Saat aku membuka mataku, aku hanya melihat pungggung Seunghyun oppa menjauhiku dan Woobin oppa masih berdiri terpaku di sana.
Tubuhku melemas, sejujurnya aku takut tadi Woobin oppa akan memukul Seunghyun oppa. Tentu saja akan jadi masalah besar lainnya jika benar-benar terjadi.
Aku berusaha menggerakkan kakiku masuk ke rumah, aku terus menundukkan kepalaku, melewati Woobin oppa. Aku tidak mau melihat reaksi wajahnya saat Seunghyun oppa yang tiba-tiba saja menciumku di depannya.
Sejujurnya, jauh di dalam hatiku, aku sangat berharap dia menarikku saat Seunghyun oppa menciumku, menjauhkanku dari Seunghyun oppa dan mengatakan bahwa aku tunangannya. Namun itu tidak akan pernah terjadi bukan?
“Kau mencintainya?” Aku bisa mendengarkan bisikannya di belakangku, Aku tidak peduli. Aku sudah menutup semua keinginanku untuk bersama Woobin oppa. Aku akan masuk ke rumah, berbicara kepada kedua orangtua kami bahwa aku dan Woobin oppa tidak akan pernah bisa bersama.

“Kau mencintainya, Choi Jihyo?” Woobin oppa kali ini berteriak. Mungkin ia mengira aku tidak mendengarnya karena aku tidak menjawab pertanyaannya. Woobin oppa ppaboya, mana mungkin aku tidak bisa mendengar suara namja yang kucintai hampir seumur hidupku.
Aku tetap tidak menjawab pertanyaannya maupun menghentikan langkahku. Rasanya jarak antara pagar dan pintu rumahku yang terpisahkan oleh pekarangan kecil ini terasa jauh sekali. Rasanya aku ingin berlari memasuki rumah, namun kakiku menolak berlari. Kedua kakiku seolah memberikan kesempatan kepada namja di belakangku untuk mengejarku, mengatakan bahwa ia mencintaiku dan tidak ingin aku memutuskan pertunangan ini.
“Choi Jihyo,” suara Woobin oppa yang terdengar jelas di telingaku hampir membuatku terlonjak kaget. Aku bisa merasakan kedua tangannya melingkar di perutku, memelukku dari belakang.
“Katakan padaku kau tidak mencintai Choi Seunghyun,” Woobin oppa semakin mempererat pelukannya, tanganku menyentuh lengannya, rasanya ingin mengurung kedua lengannya agar tak melepaskan pelukannya.
“Naega jeongmal saranghaeyo,” bisiknya.
Mwo? Woobin oppa mengatakan apa? Dia mencintaiku? Aku panik mendengarnya. Dari dulu aku mengharapkan kalimat itu keluar dari bibirnya. Namun setelah ini menjadi kenyataan, semuanya terdengar aneh, seperti dia hanya mempermainkanku, berusaha agar aku tetap ada di sisinya karena ia tidak ingin dicoret dari daftar pewaris Kim Group.
“Seunghyun oppa,” entah mengapa aku mengucapkan nama itu. Kurasa, aku kini mulai bergantung kepada bos ku itu. Setiap aku merasa sedih, takut, marah, dan hilang arah karena Woobin oppa, hanya dia yang ada untukku. Sama seperti saat ini, aku tidak mengerti kenapa aku setakut ini karena kalimat yang diucapkan Woobin oppa, padahal aku sangat menginginkan kalimat itu keluar dari bibirnya.
“Jihyonnie, mianhae,” Woobin oppa sepertinya tidak mendengarkanku mengatakan nama sahabatnya. “Aku mencintaimu, sejak kita-”
“Aku mencintai Seunghyun oppa,” aku mengatakannya dengan cepat. Maafkan aku karena membohongimu, karena kau juga berbohong mengatakan kau mencintaiku. “Dan aku akan mengatakan kepada kedua orangtua kita bahwa kau dan aku sama-sama mencintai orang lain.”
Aku berusaha melepaskan pelukan Woobin oppa, namun tidak bisa. Aku tidak tau apakah dia terlalu erat memelukku atau aku tidak punya kekuatan untuk melepaskannya.
“Aku tidak akan membiarkan kau mengatakan hal itu,” Woobin oppa dengan sangat mudah membalikkan tubuhku sehingga kini aku berhadapan dengannya.
