Annyeoooong…
Huaaaaah! Akhirnya aku kembali…
Setelah begitu lama tersiksa karena stuck gak bisa buat FF akhirnya aku bisa membuat satu FF walaupun singkaaaat banget.

Tapi semoga pada suka ya..
Hope you enjoy!
Mmuah

*****

“Selamat pagi,” sapaku kepada wanita yang berbaring dalam pelukanku. Matanya baru setengah terbuka, mengerjap-ngerjap untuk menyesuaikan dengan cahaya yang mulai memasuki iris matanya. Ia menatapku sambil tersenyum seadanya, karena ia masih mengantuk.

“Pagi,” ucapnya pelan bahkan nyaris tanpa suara. Ia mendekatkan tubuhnya, yang masih tidak terbalut sehelai benang pun, dan mengeratkan pelukannya. “Aku masih mengantuk. Biarkan aku tidur sebentar lagi,” katanya kemudian dan ia benar-benar kembali tidur, membuatku tertawa.

“Hei, aku menyewa kamar hotel ini untuk bermesraan denganmu, bukan melihatmu tidur,” godaku. Salah satu kesenanganku adalah menggodanya.

Dan salah satu keahliannya adalah mengabaikan godaanku. Ia hanya menggeram pelan dan kemudian yang terdengar hanyalah suara hembusan nafasnya yang cukup teratur.

Aku mengecup puncak kepalanya yang berada tepat di atas dadaku, di bawah kepalaku. “Selamat tidur,” ucapku yang kemudian, selama 30 menit ke depan, hanya bisa membelai rambutnya dan menikmati hembusan nafasnya yang menerpa dadaku.

“Eeeeugh,” lenguhnya pelan diiringi gerakan tubuhnya menandakan bahwa ia sudah kembali dengan kesadaran penuhnya. Perlahan, ia mengangkat kepalanya dan kemudian tubuhnya sehingga menjauh dari tubuhku.

Aku mengelus punggungnya yang tidak terlindungi apapun dengan lembut, membuatnya menengok kepadaku. “Hei,” sapaku.

Ia tersenyum sehangat matahari yang sudah bertengger di langit biru di luar kamar ini. “Selamat pagi. Selamat tahun baru,” ucapnya lalu mencium bibirku singkat namun juga menghangatkan.

Aku tersenyum tanpa melepaskan pandanganku dari wajah dan tubuhnya yang sangat sempurna. “Selamat pagi lagi. Selamat tahun baru. Apa tidurmu nyenyak?” Balasku.

“Humm….” Ia kembali membaringkan tubuhnya dalam pelukanku. “Kalau tadi malam kau agak lebih sopan, mungkin aku tidak akan tidur senyenyak ini,” katanya kemudian meletakkan kembali kepalanya di atas dadaku, melingkarkan lengannya di atas perutku agar dapat memelukku dan mengaitkan kakinya di atas kakiku mengakibatkan gesekan yang membuat tubuh kami sama-sama menegang.

Aku tertawa kecil mendengar jawabannya dan kemudian mencium puncak kepalanya untuk kesekian kalinya di pagi ini meskipun rasanya agak lengket. “Hei,” panggilku yang entah sejak kapan menjadi begitu posesif terhadap wanita ini. Ia sudah begitu dekat denganku tapi aku terus menariknya untuk lebih dekat denganku. Kini, tidak ada sedikitpun ruang di antara kami yang bisa dilalui bahkan oleh udara sekalipun.

“Humm?” Sahutnya singkat, bukan karena ia kembali kepada kegiatan kesukaannya yaitu tidur melainkan ia sedang fokus menonton televisi yang entah sejak kapan dinyalakannya.

“Aku punya hadiah untukmu,” kataku yang memang sudah menyiapkan hadiah khusus untuknya di tahun baru ini.

Ia mengangkat kepalanya sehingga ia bisa menatapku, setengah terkejut setengah tidak percaya. “Jinjja? Kau punya hadiah? Memang kau sempat menyiapkannya?” Tanyanya meragukanku.

Dengan gemas aku menggigit hidungnya yang tidak terlalu mancung. “Tentu saja aku sempat. Sebentar,” kataku. Aku mulai mencari-cari dompetku.

Di tempat tidur, tidak ada. Di atas nakas, tidak ada. Di atas sofa, tidak ada. Di atas meja, juga tidak ada. “Mana?” Desaknya tidak sabaran. Wanita ini memang memiliki sumbu tunggu yang agak pendek kalau soal hadiah. Tapi paling tidak, aku berhasil mengalihkan perhatiannya hanya untuk diriku.

