“Appa dan eomma akan berbicara dengan Woobin dan orangtuanya nanti malam,” Appa menyendokkan sup yang masih panas ke dalam mulutnya. Aku memandangi appa dengan seksama, aku tau appa terlihat sangat tenang menanggapi insiden Woobin oppa dan Soohee di Jeju, namun aku adalah anak appa hampir selama 24 tahun, aku tau jika namja di depanku ini sangat khawatir dengan anaknya.

“Appa, apa itu perlu?” Aku meminum air perasan lemon yang aku buat sendiri. Aku tidak berniat sama sekali makan jika sedang membahas mengenai Kim Woobin.

“Jihyo, kita kan perlu tau apa alasan Woobin tidak melarang selebriti itu saat mengaku-ngaku sebagai kekasihnya,” Eomma menyodorkan semangkuk bubur kepadaku, aku menggeleng.

“Mengapa appa dan eomma tidak langsung saja membatalkan pertunanganku dan Woobin oppa sih?” Akhirnya aku mengatakan hal ini juga. Aku tidak boleh mundur lagi, aku sudah menetapkan hatiku saat di Jeju, aku tidak akan mau hidup bersama Kim Woobin.

“Choi Jihyo!” Appa membentakku begitu aku menyelesaikan kalimatku. Eomma hanya bisa mengelus punggung appa, berharap agar appa tidak semakin parah.

“Aku ini anak appa atau bukan sih? Appa tau daridulu aku tidak menginginkan pertunangan ini, maksudku aku bahkan tidak mencintai Woobin oppa!” Aku menggigit bibirku kuat-kuat, kebiasaan lamaku jika aku berbohong, namun kali ini aku memang harus berbohong. “Appa saja tidak marah saat Siwon oppa menolak pertunangannya dengan Yuna unnie. Mengapa aku sekarang tidak boleh?”

“Choi Jihyo, jaga ucapanmu,” giliran eomma meninggikan nada suaranya. Aku tidak mengerti sekaii dengan keluarga ini. Memangnya aku hidup di zaman apa sehingga aku masih dijodohkan seperti ini?

“Jihyo,” Appa membenarkan kacamatanya, “Appa tentu akan memilihkan seorang namja yang tidak hanya bisa melindungimu dan memberikanmu semua yang kau inginkan, namun juga seseorang yang bisa mengerti dan mencintaimu sepenuh hatinya.”

“Dan itu bukan Woobin oppa, appa. Appa tidak baca artikel di koran atau di internet? Bahkan waktu itu disiarkan secara live di televisi! Woobin oppa, tidak membantah sama sekali perkataan Soohee!” Aku tau aku agak hilang kontrol saat ini. Tapi appa memangnya tidak memikirkan bagaimana perasaan anaknya?

“Appa akan tetap berbicara dengan Woobin dan kedua orangtuanya. Pertunangan ini tidak akan batal sebelum keluarga Kim yang membatalkannya,” Appa kembali menyendokkan sup ke dalam mulutnya sebelum berbicara lagi. “Kecuali kau bisa membawa namja yang memenuhi semua keinginan appa yang tadi apa utarakan untuk menjadi suamimu.”

“Yeobo,” Eomma sepertinya tidak setuju akan perkataan appa, namun appa sepertinya sudah sangat yakin dengan ucapannya.

“Baiklah, aku akan membawa namja yang seratus kali lebih baik dari Woobin oppa.”

“Ada apa ini?” jantungku berdebar sangat kencang begitu mendengar suara namja menginterupsi kami bertiga di ruang makan. Aku menoleh melihat sosok Siwon oppa yang masih menggeret koper super besarnya di ruang makan.

“Ada apa sampai appa, eomma, dan Hyonnie tidak dengar berulang kali aku memencet bel? Untung saja aku membawa kunci cadangan,” Siwon oppa berjalan menuju appa dan eoma dan memeluknya.

“Siwonnie,” eomma memeluk Siwon oppa dengan erat. “Mengapa kau tidak mengabari kami jika kau akan pulang?”

“Surprise, eomma,” Siwon oppa menunjukkan deretan gigi putihnya yang membuatku iri. “Appa, I miss you,” Siwon oppa segera melepaskan pelukan eomma dan beralih memeluk appa.

