“Omo! Yeobo, kau lihat wajah calon menantu kita! Hyonnie, apa di kantormu pekerjaannya terlalu berat?” Kim ahjumma memegang wajahku dengan erat. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah yeoja yang sudah kuanggap seperti eomma keduaku ini.

“Yeobo, sudah sudah. Kalau kau terus menekan wajah Hyonnie seperti itu, lama-lama wajahnya bisa mengkerut,” canda Kim ahjussi yang langsung diiringi tawa Kim ahjumma, appa, dan eomma.

Namun Woobin oppa sama sekali tak tertawa, bahkan tersenyum pun tidak. Dia hanya menatapku tanpa aku tau maksudnya apa.

“Mmmh, aku siapkan minuman dan camilan dulu,” aku melepaskan kedua tangan Kim ahjumma dan segera bergegas menuju dapur. Aku bisa melihat bayangan Woobin oppa mengikutiku.

“Kau tau apa maksud kedatangan appa dan eomma ke rumahmu kann?” Woobin oppa berdiri di sampingku dengan jarak yang agak jauh. Aku menggeleng tanpa melihat wajahnya.

“Jangan pura-pura tidak tau,” ia menaruh kelebihannya di kalimat itu, mengucapkannya dengan nada menyindir dan menusuk. Namun anehnya, aku tak merasa tersakiti, malah aku semakin senang bisa mendengar suaranya lebih banyak.

Aku hanya terdiam, menikmati setiap detik yang berlalu di dapur bersamanya. Aku bahkan tidak menyadari jika jariku teriris pisau saat aku sedang mengupas apel.

“Dengar,” Woobin oppa menggenggam tanganku, menghentikanku mengupas apel. “Kedua orangtua kita akan mempercepat hari pernikahan kita.”

Kini aku menoleh melihat wajahnya, aku baru sadar jika ternyata ia mengganti warna rambutnya menjadi warna hitam.

“Dan kau harus terus mengingatnya. Aku tidak akan mengakuimu sebagai tunanganku, bahkan istriku nanti,” Woobin oppa mendorongku hingga punggungku menyentuh dinding. Aku bisa merasakan napasnya yang semakin lama bisa terasa di wajahku. Hidungnya menyentuh hidungku.

“Kau mengerti?” Ia tiba-tiba menjauhkan dirinya dariku. Aku hampir saja menjatuhkan airmataku. Aku mengangguk.

Ia pun berbalik, menjauhiku seperti biasa. Dan seperti biasa pula, aku hanya bisa memandangi punggungnya. Aku bingung mengapa aku selalu saja senang melihat setiap bagian dari tubuhnya. Padahal sudah sangat jelas, tuan Kim Woobin tidak akan pernah mencintaiku.

+++

“Pilih,” Seunghyun sajangnim menunjuk ke arah lima smartphone yang ada di mejanya. Aku menatapnya dengan bingung. Apa mungkin orang sekaya dia bingung mau memilih smartphone seperti apa? Lagipula, sejak kapan pekerjaanku jadi memilihkan smartphone untuknya?

Setelah beberapa lama menebak bagaimana kepribadian bosku dan menyocokkannya dengan smartphone yang ada di meja, akhirnya aku menunjuk smartphone layar 5 inci berwarna hitam. Kenapa warna hitam? Karena sesuai dengan bos ku, misterius dan susah ditebak.

“Yang ini sajangnim,” aku mengambilnya dan menyerahkan kepadanya. Ia mengambilnya dan mengetikkan sesuatu.

“Jihyo, mulai saat ini kau pakai smartphone ini untuk menghubungiku ataupun menerima perintah dariku. Aku sudah memasukkan nomerku di smartphone ini. kau harus mengangkat telepon dariku jam berapapun, hari apapun, dan kapanpun,” Seunghyun sajangnim menyerahkan kembali smartphone itu ke hadapanku.

Aku hanya bisa terdiam. Apa-apaan ini? Kenapa aku punya bos semenyeramkan seperti ini? Apa ini melanggar hak karyawan? Ini tidak masuk akal! Ya! Kenapa bos baruku aneh seperti ini sih!

“Ambil,” Seunghyun sajangnim menekankan setiap huruf di kata AMBIL. Aku ragu-ragu mengambilnya.

“Sekarang kau boleh keluar, Sekretaris Choi.” Aku membungkuk kepadanya dan segera keluar dari ruangannya. Namun baru saja aku menutup pintunya, tiba-tiba smartphone pemberian Seunghyun sajangnim berdering.

“Yoboseyo, sajangnim?” Aku sengaja mengeraskan suaraku supaya bos ku mendengar aku dan dia hanya terpisahkan pintu ruangannya saja.

