“Jagiyaaaaaa!!!” Teriak Oppa sambil lompat ke tempat tidurku dan memelukku. “Aigooo nae aegi sudah besar sekarang.. Aaah, bogoshipo!” Oppa mencium puncak kepalaku. Tawanya tidak pernah berhenti sejak ia menginjakkan kaki di rumah ini.

Aku juga sangat merindukannya tapi saat ini bukanlah saat yang tepat. “Yaak Song Joong Ki,” ucapku sambil menendangnya keluar dari tempat tidurku.

“Waeee?” Tanyanya bingung. “Kenapa kau menendang Oppamu? Aku hanya merindukanmu.”

“Nado. Tapi aku sedang tidak berminat bermesra-mesraan denganmu.”

“Mwooo?!”

Aku bangkit dari tempat tidurku dan keluar menuju ruang makan tempat eomma sedang membuat sarapan. Oppa menyusul di belakangku.

“Eomma! Ada apa dengan anak perempuanmu ini? Apa dia benar-benar adikku?” Tanyanya.

Aku duduk tidak bersemangat sambil mengunyah roti bakar yang sudah disiapkan eomma.

Eomma tersenyum. “Dia sedang patah hati. Maklumkan saja,” kata eomma.

Oppa memandangku dan dari wajahnya aku tahu ia mengejekku. “Oppa, awas kalau kau berani mengejekku!” Ancamku. Tapi itu tak berguna, Oppa tertawa lepas mengejekku.

“Ya Song Hyejin, laki-laki di dunia ini tidak cuman satu. Kalau satu meninggalkanmu, kau harus mendapat dua penggantinya,” ujar Oppa.

Aku menyahutnya dengan sinis, “Amerika benar-benar sudah mengubahmu.”

“Kau hanya perlu membuka sedikit pikiranmu, adikku tersayang,” ujarnya lalu meninggalkan aku.

—-

Pasca berakhirnya hubunganku dengan laki-laki itu, maaf aku tidak mau menyebutkan namanya karena itu sangat menyakitkan, kerjaanku hanyalah makan, tidur, kuliah, dan sesekali keluar dengan teman-temanku. Ingat, sesekali. Dan seperti biasa setiap malam, aku memilih menonton film-film kartun tidak masuk akal. Paling tidak film itu bisa membuatku tertawa.

“Jagiyaaaaa!!!” Suara itu terdengar lagi. Kali ini ia berdiri di tepi pintu kamarku, memandangku dengan penuh rasa kasihan yang mengejek. “Bagaimana kau mau dapat pacar baru kalau kerjaanmu hanya meringkuk di balik selimut dengan kartun-kartun bodoh itu.”

“Mereka tidak bodoh. Mereka lucu,” belaku.

“Cih!” Ejeknya.

Aku menatapnya dari atas sampai bawah. Dia terlalu rapi dan parfumnya menyengat sampai ke hidungku. “Kau mau kemana?” Tanyaku.

“Bertemu teman-temanku,” jawabnya.

“Oh,” sahutku lalu kembali ke kartun, harus aku akui bodoh tapi paling tidak bisa membuatku tertawa.

“Cih! Kau pikir aku datang kemari hanya untuk pamitan padamu? Kau harus ikut, bodoh! Otakmu bisa semakin menciut kalau terus-terusan seperti ini!” Oppa menarikku dari tempat tidur. Ia menggendongku lalu menurunkanku di depan lemari. Ia membuka lemariku dan memilih satu gaun untukku. “Koleksimu tidak parah tapi kau tidak bisa memanfaatkannya. Pakai ini!”

Aku memakai gaun biru tua yang menutupi setiap inci bagian tubuhku dari bahu sampai paha, kecuali bagian punggungku yang terekspos jelas. Mungkin penjahitnya lupa bahwa punggung juga harus dilindungi.

“Oppa,” ucapku ragu saat bercermin di pintu lemariku. Aku melihat baju itu membalut ketat tubuhku dan aku tidak pede sama sekali dengannya.

“Tidak ada Oppa-oppa. Sekarang sisir rambutmu dan bermake-up lah sedikit,” perintahnya. Dengan ragu, aku menyisir rambutku dan memakai bedak dan lipstik tipis-tipis agar dandananku tetap kelihatan normal di mataku.

“Good,” puji Oppa sambil tersenyum melihatku. “Sekarang kau boleh memilih sepatumu sendiri.”