“Anak ini, sudah appa bilang gunakan bahasa ibumu,” appa menjitak kepala Siwon oppa yang langsung disambut dengan teriakan berlebihan dari namja berumur 28 tahun itu.

“Kau tidak mau memelukku, oppa?” Aku memasang tampang cemberut kepadanya, Siwon oppa tertawa, salah satu tawa paling indah yang pernah aku lihat di dunia ini, tentu saja setelah tawa Woobin oppa. Tidak tidak, Choi Jihyo, lupakan Kim Woobin.

“Tentu saja aku sangat ingin memelukmu, dongsaengi,” Siwon oppa memelukku dengan sangat kencang. “Oiya, tadi sepertinya aku mendengar appa, eomma, dan kau berbicara serius tentang Woobin. Ada apa?”

Hal ini yang sangat kutakutkan. Jika Siwon oppa tau permasalahannya, bisa-bisa dia akan langsung pergi ke rumah Woobin oppa dan menghajarnya.

“Mmmh,” aku berpikir dengan cepat apa yang harus aku katakan, Siwon oppa sudah mulai menaruh curiga kepadaku.

“Ada apa, Choi Jihyo? Dia menyakitimu?” Siwon oppa terlihat cemas. Gawat kalau sister complex nya mulai kumat. “Atau aku harus mencari apa yang terjadi dengan Woobin melalui internet?”

Tidak! Benar-benar bisa perang dunia jika Siwon oppa mengetahuinya dari artikel-artikel di internet.

“Appa, eomma, aku sudah selesai makan,” Aku langsung menarik tangan Siwon oppa menuju kamarku. Aku mendorong Siwon oppa masuk ke kamar, mengunci pintu, dan menaruh kunci di saku celanaku. Ini adalah tindakan pencegahan apabila sewaktu-waktu Siwon oppa mengamuk dan langsung mencari Woobin oppa untuk menghajarnya.

“Tunggu,” Siwon oppa menyilangkan kedua tangan di dadanya. “Apa setelah mendengarkan ceritamu aku akan segera mencari Woobin dan membuat perhitungan?”

Aku mengangguk. Kurasa, tinggal lama di Amerika dan jauh dari adik satu-satunya ini tidak membuatnya lupa dengan segala sifat dan kebiasaanku.

+++

Aku sadar sepanjang pagi ini memandangi pintu ruangan sajangnim tanpa berhenti, bahkan aku sama sekali tidak menyentuh berkas-berkas yang seharusnya sudah aku kerjakan daritadi. Sang pemilik ruangan itu, sudah datang sebelumku dan hingga waktu makan siang ini belum keluar dari ruangannya.

Sebenarnya ada apa dengan Seunghyun sajangnim sehingga Woobin oppa betul-betul tidak mau aku berdekatan dengannya?

“Sekretaris Choi, sekretaris Choi,” aku tersadar begitu mendengar ketukan di mejaku. Omo, Seunghyun sajangnim!

“Ne, sajangnim?” Aku tak berani menatap matanya, sudah dua hari sejak kami pulang dari Jeju, dan aku tidak berani lagi untuk menatap matanya, bahkan berdekatan dengannya pun tidak. Semua ucapan Woobin oppa begitu meracuniku, hingga aku mengabaikan bos ku ini.

“Masuk ke ruanganku,” ujar Seunghyun sajangnim sambil berlalu masuk ke ruangannya. Ini yang paling aku benci, aku tidak dapat membantah semua perintahnya karena dia bos ku. Namun di satu sisi, aku merasa perlu mendengarkan semua larangan Woobin oppa. Tunggu, Jihyo ppaboya! Kau sendiri yang sudah bertekad akan melupakan namja bernama Kim Woobin itu.

“Baiklah Choi Jihyo, bersikaplah sebiasa mungkin. Hwaiting!” aku berjalan pelan memasuki ruangannya, seperti karyawan yang tau bahwa 10 detik kemudian dia akan dipecat.

“Choi Jihyo, bisakah sopan sedikit kepada bos mu? Kau sudah tidak menatapku sejak kita pulang dari Jeju,” suara Seunghyun sajangnim terasa dalam dan berat, yang anehnya, baru saat ini aku menyadari bahwa aku sangat menyukai suaranya.

