Hal pertama yang aku lihat saat membuka mataku adalah wajah Woobin oppa.

Tunggu Woobin oppa?

“AAAAAAAAAAAAAAA!!!” Aku langsung bangkit dari tidur begitu sadar aku tidur berhadapan dengannya.

“Kau berisik!” Woobin oppa membuka matanya dengan malas. “Ini masih pagi, Choi Jihyo.”

Aku panik mengingat apa yang terjadi tadi malam. Hujan, petir, tidur bersama. Apa? Kau tidur bersama dengan mantan tunanganmu Choi Jihyo?!?!

“Sadar Choi Jihyo, sadar,” Aku berusaha menghipnotis diriku bahwa semuanya baik-baik saja. Aku meraih smartphoneku di samping bantal. 20 miscall dari Seunghyun sajangnim. Dia pasti akan membunuhku begitu aku sampai kantor.

“Sudah kubilang ini kan masih pagi,” Woobin oppa menarik tanganku hingga aku tersungkur ke kasur. Ia dengan cepat menaruh tangannya ke pinggangku dan kakinya di kakiku, mengunciku hingga aku tidak bisa bergerak.

“Aku mencintaimu,” kini ia membuka matanya dengan penuh. Aku tidak bisa menduga apakah dia sebenarnya sedang mempermainkanku atau tidak.

“Mwo?”

“Aku mencintaimu, Choi Jihyo,” Woobin oppa mengatakannya sekali lagi, dari sorot matanya aku tau dia tidak berbohong. “Dan aku tidak akan melepaskanmu dari kasur ini jika kau tidak mengatakan kalimat yang sama.”

Aku memukul lengannya dengan keras. “Itu namanya pemaksaan!”

“Itu namanya aku tidak suka penolakan, tunanganku.”

“Mantan tunanganmu,” Aku meralat perkataannya.

“Terserah,” Woobin oppa tersenyum. Aku tau senyuman itu, itu senyuman yang sama saat ia dan Jongsuk oppa berhasil mengerjai Key saat kami masih bersekolah dulu.

“Apa kau selalu melakukan ini kepada para yeojachingumu itu?” Aku menambahkan sedikit sarkas di kalimatku, kurasa agak banyak.

“Kau yeoja pertama yang tidur bersama denganku sejujurnya,” Woobin oppa mendekatkan wajahnya kepadaku, membisikkan setiap kata yang keluar dari mulutnya.

Aku bergidik ngeri mendengarnya. Woobin oppa berkata seolah-olah tadi malam terjadi sesuatu hal saat aku dan dia tidur satu ranjang. “Aku tidak mencintaimu!”

Woobin oppa menghela napas sejenak, “Baiklah, kita punya waktu seharian agar kau mengatakan kau mencintaiku,” Ia dengan cepat mencium bibirku.

“Apa-apaan tadi?” Aku rasa kini wajahku sudah mulai memerah.

“Setiap kau mengatakan kau tidak mencintaiku, aku dengan senang hati menciummu, agassi,” Woobin oppa tertawa senang.

“Kau sedang mengerjaiku, ya?” Rasanya aku mau menangis kalau begini. Mengapa Woobin oppa selalu jahat kepadaku. Aku sudah memutuskan untuk tidak mencintainya lagi.

“Tidak,” kini ia memindahkan tangannya dari pinggangku menuju kepalaku, menggerakkan tangannya membelai rambutku. “Aku salah tidak memberitahumu sejak dulu. Namun aku benar-benar mencintaimu.”

“Mencintaiku tapi daftar nama yeojachingumu sangat banyak,” Aku cemberut.

“Itu karena kau selalu mematahkan hatiku!”

“Kapan?”

Woobin oppa menatap mataku dengan lekat, sepertinya ia ragu untuk berkata. “Kau selalu menjadi seseorang yang penting dalam hidupku. Bahkan sejak kecil pun aku selalu bersamamu, kukira itu hanya karena aku tidak punya adik perempuan.”

Tiba-tiba aku merasa aku ingin menghentikan semua perkataannya. Aku seperti tidak siap mendengarkan apapun yang keluar dari mulut Woobin oppa.

“Kurasa aku mulai menyukaimu sejak kita mulai beranjak remaja, saat aku tau bahwa aku bisa menyukai seorang yeoja lebih dari perasaan seorang kakak atau teman. Namun aku juga tau, bahwa kau mulai banyak dikelilingi oleh para namja karena sikapmu yang sangat mudah bergaul. Kau seperti menyisihkanku.”

“Aku tidak pernah menyisihkanmu!” Aku mencoba membela diri. Aku ingat, saat aku masuk ke sekolah menengah pertama, aku berusaha untuk ramah kepada setiap orang. Mungkin juga karena kakak kandungku seorang namja, aku sangat mudah bergaul dengan para namja.

