By @gurlindah93

 

Aku merasa seluruh tubuhku kaku tidak bisa digerakkan. Kami berdua sama-sama terdiam hanya terdengar desahan nafas kami berdua.

“Kita harus di sini sampai kita yakin dia sudah pergi” bisik Eric memecah kesunyian. Aku mengangguk mengiyakan.

“Kalau dia menemukan kita, kamu harus mengikuti apa yang kulakukan. Turuti saja aku” perintahnya. Sekali lagi aku mengangguk.

Baru saja aku selesai berdoa agar Ilwoo tidak menemukan kami tiba-tiba pintu terbuka. Aku sudah tidak bisa berpikir apa yang harus kulakukan jadi aku menunggu apa yang akan Eric lakukan dan aku akan mengikutinya seperti perintahnya.

Dengan secepat kilat Eric menempelkan bibirnya ke bibirku.

Menuruti perintahnya aku membalas ciumannya karena ini adalah perintah jadi tidak ada alasan bagiku untuk membantahnya, walau aku tidak tahu kenapa dia melakukannya. Yang pasti dia melakukan sandiwara ini untuk menolongku, seperti yang selama ini sudah sering dia lakukan.

Kami berciuman dengan cukup panas. Nafas kami beradu begitu pula lidah kami, aku mencengkeram kemejanya dengan erat seakan tidak ingin melepaskannya.

Aku bisa merasakan kalau Eric cukup menikmatinya terlepas dari ini hanyalah sandiwaranya untuk menolongku. Jangan tanya bagaimana perasaanku, aku sangat sangat menikmatinya.

“Sajangnim” panggil seseorang. Terpaksa kami menghentikan ciuman kami dan menoleh pada si pemilik suara. Seorang wanita berumur 40an memandang kami sambil melongo. Dari seragamnya aku tahu dia adalah salah satu petugas kebersihan di sini.

“Apa masih ada pria yang mengejar kami? Pria dengan jas abu-abu” tanya Eric dengan tenang. Wow, luar biasa sekali dia. Setelah kami berciuman dengan panas kemudian dilihat oleh salah satu pegawainya dia masih bisa setenang itu. Aku? Lututku gemetar dan sulit menyangga tubuhku, aku harus memegang kemeja bossku agar tidak kehilangan keseimbangan.

“Aku sudah mengusirnya. Aku lihat dia mengejar sajangnim jadi aku bilang kalau yang dia kejar sudah keluar dari mall ini” jelas ahjumma baik hati masih dengan tampang terkejut yang tidak dibuat-buat. Dia memandangiku dan Eric bergantian. Kurasa besok akan tersebar berita bahwa sajangnim mencium sekretarisnya di ruang janitor. Aku pasrah.

“Bagus. Gomawoyo sudah membantu kami. SS ayo keluar” Eric keluar terlebih dulu yang membuatku melepas genggamanku, dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki aku mengikutinya dengan linglung.

Ternyata sebelum kembali ke ruangannya dia masih menyempatkan diri untuk berkeliling ke beberapa store tanpa menyadari bahwa sekretarisnya nyaris tidak bisa berjalan. Kurasa ciuman tadi memang tidak berarti apa-apa baginya. Bukan berarti aku menganggap ciuman kami tadi adalah sungguhan, tapi bagi semua gadis segala bentuk ciuman selalu membuat jantung berdebar, lutut gemetar, dan waktu seakan berhenti berputar.

“Kenapa kamu tidak ingin bertemu dengannya?” tanya Eric. Tidak sadar kami sudah sampai di ruangannya. Dia menatapku dengan penasaran.

Aku balas menatapnya dengan tatapan kosong, tidak ada kata-kata keluar dari mulutku.

“Yaaaaaa!! SS-ssi. Wae geurae?” Eric berjalan mendekatiku yang malah membuatku kehabisan kata-kata. Perlahan aku berjalan mundur menjauhinya.

Baru mundur 4 langkah aku menabrak sofa, ups.

Sekarang bossku berjarak 2 meter dariku, refleks aku membuang wajah. Refleks yang cukup bodoh sebenarnya mengetahui ternyata dia berjalan melewatiku. Hahaha apa yang kamu pikirkan Park MinAh, apa kamu pikir bossmu akan menciummu lagi? Sepertinya otakku sedikit terguncang.

