“Donghae oppa, apa kau sayang padaku?” tanya gadis ini pada pria yang tidur di sampingnya.

Pria itu menatapnya dengan tatapan hampa. Tidak ada kegembiraan yang terpancar dari wajahnya. “Aku cinta padamu, Hamun,” katanya.

Hamun tersenyum mendengar perkataan pria yang sangat ia cintai, yang sudah sejak setahun lalu menjadi suaminya. Ia mengelus wajah tampan itu dengan lembut. “Apa kau bahagia, oppa, menjadi suamiku?” tanyanya lagi.

Donghae menjauhkan tangan Hamun yang dari tadi mengelus wajahnya. “Tentu saja. Apa perlu kau menanyakan kedua hal itu tiap malam?” tanyanya dingin sembari ia memutar tubuhnya memunggungi Hamun.

Hamun memeluk pria itu dari belakang. “Mianhe, aku hanya ingin mengingatkan diriku kalau oppa menyayangiku,” katanya. Air mata Hamun mengalir dengan sendirinya. Itulah yang selama ini Hamun lakukan tiap malamnya. Menangis sendiri untuk mengobati hatinya sementara waktu.

Sebagai wanita yang sangat mencintai Donghae, hatinya sakit karena sikap suaminya yang dingin padanya. Namun, ia tak mau mengeluh. Kehadiran Donghae, pernyataan cinta yang Donghae ucapkan, meskipun itu semua kebohongan, rasanya sudah sangat cukup untuk Hamun. Hamun sangat sadar kalau ia tak berhak meminta lebih dari itu karena dirinya sudah lebih dulu menyakiti suaminya. Ia menjauhkan Donghae dari orang yang paling pria itu sayangi. Bukan Hamun, istrinya, melainkan kekasihnya terdahulu, Song Hyejin.

“Oppa? Sudah tidur?” tanya Hamun. Tak ada jawaban dari pria itu.

Hamun bangkit dari tidurnya. Terduduk di kasur dan menyandarkan tubuhnya di headboard tempat tidur. Ia menatap Donghae yang sedang tertidur dengan penuh cinta. Ia mengelus kepala pria itu lembut, tak mau membangunkannya. “Kau tahu alasan sebenarnya kenapa aku selalu menanyakan hal itu, oppa?”

Air matanya mengalir kembali. “Karena jauh dari dalam lubuk hatiku, aku masih berharap kalau kau bisa mencintaiku,”

Hamun tertawa kecil. “Bodoh, kan, aku? Padahal aku pun tahu sampai kapan pun, kau hanya bisa mencintai Hyejin onnie,” katanya.

Hamun menghela nafas panjang. “Besok kau ulang tahun. Kira-kira hadiah apa ya, yang bisa membuatmu tersenyum bahagia seperti pertama kali aku bertemu denganmu? Senyum yang membuat aku jatuh cinta padamu. Sepertinya sejak aku menjadi istrimu, aku tak pernah melihatmu tersenyum seperti itu,” kata Hamun.

Ia menghapus air matanya lalu mencium kening Donghae. “Maafkan aku yang terlalu banyak meminta. Mulai saat ini, aku tak akan memintamu untuk mencintaiku. Mulai sekarang, aku akan berusaha untuk membuatmu bahagia. Bersabarlah dua tahun lagi, oppa. Setelah hari itu tiba, kau bisa kembali bersamanya. Aku mencintaimu. More than you know,”

*****

Hamun terbangun lebih pagi dari biasanya. Saat ia bangun, Donghae masih lelap tertidur. Hamun bangkit secara perlahan agar tidak membangunkan suaminya, lalu ia beranjak menuju dapur.

Ia mulai mengeluarkan bahan dan peralatan yang ia butuhkan. “Nona, sebaiknya aku saja yang membuat,” kata Kim haelmoni, pelayan keluarga Hamun yang sudah merawat Hamun dari kecil.

Hamun tersenyum padanya. “Aku bisa sendiri, haelmoni,” jawabnya.

“Tapi, jika anda lelah, jantung anda akan..”

“Aku tahu, haelmoni. Jika aku lelah, aku akan istirahat sebentar. Kau tak perlu khawatir. Aku sangat ingin membuatkan kue tart untuk ulang tahun Donghae oppa,” kata Hamun. Kim Haelmoni hanya bisa menghela nafas panjang. Jika sudah berhubungan dengan suaminya, nonanya ini tidak dapat diberitahu. “Aku mohon, jaga jantungmu ya, nona,” hanya itu yang bisa ia katakan.

