Ah, jeongmal mianhae! Lama banget update tulisannya, maafiiin. Masih ada sekitar 3 part lagi untuk seri ini. Mohon ditunggu ya, dan jangan lupa komennya! *hug*

“Sajangnim?” Aku membuka pintu ruangan Seunghyun sajangnim, namun dia tak terlihat dimana-mana. Apa jangan-jangan dia mengerjaiku karena aku hari ini tidak masuk ke kantor tepat waktu?

“Yaaaaa! Choi Seunghyun! Kau membuatku naik taksi dari apartemen Woobin oppa ke rumahku untuk ganti baju lalu ke kantor cuma gara-gara kau menghubungiku. Kau tidak tau apa betapa mahalnya naik taksi!”

“Sekretaris Choi?” Aku menengok ke arah suara tersebut. Oh tidak, Choi Jinhyuk sajangnim! Aku lupa menutup pintu ruangan Seunghyun sajangnim, ditambah aku mengomel-ngomel sendiri, dia pasti mendengarkan ocehanku tadi! Bersiap untuk dipecat oleh kakak bosmu yang super tampan ini, nona Choi!

“Ah, annyeonghaseyo Choi Jinhyuk sajangnim,” Aku langsung membungkuk memberi salam kepadanya, memasang tampang tak terjadi apa-apa tadi. “Seunghyun sajangnim sedang tidak ada di tempat. Ada yang bisa aku bantu?”

“Aku tidak sedang mencari Seunghyun,” Jinhyuk sajangnim sedikit menahan tawanya, pasti tadi ekspresiku amat sangat bodoh. “Aku mau bertemu denganmu.”

“Aku?”

Jinhyuk sajangnim menyodorkan sebuah gulungan perkamen berwana peach. “Lusa aku akan bertunangan. Aku sengaja datang untuk menyampaikan undangan ini kepadamu.”

Aku mengambil undangan itu dengan tampang sedikit kebingungan dan banyak patah hati.

Omo, Choi Jinhyuk sang tuan muda yang paling tampan seantero Choi Enterprise akan bertunangaaaan! Kujamin pasti tunangannya nona kaya raya yang sangat cantik jelita.

“Gamsahamnida, sajangnim. Seharusnya sajangnim tidak usah repot-repot mengantarkan undangan ini kepadaku.”

“Tentu saja aku akan langsung mengantarkannya sendiri ke calon adik iparku,” Jinhyuk sajangnim tertawa dan menggerakkan tangannya mengacak-acak rambutku. Ya ampun, apa semua namja di klan Choi ini suka seenaknya kepada orang lain ya?

“Dan pastikan kau datang bersama Seunghyun. Dia paling susah untuk datang ke acara keluarga seperti ini. Arra?” Jinhyuk sajangnim menunggu jawabanku, aku mengangguk.

“Gomawo, Jihyo-ssi,” Jinhyuk sajangnim kini menepuk pundakku dengan cepat dan keluar dari ruangan Seunghyun sajangnim.

“Oiya,” Jinhyuk sajangnim menghentikan langkahnya dan berbalik menghadapku. “Apa kau mencintai Seunghyun?”

Oh baiklah, pertanyaan itu beberapa hari ini sudah aku dengar berkali-kali. Bahkan hingga saat ini aku tidak punya jawaban yang valid.

“Kuharap jika iya, tolong jaga Seunghyun. Namun, jika kau tidak mencintai Seunghyun, kumohon jauhi Seunghyun sebelum dia benar-benar tidak bisa melepaskanmu,” Jinhyuk sajangnim terlihat serius dengan perkataannya. Aku tidak mengerti dengan maksudnya.

“Sajangnim,” Aku berusaha merangkai kata-kata yang tepat untuk pertanyaanku agar tidak menyinggung Jinhyuk sajangnim, namun tetap saja tidak ketemu.

