The last part before super show 6 in next 2 days. Hahahhaha!

Enjoy this part. Aku posting sebelum boarding looh..
Hihihihi.

*****

Man’s side

Jam sudah menunjukkan pukul 6.15 malam dan aku masih terjebak dalam rapat bersama para Direksi yang entah sedang berbicara apa, tidak sampai ke otakku karena fokusku yang terbelah dua : rapat dan handphone. Hyejin bolak balik mengirimiku pesan.

Kau dimana? Aku sudah siap.

Iya. Tunggu sebentar. Aku masih rapat. Aku membalasnya.

Mwo? Kau belum pulang? Kita janji datang jam 7 loh. Seharusnya kau sudah di jalan untuk menjemputku.

Iya, aku tahu. Sabar. Sebentar lagi rapatku selesai.

Tuh! Tahu gitu aku saja yang ke kantormu. Bagaimana?

Jangan! Tunggu saja di apartemenmu.

Ya tapi kau belum selesai rapat. Kalau sampai jam 7 belum selesai bagaimana? Kalau kau harus menjemputku dulu memakan waktu lebih lama.

Jangan cerewet. Tunggu saja sana ya.

Aku berusaha mengabaikan handphoneku. Berkali-kali Hyejin mengirimkan pesan padaku, aku tidak membalasnya. Aku berusaha untuk fokus pada rapat ajaib menyebalkan ini. Bagaimana bisa mereka menyuruh kami rapat tepat di saat-saat kami mau angkat kaki dari kantor?

Kyuhyun-ahhhh.. Aku ke kantormu ya… Aku takut terlambat.

Aku mengabaikannya.

Kyuhyun-ah. Balas pesanku.

Yaaak!!!

Aku mengabaikannya.

Yaaa Cho Kyuhyun!!!! Aku akan ke kantormu sekarang!

Aku melihat jam tanganku. Jam 6.39. Direktur Hong menutup rapat dan aku tanpa banyak berbasa-basi dengan rekan kerjaku langsung memilih keluar untuk mengambil mobilku. Aku menelepon Hyejin, “Eodiya? Aku sudah keluar dari kantor. Tunggu aku!”

“Daritadi aku juga menunggumu. Ppali! Kita hanya punya waktu 20 menit lagi.”

“Aku tahu. Tunggu saja dengan tenang sana.”

Aku tahu aku adalah orang yang keras kepala, bahkan sejak lahir tapi entah sejak kapan aku menjadi keras kepala untuk hal-hal sesepele ini. Hyejin sebenarnya bisa saja menyusulku ke kantor atau kami janjian untuk bertemu di suatu tempat untuk mempercepat perjalanan kami tapi aku malah bersikeras untuk menjemputnya di apartemen. Aku tidak pernah menyadari bahwa aku sekeras kepala itu.

Aku mengemudikan mobilku secepat yang aku bisa dan masih dalam rambu-rambu yang dianjurkan. Aku masih waras. Aku tidak mau mati konyol. Aku tidak mau menjadi headline koran : Seorang Pria Tewas Dalam Kecelakaan Karena Mengejar Jam Makan Malam Dengan Kekasih dan Teman-Temannya.

Aku memarkir mobilku di depan lobi karena aku pikir aku tidak akan berada lama. Aku hanya akan menjemput Hyejin. “Aku sudah sampai,” kataku melalui handphone saat aku sedang melewati pintu geser otomatis untuk memasuki lobi.

“Aku sudah menunggumu di lobi. Kau dimana?” Tanyanya.

“Lobi,” jawabku. Mataku menyisir seluruh lobi, mencari sosok gadis aneh yang hanya dengan melihat rambutnya saja aku bisa mengenali dirinya. “Kau dimana?” Tanyaku karena tidak berhasil menemukannya.

“Di depanmu, bodoh. Aku yang melambaikan tangan kepadamu!”

Aku melihat depanku. Ada seorang gadis yang sedang melambai kepadaku. Dia memakai celana panjang ketat warna biru tua, Hyejin mengenalkan celana itu namanya legging, dipadu dengan atasan putih yang memamerkan bahunya. Hyejin menamakan atasannya itu semi kemben. Aku tidak peduli. Seharusnya dia tidak perlu semempesona ini.