“Tentu saja, aku akan menjaganya dengan baik. Aku masih ingin bersama Donghae oppa lebih lama lagi,” kata Hamun yang kini sudah sibuk mengaduk adonannya. “Oia, Haelmoni, jangan membahas hal itu lagi ya. Jangan sampai Donghae oppa tahu tentang penyakitku,” kata Hamun mengingatkan.

Kim Haelmoni hanya bisa mengangguk lalu pergi dari tempat itu. Ia tak bisa berpura-pura kuat dihadapan nonanya. Ia tak sanggup membayangkan bagaimana perasaan Hamun saat ini. Bagaimana perasaannya memikirkan kematiannya yang sudah semakin dekat. Bagaimana perasaannya yang tahu kalau suaminya tidak mencintainya. Semuanya terlalu menyakitkan walaupun hanya sekedar membayangkan.

*****

Donghae menatap wajahnya dicermin. Ia dapat melihat pantulan wajahnya yang sudah lama kehilangan senyumnya. Semuanya berawal sejak ayah Hamun, yang merupakan bos di perusahaan tempat ia bekerja memberikan kontrak itu.

“Lee Donghae shi, anakku Kang Hamun, ia sangat mencintaimu. Ia memang tidak pernah bercerita padaku tapi aku tahu dari caranya menatapmu. Aku ingin kau menikah dengannya. Hanya tiga tahun. Setelah itu kau bisa kembali kepada kekasihmu saat ini. Sebagai gantinya, aku akan melunasi semua hutang keluargamu. Aku akan membiayai pengobatan ibu sampai ia sembuh, dan akj akan memberikanmu saham perusahaan ini sebesar 30%. Jika itu tidak cukup, aku akan memberikanmu apapun yang kau mau,” kata ayah Hamun saat itu.

“Mengapa anda rela mengorbankan harta anda sebanyak ini, Tuan?” tanya Donghae yang saat itu sangat kaget dengan semua penawaran ayah Hamun.

Pria separuh baya itu hanya tersenyum dengan mata berair. “Harta itu tidak sebanding dengan kebahagiaannya. Aku hanya ingin membuatnya bahagia,”

Sampai saat ini, Donghae tak pernah mengerti mengapa ayah Hamun rela melakukan semua itu. Ia juga sudah tak peduli dengan semua ini. Ia hanya perlu bertahan selama dua tahun lagi. Setelah itu, ia bisa kembali pada Hyejin.

Setelah yakin pakaian kerjanya sudah rapi, ia segera keluar kamar.

“Selamat ulang tahun, oppa,” ujar Hamun yang sudah berdiri di depan pintu kamar mereka dari tadi. Hamun menggandeng tangan Donghae dan membawanya menuju ruang makan.

“Aku sudah membuatkan sop rumput laut untuk sarapan oppa dan kue tart,” kata Hamun ceria yang kini sudah duduk dikursi yang berhadapan dengan Donghae.

“Terima kasih,” kata Donghae.

“Apa kau senang dengan semua ini, oppa?” tanya Hamun.

“Hm,” jawabnya tanpa menatap Hamun. Hati Hamun rasanya seperti teriris. Ia bisa melihat bahwa di wajah Donghae tidak ada kebahagiaan.

Hamun hanya diam saja menatap pria yang sudah melahap sop buatannya. Ia menghela nafas panjang untuk menguatkan hatinya. Ia menyodorkan sebuah amplop pada pria itu.

“Bukalah,” kata Hamun dengan senyumnya saat Donghae menatapnya dengan heran.

Donghae melakukan apa yang Hamun katakan. Matanya membesar saat ia melihat kertas kecil yang ada di dalamnya. “I.. Ini?”

“Kau tak salah lihat, oppa. Itu memang ‘Kupon merayakan ulang tahun dengan Hyejin seharian,'” kata Hamun tanpa kehilangan senyumnya meskipun hatinya sudah menjerit kesakitan. “Aku sudah bilang pada Appa kalau kita ingin merayakan ulang tahunmu berdua saja. Akhirnya, appa tidak memaksa untuk merayakan ulang tahunmu bertiga seperti tahun lalu. Maka dari itu, kali ini kau bisa merayakannya berdua dengan Hyejin,” katanya.

Donghae menatap Hamun. Kali ini, matanya terlihat berbinar. Wajahnya menunjukan kebahagiaan, dan pria itu tersenyum pada Hamun saat ia mengucapkan, “Terima kasih, Hamun,”

“Tapi, aku mohon oppa kembalilah sebelum jam 12 malam, ya oppa,” kata Hamun mengingatkan. Ia takut jika pria ini pergi, ia tak akan kembali ke sisinya.