“Jongsuk selalu mengatakan jika kau tidak pernah menyisihkanku. Namun aku keras kepala. Aku tidak tahan melihatmu dengan namja lain. Aku bingung apakah aku memang benar-benar menyukaimu atau karena aku tidak bisa kehilangan teman masa kecilku.”

“Mengapa kau tidak pernah mengatakan ini kepadaku? Aku selalu berpikir jika kau sebenarnya membenciku,” Sungguh saat ini aku merasa bodoh. Jika aku tau apa yang Woobin oppa pikirkan sejak dulu, tentu aku akan menjaga jarak dengan para namja.

“Tidak, aku tidak membencimu, sayangku. Aku hanya mengumpulkan semua keberanianku untuk bisa mengatakan jika aku mencintaimu. Namun saat aku benar-benar menyadari aku tidak bisa kehilanganmu, di saat itulah kau datang dan mengatakan jika kau dan Jihyuk berpacaran.”

Jihyuk, teman sekelas Woobin oppa dan Jongsuk oppa saat sekolah menengah atas dulu. Di saat aku menyadari jika Woobin oppa semakin menjauhiku, aku menemukan sosok Kim Woobin yang dulu aku kenal di diri Jihyuk. Bahkan, dari postur tubuh dan penampilannya mereka sangat mirip sekali.

“Aku menerima Jihyuk hanya karena dia sangat mirip denganmu. Bahkan Jihyuk pun tau jika aku sejak dulu hanya menyukaimu!” Aku menutup mulutku dengan tanganku. Kau bodoh Jihyo, kau keceplosan!

“Apa?” Woobin oppa menunjukkan ekspresi penasarannya. “Kau bilang apa tadi?”

“Aku menyukaimu,” Aku dengan berat hati mengatakannya. “Dahulu kala.”

“Kalau kau menyukaiku mengapa kau bisa berpacaran dengan Jihyuk hingga 6 tahun lamanya?” Woobin oppa terlihat kesal.

“Kau cemburu?” Godaku. Aku mulai menyukai wajahnya yang kesal seperti ini.

“Memang! Kau tau gara-gara aku tidak tahan melihatmu bersama Jihyuk makanya aku memutuskan untuk pergi ke Amerika?”

“Jadi gara-gara itu kau kuliah di Amerika? Gara-gara Jihyuk kau tidak menghubungiku selama kau kuliah di sana?” Kini aku ikut kesal mendengarkannya. “Kau kekanakan!”

“Kau yang kekanakan Choi Jihyo. Jika kau tidak menyukai Jihyuk mengapa kau berpacaran selama itu dengannya!”

“Kau sendiri begitu kembali dari Amerika langsung berpacaran dengan para yeoja high class sosialita itu!”

“Itu karena kau mengacuhkanku padahal aku tunanganmu!” Woobin oppa mendesah frustasi. “Apakah kau tidak tau nona Choi, bahwa akulah yang menawarkan diri untuk menggantikan pertunangan Yuna noona dan Siwon hyung yang batal? Aku tidak tau lagi bagaimana cara agar aku bisa terus bersamamu.”

Aku menggigit bibirku saking kesalnya, aku tidak tau sebenarnya aku kesal atau marah. “Lalu mengapa saat kita sudah bertunangan kau malah mengacuhkanku dan mengatakan kepadaku agar tidak ada satu orang luar pun yang tau bahwa kita bertunangan?”

“Itu karena aku takut jika kau tidak mencintaiku,” Woobin oppa akhirnya mengatakan alasannya. “Aku selalu takut jika kau tidak mencintaiku, makanya aku berkata seperti itu. Aku berusaha membuatmu cemburu dengan bersama yeoja lain, namun kau selalu bersikap dingin.”

Aku menyentil dahinya dengan keras hingga Woobin oppa mengaduh. “Kau tidak tau betapa menderitanya aku melihat kau bersama dengan yeoja lain hah? Kau tidak tau bagaimana rasanya menyembunyikan perasaanku? Rasanya setiap kau bersama yeoja lain aku ingin menjambak yeoja itu!”

“Jeongmal mianhae, Jihyo-ah,” Woobin oppa memejamkan matanya, mendekat kembali secara perlahan ke bibirku. Kali ini aku benar-benar yakin jika ia memang mencintaiku. Sebelum dia menciumku, aku mengecup bibirnya dengan cepat dan melepaskannya.

“Choi Jihyo, kau merusak momen romantisku!”

“Salah sendiri kau membuatku sedih selama bertahun-tahun!”

“Apa kau mencintai Choi Seunghyun?”

