Annyeong yeorobun…
Maaf ya aku lama tidak muncul.
Otak aku benar2 buntu. Hahahhaa. Dan malas. Setiap ada ide, aku ketik, eh ngadat di tengah jalan. Sampai akhirnya aku menemukan ide ini. Hihihihi.

Maafkan kalau tidak terlalu bagus tapi aku berharap kalian tetap suka. Jangan lupa komen ya. Terima kasih banyak….

*****

CHO KYUHYUN’s POV

Namaku (masih) Cho Kyuhyun. Aku (masih) Direktur Utama dari SongCho Corporation. Aku juga (masih) seorang suami dari si tidak bisa diam Song Hyejin sekaligus ayah dari Cho Kihyun, Cho Jihyun dan Cho Jinhyuk. Salah satu hal yang paling aku sukai, (masih) bercinta dengan istriku. Karena itu, melihatnya terbaring lemah karena flu dan demam, aku merasa tingkat kebosanan dalam hidupku meningkat tajam.

“Aku lelah, Kyu. Aku mau tidur,” keluh Hyejin dengan suara sengaunya karena flu saat aku menaiki tempat tidur kami dan berusaha memeluknya. Ia bahkan mendorongku sampai aku nyaris keluar dari tempat tidur.

“Aku hanya ingin mengecek demammu. Aku tidak akan berbuat macam-macam. Aku janji,” kataku.

Hyejin menatapku dengan curiga. Aku yakin pasti ia sedang berpikir bahwa aku akan meminta bagianku malam ini. Tidak. Tidak. Tentu saja tidak. Walaupun aku sangat menginginkannya, aku tidak setega itu untuk melakukannya. Kesembuhan dan kesehatannya adalah yang paling penting.

Aku tersenyum, berusaha semanis mungkin tapi yang keluar adalah senyuman jahil. Aku tidak tahan untuk tidak menggodanya. “Memangnya kau kuat? Humm?”

Hyejin memukul pelan dadaku. Wajahnya cemberut. “Kau benar-benar…” Ia belum sempat menyelesaikan kalimatnya, ketika bersin menyerangnya bertubi-tubi.

Aku tertawa terbahak-bahak sambil membantu Hyejin membersihkan cairan pilek yang keluar dari hidungnya. “Berani sekali kau menertawaiku!” Protesnya dan aku semakin terbahak.

“Sudah, kau istirahat saja. Sudah minum obat belum?”

Hyejin menganggukkan kepalanya. Aku tersenyum, kali ini senyuman puas sekaligus kagum melihat Hyejin. “Istirahatlah. Biar cepat sembuh,” kataku lagi.

Aku turun dari tempat tidur, menjauh dari Hyejin yang menatapku dengan sedih. “Wae?” Tanyaku.

“Kau mau kemana?” Tanyanya balik membuatku gemas. Kalau saja aku tidak ingat bahwa ia sedang flu berat, aku pasti sudah menyerangnya, menguncinya dengan erat di bawah tubuhku.

Aku menyeringai kecil. “Mandi. Memangnya kau mau tidur dengan pria yang bau pabrik?” Hyejin menggelengkan kepalanya. “Kalau begitu, aku mandi dulu ya. Kau tunggu dengan sabar ya, jagi.”

Hyejin menatapku dengan sendu, membuatku tidak bisa bergerak lebih jauh menuju kamar mandi kami. Aku justru berbalik arah, kembali ke tempat tidur. Kalau sudah sakit, wanita satu ini memang menjadi 4x lipat lebih mencandukan yang menjadikan cobaan berat buatku.

Aku duduk di tepi tempat tidur dan memeluk Hyejin. “Siapa yang suruh kau kembali ke sini?! Mandi sana!” Perintahnya sambil mendorongku. Kalau ia sedang tidak sakit aku pasti akan membalasnya.

“Kau yang menatapku dengan sedih seolah-olah aku tidak boleh meninggalkanmu.”

“Aku hanya merasa bersalah melihat kau yang harus mengurus diri sendiri karena aku sakit, Kyu.”

Aku tersenyum senang mendengarnya. Paling tidak, meskipun sedang sakit ia masih memikirkanku. “Makanya cepat sembuh jadi kau bisa semakin cepat menebus kesalahanmu. Aku tidak keberatan jika kau memberikannya dua kali sehari.” Aku yakin Hyejin mengerti maksudku.

Hyejin menatapku dengan kesal. “Dua hari sekali kalau begitu,” katanya ringan membuatku terpaku di tempatnya. Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku. Wajahku pasti sedang kosong sekarang saking syok-nya. Serius? Apa dia masih waras? Dua hari sekali? Setiap melihatnya saja, aku harus mati-matian bertahan. “Sudah, mandi sana,” katanya lagi dan dengan terpaksa, aku menarik diriku. Aku baru kembali ketika sudah bersih dan wangi sabun. Hyejin tidak suka jika aku memakai parfum sebelum tidur.

