Dikelilingi oleh begitu banyak peralatan pemotretan beserta lighting juga dengan pakaian yang membebani tubuhnya, Hyejin masih bisa memfokuskan diri untuk bicara dengan sahabatnya. Dengan tatapan serius.

“Lee Donghae, jawab aku.”

“Humm. Makan malam di restoran MinAh?”

Hyejin mengangukkan kepalanya dan tanpa basa basi mengatakan maksudnya, “Aku mau mengenalkanmu kepada seorang gadis.”

“Astaga Song Hyejin. Aku baru patah hati 12 jam yang lalu dan kau sudah mau mengenalkan aku pada seorang wanita?” Donghae menatap Hyejin dengan sedikit terkejut, melalui lensa kameranya.

“Aku hanya mau membantumu. Apa itu masalah?”

“Tidak. Permasalahannya sekarang adalah kau seharusnya diam untuk menampilkan wajah dinginmu di cover majalah yang harus naik cetak besok pagi bukannya terus membujukku untuk makan malam bersamamu, MinAh dan seorang gadis yang tidak aku kenal.”

“Aku akan diam kalau kau menyetujui ajakanku.” Hyejin begitu keras kepala. Ia tidak mau diam sampai Donghae terpaksa mendekati sahabatnya itu, memaku gadis di hadapannya dengan tatapan mata tajamnya.

“Aku mohon diamlah. Kita sudah setengah jam berada di sini tapi belum ada satu foto pun yang bagus karena kau selalu bicara.”

“Jawab dulu kau mau.”

“Kau kan bisa membacaku. Menurutmu?”

“Kau harus datang.”

“Asal kau bisa diam sampai dua jam ke depan. Aku butuh pose-pose terbaikmu.”

Sambil tersenyum senang, Hyejin menganggukkan kepalanya dan sekejap berubah selayaknya model profesional untuk menampilkan pose-pose terbaiknya.

“Good.”

——

Hyejin menggandeng Donghae dengan mesra keluar dari mobilnya dan mengajak sahabatnya itu masuk ke dalam restoran. “Apa Kyuhyun tidak akan marah melihatmu seperti ini?”

“Tidak. Dia tidak pernah cemburu.”

“Lalu kenapa kalian putus?”

“Kami tidak putus.”

“Di masa depan maksudku.”

“Oh. Hanya karena ambisi. Ya Lee Donghae! Kenapa jadi membicarakan aku?!”

Donghae hanya tertawa kecil meskipun Hyejin baru saja memukul bahunya dengan kekuatan yang cukup menyakitkan.

Donghae tiba-tiba menghentikan langkahnya, mengecek panggilan yang baru saja masuk ke handphone-nya. Ia menatap layarnya dalam diam dan seolah tertelan ke dalamnya.

“Dara?”

Hyejin mengambil handphone sahabatnya lalu mematikannya tanpa meminta persetujuan dari pemiliknya. “Sudah ratusan kali aku bilang, forget her. Please.”

Donghae hanya diam dan mengikuti kemana sahabatnya membawanya. Pikirannya masih tertuju pada gadis yang baru saja mematahkan hatinya 12 jam yang lalu itu.

—–

“Seosangnim, maafkan aku terlambat,” kata seorang gadis dengan penampilan yang tidak lebih baik dari biasanya ia berpenampilan. Rambut yang diikat asal, wajah lesu, baju berantakan dan buku-buku tebal yang dipeluk erat tangannya.

“Gwencana. Aku juga masih ada temanku. Kenalkan, Song Hyejin dan Lee Donghae.”

“Kang Hamun imnida.”

“Mereka berdua temanku dan mereka bukan sepasang kekasih. Ayo, duduk.”

Hamun meletakkan bukunya di atas meja dan kemudian menjatuhkan tubuhnya di sofa. “Aku sepertinya sering melihat eonni,” kata Hamun tertuju pada Hyejin yang menatapnya dengan akrab meski baru pertama kali bertemu.

“Aku hanya sering muncul di sampul-sampul majalah dan Donghae Oppa adalah fotografernya,” ujar Hyejin menunjuk Donghae yang harus menahan cemoohnya akibat mendengar Hyejin yang baru saja memanggilnya ‘Oppa’.

“Aaaah… Aku sering melihat nama Lee Donghae di pameran-pameran foto. Ternyata aku bisa bertemu orangnya. Senang bertemu dengan Anda, Lee Donghae-ssi.”

Lee Donghae menganggukkan kepalanya pelan. “Senang bertemu denganmu, Kang Hamun-ssi.”

MinAh meminta pelayannya mengantarkan makanan dan minuman untuk Hyejin dan Donghae sedangkan ia dan Hamun berpindah ke meja yang tidak jauh dari mereka.

“Hamun-ssi, menurutmu aku bagaimana?”

Hamun mengangkat kepalanya dan menatap dosennya bingung. “Anda bagaimana, seosangnim? Maksudnya?”

“Cantik? Menyebalkan? Atau bagaimana?”

“Humm… Populer dan ramai.”

MinAh tersenyum. “Aku juga tidak suka basa-basi. Kau ingat waktu aku bilang kau butuh seorang laki-laki?”

“Jangan bilang seosangnim…”

“Panggil aku eonni.”

“Baiklah, eonni. Jangan bilang eonni mau menjodohkanku dengan pria bernama Lee Donghae tadi?”

MinAh menggelengkan kepalanya sambil tersenyum anggun. “Aku hanya ingin mengenalkannya kepadamu, selanjutnya terserah padamu. Bagaimana pria itu menurutmu?”

