Langsung aja yaaah.
Check it out!

:*

****

Sepasang suami istri itu sedang duduk di pinggir dermaga dengan kaki yang terjuntai menyentuh permukaan laut, dengan tangan si suami merangkul bahu sang istri dan kepala si istri yang terkulai di bahu sang suami. Mereka menikmati angin yang menerpa tubuh mereka dan ombak kecil yang terpecah di kaki mereka. Kyuhyun dan Hyejin sedang menikmati liburan singkat mereka di pulau pribadi yang mereka sewa pada rekan kerja mereka, Lee Donghae.

“Hye,” panggil Kyuhyun kepada istrinya yang dengan lembut langsung menjawab, “Waeyo, yeobo?”

“Apa kau mencintaiku?” Tanya Kyuhyun.

“Tentu saja. Pertanyaan macam apa itu? Kau meragukan cintaku, humm?” Jawab Hyejin.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya. “Bagimu mana yang lebih penting, aku atau anak-anak?” Tanya Kyuhyun membuat Hyejin gemas sampai-sampai ia mencubit pipi tembem Kyuhyun saking gemasnya.

“Pertanyaanmu kenapa aneh-aneh sih, Kyu? Kau, Kihyun, Jihyun dan Jinhyuk sama pentingnya dalam hidupku. Aku tidak bisa memilih,” jawab Hyejin.

Kyuhyun menarik wajahnya agar cubitan Hyejin pada pipinya dapat terlepas. “Kau tetap harus memilih, Hye… Aku atau anak-anak?” Tanya Kyuhyun keras kepala.

“Hei, ada apa denganmu, sayang? Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?” Hyejin bertanya balik kepada suaminya, berusaha mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Kyuhyun.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya dengan lemah. “Tidak apa-apa. Aku hanya merasa sekarang kau memiliki sedikit waktu untukku. Pagi-pagi, kau sudah sibuk menyiapkan anak-anak ke sekolah. Siang, kau sibuk mengurus kegiatan ekstrakulikuler mereka. Malam, aku pulang kau sudah tidur. Aku merasa tersingkir.”

Hyejin kembali mencubit pipi Kyuhyun dengan gemas. “Itu hanya perasaanmu saja. Setiap pagi, aku masih menyiapkan pakaianmu kan? Siang, aku masih sempat ke kantor untuk menemuimu walau hanya sebentar. Dan kalau malam, aku selalu menunggumu pulang yah walaupun tidak jarang ketiduran. Tapi bukan berarti aku tidak mencintaimu lagi atau aku lebih mencintai anak-anak daripada dirimu.”

Kyuhyun terdiam. Hyejin mengerti bahwa suaminya masih berpikir. Dengan sabar, Hyejin berusaha membuat Kyuhyun mengerti. “Sekarang aku tanya padamu, lebih penting aku atau anak-anak?” Tanya Hyejin balik.

Kyuhyun masih diam. “Nah, susah kan menjawabnya!” Kata Hyejin.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya. “Kau lebih penting,” jawab Kyuhyun tanpa ragu.

Hyejin menatap suaminya tidak percaya. Ia berusaha menemukan cela dalam perkataan Kyuhyun namun tidak berhasil. “Kau sudah gila,” komentar Hyejin pada akhirnya.

“Aku rasa juga begitu,” sahut Kyuhyun sambil mengeratkan pelukannya pada bahu istrinya. “Kau tahu aku begitu mencintaimu kan?”

“Jadi kau tidak mencintai anak-anakmu?” Goda Hyejin membuat Kyuhyun mendengus.

“Bukan begitu. Aku juga mencintai anak-anakku tapi…”

“Tapi apa? Kalau andaikata, aku dan anak-anak terjebak di gedung yang sedang terbakar atau kapal yang akan tenggelam, apa kau akan menyelamatkan aku dan membiarkan anak-anak begitu saja?”

“Tentu saja aku akan menyelamatkan kalian semua. Mana mungkin aku akan membiarkan anak-anak dalam bahaya.”

“Itu artinya kami berempat sama pentingnya. Kau tidak bisa memilih.”

Kali ini Kyuhyun yang gantian mencubit pipi istrinya dengan gemas. “Aku belum menjelaskan, kau sudah ambil kesimpulan sendiri. Bukan itu maksudku,” ujar Kyuhyun.

“Lalu maksudmu apa? Kalau kau memiliki lebih banyak waktu senggang, kau akan memilih untuk menghabiskannya denganku dibandingkan anak-anak?” Tanya Hyejin.

