“Seosangnim… Kita mau kemana?” Hamun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika MinAh menarik tangannya tanpa basa-basi begitu ia keluar kelas.

MinAh hanya menyeringai geli melihat ekspresi mahasiswinya yang menurutnya sangat lucu. “Sedikit bersenang-senang. Wanita harus memperhatikan dirinya sendiri. Apa kau sudah lupa?”

Hamun menggelengkan kepalanya. “Laki-laki dan dandan. Aku ingat, seosangnim.”

“Eonni kalau kau tidak keberatan.”

“Eonni.”

“Temani aku ke salon. Aku mau creambath dan pijit. Kau mau apa?”

“Belajar.”

MinAh mendelik gemas kepada Hamun dan dengan gemas mengacak-acak rambut Hamun. “Ini malam minggu. Seharusnya kau pacaran bukan terus-terusan belajar.”

“Eonni sendiri kenapa tidak malam mingguan dengan suami eonni? Kenapa malah mengajakku?”

“Uuuh… Eric Oppa itu seorang pelaut. Dia pergi berlayar 3 bulan sekali. Paling lama sebulan di rumah, dia sudah harus kembali berlayar. Sampai 2,5 bulan ke depan tampaknya kau akan menjadi my second opinion.”

“Second opinion?”

“Kalau Hyejin sedang tidak sibuk, she’ll be the first.”

“Kenapa tidak mengajak Hyejin eonni saja?”

“Aku juga mengajaknya tapi dia sedang mengantar kekasihnya ke bandara, jadi kita akan bertemu dengannya nanti di salon.”

Salon. Hamun sedikit tersenyum membayangkan pijitan di kepala dan seluruh tubuhnya yang rasanya bisa menghilangkan seluruh kepenatan pikirannya. “Tapi salonnya jangan yang mahal-mahal ya, eonni. Ini akhir bulan, uang sakuku sudah menipis.”

“Kau tahu untungnya berteman dengan model? Kau bisa menikmati salon-salon terbaik dengan harga diskon.”

Hamun tertawa geli melihat betapa antusiasnya MinAh dengan salon dan harga diskon. Dosennya ini memang wanita sejati.

“By the way, apa Donghae sudah menghubungimu?”

Kening Hamun terpaksa berkerut begitu mendengar nama laki-laki itu. “Kami bahkan belum bertukar nomor telepon.”

“Oh astaga!!! Kemana otakmu Park MinAh?!” Omel MinAh kepada dirinya sendiri yang mengira Donghae dan Hamun sudah bertukaran nomor telepon padahal untuk mengobrol pun baru beberapa kalimat. “Kalian harus bertukar nomor telepon nanti.”

“Nanti? Donghae Oppa ikut ke salon?”

MinAh cepat-cepat menggelengkan kepalanya. “Tentu saja tidak tapi ia akan ikut nonton dan makan malam bersama kita. Kau, aku, Hyejin dan Donghae seperti biasa.”

“Seperti biasa tentu saja. Apa Hyejin eonni dan Donghae Oppa selalu bersama?”

MinAh menatap Hamun dengan tatapan usil dan senyum yang menggoda. “Kau penasaran. Iya kan?”

“Tidak. Tapi melihat mereka berdua yang selalu bersama, aku pikir….”

“Mereka tidak seperti yang kau atau orang lain pikirkan. Walaupun mereka sering bersama, hubungan mereka tidak lebih dari sahabat. Aku berani jamin itu.”

“Ha ha ha ha. Kenapa eonni seperti sedang meyakinkan aku?”

“Lalu apa aku harus mengatakan bahwa mereka sebenarnya mencintai satu sama lain tapi tidak berani mengatakannya karena takut mengganggu persahabatan mereka? Kau kebanyakan nonton drama ya? Ini kunci mobilku.”

Hamun memanyunkan bibirnya, menatap kunci mobil yang tergantung di tangannya. “Eonni, aku tidak bisa menyetir mobil.”

“Haisssh!!!”

—-

“Hai tampan, kau dimana?”

Mendengar suara sahabatnya yang dibuat-buat imut membuat Donghae tidak tahan untuk tidak tertawa terbahak-bahak dan menggoda gadis itu. “Kau kan bisa membacaku, seharusnya kau tahu dimana aku berada.”

“Lee Donghae, jangan sampai aku mencukur habis alismu begitu kita bertemu. Di mana kau?”

“Studio. Mau dimana lagi?”

“Jam 7 temui aku di salon tapi kau harus naik taksi karena nanti kau harus membawa mobil MinAh. Kita akan nonton dan makan malam bersama. Terdengar menyenangkan bukan?”