“Lusa akan ada pesta pernikahan putri dari keluarga Hwang. Aku mau kau datang menemaniku.”

Dan baru saja Seunghyun sajangnim memberikanku smartphone, sekarang dia sudah mengajakku ke pesta? Dia kira aku apa, hah?
“Mianhae sajangnim, tapi-”

“Kau tau kan di pesta itu banyak para petinggi perusahaan baik dari rekan bisnis kita maupun kompetitor? Aku ingin kau mengamati setiap orang yang bisa bekerjasama dengan perusahaan kita untuk proyek selanjutnya,” bos ku seenaknya saja menutup sambungan teleponnya.

Baiklah Choi Jihyo, selamat datang di kerasnya dunia kerja.

++++

Sudah hampir satu jam aku berada di pesta ini, beramah-tamah dengan para petinggi perusahaan penting di negara ini serta para sosialita. Namun hingga saat ini aku belum menemukan batang hidung bos ku.

“Wine, agassi?” ujar salah satu waitress. Aku menggeleng. Tubuhku tidak bisa mentolerir alkohol. Bisa gawat di saat aku bekerja seperti saat ini lalu aku mabuk.

“Walaupun aku memerintahkanmu untuk melobi semua orang penting di sini, bukan berarti kau tidak boleh minum wine,” aku hampir saja tersentak saat mendengar suara Seunghyun sajangnim di belakangku.

“Ah, sajangnim!” Aku memanggilnya seolah-olah aku sudah lama tak bertemu dengannya. “Mmh, sajangnim?”

“Wae?” Ucapnya tanpa memandangku, ia sibuk mencari mangsa siapa yang bisa ia ajak kerjasama untuk proyek berikutnya.

“Mmmh,” Jihyo ppaboya, mengapa pertanyaan seperti itu terlintas di kepalaku saat ini sih?!

“Wae!” Nada suara Seunghyun sajangnim berubah, seolah olah dia akan memuntahkan seluruh kemarahannya padaku.

“Sajangnim mengapa datang ke sini tidak membawa pasangan seperti yang lainnya?” Akhirnya aku menanyakan pertanyaan bodoh itu. Namun bosku tersayang malah seenak dirinya berjalan menjauhiku.

Ia terlihat menghampiri sepasang namja dan yeoja dan berbincang akrab. Yaaah, beginilah nasib sekretaris, ditinggal begitu saja. Aku baru saja ingin melangkahkan kakiku ke stand makanan, namun smartphone baruku berdering.

“Ne, sajangnim?”

“Kau melihatku?” Aku tanpa sadar mengangguk, setengah dari diriku bergidik ngeri karena menyadari nada bicara bos ku tiba-tiba lembut sekali. “Kemarilah.”

Aku setengah berlari menghampiri bos ku, namun langkahku melambat ketika tau siapa orang yang sedang berbicara dengan bos ku, Kim Woobin dan di sebelahnya adalah salah satu artis baru yang sedang naik daun, namun aku lupa siapa namanya.

“Woobin, Jieun, kenalkan ini Choi Jihyo. Jihyo, ini pewaris Kim Group, Kim Woobin dan tentu saja kau mengenal Jieun kann?” Tanya Seunghyun sajangnim. Aku menggangguk.

“Annyeonghaseyo, Woobin-ssi, Jieun-ssi,” aku tau Woobin oppa adalah playboy sejati yang setiap hari berganti-ganti kekasih. Namun aku hanya tidak membayangkan jika aku saat ini bertemu dengannya saat aku sedang bersama bos ku.

Aku memandang Woobin oppa dengan lekat, dia masih saja tak mau memandangku. Tak apa. Aku setidaknya tau ternyata Woobin oppa dan Seunghyun sajangnim adalah sahabat saat mereka kuliah di Amerika. Fakta yang bahkan aku sebagai tunangannya, bukan, seseorang yang mengenalnya selama 24 tahun lamanya tak tau.

Kini aku menengok ke arah bos ku. Apakah dia selama ini Seunghyun sajangnim tau jika aku adalah tunangan Woobin oppa?

Aku ragu jika bos ku tau aku adalah tunangan sahabatnya. Maksudku, Woobin oppa bersikeras jika ia mau bertunangan dengan syarat tidak ada yang boleh tau mengenai pertunangan ini selain keluarga. Dan memang hingga saat ini hanya keluarganya dan keluargaku yang tau kami bertunangan.

Atau mungkin ini perasaanku saja.

+++

“Haaaaaaaaaaaaaaa!” Aku mendengus keras-keras. Aku kesal, sudah jam 12 malam namun tak ada satu pun taksi yang lewat. Memang salahku sih tidak bawa mobil. Namun kan aku memang tidak familiar dengan daerah ini, salah sendiri mereka menikah di tempat terpencil seperti ini.

