Aku memandangi jam tanganku, satu menit lagi jam tanganku akan menunjukkan pukul 08.00 pagi, pasti sebentar lagi bos kesayanganku itu akan segera muncul membuka pintu ruangannya.

Daaaaaan, betul! Seunghyun sajangnim muncul sambil menenteng iPad nya, ia bahkan tidak melihat aku yang sejak tadi menunggunya di dekat ruangannya. Ia malah langsung masuk ke ruangannya.

“Sajangnim?” Aku membuka pintu ruangannya dan memasang tampang karyawan berprestasi. “Boleh masuk?”

“Kau sudah datang sepagi ini?” ujar Seunghyun sajangnim tanpa melihatku, matanya tak lepas dari layar iPadnya. “Oh, matamu tidak terlihat bengkak.” Kini perlahan ia melepaskan pandangannya dari layar iPadnya menuju ke wajahku.

“Itu dia masalahnya, sajangnim,” Aku

menutup pintu ruangan sajangnim. “Masalahnya mengapa kau memasang aplikasi pelacak ke smartphoneku, SAJANGNIIIIM?”

“Apa hubungannya pertanyaanku mengenai matamu yang tidak bengkak dengan aplikasi pelacak di smartphoneku?” Seunghyun sajangnim memasang tampang tak berdosa. Aku tidak akan kalah hanya karena ia memasang tampang tampannya yang pura-pura tulus tak berdaya seperti itu.

“Mataku tidak bengkak karena aku tidak menangis lama. Mengapa aku tidak menangis lama? Karena aku sadar jika kau memasang aplikasi pelacak di smartphoneku!” Aku tau aku tidak seharusnya marah-marah ke atasanku. Namun ini keterlaluan, aku akan mengadu ke Dewan Pekerja Perusahaan!

“Kalau aku tidak menggunakan pelacak itu, mungkin aku tidak akan bisa menjemputmu dan kau akan menangis semalaman. Lalu matamu bisa bengkak lagi dan kau akan jadikan alasan tidak masuk kerja hari ini,” Seunghyun sajangnim beranjak dari kursinya dan menghampiriku. “Lagipula, smartphone itu aku yang berikan kepadamu, Sekretaris Choi. Jadi smartphone itu bagaimanapun juga tetap milikku, arra?”

“Sajangnim,” Aku berusaha menata setiap kalimatku kini lebih sopan daripada aku dipecat. “Sajangnim kan sudah memberikan smartphone itu kepadaku, jadi bukankah itu seharusnya sudah jadi milikku dan sajangnim seharusnya tidak memasang aplikasi pelacaknya,” Aku berbicara pelan-pelan agar aku tidak emosi. Namun sayang, melihat seringaiannya saja rasanya sudah membuatku emosi pada CEO Choi Enterprise.

“Apa aku pernah mengatakan bahwa smartphone itu gratis?” Seunghyun sajangnim semakin mendekat padaku, aku praktis melangkah mundur belakang.

“Tidak pernah, sajangnim,” Aku merutuk diriku sendiri tidak berpikir panjang saat aku ingin protes ke Seunghyun sajangnim mengenai aplikasi pelacak ini.

“Bagus,” Seunghyun sajangnim meletakkan telapak tangannya di kepalaku. “Ada keluhan lain Jihyonnie?” Ia tersenyum, anehnya kali ini aku merasa dia sangat tampan tersenyum setulus itu.

“Tidak ada sajangniim,” Baru saat ini, aku sekuat tenaga melawan pesona bos ku yang menyebalkan ini.

“Kalau tidak ada keluhan lain, bereskan mejaku. Pilih dokumen-dokumen apa saja yang penting,” Seunghyun sajangnim memutar kenop pintu dan melenggang keluar. Aku hanya bisa menganga tidak percaya dengan perkataannya tadi. Aku disuruh membereskan mejanya? Dasar keterlaluan!

