Annyeeeong, jumpa lagi dengan author hehehe. Tumben author updatenya cepet, abis nonton filmnya Woobin oppa The Con Artists jadi aja wangsit bermunculan hihihi. Terima kasih yang udah baca dan jangan bosen-bosen komennyaπŸ˜€

Aku sepertinya harus berterima kasih pada Jongsuk oppa karena telah memilihkan kamar dengan view yang bagus untukku. Bagaimana tidak, dari balkon kamarku, aku bisa melihat pemandangan pulau ini. Karena kamarku berada di lantai tiga, jadi sangat terlihat seluruh area kolam renang yang sangat cantik, rasanya kalau bisa terjun langsung tanpa sedikit pun terluka, aku ingin terjun saat ini juga.

Aku memejamkan mataku, menikmati hembusan angin yang menerpaku seolah-olah mengatakan selamat datang di pulau ini. Aku dengan perlahan bernapas dengan udara di pulau ini, udaranya bersih sehingga saat menenangkan seluruh tubuhku.

Aku membuka mataku saat mendengar teriakan melengking yang datangnya dari area kolam renang.

Aku menyipitkan mataku agar bisa melihat apa yang terjadi di bawah. Ya ampun, itu kan si sekretaris Woobin oppa yang menyebalkan itu. Dia berteriak heboh saat didorong masuk ke kolam renang oleh beberapa namja. Ih, apa-apaan sih dia?

Aku bisa melihat dari balkonku Soohee yang berjalan berkeliling area kolam renang dengan bikininya. Tentu saja seluruh tamu yang sedang berada di area kolam renang, bahkan beberapa pegawai resort, langsung menengok melihat Soohee. Memang badannya bagus sih, coba menurutku itu kan berlebihan sok pamer segala!

Moodku yang tadi sedang bagus sekarang jadi rusak gara-gara si sekretaris menyebalkan itu dan Soohee. Aku merentangkan tanganku ke ujung pegangan balkon, berusaha memendam kekesalanku gara-gara kedua orang itu, tapi aku tidak bisa. Aku takut jika aku teriak, orang-orang di bawah akan mendengarkanku. Akhirnya, aku menarik ikatan rambutku dan mengacak-acak rambutku sendiri karena kesal. Tindakan konyolku langsung berhenti saat aku melihat bahwa sejak tadi ada namja bertelanjang dada yang sedang melihat tindakanku dari bawah.

Ia melepas kacamata hitamnya, dan matanya yang seperti rubah itu seperti menangkapku sebagai mangsanya. Apa dia bisa melihat wajahku saat ini yang bersemu merah sekali seperti kepiting?

Aku langsung berlari masuk ke kamar, berteriak sekencang-kencangnya, β€œYaaaa! Woobin opppaaaaa! Aaaaaaaaakhhhh!!!!!”

Lalu langsung menuju kamar mandi, memutar keran air dan masuk ke dalam bathup dengan pakaian lengkap. Omma, aku malu sekali. Lagi kemana sih Woobin oppa memperhatikanku? Bukannya dia sudah tidak berbicara padaku sejak kejadian aku terlambat karena mengantar Seunghyun oppa ke rumah sakit?

β€œAaaaaaaakkkkh, Kim Woobin!” Sejujurnya kali ini seluruh rasa maluku bercampur dengan bayangan sosok Woobin oppa tadi. Bagaimana perasaanmu saat melihat namja yang kau cintai sedang berada di pinggir kolam renang, bertelanjang dada dan hanya memakai celana renang saja?

Aku mau pingsan saja

+++

β€œSajangnim?” Aku mengetuk pintu kamar Seunghyun sajangnim. Tiba-tiba saja dia menelponku dan menyuruhnya untuk ke kamar sebelum acara makan malam. Dia tidak akan berbuat yang tidak-tidak kan?”

β€œJihyo,” Seunghyun sajangnim membukakan pintu kamarnya dan langsung masuk ke dalam. Aku mengikutinya masuk dan terkejut begitu melihat berbagai dasi menutupi tempat tidurnya.

β€œPilihkan salah satu,” ujarnya.

Aku hanya bisa berkedip melihat berbagai motif dan warna dasi di tempat tidur itu, kukira ada sekitar 50 dasi di ranjang.

