Hope you enjoy this fanfiction. Thank you for reading🙂

******

“Hamun,” panggil Donghae pada kekasihnya yang sangat serius mengerjakan tugas-tugas kuliahnya.

“Hm,” jawab Hamun tanpa mengalihkan fokusnya dari laptop yang ia gunakan.

“Istirahat sebentar,” ujar Donghae lembut namun penuh kekhawatiran. “Aku takut kau sakit. Sudah seminggu ini kau hanya tidur satu jam sehari,” lanjutnya.

Akhirnya, Hamun memberikan perhatiannya pada kekasihnya itu. “Aku sudah minum vitamin, oppa. Tenang saja,”

Donghae menghela nafas panjang karena Hamun tidak mendengarkan perkataannya. “Baiklah. Mulai malam ini, kalau kau tidak tidur, aku juga tidak akan tidur. Tiap malam aku akan ke dorm SG untuk mengecekmu,” kata pria itu.

Hamun kembali menatap Donghae. Kini dengan raut wajah kesal. “Oppa, dengarkan baik-baik. Lusa aku akan mulai UAS. Sampai dua minggu ke depan aku akan lebih sering bergadang. Apa oppa mau tidak tidur selama itu? Kau punya schedule yang lebih banyak dariku, oppa! Kau mau jatuh sakit?” tanyanya.

Wajah Donghae menyiratkan kekalutan. Satu sisi ia sadar kalau perkataan Hamun benar, tapi ia juga khawatir kalau Hamun harus memforsir tubuhnya seperti sekarang selama dua minggu ke depan.

“Aku tetap akan menjalankan yang aku bilang tadi. Aku tidak tidur kalau kau tidak tidur,” ujar Donghae sambil memandang Hamun penuh keyakinan.

Hamun menghela nafasnya. Ia menarik tangan Donghae dan menggeretnya keluar dari dorm SG. “Hamun, waeyo?” tanya pria itu tak mengerti.

“Aku tak mau bertemu oppa sebelum kau sadar kalau perkataan oppa tadi akan merugikan dirimu. Aku tak mau disebut sebagai pacar yang tidak bisa menjaga kekasihku sendiri. Oppa pulang saja lalu istirahat, aku ingin sendiri,” kata Hamun dengan tegas dan dingin. Setelah itu, Hamun langsung menutup pintu dorm SG. Mata Donghae terbelalak melihat sikap Hamun itu. Ia tak menyangka Hamun tega mengusirnya dan memarahinya seperti tadi.

“Oppa,” panggil Hamun yang tiba-tiba kembali membuka pintu dorm itu. Melihat wajah Hamun otomatis membuat senyum Donghae mengembang. Akan tetapi, senyumnya memudar saat ia sadar Hamun masih menatapnya dengan kesal.

Hamun mencium bibir Donghae kilat. “Aku mencintaimu tapi sekarang aku masih marah padamu,” kata Hamun yang langsung menutup pintu dorm. Ia bahkan tidak menunggu Donghae yang ingin memberikan pembelaannya.

Dengan sedih dan terpaksa, akhirnya Donghae melangkah pergi dari apartemen SG. Langkahnya lunglai tanpa semangat. Ia bingung memikirkan cara agar Hamun tak marah lagi padanya.

*****

Keesokan harinya, setelah semua schedule Donghae selesai, ia langsung melajukan mobilnya menuju dorm SG. Begitu Donghae tiba, ia langsung disambut oleh Hyejin, Minah, Hyunah, Jihyo, beserta para pasangan mereka.

“Hai, Donghae, hyung,” sapa Kyuhyun, Henry, Woobin, dan Eric bersamaan.

Donghae tersenyum dan membalas sapaan mereka semua. “Hamun mana?” tanya Donghae yang tersadar kalau Hamun tidak ada ditempat itu.

Mereka (selain Donghae) saling bertatapan. Tak lama setelah itu, mereka memandang Donghae dengan penuh penyesalan.

“Waeyo?” tanya Donghae yang merasakan kalau ada yang mereka sembunyikan.

Hamun dan Woobin yang ada di tengah segera bergeser sehingga Donghae bisa berjalan menuju kamar Hamun.

Donghae sangat kaget melihat tulisan yang ada di depan pintu kamar Hamun. “Lee Donghae dilarang masuk! Kalau oppa berani masuk, aku tak mau berbicara denganmu!”