“Pikirkan dengan baik. Seunghyun yang kau kenal selama ini, kau bahkan belum mengenal separuh dari dirinya,” Jinhyuk sajangnim tersenyum dan berlalu meninggalkanku yang masih kebingungan. Apa maksudnya? Semua orang terus memperingatkanku untuk menjauhi Seunghyun, bahkan dua orang terdekat Seunghyun, Woobin oppa dan Jinhyuk sajangnim.

+++

“Nona Choi, kau belum pulang?” Aku tersenyum pada salah satu security yang sedang mengecek ruangan. Aku menggeleng. Sudah pukul 9 malam dan aku masih ada di kantor, tumben.

“Sebentar lagi aku akan pulang. Oiya, apakah dari tadi pagi Seunghyun sajangnim tidak ke kantor?”

“Tadi sajangnim sempat ke kantor pagi-pagi sekali, namun langsung pergi lagi, nona Choi.”

“Ah, baiklah,” Aku memandangi smartphone dari Seunghyun sajangnim. Tidak ada misscall maupun sms darinya. Bos ku ini kemana sih?

Dering smartphone pribadiku menyadarkanku dari kecemasan berlebihan karena Seunghyun sajangnim. Aku mau tidak mau tersenyum melihat nama penelponku, Woobin oppa.

“Kau dimana?”

“Masih di kantor,” ujarku sambil membereskan mejaku dan bergegas menuju lift.

“Dengan Seunghyun?” Aku tertawa begitu mendengar suara Woobin oppa meninggi.

“Sendirian, dari tadi pagi bos menyebalkanku itu entah pergi kemana,” Aku memencet tombol lantai lobby. “Kau sudah pulang kantor, oppa?”

“Aku tidak masuk kantor,” jawabnya tengil. Oh, aku lupa kalau pemilik perusahaan seperti Woobin oppa bisa seenaknya masuk kerja.

“Dasar pemalas,” Aku melangkah keluar lift menuju gerbang gedung. Ini yang aku benci jika pulang malam, jarang ada taksi yang lewat di daerah sini.

“Kau tunangannya si pemalas,” goda Woobin oppa.

“Ya! Sejak kapan aku jadi tunanganmu lagi?”

“Memangnya kapan pertunangan kita dibatalkan?”

Aku benci sekali berdebat dengan Woobin oppa, apalagi jika ketengilannya muncul seperti saat ini. “Arra, arra. Aku pulang dulu ya, oppa.”

“Perlu aku jemput? Ada taksi di sana?”

“Tidak usah. Pasti masih ada taksi yang lewat jam segini,” Aku berusaha meyakinkan tuan Kim bahwa aku akan baik-baik saja sebelum dia akhirnya menutup sambungan teleponnya.

Aku mendekap tubuhku dengan kedua tanganku, kenapa tiba-tiba jadi dingin begini. “Taksi, cepatlah lewat,” Aku bergumam sendiri. Seharusnya tadi aku menerima tawaran jemput Woobin oppa.

“Kau masih di sini?” Aku hampir melempar tas ku ke arah Seunghyun oppa yang tiba-tiba saja sudah ada di sampingku.

“Ya ampun bisa tidak sih kau berhenti mengagetkanku!” Aku sedikit kelepasan berteriak kepadanya. Aku tidak tau apakah ini karena kekagetanku atau karena aku mencemaskannya daritadi pagi.

Seunghyun oppa memandangku dingin, “Kau mau pulang? Mau aku antar? Mobilku masih di kantor.”

“Kau jadi pergi tidak membawa mobil?” Oke Choi Jihyo, berhenti bertanya hal yang tidak perlu, terserah bos mu dia mau pergi dengan membawa mobilnya atau tidak.

“Kau mau pulang naik taksi saja?” Seunghyun oppa berjalan melewatiku, melangkahkan kakinya masuk ke kantor.

“Oppa,” Aku menarik lengannya, “Antarkan aku pulang.”

