Happy New Year! *telat banget* Maaf banget cerita-cerita sebelumnya belum dilanjutin. Semoga ff series yang ini gak kepanjangan dan cepat selesai yaaah. Happy reading!

“Kuharap si nona menyebalkan itu bisa jauh-jauh dari Woobin hyung!” Key menenggak sebotol birnya dengan emosi. Aku hanya bisa tertawa melihat tingkahnya yang kesal dengan sekretaris baru Woobin oppa.

“Ya, Kim Kibum! Kau kan tadi mengajakku untuk makan siang, bukannya mabuk di tengah hari seperti ini,” aku menghentikannya untuk meminum bir dari botol ketiganya siang ini.

“Aku muak melihat sekretaris sok cantik itu di kantor! Asal kau tau saja yah, dia kerjanya hanya sibuk berdandan saja! Semua pekerjaannya dilimpahkan kepadaku dan dia malah bersenang-senang dengan Woobin hyung! Dia tak sadar apa kalau aku juga punya kendali di Kim Group, hah?” Key kini mengarahkan telunjukknya ke wajahku, dia memencet hidungku.

“Dan kau, nona Choi. Sudah kubilang ratusan kali, batalkan pertunanganmu dengan si tengik Kim Woobin itu! Walaupun dia sepupuku, namun kau adalah sahabatku sejak lahir! Aku tidak rela kau menghabiskan waktu dengan playboy tulen seperti itu!”

Aku mengangguk paham. Aku mengerti maksud Key.  “Namun kau tau kan bagaimana perjanjian itu?” Perjanjian konyol antara appa dan Kim ahjussi.

“Seharusnya kan Siwon hyung yang menikah dengan Yuna noona! Mengapa jadi kau yang harus memikul semua tanggung jawab ini hah?” Key memelototi layar smartphonenya yang tiba-tiba menyala. “Ugh, dia selalu tau juga aku sedang bersamamu! Yoboseyo, ne hyung. Aku sedang makan siang dengan Jihyo. Wae?”

Mungkin perkataan Key benar. Mengapa harus aku yang menanggung semua beban perjanjian ini? Ini kan perjanjiaan antara appa dan Kim ahjussi saat muda dulu. Saking mereka berdua bersahabat dan tak terpisahkan sejak kuliah, dan akhirnya appa bekerja di perusahaan miliki ayah Kim ahjussi, Kim Group, appa selalu menuruti apa keinginan Kim Ahjussi.

Termasuk permintaan konyol Kim ahjussi, yang memiliki ide jikalau salah satu anak dari ahjussi dan anak appa dijodohkan agar appa dan ahjussi benar-benar bisa menjadi saudara. Jika saja Siwon oppa tidak keras kepala menolak perjodohan tersebut hingga kabur ke Amerika, mungkin aku saat ini tidak akan sengsara bertunangan dengan Kim Woobin.

“Tapi apa kau mencintai Woobin hyung?” Key ternyata sudah menyelesaikan pembicaraannya di telepon. Aku mengangkat bahuku. “Mungkin.”

Tidak, bukan itu jawabannya. Aku sudah menyayanginya saat aku pertama kali melihatnya saat kami masih kecil dulu. Aku sadar kalau aku tidak bisa hidup tanpanya sejak kami selalu bermain bersama. Aku pun menyadari kalau aku mencintainya sejak ia berubah saat masuk sekolah menengah, di saat ia tiba-tiba menjauhiku.

+++

“Choi sajangnim memanggil saya?” aku memasuki ruangan CEO Choi, pemilik Choi Enterprise tempat aku bekerja. Sudah 2 tahun aku menjadi sekretarisnya, dan aku merasa beruntung bisa bekerja di perusahaan sebesar ini, yang sama hebatnya dengan Kim Group.

“Kurasa kau pernah melihat anak keduaku, Choi Seunghyun,” CEO Choi menengok ke arah namja yang berdiri di sampingnya. Pria itu terlihat beberapa tahun lebih tua dariku, ia tersenyum seadanya.

“Ah, ne, sajangnim,” aku membungkuk memberi salam kepada tuan muda Choi. “Annyeonghaseyo, tuan muda Choi.”

“Jihyo, mulai hari ini aku akan menyerahkan seluruh pekerjaan dan tanggung jawab ke Seunghyun. Kurasa sudah waktunya aku bersantai di rumah, hahaha,” CEO Choi menepuk-nepuk lengan tuan muda Choi. “Kuharap kau bisa membantu Seunghyun menjalani semua pekerjaannya, Jihyo.”

“Ne, sajangnim. Saya akan berusaha sebaik mungkin.”

“Dan satu lagi, kau harus berhati-hati karena Seunghyun bisa saja tanpa kau sadari memikatmu, hahaha,” CEO Choi tertawa dengan sangat keras. Aku sedikit tidak mengerti dimana kelucuan perkataannya. Aku hanya tersenyum tipis, begitu pula sang tuan muda Choi yang tak menunjukkan ekspresi apapun.

“Nona Choi,” akhirnya tuan muda membuka mulutnya. Suaranya terdengar menggoda bagiku, walau aku tau, itu suara aslinya yang memang berat. “Kuharap kau membantuku beradaptasi.”

“Ne, Choi sajangnim.”

“Panggil dengan nama depanku saja. Nona Choi, bukankah akan ada meeting jam 3 nanti? Tolong siapkan berkasnya,” tanpa basa-basi Seunghyun sajangnim langsung menyuruhku seolah dia memang sudah bos ku sejak lama. Aku tersenyum, aku benar-benar tidak salah pilih melamar ke perusahaan ini.

Seharusnya aku bisa saja masuk ke Kim Group. Appa sudah berkali-kali bertanya kepadaku mengapa aku tidak ingin bekerja di sana. Appa sudah menduuki jabatan yang tinggi di sana. Apalagi itu adalah perusahaan tunanganku. Namun aku tidak mau. Aku tidak mau dianggap manja. Aku juga ingin setiap hari melihat Woobin oppa bermesraan dengan para yeoja di perusahaannya.

Dan mungkin saja jika aku berjauhan dari Woobin oppa, pikiranku yang waras ini akan mengalahkan perasaanku yang sudah terbutakan oleh cintaku terhadap Woobin oppa. Kemudian aku akan membatalkan pertunangan ini!