Donghae mengangguk, “Jangan khawatir ya,” katanya lalu pergi begitu saja.

Setelah pria itu pergi, Hamun membiarkan air matanya mengalir. Ia merasa bahagia, khawatir, dan sedih disaat yang bersamaan. Ia bahagia bisa melihat senyum tulus pria itu tapi hatinya sakit menyadari kalau senyum itu hanya muncul karena Hyejin.

*****

Hamun menatap pria itu dan wanita yang dicintainya dari dalam mobil. Ia bisa melihat keduanya sedang berbicara di restaurant itu. Hamun tak tahu apa yang mereka bicarakan namun baik Donghae ataupun Hyejin tidak tampak bahagia. Tidak seperti yang Hamun bayangkan.

“Annyeonghaseyo,” sapa Hamun yang sudah turun dari mobil pada mereka berdua. Hyejin membalas sapaan gadis itu dengan senyumnya sedangkan Donghae hanya diam di tempatnya.

“Oppa, mianhe, aku datang seenaknya. Aku mau menjemputmu karena ini sudah jam 1 pagi,” jelas Hamun.

Donghae segera bangkit dari tempat duduknya dan membayar bil. Bahkan sampai ia kembali, ia tidak menatap Hamun. “Aku akan mengantar Hyejin terlebih dulu,” kata Donghae yang sudah menggandeng tangan Hyejin. Hamun melihat itu. Hatinya tercekat, namun ia tak bisa berkata apa-apa. Setelah itu, ia melihat Hyejin menarik tangannya dari genggaman Donghae seakan ia tidak enak pada Hamun.

Hamun tersenyum pada Hyejin. “Onnie, supirku akan mengantar onnie pulang. Tidak apa-apa, onnie?” tanya Hamun lembut. Hyejin mengangguk lalu berjalan keluar menuju mobil yang Hamun tunjuk tadi.

Hamun kembali menatap Donghae yang belum bisa melepaskan pandangannya dari Hyejin. Dengan segera, Hamun mengusap air matanya yang entah sejak kapan sudah mengalir. “Oppa, ayo pulang,” kata Hamun sembari ia mengambil tangan Donghae untuk ia genggam.

Donghae memandang Hamun dengan tatapan hampa. Ia melepaskan tangan Hamun dari tangannya lalu mengambil kunci yang Hamun pegang. “Ayo,” hanya itu yang ia ucapkan lalu Donghae berjalan lebih dulu di depan Hamun.

*****

“Bagaimana seharian ini oppa?” tanya Hamun lembut pada Donghae yang sedang menyetir.

“Begitulah,” jawab Donghae dingin.

“Apa oppa bahagia hari ini?” tanya Hamun lagi.

Donghae menghela nafas panjang lalu membawa mobil itu menepi. “Ada apa oppa?” tanya Hamun bingung.

Donghae menatap Hamun dingin. “Aku ingin cerai,”

“A-apa oppa?” tanya Hamun yang berharap dirinya hanya salah dengar.

“Aku ingin membatalkan kontrakku dengan ayahmu. Aku tak akan mengambil saham perusahaanmu. Tapi, aku ingin kita cerai. Sekarang. Aku tak bisa menunggu sampai dua tahun lagi,”

Air mata Hamun mengalir tepat diakhir kalimat yang Donghae ucapkan. Nafas Hamun sudah menjadi sesak dan jantungnya terasa seperti ditikam. Sangat sakit.

“Aku sudah menelpon supir appamu untuk menjemputmu disini. Aku akan ke tempat Hyejin. Barangku akan kuambil besok,” kata Donghae lalu ia pergi begitu saja.

Air mata Hamun makin menderas setelah kepergian suami kesayangannya. Ia berteriak histeris beberapa kali. Sampai akhirnya, ia menjadi susah bernafas. Ia berteriak tapi tidak ada suara yang keluar. Ia memegang dadanya karena jantungnya terasa sakit sakit. Sangat sakit sampai akhirnya semuanya menjadi gelap gulita.

*****

Donghae langsung ke rumah sakit begitu mendengar kabar kalau Hamun masuk ke ruang ICU. Saat ia tiba di rumah sakit, ia bisa melihat dari jendela pintu kamar, jantung Hamun sedang di pompa olah alat pengejut jantung. Ia bernafas lega saat melihat di electrocardiograph, jantung Hamun kembali berdetak meskipun denyutnya lemah.

Ayah Hamun yang menyadari kehadiran pria itu, segera menghampirinya. “Mianhe, Donghae aku menyembunyikan keadaan Hamun ini darimu,” katanya tiba-tiba. Ayah Hamun mengajak pria itu pergi ke tempat dimana mereka dapat berbicara berdua saja.

