Dengan terpaksa Hyejin mengambil ponselnya yang bolak balik bergetar lalu membuka kurang lebih 10 pesan chat yang masuk ke akun Kakao Talk-nya.

Choi Jihyo
Aku tidak menyangka Hyung Oppa bisa sekeren ini.

Choi Jihyo

image

Kang Hamun
Tampaaaaan!!

Kang Hamun
Tapi masih lebih tampan Donghae Oppa-ku

Jung HyunAh
Harus kuakui seleranya tidak jelek.

Jung HyunAh
Hitam cocok untuknya.

Park MinAh
OMG Cho Kyuhyun!!!

Choi Jihyo
Mana Hyejin eonni? Tumben tidak berkomentar.

Park MinAh
Iya. Mana Hyejin? Mungkin sedang tidur?

Park MinAh
YAA SONG HYEJIN!!!

Song Hyejin
Aku di sini. Wae?

Choi Jihyo
Eonni, kami ini sedang membicarakan kekasihmu.

Choi Jihyo
Kenapa kau tidak bersemangat?

Song Hyejin
Aku sedang malas.

Song Hyejin
No comment.

Hyejin memandang cukup lama foto laki-laki di layar ponselnya yang ia kenal sebagai kekasihnya lalu mengerang kesal, “Aaaaargh!!! Cepat pulang, bodoh!!!”

Hyejin menutup aplikasi Kakao Talk lalu membuang ponselnya ke nakas di sebelah tempat tidurnya. Hembusan nafasnya yang terdengar kasar menandakan kesabarannya yang semakin menipis.

“Kau dimana?” Tanya Hyejin.

Hyejin tidak kuat lagi menahan keinginannya. Diambilnya kembali ponsel yang telah ia lempar dan kemudian menghubungi kekasihnya yang sudah 3 minggu tidak ditemuinya.

“Aku baru selesai musikal, sayang. Ada apa?” sahut Kyuhyun yang memang baru saja keluar dari gedung pertunjukkannya.

“Kau langsung pulang atau ke kantor dulu?” Tanya Hyejin lagi.

“Kau maunya bagaimana? Humm?” Kyuhyun balas bertanya tanpa diketahui Hyejin bahwa ia sedang menyeringai jahil.

“…” Hyejin tidak menjawab.

Berhubungan yang sudah terlalu lama membuat Kyuhyun dapat menangkap dengan cepat jalan pikiran Hyejin meskipun kekasihnya itu tidak mengatakannya.

“Aku akan menemuimu, sayang. Di mana pun kau berada. Kau di mana sekarang?”

“Rumah. Rumah kita, maksudku.”

Kyuhyun menyengir lebar membayangkan Hyejin yang akan menyambutnya saat tiba di rumah mereka. “Aku akan sampai dalam 15 menit. Sabar ya…”

Hyejin terdiam sejenak. “Kyuhyun-ah,” panggil Hyejin pelan.

“Ada apa?”

“Aku terlalu merindukanmu,” jawab Hyejin dengan jujur membuat Kyuhyun tersenyum lebar.

“10 menit lagi aku akan sampai kalau begitu. Sekarang, boleh aku menutup ponselku? Aku harus menyetir untuk segera bertemu denganmu.”

“Sampai jumpa.”

“Sampai jumpa, sayang.”

—-

Hyejin berjalan mondar-mandir di depan intercom rumahnya. Mengecek setiap 5 detik dengan harapan Kyuhyun segera muncul. Ketika harapannya terkabul, dengan sigap, Hyejin membuka pintu rumahnya.

“Selamat datang,” sapa Hyejin diiringi senyuman yang paling manis dan pelukan yang sangat erat.

“Woo. Woo. Woo. Apa kau begitu merindukanku?” Kyuhyun memberikan pelukan eratnya untuk Hyejin meskipun sambil mendorong gadis itu masuk ke dalam rumah.

Hyejin menganggukkan kepalanya tanpa ragu. Gadis itu bahkan juga tidak malu-malu memberikan sebuah ciuman lembut di bibir kekasihnya itu. “Aku nyaris mati tidak bertemu 3 minggu denganmu,” ujar Hyejin membuat Kyuhyun tertawa geli.

“Tidak mungkin. Biasanya kau yang lebih kuat bertahan kalau kita tidak bertemu. Apa itu artinya kau sudah tersadar betapa kau akan merugi kalau meninggalkan aku?” Goda Kyuhyun berakibat sebuah pukulan kecil di lengannya. “Hahahahaa. Lebih baik kita duduk dulu.”