“Ne, sajangnim,” aku mengangkat kepalaku berusaha memandangnya, namun apa yang kulihat betul-betul membingungkanku. “Omo, sajangnim!” Aku langsung menutup mulutku dengan kedua tanganku sebelum aku semakin meracau tidak jelas. Aku tau jika ada orang yang mengatakan bahwa di dunia ini kita memiliki 7 kembaran yang terpisah, namun aku tidak menyangka aku akan percaya dengan ucapan itu.

Seunghyun sajangnim adalah seseorang yang sangat memperhatikan penampilannya, dia selalu tampil rapi dengan kemeja, jas, dan dasinya. Namun kali ini, dia malah tampil dengan turtleneck sweater warna hitam dan rambutnya yang sedikit berantakan.

“Sajangnim, kau kurang tidur?” selama dua hari aku tidak berbicara sekasual ini dengan bos ku, begitu aku bisa membicarakan hal lain selain pekerjaan, malah mengucapkan hal bodoh seperti ini.

Seunghyun sajangnim malah tertawa mendengar ucapan bodohku. “Aku selalu tidak bisa menebak apa yang akan kau katakan Jihyonie. Kukira kau akan berbicara bahwa aku mirip dengan turtleneck namja mu itu.”

Aku cemberut begitu mendengarnya. Jadi selama ini Seunghyun sajangnim juga membaca artikel mengenai turtleneck namja aka Kim Woobin. Berarti Seunghyun sajangnim tau mengenai skandal Woobin oppa, Soohee, dan aku dong?

“Jadi, apakah Woobin sore ini akan menjemputmu?” Seunghyun sajangnim duduk di atas mejanya dan menepuk mejanya pelan, mengisyaratkan agar aku bergabung bersamanya.

“Darimana sajangnim tau?” Aku hampir tidak percaya mendengar perkataannya.

“Aku kenal Woobin sudah lama, Jihyo. Tentu aku mudah mengenalinya, toh dia hanya menutupi wajahnya dengan topi.”

“Jika Seunghyun sajangnim saja bisa dengan mudah mengetahui jika itu Woobin oppa, seharusnya para paparazi sudah sadar dong?” aku tiba-tiba bergidik ngeri. Hidupku sudah cukup memusingkan gara-gara Kim Woobin dan Soohee. Jika para paparazi menyadari Woobin oppa adalah sang turtleneck namja yang diklaim oleh para paparazi sebagai kekasihku, maka hidupku akan semakin memusingkan kuadrat.

“Kau tidak membaca artikel pagi ini?” Seunghyun sajangnim menunjukkan smartphonenya kepadaku. Aku hanya cukup membaca judulnya saja sudah langsung sakit kepala.

“Semua orang sudah tau jika kau adalah tunangan Kim Woobin, Choi Jihyo.”

“Darimana Seunghyun sajangnim tau?” Aku rasanya ingin membalikkan meja begitu mendengar kalimat itu meluncur dari bibir Seunghyun sajangniimi.

“Artikel ini,” Seunghyun sajangnim menunjukkan ekspresi ketidaksukaannya. “Artikel ini berspekulasi jika sang turtleneck namja adalah Kim Woobin, dan di artikel ini disebutkan bahwa ada sumber yang mengatakan jika kau adalah tunangannya Woobin.”

“Tapi kan kenyataannya tidak seperti itu!” Aku tanpa sadar mengamuk ke bos ku sendiri. Aku tau jika kenyataannya memang seperti itu, memang aku adalah tunangan Woobin oppa, dan sang turtleneck namja adalah Woobin oppa. Namun tetap saja, aku tidak mau menerima kenyataan itu.

“Kajja,” Seunghyun sajangnim turun dari atas meja dan menarikku keluar dari ruangan. Aku masih bergeming di posisiku duduk di atas meja.

“Sajangnim, tunggu, kita mau kemana?”

Seunghyun sajangnim mengambil topi yang berada di rak bukunya, topi itu persis dengan topi yang dipakai oleh Woobin oppa waktu ia menjemputku pulang dari kantor, kemudian ia memakai topi itu.

