Setahun sudah berlalu sejak ia pergi meninggalkanku. Ia, wanita yang memiliki keberanian luar biasa sehingga bisa menyampaikan isi hatinya lebih dulu kepadaku meskipun ia seorang perempuan. Tepat di hari kelulusannya, setelah bersahabat denganku 2 tahun lamanya, ia menyatakan cintanya padaku. Saat itu aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku mencintainya, sangat mencintainya, tapi aku tidak berani membalas perasaannya karena, mungkin terdengar konyol tapi bagiku sangat serius, aku belum lulus kuliah. Ia lebih muda dariku tapi ia sudah lebih dulu menyelesaikan kuliahnya. Bagaimana bisa aku bertanggung jawab pada dirinya jika pada diriku sendiri saja aku tidak bisa.  Hal ini yang membuatku berpikir untuk memberikan sebuah pekerjaan di perusahaan ayahku dengan berbagai macam klausul untuk ayahku yang intinya ia harus menjaga gadis ini baik-baik.

Dan aku memutuskan untuk kembali hari ini. Sudah bertahun-tahun aku meninggalkan Seoul, aku masih ingat seluk beluk kota ini. Kota dimana aku dilahirkan dan dibesarkan. Kota yang telah banyak berubah sejak aku tinggal 5 tahun lalu namun tetap memberikan rasa hangat yang sama ketika aku kembali menginjakkan kakiku ke tanah. Meskipun aku sangat menyukai London, aku lebih menyukai Seoul karena itu aku mempercayakan gadis yang paling aku cintai pada kota ini.

—-

Kyuhyun berjalan cepat memasuki gedung yang besok akan berada dalam kekuasannya. Semua orang tampaknya sudah menyadari kehadiran atasan baru mereka. Dengan sopan, mereka menyapa Kyuhyun. Dengan ramah, Kyuhyun berusaha membalas semua sapaan pegawainya walau sebenarnya fokusnya tidak berada di sana. Saat ini ia hanya ingin segera bertemu dengan seorang wanita yang sudah mengganggu kehidupannya 3 tahun belakangan terutama ketika Kyuhyun tidak bisa bertemu dengan wanita itu.

“Mana sekretarisku?” Tanya Kyuhyun melihat meja di depan ruangannya, yang saat ini masih diisi ayahnya, kosong. Tidak ada sosok seorang wanita yang selama ini ia titipkan pada ayahnya untuk dijaga sebagaimana ayahnya menjaga kakak perempuannya.

“Siapa?”

“Hyejin. Song Hyejin. Bukankah ia sekretarisku? Kemana dia?”

Pegawai HRD yang menemani Kyuhyun dengan panik segera mencari Hyejin namun langkah mereka terhenti ketika calon Presiden Komisaris mereka muncul. “Dia sedang sarapan di luar. Setelah itu ia akan ke rumah sakit untuk menemaniku. Ia sekretarisku, nak,” kata pria itu penuh dengan wibawa.

“Tapi besok aku akan menggantikan Appa dan dia akan menjadi sekretarisku kan?”

Ayah Kyuhyun menggelengkan kepalanya. “Aku berubah pikiran. Dia tidak mau menjadi sekretarismu dan aku tidak tega memaksanya melakukan apa yang tidak dia sukai. Lagipula ia lebih menyukaiku daripada dirimu,” katanya lalu berlalu pergi begitu saja meninggalkan Kyuhyun.

Penjelasan ayahnya yang kurang memuaskan membuat Kyuhyun hanya punya pilihan untuk mengikuti kemana ayahnya berjalan agar bisa menemui gadis-nya dengan segera. “Appa, maksudnya apa? Appa! Kau mau kemana? Appa! Haish!” kata Kyuhyun tanpa ada sepatah kata pun balasan dari ayahnya.

—-

Kyuhyun duduk dengan gelisah di dalam mobil bersama appa-nya. ” Aku mau bertemu dengan Hyejin. Kenapa kita hanya diam di sini?” Tanya Kyuhyun tidak sabar. Ia mengikuti ayahnya karena ingin melihat Hyejin bukan hanya diam di dalam mobil, di parkiran basement.

