Aku tahu tidak ada  yang aku buru. Ini sudah jam 1 pagi. Tidak ada jalanan macet. Tempat tidurku pun tidak akan lari kemana-mana. Aku bisa istirahat di dalam mobil karena aku tidak perlu menyetir, aku punya supir. Aku juga baru akan kembali ke kantor hari Senin jam 10 pagi, masih 2 hari lagi. Aku masih punya banyak waktu. Namun, tampaknya otakku tidak sejalan dengan logikaku. Aku meminta supirku untuk memacu mobilku sekencang yang ia sanggup agar aku lebih cepat sampai di rumah.

Aku sadar tidak ada yang aku buru. Rumahku masih berada di tempatnya dan para penghuninya pun tampaknya terlelap nyenyak di atas tempat tidur mereka masing-masing. Kecuali aku, yang segera berlari masuk ke dalam rumah begitu supirku memberhentikan mobilku di depan pintu masuk. Aku terus berlari, melewati berbagai ruangan dengan meninggalkan berbagai jejak. Sepatu di ruang tamu, jas di tangga dan dasi di ruang makan. Aku terus berlari sampai ke rumah yang lebih kecil yang berada di belakang rumah utama.

Aku mengetuk pintu rumah itu sambil menelepon penghuninya. Aku paham betul bahwa tidak ada yang aku buru. Hanya saja aku tidak memiliki sumbu kesabaran yang cukup panjang untuk mendapatkan apa yang aku inginkan.

Aku terus mengetuk sambil menelepon seseorang sampai penghuni rumah itu keluar dan menemuiku.

“Ah Tuan Muda. Ada yang bisa aku bantu?” Ujar seorang wanita berusia 50-an, hampir 60, dengan lembut sambil tersenyum kepadaku. Di usianya yang setua itu ia masih terlihat sangat cantik. Dari dulu sampai sekarang, tidak ada yang berubah dari dirinya kecuali kerutan-kerutan di wajahnya yang semakin lama semakin banyak.

Wanita itu adalah Choi ahjumma, asisten ibuku sejak ia muda, pengasuhku sejak aku lahir, sampai sekarang ia masih mengabdi pada keluargaku sebagai kepala pelayan di rumah ini. Aku sangat mencintainya seperti aku mencintai ibuku tapi bukan dia yang saat ini ingin aku temui. Maafkan aku, ahjumma.

Aku melongok ke dalam rumah kecil yang gelap gulita tersebut. Tidak ada yang bisa aku temukan kecuali sofa yang tertimpa cahaya remang-remang dari lampu kecil yang menyala. “Humm…apa Hyejin sudah tidur, ahjumma?” Tanyaku ragu-ragu. Melihat kondisi rumah itu yang sangat sepi, aku yakin Choi ahjumma adalah satu-satunya penghuni yang terjaga.

Choi ahjumma tersenyum kepadaku. “Hyejin sudah tidur, Tuan Muda. Dia pulang agak larut tadi. Apa yang bisa aku lakukan untuk Anda?” Tanyanya lagi, tetap sambil tersenyum.

Aku hanya menggelengkan kepalaku. Sedikit kecewa. “Tidak ada. Terima kasih. Choi ahjumma istirahat kembali saja. Maaf sudah mengganggu,” kataku lalu berjalan pelan meninggalkan rumah itu menuju rumah utama.

Aku berusaha meneleponnya lagi, lagi dan lagi meskipun tidak ada satu pun panggilanku yang diangkatnya. Aku memang agak keras kepala. Dengan pasrah, aku memutuskan untuk mengirimkan pesan kepadanya.

Temui aku begitu kau bangun. Titik.

Hyejin, lebih tepatnya Song Hyejin, adalah sahabatku sejak kecil. Gadis itu lahir 3 tahun setelah aku lahir. Ia anak tunggal dari Choi ahjumma dan Song ahjussi. Kalau Choi ahjumma bekerja mengurus eomma, aku dan rumah tangga keluarga Cho, Song ahjussi hanya disibukkan oleh Appa yang selalu punya seribu satu permintaan setiap harinya yang entah bagaimana selalu berhasil dipenuhi oleh Song ahjussi. Entah bagaimana juga Song ahjussi bisa tahan bekerja dengan Appa puluhan tahun. Intinya, ayah Hyejin juga bekerja untuk keluargaku.