“Ne, aku ambil mobilku dulu,” jawab Seunghyun oppa tanpa melihatku, ia melepaskan jari jemariku dari lengannya. Aku tidak mengerti ada apa dengannya. Biasanya dia akan bertindak sesukanya, atau mengerjaiku habis-habisan, memerintahku seenaknya, bukan bersikap dingin seperti ini.

Tak berapa lama aku melihat Porsche merah keluar dari gerbang gedung dan aku langsung membuka pintu. Seunghyun oppa sama sekali tidak menengok kepadaku, melirik pun tidak. Mungkin aku bisa tahan selama perjalanan pulang ke rumah, namun jika dia masih bersikap seperti ini kepadaku hingga besok bagaimana, aku yakin akan langsung gila.

“Lusa Jinhyuk sajangnim akan bertunangan ya?” Aku menengok ke arah Seunghyun oppa yang sepertinya fokus dengan setir kemudinya. “Tadi sajangnim bilang kau harus datang.”

“Aku tidak akan datang,” jawabnya singkat.

“Wae?”

“Apa kau harus tau alasannya?” Seunghyun oppa menghentikan mobilnya di depan rumahku. “Sudah sampai. Turunlah.”

Ini aneh, tadi pagi dia bilang dia tidak akan melepaskanku, lalu siang ini dia menghilang begitu saja, malam ini dia bersikap acuh padaku. Kenapa bos ku ini suka sekali membuat bingung?

Aku membuka pintu mobil, tanpa mengucapkan terima kasih kepadanya, tidak akan, dia sudah membuatku kesal. Aku membanting pintu mobil Seunghyun oppa. Biarlah besok pagi dia akan memecatku.

+++

“Okay, what’s wrong with you my love?” Siwon oppa merebahkan dirinya ke kasurku, aku berguling memeluknya. “Kau hari ini tidak masuk kerja, padahal kau tidak sakit.”

“Gwenchana, gwenchana oppa. Aku hanya malas masuk kerja saja.”

“Kau bertengkar dengan Seunghyun?” Siwon oppa membalas pelukanku.

“Tidak tidak oppa. Lagipula kenapa juga aku harus bertengkar dengan bos menyebalkan yang aneh dan suka memerintahku seenaknya itu?”

Siwon oppa tertawa, “Ya ampun Jihyo, aku mengenalmu sejak kau baru lahir. Jadi benar kan ini tentang Seunghyun?”

Aku mendengus kesal, percuma berbohong pada oppa ku satu ini. “Dia bahkan sehari ini tidak mencariku.”

“Lalu?”

“Tidak ada lalu, sudah ah oppa, aku mau tidur,” Aku menarik selimutku hingga ke atas kepalaku, namun Siwon oppa menariknya kembali.

“Ya ampun Jihyo, daritadi kau kerjanya hanya tidur dan sekarang mau tidur lagi? Bahkan saat ini belum jam 8 malam!” Siwon oppa menjitak kepalaku. “Lebih baik kau temui Woobin di bawah.”

“Whaaaat! Woobin oppa di bawah?” Aku berteriak tepat di samping telinga Siwon oppa hingga ia menutup telinganya. “Mengapa kau tidak memberitahuku oppa?”

“Oke ini aneh. Biasanya kau tidak bersemangat seperti ini jika Woobin ke rumah. Jangan-jangan kau sudah berbaikan dengannya ya?”

“Memangnya kenapa kalau sudah?”

“Ya kalau sudah kenapa kau malah sekarang memikirkan Seunghyun?”

Sebenarnya aku juga tidak tau kenapa aku jadi memikirkan bos menyebalkanku itu.

“Choi Jihyo,” Siwon oppa bangkit dari tempat tidurku dan memandangiku dengan serius. “Kau harus bisa membedakan yang mana rasa cinta dan mana rasa tidak mau kehilangan. Itu dua hal yang berbeda.”