Kyuhyun menggandeng Hyejin untuk duduk bersama di sofa empuk yang terletak di tengah ruang santai rumah mereka.

“Apa yang terjadi selama kau meninggalkan aku?” Tanya Kyuhyun dengan tangan kanannya yang merangkul Hyejin sedangkan tangan kirinya memencet tombol untuk menyalakan televisi.

“Aku tidak meninggalkanmu. Aku kan harus bekerja,” protes Hyejin kesal namun hanya ditertawakan oleh Kyuhyun.

“Aku tahu tapi tega sekali kau tidak datang ke pernikahan Ahra noona malah pergi ke Amerika.”

Hyejin mengganti posisi duduknya menjadi duduk bersila di atas sofa dengan wajahnya yang menatap Kyuhyun penuh dengan penyesalan. “Aku minta maaf. Aku hanya melakukan pekerjaan yang manajemen lakukan padaku. Kau tidak marah kan?”

Kyuhyun menolehkan kepalanya sehingga kini ia bertatapan langsung dengan Hyejin. Tangannya yang tadi sibuk menggonta-ganti channel televisi telah berpindah ke pipi kekasihnya. “Aku tidak marah. Aku hanya ingin menggodamu.”

“Sungguh?” Tanya Hyejin berusaha mendapatkan jawaban yang lebih meyakinkan.

“Astaga Tuhan, sayangku. Aku serius. Aku tidak marah.”

Hyejin tersenyum lebar mengekspresikan kelegaannya. “Terima kasih,” ujarnya lalu memeluk Kyuhyun dengan gemas.

“Kyuhyun-ah,” panggil Hyejin setelah beberapa detik melepaskan pelukannya dari Kyuhyun.

“Apa?”

“Tadi siang Jihyo mengirimiku sebuah foto.”

“Foto apa?” Tanya Kyuhyun penuh dengan selidik.

“Fotomu. Jangan berpikiran negatif dulu.”

Kyuhyun menyeringai lebar mendengarnya. “Lalu kenapa? Apa ada masalah dengan foto itu?”

Malu-malu, Hyejin menganggukkan kepalanya. “Kau memakai sweater hitam pas badan dan celana hitam. Kau tahu apa yang kupikirkan?”

“Apa? Bercinta denganku?”

Sebuah pukulan kecil mendarat di bahu kanan Kyuhyun. “Pikiranmu! Haish!” Protes Hyejin dan seperti biasa hanya ditanggapi tawa renyah oleh Kyuhyun.

“Lalu apa?”

“Aku berpikir, kenapa kau begitu tampan dan menggemaskan. Pantas banyak wanita yang mengejar dirimu….”

Kyuhyun menunggu lanjutan dari omongan Hyejin namun Hyejin tidak melanjutkannya. Ia hanya menatap Kyuhyun dengan sendu. “Kau tidak akan kehilangan aku, sayang. Percaya padaku.”

Entah apa yang merasukinya, yang membuat Hyejin meneteskan air matanya. “Hei. Kau kenapa, sayang? Jangan menangis. Hei,” kata Kyuhyun bingung melihat Hyejin yang tanpa sebab menangis.

Tanpa malu-malu, Hyejin memeluk Kyuhyun dengan erat, membenamkan wajahnya di bahu Kyuhyun. “Aku mencintaimu. Aku mohon jangan tinggalkan aku. Ya?”

Kyuhyun memandang rambut Hyejin dan kemudian membelainya penuh dengan kasih sayang. “Tidak pernah terbersit dalam otakku meskipun hanya sekali. Aku mencintaimu. Sangat.”

“Tidak akan meninggalkanku. Janji?”

“Janji.”

Hyejin melepaskan pelukannya. Matanya yang habis menangis terlihat agak merah dan sembap. “Terima kasih banyak, sayangku. Aku bersumpah akan mengejarmu sampai ke ujung dunia kalau kau melanggar janjimu,” ancam Hyejin dengan manis, semanis lumatan bibirnya yang sudah mendarat di bibir Kyuhyun.

Kyuhyun hanya bisa berharap tubuhnya tidak bergerak lebih jauh dari ciuman. “Bagaimana bisa aku meninggalkanmu kalau tidak ada dirimu, bernafas saja rasanya sangat sulit?” Batin Kyuhyun dalam hati sambil menikmati ciuman dari kekasihnya.

—-

Kkeut!