Dia tidak berhenti mengomel dengan suara cemprengnya yang menyakitkan telinga. Aku tidak habis pikir bagaimana bisa para designer berlomba-lomba untuk menjadikannya model mereka. Bagaimana bisa wanita dengan suara yang bisa memecahkan gendang telinga, menjadi seorang model dengan jadwal fashion show yang padat merayap. Okay, jadi model tidak butuh suara.

“Kau dimana? Aku pulang hari ini. Kenapa tidak menjemputku? Yaa, Cho Kihyun-ssi!”

Aku menjauhkan smartphone dari telingaku. “Apa kau ingat hari ini hari ulang tahunku??!” Teriaknya yang cukup terdengar jelas dari speaker smartphone-ku meski terpaut hampir semeter jauhnya.

“Saengil chukkae,” kataku.

Dia kembali berteriak nyaring, “Haaaaaaissssh!!! Ya, Cho Kihyun-ssi!!!! Kau memang benar-benar menyebalkan!!! Aku benci padamu!!!!” Aku dengar ia kemudian menutup teleponnya.

Ia sudah memutuskan teleponnya sehingga telepon lain bisa masuk dengan leluasa. “Yoboseyo,” sahutku menerima panggilan dari rumah sakit. “Pantau terus keadaannya. Sejam lagi hubungi aku lagi. Kalau terdesak, hubungi dokter gawat darurat terlebih dahulu.  Terima kasih.”

Aku duduk di ruang makan, ditemani sebuah kue ulang tahun dan dua buah lilin yang menyala temaram. Kue ulang tahun itu terlihat sangat menggoda tapi aku harus bisa menahannya.

“Haiiiisssh! Nappeun namja! Bisa-bisanya dia membiarkan aku pulang sendirian! Dia juga melupakan ulang tahunku! Dia selalu saja menomorduakan aku! Aku tidak akan memaafkannya!!!” Omelannya terdengar sangat jelas termasuk suara pintu yang baru saja ia banting.

Ia semakin mendekat. Aku bisa melihat siluet tubuhnya. Ia menyalakan lampu dan tampaknya baru menyadari keberadaanku.

“Saengil chukkae, Park Ah Reum-ssi,” ucapku masih dari tempatku duduk. Ia menatapku dengan kaget tapi kemudian ia tertawa.

“Kau benar-benar menyebalkan!” Katanya sambil tertawa. Ia berlari ke arahku dan memelukku dengan erat. “Kau tahu aku sangat merindukanmu?”

Aku tertawa sambil memeluknya. “Selamat ulang tahun,” ucapku lagi yang entah bagaimana justru membuatnya menangis. Ia terlihat sangat lucu dengan air mata rasa kesal sekaligus bahagia saat ini.

Park Ah Reum, gadis yang baru saja menginjak usia 20 tahun tapi telah mendapatkan segala yang ia inginkan dengan karirnya yang cemerlang sebagai model serba bisa. Park Ah Reum, gadis yang dikenalkan padaku sehari setelah aku ditinggal mantan pacarku. Saat itu ia datang dengan wajah ceria penuh tawa dan aku menanggapinya hanya dengan wajah sinis dan omongan tajam.

Park Ah Reum, dia yang selalu datang dengan keceriaan yang tidak pernah dibuat-buat, dia yang entah bagaimana selalu mau memenuhi permintaan eomma dan Jihyun untuk menemuiku dan tidak pernah marah padaku meskipun aku tidak pernah menanggapinya. Aku pernah sekali membentaknya dan ia justru tersenyum.

“Aku senang akhirnya kau menyadari keberadaanku,” katanya waktu itu sambil tersenyum.

Aku tidak habis pikir bagaimana dia bisa tahan menghadapiku. Sampai suatu hari aku tidak sengaja mendengar percakapannya dengan Jihyun.

“Besok untuk terakhir kalinya aku akan menemui oppa-mu,” katanya pelan.

“Wae?” Tanya Jihyun, terdengar sedikit panik.

“Aku tidak bisa menyakiti diriku lagi, Jihyun sayang. Awalnya aku hanya ingin menolongmu dan Hye imo. Aku dengan senang hati melakukannya. Tapi…” Kata Ah Reum semakin lama semakin pelan.

