THE MOST ROMANTIC COUPLE OF THE YEAR
By : Top Class Socialite

Aku cukup membaca judulnya dan melihat foto pria paling menyebalkan sedunia yang sedang menciumku di pinggir pantai dengan penuh kasih sayang sekaligus penuh nafsu, entah bagaimana website ini bisa mendapatkan foto tersebut. Aku tidak perlu membaca isinya yang pasti mengagung-agungkan pernikahan kami seolah pernikahan kami adalah pernikahan terbaik sepanjang sejarah. Aku sudah hafal kebiasaan website satu ini.

Berlebihan, menurutku. Kami bukan pasangan yang buruk tapi juga bukan yang terbaik. Sebagai pasangan suami istri, kami memang saling mencintai tapi bukan berarti aku tidak pernah bertengkar dengan pria itu. Kami bahkan nyaris bertengkar setiap hari akhir-akhir ini.

Aku buru-buru menyimpan iPad-ku dan pura-pura tidur ketika mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat ke kamarku. Aku tahu itu dia. Aku sudah hafal cara ia menyeret kakinya. Jam 2 pagi dan pria itu baru sampai di rumah. Aku memejamkan mata seerat mungkin sambil berharap ia tidak menyadari aku hanya pura-pura tidur. Aku sedang tidak ingin bicara dengannya.

Kalau kami sedang tidak bertengkar, aku akan menyiapkan air hangat untuk mandinya juga baju ganti tapi karena aku sedang sangat kesal dengannya, kubiarkan ia melakukan semuanya sendiri. Ia naik ke tempat tidur setelah selesai mandi.

Ia membaringkan tubuhnya di sebelahku. Ya, walaupun kami bertengkar, kami tetap tidur di satu tempat tidur yang sama. Bahkan kalau kami bertengkar hebat, kami akan tetap tidur bersama walau saling memunggunggi.

Dari hembusan nafasnya yang membuat tengkuk leherku terasa hangat, aku tahu ia tidur menghadapku. Sebentar lagi yang dilakukannya pasti memelukku dan mengoceh berbagai macam hal menyebalkan.

“Kau sudah tidur?” Tanyanya pelan namun cukup untuk didengar.

Benar kan?

Ia juga menyelipkan tangannya di bawah tanganku untuk memelukku dengan erat. “Kau marah padaku?” Tanyanya lagi yang kudiamkan.

Aku masih pura-pura tidur nyenyak dengan sebuah guling dalam pelukanku.

“Aku tahu kau belum tidur. Hei,” katanya lalu mencium leherku. Entah bagaimana caranya, ia mungkin sudah hafal bahasa tubuhku, sehingga ia bisa tahu aku benar-benar tidur atau hanya pura-pura.

Aku membuka mataku, mengakhiri pura-pura tidurku, menghela nafas panjang lalu membalikkan tubuhku untuk berhadapan langsung dengan pria putih susu yang semakin tua semakin gendut tapi tetap menarik. “Kau membentakku tadi pagi,” kataku memberitahunya hal yang membuatku kesal setengah mati padanya hampir sepanjang hari.

Ia mencium keningku dengan lembut lalu menatap mataku dengan sorot mata penuh penyesalan. “Aku sedang sangat stress tadi pagi. Mian,” katanya lalu mencium bibirku.

Walau aku sudah menerima permintaan maafnya tapi aku belum selesai menyelesaikan unek-unek yang aku tahan belasan jam. “Aku hanya meneleponmu untuk minta pendapat mengenai sekolah Kihyun dan kau membentakku. Istri mana yang tidak kesal? Memangnya Kihyun bukan anakmu?”

“Aku tahu. Maafkan aku,” katanya yang kini sudah bergerilya menciumi tulang selangka dan dadaku.

“Kau tahu betapa kesalnya aku padamu? Aku bukannya tidak bisa mengurusnya sendiri tapi sebagai Appa, aku rasa kau juga harus mengurusnya,” protesku yang hanya mendapat geraman berat di perutku.

“Yaak!” Aku terpaksa menjambak rambutnya untuk melepaskan kepalanya dari tubuhku. “Aku sedang bicara!”

Ia tersenyum, menatapku dengan lembut. “Aku menyesal, aku benar-benar minta maaf. Maafkan aku?” Tatapan memelasnya membuatku tidak tega.

Aku menghela nafas melihatnya. “Iya, kumaafkan. Kalau kau mengulanginya?”

“Kau boleh memarahiku,” katanya dengan senyuman yang paling aku sukai sejak aku mengenalnya. Senyuman yang mengatakan bahwa ia mencintaiku meskipun tidak mengucapkannya.

“Deal,” sahutku setuju. Ia kemudian menciumku dan aku balas menciumnya. Semudah itu kami berbaikan.

“Jadi aku sudah boleh mendapatkan bagianku?” Tanyanya dengan seringaian jahil dan penuh kemenangan yang seolah mengatakan ‘kau tidak bisa kemana-mana lagi’.

Aku memperhatikan tubuhku yang entah sejak kapan mengait erat dengan tubuhnya. Ia mengunciku di bawahnya. Pasti ulahnya yang membuat tanganku melingkar di lehernya dan kakiku yang sudah melingkar di pangkal pahanya. “Kalau aku menolak?” Tantangku.

“Aku memaksa,” sahutnya yang sudah kembali bergerilya menjelajahi bagian-bagian tubuhku yang disukainya. Dia tahu, aku tidak bisa menolaknya. Kami memiliki sifat yang sebagian besar sama. Salah satunya, kecanduan akan satu sama lain yang tidak bisa diobati.

“Aku mencintaimu,” ucapnya di sela-sela tarikan nafasnya yang berat.

“Aku akan berpikir kau gila kalau kau bilang membenciku padahal kau sedang bercinta denganku,” sahutku tenang.

Ia tiba-tiba diam dan menatapku dengan kesal. “Yaak! Aku serius!”

Aku tertawa keras, merasa senang bahwa aku berhasil membuatnya kesal. Aku menyisir rambutnya yang berantakan dan sedikit lembap dengan jari-jariku lalu menciumnya dengan lembut. “Aku tahu. Aku juga mencintaimu,” balasku.

Ia memelukku lebih erat dan menyeruakkan kepalanya ke atas bahuku. “Ayo kita tidur. Aku pasti akan tidur nyenyak jika seperti ini,” ujarnya.

“Shireo! Kau berat. Aku bisa mati kehabisan nafas,” sahutku sambil berusaha mendorongnya untuk menyingkir tapi tidak berhasil.

Ia hanya menyahut ringan, “Humm.” Beberapa detik kemudian ia sudah terlelap nyenyak dan aku bisa menyingkirkannya dengan mudah.

Aku mengatur posisi tubuhnya agar ia bisa tidur dengan nyaman lalu menarik selimut untuk menghangatkan tubuh kami. Aku ikut terlelap beberapa detik kemudian dengan kepalaku terkulai di atas bahunya dan tanganku yang memeluknya.

Mungkin saja ketika kami bangun nanti, kami akan kembali bertengkar tapi paling tidak aku percaya kami tidak akan berpisah. Aku percaya, kami memang ditakdirkan untuk bersama.

Kkeut!

xoxo @gyumontic