“Tampan.”

“Hanya itu?”

“Aku baru kenal dia beberapa menit yang lalu, kesan apa yang bisa aku dapatkan?”

“Kau bilang kau sering melihat namanya di pameran foto. Bagaimana foto-fotonya menurutmu?”

“Indah. Ia lebih banyak memotret benda-benda mati namun ia bisa membuatnya terlihat hidup. Bagus sekali. Eonni sudah pernah melihatnya?”

“Aku sudah sampai bosan.”

“Aku tidak pernah bosan.”

“Good. Jadi, apa yang bisa aku bantu dengan semester terakhirmu yang melelahkan ini? Kau tampak sangat sangat mengerikan sekarang.”

“Aku hanya ingin lulus. Itu saja.”

“Ok. Deal.”

“Deal?”

“Well, tidak ada yang free di dunia ini.”

“Aku tidak punya uang untuk membayar eonni.”

“Suamiku sudah cukup kaya. Aku tidak butuh uang. Mulai hari ini, setiap jam 7 malam aku akan membantumu menyelesaikan tugas-tugas akhirmu tapi kau harus mulai memikirkan dirimu sendiri.”

Hamun mengernyitkan keningnya saking tidak mengerti.

“Laki-laki dan dandan, sayang. Ayo kita belajar sekarang. Mau wine?”

Hamun menggelengkan kepalanya dengan frustasi. “Aku hanya ingin lulus, eonni. Laki-laki dan dandan hanya akan menganggu fokusku.”

“Tidak akan. Tenang saja. Aku bisa jamin itu.”

“Menjamin fokusku tidak akan terganggu?”

“Menjamin kelulusanmu. Mana yang kau tidak mengerti?”

Hamun tidak ingin membuang-buang waktunya. Dengan segera ia menyodorkan berbagai hal yang tidak ia mengerti sebelum dosen gaulnya itu mengajaknya kembali mengobrol kesana kemari.

—-

Donghae berusaha meminta kembali handphone-nya yang masih berada di tas Hyejin dan dengan senang hati gadis itu menahan handphone sahabatnya. “Tidak ada telepon untukmu, Lee Donghae.”

Donghae menaikkan alisnya seolah berkata, “Yang benar?”

“Ya Tuhan! Aku tidak bohong padamu.”

Donghae tidak menjawab. Ia tetap menjulurkan tangannya, memaksa Hyejin mengembalikan handphonenya.

“Aku tidak akan mengembalikannya jika kau hanya ingin melihat apa Sandara Park meninggalkan pesan untukmu. Untuk keseratus kalinya, Lee Donghae, lupakan dia.”

“Aku harus menelepon asistenku. Kau mau fotomu tidak jadi naik cetak besok?”

Dengan terpaksa Hyejin mengembalikan handphone Donghae dan mengancam, “Jangan coba-coba menghubunginya.”

“Iya, aku tahu, nona maha tahu.”

“Terima kasih.”

Donghae mengambil handphone-nya kembali dan benar-benar menghubungi asistennya untuk memberikan foto Hyejin kepada manajer percetakan majalah VH.

“Bagaimana kesanmu terhadap Hamun?” Tanya Hyejin sambil menyantap spaghetti saus barbeque-nya dengan lahap meskipun ia seorang wanita dan sedang berada di sebuah restoran bersuasana romantis.

“Mahasiswi yang sedang stress dengan kuliahnya.”

“Cih! Kau juga dulu tidak jauh berbeda. Cantik tidak menurutmu?”

“Setidaknya lebih cantik darimu dan MinAh.”

“Yaa!!!”

“Kalian berdua sudah terlalu ahli berdandan. Aku yakin kalau wajah asli kalian saat tidak berdandan…”

“Sialan kau, Lee Donghae,” potong Hyejin kesal. “Jadi?”

“Menurutmu?”

Hyejin menghela nafasnya panjang sembari menahan kekesalannya pada Donghae. “Apa kau harus selalu bertanya padaku tentang kehidupanmu? Aku hanya bertugas untuk menunjukkan. Pilihan tetap ada di tanganmu.”

“Kalau aku memilih tidak mau bagaimana?”

“Kau mungkin akan mengalami kerugian atau penyesalan. Jangan tanya aku seberapa besar. Aku tidak tahu.”

Donghae tertawa ringan lalu memakan kimbap tuna-nya yang terasa hanya menggelitik perut kelaparannya. “Kau sedikit mengerikan. Kau tahu?”

“Berisik. Aku hanya bermaksud baik padamu.”

“Ya sudah kalau begitu. Kau hanya menunjukkan. Pilihan tetap ada padaku.”

“Pilihan tetap ada padamu. Tenang saja.”

“Kalau Kyuhyun masih waras, seharusnya ia tidak meninggalkanmu.”

“Semua kembali ke pilihan.”

“Apa kau tidak sedih setiap ingat bahwa kalian akan berpisah?”

“Aku bahkan tidak berani membayangkannya. Jalani saja. Time will heal your pain.”

“Time will heal your pain. Berapa lama?”

“Sakit hatimu atau sakit hatiku?”

“Kau.”

“Donghae Oppa sayang, bisa kita makan dengan tenang malam ini?”

“Silahkan.”

Donghae kembali menyuapkan kimbap tuna keduanya ke dalam mulut sambil melihat kaku handphone-nya yang baru saja bergetar menandakan sebuah pesan yang masuk.

From : My Dara

“Time will heal your pain so fast. Relax.”

To be continued.
Let’s pray.