β€œSajangni menelponku untuk memilihkan dasi untuk acara makan malam?” Aku agak kehilangan akal sehat begitu melihat puluhan dasi ini. Kerjaanku kan sekretaris, untuk apa merangkap jadi personal assistant dan stylish seperti ini?

β€œAku hanya mendapatkan undangan dari Jongsuk-ssi dua orang saja. Makanya aku jadi membatalkan stylishku untuk datang ke Jeju. Jadi kau bertanggung jawab atas semua pemilihan pakaianku selama di Jeju,” ucapnya santai sambil duduk di sofa. β€œCepat, pilih salah satu.”

Jika saja dia bukan bos ku, saat ini juga sudah aku pukul. Kenapa dia semakin hari semakin menyebalkan seperti ini sih? Harusnya waktu itu aku tidak usah mengantarkannya ke rumah sakit biar dia pingsan di jalanan, huhu.

Aku mengambil dasi kupu-kupu berwana hitam dari tempat tidurnya. β€œIni sajangnim?”

β€œKau yakin?” Seunghyun sajangnim mengangkat alisnya, sepertinya dia mempertanyakan pilihanku.

β€œNe,” ucapku seolah-olah aku yakin, padahal sih aku malas memilihkan dasi yang lain.

β€œBaiklah,” Seunghyun sajangnim bangkit dari duduknya. β€œPakaikan.”

Aku mendengus kesal dan bersungut-sungut menghampirinya. Aku mengalungkan dasi kupu-kupu itu ke kerah kemejanya dan memasangnya.

β€œSudah sajangnim,” Aku mundur beberapa langkah dan melihat Seunghyun sajangnim secara keseluruhan. Tapi kok terlihat sangat formal yah dengan celana bahan hitam, jas hitam, kemeja putih, dan dasi kupu-kupu hitam itu?

Aku melangkah mendekati Seunghyun sajangnim dan memutuskan untuk tidak membuat pola dasi menjadi berbentuk kupu-kupu. Kubiarkan kedua ujungnya menjuntai di kerah pakaian Seunghyun sajangnim agar terkesan sedikit terllihat berantakan.

β€œNah, kali ini benar-benar sudah selesai, sajangnim,” tanpa sadar aku tersenyum melihat hasil pekerjaanku yang memberikan efek fashion berbeda ke bos ku ini hahahaha.

Tanpa kuduga, aku bisa merasakan sapuan bibir Seunghyun sajangnim di dahiku. Ia kemudian menundukkan sedikit tubuhnya ke samping telingaku. β€œGomawoyo, uri Choi Jihyo.”

Lalu dia melangkah keluar dari kamarnya tanpa mempedulikan aku yang masih terpkau karena sikapnya yang tiba-tiba membuatku terkena serangan kaget mendadak. Begitu sampai di depan pintu kamarnya, dia berbalik ke arahku dan hanya mengatakan β€œYou don’t wanna miss the party, right my love?”

+++

Aku bisa melihat berbagai selebritis papan atas hadir di pesta ini. Adapula beberapa rekan bisnis dari Lee Corp., Choi Enterprise, dan Kim Group bergabung di acara makan malam yang lebih tepat disebut dengan pesta ini.

Jongsuk oppa melambaikan tangannya padaku agar aku bisa menghampirinya. Aku tersenyum saat ia meninggalkan beberapa yeoja cantik yang sejak tadi kulihat dari jauh sepertinya sedang flirting kepadanya.

β€œKau sudah makan, Hyonnie?” tanya Jongsuk oppa yang terlihat sangat tampan dengan setelan warna birunya.

β€œBelum oppa, aku sedang mencari makanan pembuka dulu. Mmmh, seperti dim sum, hehehe,” candaku yang langsung dihadiahi cubitan di pipi oleh Jongsuk oppa.

β€œYa ampun Jihyonnie mengapa kau sangat menggemaskan seperti ini sihhh?” ujarnya gemas. Aku agak kesusahan melepaskan tangannya dari wajahku.

β€œYa, oppa! Aku bukan adik kecilmu lagi tau! Aku sudah jadi yeoja cantik menawan penuh pesona,” Aku menyibakkan rambutkku dengan gaya berlebihan yang mampu membuatnya tertawa.

β€œHingga kapanpun kau tetap adik kecilku,” seru Jongsuk oppa memelukku.

