Di sebuah ruangan kecil yang sangat sederhana, ditemani secangkir kopi hangat, sepasang sahabat itu memulai pembicaraan mereka.

“Sudah aku bilang kau tidak cocok dengannya. Aku ikut sedih tapi aku tidak akan mendukungmu untuk kembali padanya.”

“Aku mencintainya. Hanya itu. Apa aku salah?”

“Tidak. Itu pilihanmu. Aku hanya memberitahumu sebelum semuanya terjadi.”

“Dasar nona sok tahu.”

Gadis tinggi semampai yang sedang menyeruput kopinya, menatap sahabatnya dengan tajam. “I’ve told you so many times. Kau itu seperti buku untukku. Kau tak perlu menceritakannya, aku tahu masa lalumu. Meski kau merengek padaku, aku tidak akan membocorkan rahasia masa depanmu. Kecuali sangat penting.”

Pria itu menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Cangkir kopinya masih yang dipegang kokoh oleh tangannya meski belum diminum sedikitpun. “Aku sudah mendengarnya ratusan kali. Aku harus bagaimana?”

“Lupakan wanita itu.”

“Kau tidak memberikan jalan keluar.”

“Terserah. Pilihan ada padamu.”

Beberapa ketukan ringan terdengar di pintu dan tidak lama muncul seorang pria tinggi berisi memakai sweater hitam dan celana jeans yang membuatnya terlihat sangat tampan. “Apa kau masih lama?”

“Sebentar lagi. Tunggu sebentar lagi.”

Mendengar jawaban itu, pria tersebut kembali menutup pintu membiarkan sepasang sahabat itu kembali bicara.

“Apa kau bisa membaca masa depannya?”

Sang gadis mengangguk.

“Lalu?”

“He will be alright. Without me.”

Sahabat gadis itu mengerutkan kening seolah berkata, “Jadi buat apa kau terus bersamanya?”

Gadis itu tersenyum. “Seperti yang kau bilang. Aku hanya mencintainya. Seperti yang aku bilang. Pilihan.”

Gadis itu lalu membuka tangannya lebar-lebar untuk memeluk sahabatnya, berusaha untuk menjadi tempat berbagi yang layak. “Maaf tidak bisa menemanimu lebih lama lagi. Aku harus pergi. Kyuhyun sudah cukup lama menunggu. Besok kita bisa bicara lagi. Atau nanti malam, kau bisa meneleponku.”

“Tidak usah khawatir. Aku baik-baik saja.” Pria itu meletakkan cangkir kopinya di pinggir jendela lalu menyambut pelukan sahabatnya dengan lemah.

“Ha ha ha. Aku tahu siapa kau, Lee Donghae.”

“Okay. Kau tahu siapa aku. Sampai jumpa, Hyejin-ssi. Selamat berkencan. Jangan lupa belajarlah memanggil laki-laki tua seperti aku ‘Oppa’.”

Gadis bernama Hyejin hanya mengulum senyumnya lalu keluar dari ruangan itu, meninggalkan sahabatnya hanya dengan sebuah kamera dan secangkir kopi.

—-

“Astaga Kang Hamun! Apa yang terjadi padamu?!”

“Maaf seosangnim, aku tidak lihat.”

Gadis mungil berambut pendek lurus, dengan buku tebal di pelukan tangannya, berjalan terlalu terburu-buru sampai ia tidak melihat orang-orang yang berjalan di sekitarnya. Ia baru saja menabrak seseorang dan menjatuhkan buku-bukunya. Dengan malas, Hamun mengambil kembali buku-bukunya.

Wanita yang baru saja ditabrak Hamun memperhatikan mahasiswinya dengan seksama dan menangkap kekacauan yang ada pada gadis itu. Tubuh kurus, wajah lesu, rambut yang tergerai tidak rapi dan bajunya yang lusuh. “Kau butuh istirahat, sayang. Kau terlihat sangat kacau. Apa yang terjadi? Patah hati?”

Mahasiswi semester 7 yang sedang sibuk membuat tugas akhirnya hanya menggeleng lemah. “Laki-laki tidak akan membuatku sekacau ini. Semester terakhir. Aku seperti orang gila. Aku tidak kuat.”