Aku membaringkan diri di sebelah Hyejin. “Sudah boleh memelukmu?” Tanyaku basa-basi. Tanpa menunggu jawabannya, aku melingkarkan tangan kananku di perut Hyejin dan menyelipkan tangan kiriku di bawah leher Hyejin.

“Hye…”

“Wae?”

“Kau serius? Dua hari sekali?”

“Apa mau dua minggu sekali?”

“Yaa… Song Hyejin…”

Aku takut sekali membayangkan aku hanya boleh menyentuhnya dua minggu sekali. Sehari saja tidak menyentuhnya aku seperti pecandu narkotika yang sedang sakau. Apa kabar dua minggu?

Hyejin tersenyum geli sekilas lalu menenggelamkan dirinya di pelukanku, membuat sarafku bereaksi terhadap sentuhan kulit kami. “Kau mau mengerjaiku,” ucapku lalu menciumnya sebelum ia berbicara lebih panjang.

“Kau memang tidak bisa menahannya. Haishh!” Protesnya.

Aku mengernyitkan kening, mengoreksi ucapannya, “Hei, aku hanya menciummu. Kalau kau tahu betapa tersiksanya aku hanya bisa melihatmu meringkuk di bawah selimut dengan wajah lemas tak berdaya.”

“Kau bisa ketularan, Kyu. Siapa yang akan mengurusmu kalau kau sakit jika aku juga sakit?”

Hyejin benar. Bukannya aku tidak berpikir sampai situ, hanya saja akan separah apa flu yang akan ditularkan hanya karena sebuah ciuman? Aku tinggal minum obat yang sama dengan Hyejin. Tapi, tidak ada gunanya melawan wanita ini.

Aku membelai rambut ikal sebahu Hyejin, mengajaknya istirahat. “Baiklah nyonya Cho sayang, sekarang mari kita istirahat. Kau harus segera sembuh kalau akhir minggu ini kau mau ikut ke Bali denganku.”

Hyejin memposisikan tubuhnya dengan nyaman dalam pelukanku dan perlahan memasuki alam mimpinya. Aku menikmati wajah terlelapnya sejenak sebelum mengikuti jejaknya untuk tidur.

Selamat tidur, sayangku. Saranghae, Song Hyejin.

—-

HYEJIN’s POV

Repotnya kalau seorang Cho Kyuhyun sedang sakit adalah menuruti segala kemauannya. Kemauannya yang tersulit untuk dituruti adalah jika ia sudah menolak minum obat dan atau menolak istirahat demi nama pekerjaan.

“Jihyun mau bicara,” kataku sambil menyodorkan ponselku ke pada Kyuhyun. Kyuhyun yang dari tadi sibuk bekerja sampai-sampai tidak mau menyentuh bubur dan obatnya meskipun aku sudah memohonnya berkali-kali.

Kyuhyun mengambil ponselku dan tiga detik kemudian ia menatapku dengan tajam. Aku tersenyum penuh kemenangan. Aku telah menskak-mat telak Kyuhyun. Sekarang, Jihyun pasti sedang memarahi Kyuhyun habis-habisan soal ia yang belum makan dan minum obat.

Dari sekian milyar perempuan di dunia, yang paling Kyuhyun takuti adalah anak perempuannya sendiri dan aku memegang kunci terhadap anak itu. Baiklah, Jihyun juga anakku. Anak kami berdua yang lahir 10 bulan setelah percintaanku dengan Kyuhyun yang sangat mengerikan sewaktu di Yunani.

Kyuhyun menyerahkan kembali ponselku setelah Jihyun selesai memarahinya. Ia lalu menarik mangkok buburnya dan mulai memakannya sedikit demi sedikit. “Kau curang,” katanya yang hanya aku tanggapi dengan senyuman.

Selesai makan, Kyuhyun langsung menelan obatnya. “Harusnya dari tadi seperti itu. Apa susahnya sih? Tidak sampai setengah jam juga,” ujarku sambil membereskan peralatan makan dari meja kerjanya.

Kyuhyun hanya cemberut menatapku. “Apa lagi yang Jihyun bilang padamu, tuan Cho Kyuhyun-ku tersayang?” Tanyaku bermaksud menggodanya, agar ia tidak terus cemberut.

“Aku harus istirahat, tidak boleh terlalu capek.”

“Lalu?”

“Itu saja?”

“Ia tidak menyuruhmu untuk ke dokter?” Aku mengambil kembali ponselku dan pura-pura memencet nomor ponsel Jihyun. Aku tahu Jihyun pasti sudah menyuruh Kyuhyun menemui dokter. Salah satu musuh terbesarnya. Kalau tidak merasa akan mati, ia tidak akan ke dokter.

Kyuhyun menatapku seolah ia adalah orang yang paling merana di muka bumi ini. Dengan lirih ia menjawab, “Ia menyuruhku.”

“Jadi?” Tanyaku dengan alis terangkat.

“Baiklah, aku akan istirahat,” katanya sambil bangkit berdiri dari kursi kerjanya dan memindahkan pantatnya ke sofa tamunya. “Tapi aku tidak akan pergi ke dokter.”