“Kurasa tadi kau sempat kaget karena aku sepintas mirip dengan Woobin kan saat memakain turtleneck ini?”

Aku mengangguk. Dan sekarang ia semakin mirip dengan Woobin oppa dengan topi itu.

“Baiklah,” Seunghyun sajangnim mengenggam tanganku dengan erat. “Kajja, aku lapar!”

+++

Jika selama ini aku selalu mengeluh mengikuti semua perintah Seunghyun sajangnim, maka untuk hari ini aku sangat senang mengikuti semua perkataannya. Baru kali ini semenjak aku kembali dari Jeju, nafsu makanku kembali. Mungkin karena makan siang tadi Seunghyun sajangnim yang mentraktirku, maka aku sampai menambah makanan dua porsi. Selesai makan, ia mengajakku pergi ke coffee shop kesukaannya. Dan kali ini, tentu saja aku memesan menu yang paling mahal, hahaha.

“Ya, Choi Jihyo! Jika aku tau kau makan sebanyak ini, aku tidak akan mengajakmu makan siang,” Seunghyun sajangnim memukul kepalaku dengan sendok plastik. Aku tertawa senang sambil menjulurkan lidahku.

“Sajangnim, aku mau pesan lagi boleh?” Aku memasang senyumanku semanis mungkin, namun ia dengan tegas menggeleng.

“Kau tidak boleh makan lagi, aku bisa bangkrut,” Seunghyun sajangnim memberikan cheese cakenya kepadaku. “Sudah makan saja punyaku.”

Dia hanya bisa menatapku dengan nanar saat aku dengan cepat mengambil cheseecakenya. Dia kira aku akan menolaknya apa? Tidak akan.

“Kau mirip sekali dengannya,” aku bisa mendengar Seunghyun sajangnim bergumam.

“Nugu?”

“Kau mirip dengan sahabatku saat aku masih di Amerika dulu,” Seunghyun sajangnim tersenyum, namun aku tau itu bukan senyuman bahagia.

“Jane?” Aku memberanikan menyebut nama itu. Sebenarnya sudah sejak lama aku ingin menanyakan mengenai hal ini kepada Seunghyun sajangnim, namun aku tidak berani. Aku selalu penasaran siapa Jane dan apa hubungannya dengan Seunghyun sajangnim dan Woobin oppa.

Seunghyun sajangnim mengangguk, “Dia yeoja yang kau lihat di foto itu.”

Aku langsung merasa tidak enak hati telah lancang melihat foto di atas meja Seunghyun sajangnim. “Mianhae sajangnim, aku tidak sengaja melihatnya.”

Seunghyun sajangnim menyenderkan punggunggnya di sandaran sofa. “Gwenchana,” Ia terdiam sebentar lalu meneruskan ucapannya, “Jane adalah sahabatku dan Woobin waktu kami berkuliah dulu.”

Aku tidak bereaksi, banyak yang ingin aku tanyakan mengenai Jane, namun aku harus menjaga ucapanku karena ini menyangkut bos ku. Salah ucap sedikit, aku bisa dipecat.

“Kau menanyakan sesuatu, Jihyo?” Seunghyun sajangnim seolah bisa membaca pikiranku.

“Apa yang terjadi dengan kalian bertiga?” Aku mengucapkan pertanyaanku dengan amat pelan hingga aku ragu jika Seunghyun sajangnim bisa mendengarku. Aku tau ada yang salah dengan mereka bertiga, jika tidak, mana mungkin dalam keadaan setengah sadar Woobin oppa dan Seunghyun sajangnim terus menerus namanya?

“Jane jatuh cinta pada Woobin,” Seunghyun sajangnim menatapku dengan tajam, “Dan aku juga mencintai Jane namun aku tidak bisa mengatakannya.”

Tiba-tiba ruangan di coffee shop ini terasa begitu dingin, jantungku berdegup sangat kencang. Seharusnya aku tidak menanyakan mengenai Jane.

“Woobin tidak ingin menyakiti perasaan Jane, maka ia selalu bersikap baik pada Jane. Sayangnya Jane menyalah artikan semua tindakan Woobin,” Aku bisa melihat mata Seunghyun sajangnim memerah walaupun wajahnya sedikit tertutup dengan topi yang ia kenakan.

“Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Aku hanya bisa diam. Hingga akhirnya, Jane menemukan foto seorang yeoja di dompet Woobin. Jane mengamuk, ia merasa Woobin mempermainkannya. Jane juga marah kepadaku karena aku menyembunyikan fakta jika Woobin mencintai yeoja lain.”

Aku mengaduk-aduk capucinno ku. Ternyata sejak dulu Woobin oppa tidak pernah berubah, dia tetap saja selalu menjadi casanova yang berpikir bahwa ia bisa menjerat seluruh yeoja di muka bumi ini.

“Hingga suatu hari, aku ingat dari perpustakaan aku bisa melihat area parkiran. Aku melihat Woobin mencium Jane, kemudian mereka berdua masuk ke dalam mobil dan pergi, aku tidak tau mereka pergi kemana. Itulah saat terakhirku melihat Jane. Ia mengalami kecelakaan. Woobin selamat, namun Jane tidak,” Seunghyun sajangnim tersenyum kepadaku, ia memajukan tubuhnya, memegang pipiku.

“Anak bodoh, mengapa malah kau yang menangis?”

Aku menggeleng, aku hanya bisa terus menggeleng sambil menahan isakan tangisku.

“Ya, ya! Berhentilah menangis! Semua orang di coffee shop dan para paparazzi diluar mengarah pada kita, Choi Jihyo,” Seunghyun sajangnim menepuk-nepuk pipiku. Untuk kali ini, aku merasa sangat kasihan dengannya. Aku tidak menyangka jika Seunghyun sajangnim sama sepertiku, tak bisa memiliki orang yang sangat dicintainya.

“Sajangnim,” isakku. “Aku mau croissant lagi, huhuhu.”

“Hahaha, siap laksanakan tuan putri,” Seunghyun sajangniim bangkit dan memesan croissant untukku. Aku menoleh ke arah jendela, benar kata sajangnim, para paparazi itu semakin senang mengambil gambarku dengan Seunghyun sajangnim yang mereka kira sang turtleneck namja. Bagaimana jika Woobin oppa tau jika saat ini aku sedang bersama Seunghyun sajangnim.

“Croissant permintaanmu habis. Bagaimana kalau kita beli di jalan pulang saja?”

Aku melihat jam tanganku. Ya ampun, sudah jam 6 sore dan daritadi kami sama sekali tidak kembali ke kantor. “Sajangnim, kita tidak kembali ke kantor?”

“Kau masih mau kembali ke kantor? Aku tidak akan membayar uang lemburmu jika kau masih mau ke kantor lagi hari ini!” bentak Seunghyun sajangnim yang tentu saja langsung aku sambut dengan gelengan.

“Tapi bukannya mobil sajangnim ada di kantor?”

“Bukankah sang turtleneck namja selalu mengantarkanmu pulang berjalan kaki?” Seunghyun sajangnim berjalan keluar dari coffee shop.

Aish, percuma saja tadi aku merasa kasihan kepadanya, sekarang sifat menyebalkannya kembali lagi. “Sajangnim, tunggu!” Aku berlari mengejarnya.

“Choi Jihyo, aku baru sadar sejak tadi kau selalu memanggilku dengan kata Sajangnim,” Seunghyun sajangnim memperlambat langkahnya.

“Seunghyun oppa! Daritadi aku memanggilmu dengan sebutan oppa kok,” Aku langsung meralat semua ucapanku. Aku lupa dengan peraturan bodohnya yang mengharuskanku memanggilnya dengan sebutan oppa jika di luar kantor.

“Kau tau kan kalau aku tidak suka dengan karyawan yang suka berbohong?” tiba-tiba Seunghyun oppa menghentikan langkahnya. Ia memandangku dengan tatapan menyeramkan. “Sejak siang tadi kita keluar kantor dan kau baru memanggilku dengan sebutan oppa saat ini.”

Aku langsung menjaga jarak begitu melihatnya berubah menjadi Master Choi yang menyeramkan. “Mianhae sajangnim, eh, Seunghyun oppa. Aku lupa,” jawabku jujur.