Aku bersungut-sungut mendatangi meja Seunghyun sajangnim. Haduh, sepertinya dia selalu menyuruhku membuat semua presentasi dan dokumen dalam bentuk softcopy. Darimana pula datangnya kertas-kertas ini?

Aku tak bisa bertahan lama membereskan tumpukan kertas itu, mataku tertuju pada salah satu sudut meja Seunghyun sajangnim. Berdiri tegak frame foto dengan latar belakang sebuah gedung, sepertinya itu gedung kampus. Namun yang membuat seluruh perhatianku melihat foto tersebut bukanlah karena gedung tersebut, namun tiga orang yang berada di depan gedung tersebut.

Selama ini, Seunghyun sajangnim selalu berkata jika dirinya dan Woobin oppa bersahabat. Namun, sejujurnya, saat aku pertama kali melihat mereka berdua berada di tempat yang sama, aku tidak merasakan adanya keakraban diantara mereka, hingga saat ini.

Berbeda dengan kedua namja di foto tersebut, mereka berangkulan, tertawa lepas, mengapit seorang yeoja yang sepertinya adalah orang Amerika atau Eropa. Rambut brunettenya kontras dengan kulitnya yang sangat putih. Apakah yeoja itu-

Getaran di saku rok ku menghentikan sejenak dugaan yang berkecamuk di kepalaku akan yeoja itu. Aku merogoh saku dan mengambil smartphoneku. Ya ampun, Kakao message dari Key. Dia itu sebenarnya kerja tidak sih?

Jihyo, kau harus liat berita ini, A.S.A.P

Aku mengklik link berita yang diberikan oleh Key. Dan, memang benar pesan dari Key, aku harus segera melihat berita ini. Ada foto Woobin oppa sedang bermesraan dengan Soonhee dan di foto satunya ada aku yang sedang membopong Woobin oppa ke dalam mobil. Judul artikel itu membuatku bergidik hingga aku tidak mau mengingatnya.

Aku menekan nomer handphone Key yang sudah sangat aku hapal. “Key, apa-apaan itu?!”

“Ya! Harusnya aku yang bertanya apa-apaan itu!” Aku langsung menjauhkan smartphoneku dari telinga karena teriakan Key yang lebih mirip seperti seorang eomma yang sedang mememarahi anaknya.

“Aku tidak tau kalau ternyata seperti ini jadinya. Lagipula aku kan hanya mengantarkan Woobin oppa ke apartemennya!” Apa sih salahku, aku kan tunangan (gelap)nya. Kalau ada pihak yang harus disalahkan, harusnya si selebritis itu!

“Kau tau, ini akan menjadi skandal besar kalau Soonhee si diva itu berbicara yang tidak-tidak. Tidak ada yang bisa aku lakukan, Woobin hyung baru saja berangkat ke Inggris,” Key terus saja menyerocos tak karuan. Apa? Woobin oppa ke Inggris? Dia pergi begitu saja saat tiba-tiba ada berita besar tentang dirinya.

“Hyonnie, kau terlibat masalah besar kali ini. Mulai hari ini, berhati-hatilah. Setiap gerak-gerikmu akan diawasi oleh para paparazzi, okay?”

“Key, aku bukan selebritis atau chaebol. Aku tidak mau diikuti paparazzi,” Aku merasa ngeri sendiri. Jika saja Siwon oppa ada di sini, dia bisa jadi bodyguardku dengan ilmu taekwondonya itu. Kenapa sih dia malah memilih menetap di Amerika, huhuhu.

“Jihyo,” suara Seunghyun sajangnim membuat aku refleks mematikan sambungan teleponku dengan Key. Dia seperti biasa, muncul tiba-tiba.

“Ne, sajangnim?” Aku melirik iPad yang dia genggam. Apa jangan-jangan Seunghyun sajangnim sudah membaca berita yang beredar? Bagaimana kalau aku dipecat gara-gara itu?

“Kau sudah membereskan mejaku?” Dia memandangi mejanya yang baru saja dibersihkan setengah dari tumpukan kertasnya.

