Annyeeong! Maaf banget baru di update kelanjutanya sekarang. Semoga masih ada yang inget dengan series ini. Kalau ada yang lupa, jangan lupa kunjungi library yaaah untuk baca part 1 dan part 2 nya hehehe *promosi*

Aku mencoba untuk berjalan normal dengan stiletto ini, namun tidak bisa. Kakiku masih sedikit terasa sakit karena terkilir, padahal ini sudah seminggu sejak kejadian itu berlalu.

“Hyonnie, mana Woobin?” Kim ahjumma menepuk pundakku. Aku hanya bisa menunjukkan senyum panikku. “Uhm, tadi ada, ahjumma.” Sebenarnya, sejak aku datang ke pesta ini setengah jam yang lalu, aku belum melihat Woobin oppa.

“Dia tadi menjemputmu, kan?” Kim ahjumma berusaha menelisik ekspresi wajahku, mencoba

mencari tahu aku berbohong atau tidak. Sayangnya, aku memang ahli berbohong jika itu berkaitan dengan namja yang bernama Kim Woobin. Aku mengangguk merespon pertanyaan ahjumma. “Tadi dia ke toilet dan aku tidak melihatnya lagi.”

“Ah, anak itu memang benar-benar! Sebentar lagi sudah waktunya acara puncak dan potong kue. Kalau kau lihat Woobin, kabari aku ya Hyonnie. Haduh Yuna kemana juga sih?” Kim ahjumma pergi meninggalkanku sambil mendumel.

“Kau lihat Woobin hyung?” gantian Key kini mengagetkanku.

“NO!” Aku memberikan tampangku paling masam kepada sahabatku ini. “Kenapa sih semua orang menanyakan Woobin oppa kepadaku?”

“Karena kau tunangannya!” Key menutup mulutnya sebelum ada orang lain yang mendengarnya. “Oh Jihyonnieku sayang, jika kita tidak menemukannya segera, ahjussi bisa mengamuk!” Key segera beranjak dari tempatnya berdiri, aku tertaih-tatih mengikutinya.

“Memangnya ada apa sih?”

“Ahjussi tau kalau Woobin hyung ada hubungan, yah seperti itu lah, dengan si sekretaris sok cantik itu. Kemarin ahjussi sudah mengultimatum Woobin hyung untuk bersikap baik selama pesta ulang tahun ahjussi. Tapi, acara belum dimulai, malah Woobin hyung sudah tidak tampak batang hidungnya,” Key terus menyerocos menjelaskan apa yang terjadi, aku kini sudah mengangkat setengah gaunku agar tak kuinjak.

“Lalu memangnya kalau ahjussi mengamuk?” Aku rasa memang sekali-kali Woobin oppa memang harus diberi pelajaran, karena aku tidak bisa mengamuk kepadanya dan mengatakan jika aku sangat tidak suka jika dia bermesraan dengan sekretaris nakal itu.

“Ahjussi akan membatalkan pertunangannya denganmu,” Key berusaha untuk tidak berteriak lagi. Namun kini rasanya aku yang ingin berteriak. “Mwo?!” Kurasa harusnya aku senang jika pertunangan dibatalkan. Mungkin Woobin oppa memang benar-benar ingin memutuskan pertunangan ini sehingga dia tak akan menampakkan dirinya malam ini.

“Selamat datang di acara ulang tahunku. Kurasa sebenarnya aku sudah terlalu tua untuk merayakan ulang tahunku secara besar-besaran seperti ini,” Aku mendengar suara Kim ahjussi yng membahana di seluruh ruangan. Badanku rasanya menegang, bagaimana jika memang Woobin oppa tak muncul?

“Jihyo!” Key mencubitku, ia memberikan isyarat untuk berbalik dan melihat ke arah panggung.

“Appaku adalah salah satu orangtua yang tidak merasa jika sebenarnya umurnya sudah cukup untuk bersenang-senang di rumah bermain dengan cucu,” Aku bisa mengenali suara berat itu. Woobin oppa.

“Namun sayangnya, beliau memiliki dua anak yang keras kepala, yang lebih ingin membesarkan perusahaan yang sudah dipimpin oleh appa selama bertahun-tahun ketimbang memberikan cucu untuknya,” Woobin oppa tertawa dan diikuti oleh seluruh tamu yang rata-rata adalah rekan bisnis, para orang kaya, dan selebritis papan atas di negeri ini.

Aku menghela napas panjang saat melihatnya berdiri di atas panggung. Kurasa aku memang belum siap untuk kehilangan dirinya.