Ia terus menatapku, meminta hadiahnya dan aku berusaha mengingat-ingat dimana letak dompetku. Karena di situlah letak hadiahku. Kususuri seluruh sudut kamar ini dengan mataku. Aku masih tidak ingin beranjak dari tempat tidur apalagi melepaskan kontakku dengan wanita ini.

Astaga! Aku melihat celana panjangku yang teronggok tidak berdaya di lantai, di depan tempat tidur kami. Sakunya sedikit menonjol menunjukkan dompetku masih tersimpan di sana. Dengan terpaksa, aku melepaskan tubuhnya yang membuatku begitu nyaman untuk mengambil dompetku. Secepat kilat, aku kembali ke tempatku. Aku kembalikan posisi tubuhnya yang memeluk erat diriku dari atas sampai bawah.

Aku mengeluarkan 10 lembar kertas seukuran kartu nama dari dompetku. Kesepuluh lembar kertas itu sudah aku kaitkan jadi satu dengan sebuah gantungan bermata hati. Jujur, bukan aku yang menyiapkannya. Aku hanya memberikan ide dan memaksa sekretarisku untuk berkreasi. “Ini untukmu,” kataku.

Ia mengambil hadiah itu dan menatapnya dengan heran. “Apa ini?” Tanyanya kepadaku dengan bingung.

“Wish card. Kau boleh mengajukan permohonan apapun di kartu itu dan aku janji akan mengabulkannya,” kataku dengan senyum sumringah melihat ia tersenyum kepadaku memperlihatkan bahwa ia senang aku memiliki hadiah untuknya.

“Apapun permintaanku?”

“Apapun permintaanmu.”

Ia lalu mengambil bolpoin dari nakas di sebelah sisi tempat tidurnya. Dengan cekatan ia menuliskan permintaannya ke satu lembar kertas itu lalu menyerahkannya kepadaku.

Berhenti membicarakan tentang anak ke-4.

Aku menatapnya dengan kesal dan ia balas menatapku sambil tersenyum. “Kau janji untuk mengabulkan semua permintaanku, sayang. Kau tidak boleh mengingkarinya,” katanya dengan lembut lalu mencium bibirku.

Dengan berat hati, aku mengabulkan permintaannya. “Baiklah tapi aku tidak janji kalau tiba-tiba saja ia muncul dan bertumbuh di dalam tubuhmu,” kataku dengan senyuman jahilku yang paling khas.

“Okay. Aku mau bilang apa kalau memang sudah takdirku untuk melahirkan empat kali. Tapi aku tidak akan berusaha keras untuk memilikinya apalagi untuk memenuhi impianmu punya anak sebanyak satu tim basket.”

Ia menekuk wajah cantiknya yang terlihat sangat menggemaskan di depan mataku. Tanpa bisa kulawan, hasratku untuk mengukungnya menguasaiku. Aku meraih pinggangnya dan mendekatkannya kepadaku lalu mencium bahu kurusnya dengan rakus. “Lalu apa lagi permintaanmu?” Tanyaku setelah puas.

“Humm? Apa ya? Biar aku pikirkan,” katanya yang kini justru balik memelukku. Ia duduk di atas tubuhku dengan memelukku dengan erat. Meskipun wajahnya tersembunyi di leherku namun aku tidak mempermasalahkannya karena ia memperbolehkan aku untuk mengganggu bagian kakinya.

“Aku tahu!” Pekiknya tepat di samping telingaku membuatnya berdenging sesaat.

“Aku lebih suka mendengar kau mendesah di telingaku daripada kau memekik seperti itu,” tegurku namun ia hanya tertawa renyah.

“Aku tahu mau apa. Tunggu sebentar,” katanya kemudian menuliskan sesuatu di kertas keduanya dan menyerahkannya kepadaku.

Kau harus jaga kesehatan. Sesibuk apapun, kau tidak boleh lupa makan. Banyak minum air putih dan makan vitamin. Tidak ada alasan apapun!

Aku membacanya dan kemudian mengernyitkan keningku. “Jadi kesehatanku tidak lebih penting daripada keinginanmu yang tidak mau punya anak keempat?” Ujarku. Tentu saja aku hanya menggodanya. Melihatnya ia masih menginginkan kesehatanku di antara 10 keinginannya, rasanya aku ingin menangis saking terharu.

Ia kembali menekuk wajahnya dan kembali terlihat menggemaskan untuk mataku. “Bukan begitu… Tentu saja aku lebih mementingkan kesehatanmu. Hanya saja tadi hal pertama yang terlintas adalah soal anak keempat itu. Kau juga sih membahasnya nyaris setiap hari. Membuatku kesal saja.”