Hyejin sudah berada di hadapanku dan aku menyadari kenapa tadi aku tidak bisa menemukannya. Ia terlihat berbeda dari biasanya. Meskipun ia berdandan dengan gaya yang sama, malam ini ia tampak berbeda. Tidak seharusnya ia menjadi semanis ini. “Kenapa kau lama sekali sih?!” Omelnya dan itu tidak mengurangi kadar kemanisannya sedikitpun. Ia tetap menyihir mataku sampai aku tidak bisa terlepas darinya.

“Kenapa kau diam saja? Ayo jalan!” Katanya yang ternyata sudah beberapa meter di depanku. Ia kembali ke tempatku dan menarikku untuk jalan bersamanya. “Kau kenapa sih? Kita sudah terlambat. Tidak ada waktu untuk bengong,” omelnya.

Aku mengikutinya menuju mobilku. Aku masuk lebih dulu sehingga bisa memperhatikannya mulai dia masuk sampai duduk di jok mobilku dan mencubit pipiku dengan keras. “Yaa Cho Kyuhyun! Aku tahu aku sangat cantik tapi tidak usah memandangku seperti itu. Kita sudah terlambaaaaaaat! Yaaak!” Dia menjambakku dan aku tersadar bahwa Hyejin yang berada di depanku masihlah Hyejin yang belasan tahun ini aku kenal. Aku mungkin sedang berhalusinasi sampai beberapa detik yang lalu.

“Iya aku tahu. Tidak usah menjambakku kan bisa!” Bentakku kesal. “Tidak usah buru-buru. Mereka juga tidak akan meninggalkanmu kalau hanya telat 15 menit! Atau jangan-jangan kau sebenarnya ingin bertemu Donghae?”

“Tidak.”

“Sudah mengaku saja. Kau bukannya memperbaiki hubungan dengan teman-temanmu malah memperkeruh keadaan,” kataku dan sedetik kemudian aku menyadari perkataanku yang begitu sadis.

Hyejin menatapku dengan kesal. “Sudah aku bilang tidak ya berarti tidak. Kenapa kau menilaiku seperti itu sih? Aku ini benar-benar ingin bertemu dengan teman-temanku bukan Donghae.”

“Ya mana aku tahu. Kalian kan masih berhubungan baik. Donghae juga masih menyukaimu dan mungkin kau sudah berubah untuk berubah pikiran untuk memilih Donghae dibandingkan teman-temanmu?”

Hyejin menatapku tajam. Aku balas menatapnya. Jauh di dalam matanya, aku menemukan kekecewaan dan aku yakin aku adalah penyebabnya. Aku terlalu sadis. Ia kemudian memalingkan wajahnya dariku. “Kau tahu apa sih sampai bisa-bisanya menuduhku seperti itu? Kau sangat menyebalkan tahu,” katanya tanpa menatapku. Aku melihat pantulan wajahnya di kaca spion mobilku. Ia sedang menatap kosong tanpa tujuan dengan mata berkaca-kaca.

Hyejin-ah, mianhe. Aku hanya mampu mengucapkannya dalam hati.

Ini bukan pertengkaran pertamaku dengan Hyejin tapi ini yang terparah. Setelah belasan tahun, aku berhasil membuat Hyejin menangis dalam diam. Aku berhasil membuatnya kosong tanpa ekspresi. Aku mengerikan. Lebih mengerikan dari 5 orang gadis yang diam-diaman hanya karena seorang pria.

—–

Hyejin keluar lebih dulu dari mobilku, menungguku keluar dari tempat mengemudiku. Dalam diam, ia berjalan lebih dulu menyuruh aku mengikutinya meski ia tidak bersuara. Ia masuk ke dalam District 10, bertegur sapa dengan teman-temannya dan Donghae kemudian duduk. Masih dalam diam. Aku mengikutinya. Aku menyapa MinAh, HyunAh, Jihyo dan Hamun serta Donghae baru kemudian aku duduk di sebelah Hyejin juga dalam diam.

“Kalian mau makan apa? Biar aku pesankan,” kata Donghae sebagai pemilik restoran yang ramah dan murah hati.

“Salad buah dengan kentang rebus. Aku lupa apa namanya tapi isinya itu. Minumnya es lemon,” jawab Hyejin bahkan tanpa melihat menunya. Ia pasti sudah sangat sering ke tempat ini.

