HERS

Tidak ada yang bisa menggambarkan kebahagiaanku setiap aku menyadari bahwa wanita yang sedang terlelap nyenyak di sebelahku telah secara resmi, seutuhnya, menjadi milikku.

Mungkin ini terdengar gila tapi hanya dengan menatap punggungnya saja, aku bisa tersenyum seakan aku adalah manusia yang paling bahagia di muka bumi ini.

Perlahan, agar aku tidak membangunkannya, aku mengelus punggungnya, menikmati setiap getaran yang terjadi akibat kulit kami yang bersentuhan.

Mungkin wanita ini yang terlalu sensitif. Secara tiba-tiba ia berbalik, menatapku dengan kesadaran penuh. “Selamat pagi,” sapanya dengan suara jernihnya, tidak menandakan ia baru saja bangun. Aku tidak ambil pusing. Aku menyukai suaranya dalam setiap tarikannya.

Aku melirik ke arah jendela kamar kami dimana sinar matahari sudah menyusup masuk melalui celah-celah tirai yang menutupnya. “Selamat siang lebih tepat aku rasa,” ujarku yang disambut tawa ringan darinya.

“Aku baru bisa tidur jam 6 pagi, sayang. Mian,” katanya sambil tersenyum membuatku gemas sehingga aku tidak tahan untuk tidak mengecup bibirnya yang entah sudah berapa kali menyatu dengan bibirku.

“Siapa suruh tidur jam 6? Apa saja yang kau lakukan?” Tanyaku.

“Menatap wajah polosmu yang sangat menenangkan kalau sedang terlelap,” ujarnya.

“Memangnya wajahku menyeramkan kalau tidak tidur?”

Ia menganggukkan kepalanya dan tertawa renyah. “Kalau kau sedang sadar, kau seperti selalu ingin menerkamku. Kau tahu?”

Aku menggelengkan kepalaku, pura-pura tidak tahu.

Hanya dengan berdiri saja, wanita ini bisa memberikan reaksi yang tidak bisa mengontrol akal sehatku. Aku selalu merasakannya dan aku tahu jelas apa yang ada di pikiranku setelah itu. Bercinta dengannya, tentu saja. Aku tahu itu.

Ia masih menatapku namun kali ini tangannya sudah mulai bermain-main di dadaku, memberikan efek yang agak menyakitkan di beberapa bagian tubuhku. “Jangan menggodaku kalau kau tidak ingin kembali berada di bawah kendali pikiran terliarku,” ujarku mencoba untuk mencegah terjadinya hal-hal yang kuinginkan. Itu baru terjadi 7 jam yang lalu!

Wanita ini tertawa dan kemudian menarik tangannya dari dadaku dan melingkarkannya di leherku. “Aku mencintaimu,” ucapnya lalu mencium bibirku dengan lembut yang entah sejak kapan berubah menjadi lebih mendesak dan dengan cepat ia menaiki tubuhku.

“I’m yours,” bisikku sebelum ia menjadikan pikiran terliarnya menjadi kenyataan.

—–

HIS

Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan kebahagiaanku ketika pria ini, pria yang terlelap dengan wajah polos menggemaskan, mengucapkan janji setianya di depan altar, di depan pendeta dan keluarga kami. Aku merasa seperti wanita yang paling beruntung sejagad raya ini.

Aku mungkin sudah tidak waras. Karena, aku lebih memilih untuk menikmati wajahnya dibandingkan mengistirahatkan tubuhku yang hampir remuk redam saking lelahnya. Ketampanannya terlalu sayang jika dilewatkan padahal aku punya kesempatan penuh sampai beberapa jam ke depan.

Perlahan, aku menyusuri setiap inci wajahnya dengan ujung jariku. Mulai dari kening, pelipis, pipi, sampai ke dagunya. Semua terasa sangat sempurna. Dalam diam, aku tertawa bahagia.

Entah berapa ciuman yang kudaratkan di wajahnya selama ia terlelap yang pasti aku membiarkan diriku ikut terlelap sampai aku puas memandanginya.

Rasanya aku baru tidur sebentar ketika aku rasakan ada sesuatu yang menggelitik punggungku. Tanpa perlu menebak-nebak, bisa kupastikan itu adalah tangan pria yang paling kucintai. Hembusan nafasnya yang begitu dekat dengan tengkukku menguatkan keyakinanku.

Aku membalikkan tubuhku dan kemudian mengucapkan salam pagiku untuknya. Ia menatapku sambil tersenyum namun kemudian mendelikkan matanya. “Selamat siang lebih tepatnya kurasa,” katanya.

Aku melihat sinar matahari yang memecah di antara sela-sela tirai jendela kamarku dan kemudian menyadari jam di kamar ini baru saja berdentang sebelas kali. Aku tertidur cukup lama rupanya.

“Maaf tidak sempat membuatkan sarapan untukmu,” kataku merasa bersalah karena seharusnya aku melaksanakan tugasku bukan terlelap nyenyak sampai nyaris tengah hari. “Aku baru bisa tidur jam 6 pagi, sayang. Mian.”

“Siapa suruh tidur jam 6? Apa saja yang kau lakukan?” Tanyanya.

“Menatap wajah polosmu yang sangat menenangkan kalau sedang terlelap,” ujarku dengan jujurnya. Aku memang hanya memandangi wajahnya selama kurang lebih 2 jam. Dia malah menertawaiku.

Ia memelukku dan aku meletakkan tanganku di dadanya untuk memisahkan tubuhku beberapa sentimeter darinya agar aku tetap bisa bernafas. Aku tahu, dia sangat posesif terhadap segala sesuatu yang berada di bawah namanya. Terutama tubuhku.

Ia menyeringai lebar kepadaku. “Jangan menggodaku kalau kau tidak ingin kembali berada di bawah kendali pikiran terliarku,” katanya yang sama sekali tidak ingin aku tolak. Aku tidak keberatan dia kembali menguasaiku.

Aku menarik wajahnya lalu mencium bibirnya yang entah sudah meninggalkan berapa jejak di tubuhku ini. “Aku mencintaimu,” ucapku dengan tulus, sesuai dengan apa yang aku rasakan.

“Kau tahu aku bisa mati tanpamu,” ujarnya lalu menciumku dengan jauh lebih kasar daripada apa yang aku lakukan padanya.

Ketika bibir kami berpagutan dan otak kami kehilangan akal sehatnya masing-masing, aku sudah berada di atasnya, memberikan kuasa atas tubuhku. “I’m yo…” ucapku tanpa bisa kuselesaikan karena pria ini tampak tidak sabar untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

—-

Kkeut!