Hope you enjoy…

Di tengah riuhnya suara para wanita yang sedang bercengkrama sambil tertawa nyaring seolah hanya mereka pengunjung restoran tempat mereka sedang berkumpul untuk membicarakan sebuah proyek besar sambil minum teh dan beberapa makanan ringan sebagai pelengkap, Hyejin mendapat panggilan dari orang yang paling penting.

No.1 Namja

“Kyuhyun-ah… Do you already miss me?” Sambut Hyejin dengan ceria sesuai dengan ciri khasnya yang memang selalu senang jika mendapat telepon dari suami tercintanya.

Namun tampaknya Kyuhyun tidak sedang dalam mood yang sama senangnya dengan yang dirasakan Hyejin. “Kau dimana? Sedang apa?” Tanya Kyuhyun dengan dingin.

“Aku sedang minum teh di Royale Eagle bersama teman-teman dan Eleanor. Kami mau membicarakan proyek charity di musim panas. Waeyo, jagiya?” Jawab Hyejin dengan serius namun berusaha tidak terbawa dengan mood Kyuhyun karena ia tahu jika Kyuhyun sedang dalam mood yang buruk, satu-satunya yang bisa mengubah mood Kyuhyun menjadi lebih baik hanyalah dirinya.

“Bisa temui aku sekarang?”

“Sekarang? Aku baru saja sampai, sayang.”

“Iya. Sekarang.” Kyuhyun berkata singkat lalu mematikan sambungan teleponnya tanpa memberikan Hyejin pilihan. Hyejin harus segera menemui Kyuhyun sekarang juga sesuai dengan keinginan pria itu sebelum mood buruk pria itu menjadi jauh lebih susah untuk dihilangkan.

Hyejin membereskan tas lalu memakai coat tebal yang melindunginya dari kencangnya angin musim dingin. “Ladies, maafkan aku tidak bisa ikut meeting kali ini. Aku harus segera pergi sekarang,” kata Hyejin kepada teman-temannya sambil mengecup pipi mereka satu per satu.

“Sekarang? Eonni bahkan baru sampai,” keluh Hamun saat gilirannya mendapat kecupan dari Hyejin.

“Aku tiba-tiba ada urusan penting yang tidak bisa diganggu gugat. Kalian mengerti maksudku kan?” Ujar Hyejin sambil mengedipkan matanya penuh makna. “Kabari aku waktu untuk next meeting ya. See you.”

“Memangnya kau mau kemana sih?” Tanya Hyemi yang melihat sepupu iparnya begitu buru-buru meninggalkan Royale Eagle.

“Sepupumu sedang bawel. Aku minta tolong padamu untuk hari ini ya. Terima kasih banyak, Hyemi-ku yang cantik. Sampai jumpa,” kata Hyejin sambil melambaikan tangannya dan membuka pintu restoran dimana supirnya sudah menunggu, siap mengantarkannya ke tempat Kyuhyun.

Kau dimana? Kantor?

Hyejin mengirimkan line ke kontak Kyuhyun yang segera dibalas oleh Kyuhyun.

Aku di hotel milik Youngwoon hyung. Kau dimana?

Aku sedang di jalan. Kau menyewa kamar di sana? Untuk apa?

Cerewet!! Aku di kamar 9188. Begitu sampai langsung naik saja. Ppali!!!

“Cih.” Hyejin hanya menggumam pelan, melayangkan protes kepada smartphone-nya sebagai pelampiasan kekesalan pada Kyuhyun. Kalau suaminya tahu ia baru saja mengeluh, ia pasti akan menjadi lebih susah.

Iya. Sebentar lagi aku sampai.

Nanti suruh supirmu langsung pulang ke rumah. Kau pulang bersamaku.

“Yah memangnya aku akan memilih untuk pulang bersama supir dibanding suamiku sendiri? Aneh!” Gerutu Hyejin berbanding terbalik dengan apa yang ia tulis pada line-nya.

Iya, sayang. Aku sudah sampai. Tunggu ya.