Donghae segera mengetuk kamar itu dan mencoba membukanya. Sayangnya, pintu itu di kunci dan Hamun tidak menjawab. “Yaa, Kang Hamun!” panggilnya. “Kalau kau tidak keluar, aku juga tidak mau bicara denganmu!”

Tiba-tiba pintu itu terbuka dan Hamun keluar dengan raut wajah yang kesal. “Yaa! Oppa! Aku sudah bilang jangan mengangguku!”

Donghae membelalakan matanya. “Aku mengganggumu? Aku kekasihmu, Hamun! Aku bukan mau menganggumu tapi mau menjagamu! Aku tak mau kau sakit karena kelelahan,”

“Oppa, aku bisa menjaga diriku. Oppa juga harus lebih perhatian pada tubuhmu! Kalau kau hanya memperhatikanku, oppa bisa sakit!” seru Hamun.

Donghae memberikan pembelaannya. “Setelah aku pikir-pikir, aku rasa bukan hal yang salah untuk memperhatikan kekasihku sendiri. Tapi, kau malah tidak suka jika aku seperti itu. Apa kau lebih suka mendapat perhatian dari Chanyeol, Sehun, Taemin, atau Siwon, hm?” tanyanya skeptis.

Hamun terdiam mendengar perkataan Donghae. Ia sangat sedih kalimat itu diucapkan oleh kekasihnya. Hamun menghela nafas panjang. “Terserah oppa kalau kau mau berpikir seperti itu. Aku masih banyak tugas,” kata Hamun lalu ia masuk ke kamarnya dan menguncinya begitu saja. Tanpa berpamitan dengan Donghae terlebih dulu.

“Hamun, kalau kau seperti ini terus, aku bisa marah padamu. Keluarlah, kita belum selesai bicara,” katanya dengan suara yang lebih lembut daripada tadi. Sayang sekali, Hamun tidak memberikan jawaban apapun.

“Baiklah kalau itu maumu. Aku akan melakukan yang kau mau. Aku tak akan datang ke dorm SG atau menghubungimu terlebih dahulu. Aku akan menunggumu,” ujar Donghae.

Hyejin, Minah, Hyunah, Jihyo, Kyuhyun, Eric, Henry, dan Woobin, menatap Donghae dengan penuh penyesalan. Donghae hanya tersenyum lalu berpamitan untuk keluar.

“Dasar pasangan ajaib. Aku kasihan sama mereka tapi aku tak menyangka kalau kedua orang itu bertengkar karena mereka saling memperhatikan satu sama lain,” kata Hyejin begitu Donghae keluar.

“Hamun marah karena Donghae lebih perhatian padanya dari pada tubuh Donghae sendiri,” jelas Kyuhyun.

“Sedangkan Donghae oppa marah karena Hamun tidak menjaga tubuhnya sendiri tapi justru lebih mengkhawatirkan Donghae,” ucap Jihyo.

“Bukankah mereka sama saja?” tanya Woobin yang akhirnya mengerti alasan sebenarnya yang membuat Haemun Couple bertengkar.

Eric dan Minah tertawa. “Biarkan saja pasangan muda itu. Mereka sekali-kali perlu bertengkar,”  kata Eric.

“Setuju, oppa. Setelah itu pasti mereka akan lebih mesra. Seperti aku dan Eric,” cerita Minah.

“Benarkah? Kalau begitu, ayo kita bertengkar Hyunah!” ajak Henry yang membuat semua orang disitu tertawa.

“Yang benar saja, oppa,” jawab Hyunah sambul tersipu malu pada Henry.

“Sepertinya kita tidak perlu ikut campur urusan mereka. Donghae sangat mencintai Hamun sehingga ia pasti tidak tahan lama-lama pisah dari Hamun. Ingat Donghae hyung saat ditinggal Hamun selama seminggu syuting di Amerika?” celetuk Kyuhyun.

Hyejin mengangguk setuju. “Hamun juga lebih dewasa dari pada yang kita pikir. Ia pasti tahu solusi yang tepat untuk masalahnya sendiri,” ujar Hyejin.

*****

Begitu ujian selesai, Hamun langsung keluar dari kelasnya menuju taman belakang. Setelah tiba disana, Hamun duduk direrumputan sambil menatap langut biru yang saat itu cukup mendung. Tak lama setelah itu, tiba-tiba air matanya mengalir. Berulang kali Hamun menghapusnya, tangisan itu justru menderas.