Aku melompat dari tempat tidurku dan memutuskan untuk tidak mendengarkan kelanjutan dari nasihat Siwon oppa. Aku bergegas turun ke bawah diiringi dengan sayup-sayup teriakan Siwon oppa yang mendumel kepadaku karena aku meninggalkannya begitu saja.

Aku tersenyum begitu melihat Woobin oppa bersama appa dan eomma di ruang tamu.

“Ah, ini dia nona pemalas keluarga Choi,” seru appa begitu melihatku. Aku langsung menyempil diantara appa dan eomma, memasang tampang sok tak peduli dengan Woobin oppa.

“Jihyo, Woobin bilang dia ingin mengatakan sesuatu padamu,” ujar eomma.

Aku mendelik ke arah Woobin oppa, “Mau apa?”

“Ya, anak ini kenapa kau galak sekali pada tunanganmu,” Appa mencubit gemas lenganku.

“Appa, aku dengan Woobin oppa kan sudah memutuskan pertunangan kami,” Aku menjulurkan lidah ke arah Woobin oppa. Biasanya dia akan memasang tampang menyeramkan, namun kali ini sepertinya dia sedang berbahagia, malah memberikan senyuman merekahnya yang membuatku ingin melompat dan menciumnya.

“Woobin tadi sudah mengatakan pada kami jika kalian sudah berbaikan, iya kan Woobin?” eomma terlihat bingung, namun langsung dibalas anggukan Woobin oppa.

“Ne, ahjumma. Kuharap kalian memaafkan kesalahanku kemarin dan merestui kami berdua,” Woobin oppa membungkuk ke arah appa dan eomma.

“Ya, ya, yaaaa! Siapa juga yang mau menjadi tunanganmu?”

“Yasudah kalau kau tidak mau, aku akan langsung melamarmu saat ini juga,” Woobin oppa mengatakannya dengan serius yang membuatku bergidik.

“Hahaha, itu ide bagus Woobin. Aku juga sudah lelah mengurus anak gadisku yang satu ini,” ujar appa sambil mengangguk.

“Appa, eomma, andwaaae!” Aku bangkit dan memukul lengan Woobin oppa. “Ya ampun kau ini kalau bicara macam-macam sekali oppa.”

“Ternyata benar mereka sudah berbaikan. Yeobo, aku senang sekali melihatnya,” eomma menyikut lengan appa.

“Sudah lama sekali kita tidak melihat kedua anak ini bersama kan? Kapan terakhir kali mereka akrab seperti ini ya?” tanya appa.

“Mmmh, 8 tahun yang lalu sepertinya, appa,” Siwon oppa menyeletuk. Aku terbengong sendiri mendengar jawaban Siwon oppa.

“Delapan tahun? Delapan tahun Kim Woobin kau mendiamkanku dan mengacuhkanku! Ya, kau akan aku buat menderita sepanjang sisa hidupmu!”Aku memelototi Woobin oppa namun ia malah dengan cepat mencium bibirku.

“Ya ampun appa, eomma, Wonnie oppa! Aku tidak mau menikahi namja mesum seperti dia!” Aku berlari ke lantai atas, menyembunyikan wajahku yang pasti sudah memerah seperti udang rebus. Berani-beraninya dia menciumku di depan keluargaku!

“Dasar Woobin oppa ppaboya!” Aku membenamkan wajahku ke bantalku.

“Apa kau bilang tadi?” Aku mengangkat kepalaku, melihat Woobin oppa sudah ada di depan pintu kamarku.

“Bukan apa-apa, aku hanya bilang aku mencintaimu, ppaboya!”

Woobin oppa menghampiriku dan berbaring di kasurku.

“Siapa yang menyuruhmu untuk berbaring di kasurku?” Aku pura-pura marah padanya, namun dia malah memencet hidungku. “Ahjumma dan ahjussi sudah mengizinkanku masuk ke kamarmu, jadi aku juga boleh berbaring di kasurmu.”

