Annyeonghaseyo yeorobun!
Kayaknya author gak bakat bikin FF panjang2 apalagi series. Alhasil jadilah FF pendek2 kayak gini. Hahahhaha. Semoga pada suka ya…

Enjoy!

*****

Cho Kyuhyun. Pria itu baru saja kembali mendarat di tanah kelahirannya, setelah jadwal kegiatannya yang sangat panjang dan padat, dan aku yakin saat ini aku adalah korban dari tekanan-tekanan hidupnya.

“Astaga Cho Kyuhyun!! Sekarang hampir jam 12 malam!”

“Aku tidak mau tahu. Kau harus ke sini sekarang juga!”

“Tidak. Aku mau tidur!”

“Sekarang!”

Dengan seenak jidat lebarnya, ia mematikan sambungan telepon antara kami berdua. “Dasar brengsek!” Umpatku kesal.

Aku melihat jam di ponselku yang sudah menunjukkan pukul 23.49 KST. “Kenapa dia tidak memilih tidur saja sih? Kenapa harus mengajakku nonton tengah malam begini?! Dia tidak lelah apa?! Haisssh!!!” Keluhku tanpa henti sambil tetap mengganti baju dan memakai aksesoris kesukaanku, kacamata dan masker. Bukan karena aku penurut tapi karena hanya aku tidak mau cari masalah. I know Cho Kyuhyun.

Tidak sampai sepuluh menit sejak telepon dari Kyuhyun, aku sudah duduk cantik di dalam taksi yang akan membawaku ke tempat yang diinginkan Kyuhyun. Bioskop.

—-

Dengan mudah aku dapat menemukannya, pria yang memaksaku ke bioskop di waktu seharusnya aku tidur nyenyak. Dari pakaian yang dipakainya, celana pendek-kaus-topi-dan masker, aku bisa melihatnya. Ia sedang duduk di depan studio yang akan menjadi tempat kami menonton tengah malam, yang aku jamin aku pasti akan ketiduran.

Aku menghampirinya dan duduk persis di sebelahnya. Ia menyadari kehadiranku tapi ia menganggap seolah tidak ada siapa-siapa. Ia tetap sibuk dengan smartphonenya yang entah bagaimana tidak pernah kehabisan baterai meski dipakai main game 24 jam sehari.

Aku? Sudah biasa. Tidak peduli. Aku duduk dengan santai menunggu pintu studio dibuka sambil mendengarkan lagu dari smartphone-ku. Ketika studio dibuka, Kyuhyun masuk lebih dahulu. Ia meninggalkan beberapa tiket untukku di tempat duduknya. Kebiasaan yang kami lakukan jika kencan di tempat umum, meskipun tengah malam. Aku menyusul masuk beberapa menit kemudian.

“Aku akan menghajarmu kalau besok pagi aku kena marah manajerku karena tidak bisa bangun pagi, Tuan Cho! Astaga!!! Jadwal pertamaku besok jam 4 pagi dan sekarang aku masih harus menemanimu menonton,” protesku begitu duduk di kursi yang tentu saja bersebelahan dengannya, dengan suara pelan namun tetap menunjukkan rasa kesalku. “Kau juga boros sekali! Buat apa memesan satu baris hanya untuk kita berdua?! Haish! Jinjja!”

Kyuhyun hanya menengok kepadaku dengan sekilas. “Diamlah. Tonton saja filmnya,” katanya dengan nada mengintimidasi. Aku mendecak kesal tapi pria ini tetap fokus pada layar lebar di depan kami. Kalau bukan karena sekarang kami berada di tempat umum, meskipun sepi, aku pasti sudah menjambak rambutnya.

Aku menonton sekilas film yang baru dimulai, yang sudah aku hafal luar kepala alur ceritanya. “Asal kau tahu, ini keempat kalinya aku nonton film ini. Aku mau tidur,” kataku cuek.

Kyuhyun juga tampaknya tidak peduli. Ia hanya menarikku, menyuruh meletakkan kepalaku di bahunya. “Tidurlah. Yang penting kau di sisiku,” katanya dengan lembut yang langsung meluluhkan kekesalanku.

Aku pun meletakkan kepalaku di atas bahu Kyuhyun dan menyusupkan tanganku di bawah tangannya, memainkan telapak tangannya yang agak lebih besar dari telapak tanganku. “Bagaimana SS6 di Singapore dan Indonesia? Menyenangkan?”

“Seperti biasa, menyenangkan tapi sangat melelahkan,” jawabnya meski sambil menonton orang-orang yang sedang bertarung di layar lebar. “Aku dengar kau mendapatkan tawaran untuk main WGM. Siapa pasangannya?”

“Molla. Kau tahu sendiri hanya Tuhan dan manajemen yang tahu jadwal kita. Yang pasti, besok pagi aku harus bangun pagi-pagi buta untuk syuting MV,” kataku yang masih bermain-main dengan telapak tangan Kyuhyun beserta jemari-jemarinya.

“MV apa? Proyek solo-mu?”

Aku mencibirkan bibirku. “Jangan pura-pura tidak tahu. Kau sudah membajak proyek solo-ku. Semua model MV-ku harus kau. Semua lagu yang diduetkan, harus juga denganmu. Dasar licik.”

Kyuhyun tertawa ringan penuh kepuasan. “Lalu besok kau syuting MV apa?” Jangan tanya padaku bagaimana dia bisa mengobrol denganku sambil menonton.

“Shinee. Aku akan berciuman dengan Jinki Oppa. Apa kau akan marah?”

