Sudah dua hari ini Seunghyun sajangnim bersikap aneh, mmh, bukan aneh juga sih, seharusnya aku bahagia. Dua hari ini, dia tidak memerintahkanku untuk yang aneh-aneh. Dia juga selalu membicarakan perkara pekerjaan, tanpa membicarakan hal yang lain.

Seharusnya aku senang, namun kenyataannya tidak. Aku tau mengapa dia bersikap seperti ini.

“Sajangnim,” Aku mendapatinya sedang memegang frame photo yang ada di mejanya. “Sajangnim ada meeting dengan Lee Corp. pukul 10.00 nanti.”

Aku bisa melihat

wajahnya menegang saat melihat kehadiranku. Dia hanya menganggukkan kepalanya, memberi isyarat dengan tangannya bahwa sebentar lagi dia akan berangkat menuju kantor Lee Corp. Aku tetap berdiri di depan pintu ruangannya, menunggunya untuk berbicara sesuatu.

“Sekretaris Choi, kau sudah boleh keluar,” ujar Seunghyun sajangnim tanpa memandangku. Kurasa aku harusnya mengikuti perintahnya, namun, aku memberanikan diri untuk mengabaikannya. Aku masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu.

Kurasa ia menyadari aku tidak keluar dari ruangannya, ia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju ke depan mejanya. Kini aku mendapatkan perhatiannya secara penuh.

“Ada yang mau kau bicarakan?” tanyanya sambil menyenderkan tubuhnya ke meja.

“Aku,” otakku lama sekali memilih padanan kata yang tepat untuk menyampaikan ke bos ku bahwa smartphonenya rusak gara-gara Kim Woobin. “Aku minta maaf sajangnim karena tidak mengangkat teleponmu sore itu.”

Seunghyun sajangnim melipat kedua tangannya di depan dada, dia menatapku dengan tajam. “Kau tau kalau kau bisa saja aku pecat?”

Aku mengangguk.

“Bagus, kalau begitu, keluar dari ruanganku sekarang.”

“Oppa,” Aku tau memanggilnya dengan sebutan itu melanggar aturan yang ia tetapkan. Namun, kurasa ini bukanlah mengenai urusan pekerjaan. “Smartphone yang kau berikan rusak, maksudku, smartphone itu jatuh ke air dan hingga saat ini masih belum bisa dihidupkan.”

“Kau boleh keluar sekarang, Sekretaris Choi,” ia mengulang kalimatnya lagi tanpa ada ekspresi apapun “Dan kau tidak usah ikut ke kantor Lee Corp.”

Seunghyun sajangnim sepertinya marah besar kali ini, mungkin jika aku semakin memaksakan untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya aku akan langsung dipecat di tempat, saat ini juga.

+++

Sudah sejak dua hari lalu, Woobin oppa selalu datang untuk menjemputku, tentu saja lengkap dengan segala perlengkapan penyamarannya. Aku tidak mengerti mengapa para paparazzi itu tidak berhenti mengikutiku. Key pun semakin hiperaktif menanyakan bagaimana keadaanku, siapa namja bertopi yang selalu bersamaku (Oiya, Key tau mengenai sang namja bertopi itu dari berbagai artikel online) dan betapa menggilanya Soohee mencari perhatian berbagai media.

Smartphone pribadiku bergetar, satu pesan masuk. Aku melihat jam yang terpampang di layar smartphoneku, pukul 16.50. Hanya ada satu orang yang beberapa hari ini mengirim sms padaku tepat di sore hari.

Kau akan pulang seperti biasa?

Aku membalas pesan dari Woobin oppa dengan hati-hati, agar aku tidak membalas dengan kalimat yang terlalu membuatnya tidak nyaman dan menyadari jika sebenarnya aku sangat senang jika setiap sore dia selalu menjemputku seperti ini.

Ne, oppa.

