Hello…
Langsung aja yaa..
Semoga pada suka.

XoXo

Masih terekam jelas di ingatanku hari pertama musim semi menggantikan musim dingin 3 tahun lalu. Hari dimana pertama kali aku melihatnya. Seorang gadis sederhana di antara para gadis mewah yang bergerombol menghampiriku. Aku pikir gadis itu akan ikut mengerubungiku ternyata ia hanya terjebak dalam kumpulan itu. Saat para gadis lain berusaha mendapatkan perhatianku, ia justru memisahkan diri. Ia berlalu meninggalkanku dengan sebuah senyum basa-basi sopan yang ia berikan padaku.

2 hari kemudian aku bertemu lagi dengannya. Ia sedang duduk sendirian di kantin dengan buku setebal kitab suci yang terbuka lebar di hadapannya. Entah mendapat keberanian darimana, aku mengajaknya berkenalan. Sejujurnya, dia tidak jauh berbeda dengan gadis-gadis lain yang aku kenal. Dia banyak bicara, seperti gadis lainnya, namun aku bisa merasakan bahwa apa yang keluar dari mulutnya tidak dibuat-buat.



Dia menceritakan segala sesuatu tentang dirinya. Ia juga menanyakan segala sesuatu tentang diriku yang tanpa ragu aku jawab sesuai dengan kenyataan kehidupanku. Ia membuatku seolah aku bukan orang asing untuknya. Ia terasa begitu dekat. Karena itu, aku berani mempertaruhkan harga diriku untuk mengajaknya keluar bersama.

Di hari kelima aku tidak lagi memakai jas musim dingin yang tebal dan berat itu, aku berhasil tahu nama lengkap gadis yang telah mencuri perhatianku dan mengajaknya nonton konser musik kesukaannya. Nama gadis itu Song Hyejin.

—–

Dengan tergopoh-gopoh akibat ia harus berjalan super cepat sambil membawa setumpuk dokumen, Hyejin masuk ke dalam ruangan atasannya dan meletakkan setumpuk dokumen tersebut di atas meja Presiden Direktur tempatnya bekerja. “Ini dokumen yang harus Presdir tandatangani. Semua sudah kucek dan sudah direvisi. Presdir hanya tinggal tanda tangan,” kata Hyejin kepada pimpinan tertinggi di perusahaan itu.

Pria tua yang memiliki julukan CEO paling baik hati dan tidak sombong itu menatap Hyejin sejenak lalu menandatangani semua dokumen tanpa banyak bicara. Ia mempercayai Hyejin sampai tingkat tidak akan pikir panjang jika harus menyerahkan perusahaannya pada Hyejin.

“Terima kasih,” ucap Presiden Direktur setelah selesai membubuhkan 30 tanda tangannya di atas kertas-kertas yang ia percayakan kepada Hyejin untuknya.

Hyejin mengecek setiap lembar dokumen tersebut dengan teliti, meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak ada satu halaman pun yang kurang sehingga bisa langsung diproses.

“Kyuhyun pulang hari ini. Mulai besok ia akan menggantikanku,” kata pria itu sambil menatap sekretarisnya dengan ekspresinya datar.

“Aku akan tetap menjadi sekretaris Anda atau aku akan keluar dari perusahaan ini. Hanya itu pilihannya,” sahut Hyejin tanpa mengalihkan perhatiannya dari kertas-kertas yang menurutnya lebih penting dibandingkan seseorang bernama Kyuhyun.

Pria tua itu tertawa kecil karena ia sudah tidak bisa tertawa terbahak-bahak mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi. “Kau begitu tidak sukanya pada anakku? Humm?”

“Aku hanya terlalu menyukai Presdir.”

“Kalau itu aku tahu. Aku juga terlalu menyukaimu sampai-sampai aku rela untuk bertengkar dengan Kyuhyun nanti agar kau tetap menjadi sekretarisku.”

“Jangan lupa bilang padanya, aku tidak mau menjadi bawahannya. Dia tidak bisa memaksaku kali ini.”

Sang CEO menjulurkan telapak tangannya sambil tersenyum penuh kasih sayang kepada gadis yang sudah dianggap seperti anak perempuannya sendiri. Hyejin menyambut telapak tangan yang sudah mulai berkeriput itu dan menyatukannya dengan telapak tangannya. “Setuju. Kami tidak akan memaksamu kali ini,” kata pria itu. “Andai kau bisa jadi anakku.”

“Bisa saja. Kita tinggal mengurus legalitas pengangkatan anak,” ujar Hyejin sambil membereskan dokumen-dokumennya setelah yakin seluruh dokumennya telah lengkap.