“Yaaaaaa!” panggilnya. Aku menoleh dan melihat Eric memegang koran yang kuyakini kuletakkan di meja tamu sebelum kami pergi mengecek store tadi.

“Ne?” kataku dengan suara pelan berusaha mengumpulkan kesadaranku.

Dengan murka Eric berjalan ke arahku dan memukul kepalaku dengan koran yang dia pegang.

“SS-yaaaa!! Apa kamu tidak mendengarkanku? Aku bertanya kenapa kamu menghindari pria itu? Jangan-jangan kamu masih memikirkan ciuman tadi. Apa menurutmu aku…. Good kisser?” Eric bertanya dengan seringai tipis yang membuatku seolah-olah kembali ke ruang janitor tadi.

“Aniyaaaaa. Aku…. Aku… Hanya senang bisa menghindari Ilwoo” dustaku. Tentu saja aku tidak akan pernah mengakui kalau boss titanku itu MEMANG seorang good kisser.

Aku segera berjalan ke meja kerjanya agar dia tidak bisa melihat wajahku yang memerah. Untunglah ada dokumen yang harus kurevisi yang dia letakkan di meja kerjanya, aku segera mengambilnya lalu mengeceknya.

“Oh namanya Ilwoo. Kenapa kamu menghindarinya?” tanyanya untuk kesekian kalinya.

Aku menoleh padanya “Namanya Jung Ilwoo, mantan kekasihku. Dia sangat sangat obsesif, tipe pria yang aku hindari. Jadi setelah putus aku benar-benar tidak ingin berhubungan dengannya lagi walaupun hanya sebagai teman” jelasku singkat pada boss titan yang selain diktator juga keras kepala.

“Oh…” gumamnya pendek lalu duduk di sofa dan membaca koran.

Setelah yakin dia tidak akan bertanya ataupun memberi perintah lagi aku berjalan keluar dari kantornya.

“SS-yaa. Aku… Melakukannya agar pria itu menjauhimu” katanya tanpa menoleh padaku.

“Ne sajangnim. Arraseo. Bukankah itu yang selalu sajangnim lakukan? Menolongku. Gomawoyo” dengan cepat aku meninggalkan ruangannya. Ciuman itu hanyalah sandiwara, tidak ada artinya bagi Eric dan seharusnya tidak ada artinya bagiku.

Tapi sepertinya aku tidak bisa mengendalikan detak jantungku.

***

Hari-hariku kulalui seperti biasa, bedanya kali ini beban kerjaku semakin banyak. Aku sedikit menyesal tidak jadi memberikan surat pengunduran diriku. Hiks.

Ohya ternyata ahjumma baik hati itu tidak menceritakan apa yang dia lihat di ruang janitor ke siapapun karena tidak ada gosip yang beredar di kantor. Aku sungguh berterima kasih padanya.

“SS, besok temani aku ke pernikahan klienku. Tempat dan waktu akan kuberitahu melalui pesan” kata Eric tanpa basa-basi saat aku mengantar dokumen yang diminta.

“Mwo? Aku?” kenapa tiba-tiba dia mengajakku? Ah, sebagai PA mungkin salah satu tugasku adalah menemaninya menghadiri undangan pernikahan.

Memikirkan Yoomi sering menemaninya menghadiri pernikahan aku merasa sedikit cemburu. Maksudku kalau pernikahannya diadakan di hotel berbintang kan makanannya pasti enak-enak. Beruntung sekali wanita itu.

“Memangnya siapa lagi pegawaiku di sini?” jawabnya.

“Ne… Ohya sajangnim, apa sajangnim tidak ingin mencari PA baru? Ini kan sudah 1 minggu sejak Yoomi-ssi berhenti” aku mengusulkan agar Eric mencari PA baru karena aku tidak boleh terlalu sering bersamanya. Sejak kejadian ciuman itu aku berusaha untuk tidak terlalu dekat dengannya tapi sayangnya sebagai PA sekaligus sekretarisnya aku harus sering berada di sampingnya.

“Buat apa? Kan sudah ada kamu. Pergi sana” usirnya. Dengan menghela nafas panjang penuh kekecewaan aku meninggalkan ruangan Eric.

‘Yoomi eonni, apa eonni selalu menemani sajangnim menghadiri acara pernikahan?’ aku mengirim pesan pada Yoomi.