Baru saja aku menyentuh layarku untuk mengirimkan pesan balasan, hanya selang beberap detik saja, Woobin oppa sudah mengirimkan pesannya lagi.

Baiklah, tunggu aku di tempat biasa

Aku tersenyum sendiri membacanya. Jika aku saat ini tidak di kantor, mungkin aku akan berjingkrak kegirangan. Namun setengah dari pikiranku masih bersama bos menyebalkanku itu. Hingga saat ini, dia belum kembali dari kantor Jongsuk oppa. Atau jangan-jangan malah dia tidak kembali lagi ke kantor? Huh, lagipula aku kan sekretarisnya, kenapa dia tidak memperbolehkanku ikut ke kantor Jongsuk oppa sih?

Aku hampir saja ingin menekan nomer teleponnya dan menghubunginya, tapi bagaimana jika Seunghyun sajangnim masih rapat dengan Jongsuk oppa? Arrrrggghhh, bos ku ini sungguh membuatku pusing!

“Sudah ah, masa bodoh dengan Choi Seunghyun, aku mau pulang,” tanpa sadar aku berbicara sendiri. Bukankah lebih baik memikirkan Woobin oppa daripada Seunghyun sajangnim? Tapi sama saja sih, kedua namja itu membuat migrainku langsung kambuh kalau memikirkan mereka terlalu lama.

Aku berjalan keluar dari gedung kantor menuju lorong kecil di samping toko roti tempat untuk bertemu dengan Woobin oppa. Namun dari kejauhan, aku melihat seseorang berpakaian formal lengkap dengan jas hitamnya berjalan lunglai ke arahku. Itu bukannya Seunghyun sajangnim?

Kakiku refleks menuruti otakku untuk berjalan lebih cepat. Ini aneh, bukankah dia seharusnya naik mobil? Maksudku, jarak tempuh dengan menggunakan mobil saja dari kantor Jongsuk oppa hingga ke sini memerlukan waktu setengah jam. Seunghyun sajangnim tidak berjalan kaki kan dari kantor Jongsuk oppa?

“Choi Jihyo,” gumam Seunghyun sajangnim dengan lemah. Ia menghentikan langkahnya begitu melihatku setengah berlari.

“Oppa,” Aku langsung panik begitu melihatnya dari jarak dekat. Wajahnya pucat, seluruh tubuhnya berkeringat. “Mobilmu mana?”

Seunghyun oppa tidak menjawab pertanyaanku, dia malah mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Smartphone yang sama persis dengan smartphone yang ia berikan kepadaku pertama kali.

“Aku sudah menginstall aplikasi pelacak yang sama di smartphone ini, bahkan aku mengunduh dering Darth Vader,” ujarnya sambil tertawa lemah.

Aku mengambil smartphone baru itu dari tangannya. Oh Tuhan, tangannya benar-benar dingin. Betul saja, Seunghyun oppa tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan jatuh ke pundakku.

“Oppa!” Aku perlu beberapa detik untuk menstabilkan pijakanku dan menahan tubuh Seunghyun oppa. Aku tidak tau apa yang terjadi padanya, namun yang terlintas pertama kali di pikiranku adalah membawanya ke rumah sakit terdekat. Aku melambaikan tangan menghentikan taksi dan membawa Seunghyun oppa ke rumah sakit.

“Ya ampun Choi Seunghyun, mengapa kau sampai seperti ini sih?” Aku mengelap keringat di wajahnya dengan sapu tanganku sepanjang perjalanan ke rumah sakit. Seunghyun oppa terus saja mengigau tidak karuan.

“Kau seharusnya menjawab teleponku,” igaunya berkali-kali. Kali ini dia sukses membuatku merasa bersalah tidak menjawab teleponnya saat itu. Lagipula ini semua salah Kim Woobin yang seenaknya menjatuhkan smartphoneku ke dalam kuah ramyun.