“Masih belum selesai sajangnim, masih setengah lagi, hehe,” Jujur itu pangkal disayang oleh bos. Itu mottoku, walaupun lebih banyak tidak ada hasilnya hahaha.

“Tidak usah, siapkan presentasi untuk siang nanti,” ujar Seunghyun sajangnim sambil merapikan dokumen-dokumen yang ada di mejanya. WHAT? Kalau dia bisa merapikan mejanya sendiri, mengapa menyuruhku sih.

“Ne sajangnim,” Aku melangkah keluar dari ruangannya. Baru saja aku menutup pintunya, dering smartphoneku terdengar. “Yoboseyo sajangnim?”

“Aku tidak suka kau memasangkan theme song Darth Vader itu untukku,” ucapnya cepat dan langsung mematikan sambungan teleponnya. Aku tertawa, kadang sajangnim ku ini memang seperti anak kecil.

+++

Apa ini hanya perasaanku atau aku yang memang sedang diikuti? Aku melihat jam tanganku, ini baru jam 5 sore. Kalau ada apa-apa, aku bisa berteriak dan masih banyak orang yang pulang kerja lewat jalan ini.

Harusnya aku memang lebih hati-hati jika berurusan dengan Kim Woobin. Aku lupa jika dia adalah pewaris salah satu perusahaan terbesar di negeri ini. Aku lupa jika popularitasnya sangat tinggi, apalagi dikalangan para yeoja khususnya para selebritis.

“Tolong!” Aku berteriak saat ada seseorang yang menarikku menuju lorong kecil, teriakanku dihentikan dengan bungkaman tangannya. Jantungku berdegap sangat cepat. Seingatku Key mengingatkanku untuk berhati-hati dengan paparazi, bukan dengan penculik.

“Kau berteriak sangat kencang,” bisik orang yang sedang membungkamku, aku kenal dengan suara ini. “Kau tau, paparazzi itu bisa mendengarmu dan menciptakan skandal baru?” Aku bisa merasakan hembusan napasnya menyapu leherku, aku berbalik dan menemukan seorang namja dengan turtleneck sweater biru navy dan topi yang memberikan senyum mengerikannya kepadaku.

“KAU TAU, INI TIDAK LUCU!” Aku menginjak kakinya dengan sekuat tenaga dengan high heelsku ini. Aku tidak mengerti apa maksudnya tiba-tiba datang menyergapku seperti penculik.

“Mianhae,” baru kali ini aku mendengar kata itu keluar dari mulut Kim Woobin. Baiklah, aku memang mudah luluh hanya karena satu kata seperti itu saja.

“Kau, bukannya sedang di Inggris?”

Woobin oppa tidak menjawab pertanyaannku, dia meraih jemariku dan menggenggamnya, lalu menuntunku berjalan keluar dari lorong. “Bersikaplah senatural mungkin agar para paparazzi itu percaya.”

Jika ada orang yang bertanya bagaimana perasaanku saat ini, mungkin seperti sedang berada di jet coaster. Kau tau, ada rasa senang tidak terkira, dan di sisi lain kau takut dan ingin segera permainan ini berakhir, namun begitu permainan kereta behenrti melaju, kau akan sadar bahwa kau menyukai permainan seekstrim itu dan tidak ingin pergi.

“Oppa,” Aku tak berani menatapnya langsung, aku takut jika wajahku yang bersemu merah ini terlihat olehnya. “Bukankah kau sedang keluar negeri?” Ak menanyakan hal itu sekali lagi.

“Aku hanya mengelabuhi para paparazzi itu,” Woobin oppa terdengar malas menjawab pertanyaanku. “Kau tidak baca artikel lengkapnya?”

Aku menggeleng.