Hyejin keluar dari mobilnya, menyuruh supirnya pulang seperti yang sudah diperintahkan Kyuhyun padanya lalu segera masuk ke dalam hotel dimana para pelayannya sudah mengenal baik Hyejin, terlebih Kyuhyun.

“Selamat sore, Nyonya Cho. Apa kabar? Lama tidak bertemu,” sapa greeter yang selalu siap sedia di depan pintu untuk menyambut dan membukakan pintu bagi para tamu.

“Hai, Jay. Lama sekali tidak bertemu. Istrimu sudah melahirkan? Anakmu laki-laki atau perempuan? Sehat kan?” Sahut Hyejin dengan akrab.

“Baru bulan lalu melahirkan, Nyonya. Puji Tuhan sehat. Aku punya sepasang sekarang. Laki-laki yang pertama, kemarin aku mendapat bayi perempuan yang cantik,” jawab Jay.

“Syukurlah kalau begitu. Selamat ya!” Ucap Hyejin sambil menyelipkan sebuah cek senilai 500.000 won ke kantong seragam Jay. “Sebagai hadiah atas kelahiran anakmu. Maaf tidak bisa lama-lama mengobrol denganmu. Aku harus segera menemui Kyuhyun. See you, Jay.”

“Silahkan, nyonya,” kata Jay mempersilahkan Hyejin masuk ke dalam lift yang akan membawa wanita itu bertemu dengan suaminya.

Hyejin mengetuk pintu kamar Kyuhyun yang terbuka hanya sedetik setelah ketukan pertama yang ia buat di benda persegi panjang berbahan dasar kayu itu. Mata Hyejin membelalak lebar saking terkejutnya melihat penampilan Kyuhyun yang berantakan.

“Kyu, kau kenapa? What is happening?” Tanya Hyejin refleks menyisir rambut Kyuhyun yang mencuat tak beraturan dengan jari-jarinya.

Kyuhyun menarik Hyejin masuk ke dalam kamar lalu memeluk Hyejin singkat, tentu saja setelah mengunci pintu kamar hotelnya. “Aku hanya butuh hiburan,” jawab Kyuhyun datar dan tatapan matanya yang lesu.

Hanya dari nada suaranya dan bahasa tubuhnya yang tidak bersemangat, Hyejin tahu bahwa Kyuhyun sedang stress. Perlahan, Hyejin menggandeng Kyuhyun ke sofa dan mendudukkan pria itu di sana.

“Apa yang terjadi? Ceritakan padaku.”

Hyejin mengambil tempat duduk di sebelah Kyuhyun dan membiarkan pria itu memasrahkan tubuhnya pada Hyejin. Kyuhyun duduk dengan kepala yang terkulai lemas di bahu Hyejin dan kaki yang diselonjorkan ke bawah meja.

“Aku gagal mendapatkan kontrak di Amerika,” kata Kyuhyun pelan dan Hyejin tahu itu merupakan pukulan keras buat Kyuhyun.

Kyuhyun sudah merancang segala sesuatunya dengan sempurna, mulai dari rencana sampai proyeksi jika kerjasamanya dengan pihak-pihak di Amerika berhasil tercapai. Kyuhyun memusatkan seluruh perhatiannya selama 18 bulan terakhir untuk proyek ini, wajar jika ia kecewa ketika tidak berhasil mendapatkannya.

Hyejin membelai kening Kyuhyun dengan lembut, berusaha menghibur, memberi ketenangan untuk pria yang ia cintai melebihi dirinya sendiri. “Kita bisa mencobanya lagi tahun depan, sayang. Kau sudah melakukan yang terbaik. Mungkin belum saatnya kita menembus pasar Amerika,” hibur Hyejin.

“Andai appadeul juga berpikiran sama denganmu,” sahut Kyuhyun dengan lemah seolah ada sesuatu seperti dementor Harry Potter yang menghisap seluruh energinya.

“Kenapa dengan appadeul? Apa mereka tidak bisa menerima kegagalan kita kali ini?”