“Terdengarnya saja. Kau, aku dan MinAh. Ya Tuhan, apa dosaku sampai selalu terjebak dengan kalian?”

“Yaa Lee Donghae!!!”

Donghae hanya tertawa keras mendengar protes Hyejin. “Kyuhyun sudah pergi?”

“Mimpi terburukku telah tiba.”

“Semua berawal dari sini?”

“Kurang lebih begitu. Aku tidak patah hati. Aku baik-baik saja. Jangan khawatir.”

Donghae terdiam, mendengarkan suara sahabatnya dengan seksama yang semakin lama semakin lemah dan menunjukkan kesedihannya. “Kita senasib sekarang.”

“Aku pikir kau tidak akan mengingatkanku.”

“Berisik. Jam 7 di salon. Jangan bawa mobil. Sampai jumpa.”

“Sampai jumpa.”

Donghae mau mematikan handphone-nya ketika ia mendengar pekikan Hyejin yang sangat keras. “Ada apa lagi?”

“Jangan lupa dandan yang tampan. MinAh mengajak Hamun.”

“Ini tahun berapa sih? Kau masih berumur 26 tahun kan?”

“Iya. Memangnya kenapa?”

“Kau terdengar seperti ibuku.”

“Yaaa Lee Donghae!”

“Aku akan menemui kalian di salon jam 7. Jangan lupa sms padaku dimana alamatnya. Sekarang aku mau kembali bekerja. Aku sedang sibuk. Annyeong!”

Donghae menutup teleponnya sebelum Hyejin kembali berteriak dan memperpanjang percakapan mereka yang tidak akan pernah habis.

—–

Hyejin ternyata tiba lebih dulu dibandingkan MinAh dan Hamun yang katanya sedang terjebak macet. Ia tidak berniat menunggu sahabatnya untuk sama-sama melakukan perawatan. “Creambath. Menicure. Pedicure. Lulur dan Pijat.”

Mengingat Hyejin adalah salah satu model yang mengangkat nama salon ini sehingga tidak butuh waktu untuk mendapatkan pelayanan terbaik.

“Kau curang sudah mulai duluan.”

“Hai Min, Hamun. Apa kabar?”

MinAh dan Hamun duduk di sebelah Hyejin secara berurutan. Mereka bersiap untuk mendapatkan perawatan yang sama dengan yang sedang dinikmati Hyejin.

“Eric Oppa belum pulang?”

“Masih 2,5 bulan lagi. Sabar. Aku masih akan mengganggumu.”

“Aku punya banyak waktu luang. Feel free to call me.”

“Heoh?” MinAh menatap Hyejin dengan heran. Tidak biasanya sahabatnya itu punya banyak waktu luang karena jadwal pemotretan dan fashion show-nya yang padat. Kalaupun ia sedang senggang, Kyuhyun yang akan langsung mengisi waktu tersebut. “Kyuhyun?”

“In America. For no-one-knows-how-long.” Sebuah senyuman pahit terukir jelas di wajah Hyejin.

“Kau tidak belajar, Hamun-ah?” Tanya Hyejin mengalihkan topik pembicaraan. “Ah, aku tahu. MinAh pasti memaksamu untuk ikut kan? Kita akan bersenang-senang sampai malam. Lupakan belajarmu sebentar.”

“Ne, eonni.” Hamun sudah melupakan rencana belajarnya sejak menghirup aroma sampo dari kepalanya.

—-

Ketiga wanita itu begitu menikmati perawatan yang sedang diberikan kepada tubuh mereka sampai mereka tidak sadar bahwa mereka sudah menghabiskan waktu lebih dari 5 jam di salon dan lewat dari waktu yang dijanjikan.

“Tampaknya kalian melupakanku,” ujar Donghae yang sudah duduk setengah jam di dalam salon menunggu tiga orang wanita yang baru selesai melakukan semua perawatan. “Kalian telat setengah jam jadi kalian yang traktir aku nonton dan makan malam ini.”

“Memangnya kau mau makan apa sih, Lee Donghae? Aku bisa membelikan satu restoran untukmu,” ujar MinAh dengan sombong yang memang pada kenyataannya seperti itu. “Ini kunci mobilku. Kau yang bawa mobil.”

MinAh berjalan lebih dulu diikuti Hamun dan kemudian Hyejin yang tertinggal beberapa langkah karena Donghae.

“Gwencana?”

“Gwencana. Kalau ada apa-apa aku pasti akan memberitahumu.”

Hyejin menyusul MinAh dan Hamun, bahkan mendahului mereka masuk ke dalam mobil.

