Annyeong semuanya hehe. Apa kabar? Hope you enjoy this fanfiction ya :) 

*****

Aku kira mereka hanya bercanda saat mengatakan kalau cinta tidak harus memiliki. Saat itu aku berpikir, bagaimana bisa mereka hidup tanpa orang yang dicintai? Akan tetapi semua hal yang kualami kini membuatku mengerti. Semua itu kusadari saat keberadaannya saja sudah membuatku sangat bahagia. Aku pun sadar, tanpa menuntutnya menjadi milikku, itu akan lebih baik untuknya. Sehingga, saat aku pergi meninggalkannya nanti ia tidak akan merasa kehilangan apapun.

Miracle. Itu yang kubutuhkan dan yang ingin kuberikan padanya saat ini. Sebelum aku benar-benar pergi.

****

Hamun menghembuskan nafas panjang. Ia berusaha menstabilkan jantungnya yang beberapa saat tadi berdetak sangat kencang. Ia sangat nervous hanya karena melihat pria itu. ‘Do it now or never,’ kata Hamun pada dirinya. Hamun melangkahkan kakinya, menghampiri pria yang sedang duduk di taman kampusnya.

“Hai, Lee Donghae sunbae,” sapa Hamun riang diiringi oleh senyumnya yang secerah matahari. Ia tidak tampak seperti orang yang sedang nervous.

Pria yang bernama Donghae dan gadis yang ada disebelahnya menengadahkan kepala mereka untuk melihat Hamun. Senyum Hamun tak hilang meskipun kedua orang dihadapannya menatapnya dengan risih seolah Hamun adalah pengganggu.

“Apa kau tak lihat kami sedang berpacaran disini?” tanya gadis itu dengan nada sinis sambil mengalungkan tangannya di pinggang pria itu.

Hamun tak kehilangan senyumnya. Emosinya tidak tersulut sedikit pun. “Aku ada perlu dengan Lee Donghae sunbae dan ini tidak ada hubungannya denganmu,” katanya lembut namun skeptis.

“Ada apa?” tanya Donghae dingin.

“Aku hanya ingin bicara berdua,” kata Hamun sambil melirik gadis itu.

Donghae menghela nafas panjang. Ia melepaskan tangan gadis yang bergelanyutan tadi. “Pergilah,” katanya. Gadis itu menatap Donghae kesal namun pria itu sama sekali tidak peduli. Ia menatap Hamun dengan wajah yang murka lalu ia benar-benar pergi dari tempat itu. Hamun duduk di bangku yang tadi ditempati gadis itu.

“Saranghae,” kata Hamun. Donghae menoleh kearah Hamun dengan wajah yang tampak kaget. Tak lama kemudian, ia tertawa terbahak-bahak.

“Waeyo?” tanya Hamun bingung.

Tawa Donghae terhenti. Ia kembali menatap Hamun dengan tatapan yang tajam. “Kau.. Kang Hamun, kan?” tanyanya. Hamun mengangguk.

“Kudengar kau adalah anak kesayangan para dosen karena kau sangat baik dan pintar,” kata Donghae. Hamun mengangkat bahunya. “Aku tak tahu kalau ada gosip seperti itu tentang diriku,” ujar Hamun.

Donghae menghela nafas. “Kau tak masuk dalam kualifikasiku. Aku tak mau memacari gadis baik sepertimu karena aku tak percaya cinta. Aku hanya mau main-main dengan semua gadis. Tidak ada niat untuk memiliki hubungan yang serius,” katanya.

Hamun tersenyum mendengar hal itu sedangkan Donghae hanya terdiam kebingungan akibat reaksi tak terduga dari Hamun. “Baguslah, karena aku diluar kualifikasimu, berarti kau tak akan pernah jatuh cinta padaku, kan?” tanyanya. “Aku juga tak minta menjadi pacarmu. Aku hanya ingin bersamamu selama sebulan ke depan. Aku bisa membayarmu jika yang kau inginkan sebagai gantinya adalah uang. Berapa pun jumlahnya akan kuberikan,”

Donghae terkekeh. “Kau wanita gila,” katanya merendahkan Hamun.

Hamun kembali tersenyum. “Benar. Anggap saja wanita gila ini sedang membutuhkan bantuanmu dan akan memberikanmu banyak uang sebagai gantinya. Bagaimana? Tidak ada ruginya untukmu, kan?”