“Aish, aku tidak mengerti kenapa appa dan eomma sangat lemah kepadamu,” Aku menjalankan jari jemariku diantaranya rambutnya, Woobin oppa memejamkan matanya.

“Kudengar dari Siwon hyung hari ini kau tidak masuk kerja.”

Aku menghentikan laju jariku membelai rambutnya. “Aku hanya sedang tidak enak badan saja.”

“Apa Seunghyun membuatmu kesal?” Woobin oppa membuka matanya, memandangiku seolah sedang menyelidikiku apakah aku berbohong atau tidak.

Aku tersenyum semeyakinkan mungkin, “Tidak, aku hanya sedang tidak enak badan, itu saja. Bagaimana Soohee?”

Woobin oppa mengerucutkan bibirnya, aku sudah lama tidak melihatnya bersikap aegyo seperti itu. “Sabtu ini, kalau dia tidak mau melakukan konferensi pers, akan aku paksa.”

Aku tertawa mendengarnya, “Ne, ne, arra. Akan kutagih janjimu. Kau harus memaksanya, dengan kejam.”

“Kau memang jahat, nona Choi,” Woobin oppa menarikku dalam pelukannya. “Dan aku suka.”

“Kim Woobin! Kau belum resmi jadi tunangan adikku!” Aku tertawa geli saat Siwon oppa tiba-tiba berada di kamarku, melepaskan pelukan Woobin oppa dari tubuhku, dan tanpa ampun menarik Woobin oppa keluar dari kamarnya. Aku bisa mendengar Woobin oppa berteriak kesakitan dan aku tidak mau lihat apa yang dilakukan oleh Siwon oppa ke Woobin oppa, hahaha.

+++

Aku pura-pura mengetik laporanku saat Seunghyun sajangnim keluar dari ruangannya. Dari pagi aku tidak menyapanya, toh dia juga tidak menanyakan mengapa aku tidak masuk kemarin.

Aku teringat dengan undangan Jinhyuk sajangnim malam ini. Seunghyun sajangnim sudah mengatakan jika dia tidak akan datang. Apa aku harus datang tanpa kehadiran Seunghyun sajangnim? Jinhyuk sajangnim kan mengundangku hanya karena mengira aku memiliki hubungan khusus dengan adiknya.

Aku tersadar dari lamunanku saat aku mendengar derap langkah Seunghyun sajangnim yang kembali ke ruangannya. Tanpa sadar aku tersenyum saat aku sekilas melihat dasi yang dia pakai. Itu dasi yang kuberikan sebagai hadiah ulang tahunnya waktu itu.

“Choi Jihyo, kau sedang kesal. Jangan senyum-senyum sendiri seperti itu!” Aku menggelengkan kepalaku, mengusir semua pikiran kacauku. Yang terpenting sekarang aku harus segera menyelesaikan tugas-tugasku dan bersiap-siap menghadiri acara pertunangan Jinhyuk sajangnim.

“Choi Jihyo,” Aku tersentak saat menemukan Seunghyun sajangnim berdiri di depan mejaku dengan wajah dingin tak bersahabat. “Aku ingin kau merevisi semua laporan yang kau berikan tadi. Kutunggu semuanya selesai hari ini juga.”

Aku memandang punggung Seunghyun sajangnim yang berjalan menjauh menuju lift, aku rasanya ingin melempar sepatuku ke arahnya. Dia seenaknya saja memberikan tugas revisi padahal dia tau aku diundang ke acara pertunangan kakaknya! Bagaimana caranya aku menyelesaikannya?

“Aaaarrrggghhh, aku membencimu Choi Seunghyun!”

+++

Aku sedikit terhuyung-huyung memasuki grand ballroom tempat pertunangan Jinhyuk sajangnim. Ini semua salah adiknya yang memberikan tugas kepadaku sehingga aku harus buru-buru seperti ini. Kuharap acara pertunangannya belum mulai, aku ingin melihat yeoja beruntung yang menjadi tunangan Jinhyuk sajangnim.