“Hamun mengidap penyakit Reflex Anoxic Seizures yang menyebabkannya tidak boleh merasakan emosi yang berlebihan. Hal itu akan menyebabkan serangan jantung yang dapat merenggut nyawanya. Selain itu, jantungnya juga memiliki masalah lain sehingga dokter sudah mendiagnosis bahwa Hamun akan meninggal diumur 25,” jelas ayah Hamun.

“Mengapa anda dan Hamun menyembunyikan hal ini dari saya, aboeji?” tanya Donghae tak mengerti.

“Hamun ingin merahasiakan hal ini. Ia tak ingin kau mengasihaninya. Ia tak ingin membebanimu karena ia sangat mencintaimu. Saat ini, kau adalah satu-satunya alasan Hamun untuk tetap hidup,” jelas pria separuh baya itu dengan lembut. Hati Donghae terenyuh mendengar penjelasan itu. Ia tak menyangka kalau Hamun sangat menyayanginya.

“Sebelum kau datang, Hamun sempat terbangun. Tapi, begitu ia sadar dirinya masih hidup, ia menangis histeris. Ia bilang, lebih baik dirinya mati daripada harus hidup tanpa dirimu. Karena itulah, ia sempat mengalami serangan jantung lagi dan jantungnya di pompa,” jelas ayah Hamun.

“Aku mengatakan hal ini, karena aku ingin kau tahu kalau kau sangat disayangi oleh Hamun,” lanjutnya. “Kau boleh membatalkan kontrak kita. Aku sudah siap jika harus kehilangan Hamun sekarang. Terima kasih sudah membuat Hamun bahagia selama ini, Donghae,”

*****

Setelah dirawat di rumah sakit selama dua bulan, Hamun kembali ke rumahnya. Rumah tempat ia dan Donghae pernah tinggal bersama. Kim Haelmoni menuntun Hamun ke kamarnya dan mendudukan wanita itu di kasurnya. “Kalau perlu apa-apa, panggil aku saja ya nona,” katanya lalu pergi meninggalkan Hamun.

Hamun menatap sekeliling kamarnya. Air matanya mengalir begitu saja saat mendapati kalau tidak ada yang berubah sedikit pun. Tiba-tiba, pintu kamar itu di buka. Alangkah kagetnya Hamun saat ia melihat pria itu. Lee Donghae. “Aku pulang,” kata pria itu diiringi senyum lembutnya.

“O-oppa?” tanya Hamun yang belum bisa mempercayai penglihatannya.

Senyum Donghae tak menghilang. Ia menghampiri Hamun dan duduk disebelahnya. “Ini aku,” katanya lembut.

“Kenapa oppa masih disini?” tanya Hamun tak mengerti.

Donghae menggenggam tangan Hamun. “Banyak hal terjadi selama dua bulan kau di rumah sakit,” katanya.

“Maksud oppa?”

“Hyejin memutuskanku. Hyejin bilang, ia menemukan pria lain yang bisa ia cintai dan ia menyadarkanku kalau aku harus belajar mencintai wanita yang sangat menyayangiku,” ujar Donghae. Hamun tahu kalau yang Hyejin maksud adalah dirinya. Tapi, ia tak ingin Donghae memaksakan perasaannya. Ia hanya ingin Donghae bahagia.

Hamun menggeleng. “Kau harus bahagia, oppa. Kalau memang kebahagiaanmu adalah bercerai denganku, aku akan merelakanmu,” kata Hamun yang entah sejak kapan air matanya mulai menderas.

Donghae mengusap air mata Hamun. “Jangan menangis terlalu keras Hamun. Aku tak mau melihatmu masuk rumah sakit lagi,” kata Donghae.

“Ta-tapi,”

Donghae memeluk Hamun. “Tenanglah. Ini keputusanku, Hamun,” katanya.

Donghae melepaskan pelukannya dan menengadahkan wajah Hamun sehingga mata mereka bertemu. Donghae menatap manik mata Hamun. “Aku akan belajar untuk mencintaimu, seperti kau mencintaiku. Mohon bantuannya,” kata pria itu lalu mencium bibir Hamun dengan lembut.

Hamun tersenyum bahagia meskipun air matanya tetap mengalir. “Aku juga akan berusaha membuatmu jatuh cinta padaku,” kata Hamun.

“Saranghaeyo, oppa,”

“Soon, i’ll say that word to you,” kata Donghae sambil mengecup kening Hamun

*****

END