“Jane, kau seharusnya menjawa teleponku,” ucapan Seunghyun oppa seakan memukul keras kepalaku. Jane? Bukankah itu nama yang diucapkan saat Woobin oppa mabuk? Atau jangan-jangan dia yeoja yang ada di foto bersama Woobin oppa dan Seunghyun oppa?

Otakku tak bisa memproses siapa Jane yang dimaksud lebih jauh, taksi yang kami tumpangi sudah sampai di depan rumah sakit. Aku meminta tolong supir taksi untuk membantuku membawa Seunghyun oppa masuk ke dalam rumah sakit sebelum aku membayar ongkos taksi.

Seunghyun oppa langsung dibawa masuk ke UGD. Tak berapa lama, dokter keluar dan memberitahu jika Seunghyun oppa kekurangan cairan dan demam tinggi. Kemungkinan Seunghyun oppa bisa pulang setelah beristirahat sehari di rumah sakit.

Aku masuk ke ruangan Seunghyun oppa dirawat, tiba ternyata sudah sadar dan tersenyum kepadaku.

“Gomawo,” ujarnya lemah.

Aku tersenyum, setelah seharian ini, tidak, berhari-hari ini dia bersikap dingin kepadaku, akhirnya dia kembali pada Choi Seunghyun yang kukenal.

“Oppa, istirahatlah. Kalau kau menjadi anak baik, besok kau sudah boleh pulang.”

“Bagaimana aku bisa beristirahat jika kau terus mengocehiku seperti ini.” Baiklah, mungkin dia sudah kelewat kembali menjadi bos yang ku kenal, bos yang paling menyebalkan selama aku bekerja di Choi Enterprise.

“Ne oppa, kalau begitu aku pulang dulu,” Aku memanyunkan bibirku karena kesal. Bahkan Master Choi ini tidak berterima kasih padaku.

“Tunggu,” Seunghyun oppa meraih tanganku. “Kau boleh pulang kalau aku sudah tertidur,” Seunghyun oppa bergeser sedikit agar aku bisa duduk di ranjangnya. Dia meletakkan tanganku ke atas kepalanya. “Ini perintah,” ucapnya sambil memejamkan matanya.

Aku tidak tau entah keberapa kalinya aku melakukan perintah-perintah anehnya selama aku bekerja untukknya. Namun, untuk yang kali ini, aku melakukannya dengan senang hati karena aku tidak tega bosku tergeletak lemah di ranjang rumah sakit. Aku membelai rambutnya agar ia cepat tertidur.

“Oiya,” Seunghyun oppa masih saja berusaha berbicara walaupun matanya sudah terpejam.

“Wae?”

“Perusahaan kita memenangkan proyek dengan Lee Corp.”

“Aku sudah tahu,” jawabku singkat.

“Kau sudah tau?” Seunghyun oppa membuka matanya. “Dari Lee Jongsuk-ssi?”

Aku mengangguk penuh kemenangan. “Tentu saja Jongsuk oppa akan memberitahuku.”

“Ah,” Seunghyun oppa mendengus kesal. “Kim Group juga memenangkan proyek itu. Kurasa kau juga sudah tau.”

Aku mengangguk. “Sudah, tidurlah oppa.” Aku tidak mengerti mengapa dia masih terus mengoceh soal pekerjaan sedangkan sebelumnya berdiri saja dia tidak bisa.

“Lusa akan ada perayaan kemenangan proyek sekaligus melihat lokasi untuk proyek di Jeju,” Seunghyun oppa kembali memejamkan matanya, aku tau kelanjutan dari ucapannya.

“Ne, aku akan menemanimu ke Jeju. Ini perintah kan?”

Seunghyun oppa mengangguk pelan, dia tak bersuara lagi, mungkin sudah berjalan menuju alam mimpinya.

+++

Jam di rumahku berbunyi tujuh kali saat aku membuka pintu rumah. Aku menemukan appa, eomma, Kim ahjussi, dan Kim ahjuma sejak berkumpul di ruang tamu.