Aku tertawa terbahak-bahak mendengar pembelaan dirinya. Ia terlihat sangat lucu. “Aku hanya bercanda, sayang. Soal kau lebih mementingkan untuk tidak hamil lagi dibandingkan kesehatanku. Tapi kalau soal aku masih mengharapkan anak keempat dan seterusnya, aku serius,” ujarku dan kembali tertawa.

Mungkin karena kesal, ia memukul dadaku sekuat tenaga. “Rasakan. Rasakan. Rasakan,” katanya tanpa henti dengan kepalan tangan yang bergantian memukul dadaku. Meskipun sebenarnya tidak terasa sakit sama sekali, aku pura-pura meringis kesakitan untuk membuatnya merasa puas. Aku membiarkannya memukuli dadaku karena rasanya seperti dipijit bukan dipukuli.

Tiba-tiba aku tidak merasakan lagi pukulannya. Yang aku rasakan justru tatapan cemasnya yang menatap langsung ke mataku. “Sakit ya? Maafkan aku,” katanya penuh dengan penyesalan dan kini menggantikan pukulan dengan belaian di dadaku.

Aku tersenyum tipis. “Sedikit,” kataku yang tentu saja tidak benar karena aku mengatakannya hanya untuk membuatnya merasa menyesal dan kemudian akan memanjakanku. Aku tahu kebiasaannya.

Ia menatapku penuh dengan penyesalan dan mengelus dadaku dengan lembut. “Mianhe. Aku tidak bermaksud menyakitimu,” katanya yang tentu saja sudah aku ketahui dari waktu pertama kali aku mengenalnya. Ia adalah wanita yang tidak akan pernah menyakitiku, meskipun hanya dalam mimpi.

Aku mengelus punggungnya yang membuatku merasa sangat nyaman, yang menyadarkanku bahwa sebagian besar duniaku adalah dirinya. “Kau masih punya 8 kartu. Apa kau ada permintaan lain?” Tanyaku.

Ia menggelengkan kepalanya dengan pelan dan balik bertanya kepadaku, “Apa aku harus menghabiskannya sekarang?”

“Tidak harus. Kau boleh menggunakannya lain kali,” jawabku. Dalam hati aku tertawa geli. Tanpa kartu itu pun ia bisa mengajukan permintaan apapun padaku.

“Sampai kapan masa berlaku wish card-mu ini?” Tanyanya lagi.

Sekali lagi aku tertawa geli, tapi kali ini aku tidak melakukannya dalam hati. Aku tertawa tepat di depan matanya. Aku melumat bibirnya saking gemasnya. “Seumur hidup, sayang. Wish card itu berlaku seumur hidup,” kataku lalu kembali menciumnya sampai ia mendorongku dengan nafas terengah-engah.

Aku mengembalikan rambutnya yang berantakan menjadi lebih rapi bahkan mengikatnya agar tidak lari kemana-mana, sembari ia mengambil nafas.

“Sudah merasa lebih baik?” Tanyaku ketika melihatnya sudah kembali bernafas dengan normal. Ia hanya menganggukkan kepalanya.

Tangannya masih melingkari leherku dan saat ini bertumpu di kedua bahuku. Tubuhnya masih setia menempel di atasku. Kepalanya berada beberapa senti di depan kepalaku.

“Hei,” ujarnya nyaris berbisik. Tidak, ia mendesah. Tidak, mungkin itu lenguhannya yang tertahan. Entahlah, aku tidak bisa membedakannya. Masa bodo.

Aku memberikannya sebuah kecupan singkat di bibirnya sebelum menanggapinya, “Ada apa?”

“Kalau aku ingin bercinta denganmu sekarang, apa aku perlu menggunakan wish card itu?” Tanyanya.

Lupakan soal wish card. “Tidak. Kau tidak memerlukannya,” jawabku dan tanpa memakan banyak waktu, aku sudah membalik posisiku. Ia berada di bawahku dengan tubuhku yang menguncinya dari ujung rambut sampai ujung kakinya.

“Tapi aku tidak tanggung kalau bulan depan ada makhluk berkembang dalam rahimmu,” kataku kemudian sambil tersenyum usil tanpa melepaskan tatapan mataku.

“Kita bisa mengaturnya. Kau terlalu banyak bicara,” katanya lalu menarikku untuk melumat bibirku dan meremas kepalaku. Sedetik kemudian, aku seperti sudah kehilangan akal sehatku.

Kkeut!