“Apa kau kira aku mencintaimu, oppa?” Aku mengatakannya dengan sangat dingin, aku ingin Woobin oppa merasakan setiap sakit yang kurasakan selama ini karena aku terlalu mencintainya. “Jika kau tau jawabannya, lepaskan aku sekarang juga.”
Aku tidak bisa membaca raut mukanya, Woobin oppa menatapku dengan tatapan nanar. Ia merenggangkan pegangan tangannya di pundakku.
Aku menghempaskan tangannya dari pundakku dan berjalan dengan cepat memasuki rumah. Aku melihat appa, eomma, Kim ahjussi, Kim ahjumma, Siwon oppa, dan Yuna unnie duduk di ruang tamu. Mereka sedikit tercekat melihatku datang dan diikuti oleh Woobin oppa. Aku tau mereka semua mencemaskan kami.
“Jihyo, Woobin, duduklah,” ujar eomma dengan lembut. Aku langsung menyelip diantara Siwon oppa dan Yuna unnie. Aku tidak mau bersebelahan dengan Woobin oppa.
“Jihyo, maafkan kelakuan Woobin saat di Jeju kemarin ya nak. Woobin hanya tidak bermaksud untuk membuat semuanya semakin runyam di hadapan publik,” ujar Kim ahjumma bersuara.
Aku mengangguk. Itu tipikal Woobin oppa sekali, dia tidak ingin semua citranya di publik hancur hanya karena dunia tau aku adalah tunangannya.
“Jihyonnie,” giliran Kim ahjussi memanggilku. Beliau menatapku dengan tenang, “Aku tau bagaimana sikap Woobin selama ini. Aku sebagai appa nya sangat menyayangkan sikapnya padamu. Karena kau sudah kuanggap seperti anakku sendiri, Jihyo, aku akan mengembalikan semua keputusan kepadamu.”
Aku sedikit tercekat saat mendengarkan kalimat dari Kim ahjussi. Serius? Kim ahjussi akan mengiyakan semua keputusanku?
“Ahjussi,” aku menatap meja di ruang tamu. Aku tidak bisa mengatakan hal ini, aku tidak bisa. “Aku ingin pertunangan ini dibatalkan.” Jihyo kau mulai gila! Kau sudah mengatakannya!
“Choi Jihyo!” Suara appa meninggi, sepertinya appa tidak menyangka bahwa aku akan benar-benar berani mengatakannya.
“Appa, Woobin oppa mencintai orang lain. Kami berdua tidak saling mencintai. Pernikahan kami nantinya tidak akan berhasil, appa,” Aku mengatakannya dengan sangat cepat, aku tidak yakin appa bisa mendengarkan dengan jelas semua perkataanku.
“Kau benar Jihyo. Memang sebaiknya dalam pernikahan tidak perlu ada keterpaksaan,” Kim ahjussi menyela appa yang hendak mengamuk kepadaku. “Apa kau merasa terpaksa menjalani pertunangan ini dan ingin mengakhirinya?”
Aku menggangguk.
“Aku tidak akan mengakhirinya,” Woobin oppa menatapku dengan tatapan marah. “Ahjussi, kumohon maafkan aku kali ini. Aku tau aku salah, namun aku tidak bermaksud menyakiti Jihyo. Aku bisa menjelaskan apa yang terjadi di Jeju.”
“Aku sudah menjelaskan ke appa dan eomma, tidak ada lagi yang perlu dijelaskan,” aku memotong perkataan Woobin oppa. Sebenarnya aku sudah malas berlama-lama membahas masalah ini, aku sudah muak.
“Kau tidak tau yang sebenarnya, Choi Jihyo,” ujarnya dingin. Apa? Dia bilang aku tidak tau yang sebenarnya di saat seluruh orang di negeri ini membicarakan artikel mengenai Woobin oppa dan Soohee?
“Aku tau yang sebenarnya,” Aku menahan diriku agar tidak berteriak. Aku menoleh ke appa. “Appa, appa bilang jika aku menemukan namja lain aku boleh memutuskan pertunangan ini kan? Appa, aku sudah memiliki kekasih dan aku tidak mau dijodohkan dengan cara seperti ini.”
Seluruh orang di ruangan terdiam. Siwon oppa menggenggam tanganku dengan erat. Aku tau dia mengisyaratkan kepadaku agar aku tidak membuka mulutku lagi sebelum appa benar-benar murka. Namun aku sudah melangkah jauh dan tidak bisa kembali lagi. Aku sudah memutuskan untuk tidak mencintai Woobin oppa dan menghentikan pertunangan konyol ini.
Sajangnim, maafkan aku karena meminjam namamu untuk membereskan masalah pertunangan ini.
“Appa, aku mencintai Choi Seunghyun.”