Sejak play group sampai SMA, kami selalu bersekolah di sekolah yang sama. Bahkan kami sering sekelas. Hanya pada saat universitas, kami berpisah karena ia mendapat beasiswa sekolah fashion di Paris sedangkan aku harus kuliah sambil melanjutkan perusahaan Appa di Seoul. Aku agak merasa kesepian selama beberapa tahun.

Song Hyejin sangat suka makan walaupun badannya tidak akan gemuk-gemuk meski porsi makannya 2 kali lipat lebih banyak dari porsi makanku. Tambah lagi, ia suka ngemil. Tapi tetap saja badannya akan berada di kisaran 50kg dan 170cm. Itu adalah salah satu kelebihan yang bisa ia manfaatkan.

Jangan kira sebagai anak dari pasangan yang hidupnya mengabdi kepada keluarga Cho, ia juga akan mengabdi pada keluarga Cho dan hidup dengan gaji yang kami berikan. Kalian salah.

Saat ini, Hyejin adalah model utama dari berbagai brand-brand terkenal di Korea. Mulai dari industri fashion, makanan, otomotif bahkan perlengkapan bayi. Ia menguasai semua papan iklan dan layar televisi dengan wajahnya. Aku yakin penghasilannya jauh lebih besar dariku. Tapi ia tidak sombong sedikit pun. Ia tetap menganggapku sebagai sahabatnya dan kadang memperlakukan aku sebagai tuannya.

Aku pernah bertanya padanya kenapa ia masih mau tinggal di rumah kami padahal ia punya rumah di daerah Gangnam yang cukup luas untuk ditinggali oleh ia dan orang tuanya. Jawabannya membuatku ingin menggigitnya. “Selama bisa tinggal gratis kan lumayan. Dapat uang lagi,” katanya santai. Dasar perempuan.

Masih banyak yang bisa aku jabarkan tentang Hyejin tapi aku tidak sanggup melakukannya, karena akan sangat panjang. Aku mengenalnya dari A sampai Z. Aku tahu setiap detil kehidupannya.

Hyejin adalah cinta pertamaku.

Aku duduk di ruang makan sambil memakan kue-kue kecil yang berada di atas meja. Aku menatap layar ponselku yang terisi penuh oleh wajahnya.

Ada apa?

Aku membaca balasan pesan Kakao Talk-nya yang baru sampai sedetik yang lalu yang langsung aku balas.

Temui aku di ruang makan rumah utama.

Ini hampir jam 2 pagi. Aku mau tidur.

Ini perintah.

Haisssh!! Awas kau, Cho Kyuhyun!!

Aku menanti kedatangannya dengan tidak sabar. Meskipun ia muncul tidak sampai 3 menit setelah pesan terakhir yang ia kirimkan, rasanya bagiku seperti 3 jam yang sangat panjang.

“Ada apa?” Tanyanya dengan baju tidurnya yang kebesaran dan rambutnya yang tergerai tidak teratur.

“Buatkan aku coklat panas,” kataku asal. Aku tidak punya alasan khusus. Aku hanya ingin menemuinya.

Hyejin menatapku bingung. “Sejak kapan kau suka minum coklat panas?” Tanyanya namun ia tetap membuatkan coklat panas untukku.

Aku mengikutinya dari belakang dan memeluknya dengan erat ketika ia sedang mengaduk minumanku. Aku meletakkan kepalaku di bahunya sambil sesekali mencium lehernya.

“Lusa kita akan menikah. Bagaimana perasaanmu?” Tanyaku.

“Biasa saja,” jawabnya datar, membuatku kesal. Ia membalik tubuhnya dan menyodorkan coklat panas permintaanku. “Habiskan.”

Aku mengambil coklat panasku dengan cemberut, meminumnya sedikit demi sedikit. “Bagaimana bisa perasaanmu biasa saja? Kalau aku bahkan sudah tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Bahagia, excited, tidak sabar, deg-degan, semua sudah campur jadi satu,” tanyaku setelah menghabiskan setengah gelas coklat panas buatannya.