Aku memilih memakai sepatu flat kesayanganku yang mendapat cibiran keras dari Oppa. “Aku tidak suka tapi aku memegang janjiku. Ayo pergi!” Ia menarikku mengikutinya.

“Eomma! Appa! Kami pergi ya!! Sampai jumpa besok pagi!!” Teriak Oppa sebelum kami masuk ke dalam mobil.

“Appa mengizinkan Oppa membawa mobilnya?” Tanyaku tidak percaya. Appa salah satu pemilik mobil yang punya sifat protektif terhadap mobilnya.

Oppa tersenyum seperti menang. “Kajja!” Ucapnya dan dia menancap gasnya menuju tempat yang tidak pernah aku kunjungi sebelumnya. Elite Private Club, hanya orang-orang yang memiliki ijin khusus untuk bisa masuk. Setahuku, anak Presiden dan sekelasnya yang bisa masuk.

“Oppa, bagaimana bisa kau mendapat akses ke tempat ini?” Tanyaku kagum sekaligus tidak percaya. Kami berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja dan kami tidak pernah melakukan suatu yang istimewa sehingga bisa masuk ke klab ini. Oppa hanya tersenyum.

—-

“Joong Ki-yaaa!!!”

“Oppa…”

“Ah Hyung.”

“Yaa! Lama sekali tidak bertemu!”

Aku tidak pernah menyangka Oppa-ku seterkenal ini. Hampir semua orang di tempat ini mengenal Oppa. “Aku tidak tahu kau seterkenal ini,” ucapku kagum.

Lagi-lagi ia hanya tersenyum. “Makanya kubilang kau harus sedikit membuka otakmu,” katanya. Ia menarikku semakin dalam ke tengah klab. Ia membawaku menuju meja paling besar dan paling ramai.

“Junsu-ya,” ucap Oppa.

Laki-laki yang bernama Junsu itu segera menengok dan begitu gembira saat tahu bahwa Oppa-ku yang memanggilnya. “Hyuuuung!!! Aku pikir kau tidak akan datang,” kata laki-laki itu sambil memeluk Oppa.

Oppa tertawa santai. “Pagi tadi aku sampai dari Amerika dan yang kupikirkan pertama kali adalah pesta bujanganmu ini,” kata Oppa. “Menurutku kau terlalu cepat memutuskan menikah tapi… Chukkae! Semoga kau diurus dengan benar.” Oppa tertawa diikuti dengan tawa laki-laki bernama Junsu itu.

Oppa lalu mengenalkanku. “Kenalkan ini adikku, namanya Song Hyejin.”

Aku membungkukkan tubuhku sedikit. “Annyeonghaseyo, Song Hyejin imnida,” ucapku memperkenalkan diri di depan paling tidak sembilan laki-laki di hadapanku. Sembilan laki-laki tampan dan tidak mungkin tidak membuat wanita jatuh cinta kepada mereka.

“Kim Junsu, Lee Hyukjae, Lee Donghae, Kim Woobin, Eric Mun, Park Yoochun, Shim Changmin, Cho Kyuhyun, dan Choi Siwon,” kata Oppa sambil menunjuk mereka satu per satu. Mereka menatapku dan aku tersenyum, demi nama baik Oppaku.

“Kau tidak pernah cerita punya adik secantik ini, hyung,” kata laki-laki yang seingatku bernama Kim Woobin pada Oppa.

Oppa hanya tertawa. “Dia baru saja putus dengan pacarnya. Aku membawanya untuk menunjukkan masih banyak pria tampan dan baik di dunia ini. Aku hanya mau menunjukkan, bukan mau mengenalkan,” kata Oppa.

“Aku tahu, hyung. Aku tahu. Karena kau yang paling tua di sini, kami menghormatimu,” ujar Choi Siwon yang menurutku paling tampan di antara mereka semua tapi sayang aku melihat cincin yang telah mengikat jari manisnya.

Mereka minum bersama, tertawa bersama, tidak jarang menggodaku agar aku tidak canggung berada di antara mereka. Para laki-laki yang aku ketahui ternyata teman-teman Oppa sewaktu kuliah di Amerika itu, ternyata sebagian adalah anak Menteri atau pejabat negara sedangkan sebagian lagi anak para pengusaha nomor satu di Korea.

