Woman’s side

Pria itu memaksa kembali masuk kantor meskipun dokter sudah bilang ia belum boleh masuk tapi ia terlalu keras kepala untuk dilawan. Aku memaksa untuk memasukkan makanan dan obat-obatan yang harus dia minum tepat waktu sesuai dosis dan jamnya. “Awas kalau kau tidak minum!” Ancamku sebelum ia pergi.

Aku hari ini kembali menjadi pengangguran. Belum ada lagi majalah, fashion line atau designer yang menawari aku jadi modelnya. Alhasil aku hanya diam, tidur-tiduran di depan TV untuk membunuh waktuku. Aku mencoba menghubungi teman-temanku tapi tidak ada satu pun yang menjawab pesan KaTalk di Group Chat kami.

Aku merindukan kalian.

Aku mengetikkan pesan itu dan tidak berharap akan ada yang membalasnya. Paling tidak, mereka tahu bahwa aku merasa kehilangan mereka setelah 7 hari tanpa komunikasi sama sekali.

Aku melihat jam dindingku yang telah menunjukkan jam 9 pagi. Sudah saatnya ia minum vitamin.

Jangan lupa minum vitamin.

Aku mengirimkan pesan kepadanya yang tentu saja tidak akan dibalasnya karena saat ini ia pasti sedang menjadi orang paling sibuk sedunia hanya karena tidak masuk kantor satu hari saja.

Dua jam kemudian aku kembali mengirimkan pesan untuk mengingatkannya minum obat sejam sebelum ia makan siang.

Jangan lupa makan siang dan antibiotikmu.

Ini sudah jam 3 sore, minum vitaminmu.

Apa kau sudah minum semua obatmu?

Yaaa!!!! Yaaaa!!! Balas sms-ku!

Aku mulai tidak tenang tapi aku tidak pernah boleh meneleponnya karena ia paling tidak suka diganggu saat sedang sibuk bekerja. Cih! Paling ia sibuk bermain konsol game-nya.

Aku menyerah. Dari sekian banyak pesan yang aku kirimkan, tidak ada satupun yang dibalasnya. Aku mengirimkan pesan terakhir sebelum aku memutuskan untuk mandi setelah seharian tidak mandi.

Aku tunggu di District 10 jam 7 malam. Okay?

Ne.

Itu satu-satunya balasan yang masuk ke handphoneku dan aku merasakan kelegaan saat membacanya. Setidaknya itu menunjukkan ia baik-baik saja.

—-

Aku masuk ke District 10 dan mengambil tempat duduk di sudut yang paling terpencil, dimana orang-orang tidak akan menyadari keberadaan siapapun yang duduk di tempat ini. Sialnya, pria itu menyadari kehadiranku. Lee Donghae melambai ke arahku, menyuruhku untuk berpindah ke tempatnya dimana MinAh, HyunAh, Jihyo dan Hamun sedang duduk bersamanya. Seketika, tawa mereka berubah menjadi tatapan mengerikan. Sambil tersenyum, aku balas melambaikan tanganku namun aku menolak untuk berpindah dari tempatku.

“Sial. Sial. Sial,” umpatku dalam hati.

Donghae beranjak dari tempatnya menuju tempatku. Aku merasakan tatapan yang semakin mematikan tertuju kepadaku. Aku berusaha tersenyum kepada mereka namun tidak berguna. Hamun dan HyunAh sudah memalingkan wajahnya dari tempatku. Tinggal MinAh dan Jihyo yang masih mengawasiku dan Donghae tanpa senyum sedikitpun.

“Kau sendirian?” Sapa Donghae begitu berada di depanku. Ia mengambil tempat duduk di sebelahku. MinAh dan Jihyo semakin galak mengawasiku. MinAh bahkan sudah berdiri namun Hamun menahannya. Aku yakin ia pasti ingin menghampiriku dan melabrakku.

“Aku ada janji dengan temanku,” jawabku.

“Siapa? Bukan mereka?” Tanya Donghae menunjuk empat gadis yang biasanya menjadi temanku makan dan tertawa-tawa tanpa peduli bahwa besoknya kami harus mengeluarkannya kembali bagaimanapun caranya.