“Tunggu saja,” ujar appa Kyuhyun dengan tenang, melirikkan matanya ke luar jendela dan pada saat itu Kyuhyun melihat gadisnya berjalan ke arah mobil. Dengan rambut sebahunya yang terurai dan jas panjang yang menutupi tubuh jenjangnya, gadis itu terlihat sangat mempesona.

Tanpa bisa dikendalikan, senyumnya merekah lebar menghiasi wajahnya. “Apa ia selalu secantik itu, Appa?” Tanya Kyuhyun kepada appa-nya.

“Setiap hari selalu seperti itu. Berterimakasihlah padaku karena aku berhasil menjaganya sehingga sampai detik ini ia belum jatuh ke tangan laki-laki manapun,” sahut tuan Cho senior dengan kebanggaan tersendiri.

“Gomawo, Appa,” ucap Kyuhyun tanpa mengalihkan tatapan matanya dari gadis yang semakin lama semakin dekat.

“Tapi kita lihat nanti apa kau tetap bisa berkata seperti itu kalau dia melihatmu. Dia sangat membencimu, kau tahu?” ujar tuan Cho senior dengan cuek.

Hyejin berjalan semakin mendekat. Ia mengetuk kaca jendela Kyuhyun, meminta untuk dibuka. Kyuhyun pun membuka kaca jendelanya dan wajah terkejut Hyejin yang terpampang jelas di hadapannya  tetap terlihat cantik bagi Kyuhyun.  “Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Hyejin tanpa bisa menyembunyikan keterkejutannya.

“Aku kembali. Apa kau tidak mendengar beritanya?” Sahut Kyuhyun dengan santai.

“Maksudku di dalam mobil ini.”

“Mau menemani Appa ke rumah sakit. Aku anak baik kan?” jawab Kyuhyun dengan tenang mencoba menutupi detak jantungnya yang mulai tidak beraturan sejalan dengan kekacauan yang berkecamuk di kepalanya. “Apa kabar?”

Hyejin tidak memedulikan laki-laki itu. Ia berpindah ke sisi satu lagi dimana atasannya yang sebenarnya berada. “Sajangnim, Kyuhyun akan menemani Sajangnim ke rumah sakit. Apa aku tetap harus menemani Anda? Aku…”

Pria tua tersebut tersenyum lembut kepada Hyejin. “Kalau kau tidak bisa, tidak apa-apa. Kau boleh tinggal di kantor. Selesaikan saja pekerjaanmu. Sekalian kalau bisa, bereskan ruanganku. Mulai besok kita sudah pindah ruangan kan?”

Senyum cerah Hyejin terukir di wajahnya, berbanding terbalik dengan Kyuhyun yang sudah semuram langit mendung.

“Tentu saja. Aku akan memindahkan barang-barang Presdir ke ruangan baru. Sampai jumpa,” kata Hyejin.

Presdir lama menutup kaca jendelanya dan menyuruh supirnya untuk segera menancap gas namun pria muda di sebelahnya menghentikan mobil itu dengan sekali seruan, “STOP!!”

Supir menghentikan mobilnya. “Kenapa berhenti?” Tanya Cho tua kepada Cho yang jauh lebih muda.

“Appa, maafkan aku tidak bisa menemani Appa. Ada hal yang harus aku selesaikan dengan sekretaris Appa,” sahut Kyuhyun lalu segera turun dari mobil itu. Ayah Kyuhyun hanya melihat dari kaca spion dan tersenyum.

“Youngmin-ssi, apa menurutmu Hyejin akan jadi menantuku?”

Kyuhyun berjalan cepat ke arah Hyejin dan langsung menyambar tangan gadis itu, menariknya masuk ke dalam gedung.

“Yaa! Apa yang kau lakukan, sajangnim? Lepaskan,” ujar Hyejin namun tidak didengarkan oleh Kyuhyun. Pria itu tetap menarik Hyejin untuk mengikutinya, tidak peduli meskipun puluhan pasang mata menatap mereka penuh keingintahuan.