“Jadi kau menangis selama seminggu begitu laki-laki itu memutuskanmu dan memilih kartun macam Shinchan untuk menghiburmu?” Kata Lee Hyukjae kepadaku. Tatapannya tidak jauh berbeda dengan tatapan mengejek Oppa beberapa jam lalu.

“Yaa Song Hyejin, dengar. Kini kau punya 10 Oppa, kau tidak perlu khawatir. Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan pengganti laki-laki tak berguna macam mantan pacarmu itu. Kami akan membuatmu bahagia,” kata Lee Donghae sambil mengusap-usap kepalaku dengan lembut.

“Sebenarnya kau bisa saja memilih salah satu dari kami tapi tidak satu pun dari kami sanggup menghadapi Oppamu,” kata Park Yoochun sambil mengangkat gelas birnya. “Pacar baru untuk Song Hyejin!”

“Pacar baru untuk Song Hyejin!” Yang lain mengikuti juga sambil mengangkat gelas mereka masing-masing. Aku melihat mereka dan yang kulakukan hanya tertawa. Aku memang harus sedikit membuka pikiranku.

—-

6 dari 10 laki-laki ini memilih untuk tidur di klab karena sudah terlalu banyak minum sehingga tidak sanggup untuk pulang ke rumah masing-masing. 1 masih berada di lantai dansa, 2 di bar dan 1 lagi duduk tenang sambil menyesap wine-nya. Oppaku berada di antara salah satu yang ketiduran.

“Kau tidak suka wine?” Tanya laki-laki yang masih sadar yang duduk di antara laki-laki mabuk ini. Namanya Cho Kyuhyun, kalau tidak salah.

“Aku tidak pernah mencobanya,” jawabku jujur. Aku memang tidak pernah minum minuman beralkohol kecuali bir. Itupun karena Oppa yang bersedia memberikan sedikit birnya.

“Mau coba?” Tanyanya. Ia menuangkan sedikit wine ke dalam gelas lalu menyerahkannya padaku. “Coba sedikit saja.”

Aku menerima gelas itu. Demi nama baik Oppa, aku meminum sedikit wine tersebut. Rasanya sangat hangat tapi aku tahu aku tidak cocok dengan minuman itu. Hanya satu teguk, aku mengembalikan gelasku ke meja.

“Tidak suka?” Tanyanya aku aku jawab dengan gelengan kepala. Ia tertawa lepas. “Jadi kenapa pacarmu memutuskanmu?”

“Aku rasa karena dia sudah tidak mencintaiku,” jawabku.

“Bukan karena kau jelek atau bodoh atau membosankan?”

“Kalau sudah tidak mencintai, apapun bisa dijadikan alasan,” kataku. Kemudian aku tersadar apa yang dikatakannya. “Apa aku jelek? Bodoh? Membosankan?”

Kyuhyun tertawa lebih lepas. “Kau tidak jelek. Kau tidak membosankan, sangat menarik bahkan. Tapi ya, kau bodoh. Kau harus mengembangkan wawasanmu akan laki-laki.”

“Yaa…” Protesku. Ia baru mengenalku beberapa jam dan ia sudah berani mengataiku bodoh.

Kyuhyun tertawa semakin lepas. “Baiklah. Aku minta maaf. Tapi menurutku begitu. Kau patah hati tapi tidak seharusnya kau mengunci dirimu sendiri. Kau harusnya justru semakin beredar.”

“Bisakah kita membahas hal lain? Katamu aku harus beredar tapi kalau pembahasannya itu-itu terus, bukannya lebih baik aku nonton Shinchan di rumah sambil makan keripik?” Aku tidak suka patah hatiku terus-terusan jadi pembahasan.

“Gadis pintar,” pujinya sambil menatapku. Aku mungkin tidak sering pacaran tapi aku bisa membaca tatapan mata seorang laki-laki. Tatapan mata laki-laki ini menatapku seolah berkata ‘Aku tertarik padamu. Ayo kita berkencan’. Jujur, tatapan laki-laki tampan ini membuatku bergetar tapi aku tidak bisa sepenuhnya percaya. Aku baru mengenalnya beberapa jam. Dia anak orang kaya raya. Puluhan wanita yang berada di atasku mungkin mengejar-ngejarnya. Aku mungkin berhalusinasi. “Oppamu akan bangun pagi nanti mungkin sekitar jam 7. Aku akan sangat senang sekali kalau kau mau menemaniku.”