“Aku bisa memanggilnya,” kataku.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya dengan lemah. Ia membaringkan tubuhnya di sofa. Wajahnya begitu pucat, tampak sekali tubuhnya sedang lemah.

Aku duduk di sebelah Kyuhyun, meletakkan kepalanya di atas pahaku. Aku bisa merasakan suhu tubuhnya yang panas. “Aku panggilkan dokter ya? Kau makin parah, sayang.”

Kyuhyun hanya menggelengkan kepalanya. Tangannya ia tumpangkan di atas dahinya. “Aku pusing,” katanya.

Aku memijit pelan kepalanya sambil menelepon dokter untuk datang memeriksa Kyuhyun. Kalau tidak bisa dengan cara halus, aku bisa memaksa tidak peduli jika Kyuhyun akan melemparkan wajah kesalnya kepadaku sepanjang hari.

“Aku tidak mau dokter,” ujarnya.

“Besok kau harus ke Bali, sayang. Kalau kau seperti ini, bagaimana bisa aku mengijinkanmu pergi?”

Kyuhyun menyerah. Ia takut aku melarangnya pergi. Aku benar-benar akan mengurungnya di rumah jika besok ia masih separah ini. Aku tidak peduli jika itu akhirnya mengurangi keuntungan perusahaan kami. Kesehatan Kyuhyun-ku jauh lebih penting. Uang bisa dicari, kalau Kyuhyun? Hanya ada satu di muka bumi ini.

“Kau curang. Dasar menyebalkan,” katanya dengan kesal. Aku hanya tertawa ringan mendengarnya.

“Makanya, kalau istri sedang sakit itu jangan dekat-dekat. Kau tahu sendiri tubuhmu ini rentan sekali flu dan demam. Aku tidak sengaja bersin di depanmu saja, besoknya kau langsung ikut-ikutan bersin. Apalagi ini…”

“Yaaa sudahlah. Sudah kejadian, tidak ada yang perlu disesali. Lagipula kau juga tidak menolak.”

Aku tidak menyesalinya. Bagaimana bisa aku menolak pria yang begitu baik dan menggemaskan ini? Ia begitu pintar merayuku dan membangkitkan keliaran dalam diriku. Aku kecolongan. Besoknya, hidung Kyuhyun memerah akibat berkali-kali terkena usapan tisu dan semakin parah sampai ia selemah ini.

“Untung aku sudah sembuh jadi ada yang mengurusmu.”

Kyuhyun menatapku dengan sendu. Wajah tak berdayanya membuatku tidak tega. Dengan perlahan dan lembut, aku membelai kepalanya. “Semoga kau cepat sembuh ya, yeobo.”

“Cium aku,” katanya tiba-tiba.

Pria ini memang tidak ada duanya. Di saat seperti ini masih sempat-sempatnya ia berpikir untuk berciuman. “Yaaa Song Hyejin-ssi, cium aku,” katanya sekali lagi dengan nada merajuk.

“Hanya ciuman. Tidak lebih. Arraseo?” Aku mengenal pria ini dengan sangat baik. Aku memahami jalan pikirannya lebih dari siapapun. Terutama ketika ia sudah menyeringai, aku tahu akhir dari imajinasinya.

Aku mencium bibir Kyuhyun dan berniat melepaskan setelah beberapa detik namun tangan Kyuhyun lebih cepat menahan kepalaku. Aku tidak tahu bagaimana caranya, yang pasti sekarang Kyuhyun sudah menghimpitku di sandaran sofa tanpa sedetik pun melepaskanku. “Aku mencintaimu,” ucapnya sambil tersenyum, memberikan sedikit warna di wajah pucatnya.

“Apa aku masih dibutuhkan?”

Aku menengok ke belakang dan melihat dokter Kang dan susternya yang berdiri menatap kami sambil tersenyum salah tingkah. Mereka pasti melihat kelakuan pasiennya yang membuat mereka ragu bahwa ia sedang sakit.

Aku tersenyum malu. Dengan sengit, aku menatap Kyuhyun. “Gara-gara kau,” desisku. Kyuhyun hanya tersenyum tipis cuek padaku. Dengan santai ia berbaring di sofa dan mempersilahkan dokter untuk memeriksanya.

“Salah satu antibiotikku,” kata Kyuhyun kepada dokter Kang.

Dokter Kang tersenyum. “Aku paham,” katanya yang dengan telaten memeriksa Kyuhyun.

Kyuhyun menatapku sambil menyeringai jahil. “Itu hukuman karena memaksaku bertemu dokter.”

Aku hanya menatap Kyuhyun datar seolah tidak menanggapinya. Sebenarnya kalau dokter itu tidak tiba-tiba datang menginterupsi kegiatan kami, aku tidak keberatan membantu Kyuhyun mendapatkan keinginannya. Tapi, kesehatan Kyuhyun jauh lebih penting sekarang.

Cepat sembuh, sayangku. Saranghaeyo, Cho Kyuhyun.

—-

Kkeut!