“Hamun duduk di depan,” kata Hyejin sambil tersenyum usil diikuti oleh MinAh dengan gaya yang sama persis

Hamun tidak punya kuasa untuk melawan. Ia pun duduk di depan, di samping pengemudi, Donghae.

“Hai Hamun. Kau tampak jauh lebih segar dengan tampilan seperti ini,” puji Donghae dengan tulus melihat Hamun dengan rambut yang tergerai rapi dan wajahnya yang berseri-seri.

“Gomawo, Oppa. Kau juga terlihat lebih tampan hari ini.”

Donghae melirik pakaiannya dari atas sampai bawah lalu bercermin pada salah satu kaca di salon. “Kau mungkin akan merasakannya beberapa hari lagi. Efek berteman dengan wanita-wanita macam mereka.”

Hamun tertawa kecil. Tatanan rambutnya membuat wajahnya terlihat lebih menyenangkan untuk dilihat.

“Tapi bukan berarti kau harus mengikuti jejak dua wanita di belakang ini. Lebih baik tidak ketergantungan dengan salon.”

“YAA LEE DONGHAE!!”

“Ne, Oppa. Ha ha ha ha.”

—-

Seperti wanita pada umumnya yang sangat mencintai pusat perbelanjaan, Hyejin dan MinAh menjadi yang lebih dulu keluar dari mobil dan masuk ke dalam mall. Mereka meninggalkan Hamun dan Donghae yang berjalan santai di belakang mereka.

“Oppa apa punya teman selain Hyejin dan MinAh eonni?”

“Punya tapi tidak ada yang berani melawan kalau mereka berdua sudah mengisi jadwalku. Ha ha ha ha. Aku dengar kau senang belajar.”

“Tidak juga. Hanya karena tuntutan. Aku lebih suka jalan-jalan sebenarnya.”

“Aku juga suka jalan-jalan.”

“Aku pikir Oppa suka fotografi.”

“Fotografi itu bukan kesukaan tapi sudah jadi belahan jiwaku. Selain jalan-jalan apa kesukaanmu?”

“Makan.”

“Tapi kau tampak seperti jarang makan.”

“Karena aku terlalu sibuk dengan kuliahku dan uang sakuku yang tidak seberapa. Hi hi hi hi. Aku juga suka fotografi tapi ya masih kelas amatiran yang paling amatir.”

“Oh ya? Kau lebih suka difoto atau memfoto?”

“Memfoto tapi aku tidak pernah menolak untuk difoto. Oppa sendiri?”

“Tentu saja memfoto. Kalau difoto jauh lebih baik Hyejin. Kau suka memfoto apa?”

“Kehidupan sosial. Mungkin karena itu juga aku mengambil jurusan psikologi.”

“Kalau aku lebih suka memfoto benda-benda.”

“Aku tahu. Aku sering melihat karya Oppa di pameran. Gedung bersejarah, gedung pencakar langit, mobil, lampu lalu lintas bahkan batu kerikil. Aku suka.”

“Terima kasih banyak.”

“Tapi kenapa Oppa memfoto Hyejin eonni dan lain sebagainya?”

“Semata-mata karena aku butuh uang. Jadi fotografer majalah atau fashion itu pekerjaanku. Aku juga menyenanginya kok.”

“Enak ya… Hobi mendatangkan uang.”

“Ngomong-ngomong mana dua wanita itu?”

Hamun dan Donghae berputar mencari Hyejin dan MinAh yang entah berada di mana namun tidak menemukan satupun dari mereka meski hanya ujung hak sepatu tinggi mereka.

“Tampaknya kita kehilangan jejak.”

Donghae mengambil handphone-nya untuk menelepon Hyejin.

“Aku sedang berbelanja dengan MinAh. Kau, nikmati waktu dengan Hamun. Hi hi hi hi. Jangan lupa bertukar nomor telepon. Aku akan mengeceknya nanti. Bye.”

Donghae bahkan belum bicara satu kata pun tapi Hyejin menutup teleponnya begitu saja.

“Hamun, kau suka belanja?”

Hamun menggelengkan kepalanya. “Tidak terlalu. Aku tidak punya banyak uang.”

“Kalau begitu, lebih baik kita makan saja. Kau suka makan kan? Dua wanita itu lebih suka belanja. Kajja.”

Donghae mempersilahkan Hamun masuk lebih dulu ke dalam restoran cepat saji yang sangat ramai. “Oh astaga. Kau suka makanan cepat saji?”

“Anak kuliah seperti aku suka makan apa saja, Oppa.”

“Syukurlah. Maaf kalau kau mati kebosanan denganku nanti. Tapi kurasa lebih membosankan jika harus menemani dua wanita itu belanja.”

“Aku setuju.”

—-

To be continued.
Let’s pray