Aku tidak bisa berpura-pura tidak curiga. Aku jelas-jelas menatapnya seolah ia akan melakukan sesuatu yang membahayakanku. “Aku hanya ingin ditemani ke mini market. Kajja,” ujarnya. Aku seperti disihir olehnya. Aku mengikutinya dari belakang sampai sejajar berada di sampingnya.

Saat ini pukul 4 pagi dan udara sangat tidak bersahabat dengan bajuku yang tidak sempurna ini. Punggungku rasanya sudah membeku. Aku menggigil kedinginan.

“Aku ingin menolongmu tapi aku tidak mungkin melepaskan kemejaku untuk menutupi punggungmu. Sebentar lagi kita akan sampai. Mian,” katanya.

Aku terus mengikutinya berjalan, sambil memeluk tubuhku sendiri untuk mengurangi rasa dingin yang menerpaku. Kami masuk ke dalam sebuah minimarket 24 jam yang memiliki cafe kecil di sudut tokonya. Beruntung, terasa lebih hangat karena mereka tidak menyalakan AC-nya.

“Aku mau makan ramen pedas dan kopi panas. Kau?” Katanya memesan di kasir dan menyuruhku memesan yang aku inginkan.

“Ramen boleh,” kataku.

“Pedas atau tidak?” Tanyanya.

“Tidak pedas,” jawabku.

“Minum apa?” Tanyanya lagi.

“Air putih saja.”

Ia membayar semua pesanan kami dan membawanya ke sebuah meja kosong di belakang kami. Aku duduk di hadapannya dan mengambil ramen dan air putihku. “Terima kasih sudah mentraktirku pagi-pagi buta,” ucapku.

“Aku bisa mentraktirmu setiap saat,” katanya. Aku tahu ia sedang merayu tapi mungkin aku kembali berhalusinasi. “Selamat makan. Aku lapar sekali.”

“Selamat makan,” ucapku dan menyuapkan sesumpit ramen ke dalam mulutku. “Tampaknya aku juga kelaparan.”

Kyuhyun tertawa melihatku. “Menurutku, kau lucu,” katanya.

“Mungkin karena kau tidak pernah bertemu gadis sepertiku,” sahutku. “Gadis biasa maksudku.”

Kyuhyun menganggukkan kepalanya. “Mungkin saja.”

Kami memakan masing-masing 2 mangkok ramen, 2 potong roti dan 2 botol air putih sampai matahari terbit dan tersadar bahwa sudah waktunya kami kembali ke klab itu. Aku harus memastikan Oppa bangun dan tidak mabuk lagi sehingga kami bisa pulang.

Klab sudah sepi, tinggal Oppaku dan teman-temannya yang masih setengah sadar. “Aigoo, Appa pasti marah besar kalau dia mengetahui kau mengendarai mobilnya sambil mabuk-mabukan,” ujarku kepada Oppa.

Oppa melihatku sambil menyipitkan mata. “Oppa mau tidur sebentar lagi. Kau mau pulang duluan? Ini kunci mobilnya,” katanya sambil menyerahkan kunci kepadaku.

Aku memandang bingung kunci mobil itu. “Oppa, aku tidak bisa menyetir,” kataku tapi tampaknya ia tidak mendengarku. Ia kembali tidur di salah satu sofa yang bisa menampung seluruh badannya sepanjang 175 cm.

Aku menatap Kyuhyun dan ia berbalik menatapku. Ia menertawakanku. “Aku akan mengantarkanmu pulang. Ayo,” katanya sambil mengambil kunci mobil dari tanganku. “Tenang saja. Kau akan aku antarkan dengan selamat sampai ke rumah.”

Aku tidak punya pilihan lain. Aku harus pulang karena aku ada kuliah siang nanti dan tidak mungkin Appa tidak histeris kalau melihat mobilnya belum kembali.

—-

“Gomawo,” ucapku pada Kyuhyun yang sudah mengantarkan aku pulang. Ia berdiri di depan pintu rumahku. Wajahnya menatapku dengan bertanya-tanya. “Karena telah mengantarkan aku pulang.”

“Ooh,” sahut Kyuhyun seperti telah terjawab pertanyaannya.

Kyuhyun tetap berdiri di depan pintu rumahku. Aku balik menatapnya bingung. “Kau tidak ada kuliah? Pekerjaan?”