“Habiskan baru bicara,” katanya galak membuatku semakin cemberut. Dengan terpaksa, aku menghabiskan seluruh coklat panasku.

“Kau pasti tidak bahagia menikah denganku ya?” Tanyaku diliputi rasa takut setengah mati melihat reaksinya.

Hyejin dan aku sepakat menikah setelah 3 tahun berpacaran. Memang aku yang lebih dulu mengungkapkan perasaanku dan aku berterima kasih banyak kepada eomma dan Choi ahjumma yang berhasil membujuk Hyejin untuk membuka hatinya untukku. Sangat susah menaklukkan wanita satu ini. Alasannya, karena kami bersahabat, tidak mungkin bisa jadi sepasang kekasih. Cih! Omong kosong. Buktinya, kami akan segera menjadi sepasang suami istri.

Menurutku, selama ini juga tidak ada yang salah dalam hubungan kami. Kami berpacaran bagaimana layaknya orang-orang pacaran. Kami berciuman seperti pasangan-pasangan lain dan menghabiskan waktu sebagaimana dua orang yang saling mencintai. Hyejin juga selalu menunjukkan bahwa ia mencintaiku.

Apa dia tiba-tiba meragukanku?

“Hyejin-ah, jawab aku. Jangan diam saja. Kau membuatku takut,” kataku pelan melihat ia hanya diam saja.

Hyejin menghela nafas panjang. Ia berdiri bersender pada tempat cucian piring sambil menatapku. “Aku stres. Tidak bisakah hal ini segera berakhir?” Ujarnya.

“Kau tidak ingin menikah denganku?” Tanyaku lagi merasa bersalah, seakan sedang memojokkannya.

Hyejin menggelengkan kepalanya. “Jangan berpikiran bodoh. Kau, satu-satunya pria yang bisa menikah denganku. Aku hanya ingin acara ini segera dimulai dan segera selesai. Bagaimana kalau aku lupa mengucapkan janji di gereja? Bagaimana kalau makanan di pesta kurang? Aku bahkan tidak berani melihat gedung yang aku yakin belum selesai dihias. Ottoke, Kyu??”

Aku bisa bernafas lega setelah mendengar jawabannya. Ia benar-benar membuatku jantungan.

Perlahan, aku menariknya kembali ke dalam pelukanku. “Kalau kau lupa mengucapkan janji, aku akan mengingatkannya dan kau boleh mengulangnya. Kalau makanan kurang, aku akan menelepon catering untuk menambah 1000 porsi lagi pagi nanti. Kalau dekorasi, masih ada 36 jam untuk menyelesaikannya dan aku yakin mereka akan menyelesaikannya. Jangan khawatir. Semua akan berjalan dengan lancar. Sejak kapan kau jadi pencemas seperti ini?”

“Yaaa! Ini acara sekali seumur hidup untukku. Aku tidak ingin ada kegagalan sedikit pun. Haiiish!” Omelnya sambil memukul dadaku.

“Tenang saja… Semua akan berjalan dengan lancar. Percayakan saja semua pada WO. Mereka pasti akan mengaturnya dengan sempurna,” kataku sambil membelai kepala Hyejin.

“Tetap saja aku khawatir,” katanya dengan lirih. Aku masih bisa menangkap guratan cemas di wajahnya.

Aku tersenyum gemas pada Hyejin. Dengan lembut, aku mencium bibir Hyejin. “Kau memang terlalu banyak kekhawatiran. Aku tidak keberatan kalau memang kau mau begitu. Yang pasti, apapun yang terjadi, aku akan tetap menikah denganmu lusa. Mau ada gempa bumi sekalipun, kau tetap akan jadi istriku. Tenang saja,” kataku.

“Dasar,” katanya sambil tersenyum.

Hyejin mengangkat kepalanya kepalanya lalu menciumku. Aku balas menciumnya dan entah sejak kapan tanganku sudah berada di bawah bokongnya, menopang tubuhnya yang berada dalam gendonganku. Aku menggendongnya dan meletakkannya di atas meja makan tanpa melepaskan ciuman kami yang semakin lama semakin panas.

Hyejin mengalungkan kedua lengannya di leherku, melepaskan ciumannya untuk mengambil nafas. “Aku mencintaimu. Aku tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi kalau hidup tanpamu,” katanya lalu kembali menciumku.