+++

Aku memijit kepalaku dengan kencang. Hari ini sungguh menyebalkan. Seluruh mata di kantor melihatku dengan tatapan aneh sejak tadi pagi. Ini pasti gara-gara artikel Seunghyun sajangnim yang sembarangan saja menciumku saat dia sedang menyamar menjadi turtleneck namja.
“Choi Jihyo, mana laporan yang aku minta kemarin?” Aku hampir meloncat dari kursiku saat melihat Seunghyun sajangnim tiba-tiba sudah ada di depan mejaku.
“Sudah kukirim ke email sajangnim,” Aku masih berusaha menenangkan jantungku yang berdebar sangat kencang gara-gara dikagetkan dengan kehadiran Seunghyun sajangnim. Biasanya aku sangat terbiasa dengan kebiasaaannya yang suka muncul tiba-tiba. Apa karena aku hari ini sedang banyak pikiran?

“Aku butuh hardcopy nya. Print dan taruh di mejaku,” ujarnya sambil berjalan menuju pintu ruangannya. “Dan satu lagi.”

Aku menoleh ke arahnya, menunggu kelanjutan kalimatnya.

“Jangan terlalu memikirkan apa yang dibicarakan oleh semua orang di kantor,” ucapnya sambil masuk ke dalam ruangannya.

Aku memanyunkan bibirku. Ya! Ini semua kan gara-gara tingkah seenaknya makanya aku menjadi pembicaraan semua orang. Memang sih sekarang para paparazzi sudah tidak mengikuti karena mereka sudah tau bahwa aku bukanlah orang ketiga diantara Soohee dan Woobin oppa. Tapi tetap saja ini seperti keluar dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau.

Smartphone pribadiku memunculkan wajah Siwon oppa di layar. Aku hampir saja lupa jika aku tadi pagi meminta Siwon oppa menjemputku.

“Yoboseyo oppa?”

“Aku sudah berangkat menuju kantormu. Kau akan pulang tepat waktu kan?” ujarnya di seberang sana.

“Ne oppa. Kalau aku diizinkan oleh bos ku pulang tepat waktu,” Aku agak sangsi Seunghyun sajangnim akan membiarkanku pulang pukul lima sore pas.

“Loh, bukannya kau bilang kau kekasih bos mu? Minta saja kepadanya untuk pulang cepat,” Aku bisa mendengar nada kesal di perkataan Siwon oppa. Kakakku ini dari dulu kebiasaan tidak menyukai setiap namja yang ia nilai dekat denganku. Hanya Woobin oppa dan Key yang masuk pengecualiannya, hahaha.

“Oppa, aku bilang aku mencintainya. Bukan berarti dia kekasihku!” Aku protes mendengarnya. Lagipula siapa yang mau menjadi kekasih Seunghyun sajangnim yang suka memerintah seenaknya itu, huh.

“Yasudah, 10 menit lagi aku akan sampai di kantormu,” ujar Siwon oppa menutup sambungan teleponnya.

Aku bergegas mengeprint laporan yang diminta Seunghyun sajangnim. Bisa gawat jika Siwon oppa menunggu lama nanti, bisa-bisa ia mengomel sepanjang perjalanan pulang.

Setelah 50 halaman laporan sudah selesai aku print, aku bergegas masuk ke ruangan Seunghyun sajangnim untuk memberikan laporannya. Baru saja aku membuka pintu, aku melihatnya tertidur di kursi kerjanya.

Aku berjalan perlahan agar tidak membuatnya terbangun. Tidak biasanya ia tertidur di jam kerja, tapi yasudahlah bukan urusanku, Seunghyun sajangnim kan yang punya perusahaan, tentu saja dia boleh tidur di jam kerja seperti ini.

“Mengapa kau berjalan seperti kucing yang hendak mencuri ikan, Jihyo?” Seunghyun sajangnim mengangkat kepalanya dari meja.

Aku langsung salah tingkah, “Errr, mmmmh,” Aku bingung harus mengatakan apa. “Aku tidak ingin membangunkanmu, sajangnim.” Akhirnya aku memutuskan untuk berkata jujur.

Aku mempercepat langkahku menuju mejanya dan segera meletakkan laporan yang Seunghyun sajangnim minta. “Sajangnim, aku boleh pulang?”

Seunghyun sajangnim memandang tumpukan kertas laporan yang baru saja aku print dan membacanya, “Kau tidak ingin pulang denganku?”

“Pulang dengan sajangnim?” Aku memperjelas pertanyaannya. “Memangnya aku harus pulang dengan sajangnim?”

Ia mengalihkan pandangannya dari laporan ke diriku. “Kau memangnya tidak ingin pulang denganku?”

Aku rasanya ingin melempar semua kertas di mejanya ke muka tampannya itu. “Seunghyun sajangnim, aku akan dijemput oleh oppa ku. Boleh aku pulang sekarang?”

“Oppa?” Seunghyun sajangnim berdiri dari tempat duduknya dan melangkah menghampiriku. “Namja?”

Aku tidak mengerti apakah memang setiap bangun tidur bos ku jadi lemot seperti ini. Tentu saja oppaku namja! Kalau yeoja tentu saja aku akan memanggilnya dengan sebutan unnie. “Ne, sajangnim. Oppa, kakak kandungku.”