Aku menggelengkan kepala. “Kau tidak kenal,” ujarku.

“Oh,” sahut Donghae dengan mulut bulat sempurna yang membuatnya terlihat semakin tampan. “Kau sedang bertengkar dengan mereka?”

Aku mengangkat bahuku. Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kami berlima. Kami masih tertawa bersama seminggu yang lalu. Mereka juga tidak ada yang bertengkar denganku. Entah kenapa sekarang malah jadi seperti ini. Donghae hendak menepuk kepalaku. Untung, aku lebih cepat menghindar darinya. Kalau tidak, mereka pasti akan segera mendatangiku dan mungkin melakukan sesuatu padaku yang tidak berani aku bayangkan.

“Maaf aku terlambat,” katanya yang tanpa permisi apalagi basa-basi duduk di hadapanku. Aku menatapnya dengan lega. Donghae menatapnya dengan heran.

“Kenalkan ini temanku, Cho Kyuhyun. Kyuhyun-ah, ini Lee Donghae.” Aku memperkenalkan kedua pria ini satu sama lain. Mereka saling berjabat tangan dan kemudian diam.

“Aku ada perlu dengan temanku. Kau mau sampai kapan di sini?” Tanya Kyuhyun kepada Donghae dengan santai namun menatap tajam.

Dengan diam, Donghae tersenyum kepadaku. “Aku akan membawakan makanan special untukmu,” katanya lalu meninggalkan kami berdua.

“Jadi itu yang namanya Lee Donghae?” Tanya Kyuhyun.

“Iya, itu yang namanya Lee Donghae dan itu yang namanya Hamun, HyunAh, MinAh dan Jihyo,” jawabku sambil menunjuk keempat gadis yang duduk persis di depan bar yang sedang menatapku tajam namun penasaran.

Kyuhyun melihat teman-temanku dan tersenyum kepada mereka, tidak lupa membungkukkan diri dengan sopan. Ia kemudian kembali memandangku. “Cih! Kau tidak pernah sesopan itu padaku,” ujarku melihat sikapnya yang jauh berbeda jika menghadapiku.

“Cerewet. Lepaskan dasiku,” perintahnya.

Dengan terpaksa aku berdiri dan memajukan tubuhku untuk meraih kerah kemejanya. “Siapa sih yang memasang dasimu? Susah sekali,” keluhku karena simpulnya yang keras, nyaris mati. Aku memajukan tubuhku semakin dekat agar aku bisa melihat simpul sialan itu semakin jelas.

“Jangan pernah lagi menyuruh orang ini untuk memakaikan dasimu, siapapun dia,” kataku setelah berhasil melepaskan dasi itu dari lehernya.

“Okay,” sahutnya. Ia menatapku langsung ke dalam mataku. Jarak yang hanya beberapa senti, membuatku bisa merasakan hembusan nafasnya dan mendengar detak jantungnya. Agak tidak karuan.

Kyuhyun memegang tanganku, mendekatkan wajahnya kepadaku dan kemudian mencium bibirku dengan lembut. Aku bisa merasakan bibirnya yang berada di atas bibirku, menempel begitu saja tanpa melakukan apapun. Sial, aku seperti terhipnotis.

Kyuhyun menyengir lebar padaku sedangkan aku terdiam kaku di hadapannya. Duniaku serasa berhenti berputar meski aku tahu tidak seperti itu sebenarnya. Aku melihat Donghae yang berada di sebelahku dengan sebuah piring spaghetti bolognaise kesukaanku namun aku tidak mampu menengok ke arahnya. Kyuhyun seolah telah memaku diriku.

“Dia milikku. Jangan pernah berani untuk menyentuhnya,” kata Kyuhyun dengan tajam kepada Donghae. Donghae meletakkan spaghetti bolognaise tersebut ke atas meja kemudian pergi tanpa mengatakan satu patah kata pun.