β€œOppa, di sini banyak paparazzi,” cukup sudah masalah paparazzi dengan Woobin oppa saja belum selesai, jangan ditambah dengan Jongsuk oppa. β€œLagipula kalau kau begini terus, kapan kau akan dapat kekasih?”

Jongsuk oppa langsung cemberut mendengar kata kekasih. β€œAku masih ingin fokus dengan perusahaan. Masalah kekasih bisa diurus belakangan.”

β€œHuh kau ini. Kau mau seperti Eric Mun? Dia baru saja menikah di umur 36 tahun karena terlalu giat mengurus perusahaannya,” ujarku merujuk salah satu orang terkaya di negeri ini, Eric Mun, yang baru saja menikah dengan Park MinAh, penyanyi dan sosialita terkenal.

β€œKurasa tidak apa-apa. Aku datang ke acara resepsi mereka, dan mereka terlihat sangat bahagia. Jadi, untuk apa mencari kekasih cepat-cepat dan menikah jika tidak bahagia?” Jongsuk oppa memulai ceramahnya. Aku tau jika membicarakan topik ini bisa panjang jadinya, aku langsung mengendap-ngendap meninggalkannya dan mencari stall makanan.

β€œPerhatian,” ujar seorang yeoja yang suaranya menggema melalui speaker. Aku tidak peduli, perutku sudah berbunyi kencang meminta makanan.

β€œSeperti yang kalian lihat di berbagai artikel, saat ini aku sedang diberitakan dekat dengan Kim Woobin,” ujar suara yeoja itu.

Aku langsung menghentikan langkahku dan mencari asal suara tersebut. Jantungku langsung berdebar kencang saat melihat sosok Soohee sedang berada di atas pangguung. Apa yang ingin bicarakan?

β€œAwalnya kami ingin merahasiakan hal in. Namun karena terlanjur sudah tercium oleh publik, maka bertepatan dengan acara ini, aku ingin mengatakan jika Kim Woobin memang benar adalah kekasihku,” ujar Soohee tersenyum dan lampu langsung menyorot Woobin oppa yang malam ini terlihat sangat tampan dengan setelan jas berwarna dark grey itu.

Semua orang di ruangan itu langsung berisik yang tidak dapat kudengar secara jelas apa yang mereka katakan. Seketika perutku berhenti berbunyi, rasa laparku hilang. Kakiku melangkah gontai menuju bar di ujung ruangan ballroom.

Aku membenamkan wajahku ke meja bar, aku berusaha menangis, tapi tidak bisa. Woobin oppa bagaimanapun juga adalah tunanganku! Mengapa yeoja itu seenaknya saja mengklaim namja yang sudah kucintai sejak kecil di depan publik seperti ini. Mengapa aku tidak mendengar jika Woobin oppa berusaha menjelaskan bahwa ini hanya bualan Soohee saja? Apa Woobin oppa memang benar-benar menyukai Soohee?

Bartender menanyakan aku ingin minum apa, aku ingin minum apapun yang bisa memabukkanku. Walaupun aku sudah minum bergelas-gelas minuman keras yang diberikan, aku tidak bisa mabuk, bahkan menangis saja tidak bisa.

Aku langsung merebut botol yang dipegang oleh bartender di depanku. Mengapa minuman ini tidak ada rasanya sih? Apa semuanya terasa tidak enak saat kau sedang patah hati?

β€œAyo kita keluar dari sini,” ujar suara namja menarik lenganku. Aku menghempaskannya.

β€œYaaa~ Seunghyun sajangnim! Aku tidak mau keluar dari sini,” ucapku begitu melihat namja yang tadi memegangku adalah bos ku sendiri.

β€œKau mabuk, Choi Jihyo. Berapa botol lagi yang akan kau minum?” Seunghyun sajangnim merangkulku dan berusaha membuatku berjalan, namun sepertinya gravitasi bumi saja tidak berpihak kepadaku, aku langsung jatuh.

β€œKau ini menyusahkan,” Seunghyun sajangnim mengangkat tubuhku dan langsung menggendongku di pundaknya.

β€œSajangnim~ Turunkan aku. Aku masih mau minum,” aku memukul punggungnya berkali-kali, namun ia tetap tak menurunkanku.

