Man’s side

Dia sedang duduk manis di sofa sambil memainkan konsol game yang sengaja aku tinggalkan di ruanganku agar tidak menganggu rapatku. Ia begitu serius dengan permainannya sampai-sampai ia tidak menyadari keberadaanku yang sudah 10 menit memperhatikannya.

“Mau sampai kapan menjajah konsol game-ku?” Tegurku yang akhirnya mendapatkan kesadarannya.

Ia menaruh konsol game-ku ke atas meja dan menoleh kepadaku. “Rapatmu sudah selesai?” Tanyanya tidak segalak biasanya. Hari ini dia terlihat lesu.

Aku duduk di sofa di sampingnya, memperhatikan gadis yang beberapa hari belakangan ini menjadi pacar-pacaranku karena permainan konyolnya dengan teman-temannya. “Kalau belum selesai mana mungkin aku berada di sini sekarang,” jawabku. Aku tidak pernah bermaksud bicara galak atau kasar kepadanya. Aku hanya suka melihat berbagai macam ekspresinya atas reaksi atas perbuatanku padanya.

“Galak sekali,” keluhnya dengan wajah cemberut yang tidak bersemangat.

“Kau kenapa? Lemas sekali,” komentarku. Aku sudah mengenalnya belasan tahun sehingga aku tahu betul caranya membuatnya kembali membara. “Kau sedang patah hati?”

Buk!!! Sebuah bantal sofa ia lempar dan tepat mengenai wajahku. “Aku tidak sedang patah hati tahu! Aku sedang lapar!”

“Ya makan. Kenapa kau malah duduk di ruanganku?”

Gadis ini menatapku dengan sebal. Tangannya sudah menjulur untuk menjambak rambutku tapi aku lebih cepat menghindarinya. Ia mengubah sasarannya menjadi pahaku. “Auuuw!!!” Teriakku karena cubitannya memang benar-benar menyakitkan.

“Rasakan!”

Aku mengelus-elus pahaku untuk mengurangi rasa sakitnya. Pahaku yang tadi dicubitnya terasa panas dan aku yakin sudah merah membara di balik celana kainku ini. Ia memandangku sambil menjulurkan lidah untuk mengejekku. Sialan.

Gadis itu kemudian menatapku dengan memelas. “Aku benar-benar lapar. Traktir aku. Jebaaaaal…” pintanya dan tentu saja aku tolak mentah-mentah.

“Model internasional sepertimu masa tidak punya uang untuk makan?”

Ia menggelengkan kepalanya. “Aku sedang pengangguran. Aku mohon tolong aku…”

“Cih!!”

Aku menelepon sekretarisku untuk membawakan sejumlah makanan bukan karena aku tidak tahu apa makanan kesukaan gadis ini. Aku justru mengetahui bahwa ia menyukai segala jenis makanan asal itu dapat membuatnya kenyang.

“Gomawoooo,” ucapnya dengan riang begitu melihat berpiring-piring makanan di hadapannya. Tanpa ragu, ia mengambil nasi dan bulgogi untuk mengisi perutnya.

“Apa Donghae masih mendekatimu? Kau sudah bicara dengannya kan?” Tanyaku. Aku tidak penasaran. Aku hanya ingin tahu.

“Bagaimana kau tahu?” Tanyanya tanpa berhenti mengunyah.

Uups! Aku membocorkan rahasiaku sendiri. Tiga hari yang lalu aku sengaja datang ke District 10 untuk bertemu dengan Donghae. Aku ingin menjelaskan semuanya kepada pria itu namun pada kenyataannya justru ia yang balik menjelaskan semuanya kepadaku.

“Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran kekasihmu dan teman-temannya. Hamun menyukai aku. Aku menyukai kekasihmu. Kekasihmu mengaku ia menyukaiku tapi ia memilih untuk bersamamu hanya karena tidak ingin menyakiti hati Hamun. Anehnya, teman-temannya menjauhi kekasihmu karena dekat-dekat denganku. Apa yang terjadi sebenarnya? Aku bingung,” katanya yang sebenarnya juga membuatku bingung tapi aku tidak ingin memikirkannya. Pemikiran wanita adalah hal yang paling sulit untuk dipahami di dunia ini.

Aku mengangkat bahuku sebagai jawaban aku juga tidak mengerti. “Aku dengar Hamun mencintaimu. Kenapa tidak mencoba untuk mendekatinya?” Tanyaku.

“Aku menyukai kekasihmu,” katanya. “Kau mencintainya kan?”

Aku menjawab asal, “Aku mencintainya.”

Donghae menatapku dan terdiam seolah menyerah untuk mendapatkan gadis cerewet dari tanganku. “Jaga kekasihmu dengan benar. Ia gadis baik,” pesannya kepadaku dengan tatapan mata sayu dan sedih. Aku hampir tidak bisa menahan tanganku untuk tidak mencengkram kerah bajunya. Pria itu benar-benar menyukai ‘kekasihku’. Sial.