Kyuhyun menggelengkan kepalanya dan dengan cepat ia menolehkan kepalanya kepadaku. “Tidak. Ciuman dibalas ciuman. Tempat tidur dibalas tempat tidur,” katanya sambil menyeringai. Tanpa sempat menghindar, bibirku sudah terperangkap dalam lumatan bibirnya yang selalu saja memabukkan meskipun aku sudah ribuan kali merasakannya.

Sebuah tinju aku daratkan di dada Kyuhyun agar ia segera melepaskan ciumannya dari mulutku. Bukan karena aku tidak bisa bernafas  karena ciumannya yang begitu intens tapi karena ini tempat umum. Meskipun bioskop ini gelap dan sering menjadi tempat untuk para pasangan bermesraan tapi kalau sampai ada yang memergoki kami, tamat riwayatku. Karena Kyuhyun memiliki basis penggemar yang lebih banyak, jauh, tentu dia akan baik-baik saja.

Kyuhyun hanya tertawa terbahak-bahak tanpa suara. Ia mencium bibirku sekali lagi dengan ringan sebelum kembali fokus pada film yang tidak lagi menarik perhatianku sejak kedua kali aku menontonnya. “Musikalmu kapan selesai?” Tanyaku iseng.

“Katanya mau tidur kenapa malah banyak bicara, nona Song?”

“Sudah, jawab saja. Cerewet!”

Pada dasarnya, aku adalah orang yang tidak bisa diam. Aku akan mempunyai banyak hal untuk dibicarakan meskipun aku sedang mengantuk, terutama jika aku sedang bersama dengan orang yang sangat menarik bagiku. Anggap saja itu bakat.

“Masih lama. Memangnya kenapa?” Jawab Kyuhyun pada akhirnya.

Aku menghitung jadwal kegiatannya, “Musikal. Album solo baru. Konser KRY. Radio star. Album KRY. Waw!!” Begitu banyak ternyata.

“Kapan kau punya waktu untukku kalau begitu?” Lanjutku kemudian.

“Drama. Variety show. Konser SG. Proyek solo. Photoshoot dimana-mana. Kapan kau punya waktu untukku?” Balasnya sambil menyengir lebar memamerkan deretan gigi putihnya. Menyebalkan.

“Jangan cari gara-gara denganku ya. Kita sama-sama tahu jadwalmu lebih padat dariku,” sahutku tidak mau kalah. “Buktinya, mau nonton saja harus tengah malam seperti ini.”

“Besok temani aku nonton siang bolong ya?”

Pria ini memang paling suka mencari gara-gara denganku. Setiap ada kesempatan untuk membuatku kesal, ia tidak akan melewatkannya. “Jangan suka membuat api. Aku masih belum siap di-bully fansmu.”

Lagi-lagi, Kyuhyun hanya tertawa sesuka hatinya. Kalau tidak ingat bahwa kami bukan berada di rumah atau dorm, aku pasti sudah membuatnya berteriak-teriak kesakitan karena cubitanku. “Tidak usah khawatir,” katanya.

“Apa yang perlu dikhawatirkan?”

Kyuhyun  meninggalkan filmnya. Ia menatapku cukup lama sambil tersenyum sangat manis namun mengerikan. Aku seperti menangkap suatu ‘rahasia’ dari sorot matanya.

“Kau pasti akan mengejutkanku. Apa yang sudah kau perbuat?”

Kyuhyun menyeringai semakin mengerikan. Ia mendekatkan wajahnya kepadaku sampai mulutnya berada tepat di sebelah telingaku. “Mulai bulan depan kita tidak akan kencan diam-diam lagi apalagi tengah malam seperti ini. Kita bisa makan siang di restoran atau di taman. Aku tidak akan mengganggu jam istirahatmu lagi.”

“Jangan bilang kau mau mengaku pada publik tentang hubungan kita. Aku sudah ribuan kali bilang, aku belum siap. Yaaa Cho Kyuhyun!!!”

Aku benar-benar harus menahan keinginanku untuk mencubit Kyuhyun apalagi melihat ekspresi wajahnya yang sangat menyebalkan.

“We’ll be going public through we got married. Menyenangkan bukan? Kita bisa membuat fans menerima hubungan kita dengan chemistry kita dan kencan dengan bebas tentu saja,” katanya dengan santai yang membuatku semakin ingin menjambaknya, mencubitnya atau apapun yang membuat Kyuhyun memohon-mohon padaku. Sayang aku harus menahan keinginan itu.

Aku nyaris pingsan saking syok-nya mendengar ide gila pria di depanku ini. Aku yakin ia pasti sudah lama merencanakannya dan tidak mungkin ia membiarkan aku menggagalkannya. “Terserah kau saja,” ucapku pasrah pada ide luar biasanya itu. Aku tak pernah berpikir otaknya bisa sampai sejauh itu. Ia memang lebih cerdas dariku.

Kyuhyun sepertinya sudah sepenuhnya melupakan film yang ia tonton. Ia hanya menatapku sambil tersenyum. “Santai saja lah. Kita akan bersenang-senang sampai puluhan episode. Chemistry kita tidak diragukan bukan?”

“Terserah,” kataku dalam hati karena Kyuhyun sudah lebih dulu bergerilya menjelajah wajahku dan setelah puas mendorongku pergi.

“Tunggu di mobil,” pesannya sambil menyerahkan kunci mobilnya padaku. Repotnya hubungan tidak go public ya seperti ini. Mau sesepi apapun, tetap harus siaga dengan keadaan sekitar. We Got Married? Haaaaish, Cho Kyuhyun!

Kkeut!