Donghae terdiam sesaat. Tampak berpikir. “Baiklah,” jawabnya. Hamun tampak sangat bahagia mendengar jawaban Donghae tadi. Dengan segera, ia mengecup bibir Donghae.

“Itu tanda kalau mulai detik ini sampai sebulan ke depan kau adalah milikku,” ujar Hamun pada Donghae yang menatapnya penuh heran.

Mata Donghae tidak lepas dari gadis itu meskipun Hamun sudah pergi. Ia tahu dirinya adalah seorang playboy ulung yang sudah berpacaran dengan banyak gadis. Kali ini pun, ia yakin gadis itu tidak akan meninggalkan kesan apapun padanya. Pada akhirnya, cinta tidak akan membuktikan keberadaannya pada Donghae. Ia yakin, semua wanita sama saja seperti ibunya yang meninggalkan dirinya dan keluarganya demi pria lain.

*****

Hamun berjalan keluar kampus setelah kuliahnya selesai. Tiba-tiba, sebuah motor berhenti di depannya. “Naik,” ujar pria yang mengendarai motor itu sambil memberikan helm untuk Hamun.

“Waeyo?” tanya Hamun bingung.

Pria itu membuka kaca helm yang menutupi wajahnya. “Aku antar kau pulang,” katanya dingin.

“Aku bisa naik bus, Donghae sunbae,” kata Hamun lalu ia berjalan melewati Donghae dan motornya.

Pria itu menghela nafas panjang lalu turun dari motornya dan berjalan menghampiri Hamun. Ia menahan langkah gadis itu lalu memakaikan helm di kepala Hamun. “Aku tak menyangka kau menanyakan nomor rekeningku untuk mengirimkan uang sebanyak itu,” katanya sambil mengikatkan tali helm yang dipakai Hamun. “Jika sudah seperti itu, aku akan melakukan kewajibanku. I’m your slave now,”

Hamun tersenyum pada Donghae. “Aku tak menganggapmu sebagai slave, tapi jika kau sendiri yang bilang.. Baiklah, aku setuju dengan ide itu. You’re my slave and I’m your master. Sounds good,” ujar gadis itu.

Donghae menatap gadis itu kesal. Ia juga menyesal sudah mengatakan sesuatu yang tidak ia pikirkan sebelumnya. “Geez. Ayo pulang. Ppali,” ujar pria itu sambil berjalan lebih dulu kembali ke motornya.

Hamun memeluk pinggang pria yang ada di depannya setelah ia duduk di atas sepeda motor. Donghae memandang tangan gadis itu yang bertengger di pinggangnya. Untuk beberapa saat, ia bisa merasakan ada suatu rasa yang lain namun ia memutuskan untuk mengabaikannya. “Dimana rumahmu?” tanyanya.

*****

“Terima kasih sudah mengantarku,” kata gadis itu begitu mereka tiba di depan rumah Hamun.

“Arra, arra. Cepat lepaskan helm yang kau pakai. Aku mau pulang,” kata Donghae.

“Aku tak bisa melepaskannya. Tolong lepaskan,” kata Hamun. Donghae berdecak kesal sedangkan Hamun hanya tertawa. Saat pria itu hendak melepaskan tali helm itu, Hamun memanggilnya. “Donghae sunbae,”

Donghae menengadahkan kepalanya dan tiba-tiba gadis itu mengecup bibirnya kilat. “Kau tak boleh pulang. Ayo masuk. Aku bisa melepaskan helm ini sendiri,” katanya sambil melepaskan helm itu dan menaruhnya di atas spion motor Donghae.

Donghae menatap punggung gadis itu lalu tertawa kecil. Ia tak pernah bisa menebak pikiran gadis itu. Ia seorang playboy tapi hari ini sudah dua kali gadis itu mencuri ciumannya. Ia turun dari motornya dan segera mengikuti langkah Hamun. Hamun sedang berdiri di depan pintu seakan ia menunggu pintu itu terbuka.

“Kau tidak tinggal sendiri?” tanya Donghae yang sedikit penasaran tentang gadis itu.

“Ani. Apa kau mengharapkan aku tinggal sendirian? Kau mau menyerangku?” tanya Hamun dengan wajah yang dibuat takut-takut.

Donghae menatapnya kesal. “Yaa! Kau yang selalu menyerangku terlebih dulu. Harusnya aku yang takut kau akan menyerangku,” katanya. Hamun tertawa tanpa rasa bersalah mendengar ucapan Donghae tadi.