Aku bisa melihat wajah kelegaan bercampur kebingungan di wajahnya. “Kau tidak bilang jika kau punya seorang kakak.”

“Memangnya aku harus bilang?” Kini giliran aku yang bingung.

“Tentu saja, kau kan yeojachinguku,” Seunghyun sajangnim tersenyum dengan sangat menyebalkan. Aku refeleks memukul lengan bos ku.

“Kata siapa?” Aku gemas melihat tingkahnya. Aku tau dia bosku, tapi kan dia tidak bisa selamanya bersikap seenaknya seperti ini.

“Kataku,” Seunghyun sajangnim meraih tanganku dan menarikku keluar dari ruangan.

“Sajangnim, kita mau kemana?’ Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak terseret.

“Bertemu dengan oppamu,” jawabnya datar.

“Mwo?” Aku kini sudah tidak bisa melawan kekuatannya, aku diseret olehnya menuju lift. Aku berteriak jika tas ku ketinggalan, Seunghyun sajangnim langsung berhenti mendadak dan kembali menyeretku ke arah meja kerjaku dan mengambil tas ku.

Beberapa pegawai yang sedang menunggu lift langsung memberikan jalan ke kami begitu pintu lift terbuka. Ada lima pegawai di dalam lift langsung keluar begitu melihat Seunghyun sajangnim menarikku masuk ke lift.

“Daaaan semua orang tidak mau satu lift dengan kita,” Aku mendengus kesal teringat akan gosip jika aku dan Seunghyun sajangnim berpacaran. Tapi bukankah kau sendiri yang berbohong kepada keluargamu dan keluarga Woobin oppa jika kau mencintai Seunghyun sajangnim? Rasakan Choi Jihyo!

“Kau tidak suka?” Seunghyun sajangnim memelototiku. Aku menggeleng.

Lift ini terasa sangat lama mencapai lantai LG dan Seunghyun sajangnim tidak melepaskan genggaman tangannya dari tanganku.

“Choi Jihyo,” panggilnya.

“Ne, sajangnim?”

“Apa kau mencintaiku?”

Aku langsung memandangnya dengan tatapan takjub. Apa Seunghyun sajangnim serandom ini untuk mencari bahan pembicaraan?

“Aku peduli padamu,” jawabku. Tentu saja aku peduli padanya. Dia bosku. Harus aku akui bahwa dia selalu ada untukku, di saat aku sedang terluka karena Kim Woobin.

“Aku mencintaimu,” Seunghyun sajangnim mendekatkan tubuhnya ke arahku, ia sedikit merunduk. Aku tau apa yang akan ia lakukan saat ini. Aku ingin kabur tapi aku tidak bisa bergerak, ia menggenggam tanganku dengan sangat erat hingga aku sedikit meringis kesakitan.

Untunglah pintu lift terbuka di waktu yang tepat. Aku menengok saat melihat segerombolan karyawan di depan pintu lift melihat kami berdua. Seunghyun sajangnim sepertinya sadar jika kami berdua sudah tiba di lantai LG. Ia menarikku kembali keluar dari lift.

“Apa oppa mu sudah sampai?” Seunghyun sajangnim melepaskan tanganku begitu kami sudah keluar dari lobi kantor. Aku melihat mobil Siwon oppa mendekat dan berhenti di hadapan kami berdua.

“Sajangnim, aku pulang dulu. Sampai bertemu besok!” Aku membungkuk berpamitan kepadanya sebelum Siwon oppa keluar dari mobilnya. Namun terlambat, Siwon oppa sudah keluar dari mobilnya dan aku tau dia pasti akan bertanya banyak hal.

“Annyeonghaseyo, Choi Seunghyun-ssi,” Siwon oppa keluar menghampiri kami berdua. “Terima kasih sudah menerima dongsaengku bekerja di sini.”

Aku tau Siwon oppa sedang basa-basi, pasti di dalam hatinya dia ingin menendang Seunghyun sajangnim dengan jurus taekwondonya.

“Annyeonghaseyo,” Seunghyun sajangnim melirik kepadaku. Aku cepat-cepat memperkenalkan Siwon oppa.

“Sajangnim, ini kakakku, Choi Siwon,” ujarku sambil menyunggingkan senyum terpaksa.

“Annyeonghaseyo Choi Siwon-ssi. Senang bisa bertemu dengan anda,” Seunghyun sajangnim terdengar sangat ramah. Aku bahkan kaget ia bisa seramah ini dengan orang lain yang baru ia kenal.

“Oppa, bukankah appa dan eomma tadi sudah menyuruh kita untuk cepat pulang?” Aku menyikut pinggang Siwon oppa memberikan kode untuk segera masuk ke mobil.