Aku memandang ke arah panggung, Kim ahjussi menggandeng Kim ahjumma menuju ke tengah ballroom. Aku tau momen ini, setiap tahunnya, setiap ulang tahun Kim ahjussi, pasanangan tersebut akan berdansa dan diikuti dengan tamu-tamu lainnya. Menurut Kim ahjussi, momen dansa itu mengingatkan saat ia melamar Kim ahjumma.

“Well, the time has come,” Key berbicara sendiri. “Kau mau berdansa atau tidak?”

“Menurutmu, dengan kakiku yang seperti ini dan aku menggunakan stileto yang amat runcing ini aku bisa berdansa?” Aku setengah mendorong Key ke depan. “Sana, cari yeoja yang manis dan cerdas yang bisa kau ajak berdansa!”

Setelah berkali-kali aku mengucapkan kalimat ‘Gwenchana, Kim Kibum. Aku tidak akan diculik alien jika kau meninggalkanku sebentar untuk berdansa’ akhirnya Key pergi. Aku tidak tau dia berdansa dengan siapa. Namun kukira, selama hidupnya, ia perlu mencari pasangan dansa di hari ulang tahun Kim ahjussi selain diriku.

“Kukira kau tidak akan datang ke pesta ini,” Seunghyun sajangnim seperti biasa muncul di belakangku. Untuk orang yang satu ini, aku sudah tidak akan kaget kalau dia muncul tiba-tiba untuk kesekian kalinya.

“Bagaimana mungkin aku melewatkan pesta dengan banyak namja tampan dan kaya raya seperti ini,” aku menyisipkan sedikit nyinyiran di kalimatku. Namun seketika rasanya ada palu yang menghantamku, aku teringat jika aku sedang berbicara dengan bos ku.

“Lalu, apa kau mau berdansa dengan namja tampan dan kaya raya?” Seunghyun sajangnim menyodorkan tangannya kepadaku. Aku hanya bisa memandanginya, aku ingin bilang kalau tadi aku bercanda dan aku saat ini tidak bisa berdansa karena kakiku belum sembuh benar. Namun karena aku sudah hapal betul sifat bos ku yang suka sekali memaksa ini, aku jadi bingung sendiri bagaimana cara mengatakannya.

“Kakimu belum sembuh?” Kurasa suara musik yang mendayu-dayu ini membuat pendengaranku sedikit salah, kurasa tadi aku mendengar sedikit nada kecemasan dari ucapannya.

“Gwenchana, sajangnim,” Aku hanya bisa menyengir saat ia memelototiku, aku lupa dengan perjanjian konyol itu. “Oppa.”

Seunghyun oppa mendekatiku, tangan kirinya merangkul pinggangku dan tangan kanannya meraih tangan kananku. Ia menuntunku perlahan memasuki area dansa, bergabung dengan orang-orang laiin mengikuti alunan musik melankolis ini.

“Kau harus melatih kakimu atau tidak kau tidak akan bisa bekerja dengan maksimal,” ujar Seunghyun oppa. Untuk sejenak tadi aku merasa jika bos ku ini sangat gentleman karena tiba-tiba berdansa denganku, tapi kiini aku sadar jika dia benar-benar ingin memaksaku untuk bisa bekerja secara maksimal karena seminggu kemarin aku selalu menggunakan alasan kakiku yang terkilir agar tidak masuk kerja.

“Ne, oppa,” Aku menjawabnya setengah hati. Nasib sekali memang punya bos seperti ini. “Oiya, kau datang dengan Jinhyuk oppa?”

Seunghyun oppa menatapku dengan tatapan aneh yang belum pernah aku lihat sebelumnya, dia mendekatkan wajahnya kepadaku. “Kau tau jika aku tidak suka kau terus membahas Jinhyuk hyung saat kau bersamaku?”

“Permisi,” Jongsuk oppa menginterupsi. “Cho Seunghyun-ssi, apa boleh aku berdansa dengan Jihyo?” Seunghyun oppa melepaskan tangannya dan mempersilahkan Jongsuk oppa. “Kurasa kau harus benar-benar memeganginya, Lee Jongsuk-ssi, dia sedang tidak bisa menggunakan kakinya dengan baik.”

“Aku tau,” balas Jongsuk oppa yang langsung menggenggam tanganku dan mulai melangkahkan kakinya berdansa. “Choi Jihyo, kau tau apa yang kau lakukan?!”

Aku menggeleng, “Aku hanya berdansa dengan Seunghyun oppa saja kok.” Sungguh, aku tidak tau apa yang salah dengan tindakanku tadi.

“Hah, aku benar-benar tidak mengerti dengan kalian berdua. Lihat di atas panggung,” Jongsuk oppa memutar badanku agar aku bisa melihat ke arah panggung.

“Hanya ada Woobin oppa, sendirian,” jawabku. Jongsuk oppa mengadu jidatnya dengan jidatku. “Ouch! Oppa! Sakit!”