“Maaf agassi, ada undangannya?” seorang security tepat berdiri di depan pintu masuk ballroom mencegatkku. Aku mengangguk sambil merogoh perkamen undangan di dalam clutchku. “Ah, ini dia.” Aku menyerahkannya ke security dan aku dipersilahkan masuk.

Aku beruntung acaranya baru saja akan dimulai. Aku melihat Jinhyuk sajangnim berdiri di atas panggung dengan menggandeng seorang yeoja bergaun pink lembut yang harus kuakui dia seperti tuan puteri!

Beberapa yeoja yang ada di depanku berbisik-bisik begitu sesi tukar cincin dimulai. Dari desas desus yang aku dengar dari para tamu di depanku ini, ternyata tunangan Jinhyuk sajangnim merupakan cucu dari seorang pengusaha terkenal di negara ini. Yang paling membuat iri, tunangan Jihyuk sajangnim juga seorang model internasional. Ya ampun mengapa aku tidak mengetahu orang seterkenal itu sih.

Aku sedikit tercekat saat melihat Soohee bersama Woobin oppa berada di tengah kerumunan tamu di acara pertunangan Jinhyuk sajangnim. Harus aku akui, rasanya saat ini juga aku ingin menghampiri mereka berdua dan menjambak rambut Soohee karena dia seenaknya saja menggandeng tunanganku. Jika saja aku tidak ingat Sabtu ini Soohee akan melakukan konferensi pers, pasti sudah akan aku lakukan.

Aku mengalihkan perhatianku dan menyapukan pandanganku ke seluruh arah di grand ballroom ini. Aku tidak melihat sosok Seunghyun sajangnim, ternyata dia benar-benar tidak datang. “Kau ini benar-benar, Choi Seunghyun,” gumamku.

Aku tersenyum getir saat Jinhyuk sajangnim dan tunangannya turun ke lantai dansa dan melakukan dansa pertama sambil dikelilingi oleh para tamu. Ini seperti cerita di dongeng-dongeng dan aku ingin berteriak heboh melihatnya. Berani taruhan, semua yeoja di ruangan ini juga pasti berpikiran sama denganku.

Satu per satu para tamu bergabung ke lantai dansa, diiringi dengan alunan musik romantis seperti ini, perutku malah bergenderang meminta makan. Aku memang tidak cocok berada di momen romantis seperti ini.

Aku segera melangkahkan kakiku ke stall makanan dan mengambil sepiring cheesecake dan red velvet, lalu dengan kecepatan penuh menyuapkan cake lezat itu ke mulutku. “Omo, masshita!”

Namun kecepatan makanku menurun drastis saat melihat Seunghyun sajangnim memasuki grand ballroom dengan menggandeng seorang yeoja yang terlihat lebih muda darinya, tentu saja sangat cantik.

Aku menghentakkan kakiku kesal, baiklah hari ini aku benar-benar terlihat menyedihkan. Semua orang bersama pasangannya. Aku? Sibuk berdiri sendiri di tengah-tengah makanan dan tidak ada satu orang pun yang menghampiriku karena semuanya sibuk berdansa.

Aku meletakkan piringku dan melangkah menuju Jinhyuk sajangnim dan tunangannya. Segera beri selamat kepada mereka lalu pergi dari sini.

“Ah, Choi Jihyo-ssi kan?” Aku menghentikan langkahku saat melihat yeoja yang tadi datang bersama Seunghyun sajangnim memanggilku.

Aku membungkukkan tubuhku dan tersenyum terpaksa kepadanya. Aku tidak melihat Seunghyun sajangnim ada di sekitarnya. “Ne.”