Seunghyun sajangnim tetap tidak mendengarkanku. Aku sedikit pusing digendong seperti ini, rasanya aku mau tidur saja. Sayup-sayup aku seperti mendengar Seunghyun sajangnim bertanya dimana aku meletakkan kunci kamarku, namun suaraku tak keluar.

Tak berapa lama aku merasa Seunghyun sajangnim meletakkanku di suatu tempat yang sangat empuk. Ah, ini kasur. Aku langsung merasa mengantuk berbaring di ranjang seempuk ini. Mataku mulai tertutup saat aku mendengar smartphone yang kuletakkan di clutchku berdering dan Seunghyun sajangnim mengambilnya.

+++

β€œChoi Jihyo, dimana kau?”

β€œAh, Kim Woobin.”

β€œDimana Jihyo? Katakan padaku!”

β€œKau tidak perlu berteriak seperti itu. Dia aman bersamaku.”

β€œSeunghyun, katakan padaku dimana kalian saat ini!”

β€œTenang saja sahabatku tersayang. Jihyo sedang tertidur, jangan berteriak seperti itu.”

β€œIf you dare to lay your finger on her-”

β€œThen what? You will kill me like you killed Jane?”

β€œI didnt kill her!”

β€œYou took her from me!”

β€œShe died in an accident, Seunghyun! Take that reality! Now tell me, where are you and Jihyo!”

β€œI won’t give Jihyo to you. Not like Jane. Kau tau, betapa manisnya Jihyo saat tertidur seperti ini?”

β€œAku bersumpah kau akan menghadapi masalah denganku jika kau macam-macam padanya!”

β€œKau harusnya yang bersiap-siap karena mencari masalah denganku, tuan Kim.”

+++

Aku sepertinya mabuk parah kali ini, seluruh badan dan kepalaku rasanya sakit semua, tapi kasur ini sangat empuk, mmmmh. Tunggu! Kasur? Bukannya tadi aku sedang di bar?

β€œSajangnim!” teriakku heboh saat melihat aku sedang berada berdua di kamar resort dengan bos ku sendiri. Ya, walaupun saat ini aku ada di tempat tidurnya dan Seunghyun sajangnim tidur di sofa, tetap saja judulnya kami berdua di kamar.

Seunghyun sajangnim membuka matanya dengan malas, suaranya yang berat semakin berat karena baru bangun dari tidurnya. β€œAda apa Sekretaris Choi?”

Aku berusaha mengingat-ngingat apa yang terjadi padaku. Soohee mengumumkan berita tidak enak itu. Aku patah hati. Aku minum banyak sekali. Aku ditarik Seunghyun sajangnim. Lalu, lalu apa lagi yah?

β€œKau sudah sadar? Minggir kalau begitu. Semalaman kau merebut kasurku,” perintah Seunghyun sajangnim. Aku langsung bangkit dari kasurnya.

β€œMengapa kau membawaku ke kamarmu siiih?”

Seeunghyun sajangnim berdiri dengan malas menuju kasurnya dan membanting tubuhnya ke ranjang. β€œAku menanyakan dimana kuncimu dan kau terlalu mabuk untuk menjawabnya. Makanya aku bawa ke kamarku.”

Aku melihat clutch ku tergeletak di meja kecil samping ranjangnya, begitu juga smartphoneku. Aku setengah sadar mengingat jika ada telepon yang masuk saat aku mabuk. Aku langsung menyambar smartphoneku dan melihat log panggilan. Namun tidak ada panggilan tak terjawab maupun panggilan masuk apapun. Apa aku bermimpi yah?

Aku melihat jam di smartphoneku menunjukkan pukul 4.30 pagi. Kurasa aku harus kembali ke kamarku sebelum ada tamu lain maupun paparazzi yang melihatku keluar dari kamar bos ku.

β€œSajangnim, terima kasih sudah mengurusku. Maaff merepotkanmu, aku kembali ke kamarku dulu,” aku membungkukkan badanku berterima kasih pada bos menyebalkanku yang sepertinya sudah tertidur itu.

β€œChoi Jihyo,” ujarnya saat aku baru saja ingin membuka pintu kamarnya.

β€œNe sajangnim?”

β€œJangan lupa tutup pintunya,” ujarnya malas. Aku tak bisa melemparkan heelsku ke arahnya karena bisa-bisa aku dipecat. Kurasa sekarang level kesabaranku sedang diuji oleh bos ku.