“Loh Jihyo, Woobin mana?” tanya Kim ahjuma saat melihatku masuk ke rumah sendirian. Apa? Woobin oppa? Aku kan pulang sendiri naik taksi dari rumah sakit sehabis mengantarkan Seunghyun oppa.

“Woobin bilang tadi ia akan menjemputmu di kantor,” timpal Kim ahjussi. Aku seketika memukul jidatku. Bagaimana aku bisa lupa jika aku berjanji pada Woobin oppa untuk pulang bersamanya? Apakah dia masih menungguku di lorong itu?

Aku langsung menyambar kunci mobil milik appa yang tergeletak di meja tamu dan langsung keluar rumah lagi tanpa menjelaskan apapun pada appa, eomma, Kim ahjussi dan Kim ahjumma. Duh Jihyo, mengapa kau tadi tidak mengabari Woobin oppa terlebih dahulu sih.

Selama perjalanan aku terus menghubunginya, namun Woobin oppa tidak menjawab teleponku. Apa mungkin dia tidak peduli denganku dan langsung pergi saat mengetahui aku tidak menunggunya di sana?

Begitu sampai di depan lorong aku langsung memarkirkan mobilku di pinggir jalan dan berlari kecill memasuki lorong, aku menyipitkan mataku agar bisa melihat di dalam lorong yang gelap itu. Namun sebelum mataku menyesuaikan dengan cahaya sekitar, Woobin oppa lebih dulu mendapatiku dan mendorongku dengan kencang ke tembok.

“Oppa, sakit,” Aku mengaduh kesakitan karena sikutku menghantam tembok dan kurasa agak lecet. Tangan Woobin oppa menekan pundakku dengan amat kencang hingga rasanya agar menimbulkan biru di kulitku. Kini mataku sudah beradaptasi dengan cahaya yang minim di tempat ini, dan aku bisa melihat mata Woobin oppa yang dipenuhi kekesalan, kemarahan, dan anehnya kurasa ada sedikit kesedihan di matanya.

“Aku sudah menunggumu sejak jam 5 sore tadi,” dari suaranya aku tau jika ia menggigil, dan aku merasa bersalah karenanya.

“Aku harus mengantar Seunghyun sajangnim dulu ke rumah sakit,” ucapku jujur. Woobin oppa langsung melepaskan tangannya dari pundakku. Ia mundur beberapa langkah dari hadapanku. Napasnya tersengal-sengal, namun aku tak bisa melihat jelas wajahnya karena ia menjauhiku.

“Kau ke sini naik mobil?” ucapnya lemah.

“Ne,” jawabku sambil berjalan menuju ke arah mobilku dan Woobin oppa mengikutiku dari belakang. Aku tidak berani menoleh ke belakang, aku tidak tahu bagaimana keadaan mood Woobin oppa saat ini. Terlalu mengerikan untuk sekedar bertanya apakah ia baik-baik saja atau tidak, karena kenyataannya, Kim Woobin tidak dalam keadaan baik-baik saja.

“Mengapa kau selalu memperdulikan Seunghyun?” suara Woobin oppa terdengar menyedihkan di telingaku. Apa dia menangis? Mana mungkin seorang Kim Woobin menangis karena hal seperti ini?

“Karena,” Aku memberanikan diriku memutar badanku untuk melihat keadaan Woobin oppa di belakangku, namun percuma saja, ia menutup dengan sempurna wajahnya menggunakan topinya sehingga aku hanya bisa melihat siluet saja. “Aku adalah sekretarisnya,” ucapku ragu. Mungkin karena pada kenyataannya, aku peduli terhadap bos ku yang menyebalkan itu.