“Ah, annyeonghaseyo, Choi Jinri imnida,” yeoja itu menyodorkan tangannya kepadaku, aku menyambutnya dan menyalaminya dengan cepat. Sepertinya yeoja yang terlihat lebih muda dibandingku ini mengerti jika aku kebingungan. “Aku adalah-”

“Jinri!” Seunghyun sajangnim menghampiri kami berdua sebelum Jinri menyelesaikan kalimatnya. Harus aku akui jika Seunghyun sajangnim terlihat sangat tampan dan menawan jika dia tampil dengan messy look seperti ini.

“Ah, Seunghyun oppa. Kau ini, ada Jihyo-ssi datang ke acara pertunangan Jinhyuk oppa, dan kau berani-beraninya menggandengku? Keterlaluan, iya kan Jihyo-ssi?” seru Jinri dengan nada yang sangat ceria. Aku semakin kebingungan melihatnya.

“Aku datang denganmu. Ahjumma dan ahjussi menyuruhku menjagamu. Sudah jangan macam-macam,” Seunghyun sajangnim menarik Jinri menjauhiku, namun Jinri menolak.

“Oppa, aku sudah besar. Saat acara ini selesai, aku akan menghubungimu, oke? Nah, Jihyo-ssi, aku titip sepupuku yah,” ujar Jinri sedikit berlari kabur dari Seunghyun sajangnim,, menghilang diantara para tamu di grand ballroom ini.

“Sepupu?” Aku masih tidak percaya jika tadi aku cemburu dengan sepupu Seunghyun sajangnim sendiri. Tidak tidak, aku tidak cemburu. Hah, mana mungkin aku cemburu.

“Mengapa kau ke sini?” Seunghyun sajangnim menyilangkan kedua lengannya di depan dadanya, menunggu jawabanku.

“Aku diundang oleh Jinhyuk sajangnim. Tenang saja, tugas revisi yang kau berikan kepadaku sudah aku kirimkan ke emailmu. Lagipula aku hanya akan memberikan selamat kepada Jinhyuk sajangnim lalu pulang. Kau tidak usah khawatir sajangnim,” Aku masih kesal padanya, lebih baik aku segera pergi dari hadapannya.

Namun Seunghyun sajangnim menutupi jalanku. “Berdansalah sebentar denganku, ini perintah.”

Kalimat ‘Ini perintah’ sepertinya punya daya magis untukku. Setiap Seunghyun sajangnim mengucapkan kalimat itu padaku, aku pasti selalu menurutinya. Sama seperti saat ini, aku mengikuti langkahnya menuju lantai dansa.

Dia melingkarkan tangan kirinya ke pinggangku dan meraih tangan kananku dengan tangan kanannya. Aku sedikit menahan napasku saat ia menuntun langkahku perlahan mengikuti alunan musik.

Jantungku tiba-tiba berdegup kencang saat mataku dan matanya berpandangan. Aku langsung membuang pandanganku ke arah pundaknya, namun tetap saja degup jantungku terdengar kencang sekali. Aku yakin Seunghyun sajangnim bisa mendengarnya dengan jelas.

“Kau tau, percuma saja menghindarimu,” bisik Seunghyun sajangnim.

Aku berusaha menelaah maksud kalimatnya. Bos misterius dan menyebalkan ini menghindariku? “Wae?”

“Karena sekarang aku benar-benar yakin ini bukan mengenai Jane, namun mengenai dirimu Choi Jihyo,” Seunghyun sajangnim mendekatkan wajahnya kepadaku. Aku tau apa yang akan terjadi selanjutnya, dan aku bisa mengelak, menghentikan dansa ini dan pergi begitu saja.

Namun, sebagian dari diriku mengatakan jangan pergi. Ini waktunya untuk membuktikan apakah aku benar-benar mencintai namja di hadapanku atau tidak. Aku bisa merasakan bibirnya menyentuh bibirku, seharusnya di saat ini aku sudah bisa sadar jenis perasaan apa yang aku miliki untuk Seunghyun sajangnim.

Aku jelas semakin tidak mengerti bagaimana perasaanku untuknya. Satu hal yang aku tau, aku memejamkan mataku, membalas ciumannya, walaupun tidak berlangsung lama.