Kyuhyun mengangguk. “Aku baru saja sampai di bandara dengan berbagai pikiran yang berkecamuk dalam otakku, Appa sudah meneleponku. Ia menyuruhku langsung ke kantor. Kau tahu apa yang aku dapat begitu sampai di kantor? Omelan dari appadeul, Appa-ku dan Appa-mu,” curah Kyuhyun yang masih tidak menunjukkan tanda-tanda kembalinya energi ke dalam tubuhnya. “Mereka memarahiku habis-habisan, menyalahkanku, mengatakan aku bodoh dan hal-hal lain yang sesungguhnya menyakiti hatiku. Kalau mereka yang melakukan, belum tentu juga mereka berhasil. Aku ingin balas memarahi mereka seperti itu tapi tidak mungkin. Bagaimanapun mereka adalah orang tua kita. Ya kan?”

Hyejin tersenyum lembut, penuh kehangatan, membuat Kyuhyun merasa nyaman hanya dengan duduk bersamanya, berbagi tekanan yang sedang ia hadapi. “Jangan dimasukkan ke dalam hati. Kau hanya gagal 1 kali dari 100 kali usaha yang kau lakukan. Mereka hanya emosi. Nanti juga baik kembali. Kau, satu-satunya yang bisa mereka andalkan untuk mengurus bisnis yang sudah puluhan tahun mereka rintis. Meskipun banyak profesional lain di luar sana yang sama hebat atau mungkin lebih hebat, mian, appadeul tidak mungkin menyerahkan bisnis turun temurun ini kepada orang lain. Kau kenal sifat mereka kan? Tidak bisa percaya pada orang lain. Jadi, kau tenang saja.”

“Tapi tetap saja mereka sudah meruntuhkan seluruh niatku untuk bekerja hari ini. Kau tahu? Aku membatalkan seluruh rapat internal hari ini,” lapor Kyuhyun membuat Hyejin tertawa. Hyejin tahu bahwa apa yang dilakukan Kyuhyun sebenarnya tidak lucu, Kyuhyun seharusnya tidak boleh membawa urusan pribadinya dengan appadeul ke dalam perusahaan, tapi melihat wajah cemberut Kyuhyun yang sama persis seperti wajah cemberut Kihyun jika sedang kesal memaksa Hyejin tertawa.

“Dasar. Lalu apa yang bisa aku lakukan untukmu agar kau tidak stress lagi? Humm? Kau tidak berniat mengendap di kamar ini kan?” Tanya Hyejin yang berniat mengajak Kyuhyun untuk bersama-sama melepaskan stress. Dengan penuh cinta, Hyejin mencium puncak kepala Kyuhyun.

“Asal kau bersamaku, sudah cukup,” kata Kyuhyun.

Hyejin menggelengkan kepalanya, menolak ide Kyuhyun yang terlalu biasa. “Aku punya ide. Bagaimana kalau kita berkencan?”

“Berkencan?”

“Iya, berkencan. Duduk di pinggir sungai Han atau minum-minum di klab sampai mabuk atau makan makanan cepat saji seven eleven? Kau yang pilih. Sudah lama kita tidak melakukannya kan?”

Senyum Kyuhyun agak terkembang di wajahnya meskipun badannya masih bersender penuh pada Hyejin. “Minum-minum di klab sampai mabuk. Aku mau minum sampai puas,” sahut Kyuhyun yang tanpa pikir panjang disetujui oleh Hyejin.

“Call. Kajja!”

Hyejin menarik Kyuhyun agar bangkit berdiri, merapikan kemeja pria itu yang sudah keluar dari kekangan ikat pinggang celananya, menoleransi bagian-bagian kusut yang ada karena tidak akan ada yang akan repot-repot melihat baju yang kusut di tengah-tengah ruangan remang yang penuh asap rokok dan dentuman musik.

Kedua insan itu lalu beranjak pergi, memindahkan diri dari hotel yang sibuk dengan orang hilir mudik untuk urusan bisnis menuju klab yang sibuk dengan orang-orang yang sedang mengekspresikan sisi liarnya meskipun terbatas.

Kyuhyun mengambil tempat duduk di dekat bar dengan maksud agar ia lebih mudah memesan minuman-minuman yang namanya sudah berlari-lari di dalam otaknya. “Kau tidak boleh memesan sekaligus. Setelah satu botol habis baru kau boleh memesan lagi,” ujar Hyejin memperingatkan.