“Salad buah, kentang rebus, es lemon.” Aku menggumamkan pesanan Hyejin. “Yaaak! Kau bisa mati kalau hanya makan itu! Tidak! Tidak! Kau mau jadi apa hanya makan buah dan kentang. Kau sudah sekurus ini tahu!” Protesku sambil menunjukkan jari kelingkingku.

Hyejin tidak menggubrisku. “Salad buah dengan kentang rebus dan es lemon,” ulang Hyejin yang sangat mudah untuk diingat oleh Donghae.

“Aku tahu maksudmu. Bahkan aku tidak bisa menyebut nama makanan itu,” sahut Donghae sambil tertawa. Aku tidak suka tawanya. Donghae menunjukku. “Kau mau makan apa, Kyu?”

Aku melihat-lihat menu dan memilih asal berdasarkan keindahan gambar di dalam menu ini. “Telur goreng dengan ayam saus teriyaki,” jawabku dan melanjutkan untuk memilih minuman, “Jus apel saja.”

Hyejin memandangku dengan galak. “Kau alergi telur,” katanya memperingatkan dan untuk pertama kalinya aku ingin aku tidak keras kepala.

“Aku ingin makan telur,” kataku keras kepala.

Hyejin menghela nafas panjang dan memalingkan wajahnya dariku. “Terserah. Aku tidak mau mengurusmu kalau alergimu kambuh,” ujarnya serius.

Donghae seperti tertawa geli tapi ia tidak berkomentar banyak. Ia pergi ke dapurnya dan tidak lama kemudian membawa makanan pesananku dan Hyejin. Mengingat ancaman Hyejin, aku menyingkirkan telur gorengku begitu makanan itu datang ke hadapanku.

“Kalian sudah kenal berapa lama?” Tanya gadis yang paling tua di antara mereka yang aku kenal dengan nama MinAh.

“18 tahun,” jawabku.

Keempat gadis itu, kecuali Hyejin, menganga kaget mendengar jawabanku. “Waw! Sudah selama itu?! Sejak kapan kalian saling jatuh cinta?” Tanya Hamun, si magnae pecinta pria bernama Lee Donghae yang duduk di sebelahnya tanpa berhenti tersenyum.

Cih! Jatuh cinta? Mereka pasti tahu bahwa Hyejin tidak mungkin jatuh cinta padaku hanya dalam waktu satu bulan apalagi hanya satu minggu. Aku berusaha untuk tersenyum seramah mungkin tanpa sedikitpun bumbu sinis. Sayang, aku tidak berhasil.

Aku tersenyum ramah tapi ucapanku tidak seramah senyumku, “Aku tidak tahu Hyejin mencintaiku atau tidak. Yang pasti, aku tidak memaksakan cintaku. Aku tidak memaksanya untuk balas mencintaiku. Aku mencintainya dengan tulus.” Jujur. Aku mengatakan apa adanya.

Hyejin menatapku dengan tajam. “Waee?” Tanyaku dengan nada kesal. Ia tidak berkata apa-apa, hanya tetap menatapku dengan tajam. Aku dapat mengartikan tatapannya sebagai ‘apa kau bilang?’.

Dengan santai aku berkata, “Kalau aku tidak mencintaimu, mana mungkin aku mau terus bersamamu, bodoh.” Aku berkata asal namun aku memiliki harapan bahwa Hyejin akan menganggap perkataanku sedikit serius.

Teman-teman Hyejin sudah menatap penuh kekaguman kepadaku namun tidak dengan Hyejin. Ia masih terasa aneh. “Tapi aku rasa cintaku bertepuk sebelah tangan. Ya kan? Kalian tahu rasanya cinta bertepuk sebelah tangan? Menyakitkan,” kataku yang entah kenapa semakin melanglang buana tidak karuan.

“Kau pasti juga mengerti kan?” Aku menatap Donghae dan Hamun bergantian. Aku tidak bermaksud menyindir mereka tapi kalau mereka merasa, perkataanku juga tidak sepenuhnya salah.

Wajah Hamun berubah pucat dan ia langsung menundukkan wajahnya, menyembunyikan rasa malunya. Aku menyindirnya dengan tepat. Bagaimana ia bisa menyingkirkan Hyejin hanya karena Donghae menyukai sepupunya itu. Hamun mempunyai dua pilihan : memperjuangkannya atau memasrahkannya. Bukan diam saja dan berharap pria itu akan berpaling padanya, begitu saja.