‘Ani. belum pernah. Apa sajangnim mengajakmu?’ balasnya.

‘Ne’ balasku. Oh, jadi Eric belum pernah mengajak Yoomi ke acara pernikahan. Padahal bossku memiliki perasaan pada Yoomi, seharusnya dia menggunakan itu sebagai alasan untuk menghabiskan waktu berdua dengan Yoomi. Ckckck bodoh sekali bossku itu.

‘Have a good time!😉’ balas Yoomi.

‘Ne…^^’ balasku.

Aku senyum-senyum bahagia membaca pesan dari Yoomi. Bagian mana yang membuatku bahagia aku tidak tahu.

***

Pernikahan yang kuhadiri malam ini akan diadakan di salah satu hotel bintang 5 di tengah kota Seoul, aku memilih memakai gaun yang belum pernah kupakai sebelumnya. Gaun panjang dari satin berwarna biru laut yang terlihat anggun jika dipakai malam hari. Sebenarnya aku membeli ini beberapa hari lalu untuk kupakai ke pernikahan Yoomi, tapi karena pernikahan Yoomi diadakan sore hari dan venuenya di pantai jadi aku membeli gaun lain yang lebih cocok.

“Wow. Kamu akan memakai ini ke acara pernikahan anak pemilik real estate?” Jungsoo oppa seperti biasa menyelonong ke kamarku tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.

“Eoh. Cantik bukan?” aku mengagumi diriku sendiri di depan cermin. Jungsoo oppa hanya mengangguk-angguk tapi mulutnya sedikit menganga. Mungkin dia tidak menyangka adiknya sudah tumbuh menjadi wanita anggun.

Tok tok.

“Agasshi, pria yang menjemput agasshi sudah datang. Omo, agasshi cantik sekali” komentar Myungjin ahjumma saat melihatku. Aku mengedipkan mata padanya “Ahjumma, gadis kecil yang dulu ahjumma mandikan sekarang sudah dewasa” ujarku yang membuat Myungjin ahjumma tertawa.

“Oppa keluarlah” usirku karena merasa Jungsoo oppa hanya akan mengangguku. Tanpa kata-kata dia keluar dari kamarku.

Setelah melakukan sedikit touch up aku segera menemui bossku yang sudah berbaik hati mengajakku bersenang-senang.

Eric berdiri melihat-lihat foto keluargaku. “Sajangnim” panggilku, Eric menoleh dan menghadapku.

Ya Tuhan dia tampan sekali. Eric memakai kemeja abu-abu dan setelan hitam yang membuat bahu bidangnya semakin terlihat.

Dengan ceroboh aku menginjak gaunku sendiri dan hampir terjatuh.

“Ckckck tetap saja ceroboh” komentar Eric saat melihatku kehilangan keseimbangan.

“Kajja” ajakku untuk menutupi rasa maluku lalu berjalan mendahuluinya.

Benar saja acara pernikahan malam ini dipenuhi oleh orang-orang top di Korea, bahkan aku melihat seorang menteri yang lewat di depanku.

“Eric” sapa seseorang yang tidak kukenal. “Ah Chanjung hyung” Eric memeluk pria yang sepertinya datang bersama istrinya yang sangat cantik.

“Orang tuamu masih di Amerika?” tanyanya. Eric mengangguk “Ne hyung, appa selalu menanyakan kabar hyung” jawab Eric.

“Nuguya?” pria itu menatapku sambil tersenyum. “Annyeonghaseyo, jeoneun Park MinAh-imnida….” sebelum aku menyelesaikan kata-kataku Eric sudah memotongnya “Dia sekretarisku”.

“Ne….” kataku.

Mereka mulai mengobrol dengan asyik dan tidak menghiraukan kehadiranku jadi aku meninggalkan mereka untuk mencari makanan yang menarik minatku. Inilah sebabnya aku selalu suka resepsi dengan konsep buffet, aku bisa memakan semua yang kusuka dengan porsi yang kumau. Hohoho. Sekali lagi terima kasih boss titan.

“Yaaaa SS, aku mencarimu ke mana-mana tapi kamu malah makan di sini” Eric melihat piringku yang penuh makanan.