“Aku tahu.”

Kyuhyun memilih wine kesukaannya sebagai minuman pertama. Wine seharga 1.000.000 won itu dituangkannya ke dalam dua gelas, untuk Hyejin dan dirinya sendiri.

“Cheers,” ujar Kyuhyun yang menumbukkan gelas anggurnya dengan pelan kepada gelas anggur Hyejin dengan pelan membuat dentingan yang tak terdengar saking kerasnya musik yang dimainkan di dalam klab.

“Cheers!” Sahut Hyejin dengan suara kerasnya berusaha mengalahkan dentuman musik, paling tidak agar Kyuhyun bisa mendengarnya.

Saking penuhnya klab, mengingat malam ini malam minggu dimana hampir seluruh pasangan keluar untuk berkencan, Kyuhyun dan Hyejin hanya bisa mendapatkan satu tempat duduk. Tentu saja Hyejin yang mendapatkan tempat duduk itu sedangkan Kyuhyun berdiri melekat pada istrinya, memeluk pinggang Hyejin dengan protektif.

“Menurutmu, apa appadeul masih akan memarahiku besok?” Tanya Kyuhyun setelah ia meneguk habis isi gelas anggur ketiganya.

“Besok itu hari Minggu, sayang.”

“Justru itu. Setiap hari minggu kita kan makan siang bersama. Kalau mereka masih memarahiku, rasanya aku mau pura-pura sakit saja,” kata Kyuhyun membuat Hyejin tertawa lebar mendengarnya.

“Aku punya ide, bagaimana kalau kita tidak pulang malam ini dan besok kita pura-pura sakit bersama sehingga tidak perlu bertemu mereka?” Ide Hyejin.

“Kau mau bilang apa pada mereka karena kita tidak pulang?” Tanya Kyuhyun.

“Astaga, Cho Kyuhyun-ku tersayang. Kita berdua ini bukan anak kecil lagi. Kau bahkan sudah 3 kali berhasil menghamiliku, yang tidak berhasil malah tidak terhitung. Apa mereka bisa melarang kalau aku bilang kita butuh waktu berduaan demi nama kesuksesan anak ke-4?”

“Bukannya kau tidak mau punya anak lebih dari 3?”

Hyejin hanya memandang Kyuhyun dengan putus asa, tidak berniat untuk menjelaskan rencananya lebih lanjut. “Sudah, tidak usah kau pikirkan. Itu urusanku. Kau nikmati saja wine-mu. Aku mau menelepon Minjung ahjumma sebentar,” ujar Hyejin lalu turun dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan untuk mendapatkan suasana yang lebih tenang untuk menelepon Minjung ahjumma, memberitahukan bahwa ia dan Kyuhyun tidak pulang malam ini sekaligus menitipkan Kihyun, Jihyun dan Jinhyuk yang mungkin sudah tidur saat ini.

Hyejin kembali ke dalam klab, menuju tempat duduknya semula dimana ia melihat ada seorang wanita yang sedang menggoda Kyuhyun. “Apa yang kau inginkan dari suamiku, nona?” Tegur Hyejin dengan galak membuat wanita itu segera angkat kaki sambil menggerutu kesal.

“Wanita itu seksi juga,” kata Hyejin melihat dari belakang bokong montok wanita penggoda itu berlenggak-lenggok yang bisa membuat pria kehabisan nafas kalau terkena.

Kyuhyun tertawa kecil lalu meremas pelan bokong Hyejin. “Menurutku kau lebih seksi,” goda Kyuhyun diiringi evil smirk andalannya.

Hyejin kembali duduk di kursinya, melingkarkan tangannya di leher Kyuhyun dan menjepit kaki pria itu di antara kedua kakinya. “Kalau itu, aku tahu,” bisik Hyejin dengan nada menggoda yang memacu hasrat Kyuhyun untuk mencium bibir Hyejin.