“Donghae oppa, nomu bogoshipo,” gumam Hamun lirih ditengah isakannya.

Seminggu sudah Hamun lewati tanpa Donghae. Meskipun ia biasa ditinggal pria itu karena kesibukannya, tapi kali ini rasanya berbeda. Hamun bahkan tidak bisa mendengarkan suaranya melalui telepon atau melihat wajahnya melalui skype. Hamun sangat tersiksa dengan rasa rindunya pada Donghae.

“Hamun, bertahanlah seminggu lagi,” gumamnya lagi pada dirinya sendiri.

*****

Sambil menunggu gilirannya tampil, Donghae hanya menatap ke layar smartphonennya. Ia bisa melihat wajah Hamun dengan jelas melalui wallpapernya. Hal itu membuat Donghae makin merindukan Hamun. Akan tetapi, dua minggu sudah berlalu dan Hamun belum menghubunginya. Donghae sudah seperti orang nomophobia yang tak bisa jauh dari gadgetnya, ia selalu berharap Hamun akan segera menghubunginya.

“Donghae, waeyo?” tanya Siwon yang sedari tadi mengamati Donghae. “Kau tampak tidak bersemangat. Ada masalah dengan Hamun?” tanya sahabatnya itu.

Donghae tersenyum pada pria itu lalu mengangguk. “Ada apa?” tanya Siwon. Donghae menatap Siwon dengan segan. Ia tahu Siwon pernah sangat menyayangi Hamun sama seperti dirinya, hal itu membuatnya tidak enak menceritakan masalahnya pada Siwon.

“Tidak apa, jangan merasa sungkan pada sahabatmu sendiri. Sekarang aku sudah menganggap Hamun seperti adikku sendiri,” ujar Siwon diiringi senyumannya. Donghae akhirnya menceritakan semuanya pada Siwon, tidak ada yang terlewatkan.

Siwon tersenyum setelah Donghae selesai bercerita. “Dasar pasangan aneh,” kata Siwon sambil tertawa.

“Waeyo?” tanya Donghae tak mengerti.

“Apa kau tahu, selama aku bersama dengan Hamun dulu kami tidak pernah bertengkar?” tanya Siwon yang membuat Donghae menjadi sedikit kesal.

“Kau mau pamer, hm?” tanyanya.

Siwon menggeleng. “Bukan itu pointnya,” jawabnya. “Kami tidak pernah bertengkar karena Hamun selalu mengalah. Ia tak mau terlalu menunjukkan emosinya. Ia tidak mau membuatku repot sehingga Hamun selalu berusaha menjadi orang yang lebih dewasa saat bersamaku,” jelasnya. “Jadi, jika ia bisa marah padamu, itu artinya ia bisa menjadi dirinya apa adanya saat bersamamu. Hamun pasti benar-benar mencintaimu sehingga ia bisa seperti itu,” lanjutnya. Donghae terdiam menerima semua kata-kata Siwon. Ia tak pernah tahu hal itu sebelumnya.

Siwon bangkit dari duduknya. Ia menepuk pundak Donghae. “Aku duluan, sehabis Kangin aku harus naik ke panggung,” ujarnya.

“Gomawo,” ujar Donghae sebelum Siwon benar-benar keluar dari ruang make-up itu.

Siwon tersenyum pada sahabatnya lalu berkata, “Kau juga jangan menyangsikan perasaan Hamun. Ia memilihmu dengan hatinya karena ia benar-benar menyayangimu. Jangan buat Hamun menyesal akan pilihannya,”

*****

Donghae langsung pergi ke dorm SG begitu ia mendarat di Korea. Ia tak peduli meskipun sekarang sudah jam 11 malam. Sayangnya, begitu ia tiba disana, Hyejin bilang kalau Hamun belum pulang dari kampus sedari tadi. Donghae menjadi khawatir setelah mendengar hal itu. Ia segera membawa mobilnya menuju kampus Hamun. Berulang kali Donghae menelpon Hamun, gadis itu tidak memberikan jawaban. Dengan penyamarannya, Donghae langsung turun dari mobil dan berjalan menuju Fakultas Hamun. Ia bertanya pada beberapa mahasiswa disana dan kata mereka, Hamun sudah pulang sejak tadi.