Tiba-tiba pintu rumah itu terbuka. Muncullah pria dan wanita paruh baya yang memiliki senyum secerah Hamun. Senyum mereka makin merekah setelah melihat Donghae. “Ini teman yang kau ceritakan pada omma tadi di telepon, sayang?” tanya wanita yang adalah ibu Hamun.

Hamun mengangguk. Ayah Hamun menyapa Donghae lalu menggandeng Hamun dan membawa anaknya masuk. Sedangkan, ibu Hamun masih mengelus-elus punggung Donghae dengan lembut. “Terima kasih ya. Ayo masuk, makan dulu biar kamu tidak kelaparan nanti,” kata ibu Hamun sambil mengajak Donghae masuk.

Akhirnya Donghae makan malam di tempat Hamun. Keluarga Hamun sangat hangat. Ia merasa sangat nyaman disekitar mereka. Terutama ibu Hamun. Ia memperlakukan Donghae dengan lembut dan penuh perhatian. Hal yang tak pernah ia dapat dan ia rasakan dari ibunya sendiri.

“Terima kasih untuk makan malamnya,” kata Donghae pada Hamun, ibunya, dan ayahnya yang mengantar Donghae sampai depan rumah mereka.

“Kesini lagi ya, Nak,” kata ibu Hamun.

“Harus. Appa mau menebus kekalahan appa hari ini. Kita harus bertanding catur lagi,” kata ayah Hamun yang membuat mereka semua tertawa.

“Mulai besok, kalau kau tidak ada acara apa-apa, kau harus makan disini ya,” kata Hamun lalu ia membisikkan sesuatu. “Ingat, i’m your master,” katanya. Donghae hanya tersenyum mendengar ucapan gadis itu.

*****

Hamun membawa makanannya dan menghampiri sebuah meja yang hanya ditempati oleh seorang pria. “Kenapa kau duduk disini, Kang Hamun?” tanyanya.

“Berikan aku alasan agar aku mau pindah dari tempat ini,” ujar Hamun yang sudah mulai melahap makanannya.

“Kau tak takut image anak rajin, baik, dan pintar yang kau sandang rusak karenaku?” tanya Donghae.

“Apa kau takut image playboy dan nakal yang melekat padamu luntur karenaku?” tanya Hamun balik. Ia menatap pria itu dan tersenyum kepadanya.

Donghae hanya bisa tertawa kecil mendengar pertanyaan Hamun. “Lakukan apa yang kau suka,” ujar Donghae sebagai tanda ia menyerah.

Tiba-tiba segerombolan gadis menghampiri meja Hamun dan Donghae. Mereka memandang Donghae dengan tatapan merendahkan. “Sejak kapan kau berteman dengan pria bermasalah sepertinya?” tanya salah satu dari mereka kepada Hamun.

Hamun meletakan sendoknya dan menatap gadis itu. “Sejak seminggu yang lalu dan dia tidak bermasalah. Dia pria yang baik,” kata Hamun sambil memberikan senyumannya untuk pria itu.

“Kalau kau bergaul dengannya, kau hanya akan mendapatkan pengaruh buruk. Sebaiknya kau menjauh darinya,” katanya.

“Itu resikoku dan aku akan menanggungnya. Kalau tak ada yang ingin kau katakan lagi, silahkan pergi,” ujar Hamun yang sudah tidak mempedulikan gadis-gadis itu.

“Kau pasti akan menyesal!” serunya lalu pergi dari tempat itu.

“Aku hanya ingin menghabiskan makan siangku tapi mengapa rasanya susah sekali?” ujar Hamun pada dirinya sendiri walaupun Donghae juga mendengarnya. Donghae hanya bisa tertawa melihat tingkah Hamun.

“Apa kau tak menyesal berkata seperti itu pada mereka?” tanya Donghae.

Hamun menggelengkan kepalanya lalu tersenyum pada pria itu. “Mereka berkata seperti itu karena mereka belum mengenalmu,” katanya dan kembali menghabiskan makanannya.

“Apa kau yakin kalau aku pria yang baik?” tanya Donghae yang memiliki keraguan pada dirinya sendiri.

Hamun mengangguk. “Aku tahu kau pria yang baik karena aku selalu merasa bahagia saat kau di dekatku,” jawabnya. “Aku juga ingin kau merasakan hal yang sama saat dirimu bersamaku,” lanjutnya.