“Choi Jihyo tersayang, sejak tadi Woobin mengawasimu dan kau tau? Ekspresinya berubah saat melihatmu bersama dengan Seunghyun-ssi,” Jongsuk oppa menghela napas berkali-kali seolah hidupnya sangat berat.

Aku memandangi Woobin oppa yang kini melangkah turun dari panggung. Apa iya Woobin oppa sejak tadi memperhatikanku? Apa dia cemburu jika aku berdansa dengan Seunghyun oppa? Kurasa tidak. Kurasa dia tidak suka jika sahabatnya berdansa dengan yeoja yang sangat ia benci.

“Aku sudah tidak mengerti lagi dengan kalian berdua,” suara Jongsuk oppa menyadarkanku dari lamunan. “Kemana Woobin?”

Aku menggeleng.

“Anak itu benar-benar! Dia tidak tau apa jika saat ini nasibnya sedang berada di ujung tanduk? Awas saja jika dia berbuat macam-macam!” Jongsuk oppa menarikku menjauh dari area dansa. Aku tau apa yang dibicarakan Jongsuk oppa. Perkara mengenai pembatalan pertunangan jika Woobin oppa berbuat macam-macam.

Aku dan Jongsuk oppa menemukannya sedang bermesraan dengan seorang yeoja, kurasa ia seorang selebritis. Jongsuk oppa langsung menarik sahabatnya dari pelukan yeoja itu. “Maaf, aku ada perlu dengan Woobin,” ucap Jongsuk oppa pada yeoja itu.

“Ya! Apa yang kau lakukan hah?” suara Woobin oppa berteriak dan mendorong Jongsuk oppa.

“Kim Woobin, kau mabuk! Aish anak ini!” Jongsuk oppa kembali mendekati Woobin oppa dan menariknya menjauhi yeoja itu yang kini aku kenali sebagai Soonhee, seorang host variety show yang sedang naik daun.

“Ada apa ini?” Yuna unnie mendatangi kami, ia menatap murka adik satu-satunya. “Aku sudah tidak mengerti lagi apa yang kau inginkan, Woobin. Jongsuk, bawa dia keluar dar tempat ini sebelum appa dan eomma melihatnya!”

Jongsuk oppa susah payah membawa paksa Woobin oppa keluar dari ruangan. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan saat inni. “Jihyo, tolong bantu Jongsuk yah. Kau tau kan apa yang bisa terjadi jika Woobin dalam keadan mabuk?” ujar Yuna unnie.

Aku langsung teringat kejadian saat Woobin oppa dan Jongsuk oppa baru saja selesai mengikuti upacara kelulusan SMA. Mereka berdua minum-minum hingga mabuk, dan saat itu Woobin oppa lepas kendali menghajar pemmilik bar yang berusaha menghentikannya untuk tidak minum lagi. Jongsuk oppa melerai pertikaian itu. Namun sayangnya, malah Woobin oppa yang tidak terima dan malah berbalik menghajar Jongsuk oppa.

Aku segera mengejar Jongsuk oppa dan Woobin oppa dengan kecepatan lari yang sudah amat maksimal. Namun terlambat, mereka berdua sudah bergelut di depan lift.

“Oppa, hentikan!” Aku menarik Jongsuk oppa sekuat tenaga, wajahnya terlihat lebam dimana-mana. Woobin oppa berusaha menghampiri Jongsuk oppa untuk memberikan pukulannya lagi, namun ia berhenti saat melihatku berdiri di depan Jongsuk oppa. “Kau Kim Woobin! Berhenti!”

Aku tidak percaya sama sekali jika ucapanku masih memiliki efek untuk menghentikannya memukul Jongsuk oppa. Diantara semua orang yang hidup di dunia ini, Jongsuk oppa dan Woobin oppa dalam keadaan mabuk sekalipun akan tetap mendengarkan perkataanku. Namun itu dulu, sebelum tiba-tiba Woobin oppa menjauhiku, pergi ke Amerika, dan tiba-tiba dalam keadaan marah karena pertunangan ini.

“Jongsuk oppa, sebaiknya kau pulang saja ya?” Aku sedikit memaksa dia agar segera pulang. Aku paling tidak bisa melihat wajah tampan Jongsuk oppa terlihat mengerikan seperti itu.

“Tapi Jihyo, dia bisa saja memukulmu atau melakukan hal yang membahayakanmu!” Jongsuk oppa bersikeras untuk tidak meninggalkanku sendirian dengan Woobin oppa.