“Terima kasih sudah menggodaku tapi tampaknya kau masih kalah dari wine ini. Mereka benar-benar nikmat,” kata Kyuhyun setelah puas mencium Hyejin sambil menunjukkan botol wine keduanya.

Terselip rasa lega sekaligus senang pada Hyejin melihat Kyuhyun yang sudah kembali normal. Ekspresinya yang tidak selesu tadi sore dan juga tenaganya yang sudah kembali seperti semula, walau baru digunakannya untuk berdiri dan mencium Hyejin.

“Kau tidak minum?” Tanya Kyuhyun.

“Kalau aku minum dan aku mabuk. Siapa yang akan menggotong kita kembali ke kamar? Aku tidak mau tidur di tempat ini, sayang.”

“Aku tidak akan mabuk,” kata Kyuhyun penuh percaya diri yang tentu saja diketahui Hyejin hanya akan menjadi wacana belaka. Tingkat toleransi Kyuhyun terhadap minuman keras memang terkenal tinggi tapi kesukaannya terhadap minuman yang memabukkan itu juga yang paling tinggi. Kyuhyun akan minum sampai ia merasa tidak kuat lagi yang tentu akan menghabiskan beberapa botol wine untuk mencapai batasnya.

Hyejin tertawa. “Kita lihat saja nanti,” sahut Hyejin dengan tangannya tetap melingkar di leher Kyuhyun, memeluk erat pria-nya. Dibiarkannya Kyuhyun minum sampai puas untuk membantunya mendatangkan lebih banyak mood baik.

“Aku tadi menelepon Minjung ahjumma, aku bilang kita tidak pulang. Aku juga tanya kabar anak-anak, mereka semua sehat. Tadinya aku mau bicara dengan 3 bocah replikamu itu tapi kata Minjung ahjumma mereka sudah tidur. Besok pagi aku akan menelepon mereka,” lapor Hyejin.

“Okay,” sahut Kyuhyun singkat karena ia sudah terbawa oleh alunan musik yang membuat tubuhnya bergoyang sambil menikmati kehangatan wine yang mengalir di seluruh tubuhnya.

Semakin larut, keadaan klab semakin ramai dan juga semakin panas. Orang-orang, mulai dari yang sadar sampai yang sudah mabuk berat, bergoyang, menghentakkan dirinya sesuai irama musik yang dimainkan DJ. Tidak terkecuali pasangan sosialita bermarga Cho tersebut.

Hyejin bergoyang menikmati dentuman musik dengan Kyuhyun yang berdiri di belakangnya, memeluknya. “Kau sudah mabuk,” ujar Hyejin merasakan bau tajam alkohol yang menguar dari mulut Kyuhyun. Hyejin juga merasakan pelukan Kyuhyun yang tidak lagi erat menandakan pria itu sudah kehilangan sebagian kesadarannya.

“Kau tidak boleh minum lagi. Ayo kembali ke kamar,” kata Hyejin diikuti dengan mengambil gelas dalam tangan Kyuhyun dan meletakkannya di meja bar.

“Aku … masih mau … minum, sayang. Aku mau … minum sampai … puas,” kata Kyuhyun patah-patah karena ia begitu mabuk sampai tidak bisa mengucapkan kalimatnya dengan baik.

“Tidak. Boleh,” kata Hyejin dengan tegas.

Hyejin menyingkirkan seluruh botol minuman keras yang dipesan Kyuhyun dan menyuruh bartender untuk mengirimkan tagihannya ke kamar yang mereka sewa. Hyejin lalu membawa Kyuhyun, yang sudah mengoceh kesana kemari tanpa arah, kembali ke kamar mereka dengan susah payah karena tubuhnya yang lebih kecil dari tubuh Kyuhyun.

“Kenapa pria ini lebih berat kalau sedang mabuk?” Keluh Hyejin sambil melempar Kyuhyun ke tempat tidur, lebih tepatnya membanting karena hal itu lebih mudah dilakukan oleh tubuhnya yang sudah kelelahan menopang beban 80 kg sejauh 11 lantai, dari basement 2 sampai lantai 9.