“Kau tau,” Seunghyun oppa melepaskan topinya dan menaruhnya secara terbalik di kepalaku. “Kau harus dihukum.”

“Oppa, para paparazi masih mengikuti kita! Wajahmu terlihat jelas!” ujarku panik. Aku berinisiatif melepaskan topinya dari kepalaku, namun ia menahan tanganku dengan kedua tangannya. Sedetik kemudian, aku bisa merasakan hembusan napasnya di wajahku dan bibirnya menyentuh bibirku. Omo! Seunghyun oppa menciumku!

Aku refleks mendorong tubuhnya untuk melepaskan ciumannya, namun tenagaku kalah kuat dengannya. Seunghyun oppa malah memelukku dengan erat dan tak melepaskan bibirnya dariku. Yang aku tau, aku bisa merasakan rasa black coffee yang ia minum tadi di coffee shop, lalu sedikit rasa strawberry yang ia makan sebelum Seunghyun oppa memberikan sisa cheesecakenya kepadaku.

“Kau tau, Choi Jihyo,” Seunghyun oppa melepaskan ciumannya,namun tidak melepaskan pelukannya, “Kau buruk dalam hal ciuman.”

“Ya!” Aku memukull pundaknya dengan keras. “Apa tadi kau bilang? Masa bodoh!” Aku tau saat ini wajahku memerah, aku bergegas berjalan dengan cepat, lebih tepatnya aku berlari menjauh dari Seunghyun oppa dan juga para paparazzi yang pasti senang mendapatkan gambar tadi. Apa-aapan sih Master Choi menyebalkan itu!

Aku menghela napas lega begitu menyadari aku hanya tinggal melewati beberapa rumah lagi sebelum aku bisa sampai ke rumahku. Aku mempercepat langkahku, namun Seunghyun oppa menarikku.

“Kau memang buruk dalam hal ciuman, tapi kau berbakat dalam hal lari,” ujarnya terengah-engah. Aku menginjak kakiknya dengan heelsku.

“Kau menyebalkan, oppa!” Aku berusaha melepaskan tangannya dari tanganku, namun tidak bisa. Aku menyerah, dan membiarkan ia menggandengku menuju rumah.

“Yang mana rumahmu?’” tanya Seunghyun oppa.

Aku mengunjuk ke rumah dengan pagar warna abu-abu tak jauh dari tempat kami berdiri sekarang. Aku memicingkan mataku saat aku menyadari ada mobil sedan warna hitam di depan rumahku. Aku hapal sekali dengan plat nomer mobil itu. Itu mobil Kim ahjussi!

“Oppa, kurasa kau sudah cukup mengantarku sampai sini,” Aku bersikeras agar Seunghyun oppa tiak mengantarku hingga dengan rumah. Bisa bahaya jika Kim ahjussi dan Kim ahjumma melihatku dengan namja lain.

“Kajja, kita sebentar lagi sampai,” Seunghyun oppa menyeretku hingga sampai rumah. Ternyata dugaanku salah, ini lebih menakutkan daripada bayanganku melihat Kim ahjussi dan Kim ahjumma memergokiku dengan Seunghyun oppa.

Woobin oppa berdiri di depan pagar, hanya berjarak beberapa langkah dariku dan Seunghyun oppa. Ia menatap kami berdua dengan tatapan sangat, sangat, sangat marah.

“Choi Jihyo, sudah sampai,” Aku merasakan ada yang aneh di nada bicara Seunghyun oppa saat melihat Woobin oppa di depan rumahku. Seunghyun oppa memutar badannya menghadapku. “Masuklah, sudah mulai malam. Sampai jumpa besok di kantor,” Seunghyun oppa mendekat ke telingaku, “Pejamkan matamu,” bisiknya.

Aku memejamkan mataku. Sekali lagi menciumku, namun tidak seperti tadi, kali ini ia lakukan dengan cepat. Dan aku tidak dapat melihat bagaimana ekspresi Woobin oppa saat ini.

Dan seluruh tulisan di part ini Seunghyo momen semuaaa (maafkan author yaaa Wooji momennya gak ada hehe). Semoga suka dan jangan lupa komen yaaah

Ps. Gantengan Woobin atau Seunghyun saat mereka pakai turtleneck sweater?IMG_20150228_124812