Aku mengutak-atik smartphoneku (yang aku beli dengan uangku sendiri). Apa aku harus meminta appa menjemputku? Atau Key? Tidak mungkin aku meminta Woobin oppa. Pasti dia sedang bersenang-senang dengan aktris itu. Kenapa kau harus membayangkannya sih Jihyo? Awas kalau kau tak sanggup menahan airmatamu!

Dan lagi-lagi smartphoneku yang satu lagi (yang diberikan oleh bos kesayangan namun mengerikan) berdering. Apa Seunghyun sajangnim tidak mengerti konsep waktu apa?

“Ne, sajangnim?”

“Kau sudah pulang?”

“Emmm,” aku berpikir sejenak. Ternyata bos ku tidak semengerikan yang aku bayangkan, hahaha. Dia mengkhawatirkan sekretaris semata wayangnya. “Aku sudah hampir sampai, sajangnim.”

“Aku tak suka dibohongi oleh bawahanku. Naiklah,” sebuah mobil Porsche merah tiba-tiba muncul di hadapanku.

“Ini mobil sajangnim?” Aku tetap berbicara dengannya melalui smartphone. Kaca mobil pun terbuka.

“Masuk ke mobil atau kau akan kupecat saat ini juga!”

Aku segera bergegas masuk ke dalam mobil dan memasang seatbelt. Saat ini aku seperti anak kecil yang habis dimarahi appanya. Appa, sajangnimku mengerikaaaan😦

Sepanjang perjalanan aku hanya membuka mulutku sekali saat sajangnim bertanya dimana alamat rumahku, sisanya? Aku gemetaran karena takut diamuk CEO Choi Enterprise.

“Kau tau, jika sekali lagi kau berbohong padaku, kau benar-benar akan kupecat,” Sajangnim bahkan tetap tak mengubah nada suaranya. Aku hanya bisa mengangguk lemas.
“Satu lagi, aku tidak suka dipanggil sajangnim.”

Heeeeh? Lalu bos ku ini maunya dipanggil apa hah? “Mianhae sajangnim, tapi saya harus memanggil apa? CEO Choi?”

Dia kini menengok. “Menurutmu aku memang setua apa?”

“Mianhae sajangnim. Tapi aku harus memanggil sajangnim dengan sebutan apa?”

“Dalam kantor, sajangnim. Aku perbolehkan. Luar kantor, oppa.”

Aku refleks menepuk dahiku. Ya ampun ada apa sih di otak bos ku ini? Dia agak agak tidak waras apa?

“Wae, Choi Jihyo? Kau baru saja berbohong padaku dan sekarang mau melanggar perintahku?” Seunghyun sajangnim mengerem mendadak tepat di depan rumahku. Aku menggeleng.

“Anni, sajangnim. Ehhhm, sajangnim, eh, Choi Seunhyun-ssi oppa,” duh kenapa otakku juga jadi error begini sih?

“Kau sudah sampai rumah. Kau boleh keluar dari mobilku,” perintah Seunghyun sajangnim. Aku langsung menuruti perintahnya seperti robot.

Baru saja turun dari mobilnya tiba-tiba nama Woobin oppa muncul di layar handphoneku. “Yoboseyo op-”

“Kau tidak bilang ke bos mu kalau kita berdua bertunangan kann?” Aku sadar ada nada pengancaman di perkataannya.

“Tidak akan,” entah mengapa aku menjawabnya dengan tegas. Mungkin aku sedang lelah.

“Jika kau mengatakannya maka-”

“Aku tau, kau tidak harus mengulanginya setiap saat!” Ucapku setengah berteriak. Untung saja bos ku sudah pergi.

Aku sendiri merasa takjub, aku membentak Woobin oppa. Aku benar-benar sedang lelah mungkin.

“Aku mau bicara dengan ahjussi.”

“Appa sudah tidur.”

“Kau jangan berbohong!”

“Ya, Kim Woobin! Kau kira aku masih di pesta hah? Aku sudah sampai di rumah dan seluruh penghuni rumahku sudah tidur!”

“Baiklah,” entah aku yang salah dengar atau apa, namun suaranya tiba-tiba melembut. Aku memutuskan untuk menjauhkan smartphoneku dari telinga dan membiarkan tunanganku itu berbicara sesuatu, entahlah. Yang jelas, aku kini sudah lelah dan ingin tidur.

+++

“Baiklah jika kau sudah sampai rumah. Mian aku meninggalkanmu. Kau masih mendengarkanku? Mianhae Jihyonnie. Selamat malam.”