“Boleh aku pinjam handphonemu? Punyaku ketinggalan di klab. Aku butuh menelepon taksi,” katanya.

Aku menyerahkan handphone-ku dan dia mulai menelepon call center taksi. Panggilan pertama gagal. Dia menelepon call center taksi yang lain. Gagal lagi. Ia mencoba yang ketiga kali, untung berhasil. “Kamsahamnida,” ucap Kyuhyun padaku.

Aku tersenyum. Taksi Kyuhyun akan datang mungkin 10-15 menit lagi sedangkan aku harus siap-siap kuliah 30 menit lagi. Kalau aku menemani Kyuhyun menunggu taksi, itu artinya aku bisa terlambat. “Emm…tidak apa-apakah kalau aku tinggal? Aku ada kuliah setengah jam lagi, aku…em…bisa terlambat kalau…”

“Siap-siap saja. Aku bisa menunggunya sendirian kok. Tenang saja. Aku sudah kenal Korea lebih lama darimu.”

“Mian. Aku benar-benar minta maaf,” ucapku merasa bersalah tapi Kyuhyun hanya tertawa.

“Gwencana. Gwencana.”

Dengan tidak enak hati, aku meninggalkan Kyuhyun di teras rumahku. Saat aku sudah selesai siap-siap, dia sudah pergi.

—–

Annyeong!
Kau sudah selesai kuliah?
Aku ada di tempat parkir. Cari mobil Audi A8 putih. Maaf tidak bisa menjemputmu langsung.

Aku membaca SMS itu dan melihat nama pengirimnya. Cho Kyuhyun.

Darimana kau tahu nomorku? Kau menyimpan nomormu saat meminjam handphoneku tadi?

Aku membalas SMS-nya, jujur, dengan perasaan bahagia. Laki-laki mana yang akan memberikan nomornya atau mencuri-curi nomor seorang gadis jika dia tidak menyukai gadis itu? Atau bagaimana mungkin seorang laki-laki mau menjemput gadis yang bahkan tidak dia tahu dimana kampusnya? Dia mencari tahu semuanya. Dia mungkin benar-benar naksir padaku. Mungkin juga aku hanya berhalusinasi.

Handphone-ku berbunyi dan nama Cho Kyuhyun terpampang jelas di layar handphoneku. “Yoboseyo,” sapaku setenang mungkin.

Dia menyahut dari tempatnya, yang tampaknya di dalam mobil Audi A8 putih di tempat parkir kampusku. “Maaf lancang menelepon tapi aku bukan tipe orang yang suka mengirimkan pesan. Apa kau sudah selesai kuliah?”

“Sudah,” jawabku.

“Kau mau kuantar pulang? Aku ada di parkiran kampusmu. Fakultas Ekonomi kan? Aku tidak memaksa. Ini penawaran,” katanya.

Masa bodoh dengan halusinasi. Dia jelas naksir padaku. Laki-laki tampan dan kaya, baik hati, memiliki perhatian untukku. Laki-laki tampan dan kaya, baik hati naksir aku. Wow!

“Tunggu sebentar. Aku harus bertemu dosenku dulu,” kataku beralasan. Aku tidak perlu bertemu dosenku. Aku perlu bertemu dengan cermin dan seperangkat alat make-up minimalisku.

“Ok. Aku akan menunggu,” katanya dan aku menutup teleponku terlebih dahulu. Aku tahu harus ada yang mendahului untuk menutup telepon jika sepasang pria dan wanita melakukan pendekatan. Lagipula aku harus segera memoles sedikit wajahku.

Aku menemui Kyuhyun 5 menit kemudian di dalam mobilnya. “Hai,” sapanya.

“Hai,” balasku.

“Sejujurnya aku mau mengajakmu makan siang tapi boleh ditunda setengah jam, paling lama 1 jam? Aku ada urusan sebentar. Boleh?” Tanyanya sopan.

Aku menganggukkan kepala. Dijemput saja sudah membuatku kepayang apalagi diajak makan siang. “Boleh,” jawabku mengizinkannya. Padahal aku bisa saja menjawab ‘apapun yang kau inginkan’ tapi itu bisa membuat citraku buruk di matanya.

Kyuhyun tersenyum. “Jeongmal kamsahamnida. Aku janji tidak akan lama-lama.”