“Yaak! Sajangnim,” Kata Hyejin sekali lagi namun tetap tidak didengar oleh Kyuhyun. Pria itu tetap saja mencengkram pergelangan tangan Hyejin dan menariknya ke tempat yang ia inginkan.

“YAAK! CHO KYUHYUN!” Seru Hyejin, kali ini dengan suara yang lebih keras dan memaksa namun Kyuhyun baru melepaskannya ketika mereka sudah sampai di depan ruangan Presiden Direktur, dimana hanya ada mereka berdua dan dua orang sekuriti yang bagi Kyuhyun hanya pajangan.

“Kau kenapa? Ada apa dengan dirimu sebenarnya?” Tanya Kyuhyun.

“Harusnya kau yang bertanya pada dirimu sendiri : kau kenapa?” Sahut Hyejin dengan sinis, meyakinkan Kyuhyun bahwa perkataan ayahnya benar. Gadis itu membencinya.

“Aku tidak kenapa-kenapa. Aku baik-baik saja. Aku menyapamu dengan ramah namun kau menganggapku seperti tidak ada. Kau kenapa?”

“Hanya tidak ingin melihatmu lagi seumur hidupku.”

“Kenapa?”

“Kau masih tanya kenapa? Apa kau sudah kehilangan ingatanmu? Semua yang sudah kau lakukan padaku? Tiket pesawat dan surat rekomendasi kerja setelah dengan susah payah aku mengumpulkan keberanianku? Kalau kau tidak menyukaiku, seharusnya kau tinggal bilang saja. Tidak usah pakai drama memberikanku sebuah pekerjaan sebagai permintaan maafmu. Aku tidak terlalu bodoh untuk mendapatkan pekerjaan yang aku inginkan. Aku lulusan terbaik di angkatanku. Kau lupa?”

Setelah sekian lama terpendam, Hyejin berhasil mengungkapkan seluruh isi hatinya meskipun terdengar kasar.

Hyejin menghela nafas panjang, mencoba mengatur pernafasannya agar kembali normal. “Lupakan,” ujar Hyejin.

Kyuhyun menatap Hyejin dengan sayu, menyesali sifat pengecutnya setahun lalu. “Asal kau tahu, aku tidak pernah melupakan satu hal pun tentangmu, bodoh! Aku bahkan masih ingat bagaimana kau mengigau kalau sedang mabuk.”

Kyuhyun menarik Hyejin ke dalam pelukannya dan mencium gadis itu, meluapkan seluruh rindunya, meski dadanya harus merasakan sakit akibat tinju yang diberikan Hyejin dengan sangat keras.

“Aku membencimu! Kau tahu?!” Seru Hyejin yang hanya mampu mengeluarkan suara tanpa mampu mengeluarkan tubuhnya dari pelukan erat Kyuhyun.

“Aku tahu dan aku minta maaf. Tapi salahmu sendiri tidak mau mendengarkan penjelasanku. Kau menerima pemberianku begitu saja dan tiba-tiba menjauh dariku.”

“Kau yang menyuruhku pergi!”

“Aku tidak pernah menyuruhmu pergi.”

“Lalu kenapa kau tidak biarkan saja aku mengatur hidupku sendiri?!”

Kyuhyun memijit pelipis keningnya. “Aku rasa sudah terlalu banyak salah paham antara kita. Kau tahu bagaimana perasaanku ketika kau menyatakan cintamu padaku? Aku rasa aku pria paling bahagia sejagat raya ini tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa karena aku masih harus kuliah. Masih banyak yang harus aku selesaikan tapi. Aku tidak mau kau memiliki kekasih yang tidak bisa dibanggakan namun aku juga tidak mau kehilanganmu.  Jadi, aku menitipkan kau pada keluargaku untuk memastikan kau tidak akan jatuh ke tangan pria manapun di dunia ini kecuali aku. Paham?” Ujar Kyuhyun panjang lebar memberikan penjelasan kepada Hyejin yang tak bergeming.

“Tidak,” jawab Hyejin beberapa detik kemudian dengan suara pelan.