“Heheee sajangnim tadi asyik mengobrol. Sajangnim makan saja dulu, makanannya enak-enak” kataku setengah berpromosi lalu aku menghabiskan makanan yang kuambil tanpa mempedulikan omelannya tentang bagaimana sulitnya mencariku di antara ratusan orang di sini.

Setelah membuatku berjanji seperti anak kecil sebanyak 6 kali agar tidak pergi ke mana-mana, dia mulai mencari makanan yang menarik minatnya.

“Karena aku malas mencarimu lagi, pegang aku” Eric menjulurkan lengannya setelah menghabiskan makanannya.

“Sajangnim, aku akan mengikutimu. Aku janji akan mengikutimu ke manapun juga jadi tidak perlu memegangmu” tolakku.

“Aku tidak ingin kehilangan sekretarisku” tanpa meminta persetujuanku dia melingkarkan tanganku di lengannya.

Terpaksa aku menurutinya. Aku mengikutinya ke manapun dia pergi, menemui teman-teman dan rekan bisnisnya yang beberapa sudah kukenal. Beberapa teman Eric ada yang membelalakkan matanya atau memperhatikanku dari atas sampai bawah ketika tahu kalau aku seorang sekretaris. Mungkin mereka bertanya-tanya berapa gaji yang kuterima sampai sanggup membeli gaun buatan designer yang harganya jutaan won. Hahaha.

“Hey, tidak tahukah kamu betapa sulitnya mencari sekretaris yang penurut seperti gomdori?” bisiknya jahil sambil melirik tanganku yang sejak tadi melingkar di lengannya. “Mwo???” aku cemberut mendengarnya menyamakanku dengan gomdori tapi dia malah tertawa.

Tiba-tiba jantungku berdetak 3 kali lebih cepat dari biasanya.

“Wae geurae?” tanya Eric. “Hmmmm? Wae?” aku balik bertanya sambil berusaha menormalkan detak jantungku.

“Wajahmu terlihat agak pucat” ujarnya. “Gwenchana sajangnim” balasku pelan.

Setelah memandangiku selama beberapa detik dan memastikan aku baik-baik saja Eric mulai mengajakku berkeliling lagi.

Seluruh organ tubuhku memang baik-baik saja kecuali jantungku. Jantungku tiba-tiba berdetak tidak karuan terutama saat aku melihat wajah Eric dari samping.

Kupalingkan wajahku agar tidak memperhatikan bossku walaupun sebenarnya aku ingin melakukannya. Otakku sepertinya sedang bekerja dengan tidak normal, bagaimana mungkin aku deg-degan hanya karena melihat wajah bossku. Park MinAh sadarlah, dia boss titan yang selalu memerintahmu dengan seenaknya seperti diktator.

Duh, rasanya aku ingin memukul kepalaku sendiri agar kembali bekerja dengan normal.

“Apa benar kamu baik-baik saja?” bisiknya tiba-tiba tepat di telingaku. Refleks aku menjauhkan wajahku darinya “Ne sajangnim. Nan jeongmal gwenchana” ucapku tanpa memandangnya.

“Sepertinya kamu sudah lelah, kita pulang saja” Eric mengajakku pulang yang kusambut dengan anggukan. Mungkin kalau lebih lama berada di sini aku bisa kena serangan jantung.

Selama di perjalanan kami berdua terdiam dengan pikiran masing-masing.

“Gomawo sajangnim” ucapku saat kami sampai di depan rumahku.

“Eoh” katanya lalu langsung memacu mobilnya pergi.

“Jalja” kataku pelan sambil memandang mobilnya menjauh.

Masih dengan make up lengkap dan gaun menempel di tubuhku aku langsung tidur karena merasa sangat lelah.

***

Hari Minggu ini aku benar-benar menganggur. Seluruh keluargaku sedang pergi entah ke mana, keempat sahabatku sedang berkencan, Eric tidak memberi tugas apapun, bahkan Honey sedang malas kuajak main.

Akhir-akhir ini boss titan memang tidak pernah memberiku pekerjaan untuk kubawa pulang. Mungkin dia menyadari kalau aku menderita saat aku tidak bisa menikmati weekend selama beberapa bulan terakhir.

Iseng-iseng aku mengetik ‘Sajangnim sedang apa?’ dan tanpa sadar kusentuh tombol ‘send’ di smartphoneku.