Aku balas menciumnya sambil berusaha menahan tanganku agar tetap bertumpu di atas meja makan, tidak berkeliaran di atas tubuh gadis ini. Sedangkan Hyejin, entah sadar atau tidak, berusaha memancing insting terliarku keluar. “Kalau aku tidak berani membayangkan malam pertama kita nanti,” kataku sambil menyeringai, tentu saja untuk menggodanya. Bohong aku tidak berani membayangkannya.

“Dasar mesum!” Ia menarik tubuhku semakin dekat, bahkan menempel dengan tubuhnya jika tidak ada pakaian di tubuh kami masing-masing yang memisahkannya. Ia tidak berhenti menciumiku.

“Siapa yang mengajarimu?” Tanyaku ketika ia berhenti dengan aksinya.

Ia duduk di atas meja dengan wajah tengilnya menatapku. “Memangnya kau saja yang bisa? Beberapa video bisa mengajariku,” jawabnya membuatku tertawa geli.

“Kau menonton film yadong. Issh!”

“Yaa!! Memangnya kau saja yang boleh melihat gadis-gadis berdada besar yang mendesah keras ketika bercinta dengan pria-pria yang entah mereka kenal atau tidak.”

“Menurutku, kau lebih seksi dari mereka dan…”

“Dan apa?”

“Dan aku selalu membayangkanmu ketika menontonnya.”

“Pervert.”

Aku menyeringai kecil kemudian kembali menciumnya dengan intens. Begitu juga dengan Hyejin. Ia sudah menempel lagi padaku, seakan tidak akan bisa terlepas. Sayang, eomma datang mengganggu kesenangan kami.

“Astaga Cho Kyuhyun!!! Tidak bisakah kau menahan nafsumu satu setengah hari lagi?! Astaga!!” Seru eomma membuat Hyejin buru-buru melepaskan tautan bibir kami dan melompat dari meja makan, berdiri di sebelahku sambil membungkukkan badan berulang kali.

“Jwisonghamnida. Jwisonghamnida,” ucap Hyejin berulang kali pada eomma.

Eomma menatap kami dengan galak. Ia mengomel kepada kami berdua, “Anak zaman sekarang. Hyejin, kembali ke rumahmu. Kyuhyun, eomma akan buat perhitungan denganmu karena mengotori dapurku.”

Hyejin masih membungkukkan tubuhnya sambil mengucapkan maaf berulang kali sebelum kembali ke rumahnya di belakang rumahku. “Sampai jumpa nanti siang,” kataku sebelum melepasnya pergi. Tidak lupa memberikannya sebuah ciuman lagi tepat di depan mata eomma.

Eomma bergidik melihat kami berdua. Tapi aku tahu ia tidak sekolot itu. Ia hanya sedikit mengganggu Hyejin karena tidak ada kerjaan. Eomma bahkan tersenyum lebar setelah Hyejin pergi. “Melihat kalian tadi, seharusnya aku akan mendapatkan calon cucu paling lambat sebulan setelah pernikahan. Pasti akan sangat menyenangkan,” katanya dengan girang.

“Aku bisa memberikan lebih cepat kalau eomma tidak datang mengganggu tadi.”

Plak! Sebuah pukulan keras mendarat di punggungku. “Siapa yang merengek kepadaku mengundur pernikahan jadi bulan November padahal aku sudah merancang dengan rapi pernikahan untuk di bulan Juli? Kalau kau mengikuti kataku, mungkin sekarang perut Hyejin sudah membesar dan aku sudah bisa menggendong cucu pertengahan tahun depan. Kau membuatku kesal saja.”

Aku hanya tersenyum pahit kepada eomma. “Eommaaaaa!!! Jangan mengingatkan kebodohanku,” kataku mengingat kebodohanku yang terpaksa meminta eomma memundurkan tanggal pernikahan kami karena Hyejin masih sibuk dan aku menyesalinya. Kalau aku tidak menuruti permintaannya, aku pasti akan berstatus menikah sejak empat bulan lalu. Aku benar-benar tidak sabar untuk menghabiskan hidupku dengannya.

Kkeut!

xoxo @gyumontic