Kyuhyun tersenyum lebar, memuji kecerdasan istrinya. “Akhirnya kau paham juga!! Bagaimana kau bisa tahu?”

Berbeda dengan Kyuhyun yang tersenyum lebar, Hyejin tersenyum mengejek. “Aku sudah menjadi istrimu belasan tahun. Aku kenal kau. Aku tahu semua isi otakmu,” kata Hyejin.

“Oh ya? Memangnya apa yang ada di otakku sekarang?” Tanya Kyuhyun menantang.

Hyejin menjulurkan tangannya untuk meraih kepala Kyuhyun. Dengan ujung jari telunjuknya, Hyejin membagi kepala Kyuhyun menjadi beberapa bagian dengan garis imajiner.

“Disini,” kata Hyejin sambil menunjuk bagian pertama yang digambarnya. “Kau memikirkan penandatanganan kontrak dengan Lee Petro besok siang.”

Hyejin lalu berpindah pada bagian lain yang terletak di sampingnya dan agak ke bawah. “Di sini kau memikirkan pekerjaan pegawaimu selama kau tinggal. Mereka bekerja dengan baik atau tidak.”

“Lalu disini… Astaga Kyu! Kau tidak punya hal lain selain pekerjaan untuk dipikirkan?!” Hyejin menunjuk bagian puncak kepala Kyuhyun. “Di sini kau memikirkan rencana ekspansi bisnis-mu untuk merambah dunia entertainment? Kau ingin memiliki sebuah agency?”

Kyuhyun tertawa mendengar semua ocehan Hyejin. Semua itu bukan karangan belaka tapi memang yang akhir-akhir ini selalu mereka diskusikan untuk perkembangan perusahaan mereka. “Kau mungkin terlupa beberapa hal,” kata Kyuhyun.

“Apa?”

Kyuhyun lalu menunjuk bibirnya. “Di sini sedang berpikir bagaimana cara menciummu yang baik dan benar sehingga kau tidak rela untuk melepasku walau hanya sedetik,” kata Kyuhyun lalu melirikkan matanya ke arah pangkal pahanya. “Dan bagaimana menghabiskan malam ini dengan tepat sehingga kau akan selalu ingat bahwa kau memiliki suami yang paling hebat.”

Hyejin tidak bisa untuk tidak tertawa melihat kenyataan bahwa suaminya jelas-jelas sedang menggodanya. “Aku akui aku melupakan hal itu. Disini.” Hyejin membentuk lingkaran imajiner besar di kepala Kyuhyun. “Kau memikirkan aku dan tubuhku tentu saja. Dasar otak mesum!”

Wajah Kyuhyun merengut seperti wajah Jinhyuk jika ia tidak diperbolehkan untuk minum es krim kesukaannya. “Aku bukan mesum. Itu karena aku terlalu mencintaimu. Tahu?”

Hyejin tertawa geli melihat pria-nya yang sudah berusia 40 tahun tidak ada bedanya dengan magnae-nya yang berusia 3 tahun. Dengan lembut, Hyejin membelai kepala Kyuhyun. “Aku tahu. Aku juga sangat mencintaimu,” ucap Hyejin lalu melumat bibir suaminya dengan ringan.

Kyuhyun mendesah kecewa ketika Hyejin melepaskan ciumannya. “Kenapa kau melepaskannya?” Protes Kyuhyun tampak jelas ia tidak suka.

“Karena…” Hyejin mengusap bibir Kyuhyun dengan lembut dan penuh perasaan cinta kepada pria itu. “Ini masih jam 5 sore. Aku masih ingin bersantai di sini. Kalau aku terus menciummu, aku tidak yakin aku masih bisa menikmati matahari terbenam. Kau mengerti maksudku kan?”

“Baiklah. Aku tidak akan melewatkan malam ini tanpa menagih jatahku. Kau sudah berjanji,” kata Kyuhyun.

“Sejak kapan aku berjanji?”

“Kau menciumku. Itu artinya kau memancingku. Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu, nyonya.”

Hyejin kembali tertawa. Ia kenal watak Kyuhyun. Apa yang diinginkan pria itu harus ia dapatkan. Kalau ia tidak mendapatkannya, ia pasti akan terus mengganggu. “Baiklah, tuan Cho sayang. Malam ini, aku milikmu…” Ucap Hyejin dan memeluk Kyuhyun sepuasnya sebelum ia tidak bisa melakukan apapun jika sudah berada di bawah kendali pria-nya.

Kkeut!