Ia lalu langsung membawaku ke sebuah gedung tinggi di Gangnam dengan dua huruf besar tertancap di puncaknya. “CC. Cho Corporation,” jelasnya saat aku mengagumi gedungnya. “Ini perusahaan nenek moyangku. Kau mau masuk? Tidak baik seorang gadis berada di dalam mobil sendirian.”

Aku menuruti sarannya. Aku mengikutinya masuk ke dalam gedung, ke dalam ruangannya dan bahkan disuguhkan minuman. “Aku tidak akan lama. Janji,” katanya lalu meninggalkanku di dalam ruangan kecilnya ini 47 menit 19 detik. Aku begitu tidak sabar karena aku begitu lapar.

“Kita pergi sekarang? Tampaknya aku terlalu lama meninggalkanmu. Wajahmu sudah seperti kucing yang tidak makan 3 hari,” katanya sambil tertawa, menertawaiku.

Aku tersenyum. “Ne Cho Kyuhyun Sajangnim,” ujarku dengan sopan sambil membungkukkan tubuhku sedikit, seolah ia adalah atasanku.

“Namaku saja jauh lebih enak didengar. Atau Oppa. Itu jauh lebih bagus. Kau kan lebih muda dariku jadi memang seharusnya kau memanggilku Oppa,” katanya tidak setuju dengan panggilanku barusan.

Aku mengangguk mengerti. “Ne Sajangnim Oppa,” ucapku lalu tertawa. Aku hanya ingin membuat sedikit lelucon.

Ia tertawa keras. “Kau benar-benar lucu. Bagaimana kalau kita pergi sekarang? Aku sudah lapar sekali.”

“Ne Sajangnim,” kataku lagi sambil tersenyum.

“Heiiish. Tidak kusangka Joong Ki hyung punya adik selucu ini,” protesnya tapi toh ia tetap ikut tertawa.

Ia mengajakku makan di sebuah restoran terbuka, di atap sebuah hotel. Makanannya begitu enak, ditambah dengan cerita-cerita Kyuhyun yang membuat waktu semakin tidak terasa berlalu. Dia menceritakan begitu banyak hal padaku sehingga aku harus melakukan usaha ekstra untuk mengingat semua ceritanya. Dari situ aku yakin, ia pasti tertarik padaku. Aku tidak mungkin berhalusinasi.

—-

“Opppaaaaaaa!!!” Teriakku sambil membuka pintu kamarnya sampai terbuka lebar tapi ia tidak bereaksi sama sekali.

Ia sedang serius berhadapan dengan komputernya. Tangannya sibuk bermain di keyboard. “Wae?” Tanyanya datar saat aku memeluk lehernya dari belakang.

“Aku baru tahu kenapa Oppa bisa masuk Elite Private. Ternyata Oppa punya bisnis IT Solution yang sudah mendunia. Aku tidak tahu ternyata Oppa sehebat itu. Berarti Oppa kaya dong ya?” Aku berbicara panjang lebar tidak berharap Oppa membalas dengan panjang lebar yang sama. Oppa seolah zombie kalau sudah berhadapan dengan komputer.

“Darimana kau tahu?” Tanyanya masih datar.

“Kyuhyun menceritakannya padaku. Dia banyak bercerita tentang kau dan teman-teman yang Oppa kenalkan kemarin padaku.”

“Kau jalan dengannya?”

“Iya,” jawabku. “Maksudku, dalam artian benar-benar jalan. Makan bersama. Cuman itu, tidak lebih.”

“Oh.” Oppa tidak menengokku. Ia lebih mencintai komputernya dibanding adik perempuannya ini.

“Oppa no fun,” ujarku kesal lalu keluar dari kamarnya. Lebih baik aku tidur agar nanti malam aku punya tenaga untuk belajar.

—-

Rencana belajarku gagal total ketika Oppa tiba-tiba masuk ke kamarku, mengacak-acak lemariku dan melemparkan gaun simpel warna merah muda. Salah satu baju kesukaanku. “Aku diundang makan sushi dengan teman-temanku. Kau harus ikut,” kata Oppa.

“Waeee? Aku mau belajar, Oppa. Besok aku ada kuis,” ujarku tapi Oppa malah menyodorkan pakaian itu padaku.

“Pakai sekarang,” katanya tanpa bisa kubantah. Aku mengikuti Oppaku, tidak sampai 5 menit kami sudah sampai di sebuah restoran sushi. 5 dari 9 teman yang dia kenalkan padaku kemarin ada di sini. Lee Donghae, Lee Hyukjae, Shim Changmin, Kim Junsu, dan Park Yoochun.