“Gwenchana, aku bisa mengatasinya. Aku janji begitu aku sampai di apartemennya, aku akan menghubungimu,” ucapku. Jongsuk oppa setengah hati menyanggupi. Ia hanya membantuku membopong Woobin oppa hingga ke dalam mobil Woobin oppa.

“Hati-hati, Hyonnie. Kabari aku saat kau sampai di apartemen Woobin,” Jongsuk oppa mengacak-acak rambutku dengan cepat dan menyuruhku segera pulang membawa Woobin oppa ke apartemennya.

Aku memacu mobil Woobin oppa dengan kecepatan agak diluar batas. Sesekali aku melirik ke sampingku, ia tak bergerak sama sekali, kurasa ia tidur. Untungnya jarak ke apartemen Woobin oppa hanya sekitar 10 menit.

Tak berapa lama aku sudah bisa melihat gedung apartemen Woobin oppa. Aku segera memarkirkan mobilnya dan membuka pintu penumpang depan.

“Oppa, sudah sampai,” Aku menariknya keluar dari mobil. Duh, seharusnya aku tadi mendengarkan Jongsuk oppa, dengan keadaan kakiku seperti ini, sedikit mustahil memapah Woobin oppa hingga selamat sampai di kamarnya.

Aku melingkarkan lengan Woobin oppa ke pundakku dan berjalan perlahan. Kurasa aku sudah berjalan selama lima menit untuk sampai ke depan lift. Beegitu pintu lift terbuka, aku segera memencet tombol angka 7. Woobin oppa terus saja bergumam yang tidak dapat aku dengar secara jelas, jelas sekali ia sudah mabuk parah. Anehnya, aku tidak mencium bau alkohol apapun dari tubuhnya, aku hanya bisa mencium secara jelas wangi parfum yang biasa ia gunakan.

Saat pintu lift terbuka, aku sudah dalam keadaan menyeret tubuh Woobin oppa menuju ke kamarnya. Aku mengambil kunci dari saku jasnya dan segera membawanya ke tempat tidurnya.

“Aish, mengapa kau berat sekali sih oppa,” Aku memandanginya yang tertidur pulas di tempat tidurnya. Dia selalu terlihat tampan, bahkan dalam keadaan seperti ini.

Tiba-tiba dering smartphoneku memecah konsentrasiku yang sedang memandangi keindahan namja di hadapanku. Dering theme song Darth Vader, salah satu tokoh utama di Star Wars semakin berbunyi keras. Hanya ada satu orang yang aku pasangkan nada dering itu smartphoneku, Choi Seunghyun.

“Jangan,” Woobin oppa tiba-tiba saja menggenggam tanganku, seolah-olah melarangku mengangkat telpon dari Seunghyun oppa. “Jangan pergi, jangan pergi”.

Aku terduduk di sampingnya, mengelus rambutnya. Aku seperti tidak percaya jika ia melarangku untuk meninggalkannya. Ini seperti kesempatan langkah bisa berduaan dengannya, mengelus rambutnya seperti ini, memandangi setiap lekuk wajahnya sedekat ini.

“Jangan pergi, jangan pergi,” Woobin oppa terus mengatakan hal itu. “Jangan pergi, maafkan aku, Jane.”

Jane? Aku langsung melepaskan paksa genggaman tangannya dari tanganku. Siapa itu Jane? Yeoja mana lagi yang kini ada di dalam mimpinya? Tanpa sadar aku tak bisa menahan airmataku. Ppabo! Jihyo Ppaboya! Kenapa kau menangis padahal kau tau jika kau memang tidak bisa mendapatkan cinta dari namja ini, hah?

Smartphoneku berdering lagi, tulisan Master Choi nampak di layar smartphoneku.

“Yoboseyo,” Suaraku serak dan tangisanku yang tak dapat kubendung menjadi satu. Aku saat ini merasa sangat bodoh menjawab telpon dari bosku dalam keadaan seperti ini.

“Kau dimana?” tanya Seunghyun oppa. Aku hanya diam, terus menggeleng agar aku tidak mengatakan jika aku sedang ada di apartemen Woobin oppa.

“Choi Jihyo, kau dimana?” desak Seunghyun oppa. Aku tak menjawab, malah tangisanku semakin kencang yang aku yakin sangat bisa didengar olehnya.

Seunghyun oppa mematikan sambungan teleponnya. Aku tertatih keluar dari apartemen Woobin oppa. Aku terus merutuki diriku sendiri yang bodoh ini. Bagaimana bisa aku terus menangis histeris memikirkan seorang namja yang bahkan tidak dalam keadaan sadar sama sekali dengan kehadiranku?

Smartphoneku berbunyi lagi, kini ada pesan masuk.

Choi Jihyo, tunggu di sana. Jangan kemana-mana. Aku akan menjemputmu.

Ini perintah.