Kyuhyun tersenyum geli menatap Hyejin yang bergetar di dalam pelukannya. “Aku tahu otakmu cukup cerdas untuk mencerna omonganku tapi aku tidak akan menolak kalau kau memaksa aku mengatakannya. Aku mencintaimu.”

Dua kata yang mampu membuat Hyejin luluh. Dua kata yang ia tunggu bertahun-tahun. Dua kata yang membuat Hyejin meruntuhkan tembok yang ia buat untuk membatasi dirinya dengan Kyuhyun. Dua kata itu membuat Hyejin menyerah begitu mudahnya. “Aku sudah lebih dulu mengatakannya. Kita seri.”

“Aku tidak keberatan mengucapkannya lagi. Aku mencintaimu. Mencintaimu. Mencintaimu,” ucap Kyuhyun sambil mencium Hyejin berkali-kali dengan lembut namun semakin lama semakin menuntut. Hyejin tidak melakukan perlawanan apapun. Tubuhnya seolah telah diprogram tidak bisa lepas dari Kyuhyun.

—–

Meskipun aku berkali-kali mengatakan tidak menyukainya, aku berusaha untuk tidak menyukainya, aku tahu aku selalu saja menyukainya. Aku menyukai pelukan hangatnya, ciumannya yang lembut, senyumannya yang menenangkan, genggaman tangannya yang membuatku merasa aman, bahkan aku menyukai rambutnya yang selalu mengganggu mataku karena selalu saja berantakan. Aku menyukai segala sesuatu yang ada pada dirinya.

Meskipun sudah 1 tahun berlalu aku berusaha lari dari kenyataan, pada akhirnya aku harus kembali kepadanya. Daya tariknya terlalu kuat untukku. Dengan mudah, ia mendekapku, menutup rapat-rapat hatiku untuk orang lain. Aku sadar aku hanya bisa memberikan hidupku untuknya.

—-

“Eonni!! Aku dengar ada yang melihatmu pergi ke Jeju dengan Kyuhyun sajangnim. Apa benar?” Tanya Hamun pagi-pagi dengan tidak sabar. Hyejin bahkan belum sempat menaruh tas-nya saat Hamun menarik-narik tangannya, menuntut jawaban.

Dengan wajah datar, Hyejin menjawab, “Kau terlalu banyak bergosip, Hamun sayang. Aku tidak pergi kemana-mana apalagi dengan Kyuhyun sajangnim.”

“Jinjja? Aku bahkan melihat foto kalian berciuman di pinggir pantai ketika matahari terbenam,” ujar Hamun lagi.

Hyejin masih bertahan dengan wajah tanpa ekspresinya, berusaha menutupi bahwa apa yang ditanyakan Hamun adalah benar adanya. “Sudah aku bilang, kau terlalu banyak bergosip.”

“Tapi sudah terlalu banyak yang melihat kau dan Kyuhyun sajangnim pergi berdua, eonni.”

Hyejin hanya tersenyum sambil mendorong Hamun keluar dari ruangannya. “Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Kyuhyun sajangnim kalian. Bye, Hamun!!”

Hamun menatap Hyejin dan menyadari kebohongan yang dilakukan seniornya itu. “Aku tahu kau bohong. Gosip antara kau dan Kyuhyun sajangnim pasti benar. Akan aku cari tahu sendiri,” ujar Hamun sebelum pergi meninggalkan Hyejin.

—-

Sedikit memaksa, Kyuhyun menarik Hyejin untuk segera turun dari mobilnya. “Aku akan memberitahukan kepada seluruh dunia bahwa kau adalah milikku,” ujar Kyuhyun dengan seringaian khasnya yang jahil dan tidak jarang membuat Hyejin naik darah.

“Jangan harap. Aku bukan milikmu,” ujar Hyejin dengan gigi gemeretuk saking kesalnya. Hyejin melepaskan tangannya dari genggaman Kyuhyun lalu berjalan lebih dulu menuju elevator dengan Kyuhyun yang mengikutinya sambil tertawa. “Tidak usah terburu-buru. Awas jatuh,” seru Kyuhyun dari belakang.