Donghae terdiam mengamati gadis di hadapannya. Sudah seminggu ia menghabiskan waktu bersama Hamun. Selama seminggu ini, Hamun hanya memintanya untuk mengantarkan gadis itu ke rumahnya dan ikut makan malam bersama keluarganya. Jika hanya hal-hal seperti itu yang ia minta, seharusnya ia tak perlu memberikan uang sebanyak itu. Tetapi, entah mengapa, seminggu yang ia habiskan dengan gadis ini rasanya begitu berharga. Ia bisa merasakan kasih seorang ibu dan ayah. Ia juga bisa merasakan ketulusan gadis ini.

“Hei, Kang Hamun,” panggil Donghae.

Hamun menengadahkan kepalanya. Tiba-tiba, Donghae mengusap ujung bibir Hamun. Hamun yang tak siap akan perlakuan Donghae hanya bisa menyembunyikan debaran hatinya.

“Kalau makan jangan buru-buru,” kata Donghae. Ia segera menyingkirkan tangannya saat ia merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Aneh. Aneh. Aneh. Ia tak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Apa yang salah dengan dirinya?

*****

“Aku ingin ke tempatmu,” kata Hamun tiba-tiba yang membuat Donghae mengerem mendadak dan mematikan motornya.

“Waeyo?” tanya Donghae  bingung.

“Hanya ingin tahu. Sudah tiga minggu ini kau selalu ke rumahku, kini giliran aku yang ke rumahmu. Tidak boleh? Ingat, i’m your master. Kau tidak boleh menolak,” kata Hamun. Donghae mendecak kesal tapi mau tak mau akhirnya ia membawa Hamun ke apartemennya.

“Masuklah,” ujar Donghae pada Hamun yang masih berdiri di depan pintu apartemen Donghae. “Buka saja pintunya kalau kau takut aku menyerangmu tiba-tiba,” katanya.

Hamun tersenyum pada Donghae lalu menutup pintu itu. “Dengan kondisimu sekarang, aku rasa kau tak punya tenaga untuk menyerangku,” kata Hamun. Ia menggandeng tangan Donghae dan memaksa pria itu untuk tiduran di sova ruang tamunya.

“Sejak kapan kau tahu aku sakit?” tanya Donghae pada Hamun yang sedang memeriksa temperatur badan Donghae.

“Sejak aku melihatmu pagi tadi. Kau sangat pucat seperti Edward Cullen,” kata Hamun. Hamun pergi dari situ lalu kembali dengan membawa baskom dan kain untuk mengompres kepala Donghae.

Donghae hendak bangkit dari tidurnya namun Hamun kembali mendorong tubuh Donghae untuk tidur. “Tak perlu repot-repot. Aku bisa sendiri,” kata Donghae. Hamun tersenyum padanya sambil mengelus kepala pria itu. “I’m your master. Aku akan melakukan apapun yang aku mau. Aku mau merawatmu dan kau harus menurut,”

Donghae terdiam sambil menatap manik mata Hamun. Ia bisa merasakan ketulusan gadis itu. “Sebenarnya, kau menganggapku apa?” tanya Donghae.

“My slave,” jawab Hamun. Saat Hamun menjawab itu, Donghae bisa merasakan rasa sakit disekujur tubuhnya. “Tapi, aku juga menganggapmu sebagai pria yang aku cintai,” lanjut Hamun. Aneh sekali, sakit yang Donghae rasakan tadi seketika menghilang.

“Waeyo?” tanya Donghae bingung. Ia tak mengerti mengapa gadis seperti Hamun bisa mencintai pria macam dirinya.

“Rahasia,” kata Hamun. Gadis itu tersenyum pada Donghae lalu mencuri ciuman dibibir Donghae. “Aku mencintaimu karena itu aku ingin selalu bersamamu, menciummu, dan membuatmu bahagia,” ucapnya.

Donghae menyentuh bibir Hamun yang tadi menciumnya. Donghae mengelap bibir itu dengan ibu jarinya. “Kau ini bodoh atau apa, sih? Kau boleh menciumku seenaknya, tapi jangan sewaktu aku sakit seperti ini. Kalau kau sakit bagaimana?” tanya Donghae dingin walaupun kentara sekali kalau ia khawatir.

Hamun menjauhkan tangan pria itu darinya dan menggenggamnya erat. “Terima kasih kau sudah khawatir padaku. Tapi kau harus ingat, kau tidak boleh jatuh cinta padaku,” ujar Hamun.