Aku turun dengan lift dan berjalan menyusuri lorong resort di lantai 3, tempat kamarku berada. Kepalaku masih sedikit pusing dan aku bisa merasakan napasku sangat bau alkohol. Seharusnya kemarin aku tidak minum sebanyak itu walaupun aku sedang patah hati.

Kamarku semakin bisa terlihat olehku dan aku juga bisa melihat seseorang terduduk di depan kamarku. Untuk apa Woobin oppa ada di depan kamarku? Apa dia mau membatalkan pertunangan denganku setelah semua orang tau jika dia berpacaran dengan Soohee?

Aku dengan kesal menendang kakinya, β€œOppa, aku mau masuk.”

Aku tidak sadar jika tadi sebenarnya dia tertidur. Woobin oppa mengadahkan kepalanya, memandangiku dengan matanya yang merah, aku tiak tau apakah matanya memerah karena dia tadi tertidur ataupun karena sehabis menangis. Aku tidak peduli. Aku ingin segera masuk ke kamarku dan beristirahat.

Woobin oppa bangkit dan memandangku dengan tatapan mengerikan.

β€œKau dari mana?” ucapnya perlahan namun terdengar seperti derit kuku yang menggesek papan tulis.

β€œMengapa kau harus tau?” Mulai saat ini aku tidak akan bersikap baik padanya, aku tidak akan lemah, aku sudah lelah dengan segala pertunangan konyol yang harus disembunyikan ini. Aku akan segera memutuskan dan menghentikan pertunanganku dengan Woobin oppa.

β€œTentu saja aku harus tau! Aku ini tunanganmu!” Woobin oppa berteriak kepadaku, dan mendorongku ke tembok.

β€œTunangan macam apa yang selalu bertindak kasar seperti ini? Tunangan macam apa yang tiba-tiba memiliki kekasih lain?” Aku berusaha untuk menahan airmataku. Aku tidak mau dia melihatku menangis untuknya, tidak akan.

β€œAku,” Napasnya tersengal, seperti menahan amarahnya untuk meledak semakin menjadi-jadi. β€œAku memang tidak akan mengakuimu sebagai tunanganku, atau bahkan nanti saat kau menjadi istriku. Namun aku tidak akan pernah, tidak akan pernah terbesit sekalipun di pikiranku, untuk melepaskanmu.”

Aku sudah tidak tahan lagi, air mataku mulai menetes. Satu tamparan keras dariku melayang ke pipi Woobin oppa. β€œKau pikir aku apa hah?”

β€œMenurutmu kau pikir kau siapa? Kau semalaman bersama bos mu! Kau sudah gila apa?”

Aku berusaha agar airmataku tak keluar semakin deras, tapi tak bisa. Kini ia membawa-bawa bos ku ke dalam masalah ini. Aku tau aku punya bos yang menyebalkan dan susah ditebak jalan pikirannya. Namun bukan berarti Seunghyun sajangnim bisa diseret ke permasalahanku dan Woobin oppa. β€œAku tidak bersama dengan bos ku semalaman!” Aku berbohong kali ini. Bagaimana bisa Woobin oppa tau jika aku bersama Seunghyun sajangnim?

β€œKau tau Choi Jihyo? Kau sama saja dengan para yeoja yang mengejar-ngejar para pewaris perusahaan hanya untuk mengeruk hartanya,” Woobin oppa tersenyum sinis memandangku.

Aku sudah tidak kuat, bahkan aku tidak bisa menamparnya atau memukulnya. Aku berdiri tak bergerak, menangis sesenggukan, memikirkan mengapa appa dan Kim ahjussi harus menjodohkan anak-anaknya seperti ini. Mengapa aku harus menerima pertunangan ini? Mengapa aku harus mencintai namja di depanku seumur hidupku seperti ini? Semua pikiran tiba-tiba menyeruak dan memenuhi otakku hingga mau meledak.

Dan saat itu Woobin oppa memelukku, mendekapku dengan erat di dalam tangannya. Aku bisa merasa rambutku tiba-tiba basah, ia menangis. β€œAku tidak akan memberikanmu ke Seunghyun, tidak akan pernah. Walaupun nyawaku taruhannya.”