“Tapi apa?” Tanya Jihyun. Ah Reum tidak menjawab. Aku justru mendengar sedikit suara isak tangis. “Jangan menangis, Ah Reum-a. Wae?”

“Aku jatuh cinta pada oppa-mu dan ia justru sebaliknya. Kau mengerti kan? Aku tidak bisa menolongmu lagi. Maafkan aku… Aku benar-benar minta maaf, Jihyun-ah.”

“Haissssh, bodoooh… Harusnya aku yang minta maaf. Maaf sudah membuatmu seperti ini. Ah Reum-ah, mianhe. Jeongmal.” Ah Reum tidak memberi tanggapan. Ia hanya menangis. “Ah Reum-ah, jangan menangis lagi. Aku mohon. Jangan menangis. Maafkan aku.” Terakhir aku dengar, Jihyun ikutan menangis.

Park Ah Reum, gadis yang entah bagaimana merasuki pikiranku 24/7 dan berhasil membuatku bertingkah tidak masuk akal. Aku mengejarnya tapi tetap bertindak dingin padanya dan dia tetap tidak pernah marah padaku, ia tetap tertawa dan tertawa menanggapiku. Park Ah Reum yang berhasil masuk ke dalam hidupku, membuatnya terasa kosong ketika dia tidak ada dan dia berhasil menjadi orang pertama yang aku telepon di saat aku senang dan susah.

“Kau tahu kau bisa saja mengacaukan fashion showku!” Protesnya padaku sambil memakan kue ulang tahunnya di sofa.

“Kenapa?” Tanyaku yang memang tidak tahu kenapa aku bisa jadi penyebab kacaunya fashion show Ah Reum.

“Kenapa?! Kau masih tanya kenapa?! Jelas karena kau melupakan ulang tahunku, bodoh! Wanita mana yang tidak uring-uringan jika pacarnya lupa hari ulang tahunnya. Untung eommonim meneleponku.”

“Eommonim?” Tanyaku ingin tahu siapa yang dia panggil eommonim.

“Kau ini bodoh atau apa sih? Eommonim. Eomma-mu. Song Hyejin-ssi,” katanya menjelaskan membuatku tertawa dalam hati. Eommonim, panggilan yang biasanya ditujukan untuk orang tua atau mertua perempuan. Dia sudah sedekat itu dengan eomma.

“Eoh. Lalu eomma bilang apa?”

“Dia bilang, kalau kau melupakan ulang tahunku, aku boleh melapor kepada eommonim dan eommonim akan menghajarmu untukku. Karena itu, aku tenang.” Aku tertawa. Dia kembali berbicara, “Tapi ternyata kau tidak melupakannya jadi aku tidak akan bilang eommonim.”

“Aku setuju,” kataku.

Ah Reum meletakkan kue ulang tahunnya di meja kemudian menyuruhku untuk duduk di sebelahnya. Aku menurutinya. Aku duduk di sebelahnya. Dia kemudian berbaring dengan kakinya di atas pahaku. Aku tahu ia minta dipijit. “Aaaah rasanya enak sekali. Gomawo,” katanya saat aku mulai memijit betisnya. “Kau bisa bayangkan pegalnya betisku berjalan dari ujung ke ujung panggung, dengan sepatu hak tinggi 15 cm? Rasanya tidak enak.”

“Aku tidak tahu bagaimana kau bisa hidup tanpa pijitanku,” kataku.

“Heiii, aku tidak tahu bagaimana kau bisa hidup tanpa tawaku setiap kau pusing dengan pasien-pasienmu,” balasnya.

Dia benar. Saat seorang ibu hamil datang kepadaku mengeluh kepadaku bagaimana ia menghadapi kehamilannya sendirian karena suaminya selingkuh, Ah Reum ada dengan sarannya yang membuatku tertawa.

“Bilang pada ibu itu agar bertahan, tetap santai, tenang agar melahirkannya lancar. Kalau kelahirannya lancar, kan kau juga yang senang. Satu masalah selesai. Kantong pun makin tebal,” katanya sambil tertawa.

