Annyeooooong…
Maaf yaa kalau FF ini telat..
Tapi semoga enjoy…

*****

Tidak perlu ada yang memberitahuku, begitu aku menginjakkan kaki kembali di Incheon, tujuan utamaku adalah dorm Super Girls, tempat Hyejin berada. Kami sudah hampir 2 minggu tidak bertemu, melewatkan hari ulang tahun dan malam-malam minggu yang seharusnya kami habiskan berdua. Tentu saja sekarang dia adalah orang pertama yang ingin aku temui.

Aku tidak memberitahukan Hyejin bahwa aku pulang lebih cepat dari yang aku beritahukan padanya. Aku bilang bahwa aku akan menemuinya nanti malam, setelah jadwal-jadwalku selesai. Setelah aku meninggalkannya hampir 2 minggu dan melewatkan hari ulang tahunnya, bahkan aku terlambat mengucapkan selamat ulang tahun,  rasanya ia pantas mendapatkan sedikit kejutan.

“Surprise!!!” Seruku dengan riang begitu masuk ke dalam dorm Super Girls. Tidak ada sahutan. Aku melihat dorm begitu sepi, hanya Hyejin dan instruktur yoganya yang sedang ber-acroyoga entah gaya apa.

“Hai,” sapaku pada Hyejin.

Ia sedikit menoleh kepadaku. “Kau sudah pulang? Katamu nanti malam baru sampai,” sahutnya dengan tenang lalu kembali memejamkan matanya dengan posisi yoga : tubuhnya  yang melayang di udara dengan kaki instrukturnya yang menopang dari bawah. Singkat kata, kejutanku gagal.

“Aku tadinya mau memberikanmu kejutan,” kataku dengan muram sambil membaringkan tubuhku di sofa dengan kesal.

“Oh. Tapi aku tidak terkejut,” sahut Hyejin membuatku tambah kesal. Seharusnya dia tidak usah memperjelasnya. Melihatnya yang santai-santai saja, aku tahu dia tidak terkejut melihatku.

“Apa kau masih lama?” Tanyaku melihat ia dan instruktur yoganya yang sudah berganti-ganti gaya tanpa ada tanda-tanda menyelesaikan kegiatan mereka demi nama langsing.

“Tunggu saja. Sejam lagi juga selesai,” kata Hyejin.

Sial. Aku mencoba untuk membunuh waktu dengan bermain game pada smartphone-ku namun baru saja game itu masuk pada menu pembuka, Hyejin menyuruhku mematikannya. “Suaranya mengganggu. Kalau mau main, matikan suaranya. Kami butuh ketenangan.”

“Atau tunggu saja di kamarku. Sana!” Lanjutnya kemudian, mungkin tidak tega membiarkanku mati kebosanan.

Kalau bukan karena telah begitu banyak kebaikan yang gadis ini berikan padaku, aku pasti tidak akan menurut begitu saja padanya. Selain itu, aku juga terlalu mencintai gadis ini.

Aku berpindah ke kamar Hyejin, menunggu gadis itu selesai dengan kegiatan ajaibnya.

—-

Hyejin benar-benar menyelesaikan yoga-nya sejam kemudian tapi aku harus menambahkan waktu setengah jam untuk menunggunya selesai mandi.

“Sudah begitu merindukanku?” Sapanya setelah ia selesai mandi dan mengambil tempat duduk tepat di sebelahku, yang sedang menjajah tempat tidurnya.

Ia melemparkan senyum menggoda yang paling aku sukai seumur hidupku. Senyuman yang membuatku tersiksa karena sudah lama tidak melihatnya.

Aku menyimpan smartphone-ku ke dalam saku dan sepenuhnya menujukan fokusku pada wanita satu ini. “Aku sangat merindukanmu,” ucapku lalu menyapukan ciuman di bibirnya yang polos.

Ia membelai rambutku lalu mencubit pipiku dengan gemas. “Kau makin gendut. Bagaimana India? Shanghai? Menyenangkan?” Tanyanya.

“Lebih menyenangkan kalau kau ikut bersamaku,” jawabku meski aku tahu itu tidak mungkin. Kalau sampai ada yang melihat Hyejin berada dimanapun aku berada, bisa gempar dunia ini.

Hyejin tertawa renyah, membuat hatiku nyaman hanya karena mendengarnya. “Kau tahu manajemen tidak pernah akan menyetujui program yang ada kita berdua. Mana oleh-oleh untukku?” Ia menjulurkan tangannya kepadaku.

Jangankan oleh-oleh, tasku saja aku tinggalkan pada manajerku. Aku sudah tidak ingat untuk membawa-bawa kecuali membawa badanku sendiri. Aku menggelengkan kepalaku sambil menyeringai menutupi rasa bersalahku.

Hyejin menggelengkan kepalanya. Terkadang, kami tidak perlu berkata-kata untuk berkomunikasi. Hanya dengan sebuah seringaian, Hyejin paham bahwa aku tidak punya oleh-oleh untuknya. “Payah. Pelit,” keluh Hyejin lalu meninggalkanku.

“Yaaa. Kau mau kemana?”

Hyejin tidak menjawab.

“Song Hyejin-ssi!!”

Hyejin hanya keluar dari kamar dan kembali tidak lama kemudian dengan sebuah kantong besar di tangannya. “Saengilchukkae!” Ucapnya sambil menyerahkan kantong besar itu kepadaku.