“Namja yang terlihat seperti pewaris tahta kekayaan Kim Group, Kim Woobin, terlihat memasuki mobil bersama yeoja lain. Sesaat sebelumnya, ia tertangkap bermesraan dengan selebritis A-List, Soonhee,” ujarnya mengutip salah satu artikel. “Kau tau, namja yang terlihat, mirip,” Woobin oppa menekankan kata ‘mirip’ kepadaku.

Aku mengerti maksudnya, semua paparazzi sudah memberitakannya bahwa ia pergi ke Inggris, sedangkan di hari yang sama, Woobin oppa akan tertangkap kamera sedang berjalan bersamaku. Tentu saja tidak akan ada orang yang sama dalam dua tempat yang berbeda yang jaraknya beribu-ribu kilometer.

Sepanjang kami berjalan pulang, aku tak lagi mengatakan satu hata pun kepadanya. Aku tidak sampai sejauh itu memikirkan rencananya seperti ini. Aku sadar jika dia memang benar-benar tidak ingin dunia mengetahui jika aku dan dirinya bertunangan. Mungkin saja karena memang dia benar-benar mencintai Soonhee, atau memang dia hanya tidak ingin statusnya sebagai casanova jatuh begitu saja karena bertungan dengan yeoja kebanyakan sepertiku.

“Aku lapar,” ujarnya memecah kesunyian. Dia menarikku mengikutinya memasuki sebuah convenience store dan segera melepaskan genggaman tangannya dariku.

“Kau mau apa?” ujarnya, aku menggeleng. Aku tidak lapar, tidak haus, tidak ingin apa-apa. Aku hanya ingin dia terus berada di sampingku, tidak melepaskan genggaman tangannya dariku.

Aku melangkahkan kakiku untuk menuju tempat duduk, aku masih bisa melihat dari kaca convenience store, para paparazzi itu bersembunyi agar tdak terlihat dariku dan Woobin oppa. Apa mereka saat ini sedang bingung menebak-nebak siapa namja yang sedang bersamaku? Atau penyamaran Woobin oppa yang hanya menutupi wajahnya dengan topi sangat mudah mereka tebak?

“Ini,” Woobin oppa menyodorkan cup ice cream dan french fries ke hadapanku. Aku tersenyum melihatnya. “Gomawoyo, oppa,” tanpa sadar aku mengucapkan kata terima kasih dengan mode aegyo full.

“Hah, kau ini masih saja suka makanan aneh seperti ini,” ujarnya duduk sambil membuka cup ramyunnya.

“Ini tidak aneh,” aku menyendok ice cream vanilla kesukaanku dengan french fries, lalu memakannya. Baru saja aku mau memasukkan lagi satu french fries ke dalam mulutku, namun otakku mengetuk-ngetuk sejenak, bertanya bagaimana bisa Woobin oppa mengingat makanan kesukaanku sejak kecil ini.

“Kau tau, mana ada orang di dunia yang punya kesukaan aneh sepertimu? French fries seharusnya tetap bersama saus tomat,” Woobin oppa menyeruput ramyunya dengan cepat.

“Ada banyak orang di dunia ini yang suka memakan french fries dengan ice cream,” Aku paling tidak mau kalah kalau berdebat mengenai ice cream dan french fries ini. “Daripada kau. Ususmu sejak kecil sudah keriting karena terobsesi dengan ramyun,” aku menjulurkan lidahku.

“Ramyun itu makanan terenak yang pernah aku makan,” ujar Woobin oppa dengan mulut yang penuh dengan ramyun. Namun aku tidak terlalu memberi perhatian pada ucapannya. Aku tersentak saat mendengar lagu kesukaanku diputar.

“Saranghagi ttaemune!” ujarku bersemangat.

Woobin oppa sejenak memandangku dengan tatapan aneh, aku tidak bisa mendeskripsikan apa yang sebenarnya dia pikirkan. Namun aku dengan cepat memberikan petunjuk sambil mengunjukkan jari telunjukku ke udara. “Ini lagu Saranghagi ttaemune versi Super Junior, Yesung oppa, Ryeowook oppa, dan -”

“Bisa tidak kau diam? Aku sedang makan,” Woobin oppa memelototiku. Aku tau dia kesal, tapi aku tidak peduli.