Dahi Donghae mengkerut menandakan ia kebingungan. “Waeyo?”

“Setelah ini, aku akan lebih sering memintamu bersamaku. Aku akan lebih sering menggenggam tanganmu seperti ini. Aku akan lebih sering memelukmu dan menciummu. Karena itu aku minta tolong padamu untuk menahan diri. Kau tidak boleh jatuh cinta padaku. Anggap aku sama seperti semua gadis yang kau kencani selama ini. Aku sudah membayarmu untuk tidak jatuh cinta padaku. Arraseo?” tanya Hamun.

Donghae tak menjawab. Entah mengapa, kali ini ia merasa ragu. Rasanya seperti  ia sudah terlanjur tertarik pada gadis ini dan tidak ada yang bisa ia lakukan pada perasaannya. “Aku ingin tidur disampingmu,” kata Hamun.

Tanpa menunggu persetujuan dari Donghae, ia menidurkan tubuhnya di samping tubuh Donghae. “Untung sova ini cukup besar untuk kita berdua,” kata Hamun dengan senyum cerah yang tak luput dari wajahnya. Donghae memberikan tangannya untuk menjadi bantal Hamun. Gadis itu pun sudah memeluk erat pria itu seakan Donghae adalah gulingnya.

“Cepat sembuh Donghae sunbae,” kata Hamun sebelum ia memejamkan matanya.

*****

Donghae menatap gadis yang masih tertidur di sovanya. Ia tertawa kecil melihat wajah Hamun. “Dasar. Aku yang sakit tapi kenapa kau yang tidur sangat pulas, hm?” tanya Donghae pada Hamun walaupun gadis itu tidak mendengarnya. Ia mengelus kepala gadis itu dengan lembut.

“Kau tidak berpikir untuk menciumku, kan, Donghae sunbae?” ujar Hamun tiba-tiba yang membuat Donghae kaget. Donghae segera menjauhkan tangannya dan tubuhnya dari Hamun.

“Ani. Kau jangan terlalu percaya diri,” balas Donghae.

Hamun tersenyum padanya lalu mencium bibir pria itu. “Selamat pagi,” sapa Hamun. “Sunbae, aku ingin bolos kuliah. Aku mau menunjukan tempat yang indah kepadamu. Kau mau ikut?” tanya Hamun.

*****

Donghae takjub dengan pemandangan yang ia lihat saat ini. Padang rumput yang sangat luas dengan cahaya matahari dan angin sepoi-sepoi. Hamun menggandeng tangan Donghae dan membawa pria itu ke sebuah pohon. Satu-satunya pohon yang ada di sana. Hamun mengajak Donghae untuk duduk dibawah pohon itu.

“Kau suka?” tanya Hamun pada Donghae.

Donghae menatap gadis itu lalu mengangguk. “Aku baru tahu ada tempat seperti ini di Seoul,” katanya.

Hamun menutup matanya untuk merasakan hangatnya sinar matahari dan sejuknya angin di tempat itu. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada Donghae. Ia merasa sangat bahagia bisa menikmati moment seperti ini bersama dengan pria yang ia cintai.

Donghae memandang Hamun tanpa sepengetahuan gadis itu. Saat ia melihat wajahnya, semua waktu yang ia lalui bersama Hamun kembali berputar di kepalanya. Ia ingat bagaimana ketulusan gadis itu. Ia ingat bagaimana Hamun memberikannya kesempatan untuk merasakan kasih seorang ibu. Ia ingat bagaimana kehadiran gadis itu membuatnya kembali merasakan kehangatan seorang ayah. Ia juga ingat rasa bahagia yang Donghae rasakan saat ia tahu kalau dirinya dicintai dengan tulus oleh Kang Hamun. Mengingat semua itu membuat Donghae tersadar kalau ia tidak memiliki alasan untuk tidak mencintai Hamun.

Tiba-tiba saja, Hamun merasakan sesuatu menempel dibibirnya. Saat Hamun membuka mata, ia sangat terkejut mendapati Donghae sedang menciumnya.  Jantungnya berdetak sangat kencang akibat perbuatan pria itu.

“Wae-waeyo?” tanya Hamun setelah Donghae melepaskan ciumannya.

Pria itu menatap Hamun dalam. “Apa yang akan kau lakukan jika aku berkata, ‘aku mencintaimu’?” tanya Donghae.