Hyejin terus saja berjalan tanpa mempedulikan pria yang semalam berhasil mengingatkannya betapa ia mencintai pria itu, sampai  ia rela menyerahkan segalanya untuk Kyuhyun. Hyejin berhenti di depan elevator bersama para karyawan lain yang sedang mengantri untuk masuk.

Antrian itu tiba-tiba bubar ketika Kyuhyun datang. “Selamat pagi, sajangnim,” salam para pegawai yang berbalas senyuman ramah dari Kyuhyun.

“Selamat pagi. Kenapa kalian tidak mengantri? Aku akan lewat tangga darurat. Aku hanya ingin menarik wanita ini untuk ikut bersamaku,” ujar Kyuhyun dengan santai, menganggap tatapan penasaran para pegawainya hanya sebagai angin lalu.

Untuk kedua kalinya, tangan Hyejin ditarik paksa oleh Kyuhyun. Pria itu menggiring Hyejin ke dalam tangga darurat. “Tidak bisakah kau bersikap lebih lembut kepadaku dan tidak memberitahukan pada seluruh pegawaimu apa yang terjadi di antara kita?” Protes Hyejin.

Kyuhyun hanya menyeringai lebar. “Aku selalu memperlakukanmu dengan lembut. Masa sudah lupa?” Goda Kyuhyun dengan senyum jahilnya yang menyebalkan.

“Cih!”

“Atau kau lebih ingin aku dan kau naik elevator itu bersama mereka dan aku akan memberitahukan kepada seluruh kantor apa yang kau lakukan bersamaku tadi malam?” Sindir Kyuhyun sambil melirikkan matanya ke arah leher Hyejin yang terbelit syal tebal. Syal yang berfungsi untuk menutupi belasan kissmark Kyuhyun di sana.

“Dasar brengsek,” gumam Hyejin lalu berlari menaiki tangga, meninggalkan Kyuhyun sendirian.

“Kau tidak akan pernah bisa lari dariku. Kalau kau hamil akibat perbuatanku semalam, apa kau akan tetap melarikan diri dariku?” Seru Kyuhyun diikuti gema yang menggaung ke seluruh penjuru tangga darurat.

Hyejin memicingkan matanya, menatap Kyuhyun dengan kesal. “Lebih baik kau diam, Cho Kyuhyun-ssi. Aku akan membunuhmu kalau ada satu orang, satu orang saja, yang tahu hubungan kita.”

“Aku tidak masalah. Kalau aku mati, kau juga yang akan menangisiku. Memangnya kau masih bisa hidup tanpa aku? Humm?”

Hyejin benar-benar akan melemparkan sepatunya jika saja tidak ada orang yang tiba-tiba muncul di tangga darurat.

“Eonni!!!” Seru Hamun cukup terkejut melihat Hyejin berada di ujung tangga atas sedangkan Kyuhyun di ujung tangga di bawahnya. “Sajangnim…”

“Hai Hamun,” sapa Kyuhyun dengan ramah.

Hyejin segera angkat kaki dari tempatnya berdiri diikuti oleh Hamun yang bersikeras ingin tahu mengapa Hyejin dan Presdirnya bisa berada di tempat seperti tangga darurat.

“Apa yang sebenarnya terjadi antara eonni dan Presdir Cho?” Tanya Hamun penasaran.

“Tidak ada apa-apa,” jawab Hyejin singkat.

“Tidak mungkin. Aku sering melihat kalian selalu bersama. Tidak ada waktu dimana aku melihat Presdir tanpa ada eonni di sampingnya. Semua pegawai juga menyadarinya. Kalian pacaran?”

“Lebih dari itu,” ucap Hyejin dalam hatinya yang tentu saja tidak dia ungkapkan kepada Hamun.

“Tidak ada,” kata Hyejin tegas menutup pembicaraannya dengan Hamun, membiarkan gadis yang lebih muda itu terus bertanya-tanya tanpa jawaban.