“Siwon hyung tidak bisa datang. Tunangannya sedang ngambek. Yunho hyung dapat panggilan dari pacarnya. Jaejoong hyung paling dihukum ayahnya karena pulang pagi lagi. Kyuhyun tidak jelas keberadaannya,” kata Changmin seperti melapor pada Oppa.

Aku duduk di sebelah Oppa dan tanpa malu-malu mengambil sushi-sushi yang ingin aku makan. Keenam laki-laki itu sibuk bercerita kesana kemari sampai tampaknya melupakanku.

Kau dimana?

Aku membaca SMS yang baru saja masuk ke handphoneku. Cho Kyuhyun yang mengirimnya. Aku membalasnya.

Terjebak di sebuah restoran sushi dengan 6 pria berisik yang tampaknya sudah melupakan keberadaanku.

Kkkk… Aku akan kesana. Tidak akan kubuat kau kesepian.

Tidak butuh waktu lama untuk Kyuhyun tiba-tiba muncul dan menyapa kami semua dengan tawanya yang khas. “Aku rasa aku sangat terlambat,” ujarnya.

“Kupikir kau tidak akan datang,” kata Changmin.

Kyuhyun hanya tersenyum dan menatapku. Ada 3 kursi kosong di sebelah Changmin, 2 di antara aku dan Kim Junsu dan 1 di sebelah Lee Donghae. Kyuhyun memilih duduk di sebelahku.

“Kalau tahu kau ikut, aku tidak akan membuang-buang waktuku nonton Shinchan di rumah,” katanya nyaris membuatku tersedak saking ingin tertawanya.

“Kau nonton Shinchan?” Tanyaku tidak percaya.

Ia menganggukkan kepalanya. “Harus kuakui, seleramu sungguh buruk. Kartun itu tidak mengajarkan apa-apa kecuali tawa. Menertawakan kebodohan. Aku bisa merekomendasikan film-film lain yang lebih bagus,” jawabnya.

“Luar biasa. Buat apa kau tonton kalau begitu?”

“Kalau kau menyukai seseorang, mau mengencaninya, kau harus tahu dulu bagaimana sifatnya kan?”

Aku mendengar kata suka dan kencan. Ia menyukaiku dan mau mengencaniku. Aku menyukai kata-kata itu keluar dari mulutnya dan mungkin aku juga menyukainya. Aku tersenyum.

“Kau mau gurita?” Tawarnya padaku.

“Gurita? Memang ada?” Tanyaku.

“Ada tapi kita harus mengambilnya di sushi bar. Kalau aku mau aku akan mengambilnya juga untukmu.”

Aku nyaris tidak bisa bernafas. Si suka dan si kencan masih melayang-layang di kepalaku. Wajahku tampaknya bersemu merah semakin lama aku memikirkan kata-kata itu.

“Aku yang akan mengambilkannya untukmu,” kataku entah kenapa tapi aku butuh waktu untuk membetulkan saluran pernafasanku yang sudah disumbat dengan mudah oleh pengakuannya tadi.

Aku berjalan ke sushi bar, menatap sushi dan teman-temannya berjalan berkeliling meja. Aku mencari sebuah piring yang menyajikan sesuatu bernama gurita. Setelah menunggu beberapa menit, aku melihatnya.

“Guritaaa,” ucapku sambil mengambil gurita itu.

“Hai, apa kabar?” Sapa seseorang yang merupakan mimpi buruk untukku. Ia bukan lagi membuatku tidak bisa bernafas, ia bahkan menyumbat aliran darah dari jantungku.

“Seunghyun-ssi,” kataku begitu melihatnya. Mantan pacarku yang membuatku menangis 7 hari 7 malam, bergelung dalam selimut menonton Shinchan setiap malam.

“Apa kabar?” Tanyanya lagi. Aku tidak bisa menjawabnya. Otakku rasanya beku.

“Em…Um…”

“Jagiya, kenapa kau lama sekali? Aku lapaaaar…” Kyuhyun muncul di belakangku, menghimpitku di antara sushi bar dan dirinya. Dia juga mengecup pipiku. “Kajja, jagi.”

Kami berdua kembali ke meja kami. Ia menggandeng tanganku dan aku terdiam. Aku tidak tahu kenapa aku terdiam, apa karena Kyuhyun atau Seunghyun.

