Hai hai semuaaa! Ini lanjutannya dari Saturdate. Selamat membaca!

“Hyung?” Henry mengucek matanya perlahan, daritadi ia hanya ingat jika ia menguap berkali-kali dan menemukan keempat hyungnya tertidur di sofa. “Hyungdeul bangun.”

“Mmhh, apa sih Henry? Kau menggangguku dengan Hyejin,” Kyuhyun menggerakkan tangannya, memeluk tubuh di sampingnya, namun ia terpaksa membuka matanya saat Henry berteriak dengan kencang.

“Omo, Eric hyung! Hiiiiii,” Kyuhyun langsung berdiri dan menepuk-nepuk tangannya dengan jijik. “Hyung, kau kenapa tidur di sampingku sih?”

“Mmmh?” Eric menyenderkan kepalanya ke pundak evil magnaenya, “Woobin, awas kalau kau bergerak. Aku masih mengantuk.”

“Ne hyung,” Woobin yang ternyata sejak tadi sudah terjaga malah menggerakkan tubuhnya ke depan hingga kepala Eric terjatuh.

“Ya! Anak ini benar-benar!” Eric menjewer telinga Woobin persis seperti appa yang kesal dengan anaknya. “Kau ini sudah aku bilang jangan bergerak! Ah, aku jadi tidak mengantuk lagi!”

“Aaaaakh, ampun hyung ampun,” Woobin berusaha melepaskan jeweran Eric. “Hyung, kau makin lama makin mirip dengan MinAh noona!”

Eric melepaskan tangannya dan telinga Woobin dan memukul kepala sang evil magnae. “Kau makin lama makin mirip dengan Jihyo.”’

“Donghae hyung, bangun hyung,” Henry mengguncang-guncangkan tubuh Donghae hingga sang fishy bangun.

“Annyeong Henry. Hoaam, apa aku tertidur lama?” ujar Donghae sambil menyunggingkan senyumannya.

“Nah, kalian ini seharusnya seperti Donghae hyung, bangun tidur tidak marah-marah,” ujar Woobin yang langsung berlindung di balik Donghae begitu melihat Eric dan Kyuhyun sudah mengepalkan tangannya.

“Loh, kemana para yeoja?” Donghae meluruskan kakinya ke atas meja. “Ini dimana?”

“Halo apakah sudah siap pesan?” seorang namja datang menghampiri kelima namja yang masih kebingungan itu.

“Jae Hyun?” Woobin mengucek matanya saat melihat namja di depannya yang memakai apron. Nametag yang tergantung di apron itu merangkai kata Jae Hyun.

“Kalian sudah siap pesan?” Jae Hyun tersenyum.

“Kami pesan americano, cold, lima,” Eric berkata cepat.

“Sejak kapan Ahn Jae Hyun-ssi bekerja di coffee shop?” mata Kyuhyun memandangi Jae Hyun yang berjalan menjauh dari meja mereka.

“Kita bukannya tadi sedang di apartemen Eric hyung? Sejak kapan kita di sini?” Ddonghae memandang aneh ke arah Henry yang sejak tadi sibuk menggumamkan sesuatu.

“Jangan-jangan kita dipindahkan oleh alien dari apartemen Eric hyung ke sini! Jangan-jangan Super Girls diculik alien!” Henry menahan suaranya hingga terdengar seperti anak kucing yang terjepit.

“Ya! Kau ini kebanyakan menonton film!” Woobin menggelengkan kepalanya melihat Henry yang tiba-tiba panik sendiri.

“Uhhm, magnae,” Kyuhyun menyela kehisterisan Henry, “Sebaiknya kau lihat itu.”

“Magnae,” Eric ikut menyela Henry, “Serius, kau harus lihat ke arah sana,” tunjuk Eric ke arah counter coffee shop.

Jae Hyun tertawa lepas sambil membuatkan minuman pesanan konsumen bersama seorang yeoja yang mirip sekali dengan Jung HyunAh. Sesekali, HyunAh menyikut pelan lengan Jae Hyun yang beberapa kali melingkar di pinggang HyunAh.

“Babbbyyyyy Hyuuuuuuun!!!!!!” Henry berteriak lebih histeris lagi, mengundang pandangan aneh dari beberapa orang yang duduk di sekitar kelima namja.