“Dan uri Sungminnie oppa~” ujarku sambil memasukkan beberapa french fries ke mulutku.

“Ya! Choi Jihyo!” teriaknya sambil memukul pelan tanganku. Aku tertawa. Dulu, aku ingat sekali saat Super Junior pertama kali debut. Aku selalu berteriak kepada seluruh orang di rumah dan orang-orang terdekatku jika aku menyukai Lee Sungmin, salah satu anggota dari boyband tersebut, dan suatu hari nanti aku akan menjadi istrinya.

“Waeyo, oppa?” Aku memberikan tatapan jahil kepada namja di hadapanku. Betapa anehnya aku kini merasa nyaman bersamanya, sama seperti kami kecil dulu, sebelum Woobin oppa tiba-tiba menjauh dariku.

“Lee Sungmin sudah menikah!” ujarnya cepat.

“Molla molla,” Aku menggelengkan kepalaku yang membuatnya semakin kesal. Aku ingat bagaimana kesalnya Woobin oppa dulu jika aku sudah mulai membicarakan idolaku itu. Dia akan membekap mulutku hingga aku berhenti mengoceh tentang Sungmin oppa.

“Apa menariknya sih memang, Lee Sungmin mu itu?”

“Banyaaaaak! Minnie oppa itu-” Aku hanya bisa melanjutkan kalimatku dengan gumaman, Woobin oppa sudah membekap mulutku dengan tangannya.

“What? Sorry, I can’t hear you, Jihyo,” Woobin oppa merasa dirinya sangat menang saat ini.

Aku baru saja berusaha melepaskan tangannya dari mulutku saat dering Darth Vader menggema dari smartphoneku yang tergeletak di meja. Saat aku mau mengangkat telepon, Woobin oppa dengan cepat menyentuh layar smartphoneku dan memutuskan sambungan telepon.

“Ya! Oppa!” Aku protes dengan tindakannya. Dia tidak tau apa kalau itu telepon dari Seunghyun sajangnim?

“Kemarin malam aku bermimpi aku mendengarkan lagu itu. Lagu itu menganggu tidurku,” ujarnya tanpa rasa bersalah. Apa Woobin oppa kemarin malam sadar jika smartphoneku berbunyi saat aku berada di kamar Woobin oppa?

Smartphoneku menyala kembali, dering Darth Vader itu semakin menggema, tanganku dengan kecepatan tinggi aku gerakkan untuk mengambil smartphoneku dari meja, namun sepertinya kecepatan tangan Woobin oppa melebihi kecepatanku, dia mengambilnya dan membaca nama penelpon di layar smartphoneku.

“Oppa, berikan smartphoneku!”

“Master Choi,” ujarnya membaca nama penelpon.

“Oppa, kemarikan! Itu telepon penting!” Aku geregetan melihatnya. Seunghyun sajangnim sudah beberapa kali menghubungiku, pasti ada yang penting.

“Jadi di perusahaanmu diperbolehkan jika bos dan sekretarisnya menjalin hubungan khusus?” sindirnya. Aku tidak percaya dia mengatakan hal seperti itu.

“Mwo? Kembalikan smartphonenya, cepat!” Apa-apaannya dia? Berani-beraninya dia menuduhku seperti itu. Apa dia tidak sadar bahwa dirinya lah yang menjalani hubungan khusus dengan sekretaris menyebalkannya itu!

Dan tindakannya kali ini tidak bisa aku percaya. Woobin oppa dengan tampang tidak berdosa menjatuhkan smartphoneku ke dalam kuah ramyunnya.

“Oppaaaaa!” aku bangkit dari tempat dudukku dan memukul pundaknya bertubi-tubi dengan kesal. Anehnya, aku tidak merasa Woobin oppa kesakitan, ekspresi wajahnya dan tawanya malah mengatakan sebaliknya.