Donghae sangat panik sekarang. Ia langsung berkeliling mencari Hamun ke tempat-tempat yang disukai gadis itu. Donghae juga menghubungi teman-teman terdekat Hamun namun hasilnya nihil. Semua member SG pun bilang kalau Hamun tidak menghubungi mereka. Donghae menghela nafas panjang. Ia memutuskan untuk kembali ke apartemennya terlebih dulu untuk mengganti baju. Setelah itu, ia akan kembali mencari Hamun.

Dari kejauhan, Donghae bisa melihat ada seseorang yang duduk di depan pintu apartemennya. Donghae tak bisa melihat wajahnya karena ia menggunakan jaket kulit tebal, kaca mata hitam, dan topi. Saat jaraknya semakin dekat, Donghae bisa menerka siapa orang itu. Bagaimana mungkin ia tidak mengenali gadis yang sangat ia cintai? Donghae langsung berlari menuju Hamun.

“Kang Hamun,” panggil Donghae pada gadis itu.

Hamun langsung berdiri di tempatnya tadi dan tersenyum pada Donghae. “Hai, oppa. Kenapa kau lama sekali?” tanya Hamun penasaran. Donghae tidak menjawab. Ia masih mengatur perasaannya yang dikacaukan oleh gadis itu. Setelah Hamun berhasil membuatnya takut setengah mati, gadis itu muncul disini sambil memberikan senyum terindahnya pada Donghae. Rasa rindu akibat dua minggu tidak bertemu atau mendengar suaranya seakan membuncah. Donghae hanya terpaku menatap Hamun.

“Oppa manager bilang kalau kau akan sampai disini sekitar jam 9 malam, jadi aku menunggumu di-”

Kalimat Hamun terputus karena Donghae langsung menarik Hamun ke dalam pelukannya. Donghae tak sanggup menggambarkan perasaannya lewat kata-kata.

“Oppa, mianhe,” kata gadis itu tepat ditelinga Donghae. “Oppa, nomu bogoshipo,” ucapnya lagi. Donghae tak menjawab, ia ingin menikmati suara Hamun yang terdengar sangat indah. Melebihi suara Kyuhyun, Ryeowook, atau Yesung. Hamun membalas pelukan Donghae. “Oppa, nomu saranghae,” ujar Hamun yang membuat Donghae makin mengeratkan pelukannya.

*****

“Oppa, kenapa kau mengganti password apartementmu? Aku jadi tidak bisa masuk,” ujar Hamun begitu Donghae melepaskan pelukannya. “Padahal aku sudah berencana untuk masak di apartemenmu dan memberikan surprise padamu. Aku juga tidak bisa bertanya pada Oppa manager karena baterai smartphoneku habis,” jelas Hamun.

Donghae hanya tersenyum pada Hamun lalu menggandeng gadis itu. “Harusnya kau bisa menebak apa passwordku,” ujar Donghae.

“Berapa memangnya?” tanya Hamun penasaran.

“2007. Ulang tahunmu,” ujar Donghae sambil menekan passwordnya. Hamun tersenyum senang begitu melihat pintu apartemen Donghae terbuka.

Ia langsung masuk ke dalam diikuti dengan Donghae. Hamun melepas semua atribut penyamarannya, langsung masuk ke dapur dan mengeluarkan semua bahan masakan yang tadi sudah ia bawa. “Oppa, kau tunggu saja di ruang tamu. Aku akan memasakan sesuatu untukmu,” kata Hamun.

Donghae tidak melakukan apa yang Hamun suruh. Ia justru berjalan menuju dapur menghampiri Hamun. Donghae melepaskan pisau yang sedang Hamun pakai untuk memotong sayuran dari tangannya. Ia menggenggam lembut tangan Hamun dan membawa gadis itu ke ruang tamunya.

“Sebagai bukti permintaan maafmu, malam ini kau harus mendengarkan semua perkataanku. Duduklah,” kata Donghae. Mau tak mau, Hamun langsung duduk di sova ruang tamu. Donghae ikut duduk di sebelah Hamun. Donghae mengelus kepala Hamun dan membelai wajah gadis itu dengan lembut. Donghae menatap Hamun dengan lekat dan intens.