“Ah, benar. Maafkan aku Seunghyun-ssi, kami harus segera pulang,” Siwon oppa kini mengulurkan tangannya menjabat tangan Seunghyun sajangnim, pasti Siwon oppa akan meremas tangan Seunghyun sajangnim dengan tenaga kudanya. Ini adalah langkah pertama Siwon oppa memberitahu ke namja lain bahwa ‘Jangan macam-macam dengan adikku.’

Kami berdua segera masuk ke mobil begitu Seunghyun sajangnim mempersilahkan kami untuk pulang.

“Jadi bagaimana tadi, sukses?” tanyaku cepat begitu mobil kami keluar dari kantorku.

Siwon oppa menggeleng. “Dia sepertinya tidak kesakitan saat aku menjabat tangannya.”

Woah, baru kali ini aku mendengar ada yang bisa tahan menghadapi jabatan tangan Siwon oppa. “Jadi?”

Siwon oppa melirik diriku dengan kesal. “Tetap saja dia menciummu di depan publik dan fotonya tersebar luas ke seantero penjuru bumi Choi Jihyo! Aku tidak mau kau berpacaran dengannya, titik!”

Aku tertawa mendengarnya. Selama tiga hari ini Siwon oppa hanya bisa mendumel dan marah-marah karena artikel aku dan Seunghyun oppa berciuman di depan umum.

Untungnya aku terselamatkan dari amarah Siwon oppa yang berkelanjutan saat smartphoneku berdering. Aku tertawa melihat nama penelponku. Selalu saja setiap Siwon oppa marah-marah, namja ini akan ikut bergabung untuk memarahiku.

“Yoboseyo Kyuhyun oppa. Kau mau mengamuk kepadaku juga? Saat ini aku sedang diamuk oleh Siwon oppa!”Aku menyapa sepupuku yang sedang berada di Busan, Cho Kyuhyun.

“Kau sedang diamuk oleh Siwon hyung? Hahaha rasakan!” Aku tau saat ini dia senang menunjukkan wajah termenyebalkannya.

“Ya Cho Kyuhyun! Bantu aku menggantikan popok Kihyun!” Giliran aku tertawa begitu mendengar teriakan Hyejin unnie, istri si King Evil. Walaupun Kyuhyun oppa selalu menyombongkan dirinya sebagai King Evil, tetap saja dia tidak bisa berkutik jika berhadapan dengan Song Hyejin.

“Hai Jihyo! Maaf yah kami berisik. Apa kabarmu dongsaeng?” Aku bisa mendengar Kyuhyun oppa berteriak karena smartphonenya direbut oleh Hyejin unnie. “Kau bisa menjemput kami besok di stasiun?”

“Kalian akan kembali besok?” Kyuhyun oppa, Hyejin unnie, dan si kecil kesayanganku Kihyun sudah seminggu berlibur di Busan.

“Ne. Kau tau kan bawaan Kihyun banyak. Jadi tolong yaaa jemput kami sore besok,” pinta Hyejin unnie. Aku sih tau jika bukan bawaan Kihyun yang berat, tapi pasti kantong belanjaan Hyejin unnie sudah lebih dari tiga tas.

“Arra, arra, unnie. Besok aku dan Siwon oppa akan menjemput kalian di stasiun,” Aku menengok ke Siwon oppa menunggu anggukannya, namun kakakku satu-satunya ini malah menggeleng.

“Besok aku harus menjemput Han Na di bandara,” jawab Siwon oppa.

“Sehabis menjemput Han Na unnie kan kita bisa ke stasiun menjemput Kyuhyun oppa dan Hyejin unnie.”

“Tapi kasihan Han Na, dia pasti lelah terbang dari Amerika. Kau kan bisa menjemput Kyuhyun dan Hyejin sendiri,” Siwon oppa memasang tampang memelas yang sama sekali tidak ada pengaruhnya untukku.

“Ya Choi Jihyo! Kalau ada Siwon hyung dan Han Na mana muat mobilnya!” Kyuhyun oppa berteriak hingga membuat Kihyun menangis. Percakapan ini tidak akan selesai kalau begini.

“Baiklah, besok kalian kabari saja akan tiba di stasiun jam berapa.”

+++

Aku melirik ke arah jam tanganku, pukul 16.50. Kyuhyun oppa memberitahuku jika mereka akan tiba pukul 17.00. Untunglah aku tidak terlambat, untung juga Seunghyun sajangnim tadi sedang pergi bersama Jinhyuk oppa sehingga aku tidak perlu mencari alasan mengapa aku pulang kantor lebih cepat.

Aku tersenyum begitu melihat ada bocah tampan kecil tertatih-tatih setengah berlari ke arahku.