—-

Hyejin memandang hasil testpacknya yang menunjukkan bahwa dirinya positif hamil dan seketika perasaan hangat menyelimutinya. Sambil mengelus perutnya yang masih rata, Hyejin tersenyum. Tidak ada sedikit pun rasa menyesal yang terselip dalam dirinya.

“Apa ada berita menggembirakan untukku?” Tanya Kyuhyun dengan wajah berseri-seri tepat saat Hyejin keluar dari toilet ruangannya.

Hyejin menyerahkan dua batang testpack-nya kepada Kyuhyun. Tanpa menanti reaksi dari si pembuat masalah, Hyejin duduk di sofa tamu ruangan Kyuhyun. “Apa itu cukup menggembirakan untukmu?”

Tidak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan Kyuhyun saat ini. Senyumnya mengembang lebar tanpa ada niat untuk menguranginya. “Sebenarnya aku lebih senang kalau kau menamparku lalu meminta pertanggung jawaban dariku. Dengan senang hati, aku akan menikahimu. Kalau perlu, hari ini juga.”

“Aku tidak mau menikah denganmu.”

“Yaa Song Hyejin!!! Itu anakku! Jadi kau harus menikah denganku!”

“Baiklah, aku akan mempertimbangkannya.”

“Apa lagi yang kau pertimbangkan? Aku mencintaimu, kau mencintaiku. Aku juga sudah mampu untuk menghidupimu dan anak-anak kita kelak.”

Hyejin mendelikkan matanya dengan kesal pada Kyuhyun. “Cho Kyuhyun-ssi, tidak bisakah kau tidak mengajakku berdebat? Nikmati saja hasil testpack itu. Aku mual!” Omel Hyejin yang sudah kembali masuk kamar mandi karena ingin muntah.

Kyuhyun menyusul Hyejin ke dalam kamar mandi untuk membantu wanita itu memegang handuk yang melindungi bajunya agar tidak terkotori oleh muntahannya.

“Hyejin-ah?”

“Eoh?”

“Apa aku boleh memberitahukan berita ini kepada Appa dan eomma?”

“Eoh. Awas kalau kau memberitahukan orang selain mereka,” jawab Hyejin setelah membersihkan mulutnya.

Kyuhyun memeluk Hyejin dari belakang dengan erat. “Kau tahu? Aku sudah membayangkan hal ini akan terjadi sejak 3 tahun lalu. Sejak aku pertama kali bertemu denganmu,” bisik Kyuhyun lalu mencium wanita-nya dengan lembut tanpa menuntut apapun.

Hyejin membiarkan Kyuhyun memeluknya. Terselip rasa hangat yang nyaman ketika nafas pria itu menyapu halus wajahnya.

“Awas! Aku mual,” kata Hyejin sambil mendorong Kyuhyun menjauh dari tubuhnya dan kembali berkutat dengan wastafelnya.

—-

Kecepatan gerak kaki Hyejin yang sibuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, membuat Kyuhyun nyaris memekik, “Song Hyejin-ssi, tolong pelankan langkah kakimu,” perintah Kyuhyun dengan tegas namun tidak digubris oleh Hyejin.

“Rapat sebentar lagi harus dimulai. Persiapan masih minim,” sahut Hyejin yang tetap berjalan mondar-mandir sibuk menyiapkan rapat pemegang saham dibantu oleh beberapa orang bagian keuangan.

Kyuhyun memperhatikan Hyejin dengan seksama, tidak ada satu detik pun yang luput dari pengawasannya. Termasuk ketika Hyejin membawa sekardus dokumen bahan rapat di tangannya. Kyuhyun tanpa pikir panjang berteriak, diperkeras dengan mic yang berada tepat di depan mulutnya, “YAA SONG HYEJIN!!! BERAPA KALI HARUS AKU INGATKAN KAU ITU SEDANG HAMIL!!”

Hyejin terpaku di tempatnya, dengan kardus yang masih berada di tangannya. Ia menatap Kyuhyun dengan kesal yang tentu saja tidak dipedulikan Kyuhyun. Melalui mic-nya, Kyuhyun memerintah, “Siapapun, tolong siapkan rapat ini dengan segera. Ambil kardus itu dari tangan nona Song. Dan kau, Song Hyejin-ssi, aku mohon jangan menggagalkan rencanaku untuk menjadi seorang Appa!”