Hamun menjadi salah tingkah karena sudah lama ia tidak merasakan kehangatan Donghae. Ia juga jadi canggung karena Donghae masih menatapnya dengan lekat sampai sekarang. “O-o-oppa,” panggil Hamun.

“Hamun, diamlah,” ujarnya lembut. Kini Donghae sudah memeluk Hamun. “Seperti ini, sebentar saja,” pintanya. Hamun terdiam dan membiarkan pria itu memeluknya. Makin lama, makin erat. Tak berapa lama setelah itu, Hamun mendengar suara isakan Donghae.

“Oppa, waeyo?” tanya Hamun panik. Donghae makin memeluk Hamun dengan erat. Ia tak mau Hamun melihatnya yang sedang rapuh.

“Aku sangat panik tadi karena kau tidak ada di dorm atau di kampus. Aku terus menelponmu tapi kau tidak menjawab. Aku sangat ketakutan saat membayangkan kalau aku tidak bisa bertemu denganmu lagi. Aku sangat takut, Hamun,” ucapnya lirih dengan tangisan yang menderas.

Hamun membalas pelukan Donghae lalu menepuk-nepuk pelan punggungnya. “Mianhe, oppa, aku membuatmu khawatir. Tenang saja ya, aku tak akan meninggalkanmu,” ujar Hamun menenangkan Donghae.

Donghae melepaskan pelukannya dan kembali menatap Hamun. Hamun mengusap bekas air mata yang masih ada di pipi Donghae. “Mianhe, oppa. Aku terlalu sering membuatmu khawatir. Mianhe,” kata Hamun tulus.

“Malam ini kau tidak boleh pulang. Aku masih merindukanmu,” kata Donghae yang disetujui oleh Hamun.

“Oia, aku kesini karena ingin menunjukan ini pada oppa,” ujar Hamun sambil memberikan selembar kertas pada Donghae.

“Apa ini?”

“Nilai ujianku. Tidak ada yang merah. Itu tandanya, sebulan kedepan selama aku libur, aku tidak perlu ikut ujian perbaikan. Aku bisa bersama oppa sepuasnya. Setelah jadwalku dan oppa selesai maksudnya,” kata Hamun. “Sebagai tanda permintaan maafku, aku berusaha mati-matian agar tidak ikut ujian perbaikan. Makanya aku menahan diri untuk tidak menemui oppa sampai ujianku selesai semua dan memberikanmu surprise. Sayangnya, semua itu tidak berjalan sesuai rencana,” ujar Hamun yang tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.

Donghae mengecup bibir Hamun dengan lembut. “Apa kau masih sedih, sayang?” tanya Donghae. “Biasanya, kalau kekasihku menciumku semua perasaan negatifku langsung hilang,” jelasnya sambil tersenyum penuh arti pada Hamun.

Hamun tertawa saat ia paham apa maksud Donghae. Ia memegang wajah pria itu dan mengecup bibirnya lembut. “Apa oppa sudah tidak takut lagi?” tanya Hamun yang Donghae jawab dengan anggukan.

Hamun kembali mengecup bibir Donghae. “Apa oppa sudah tidak sedih lagi?” tanya Hamun yang Donghae jawab dengan anggukan.

Hamun (lagi-lagi) mengecup bibir Donghae. “Apa oppa sudah tidak kesal lagi?” tanyanya yang lagi-lagi Donghae jawab dengan anggukan.

Hamun tersenyum pada pria itu. “Tugasku sebagai kekasihmu sudah selesai berarti,” ujar Hamun.

Donghae menggelengkan lehernya. “Belum,” katanya.

“Apa lagi?” tanya Hamun bingung.

“Masih ada perasaan rindu disini,” ujar Donghae sambil menunjuk dadanya. “Perasaan satu ini tidak bisa hilang begitu saja hanya dengan sebuah ciuman,” ujar Donghae.

“Aku sudah menciummu tiga kali, opp-” kalimat Hamun terputus karena Donghae langsung menyambar bibir gadis itu dan menciumnya lembut.

Hamun memukul-mukul tubuh Donghae agar pria itu mengakhiri ciumannya yang sudah sangat lama. “Op-o-oppa, sesak,” kata Hamun sambil berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya.

“Sudah tidak sesak, Hamun?” tanya Donghae. Hamun mengangguk.

“Mianhe, tapi aku masih merindukanmu,” ujar Donghae yang kembali mencium bibir Hamun.

*****

Kkeut!