Aku membuka mataku dan melihat Seunghyun sajangnim bergelut dengan Woobin oppa di lantai. Mereka berdua saling menonjoki satu sama lain. Aku sadar semua tamu kini mengelilingi kami, walaupun aku tidak melihat ada Jinhyuk sajangnim. Tentu akan semakin gawat jika Jinhyuk sajangnim menemukan adiknya dan pewaris tahta Kim Group adu jotos seperti ini.

“Hentikan!” Aku berusaha menarik Woobin oppa tapi aku tersungkur karena terdorong olehnya. Seunghyun sajangnim melihatku dan memukul Woobin oppa hingga kini gantian ia yang terjatuh dan tergeletak di lantai dansa.

Woobin oppa bangkit dan mendorong Seunghyun oppa, kini ia berbalik menonjok wajah Seunghyun oppa hingga aku lihat darah segar mengalir dari ujung bibir bos ku.

“Kim Woobin, Choi Seunghyun, hentikan!” Hal yang aku takutkan akhirnya terjadi, Jinhyuk sajangnim datang dan langsung memisahkan mereka berdua. “Keluar dari pestaku, sekarang!”

Soohee yang sejak tadi berdiri di tengah kerumunan para tamu segera menghampiri Woobin oppa. Aku tau aku akan memperparah suasana jika aku mendatangi Woobin oppa. Aku melihat tangannya berdarah dan wajahnya lebam. Kim Woobin, jika saja kau tau aku sangat ingin bersamamu dan mengobati semua lukamu, namun aku tidak bisa.

Aku melangkahkan kakiku ke tempat Seunghyun sajangnim, aku menuntunnya perlahan menembus para tamu yang terus memperhatikan kami berdua. Diantara para tamu itu aku melihat Jinri memandang cemas, aku tersenyum kepadanya seolah mengatakan aku akan menjaga sepupunya. Namun begitu sampai di luar grand ballroom, aku melepaskan genggaman tanganku dari tangan Seunghyun sajangnim.

“Aku tidak mengerti kenapa kalian berdua kekanakan sekali hingga berkelahi di tengah pesta pertunangan kakakmu!”

Seunghyun sajangnim mengusap luka di ujung bibirnya. “Biasanya aku dan Woobin tidak pernah bertengkar, dalam hal apapun.”

“Oiya?” Aku sungguh tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Sejak pertama kali aku bertemu dengan mereka berdua, mereka berdua selalu terlibat perang dingin. “Jangan membohongiku lagi. Berhentilah bertengkar dengan sahabatmu sendiri!”

Seunghyun sajangnim tertawa pelan, “Aku dan Woobin tidak pernah bertengkar dalam hal apapun juga, hobi kami sama, makanan kesukaan kami sama, sifat kami sama, tidak ada hal yang perlu untuk diributkan. Hingga datang Jane, kami-”

“Oh baiklah ini masih mengenai Jane,” Aku memang belum mengetahui secara lengkap mengenai masa lalu mereka dengan Jane, namun gara-gara Jane, persahabatan kedua namja yang sangat aku sayangi ini rusak. “Dengar. Aku tidak peduli bagaimana masa lalu kalian dengan Jane. Aku tidak mau tau,” Aku memutuskan untuk pulang, meninggalkan Seunghyun sajangnim yang terpaku.

“Sajangnim,” Aku berhenti sebentar, membalikkan diriku menatapnya. “Aku akan menaruh surat pengunduran diriku di mejamu besok.”

Aku kembali berjalan pulang, aku tidak peduli Seunghyun sajangnim terus berteriak memanggilku. Aku menutup kedua telingaku dengan tanganku, teriakan Seunghyun sajangnim masih terdengar jelas dan aku tidak mau lemah karenanya.

“Choi Jihyo! Kini diantara aku dan Woobin bukanlah mengenai Jane, namun karena kau!”