“Sabar Henry, sabar. Tapi tadi sebelum kau datang bukannya HyunAh bilang kepadaku dia ingin dikenalkan dengan Jae Hyun?” Woobin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia merasa aneh mengapa seperti deja vu.

“Apa? Kau bilang HyunAh ingin berselingkuh dariku? Baby Hyuuuun, kau tegaaaa!” Henry semakin meraung-raung.

“Ya! Aku tidak bilang HyunAh mau berselingkuh, hanya-” ucapan Woobin terputus saat melihat seorang yeoja keluar dari toilet dan berjalan menuju meja di sudut ruangan coffee shop. “Itu MinAh noona!”

Yeoja itu menengok mendengar namanya disebut, namun Woobin langsung menutup mulutnya saat melihat seorang namja yang berada di meja yang dituju oleh yeoja yang sepertinya memang Park MinAh.

“Itu bukannya Yunho hyung?” Kyuhyun mengerenyitkan dahinya. “Itu Yunho hyung! Aaaaawwww kau mengapa menonjok lenganku sih hyung?”

“Karena kau menyebut namanya!” Eric menggeram kesal. “Kenapa harus Yunho sih?”

“Eric hyung cemburu, Eric hyung cemburu,” Woobin tertawa lebar melihat hyung tertuanya mengepalkan tangannya sekuat mungkin. Ia tau Eric hyung nya bisa saja menghampiri Yunho dan MinAh, menghajar Yunho, dan membuat keributan di coffee shop ini.

Namun Woobin juga tau, Eric hyung nya juga seorang yang bertanggung jawab kepada 4 namja yang mau tidak mau ia anggap sebagai dongsaengnya, dan Eric tidak akan mau memberikan contoh yang tidak baik.

“Well, evil magnae, coba kau lihat itu,” Eric sedikit tercekat begitu melihat pemandangan yang ia lihat, namun ia bertepuk tangan pelan saat melihatnya.

Seorang yeoja yang mirip dengan Choi Jihyo mengantri untuk membayar minumannya, di belakangnya tentu saja seorang namja yang menjadi mimpi buruk Woobin, T.O.P, memeluk Jihyo dari belakang, sesekali mengecup leher Jihyo.

“Apa-apaan itu, hah?” Woobin langsung bangkit dan bersiap berlari menghampiri T.O.P, namun Donghae sigap memeluk Woobin yang kini meronta-ronta tidak terima.

“Ini semakin aneh, aneeeeh,” Kyuhyun bertukar pandang dengan Donghae, satu-satunya namja yang masih terlihat waras di meja ini. “Ini seperti mimpi buruk, yah kecuali tanpa Hyejin dengan namja lain di sini.”

“Oppa!” Kyuhyun menengok ke arah suara yang sangat ia kenal. Darahnya mendidih saat melihat yeoja yang mirip Song Hyejin membuka pintu coffee shop dan menghampiri namja yang sejak tadi menunggu di depan stall makanan.

“Woonie oppa, kau sudah lama menunggu?” Hyejin mengecup pipi Siwon yang tersenyum sambil merentangkan tangannya memeluk mesra Hyejin.

“Tidak, seharusnya, Siwon hyung, Hamun,” Kyuhyun berusaha menata setiap kata menjadi kalimat, ia tidak tau mengapa ia semarah ini. “Tapi, itu Hyejin-”

“Maaf lama menunggu,” seorang yeoja yang mirip dengan Kang Hamun mengantarkan pesanan kelima namja tersebut.

Donghae menghela napas lega melihat Hamun tidak bersama dengan namja lain, “Hamun, kau mengapa bekerja di sini?”

“Apa aku mengenalmu?” Hamun terdiam mendengar pertanyaan Donghae. “Ah, mian. Aku harus pergi,” Hamun bergegas menuju balik kounter, melepas apronnya dan berpamitan dengan pegawai lain.

Donghae ingin mengejar Hamun yang keluar dari coffee shop namun ia tidak bisa. Jika ia mengejar Hamun maka Woobin bisa saja berlari menghajar T.O.P.

“Hamun!!!!” Donghae meringis kesakitan, memang Woobin yang meronta-ronta daritadi tak sengaja menyikut wajahnya, namun sebenarnya yang membuat Donghae sakit karena Hamun dijemput oleh seorang namja, yang Donghae pun tidak tau itu siapa karena wajahnya tertutup oleh helm.