“Mantanmu?” Tanyanya. Aku mengangguk pelan.

“Kau mau gurita?” Aku menggeleng.

Kyuhyun tertawa. “Wah, tampaknya aku harus berjuang keras mendapatkanmu.” Ia menatapku tanpa menghilangkan tawanya.

Aku tersenyum. Aku tidak tahu apa yang membajak otakku. “Aku menyukaimu. Aku ingin melupakannya,” kataku.

“Akan kubantu dengan senang hati,” sahutnya.

Duduk kami yang sudah berhimpitan tampaknya terasa kurang. Kami berciuman, tidak peduli ada 6 orang lain di meja kami, tidak peduli dengan 50 orang lagi di restoran ini, tidak peduli dengan Oppa. Mereka semua menatap kami.

“Kami tidak akan membantumu menghadapi Joong Ki hyung,” ucap Changmin sambil tertawa, diikuti yang lain kecuali Oppa.

“Aku akan menghajarmu, Cho Kyuhyun,” kata Oppa.

Kyuhyun tertawa kecil. “Aku takut kau tidak akan punya kesempatan, hyung.”

Aku tersipu malu, aku bahkan tidak berani menatap 7 Oppa yang sedang tersenyum kepadaku, menertawaiku dan memberikan begitu banyak nasihat yang menggodaku. Aku berlindung di bawah tangan Kyuhyun yang berada di bahuku. Aku pacarnya sekarang. Kami sepasang kekasih sekarang.

—-

Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, Oppa bangun lebih pagi daripada aku. Ia menarik selimutku sampai aku tersentak bangun.

“Oppa, waeyooo?” Keluhku.

“Kau mau pergi kemana pagi-pagi sama Kyuhyun? Dia ada di depan,” Tanyanya. Dari caranya bertanya, aku tahu Oppa kesal.

“Pergi? Aku tidak kemana-mana,” jawabku. Ini masih jam 6 pagi dan aku bahkan belum merencanakan hariku hari ini. Namun aku tersadar hal paling indah dalam hidupku pagi-pagi sudah muncul. “Kyuhyun datang?!” Aku melompat dari tempat tidur untuk menemuinya.

“Hai,” sapanya sambil tersenyum. Ia berdiri di depan pintu rumah dengan kaus, celana pendek dan sepatu lari.

“Hai,” balasku.

“Kau tampak seksi sehabis bangun tidur,” katanya yang menurutku lebih tepat sedang merayuku. Aku hanya tersenyum.

“Apa yang kau lakukan pagi-pagi disini?” Tanyaku.

“Aku habis jogging dan tiba-tiba merindukanmu, jadi aku kesini,” jawabnya sambil tersenyum memandangku. “Kau kuliah hari ini?”

Aku tidak tahan untuk tidak membalas senyumnya. Aku menggelengkan kepalaku. “Dosenku tidak masuk. Lagipula aku tinggal tugas akhir.”

“Baiklah kalau begitu, nanti siang aku akan menjemputmu untuk makan siang bersama. Sekarang kau boleh tidur lagi.” Ia lalu memelukku dan mencium pipiku. “Aku akan sangat merindukanmu.”

Aku tidak tahan untuk tidak tersenyum padanya. Ia benar-benar membuatku jatuh cinta. “Aku harap jam makan siang segera tiba.”

“Ok. Sampai jumpa.”

“Sampai jumpa.” Ia melambaikan tangannya kepadaku lalu masuk ke dalam mobilnya dan melaju meninggalkan aku dan rumahku.

“Paling tidak kau bisa tersenyum sekarang,” kata Oppa yang entah sejak kapan duduk di ruang tamu, memperhatikanku dengan tangannya terlipat di dada.

Aku menyengir, memamerkan deretan gigiku. “Terima kasih telah mengenalkannya padaku, Oppa sayang.”

“Jangan senang dulu. Aku akan menghajarnya kalau ia membuatmu menangis setetes saja.”

Aku memeluk Oppa dengan erat lalu mengecup pipinya. “Aku mencintai Oppa.”

“Apalagi aku.”

Ia tetap dengan wajah datarnya, melipat tangan di dada dan menatapku tanpa ekspresi tapi aku bisa merasakan kasih sayangnya kepadaku. Aku tersenyum dan memeluknya lebih erat untuk waktu yang cukup lama.

—-

Kkeut!