“Yaaaaaaa kenapa kamu mengirimnya? Apa kamu sudah gila?” teriakku pada smartphoneku sambil berusaha memencet-mencet tombol ‘cancel’ berharap pesan itu tidak terkirim.

Tapi terlambat.

Tring.

“Whoaaaaa” teriakku saat 10 menit kemudian ada pesan masuk. Dengan perlahan aku membukanya.

‘Berenang. Wae? Mau ikut?’ ternyata Eric membalas pesanku. Wajahku memerah saat membacanya.

 ‘Mianhaeyo sajangnim, aku salah kirim. Seharusnya untuk Jihyo’ ketikku mencari alasan yang paling masuk akal. Semua orang pernah salah mengirim pesan kan?

‘Apa Jihyo-ssi juga kamu panggil sajangnim?’ balasnya. Mwo?

Dengan cemas aku mengecek history pesanku. Park MinAh babo!!!! Aku mengutuk diriku sendiri.

‘Ani. Bukan Jihyo, tapi Jungsoo oppa. Mian’ semoga saja kali ini alasanku bisa dipercaya.

‘SS babo. Selalu saja ceroboh. Dan tidak pintar berbohong. Sudah jangan ganggu aku’ balasnya.

‘Ne’ balasku. Segera saja kujauhkan smartphoneku agar aku tidak melakukan hal-hal bodoh lainnya.

***

“Annyeong sajangnim” sapaku saat Eric tiba di kantor.

Dia hanya melirikku sebentar lalu masuk ke ruangannya.

Aku menarik nafas lega, tingkahnya tadi menunjukkan kalau dia sudah lupa dengan pesan kemarin.

Hari ini kami memiliki 3 rapat yang harus kami hadiri.

“SS, nanti pulang kantor aku akan mentraktirmu makan” bisik Eric saat kami menyelesaikan rapat terakhir kami.

“Jinjja?” mataku berbinar-binar mendengar kata makan gratis.

“Kamu ini kalau dengar kata makan senang sekali sih? Apalagi gratisan. Chaebol macam apa kamu?” Eric melirikku sambil geleng kepala.

Aku menyengir padanya. Chaebol atau tidak siapa yang tidak suka makan gratis?

Pulangnya aku menyetir mobilku mengikuti Eric yang membawaku entah ke mana. Ternyata dia berhenti di restaurant Italia tempat kami makan dulu.

“Fettuccine salmon 1, milkshake cokelat 1” pesanku.

“Spaghetti carbonara 1, hot capuccino 1” pesan Eric.

“Sajangnim, gomawo sudah membawaku ke sini. Kalau kali ini sajangnim ingin pulang duluan silahkan saja. Aku ingin menikmati makananku dengan santai, tapi jangan lupa bayar dulu hahahahaa” kataku mengingat kejadian beberapa waktu lalu saat boss titan memaksaku pulang padahal aku belum menghabiskan makananku.

Eric mengeluarkan smartphonenya pura-pura tidak dengar. Dasar.

“MinAh” panggil seseorang.

“HyunAh, Henry” aku kaget bertemu mereka di sini.

“Annyeonghaseyo” sapa Henry dan HyunAh pada Eric. “Annyeonghaseyo” balas bossku.

“Aaaaaahhh bogoshippo” kupeluk HyunAh dengan erat karena rindu padanya.

“Min, apa ulang tahunmu akan dirayakan?” HyunAh mengingatkan bahwa 3 minggu lagi adalah ulang tahunku.

“Ah iya… Nanti kita bahas di group ya..” bagaimana bisa aku lupa ulang tahunku sendiri. Pasti karena sibuk bekerja aku jadi lupa hal penting dalam hidupku.

“Okay… Kami pulang dulu ya Min… ” pamit HyunAh. Aku cemberut karena sebenarnya masih ingin mengobrol dengannya, tapi sepertinya pasangan ini memang terburu-buru.

“Arraseo… Bye…” kupeluk 2 orang yang sudah lama tidak kutemui ini.

Tidak lama pesanan kami datang.

“Hari Sabtu besok temani aku ke pernikahan Yoomi” kata Eric saat kami menyantap makanan kami.

“Ne sajangnim” balasku.

Untuk pertama kalinya aku akan menemani seorang pria datang ke pernikahan wanita yang pernah atau masih dicintainya.

***

tbc

Enjoy ^^