorang laki-laki tampan di District 10. Namanya Lee Donghae. Aku, MinAh, HyunAh, Jihyo dan Hamun tidak ada yang tidak menyukainya. Ia sangat baik.”

“Lalu masalahnya dimana?”

“Aku belum selesai cerita. Aku, MinAh, HyunAh dan Jihyo memang menyukai Donghae tapi Hamun mencintainya. Masalahnya, Donghae tampaknya menyukaiku. Ia selalu tersenyum kepadaku dan mengajak ngobrol. Kemarin aku tidak sengaja bertemu dengannya di supermarket dan ia berniat baik untuk mengantarkan aku pulang kesini.”

“Kau menyukainya?”

Aku menganggukkan kepala. “Tapi Hamun mencintainya. MinAh bilang aku harus segera cari kekasih dan menjauh dari Donghae. Kalau tidak, mereka akan menganggapku sebagai pengkhianat. Teman tidak berkhianat.”

Ia menatapku dengan tatapan yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Tatapan mata yang tampak marah bercampur cemas. Ia tidak pernah menatapku seperti itu. Semarah-marahnya ia padaku, ia akan tetap menatapku dengan jahil meskipun mulutnya tidak berhenti mengomel. Kali ini tatapannya agak membuatku takut.

Ia tidak berkomentar lebih lanjut atas ceritaku. Ia mengunci mulutnya rapat-rapat dan sialnya aku tidak bisa membaca pikirannya. “Mana makananku?” Tanyanya dingin. Aku memberikan semangkuk nasi beserta sayur dan lauk kepadanya. Ia memakannya dengan cepat.

“Pelan-pelan makannya,” kataku seolah-olah pria itu akan mati hanya karena menelan makanannya tanpa dikunyah. Ia tidak mendengarkanku.

Ia menelan suapan terakhirnya hanya dalam 3 detik setelah makanan itu masuk ke mulutnya. “Aku akan mempertimbangkan permintaanmu tapi aku harus bertemu dulu dengan pria bernama Lee Donghae itu,” katanya lalu pergi meninggalkan meja makan, kembali ke kamarnya dan menguncinya. Ia sedang tidak ingin diganggu.

—-

To be continued