“Aaaaaa, Cho Kihyun kesayangan imo!” Aku segera menghampiri Kihyun yang tertawa melihatku dan menggendongnya. “Kau lama sekali sih di Busan sayangku. Kau tidak rindu pada imo mu ini?”

Kihyun masih belum bisa berbicara, tapi aku tau Kihyun juga merindukanku saat ia memegang rambutku sambil menunjukkan dua gigi depannya yang imut itu.

“Jihyo, kau tepat waktu!” Kyuhyun oppa bertepuk tangan seolah aku habis memenangkan pertandingan.

“Aku memang selalu tepat waktu. Memangnya kau, huh,” Aku menjulurkan lidahku ke arah Kyuhyun oppa yang langsung ditiru oleh Kihyun.

“Ya ampun kalian berdua ini kenapa sih kalau bertemu tidak bisa akur sedikit. Jangan beri contoh yang tidak baik ke Kihyun!” Hyejin unnie menjitak kami berdua.

“Mereka berdua kan selalu begitu,” Aku tau suara itu, namun aku tidak ingin menengok ke belakang. Tolong katakan itu bukan dia, itu bukan dia.

“Ya, bukannya kau juga dulu selalu bertengkar dengan Jihyo,” Kyuhyun oppa berjalan ke belakangku menghampiri pemilik suara tersebut.

“Annyeong, Kihyun-ah. Kau bertambah besar,” Woobin oppa menghampiri Kihyun yang sedang ku gendong dan mengacak-acak rambutnya.

“Jadi kau akan ikut mobil Woobin oppa atau mobilku, oppa?” Aku memelototi Kyuhyun oppa. Aku tau ini pasti akal-akalannya supaya aku bertemu dengan Woobin oppa.

Kyuhyun oppa hanya bisa mengangkat kedua bahunya berpura-pura kebingungan. “Kemarin aku kira Woobin sibuk makanya aku menghubungimu, Jihyo-ku sayang. Jangan marah-marah begitu, nanti tidak ada lagi namja yang mau denganmu selain Woobin.”

Aku rasanya ingin menjambak rambut Kyuhyun oppa, namun bisa-bisa Hyejin unnie murka karena appa dari anaknya aku aniaya seperti itu.

Aku tau Woobin oppa memandangiku, namun aku menghindari kontak mata dengan Woobin oppa. Sialnya aku tidak bisa menghentikan mataku untuk menatap tubuhnya yang dibalut dengan kemeja hitam itu. Sejujurnya, aku paling suka saat Woobin oppa mengenakan kemeja hitam seperti itu, ditambah rambutnya yang sedikit berantakan seperti saat ini. Mengapa dia harus memakai kemeja hitam sih?

“Oiya, Jihyo, Woobin. Tapi kami mau ke rumah orangtua Hyejin dulu. Appa dan eomma rindu dengan Kihyun,” Kyuhyun oppa sudah mengeluarkan senyuman paling jahil. “Bagaimana?”

Aku baru saja akan mengatakan ‘Tidak apa-apa, aku akan mengantarkan kalian kemanapun asal aku tidak harus bersama dengan Woobin oppa’. Namun aku kalah cepat, Woobin oppa sudah melempar kunci mobilnya ke Kyuhyun oppa.

“Hyung, pakai saja mobilku. Aku akan ikut dengan Jihyo,” Woobin oppa melipat kedua tangannya di depan dadanya. Oh tidak, mengapa jantungku jadi berdebar-debar seperti ini.

“Kata siapa kau boleh naik ke mobilku?” Aku tidak mau dekat-dekat dengan Woobin oppa, walaupun sebenarnya aku sangat ingin. Namun kalau aku nanti semobil dengannya, tentu pendirianku akan goyah untuk menyerah dan melupakannya.

“Kataku,” Woobin oppa mengambil Kihyun dari gendonganku dan menggendongnya. “Kihyun, Woobin samchun pinjam Hyonnie imo mu sebentar ya,” Woobin oppa menngecup kening Kihyun dan memberikan Kihyun ke Hyejin unnie.

Apa-apaan Kim Woobin itu!!!!!!!!

+++

“Kau tidak lapar?” Woobin oppa menawarkan roti kepadaku. Namun aku memang tidak lapar. Bagaimana aku bisa lapar jika hampir selama 5 jam aku berada di dalam mobil bersamanya, hanya memandangi pintu pagar rumah Kyuhyun oppa dan Hyejin unnie padahal sang pemilik tidak ada di rumahnya.

“Aku akan menghubungi Kyuhyun hyung,” ujar Woobin oppa mengambil smartphonenya dari atas dashboard mobilku. Ia menghubungi Kyuhyun oppa, namun aku tau itu sia-sia. Sepupuku yang satu itu tidak akan pernah setengah-setengah dalam mengatur segala rencana jahilnya itu.