+++

Aku hanya bisa terus mengucapkan kata “Woaaaah!” untuk perjalanan dinas kali ini. Bagaimana tidak, semua akomodasi ditanggung oleh Lee Corp., mereka bahkan menutup sebuah resort terbaik di sana untuk acara ini. bahkan tadi saja aku dijemput di rumah dengan mobil perusahaan Jongsuk oppa, daebak! Kudengar berbagai band papan atas akan mengisi acara makan malam nanti. Ya ampun, menurutku ini bukannya kerja, tapi liburan, hahaha.

“Oppa,” aku setengah berlari agar bisa menyusul Jongsuk oppa yang berjalan paling depan. “Gomawoyoooooo! Ini benar-benar liburan, liburaaaan!” teriakku sambil bergelayut manja di lengan Jongsuk oppa.

“Haha, dasar bocah tengil. Kau harusnya berterima kasih pada bosmu karena sudah mengajakmu ikut,” Jongsuk oppa mencium kepalaku dengan cepat. Lalu ia menengok ke belakang dan tertawa sendiri.

“Kenapa sih tertawa sendiri?” Aku menatap Jongsuk oppa dengan tatapan aneh, dia terus saja tertawa.

“Kurasa, aku sudah membuat dua orang di belakang ingin menghajarku saat ini juga,” ujar Jongsuk oppa dengan nada kegirangan.

Aku langsung menengok ke belakang, aku hanya melihat beberapa karyawan dari Lee Corp., Seunghyun sajangnim, dan Woobin oppa, Soohee yang anehnya tetap diajak ikut oleh Woobin oppa dan Jongsuk oppa mengizinkannya, serta sekretaris Woobin oppa yang sok cantik itu saja kok. Aku tidak melihat ada orang yang berniat jahat pada Jongsuk oppa. Mungkin ini hanya lelucon garing Jongsuk oppa saja, huh.

Rombongan kami langsung masuk ke pesawat. Jongsuk oppa, Seunghyun sajangnim, bersama Woobin oppa (dan Soohee tentunya) duduk di bagian depan. Aku terpisah tempat duduk dari rombongan, tidak apalah, paling tidak mereka tidak akan melihatku tidur dengan mulut terbuka nanti, hahaha.

Aku menaikkan koperku ke atas tempat penyimpanan, namun aku sendiri tidak menyadari jika koperku ternyata cukup berat hingga aku hampir saja tertimpa koperku sendiri saat sedang berusaha mengangkatnya.

“Aaaaaak,” Aku berteriak heboh sambil memejamkan mataku karena koper yang aku angkat sudah siap beradu dengan kepalaku, lalu aku melihat sebuah tangan yang panjang dari belakangku menahannya.

“Kau harus hati-hati, agassi,” ujar namja di belakangku, ia membantuku menaruh koperku dengan benar. “Kau duduk di sini?”

Aku mengangguk. “Kursiku di dekat jendela,” Aku tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. Ternyata, sang namja penolongku ini duduk di sebelahku. Aku sempat melirik Jongsuk oppa berdiri menatapku sambil tersenyum jahil. Mungkin karena tadi aku berteriak agak berlebihan hingga semua orang menatapku. Namun, tatapan paling menyebalkan tentu saja datang dari Woobin oppa dan Seunghyun oppa yang sepertinya ingin menerkamku saat ini juga.

Aku adalah tipe orang yang akan memilih mendengarkan musik sambil tidur di pesawat, namun entah mengapa perjalanan kali ini aku tidak bisa tidur. Aku berulang kali memencet-mencet lagu apapun yang aku temukan di playlist yang terpampang di layar entertainment di depanku.

“Tidak bisa tidur?” tanya namja di sebelahku.

Aku mengangguk.

“Aku juga tidak bisa. Oiya, aku Ahn Jae Hyun,” dia menyodorkan tangannya, aku menyambutnya dengan senang. Bagaimana tidak senang jika sebelahmu ada namja setampan dan seputih ini bahkan aku saja kalah putih bersinar.