Hamun menatapnya lirih. Air mata mulai menggenang di pelupuknya. “Aku akan pergi jauh dari kehidupanmu. Aku tak akan pernah muncul lagi dihadapanmu,” jawabnya tegas. Donghae bisa melihat kesungguhan di mata gadis itu. Ia tahu kalau Hamun menyembunyikan sesuatu darinya tapi ia yakin Hamun tidak akan menceritakannya.

“Jangan menangis,” kata Donghae sambil mengusap mata Hamun. Donghae kembali bersandar di batang pohon itu. Ia mengeratkan genggaman tangannya di tangan Hamun. “Kau tak boleh pergi,” katanya. “Aku akan menahan perasaanku, tapi kau tak boleh meninggalkanku,” lanjut Donghae.

Hamun memandang pria itu lalu tersenyum padanya dengan lembut. “Waktu aku bersama denganmu hanya 5 hari lagi, Donghae sunbae,” ujar Hamun mengingatkan.

“Akan kubuat banyak kenangan yang akan membuatmu kembali kepadaku,” kata Donghae tegas.

*****

Sayangnya, setelah hari dimana Donghae menyadari kalau ia mencintai Hamun, gadis itu tidak pernah menampakan dirinya. Sudah dua hari ini, Donghae tidak melihat wajah Hamun. Semua chat dan messagesnya tidak ada yang Hamun balas. Telepon Donghae pun tidak diangkat oleh Hamun. Akhirnya, Donghae memutuskan untuk pergi ke rumah Hamun.

“Hamun dimana ajjuma, ajjushi?” tanya Donghae saat kedua orang tua Hamun membukakan pintu untuknya. Mereka tak memberi jawaban. Keduanya tampak bingung dan ragu seolah-olah ada yang disembunyikan oleh mereka.

“Ada apa ajjuma, ajjushi?” tanya Donghae lagi.

“Omma, appa, biarkan Donghae masuk,” kata Hamun yang sedang menuruni tangga rumahnya dengan ringkih. Melihat itu, Donghae langsung menghampiri Hamun dan memapahnya. “Kau sakit?” tanya Donghae khawatir.

Hamun tersenyum padanya. “Seperti yang kau lihat. Jangan khawatir berlebihan,” katanya.

Donghae membawa Hamun duduk di ruang tamu sedangkan kedua orang tua Hamun sudah meninggalkan mereka berdua. “Kau sakit apa?” tanya Donghae sambil memeriksa suhu tubuh Hamun dengan punggung tangannya.

“Penyakit biasa,” kata Hamun. Setelah itu, ia mengecup pipi Donghae. “Terima kasih sudah mengkhawatirkanku,”

“Mau minum apa?” tanya Hamun yang sudah bangkit berdiri dan berjalan menuju dapur. Donghae tidak melarangnya, karena ia tahu Hamun tidak akan mempedulikannya. Ia mengikuti langkah Hamun dari belakang, ingin menjaga gadis itu.

“Air putih,” kata Donghae.

“Tak boleh. Aku akan membuatkan teh untukmu,” kata Hamun.

Donghae menahan tangan Hamun lalu memutar tubuh gadis itu agar berhadapan dengannya. “Kali ini saja, kau dengarkan aku. Bisa?” tanya Donghae setengah kesal dengan sifat gadis ini yang keras kepala.

Hamun tersenyum pada Donghae. Tapi, perlahan-lahan penglihatannya memburam. Kepalanya sakit dan jantungnya berdetak sangat cepat. Dengan segera, Hamun memeluk erat tubuh Donghae. Berusaha mengingat kehangatan pria itu karena Hamun merasa ini adalah kesempatan terakhirnya. Ia bisa merasakan kehangatannya itu mengalir di sekujur tubuhnya saat Donghae membalas pelukan itu. “Saranghae,” kata Hamun. Setelah itu, semuanya menjadi gelap.

*****

“Hamun sudah cukup lama mengalami masalah dengan jantungnya. Salah satu cara menyembuhkan adalah melalui operasi ini. Sayangnya, probabilita operasi ini berhasil hanya 15%,” kata ayah Hamun menjelaskan semuanya pada Donghae.

Ia sangat terkejut mendengar semua penjelasan ayah Hamun. Hatinya sangat sakit membayangkan gadis itu sudah lama menyembunyikan semua ini seorang diri dibalik senyum cerianya . “Apa yang terjadi jika operasi ini tidak berhasil?”