Aku kembali duduk ke tempatku. Aku merasakan kakiku melemas seperti kaki ubur-ubur yang bisa meliuk-liuk bebas karena tak bertulang. Aku merasakan jantungku berdebar tidak karuan seperti yang aku dengar saat berdekatan dengan Kyuhyun tadi. Aku juga merasakan wajahku memanas dan kepalaku yang sakit mungkin karena aku sedang mengalami kesulitan bernafas sehingga tidak ada oksigen yang sampai ke otakku. Ini semua karena ulah pria brengsek di hadapanku.

“Apa yang kau lakukan?” Tanyaku dengan sisa-sisa tenaga yang aku punya.

Ia tersenyum iblis. “Aku sudah memutuskan untuk mengabulkan permintaanmu. Aku akan menjadi pacarmu.”

—–

Aku yakin MinAh, HyunAh, Jihyo dan Hamun melihat jelas kejadian di District 10 tadi malam karena mereka langsung meramaikan group chat KaTalk kami yang sudah sepi selama seminggu ini.

MinAh
Siapa pria itu? Kenapa tidak pernah mengenalkannya pada kami?

HyunAh
Apa dia pacarmu?

Jihyo
Eonni, cerita pada kami. Siapa pria itu?

Hamun
Eonni, kau menyukainya? Jangan memaksakan perasaanmu.

Aku membalas pesan-pesan mereka.

Pria itu namanya Cho Kyuhyun. Dia sahabatku sekaligus kekasihku. Aku sudah mengenalnya 18 tahun. Aku mencintainya.

Hamun-ah, kau harus bisa mendapatkan cintamu juga.

Seharusnya aku merasa senang ketika teman-temanku sudah kembali padaku tapi aku merasakan aku tidak terlalu bersemangat menanggapi mereka. Aku lebih memikirkan Donghae yang tidak ada kabarnya sejak kejadian itu.

Aku mendatangi kantor Kyuhyun untuk berdiskusi mengenai kejadian tadi malam. Sekretarisnya sudah mempersilahkan aku masuk tapi aku tetap berdiam di tempatku. Aku memandang pintu ruangannya dengan deg-degan, seolah ada macan yang akan memakanku begitu aku masuk ke dalam ruangan itu.

“Sejak kapan aku harus menjemputmu untuk masuk ke ruanganku?” Omelnya dengan kesal melihatku yang hanya berdiri di depan ruangannya. Aku balas menatapnya dengan kesal sekaligus tersipu malu. Masih teringat jelas rasa bibirnya seolah masih menempel di bibirku. “Mau masuk atau tetap berdiri di sini?”

Ia berjalan kembali masuk ke dalam ruangannya dan aku mengikutinya. “Ada apa?” Tanyanya begitu pantatnya menyatu dengan kursinya meskipun aku masih berdiri. Pria ini memang benar-benar menyebalkan. Seharusnya aku mencekiknya sewaktu ia menciumku tadi malam.

“Ada yang ingin aku bicarakan,” jawabku.

“Apa?”

“Soal tadi malam.”

Kyuhyun memicingkan matanya. “Soal tadi malam yang mana? Teman-temanmu? Laki-laki bernama Donghae? Atau soal ciuman kita?”

“Semuanya.”

Kyuhyun hanya tersenyum. Senyum paling angkuh yang pernah aku lihat dan paling menyebalkan sampai-sampai aku ingin menarik mulutnya dan membentuknya menjadi senyuman yang setidaknya layak untuk disebut senyuman. “Aku sudah mengabulkan permintaanmu kan? Jadi pacarmu. Menjauhkan Donghae darimu. Mengembalikan teman-temanmu. Sesuai permintaanmu kan?”

Aku tidak tahu kenapa aku memiliki penyakit baru saat berhadapan dengan pria ini. Aku jadi kesulitan bernafas. Aku menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya. Tidak ada gunanya aku menemui pria ini. Yang ada aku malah jadi sakit dibuatnya.

Aku bangkit berdiri dari tempat dudukku. “Kau mau kemana?” Tanyanya dan aku hanya menjawab, “Aku mau pulang.” Aku berjalan keluar dari kantor Kyuhyun dan memanggil taksi untuk membawaku. Sejujurnya tidak ke rumah. Aku mau menemui Donghae. Aku merasa bersalah terhadapnya. Ada yang harus aku selesaikan dengannya.