Hyejin lalu melepaskan sepatu Kyuhyun agar tidak mengotori tempat tidur mereka malam ini dan membiarkan Kyuhyun terus mengoceh sampai pria itu kelelahan dan tertidur tanpa ia sadari. Hyejin sendiri menyusul beberapa menit kemudian setelah mencuci mukanya untuk menghilangkan make-up dan asap rokok yang menempel di wajahnya.

—-

“Selamat pagi,” sapa Hyejin dengan mesra selepasnya dari kamar mandi. Hanya dengan bathrobe putih yang melindungi tubuh mulusnya, Hyejin berjalan mendekati Kyuhyun yang baru saja bangun. “Tidurmu nyenyak?”

“Kepalaku sakit,” kata Kyuhyun yang sudah duduk di atas tempat tidur sambil memijit kepalanya yang memang sakit akibat terlalu banyak minum semalam.

“Kau hanya terlalu banyak minum. Nanti juga sembuh sendiri,” sahut Hyejin. “Sini.”

Hyejin meletakkan lengan kanannya di bahu Kyuhyun sedangkan lengan kirinya memijit kepala Kyuhyun. “Bilang padaku kalau pijitanku terlalu keras,” pesan Hyejin.

Kyuhyun hanya menganggukkan kepalanya, menikmati pijitan Hyejin di kepalanya dengan mata terpejam. Matanya baru terbuka ketika ia merasakan kepalanya tidak sesakit waktu ia bangun setengah jam yang lalu dan matanya semakin terbuka lebar ketika menyadari pemandangan indah namun menyakitkan di depan matanya.

Kulit putih mulus yang tidak tertutup dengan sempurna oleh handuk baju yang akan lepas hanya dengan sekali tarikan. “Kau mau menggodaku, humm?”

“Tidak juga,” jawab Hyejin dengan santai. “Aku tidak punya baju ganti jadi aku pakai saja bathrobe ini. Kalau kau mau, kau boleh menikmatinya. Aku hanya mempermudah jalanmu. Anggap saja hadiah awal ulang tahunmu.”

Kyuhyun tertawa ringan. Ia tahu Hyejin tidak sedang menggodanya karena wanita itu memang tidak pernah susah payah memakai pakaian seksi atau bergaya seksi untuk menggodanya. Itu salah satu keahlian Hyejin.

“Jadi, kau sudah menyiapkan apa saja untuk ulang tahunku besok? Acara? Hadiah? Apa?” Tanya Kyuhyun.

“Tidak ada. Aku saja baru ingat waktu menelepon Jihyun tadi,” jawab Hyejin cuek.

“JINJJA?!”

Kyuhyun sampai mendorong Hyejin sejauh lengannya sehingga ia bisa melihat Hyejin dan menunjukkan ekspresi kagetnya. “YAAK SONG HYEJIN! Kau benar-benar belum menyiapkan apa-apa untuk ulang tahunku besok?”

Hyejin hanya menggelengkan kepala.

“Jinjja?”

“Jinjja.”

Kyuhyun menghela nafas panjang, menatap Hyejin dengan kecewa sekaligus pasrah. Tapi pria ini tidak pernah kehilangan akal. “Kalau begitu aku akan mempermudahmu. Aku mau besok kau bersamaku terus, sehari penuh, sebagai hadiah ulang tahunku. Okay?”

Hyejin mengernyitkan dahinya, memikirkan jadwalnya besok yang tentu saja sudah dikosongkannya sejak 1000 tahun lalu. “Kita lihat besok,” jawab Hyejin membuat Kyuhyun kesal.

“Kau jahat,” rajuk Kyuhyun lalu kembali membaringkan tubuhnya, membelakangi Hyejin.

Hyejin tertawa geli tanpa sepengetahuan Kyuhyun. Besok adalah hari ulang tahun pria yang paling dicintainya, hari dimana tidak perlu ada yang mengingatkannya bahwa ia harus menjadikan setiap tanggal 3 februari adalah hari yang menyenangkan untuk Cho Kyuhyun. Hanya saja, ada kesenangan tersendiri membuat si pemilik hari tersebut sedikit menderita sebelum mendapatkan hadiahnya.

Kkeut!

xoxo @gyumontic