“Hyuuuuung!” Woobin berlari memasuki apartemen Eric dan segera menemukan hyung tertua di grup namjachingu Super Girls itu sedang bersandar malas di sofa ruang tamunya.

“Eric hyung, aku merindukanmu!” Woobin langsung memeluk Eric, tentu saja disambut dengan jitakan di kepala Woobin.

“Ya! Kau ini menggangguku saja! Kau kemana saja baru datang, hah?” Eric berteriak kencang hingga MinAh berlari dari dapur.

“Eric Mun, kenapa kau berteriak sih?” MinAh melempar apronnya ke arah Eric. “Ya ampun Woobin! Kau akhirnya datang juga?”

Woobin memasang cengirannya yang paling sempurna, “Annyeong MinAh noona. Kau merindukanku?”

“Haha, menurutmu aku merindukanmu?” MinAh menghampiri Woobin yang masih ikut menyempil duduk di sofa Eric dan menjewer telinga Woobin. “Anak ini benar-benar. Aku tau kau itu sibuk promosi filmmu. Tapi coba tolong diperhatikan evil magnaeku itu!”

“Ampun noona, ampuuun. Hyung tolong aku!” Woobin mengaduh kesakitan. Percuma saja image yang terbentuk diluar selama ini jika ia adalah namja yang garang. Kalau sudah bertemu dengan lima yeoja Super Girls ditambah dengan Eric, Kyuhyun, Donghae, dan Henry, hilang sudah semua kekerenannya.

“Sudahlah Min, kalau kau terus mengomeli dinosaurus ini kapan makan siangnya akan selesai?” Eric menatap malas MinAh dan Woobin.

“Arra, arra. Eric Mun, kau jaga dongsaengmu ini baik-baik!” MinAh mendengus kesal kembali ke dapur.

“Hyung, yang lain kemana?” Woobin tercengang melihat ruang tamu apartemen Eric kosong melompong tak ada orang selain mereka berdua.

“Animal couple ada di kamar,” ujar Eric sambil memencet tombol remote TV nya.

“Kamar? Berduaan saja?” Woobin tertawa sambil bertepuk tangan. “Siang-siang begini dan di apartemen orang lain mereka bisa juga melakukannya.”’

“Evil magnae, aku bisa mendengarmu!” Kyuhyun tiba-tiba keluar dari kamar dan melempar bantal ke arah Woobin.

“Kau sedang apa dengan Hyejin di kamar hyung?” Woobin tersenyum licik ke arah Kyuhyun. Ia sangat tau betapa beringasnya Kyuhyun dan Hyejin kalau ditinggal berdua di sebuah ruangan.

“Hyejin sedang tidak enak badan makanya aku sedang memijitnya,” jawab Kyuhyun.

“Oiya? Hyejin sedang sakit. Coba mana aku lihat,” Woobin berlari menuju kamar, namun Kyuhyun langsung menutupnya dengan cepat.

“Kim Woobin, awas kalau kau berani masuk ke kamar!” teriak Hyejin dengan kekuatan penuh.

Woobin hanya bisa tertawa dengan tingkah Kyuhyun dan Hyejin. “Ne, leader. Aku tidak akan masuk ke kamar sebelum kalian berdua menyelesaikan urusan kalian, hahaha.”

“Eh, Woobin. Kau sudah datang?” HyunAh tersenyum tipis saat melihat Woobin.

“Hai, Hyun. Loh, kenapa mukamu lecek begitu? Henry mana?” Woobin hanya bisa kebingungan saat melihat MinAh dari dapur mengacungkan pisau ke arahnya.

“Henry? Mana aku tau. Mungkin sedang bermesraan dengan istrinya,” ujar HyunAh sambil melengos pergi bergabung dengan Eric.

“Heeeeh, Henry sudah punya istri? Siapa?”

“Makanya kau ini jangan terlalu sibuk. Kau tidak tau kalau Henry ikut WGM,” jawab Eric cepat sebelum MinAh datang kembali ke ruang tamunya dan memaki Woobin.

“Tapi kan itu hanya program Hyun. Henry tidak mungkin mengkhianatimu,” Woobin tau bagaimana Henry. Sahabatnya itu terlalu polos untuk bisa menduakan HyunAh.

“Cinta itu datang karena terbiasa,” HyunAh menghela napas panjang sekali seperti ada bola dunia di pundaknya. “Ya, biarkan saja Henry seperti itu. Aku bisa mencari namja lain. Oiya Woobin, bagaimana dengan Ahn Jae Hyun?”