—–

“Maaf menganggumu di jam sibuk seperti ini,” kataku kepada Donghae begitu aku berhasil menemuinya. Saat ini sedang jam makan siang sehingga restoran Donghae sedang penuh dan sibuk-sibuknya melayani pelanggan yang datang.

Donghae tersenyum kepadaku. “Kau tidak mengganggu. Sama sekali. Tidak pernah,” sahutnya dengan tatapan lembut yang membuatku sedikit lebih tenang. “Ada apa?”

“Ada yang harus aku bicarakan denganmu,” jawabku ragu-ragu tapi aku bertekad untuk bicara dengannya.

Donghae mempersilahkan aku masuk ke dapurnya. Aku belum pernah masuk ke tempat ini dan melihatnya membuatku takjub. Dapur ini sangat unik dengan warna-warna kalem yang menghiasi dinding dan lantainya. Aku suka. “Maaf kita terpaksa bicara di sini. Tidak ada kursi kosong di jam makan siang,” katanya smabil tersenyum. Senyum yang sama seperti yang selalu dia berikan padaku.

“Gwencana. Tempat ini sangat bagus menurutku. Kau merancangnya sendiri?” Ujarku yang masih takjub dengan ruangan paling penting di restoran ini.

“Temanku yang mendesainnya. Aku hanya minta yang sesuai dengan seleraku saja,” kata Donghae. Ia menyuruhku duduk. Kursinya tidak terlalu besar tapi cukup nyaman untuk diduduki. “Apa yang ingin kau bicarakan?”

Aku memutar ingatanku, berusaha merangkai ekspresi Donghae tadi malam saat melihat Kyuhyun menciumku tepat di depan matanya. “Aku mau minta maaf atas kejadian semalam,” kataku tidak enak hati. Aku tidak seberapa yakin seberapa besar rasa suka Donghae padaku tapi aku tidak ingin menyakitinya sedikitpun karena ia sudah begitu baik padaku.

Donghae tertawa kecil. “Aku tidak masalah. Wajar kalau ada pria yang ingin mencium wanita secantik dirimu,” kata Donghae membuatku tersipu malu.

“Jangan menggodaku.”

“Aku serius.”

Donghae menatapku dan tanpa aku sadari ia sudah semakin dekat dengan diriku. “Aku menyukaimu,” katanya dengan pelan, nyaris berbisik. Ia semakin dekat dan semakin membuaiku dengan ketampanannya. Ia sudah berjarak beberapa senti dariku ketika tanganku menahan tubuhnya untuk bergerak lebih dekat. Seketika, wangi parfum Kyuhyun menguar ke dalam hidungku. Bibir pria keras kepala itu terasa menempel di bibirku.

“Aku menyukaimu juga tapi aku tidak bisa bersamamu,” kataku dengan terburu-buru. Donghae menatapku dengan terkejut. Ia menarik tubuhnya menjauh.

“Kau terpaksa bersama pria itu?”

Aku menggelengkan kepalaku.

“Kau mencintainya?”

Aku menggelengkan lagi kepalaku. Donghae pasti bingung dengan jawabanku. “Lalu kenapa?” Tanyanya.

“Aku menyukaimu begitu juga dengan empat temanku yang lain tapi Hamun yang paling mencintaimu. Dia sungguh-sungguh mencintaimu. Aku tidak bisa menyakiti magnae-ku, adik sepupuku sendiri. Tidak bisa. Karena itu aku tidak bisa bersamamu. Maafkan aku. Mianhe. Jeongmal mianhe,” lanjutku dengan kepala tertunduk dalam karena aku tidak sanggup menghadapinya. Aku benar-benar tidak ingin menyakitinya.

Donghae menepuk kepalaku dengan lembut kemudian memelukku. “Aku bisa memahamimu tapi aku mohon jangan merasa tertekan karenaku. Jangan menjauhiku. Kita berteman. Arra?”

Aku hanya bisa mengangguk dalam pelukannya dan kemudian menangis tanpa sebab yang jelas. Perasaanku begitu campur aduk sampai aku tidak bisa menggambarkannya dan hanya air mata sebagai luapan emosiku.

—-

To be continued