Dari melihat bungkusnya saja aku tahu apa itu. Aku tidak bisa menyembunyikan senyum sumringahku melihat hadiah ulang tahun yang Hyejin berikan padaku. “Untukku?”

“Untukmu, sayang. Apa kau mau aku memberikannya untuk Choi Jinhyuk oppa?”

“Jangan!”

Setiap mendengar nama Choi Jinhyuk, aku begitu kesal. Aku tahu Hyejin hanya menyukainya sebagai teman satu pekerjaan tapi tetap saja aku kesal.

Hyejin menatapku dan aku balas menatapnya. “Wae?” Tanyaku bingung.

“Tidak mau kau buka?” Ia balik bertanya padaku.

Aku melihat kembali bungkusan di tanganku. Seperti anak-anak kecil di India yang begitu bahagia mendapatkan hadiah-hadiah sewaktu aku mengunjungi mereka, aku membuka hadiah dari Hyejin.

“Gomawooo!!!” Seruku melihat dua botol wine yang sudah aku incar lama tapi belum sempat aku beli.

Hyejin tersenyum dan membelai rambutku dengan lembut. “Selamat ulang tahun. Semoga berkat Tuhan yang diberikan kepadamu semakin berlimpah,” ucapnya sambil mengecup keningku.

Aku rasa saat ini adalah senyum terlebar yang pernah terukir di wajahku dalam jangka waktu 2 minggu terakhir. Aku menatap Hyejin dan hadiahnya bergantian, kebingungan karena terlalu senang. “Jeongmal gomawo, jagi…”

Hyejin menciumku lagi, namun kali ini di bibirku. “Cheonmaneyo, gendutku,” ucapnya sambil mencubit pipiku yang semakin tembem dengan gemas.

Aku seharusnya juga memberikan hadiah ulang tahun untuknya, mengingat ulang tahun kami yang selisih hanya sehari, namun aku belum sempat membahasnya ia sudah lebih dulu meninggalkanku ke dalam kamar mandi dengan pakaiannya. “Kau mau kemana sih? Pagi-pagi kenapa sudah sibuk sekali?” Teriakku agar terdengar sampai dalam kamar mandinya.

“Syuting!!! Memangnya yang artis dengan jadwal padat merayap hanya dirimu?” Sahutnya.

Sial. Aku kadang lupa kalau wanita itu juga artis. Terpaksa kami berkomunikasi dengan saling berteriak.

“Aku belum memberimu hadiah. Kau mau hadiah apa?”

Tidak ada jawaban. Mungkin ia sedang konsentrasi menata rambut dan wajahnya.

Aku bertanya sekali lagi, “Hyejin-ah, kau mau hadiah apa?”

Hyejin lalu keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap dan make up tipis di wajahnya. Ia melemparkan smartphone-nya kepadaku yang tentu saja dapat aku tangkap dengan mudahnya.

“Ji Chang Wook? Healer?” Aku melihat wikipedia tentang drama korea yang sedang hits, Healer, dan pemainnya yang bernama Ji Chang Wook itu. “Kau nge-fans dengan Ji Chang Wook sekarang?”

Hyejin menggelengkan kepalanya. “Buka tab yang satu lagi,” katanya kepadaku dan aku pun membuka tab browser di bawahnya.

“Dragon Blade.” Aku melihat trailer film terbaru Siwon hyung dengan Jackie Chan dan tanpa perlu penjelasan darinya aku tahu apa yang gadis itu inginkan. Kencan dengan pria-pria yang dia sukai. Sebagai idola.

“Sehari saja dan kau tidak boleh berbuat macam-macam dengan Siwon hyung. Awas kau.”

Hyejin tersenyum lebar lalu memelukku dengan erat dan berkali-kali mencium pipiku. “Gomawo. Gomawo. Kau tahu, aku sangat mencintaimu,” ucapnya membuatku gemas.

“Aku tahu. Aku tahu. Aku tahu segalanya tentangmu. Kau tidak usah khawatir,” sahutku dengan cuek. Biasanya, Hyejin akan memukulku karena tidak membalas pernyataan cintanya namun karena ia sedang terlalu senang saat ini, ia hanya tersenyum lebar lalu kembali menciumku.

Kalau tidak ingat bahwa ia memiliki jadwal syuting, aku pasti sudah menguncinya dalam pelukanku. Dengan berat hati, aku mendorong Hyejin. “Kau harus syuting. Jangan menggangguku. Kau tahu maksudku kan?”

Hyejin tersenyum kepadaku. “Aku akan pulang sesuai dengan perjanjian kita. Kau sudah tidak boleh kemana-mana lewat dari jam 6 sore. Kau sudah janji untuk bersamaku. Arraseo?”

“Arra. Sudah, pergi sana. Aku mau istirahat,” kataku sambil mendorong Hyejin sampai ia keluar dari dorm-nya sendiri. Manajer Hyejin yang sudah datang menjemput terheran-heran melihat tingkahku menjauhkan artisnya padahal ia salah satu orang yang paling sering aku repotkan jika penyakitku sudah mulai kambuh. Rindu.

“Annyeong!” Ucapku sambil melambaikan tangan kepada Hyejin dan manajernya lalu menutup pintu dorm SG.

Aku kembali ke kamar Hyejin, menjajah tempat tidurnya lagi sambil menatap dua botol wine-ku yang membuatku tanpa sadar tersenyum.

Kkeut!

xoxo @gyumontic