“Hamun akan meninggal,” jawab ibu Hamun sambil memberikan senyum lirih pada Donghae. “Terima kasih, Nak. Sebulan ini Hamun tampak lebih ceria karenamu. Terima kasih sudah memberikan kebahagiaan itu padanya,”

Mata Donghae mulai berair. Air matanya tertahan di pelupuk mata. Ia berusaha kuat walaupun hatinya hancur mendengarkan berita itu. Apa yang harus ia lakukan jika gadis itu benar-benar pergi? Ia belum menyiapkan hatinya. Ia belum siap jika gadis yang baru saja ia cintai sudah harus pergi meninggalkannya. Ia belum melakukan apapun untuk membuatnya bahagia.

*****

Operasi Hamun berjalan lancar tapi sayangnya organ-organ vital di tubuh Hamun belum berfungsi normal. Semuanya masih sangat lemah. Meskipun operasi sudah selesai, tapi jika Hamun tidak sadarkan diri selama tiga hari, maka akibatnya akan sangat buruk. Seburuk kematian.

Sudah dua hari berlalu sejak operasi dilakukan. Tidak ada tanda-tanda positif dari tubuh Hamun. Gadis itu masih koma, tidak sadarkan diri. Sudah dua hari ini pula, Donghae tidak menjauhkan dirinya dari gadis itu. Ia selalu berada di rumah sakit, duduk dan tidur disamping Hamun, menggenggam tangannya erat, memeluknya, dan menciumnya. Ia berharap semua itu dapat membuat Hamun sadar.

“Pagi,” sapa Donghae sambil memberikan kecupan hangat di kening gadis itu. Ia tersenyum melihat wajah Hamun. “Kau belum bangun juga? Kau suka sekali tidur?” tanyanya.

“Apa kau tahu? Aku sudah mengembalikan semua uang yang dulu kau berikan padaku,” kata Donghae. Ia menggenggam tangan Hamun sangat erat.

“Kau tak penasaran kenapa aku melakukan hal itu?”

“Aku tak bisa melakukan apa yang kau minta. Aku tak bisa menahan diriku. From head to toe, aku sudah jatuh cinta padamu,”

“Yaa, jangan salahkan aku! Kau sendiri jadi perempuan terlalu agresif. Suka menyerangku. Kalau begitu caranya, bagaimana aku bisa menahan diri?”

“Awas saja kalau kau tidak bangun. Aku tidak akan membuat tenang disana,”

Tiba-tiba saja Donghae merasakan tangan Hamun yang digenggamnya bergerak. Donghae terdiam tak percaya dengan apa yang ia rasakan. Ia pikir dirinya hanya berhalusinasi namun ia yakin itu adalah kenyataan saat gadis itu membuka matanya secara perlahan dan berkata, “Kau.. mulai.. suka.. bicara.. sendiri.. sekarang?” tanya Hamun dengan nafas tersenggal-senggal.

Donghae terlalu bahagia. Ia mengecup kening Hamun lalu memanggil suster dan dokter yang merawat Hamun. Keajaiban itu terjadi dalam diri Hamun. Sama seperti Hamun, yang merupakan keajaiban di hidup Donghae.

*****

“Aku mau piknik,” ujar Donghae pada Hamun yang masih dalam masa pemulihan di rumahnya.

“Ide bagus, sunbae! Kau mau makan apa saat piknik nanti? Biar aku yang masak untukmu,”  kata Hamun.

“Apa maksudmu ‘nanti’? Kita berangkat sekarang, Kang Hamun,” ucap pria itu sambil memberikan senyumannya. Ia menggendong Hamun dan membawa gadis itu menuju motornya. Ia memakaikan helm untuknya dan membawa gadis itu pergi ke tempat pertama kali Donghae sadar dirinya mencintai Hamun.

“Sunbae, kalau kau membawaku kesini, harusnya kau berikan aku waktu untuk ganti baju,” protes Hamun.

“Aniya. Kau tak perlu. Kau sudah cantik,” katanya sambil menggandeng tangan Hamun.

Setibanya di padang rumput itu, Donghae membawa Hamun ke salah satu pohon yang ada disana. Donghae membuka kain yang sudah ia bawa sebelumnya sebagai alas duduk mereka. Ia juga mengeluarkan roti dan makanan yang sudah Donghae masak khusus untuk Hamun.