“Choi Jihyo,” ucapku mantap. Kami berdua langsung terlibat pembicaraan yang seru, ternyata kami berdua sama-sama suka menonton film namun bedanya aku suka film science fiction sedangkan Jae Hyun-ssi lebih suka film horror. Aku juga mengetahui jika Jae Hyun-ssi memiliki restoran yang cukup terkenal di Jeju, bahkan restorannya di review oleh majalah penerbangan ini.

“Woooah, restoranmu ada di majalah,” Aku dengan semangat membaca artikel di majalah tersebut. Dari sudut mataku, aku bisa melihat Seunghyun sajangnim melewati barisanku, mungkin dia mau ke toilet, tapi mengapa dia terus saja menengok ke arah bangkuku sih?

“Kau bisa datang dan mencoba makanan di restoranku jika nanti kau ada waktu. Untuk kedatangan pertama gratis,” Jae Hyun-ssi memberikan kartu namanya kepadaku.

‘Jjinja?” Aku mengucapkan kata itu dengan lengkingan keras hingga (sepertinya) membuat Woobin oppa terlihat bangkit dari kursinya lalu memelototiku. Ia berjalan menuju arahku dan terus berjalan ke toilet. Ada apa sih sebenarnya dengan kedua orang itu?

“Jjinja, dan nanti aku akan mengenalkanmu dengan chef terbaikku,” seru Jae Hyun-ssi.

“Aaaah, chef yang kau taksir itu yah?” godaku. Ada lagi satu kesamaanku dengan Jae Hyun-ssi. Ternyata kami berdua lebih nyaman membicarakan mengenai seseorang yang kami cintai dengan orang yang tidak kami kenal sama sekali dibandingkan dengan orang terdekat kami. Seperti saat ini, Jae Hyun-ssi bercerita jika ia sangat menyukai chef yang sudah bekerja di restorannya selama dua tahun. Tentu saja aku menceritakan mengenai Woobin oppa padanya, hanya saja aku tidak mengatakan jika orang yang aku cintai ada bersama kami di pesawat ini.

“Ne, aku akan mengenalkanmu pada Hyunah, tapi kau juga harus bawa Woobin oppa mu itu,” tantang Jae Hyun-ssi. Aku cemberut, mana bisa aku tiba-tiba mengajak Woobin oppa untuk makan berdua di restoran Jae Hyun-ssi.

Tidak terasa ternyata pesawat kami sudah mendarat. Jae Hyun-ssi membantuku menurunkan kembali koper, katanya teriakanku terdengar saat nyaring hingga bisa membuat telinga penumpang lain sakit. Aku refleks memukul lengannya. Apa-apaan namja ini baru bertemu sebentar sudah mengejekku. Aku sepertinya menemukan jiwa Key di diri Jae Hyun-ssi sehingga sepanjang jalan menuju ke dalam bandara saja aku dan Jae Hyun masih berbincang-bincang. Begitu melihat rombonganku sudah berkumpul di lobi bandara, aku pamit ke Jae Hyun dan berjalan menghampiri rombongan.

“Nona Choi, kau dalam masalah besar,” entah mengapa ucapan Jongsuk oppa seperti meledekku begitu melihatku datang.

“Sekretaris Choi, hidupkan kembali smartphonemu. Aku sulit untuk menghubungimu nanti,” perintah Seunghyun sajangnim. Aku tau, dia pasti menyuruhku untuk menghidupkan kembali smartphone ‘pemberian’nya itu agar dia bisa kembali memerintahku sesuka hatinya, nasib.

“Jihyo-ah,” teriak seseorang setengah berlari menghampiri rombongan kami.

“Jae Hyun-ssi, ada apa?” tanyaku begitu melihat sosok Jae Hyun mendekat.

“Aku lupa meminta nomermu. Ini, ketiklah,” Jae Hyun menyodorkan smartphonenya padaku. Apa ini perasaanku saja, atau memang Jongsuk oppa, Woobin oppa, dan Seunghyun sajangnim langsung memberikan tatapan tajam ke arah kami berdua?