Plak! Sebuah tamparan keras mengenai pipi kiriku. Hyejin baru saja mengeluarkan tenaga terkuatnya untuk menghajarku. “Kau boleh menyakitiku tapi tidak dengan teman-temanku! Mengerti?!” Serunya lalu meninggalkan meja. Aku buru-buru mengejarnya saat menyadari air matanya yang berhasil tumpah membasahi pipinya.

Apa yang baru aku lakukan? Cho Kyuhyun, neo paboya!!! Aku mengutuk diriku sendiri.

—-

Hyejin’s pov

Aku tidak mengerti apa yang ada di otak pria ini. Semakin lama ucapannya semakin menyakitkan dan tidak masuk akal lagi. Selama belasan tahun aku mengenalnya baru kali ini ia mengucapkan hal-hal yang sangat menyakitkan. Setelah menuduhku tanpa dasar yang jelas, rupanya ia belum puas. Aku tidak masalah kalau ia hanya menyindirku tapi ia juga menyindir Hamun. Aku tidak bisa melihatnya menyakiti teman-temanku.

Aku meninggalkan District 10 lebih dulu dan ia menyusulku selang sedetik setelah aku mengangkat badanku. “Hyejin-ah, tunggu aku!” Serunya namun aku abaikan.

“Tunggu aku!!” Serunya lebih keras. Ia masih mengikutiku.

“Jangan ikuti aku!!” Teriakku kesal.

Aku mempercepat jalanku namun pria itu berhasil menyusulku. Ia berhasil meraih tanganku dan menariknya hingga aku terpaksa berhenti. “Lepaskan aku!” Teriakku sambil berusaha menarik tanganku dari genggamannya tapi ia terlalu keras mencengkramnya. Aku tidak bisa melepaskan tanganku.

“Tidak akan,” katanya. Ia menahanku berada tetap di sisinya meskipun sebenarnya aku ingin sekali menendang pria ini sampai terjatuh dan kemudian berlari meninggalkannya. Namun, ia menahanku dengan sebuah belaian lembut di bawah mataku. Ia mengusap air mataku. “Maafkan aku,” ucapnya dengan sungguh-sungguh.

“Kau sudah keterlaluan, Kyu,” kataku pelan.

“Aku tahu. Maafkan aku,” ucapnya sekali lagi.

Aku ingin berteriak untuk menyalahkannya tapi aku berpikir kembali untuk melakukannya.

“Aku kecewa padamu,” kataku.

“Maafkan aku. Jeongmal mianhe,” ucap Kyuhyun sambil berlutut di hadapanku. Ia menggenggam tanganku, menundukkan wajahnya di atas tanganku.

Aku merasakan tatapan-tatapan orang yang sedang memperhatikan kami. Aku seperti artis yang sedang syuting drama kejar tayang yang biasa aku tonton di televisi. Entah aku harus bilang memalukan atau mengerikan. “Lepaskan,” kataku di sela-sela gemeretuk gigiku namun sifat keras kepala Kyuhyun tidak bisa aku kalahkan. Dia masih menggenggam tanganku dengan erat.

“Aku tidak akan melepaskanmu. Maafkan aku,” ucapnya dengan suara parau yang terdengar penuh penyesalan. Aku bahkan merasakan tanganku basah. Ia baru saja meneteskan air mata.

Mungkin karena kami yang sudah terlalu lama mengenal atau aku yang terlalu menyayanginya. Seperti biasa, aku memaafkannya dengan mudah.

“Aku memaafkanmu. Asal kau tidak mengulanginya.”

“Terima kasih. Aku pasti tidak akan mengulanginya,” katanya dengan pasti.

“Bisa kita pulang sekarang? Aku malu dilihat orang-orang,” Tanyaku dan ia hanya menganggukkan kepalanya lalu bangkit berdiri untuk memelukku.

“Ayo kita pulang,” ucapnya di sisa-sisa tangisnya dan pelukannya yang erat. Aku tidak tahu sejak kapan tubuhnya terasa sangat hangat dan nyaman. Aku bahkan merasa tidak sanggup untuk melepaskannya. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Yang aku tahu, hanya ia yang membuatku begitu merasa tenang.

—-

Kkeut!
xoxo @gyumontic