“YA, YA YAAA!” Woobin serentak menggelengkan kepalanya dan kedua tangannya, menolak ide HyunAh. “Aku tidak mau mengenalkanmu dengan Jae Hyun. Tidak tidak! Henry bisa mengamuk kepadaku!”

HyunAh terus berbicara mengenai sesuatu hal namun Woobin cepat-cepat beranjak dari ruang tamu. Ia menghentikan langkahnya saat melihat kamar tamu terbuka.

“Hai, magnae. Kau tidak rindu oppa kesayanganmu ini?” Woobin mengacak-acak rambut Hamun yang sedang duduk di kasur mengerjakan tugasnya.

“Oppa, kau tidak liat aku sedang apa?” Hamun perlahan mengangkat kepalanya dan memandang Woobin dengan tatapan mengerikan.

“Haha, ampun ampun Hamun. Silahkan kerjakan tugasmu,” Woobin berjingkat perlahan keluar dari kamar tamu dan menutup pintunya. “Pantas saja Donghae hyung tidak mau dekat-dekat Hamun jika ia sedang mengerjakan tugasnya atau belajar.”

Woobin terdiam sesaat dan mengeluarkan sebuah gelang dari kantung celananya. Ia tau sudah beberapa bulan ini dia sibuk sekali hingga tidak pernah bertemu dengan Jihyo. Semoga saja nona evilnya tidak mengamuk parah.

“Donghae hyung?” Woobin hampir saja meloncat karena melihat Donghae yang tergeletak tak berdaya di sudut ruangan dekat balkon. “Hyung, kau kenapa?”

Donghae memasang muka sedih, “Aku dimarahi Hamun, padahal aku baru saja datang dan sudah lama tidak bertemu dengannya. Dia malah lebih mementingkan tugasnya daripada aku.”

Woobin tertawa kencang saat mendengar alasan sang Fish hyung. Baru saja tadi Woobin berpikir hal seperti itu, ternyata sudah langsung menjadi kenyataan.

“Haha, sabar saja hyung. Nanti kalau tugasnya Hamun sudah selesai pasti dia akan kembali lagi menjadi Hamun yang lemah lembut,” Woobin menepuk pundak Donghae sebentar lalu melanjutkan langkahnya menuju balkon, spot kesukaan Jihyo di apartemen Eric.

“Do you miss me, miss evil?” Woobin membaringkan tubuhnya di dipan, bergabung dengan Jihyo yang sudah terlebih dulu tergeletak di sana. Namun, si nona evil seolah tidak merasakan kehadirannya dan terus saja memandangi smartphonenya.

“Jihyo-ah, maafkan aku ya. Aku janji hari ini aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Bagaimana kalau nanti malam kita makan bersama Siwon hyung?” Woobin memeluk Jihyo dan merebahkan kepalanya di pundak kekasihnya. Namun matanya membelalak saat melihat apa yang terpampang di layar smartphone Jihyo.

“Ya! Kau membuat akun instagram hanya untuk melihat fotonya Seunghyun? Choi Jihyo!” Woobin langsung mengambil smartphone Jihyo.

“Ya! Oppa! Sejak kapan kau sudah ada di sini? Kembalikan smartphoneku!” Jihyo berlari mengejar Woobin masuk ke dalam ruangan.

“Ya ampun, ada apalagi sih ini?” MinAh hanya bisa mengelus dada saat melihat Woobin dan Jihyo berkejar-kejaran di dalam apartemen.

“Annyeong!” Henry yang baru datang langsung disuguhi pemandangan dua evil berlarian. “Wah, Woobin, Jihyo, kalian sedang bermain kejar-kejaran? Aku ikut!”

“Henry Lau, kau bahkan tidak menyapaku terlebih dahulu malah berlari-larian seperti itu? Aku mau putus saja!” teriak HyunAh kesal.

“Ya ampun, kalian sedang apa?” Hyejin membenarkan ikatan rambutnya begitu keluar dari kamar. “Sudah sudah berhenti. Kalian tidak lelah apa berlari berputar-putar seperti itu?”

“Sudah biarkan saja,” Kyuhyun memeluk Hyejin dari belakang. “Sepertinya makan siang belum jadi. Kita tidur dulu saja apa, yeobo?”

“Oppadeul! Unniedeul! Kalian berisik!!!!” teriak Hamun frustasi.