Dosen cantik yang merupakan dosen terfavorit di kampus itu tersenyum lebar, memegang bahu gadis di depannya dengan gemas. “Jangan khawatir. Aku, Park MinAh, akan membantumu sampai kau lulus dengan nilai terbaik. Restoran depan kampus setiap jam 7 malam? Tenang saja. Restoran itu milik suamiku. Kita bisa berjam-jam duduk di sana walau hanya pesan air putih.”

Secercah senyum terukir di bibir Hamun. Tugas akhir yang terasa seperti pisau yang sudah di ujung tanduk untuk membunuhnya kini agak menjauh. “Kamsahamnida, seosangnim. Aku pamit dulu. Aku mau mengerjakan tugas.”

“Silahkan.”

Hamun mengangguk memberi hormat sebelum dirinya melanjutkan perjalanan yang terhenti sebentar. Baru saja ia berjalan beberapa langkah, MinAh memanggilnya, “Hamun-ssi!”

“Ya seosangnim?”

“Aku rasa kau butuh laki-laki.”

Hamun tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. “Aku tidak butuh laki-laki.”

“Yes you do. Of course. Selamat mengerjakan tugas!”

MinAh tersenyum lembut sambil melambaikan tangannya kepada Hamun, memaksa gadis itu meninggalkannya lebih dulu.

—-

“Astaga! Tidak bisakah kalian melakukannya di tempat lain?!” Protes MinAh melihat sepasang kekasih yang sedang berciuman di salah satu tempat duduk kesukaannya di restoran suaminya.

Pasangan itu hanya menyengir lebar tanpa perasaan merasa bersalah. “Apa kami boleh menggunakan toiletmu?”

“Aku akan melarangmu datang kalau kau berani menggunakan toilet restoran ini, Cho Kyuhyun!” Tawa riang membahana dari mulut pria bernama Kyuhyun itu.

“Kyuhyun hanya bercanda, MinAh sayang. Ada apa tiba-tiba memanggilku? Apa karena kau begiu merindukanku atau karena kau kesepian karena Eric oppa yang tidak kunjung pulang?”

“Tidak keduanya. Aku butuh bantuanmu.”

“Bantuan apa?”

“Laki-laki. Aku butuh seorang laki-laki.”

Kyuhyun dan Hyejin tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka. MinAh baru saja menikah sebulan dengan seorang pria tampan dan kaya raya, namun sering bepergian, bernama Eric Mun yang tentu saja terkenal di seantero negeri ini dan MinAh berkeinginan mencari pria baru.

“Apa kau masih waras, Park MinAh?”

“Panggil aku noona! Aku masih waras. Aku butuh laki-laki untuk mahasiswiku. Bukan buat aku. Tolong jaga pikiran kalian!”

Kyuhyun tertawa terbahak-bahak sedangkan Hyejin dengan tenang meminum jus alpukatnya. “Buat apa? Bahan penelitian?”

MinAh menggelengkan kepalanya dengan malas. “Aku tidak akan menjelaskan panjang lebar karena aku tahu otak kalian tidak akan mampu mencernanya. Aku hanya butuh laki-laki baik untuk kukenalkan dengan mahasiswiku yang seumur hidup tidak pernah kenal laki-laki. Kalian punya stok?”

Hyejin menggelengkan kepala. Kyuhyun mengangukkan kepala.

“Nugu?”

“Lee Donghae.”

“Lee Donghae? Siapa itu?”

“Fotograferku.”

“Apa dia baik?”

“Sangat baik. Tapi…”

“Tapi kenapa?”
Hyejin menghela nafas panjang, membayangkan wajah sahabatnya yang paling baik hati yang sendu karena patah hati. Sekelabat ia melihat wajah sahabatnya tersenyum cerah. “Tidak jadi. Aku akan mengenalkannya.”

Senyum lebar terbentuk di wajah MinAh. “Jam 7 malam di restoran ini. Setiap hari bisa.”

“Tunggu saja kabarku.”

To be continued…
Let’s pray