“Aku hanya menduga-duga. Kau kan paling tidak bisa kalau tidak menyelesaikan persoalan yang sudah menganggu pikiranmu,” jawabku yang memang menggambarkan sifat dirinya. “Jadi bagaimana hubunganmu dengan Donghae saat ini?”

“Betema,” jawabnya dengan mulut penuh makanan.

“Apa?” Tanyaku karena tidak bisa menangkap perkataannya dengan jelas.

Ia buru-buru menelan makanannya dan mengulangi jawabannya, “Berteman, bodoh. Dasar tuli. Masa kau tidak mengerti?!”

“Yaaaa! Kau menjawab dengan mulut penuh makanan seperti itu ya mana aku bisa menangkap jawabanmu. Dasar jorok!”

Dia sudah bersiap untuk melempar bantal sofa kepadaku dan aku buru-buru angkat kaki untuk berpindah ke meja kerjaku. “Habiskan makananmu. Setelah itu baru kita pulang,” ujarku kaget. Aku kaget pada diriku sendiri. Apa yang baru saja aku katakan? Mengajaknya pulang? Memangnya aku siapa?

Aku menoleh kepadanya yang sepertinya baru saja tersedak. “Kau kenapa?” Tanyaku dengan panik. Aku buru-buru mengambil air putih dan menyuruhnya minum sambil menepuk-nepuk punggungnya seperti yang biasa ia lakukan kepadaku kalau aku sedang tersedak.

“Cho Kyuhyun-ssi, kau masih waras kan?” Tanyanya dengan wajah heran dan mata merah bekas tersedak. Mungkin ia juga heran mendengar ucapanku. Seumur-umur aku tidak pernah menawarkannya untuk pulang bersama, meskipun aku sedang mabuk. Selalu dia yang akan mengikutiku dan memaksaku dengan galak, kadang dengan aegyo-nya, untuk bisa pulang bersamaku. Aku saja heran apalagi dia.

“Aku masih waras. Seratus ribu persen. Sudah, habiskan makanananmu sana. Tidak usah banyak komentar,” ujarku lalu meninggalkannya karena aku masih punya banyak pekerjaan.

—–

Aku keluar dari ruanganku diikuti oleh wanita yang berusaha menyeimbangkan langkahku sehingga membuatnya terlihat berjalan dengan kecepatan tinggi. Aku memperlambat langkahku.

“Istrimu datang menjemput, Kyuhyun-ah?” Tegur Direkturku sambil menatap wanita di sebelahku dengan kagum.

Refleks, aku membungkukkan tubuh dan mendorong punggungnya untuk mengikuti gerakan tubuhku untuk memberi hormat. “Kenalkan ini Song Hyejin, sajangnim. Hyejin-ah, ini Direktur Byun,” kataku memperkenalkan Hyejin dengan direktur keuangan perusahaanku.

“Ahh, senang berkenalan dengan Direktur,” kata Hyejin lalu membungkukkan tubuhnya untuk kedua kalinya.

Direktur Byun tersenyum kepada Hyejin. “Senang berkenalan dengan wanita cantik sepertimu, Hyejin-ssi. Kyuhyun terlalu beruntung mendapatkanmu,” kata pria berambut putih ini sambil tertawa terbahak-bahak. Sialan. Kalau ia temanku aku pasti sudah menyumpal mulutnya. Karena ia bosku, aku hanya tersenyum.

Hyejin tertawa sopan. Ia memang sudah terbiasa untuk berakting. “Aku bukan istrinya, sajangnim. Kami hanya berteman,” ujarnya dengan manis dan membuat bosku itu tersenyum cerah, secerah matahari yang sedang bertengger di langit saat tepat jam 12 siang.

“Hahahahahaha. Aku pikir kalian sudah menikah. Aku sering melihat kau bersama dengan Kyuhyun di kantor ini. Kupikir kau istrinya. Maaf. Maaf,” kata bosku.

Aku tahu pria tua ini akan kembali membuka mulutnya. Beruntung, lift yang ditunggu-tunggu akhirnya terbuka. Aku mempersilahkannya untuk masuk lebih dulu diikuti sekretarisnya dan beberapa karyawan lain. Aku menunggu untuk lift selanjutnya.

“Kenapa kita tidak ikut masuk?” Tanya Hyejin yang kuacuhkan begitu saja. Kalau kami ikut lift tersebut, Direktur Byun pasti tidak akan berhenti bicara untuk menggoda Hyejin atau mungkin berencana mengenalkannya dengan anak laki-lakinya yang sudah berumur 38 tahun tapi belum menikah juga. Itu deritanya, jangan menyeret-nyeret Hyejin.

—-

Aku duduk di depan televisiku, membiarkan Hyejin mengacak-acak dapurku seperti yang selama ini biasa ia lakukan. “Hyejiiiiiin!! Masakanmuuuu!!!” Teriakku ketika aku mencium bau agak gosong dari arah dapur.

“Astaga! Aku lupa mematikan kompor!” kata Hyejin yang langsung berlari dari kamar mandi untuk mematikan kompor di dapur.

“Dasar bodoh,” ejekku berefek sebuah jambakan di rambutku nyaris seperti ingin mencabut rambutku sampai ke akar-akarnya.