“Oppa, oppaaa! Bangun!” Hamun mengguncangkan tubuh Donghae yang mengingau hebat.

“Hoaaaah! Hamun!” Donghae membuka matanya dan melihat Hamun menatapnya dengan cemas. “Hamun, kau pergi dengan siapa?”

“Hah? Apa sih, oppa? Aku daritadi kan mengerjakan tugasku di kamar tamu Eric oppa,” Hamun memandang keempat eonniedeulnya yang sedang sibuk membangunkan keempat namja lainnya yang sedang mengigau berjamaah.

“Ya! Kim Woobin bangun!” Jihyo menampar kekasihnya dengan keras hingga Woobin terbangun.

“Kau mengapa menamparku sih?” Woobin berteriak kesal. Ia mengucek matanya dan memperhatikan sekelilingnya. “Ini kan apartemen Eric hyung.”

“Memang! Kau kira ini dimana, hah?” Jihyo memukul kepala Woobin. “Kau kenapa sih?”

“Baby Hyuuuuun!” Henry terbangun dan langsung memeluk HyunAh. ‘Maafkan aku, aku salah padamu baby Hyun. Aku tidak macam-macam dengan Yewon. Kumohon kau percaya padaku dan jangan bersama Jae Hyun-ssi. Baby Hyuuuuun!”

“Ne, ne, gwenchana, baby Hen,” HyunAh mengelus punggung Henry yang menangis sesenggukan. “Apa Woobin yang menceritakan kepadamu kalau aku ingin berkenalan dengan Ahn Jae Hyun?”

Henry mengangguk HyunAh langsung meninju lengan Woobin.

“Aaaaakh! Kenapa sih semua orang memukulku?” Woobin memanyunkan bibirnya yang membuat Jihyo tidak tahan untuk menciumnya, dan tentu saja memukulnya lagi.

“Oppa, kau tidak apa-apa?” MinAh memandang cemas Eric yang sejak bangun tidak mengatakan hal apapun. “Kau bermimpi buruk? Tadi saat kau tidur tanganku mengepal kuat dan badanmu dingin.”

Eric menarik MinAh dalam pelukannya, “Jangan, jangan pernah lakukan itu lagi.”

“Hah? Lakukan apa?” tanya MinAh.

“Memasak makanan yang membuat kami semua mengantuk dan bermimpi buruk seperti tadi,” Eric menyengir.

“Jadi kau bilang makananku tidak enak? Lalu mengapa kau makan tadi?” MinAh melepaskan pelukan Eric.

“Makananmu memang tidak enak, namun kau selalu enak untukku,” Eric menarik MinAh sekali lagi dalam pelukanna dan mencium kekasihnya dengan ganas.

“Eeewwwwhhh,” seru Jihyo, Woobin, HyunAh, Henry, Donghae, dan Hamun bersamaan.

“Song Hyejin,” gumam Kyuhyun pelan.

“Hai, tuan muda. Kau tidur lama sekali. Kau bermimpi buruk?” tanya Hyejin.

“Buruk, buruk sekali,” Kyuhyun segera bangkit dari sofa dan menarik Hyejin menuju kamar Eric.

“Hei, hei. Kita mau kemana?”

“Menghukumku, karena kau membuatku marah di mimpiku tadi,” jawab Kyuhyun cepat.

“Hei, anak muda! Itu kamarku. Aku yang pakai duluan!” teriak Eric menghentikan ciumannya dengan MinAh.

“Ya! Eric Mun! Siapa juga yang mau melakukan hal itu siang-siang denganmu!” MinAh memukul kepala Eric dengan kencang.

“Oh, jadi kalau malam-malam kalian juga seperti animal couple, MinAh noona?” ledek Woobin.

“Aaaaa, baby Hyun. Telingaku sakit mendengarkan obrolan mereka. Telingakuuuu,” Henry berteriak heboh.

“Hamun, kau tidak mengerti obrolan mereka kan?” Donghae refleks menutup telinga Hamun, namun Hamun mengelak.

“Oppa, aku sudah besar. Lagipula suatu saat kita akan melakukannya, nanti,” jawab Hamun datar sambil berjalan menuju dapur. “Lebih baik aku buatkan teh panas untuk mereka semua supaya lekas sadar.”