Aku terdiam. Aku tidak pernah tau perasaan apa yang aku miliki untuk bos ku itu. Hanya saja, aku tau aku tidak bisa melepaskan Seunghyun oppa begitu saja.

“Kau mencintainya,” Woobin oppa menarik tangannya dari kepalaku serta kakinya yang sejak tadi mengunci kakiku.

“Aku tidak mencintainya,” Aku tidak rela kehilangan Woobin oppa saat ini, tidak setelah bertahun-tahun lamanya.

“Kumohon jauhi Seunghyun, Jihyo. Jangan percaya apapun yang ia katakan kepadamu, termasuk soal Jane,” Woobin oppa terlihat menyembunyikan sesuatu dariku mengenai Seunghyun oppa.

“Kenapa memangnya?”

“Untuk saat ini, aku hanya bisa memberitahumu itu saja, Jihyo. Kumohon berhentilah bekerja dari perusahaan Seunghyun dan jangan pernah bersamanya lagi.”

Aku cemberut mendengarnya, memangnya dikira gampang untuk meminta resign dari Seunghyun oppa. “Lalu nanti aku bekerja di mana?”

“Di Kim Group, jadi sekretarisku,” Woobin oppa menjawab dengan enteng.

“Lalu sekretaris menyebalkanmu bagaimana?”

“Aku akan pecat. Lagipula kerjanya tidak bagus. Dia kan hanya untuk membuatmu cemburu saja,” Woobin oppa memamerkan deretan gigi putihnya kepadaku.

“Lalu Soohee bagaimana?” Aku teringat dengan kejadian di Jeju waktu itu, dan membuatku kesal hingga hari ini.

“Aku sudah membereskan insiden di Jeju. Soohee belum siap untuk memberikan keterangan kepada publik. Sabtu ini kami akan menjelaskan ke publik mengenai salah paham kemarin di Jeju,” Woobin oppa kembali merangkulku. “Bagaimana tuan putri, kau sudah senang?”

Sejujurnya aku ragu mengenai Soohee. Ia terlihat benar-benar menyukai Woobin oppa dan aku tau Soohee tidak akan mudah melepaskan apa yang dia anggap sudah menjadi miliknya.

“Semuanya akan baik-baik saja kan, oppa?”

Woobin oppa mengangguk. “Aku akan membereskan semua masalahku dengan Soohee. Kau juga harus segera berhenti dari Choi Enterprise.”

Nada dering Darth Vaderku menggema dengan keras, seolah-olah sang penelpon menyuruhku segera mengangkat teleponnya.

“Jangan diangkat,” Woobin oppa memperingatkanku.

“Dia pasti mencariku mengapa aku jam segini belum di kantor,” Aku panik menyadarinya. Aku tidak peduli dengan peringatan Woobin oppa. “Yoboseyo sajangnim?”

“Kau di apartemen Woobin rupanya,” Aku bisa mendengar nada suara Seunghyun oppa begitu menakutkan. Dia melacakku melalui aplikasi smartphone lagi.

“Aku akan segera ke kantor,” Aku melirik Woobin oppa yang terlihat murka karena aku mengangkat telepon dari Seunghyun oppa.

“Aku tidak peduli apakah kau mencintaiku atau tidak, Choi Jihyo,” Nada suara Seunghyun oppa semakin aneh, aku rasanya ingin segera menutup sambungan telepon ini. “Namun aku akan memastikan jika kau akan jadi milikku.”

“Sajangnim,” Aku tidak tau apa yang harus aku katakan.

“Kau semakin mirip dengan Jane,” Seunghyun oppa tertawa kecil. “Dan kali ini aku tidak akan melepaskan yeoja yang aku cintai kepada Kim Woobin.”

“Sajangnim, aku akan segera ke kantor. Tunggu aku,” Aku langsung menutup telepon. Aku tau ada yang tidak beres dengan bos ku itu. Apa dia mabuk?

“Kau akan menemuinya?” Woobin oppa menatapku dengan dingin. Mengapa aku harus ada di tengah-tengah Woobin oppa dan Seunghyun oppa seperti ini sih?

“Aku akan ke kantor, memastikan Seunghyun oppa baik-baik saja, dan aku akan segera mengajukan surat pengunduran diri kepadanya,” Aku mengajukan jari kelingkingku, aku berjanji.

Woobin oppa menyambut kelingkingku dan mengaitkannya dengan jari kelingkingnya. “Jeongmal saranghaeyo, Choi Jihyo.”

“Nado, Kim Woobin.”

Maafin author ya part ini sedikit banget, semoga pertanyaan akan Woobin dan Jihyo terjawab yaa. (Kalau belum, bisa ditanyakan di comment, hehe). Oiya, ada yang tau siapa Jihyuk yang mirip banget sama Woobin ? :p