“Sepertinya smartphonenya mati,” Woobin oppa melirikku. “Kau mau aku antarkan pulang saja?”

Aku mengangguk. Aku terus memandang ke arah luar. Aku benar-benar tidak ingin memulai percakapan dengannya.

“Kau mau aku menyalakan radio?’ Woobin oppa sejak dari stasiun tadi hanya terus mengatakan kau mau ini, kau mau itu. Aku memang tidak memberikan kesempatan untuknya mengajakku berbicara lebih panjang. Namun bukankah jika seperti ini aku sama saja dengan dirinya yang dulu selalu mengacuhkanku?

“Ne, oppa,” Aku memutar tubuhku menghadapnya. Sialnya jantungku mulai menabuh drum dengan cepat saat melihat Woobin oppa memegang kemudi dengan earat, aku bisa melihat lengannya yang kokoh terbalut dengan kemeja hitam itu. Aaaarrrrggghhh, ini semua pasti efek kemeja hitam itu!

“Kukumu berwarna,” Woobin oppa mengatakan hal itu seperti ada yang salah.

“Ne, nail polish. Waeyo?”

“Bukankah dari dulu kau tidak suka memakai nail polish di kukumu?”

“Memang tapi Seunghyun sajangnim bilang kalau kuku ku bagus apabila memakai nail polish,” Baru saja aku menyelesaikan kalimatku, tubuhku tertarik ke belakang. Woobin oppa memacu mobilku dengan kecepatan tinggi.

“Oppa, jangan mengebut!” Aku memukul lengannya, namun ia malah memelototiku. Matanya tiba-tiba menjadi merah, aku tau dia marah, namun aku tidak mengerti apa alasannya.

“Mengapa kau selalu mengikuti semua perkataan Seunghyun!”

“Memangnya tidak boleh?” Aku bingung mengapa dia masih saja mencampuri urusanku padahal aku sudah bukan tunangannya lagi.

Seperti itulah Kim Woobin, dia tidak pernah menjawab pertanyaanku. Aku mendengus kesal dan memegang seatbeltku dengan erat. Aku tau Woobin oppa tidak akan mengurangi kecepatannya jika dia dalam keadaan seperti ini. Aku hanya berdoa aku segera sampai rumah.

Untungnya dengan kecepatan kilat seperti saat ini hanya butuh waktu 10 menit untuk tiba di depan rumahku. Aku langsung melepas seatbeltku dan keluar dari mobil tanpa berpamitan dengan Woobin oppa. Namun baru beberapa langkah menjauh dari mobilnya, aku sadar tidak ada satu lampu di rumahku yang menyala.

Aku bergegas menuju pagar, dan benar saja pagar rumahku di kunci. Mengapa semua orang tidak berpihak denganku hah? Mengapa semuanya membiarkanku berduaan saja dengan Kim Woobin?

Aku dengan panik memencet nomer hanpdhone eomma. “Eomma, eomma dimana?” Aku bahkan tidak sempat mengucapkan kata yoboseyo kepada eommaku.

“Hyonnie, eomma dan appa sedang di acara reuni universitas. Tadi pagi eoma kan sudah mengatakan kalau malam ini appa dan eomma tidak akan pulang.”

Aku menepuk jjidatku. Tadi pagi aku terlalu buru-buru sehingga tidak terlalu fokus mendengarkan perkataan eomma. “Siwon oppa kemana? Eomma tidak meninggalkan kunci cadangan?”

“Eomma sudah memberikan kunci ke Siwon. Dia belum pulang? Coba hubungi Siwon dulu, Hyonnie.”

Aku langsung menutup sambungan telepon dengan eomma dan menghubungi Siwon oppa. Namun bukannya Siwon oppa yang menjawab, malah suara yeoja yang menyapaku.

“Hyonnie!”

“Ah, Han Na unnie. Siwon oppa kemana?” Aku bahkan tidak sempat mengatakan betapa rindunnya aku kepada calon kakak iparku ini saking aku paniknya memikirkan kenyataan bahwa Kim Woobin masih berada bersamaku, menunggu di luar mobilnya dan menatapku.

“Siwon? Sebentar ya Hyonnie,” ujar Han Na menyerahkan teleponnya ke Siwon opppa.

“Hyonnie! Kau sudah di rumah? Aku lupa memberikan kunci kepadamu,” Siwon oppa langsung menyerocos dengan cepat sebelum aku mengatakan sepatah kata pun.

“Kau pulang jam berapa jadi?Ini sudah pukul setengah sebelas malam.”