“Ada apa ini?” tanya Hamun sambil menatap Donghae dengan pandangan penuh curiga.

“Aku sedang menggodamu supaya kau kembali padaku. Aku mau menunjukan kalau aku bisa menjadi pria romantis dan pintar masak,” ujar Donghae.

Hamun tertawa mendengar pernyataan itu. “Itu saja tidak cukup untuk membuatku kembali padamu,”

Donghae menyunggingkan senyum percaya diri di wajahnya. “Aku tahu kau tidak akan mudah ditaklukkan. Sehingga aku sudah mempersiapkan sesuatu,”

“Apa?”

Donghae mengeluarkan sebuah cincin dari kantong jaketnya lalu memakaikan cincin itu ke jari manis tangan kanan Hamun. “Aku akan mengatakan kalimat itu sekarang. Tapi kau harus berjanji kalau kau tidak akan pergi,”

Hamun mengangguk. “Aku janji. Katakanlah,”

“Saranghae,”  kata Donghae pada Hamun.

Hamun tersenyum dengan ceria mendengar kalimat itu keluar dari mulut Donghae. Ia hendak mencium bibir Donghae namun pria itu menutup mulutnya. “Waeyo?” tanya Hamun sambil menatap Donghae kesal.

“Kali ini dan seterusnya aku tak akan membiarkanmu menyerangku terlebih dulu,” kata Donghae lalu akhirnya ia yang mengecup bibir Hamun lebih dulu.

*****

Waktu pun berlalu sangat cepat. Tanpa terasa, sudah dua tahun Hamun menjadi kekasih Donghae. Pria itu pun juga sudah banyak berubah. Ia bukan lagi seorang playboy dan kini ia sudah percaya pada cinta. Cinta yang ia berikan khusus untuk Hamun.

“Ah iya, aku penasaran. Bagaimana ceritanya kau bisa mencintaiku?” tanya Donghae pada Hamun yang duduk disebelahnya. Hari ini Hamun ingin menginap di apartemen Donghae dan menghabiskan waktu mereka dengan menonton televisi bersama.

“Bukankah sudah terlambat kalau oppa menanyakan hal itu sekarang?” tanya Hamun sambil menatap Donghae dengan heran.

“Hm, mianhe, tiba-tiba aku penasaran,” jawab Donghae.

“Saat itu aku masih Junior High School. Aku menjalani rawat inap selama beberapa minggu di rumah sakit. Yang menjadi perhatianku adalah dirimu yang selalu menjaga dan merawat ayahmu di rumah sakit itu sepulang sekolah. Setelah aku keluar dari rumah sakit, aku tetap mencari tahu kabarmu dan ayahmu. Sampai akhirnya aku dengar kalau ayahmu sudah tiada. Saat itulah aku memutuskan untuk menjalani operasi itu. Aku berpikir untuk memberikan keluargaku untukmu jika aku meninggal. Makanya aku selalu mengajakmu ke rumahku,”

“Lalu sejak kapan kau mencintaiku?” tanya Donghae yang sepertinya belum puas dengan cerita Hamun.

“Sejak pertama kali aku melihatmu merawat ayahmu dengan tulus. Kalau tak salah, sekitar 7 tahun yang lalu,”

Mata Donghae melebar karena ia terkejut. “Selama itu?” tanyanya tak percaya.

Hamun menatapnya kesal. “Butuh waktu yang lama untuk membuatmu sadar kalau aku ada disekitarmu,” kata Hamun skeptis.

Donghae tertawa sambil mengacak rambut Hamun. “Terima kasih sudah membantuku untuk menemukanmu. Sejak bersamamu, aku merasakan banyak keajaiban terjadi dalam hidupku,”

Hamun tersenyum pada pria itu lalu tiba-tiba Donghae memberikan kecupan dibibir Hamun. “Aku sayang padamu,” kata Donghae. Hamun mengeratkan genggaman tangannya pada Donghae dan meletakan kepalanya dibahu pria itu.

*****

Aku sadar kalau cinta tidak harus memiliki. Saat itu, aku benar-benar mencintainya tanpa mengharapkan balasan. Tapi, saat ia memilih untuk tetap berada disampingku, itu adalah saat yang terindah yang kuanggap sebagai keajaiban. Sejak saat itu, aku berjanji untuk tidak akan pernah melepaskannya. Aku akan memberikan kebahagiaan seperti yang sudah ia berikan padaku. Saranghaeyo, Donghae oppa.

END.