“Sakiiiiit!!!” Seruku namun Hyejin dengan tenang menjulurkan lidahnya untuk mengejekku.

“Makananmu sudah siap. Mau makan atau tidak?” Katanya dengan santai lalu berlenggang menuju ruang makan. Aku menyusulnya sambil mengusap-usap kepalaku yang terkena jambakannya.

Ia memasak japchae, samgyeopsal dan sup rumput laut. Kesukaanku. “Mari makaaaan!!!” Seruku mengambil makanan tersebut dan memasukkannya ke dalam mulutku sampai penuh.

“Kau itu kalau makan tidak bisa pelan-pelan ya? Dasar rakus!” Omelnya yang sudah mulai makan dengan cara yang lebih sopan dari caraku.

“Herewe!” Maksudku ingin mengatainya cerewet tapi apa daya dengan mulut penuh seperti ini aku hanya sanggup berkata seperti itu. Entah apa Hyejin menangkapnya atau tidak.

“Makan dulu dengan betul. Kau bisa mati tersedak nanti,” ujarnya dan aku menurutinya. Aku mengunyah baik-baik makananku lalu menelannya demi kelangsungan hidupku yang lebih panjang.

Hyejin memisahkan lemak dari samgyeopsal yang dimasaknya lalu menaruhnya di piringku. Dia memang pemakan segala tapi ia tidak bisa memakan lemak. Lemak ayam, sapi, babi, tidak ada yang berhasil melewati kerongkongannya. Sedangkan aku tidak bisa makan sayur-sayuran jadi aku memisahkan irisan wortel, buncis, tomat dan sayur-sayuran lain dari japchae-ku dan kuletakkan di pinggir piring Hyejin.

Pertama kali kami saling memilih-milih makanan seperti ini, kami saling berteriak, menyuruh satu sama lain untuk memakannya tapi lama-lama kami tidak berkomentar apa-apa. Aku memakan lemak yang ditaruh Hyejin ke piringku dan ia memakan sayur-sayuran yang aku taruh di piringnya.

“Kyu,” panggilnya setelah ia selesai makan. Ia selesai makan lebih dulu karena porsinya lebih sedikit dari porsiku dan kecepatan menelannya lebih cepat dari kecepatanku.

“Eo?” Sahutku menikmati sup rumput laut di mangkukku.

“Besok malam kau ada acara?” Aku masih mengunyah sehingga tidak bisa menjawab pertanyaannya. Aku menggelengkan kepala. Bahasa tubuh selalu dapat membantu. “Kau bisa menemaniku ke District 10?”

Aku buru-buru menelan makananku dan menatapnya dengan heran. “Mwo?! Kau mengajakku ke District 10? Kau mau apa? Kencan?” Wajah Hyejin sedikit memerah dan aku tertawa keras karena berhasil menggodanya.

“Bukan. Mereka mengajakku makan bersama di District 10 dan mereka menyuruhku untuk membawamu. Mereka tahunya kita kan pacaran jadi aku tidak bisa menolaknya. Aku belum menjawab ajakannya sih tapi kalau aku datang sendirian dan Donghae ada di sana, aku bisa tamat.”

Aku tahu siapa yang ia maksud dengan ‘mereka’. Mereka itu pasti MinAh, HyunAh, Jihyo dan Hamun. “Kalian sudah baikan?” Tanyaku penasaran. Persoalan wanita ini sangat pelik. Hanya karena seorang namja, wanita bisa menjadi sangat mengerikan. Kalau aku dan teman-temanku yang berada dalam situasi itu pasti kami sudah mengejar satu gadis itu dan membiarkannya memilih. Tidak perlu sampai menjadi serumit ini. Perempuan memang aneh.

Hyejin mengangkat bahunya dengan malas. Dari situ aku tahu bahwa persoalannya dengan teman-temannya belum selesai juga padahal Hyejin sudah bilang bahwa ia tidak akan mendekati Donghae. Dia tidak akan mengkhianati Hamun tapi teman-temannya masih tidak percaya juga sampai Donghae berpaling pada Hamun dan memacari gadis itu. Sudah aku bilang, wanita itu aneh.

Kembali ke permohonannya. Kapan sih aku tidak menolongnya? “Okay. Jam berapa acara kalian?” Tanyaku.

“Jam 7 malam seperti biasa,” jawabnya dan ia menatapku seolah ada permohonan lain yang ingin ia sampaikan. Aku menaikkan alisku seolah berkata ‘apa lagi?’ kepadanya. “Kita harus datang benar-benar bersama-sama. Aku akan datang ke kantormu jam setengah 7. Bagaimana?”

Aku tidak berpikir panjang saat mengeluarkan jawabanku, “Aku akan menjemputmu ke sini jam setengah 7.” Aku seakan lupa bahwa pekerjaanku yang seabrek itu tidak akan mungkin aku selesaikan sebelum jam 6 sore. Aku ingin menarik perkataanku tapi Hyejin pasti akan langsung menghinaku habis-habisan. Tidak. Tidak. Mau dimana kutaruh harga diriku sebagai laki-laki?

To be continued.

—-