Kemudian saat aku tidak berhasil menyelamatkan kelahiran seorang bayi karena kondisinya yang terlalu lemah dan si ibu terus-terusan menangis padaku, Ah Reum datang dengan coklat panasnya dan bilang, “Anggap saja dia seperti eommonim atau Jihyun, sabar-sabar saja menghadapinya. Apa dia cantik?”

“Tidak,” jawabku.

“Kalau begitu, kau boleh memeluknya saat menghiburnya,” katanya yang langsung membuatku tertawa.

Dia benar. Aku tidak bisa hidup tanpanya. Aku menatap Ah Reum dan dia balas menatapku. “Wae? Kenapa menatapku seperti aku barang langka yang berhasil ditemukan?”

Aku tidak menjawab. Aku menghentikan pijitanku di betisnya. Aku hanya fokus pada gadis ini. Aku mendekatkan wajahku. Tanganku menyingkirkan rambut yang menutupi sisi-sisi wajahnya. “Apa yang kau lakukan?” Tanyanya saat aku semakin dekat.

Aku tersenyum. Dia menatapku waspada. Aku bergerak semakin mendekat dan Ah Reum mulai menutup matanya. Aku nyaris berhasil menciumnya jika saja rumah sakit tidak tiba-tiba meneleponku.

Ah Reum mendorongku menjauh sambil tertawa. “Pasien-pasienmu tampaknya merindukan dokternya,” katanya menggodaku. Dengan terpaksa, aku mengangkat smartphone-ku dan berbicara dengan suster. Tampaknya aku berbicara terlalu lama sampai Ah Reum sempat mencuci muka dan mengganti pakaiannya dengan piyama tidur.

“Kau harus kembali ke rumah sakit?” Tanyanya yang hanya mampu aku jawab dengan anggukkan kepala. Aku tidak sanggup mengatakan ya saat hatiku ingin berkata tidak.

Ia memelukku kemudian menciumku dengan lembut. “Kau benar-benar payah. Bagaimana bisa kau selalu menerima ciumanku tapi tidak pernah menciumku. Sekalinya kau mencoba, telepon mengganggumu. Kau benar-benar…. Haishh. Kembali ke Rumah Sakit sana. Aku akan menemuimu besok setelah latihanku selesai. Sampai jumpa,” ucapnya.

Ia mengantarkanku sampai depan pintu. Dia sudah melambaikan tangannya padaku tapi aku masih memeluk pinggangnya dan menatapnya tidak rela. “Wae? Pasienmu sudah menunggu, Dr. Cho Kihyun.” Tanyanya sambil memandangku dengan heran.

Entah aku gila atau aku sedang terpengaruh sesuatu, aku mencium wanita untuk pertama kalinya dalam hidupku dan mengucapkan kata-kata yang tidak pernah aku bayangkan akan aku ucapkan sekarang, “Kau harus menikah denganku.”

Ah Reum menatapku kemudian tersenyum. “Aku harus bertanya dulu pada keluargaku dan keluargamu. Sampai jumpa,” katanya kemudian mendorongku keluar apartemennya. Ia menutup pintu dan membiarkanku pergi.

++++

Ponselku berbunyi bip puluhan mungkin ratusan kali. Aku membukanya dan menemukan pesan-pesan singkat dari eomma dan Jihyun.

Jihyun
Oppa!!!! Kau melamar Ah Reum?!

Jihyun
Benarkah? Jinjja?! Oppa! Balas pesanku!

Aku membalas pesannya dengan singkat : BERISIK!!!

Song Hyejin-ssi
Yaaa!!! Cho Kihyun! Kau mau membuat eomma sakit jantung?!

Song Hyejin-ssi
Kenapa kau tidak bilang-bilang mau menikah dengan Ah Reum? Tapi tidak masalah. Eomma senang mendengarnya.

Song Hyejin-ssi
Aahh. Saranghae! Kihyun-a. Saranghae!

Dan aku hanya punya satu pilihan kata untuk membalas pesan eomma : NADO SARANGHAE, EOMMA!!!

“Yaaa, heisss. Gadis ituuu,” gumamku kemudian tersenyum-senyum malu sendiri di dalam mobil. Aku terbayang Ah Reum menelepon Jihyun dengan wajah merona, senyum-senyum. Sangat cantik pasti.

++++

Kkeut!