Seluruh mata kini memandang Hyejin dan Kyuhyun bergantian. Ekspresi mereka tidak ada selain ekspresi terkejut. Hyejin sudah menatap tajam Kyuhyun agar Kyuhyun menutup mulutnya namun pria itu justru berkicau semakin panjang, “Apa ada yang salah? Kalian tidak usah khawatir, aku akan mengundang kalian semua ke pernikahan kami.”

Dengan geram, Hyejin menarik Kyuhyun dari tempat duduknya, menggeret pria itu sampai ke ruangannya. “Kau mau semua orang tahu bahwa aku sedang mengandung tanpa seorang suami?”

“Aku akan bertanggung jawab, Hyejin-ah. Berapa kali harus aku ulangi?”

“Tetap saja. Orang-orang pasti akan menilaiku yang tidak-tidak. Mereka pasti mengira aku menggodamu atau menjebakmu atau apalah lagi di pikiran mereka.”

“Aku tidak peduli dengan omongan orang.”

“Tapi aku peduli, Cho Kyuhyun-ssi! Kau tidak akan merasakan dipandang hina oleh orang-orang karena kau punya kekuasaan. Sedangkan aku?”

“Kadang aku tidak mengerti jalan pikiranmu. Kemana sih perginya otak cerdasmu itu? Kau itu sedang mengandung penerus keluarga Cho, keluarga terpandang di Korea Selatan ini. Siapa yang berani merendahkanmu? Mereka bisa masuk ke dalam kasta terendah kalau berani menghina bagian keluarga Cho.”

“Apa kau ingin aku mengadakan konferensi pers dengan mengatakan bahwa aku sudah jatuh cinta padamu sejak 3 tahun lalu saat kita pertama kali bertemu? Atau harus kujelaskan dengan gamblang kepada seluruh orang di dunia ini bahwa aku tidak pernah mau dijodohkan karena aku hanya mencintaimu?” Lanjut Kyuhyun melihat Hyejin yang hanya diam.

“Tidak ada gunanya.”

“Lalu kau mau aku berbuat apa? Aku akan melakukan segalanya untuk melindungimu. Aku tidak akan membiarkan satu orang pun menyakiti dirimu. Aku mohon, Hyejin-ah. Percayalah padaku.”

Kyuhyun memeluk erat Hyejin di dalam dekapannya. “Kau percaya padaku kan?” Tanya Kyuhyun dengan cemas melihat Hyejin yang masih hanya diam.

“Yaa Hyejin-ah. Kenapa diam terus? Kau tidak percaya padaku?”

Pada akhirnya, Hyejin tersenyum, menjitak kepala pria yang ia sadari tidak akan bisa ia lepaskan dari hidupnya karena pria itu salah satu alasan kenapa ia masih berdiri dengan sebuah kehidupan baru di rahimnya.

“Aku percaya padamu. Dasar gendut. Bodoh.”

“Apa kau bilang? Coba bilang sekali lagi?”

“Gendut. Bodoh.”

“Kau mau cari masalah denganku ya?”

Kyuhyun menyambar bibir Hyejin dan melumatnya dengan rakus sampai Hyejin harus mendorong Kyuhyun dengan keras agar melepaskan ciuman yang sudah membuatnya nyaris kehabisan nafas. “Makanya, jangan menggodaku kalau tidak ingin rasakan akibatnya,” ujar Kyuhyun diiringi tawa mengejek.

Hyejin hanya tersenyum lalu menempelkan tubuhnya pada Kyuhyun dan mencium leher pria itu dengan menggoda. “Aku rasa lebih pantas aku yang mengatakannya. Aku sedang mengandung anakmu. Kau tidak bisa seenaknya padaku. Mengerti?” Ujar Hyejin diiringi seringaian penuh kemenangan yang sangat menggemaskan.

Kkeut!

xoxo @gyumontic