“Istriku pasti akan menentang habis-habisan.”

“Istri Anda juga sangat menyukaiku. Kenapa harus menentang?”

Pria tua itu menghela nafas panjang, menyerah untuk melanjutkan topik pembicaraan yang ia tahu akan Hyejin alihkan ke semua arah sesukanya. Lebih baik ia langsung menembak arah pembicaraannya. “Kau tahu kami menginginkan kau jadi menantu kami.”

Hyejin tersenyum simpul. “Tidak. Terima kasih. Kyuhyun adalah mimpi burukku. Aku tidak bisa hidup dengan mimpi buruk yang akan selalu menghantuiku. Mian.”

“Aku mengerti,” kata Presiden Direktur dengan sedikit senyum kecewa yang tidak berhasil disembunyikannya.

Hyejin membelai tangan bos-nya dengan lembut, berusaha menenangkan perasaan pria tua itu, mencoba mengobati kekecewaannya akibat kata-katanya. “Aku benar-benar minta maaf, Sajangnim. Aku mencintai keluarga Cho seperti keluargaku sendiri tapi tidak dengan Kyuhyun. Maafkan aku,” ujar Hyejin pelan.

“Aku mengerti. Tidak usah terlalu dipikirkan.”

Hyejin tersenyum kecil sambil bangkit berdiri dari kursinya. “Sajangnim, jam 11 nanti jadwal Anda ke dokter. Jangan pura-pura lupa. Aku akan bilang pada Youngmin untuk mengantar Anda. Sampai jumpa, sajangnim-ku tersayang,” ujar Hyejin lalu keluar dari ruangan atasan yang sangat disukainya itu.

—-

Hyejin baru saja duduk di mejanya ketika Hamun, pegawai bagian HRD sekaligus sahabatnya, dengan terburu-buru menghampirinya. “Eonni, eonni. Apa kau tahu besok kita akan punya bos baru? Dia anak laki-laki Presdir. Namanya Cho Kyuhyun. Aku dengar dia tampan dan masih lajang. Para wanita di tempatku sudah bersiap-siap untuk mengejarnya.”

“Termasuk dirimu?” Tanya Hyejin.

“Termasuk aku,” jawab Hamun sambil tertawa cekikikan membuat Hyejin gemas.

Hyejin menjitak kepala Hamun dengan pelan. “Yaaa! Kau kan sudah punya Lee Donghae. Kau mau menyerahkan Lee Donghae padaku?”

Hamun cemberut mengerucutkan bibirnya. “Aku hanya mencintai Donghae Oppa tapi tidak ada salahnya kan kalau bos kita itu muda dan tampan. Apalagi kalau masih lajang. Aku hanya ikut-ikutan. Lagipula mana mungkin sih dia mau dengan gadis biasa seperti aku,” balas Hamun.

“Siapa yang tahu? Jodoh kan di tangan Tuhan. Mungkin saja ia akan jatuh cinta saat melihatmu nanti.”

“Mungkin saja tapi kecil kemungkinannya. Eonni tahu? Puluhan tuan dan nyonya rekan kerja sajangnim berusaha menjodohkan anak perempuan mereka dengan Kyuhyun sajangnim tapi tidak ada satupun yang berhasil menarik perhatian Kyuhyun sajangnim. Semua hanya akan berakhir di daftar kontak tanpa ada yang dihubungi.”

Hyejin hanya tersenyum tipis. “Kau tahu darimana? Kerjaanmu setiap hari pasti bergosip ya?”

“Tidak, enak saja. Kami hanya memiliki sifat dasar yang terlalu ingin mengetahui pribadi seseorang. Maklum, orang HRD.”

“Iya, aku paham.”

“Jadi, apa eonni sudah siap untuk berpisah dari Presdir? Kalau tidak pernah melihat bagaimana nyonya dan nona Cho memperlakukanmu yang menurutku kelewat baik, orang pasti mengira eonni ada hubungan khusus dengan Presdir,” kata Hamun disambut dengan tawa menggelegar Hyejin. Ia sudah terbiasa dengan kecurigaan publik akan hal itu.

“Apa HRD tidak tahu? Aku akan tetap menjadi sekretaris tuan Cho. Presdir Cho yang baru akan mendapatkan sekretaris baru. Apa tuan Cho belum bilang pada HRD?” kata Hyejin dengan tenang.

Hamun hanya tercengang bingung menatap Hyejin. “Lalu siapa yang akan jadi sekretaris Presdir yang baru?”

Hyejin mengedikkan bahunya dengan santai. “Itu urusanmu sebagai HRD,” kata Hyejin dengan senyum jahilnya yang langsung membuat Hamun sakit kepala.