“Sepertinya aku akan menginap di rumah Han Na, Jihyo. Kau tidak apa-apa menginap di rumah-”

Aku segera mematikan teleponku. Arrgghhh ada apa sih dengan semua anggota keluargak yang tiba-tiba saja pergi tanpa meninggalkan kunci! Aku menarik napas panjang-panjang sebelum aku harus berbalik dan melihat wajah Woobin oppa.

“Tidak ada orang?” seperti yang aku duga, Woobin oppa duduk di atas kap sedanku sambil dengan gaya sengaknya.

“Aku akan menginap di rumah Key saja,” Aku baru saja akan memencet nomer handphone Key, namun Woobin oppa sudah dengan cepat mengatakan jika ia menugaskan Key ke Jepang.

Bagus, Dewi Keberuntungan sedang tidak berpihak kepadaku.

Aku sudah tidak tau lagi harus kemana, apa aku tidur di hotel saja yah? Atau aku harus meminta bantuan Seunghyun oppa?

Aku segera mengeluarkan smartphone pemberian Seunghyun oppa dari tasku. Kuharap dia belum tidur saat ini.

“Masuk ke dalam mobil, malam ini kau tidur di apartemenku,” Woobin oppa dalam sekejap sudah berada di depanku, mengambil smartphone ku dan memasukkan ke kantongnya.

“Kau ini punya masalah dengan smartphoneku?” Aku kesal dia selalu merebut smartphoneku seenaknya.

“Choi Jihyo, masuk ke dalam mobil sebelum aku memaksamu!”

Kurasa di dalam hatiku yang paling terdalam, entah aku tidak tau sedalam apa, masih ada diriku yang sangat mencintai Woobin oppa dan tak bisa untuk menolak apapun yang ia katakan seperti saat ini.

+++

Aku memandangi hujan yag turun dengan deras dari jendela apartemen Kim Woobin.

“Ganti pakaianmu. Ini ada pakaian Yuna noona,” Woobin oppa menyerahkan pakaian bersih kepadaku. Aku masuk ke kamar mandi dan mengganti pakaianku. Apa yang harus aku lakukan malam ini, bagaimana caranya bisa tidur dengan tenang?

“Aaaaaakh!” Aku langsung berteriak saat mendengar suara petir menggelegar. Sepertinya malam ini hujannya tidak hanya deras, tapi juga disertai petir. Sejak kecil, aku paling takut dengan suara petir. Dulu saat masih kecil, dari kamarku aku bisa melihat pohon besar di seberang rumah dan suatu hari aku melihat dengan jelas bagaimana pohon itu tersambar petir. Sejak saat itu aku paling tidak bisa mendengar suara gemuruh petir.

“Kau masih takut dengan petir?” Woobin oppa sudah berdiri di depan kamar mandi begitu aku membuka pintu. Aku mengangguk. Ini adalah situasi yang paling-sangat-sungguh tidak kuinginkan. Aku yakin seratus peersen aku tidak akan bisa tidur malam ini.

“Aku tidur di sofa saja,” Aku berjalan menuju sofa di depan ranjang Woobin oppa, namun Woobin oppa mencegahku. “Kau tidur di ranjang.”

Baiklah, terserah dia. Lagipula ranjangnya tentu jauh lebih nyaman dibandingkan dengan sofa. Walaupun aku tidak bisa tidur, tapi paling tidak besok pagi aku tidak akan pegal-pegal.

Aku merebahkan tubuhku di ranjang Woobin oppa dan menarik selimut hingga menutupi kepalaku. Aku masih bisa mendengar suara air hujan yang turun. Kuharap tidak akan ada petir lagi malam ini.

“Aaaaaaaaakhhhh, eoommaaaaaa!” Baru saja aku berharap tak akan ada petir lagi malam ini, yang terjadi malah beberapa kali petir terdengar bersahutan. Eomma, aku takut sekali. Mengapa eomma malah malam ini tidak pulang ke rumah huhuhu.

“Ya, Choi Jihyo! Kau berisik!” Aku langsung mengangkat selimutku dan melihat Woobin oppa terduduk di sofanya tidak bisa tidur karena jeritanku.

“Mian,” Aku kembali menyelimuti diriku hingga kepala, menutup kedua telingaku dengan bantal. Semoga saja dengan cara ini aku tidak akan mendengar gemuruh petir lagi.

Sayangnya, caraku kali ini tetap tidak berhasil. Aku tetap mendengar suara petir bergemuruh.

Anehnya kali ini aku tidak berteriak.

“Tidurlah, malam ini aku akan menjagamu dari petir-petir itu,” suara Woobin oppa terdengar lebih jelas dibandingkan petir di luar sana.

Aku memandangi tangannya yang melingkar di perutku. Aku tidak akan berani memutar tubuhku ke belakang saat ini. Kuharap Woobin oppa tidak bisa mendengar suara jantungku yang berdegup begitu kencang melebihi suara petir.