“Mwo? Mwo? Mwo?! Hyejin eonni!!” Seru Hamun namun yang dipanggil sudah berlalu pergi meninggalkannya.

“Sampai jumpa, Hamun sayang. Aku mau sarapan dengan Siwon Oppa dulu,” sahut Hyejin sambil melambaikan tangannya dari dalam elevator dengan senyuman jahil yang belum hilang menghiasi wajahnya.

—-

Aku menatap layar smartphone-ku. Terpampang foto seorang anak kecil yang sedang main di tepi pantai dengan ayahnya. Anak kecil itu memiliki kulit seputih susu namun terlihat sangat merah di foto itu karena ia tampak kepanasan. Tanpa bisa aku kontrol, aku tersenyum melihat anak laki-laki itu. Ini mungkin sudah yang keseribu kalinya aku tersenyum hanya karena anak laki-laki itu.

Aku ingat hari pertama musim panas tahun lalu. Hari dimana aku mendapatkan foto itu yang langsung kujadikan latar belakang smartphone-ku sampai sekarang. Hari itu, kami baru pulang liburan dari Irlandia dan untuk pertama kalinya aku menginap di rumah seorang laki-laki.

Waktu itu, aku tidak bisa pulang ke dorm-ku karena hari sudah terlalu larut. Ia menawarkan aku bermalam di rumahnya dan aku tidak punya pilihan. Dia memberikan satu kamar kosong yang tidak dipakai untukku. Di kamar itu aku mendapatkan foto tersebut. Foto yang diambil belasan tahun lalu.

Kini, anak kecil yang berada di dalam foto itu tumbuh jauh lebih besar dan lebih dewasa serta lebih tampan. Ia adalah pria terbaik yang pernah aku temui seumur hidupku. Ia tidak pernah sekali pun menyakitiku. Ia bahkan cenderung memberikan apapun yang aku inginkan.

Banyak hal yang telah dilakukannya untukku namun ada satu yang tidak bisa aku lupakan.

Pria itu, untuk pertama kalinya, mengajakku makan di restoran yang terkenal paling mewah di seluruh antero Inggris, setelah selama ini hanya mengajakku makan di kantin kampus atau restoran-restoran fast food pinggir jalan. Selama ini kami hanya memakan burger atau steak dan soda sebagai minumannya tapi kali ini ia memesan caviar kesukaanku dan sebotol wine untuk kami berdua.

Yang tidak berbeda dari biasanya hanyalah kami menghabiskan waktu tanpa terasa meski hanya dengan mengobrol berbagai macam topik mulai dari yang serius sampai saling melempar lelucon. Seperti biasa, aku selalu merasakan kehangatan setiap bersamanya.

Tidak terasa, kami sudah berteman 2 tahun. Dimana ada dia, disitu juga akan ada aku atau sebaliknya. Kami bagaikan dua kutub magnet yang tidak bisa dipisahkan. Terlalu banyak hal yang sering kami lakukan bersama. Belajar, nonton, makan, liburan dan hal-hal lainnya. Semua orang mengira kami adalah sepasang kekasih. Tapi tidak.

Ia bisa memberikan apapun di dunia ini kepadaku. Kecuali cinta.

Ia tidak pernah mengatakan suka padaku, apalagi cinta. Hanya aku yang merasakannya. Ia hanya seolah tidak bisa hidup jika tidak ada aku namun kenyataannya ia adalah manusia paling mandiri yang pernah aku temui di muka bumi ini.

Di hari kelulusanku, aku memberanikan diri untuk menyatakan cintaku dan aku mendapatkan balasan sebuah tiket pesawat ke negara asalku dan sebuah surat rekomendasi bekerja di sebuah perusahaan besar di Korea yang baru aku tahu kemudian bahwa aku akan bekerja untuk ayahnya. Pekerjaan yang membuatku ingin keluar di hari pertama kalau tidak ingat aku telah menandatangani sebuah kontrak yang menyebutkan aku harus membayarkan sejumlah pinalti dan hukuman penjara kalau aku keluar sebelum masa kontrakku selesai.

Satu hal yang kusyukuri, bos-ku dan istrinya sangat baik kepadaku. Mereka memperlakukan aku tidak seperti memperlakukan pegawai. Mereka menganggapku seperti anak kandung mereka sendiri. Presdir bahkan pernah menyuruhku ke Hongkong, bukan untuk dinas melainkan menemani istri dan anak perempuannya berbelanja.

“Kau butuh refreshing,” katanya waktu itu. Karena kebaikan mereka, aku masih bertahan di perusahaan ini. Meskipun aku tidak menyukai anak laki-laki mereka.

—-

Tbc

xoxo @gyumontic