Untuk kesekian kalinya dalam setengah hari, Hyejin bertanya satu hal yang sama kepada sahabatnya. Tidak peduli sahabatnya sedang sibuk, Hyejin tetap bertanya. “Jadi kau sudah mendapatkan nomor telepon Hamun?”

“Rahasia.”

“Yaa Lee Donghae! Beritahu aku!!!”

Hyejin mengikuti kemanapun Donghae pergi. Ke ruang pemotretan, lobby, basement, bahkan ke toilet, Hyejin berada tidak lebih dari 3 meter dari Donghae.

“Yaa Song Hyejin. Aku harus bekerja.”

“Silahkan. Aku akan pergi kalau kau sudah memberi tahu aku, kau sudah bertukar nomor telepon dengan Hamun atau belum?”

Donghae menghela nafas panjang sambil menatap kesal sahabatnya. “Kalau saja kau bukan sahabatku,” gerutu Donghae sambil mengeluarkan handphone dari saku belakang celananya. “Cek sendiri. Aku mau kerja.”

Dengan senang hati dan penuh keramahan, Hyejin tersenyum. Tangannya menggenggam erat handphone Donghae. “Terima kasih, Oppa-ku yang tampan. Selamat bekerja.”

Donghae kembali ke ruang pemotretan sedangkan Hyejin duduk tenang di kursi kerja Donghae sambil membongkar isi handphone Donghae.

“Mari kita lihat apa si ikan sudah mendapatkan nomor Hamun. Wow!”

Hyejin menggelengkan kepala saking takjubnya melihat isi pesan-pesan Kakao Talk antara sahabatnya dan Hamun.

Lee Donghae
Hi. Sudah tidur?

Kang Hamun
Masih belajar, Oppa.
T_T
Oppa belum tidur?

Lee Donghae
Aku masih ada kerjaan sedikit yang harus kuselesaikan

Kang Hamun
Oppa, hwaiting!!

Lee Donghae
Jeongmal kamsahamnida, Hamun-ssi.
Oh ya, terima kasih juga karena kau tidak pingsan berjam-jam mendengar ceritaku.

Kang Hamun
Sama-sama, Oppa.
Terima kasih juga tidak membiarkanku terjebak muter-muter di mall hanya untuk sepasang sepatu.

Lee Donghae
Ha ha ha ha
Jangan sampai Hyejin mendengarmu bicara seperti itu

Kang Hamun
Tolong, jangan bilang pada Hyejin eonni ya, Oppa.

Lee Donghae
I won’t. You can trust me.

Lee Donghae
Hamun-ssi, maaf sudah mengganggu belajarmu.

Kang Hamun
Gwencana, Oppa.
Aku hanya mengulang saja kok.
Ha ha ha ha

Lee Donghae
Tetap saja kau jadi tidak fokus.
Selamat belajar kembali ya…

Kang Hamun
Jeongmal kamsahamnida, Oppa.
See you.

Lee Donghae
See you soon.
Take care. Your health is number one.

“Puas?”

Hyejin tersenyum lebar memandang sahabatnya yang baru saja selesai meeting untuk pameran minggu depan. Donghae yang sudah tahu keinginan sahabatnya yang sangat tinggi dalam mengurusi urusan orang lain hanya duduk pasrah sambil melihat foto-foto di kameranya.

“Puas. Aku senang sekali. Kyaaa!!! Lee Donghae, aku menyayangimu!!!”

Hyejin berpindah dari kursi kerja Donghae ke sofa tamu yang diduduki Donghae. “I really really love you, Lee Donghae-ssi. Akhirnya kau mendengarkan kata-kataku,” kata Hyejin sambil memeluk Donghae dengan erat.

“Sejak kapan aku tidak mendengarkan kata-katamu?”

Hyejin memasang wajah menyesalnya dan buru-buru meralat perkataannya, “Baru sekali sih. Mian. He he he he.”

Donghae memandang Hyejin dengan menyipitkan matanya yang sudah sipit sambil menggelengkan kepalanya. “Kau memang selalu seperti itu padaku. Selalu aku yang disalahkan.”

“Iya. Iya. Maafkan aku. Ya?”

“Tidak minta maaf juga nanti malam kau pasti sudah menarikku untuk menemanimu makan kan?”

Hyejin menyeringai lebar memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi. “Kau memang paling mengerti aku. Tidak sia-sia aku berteman denganmu.”

“Apa Kyuhyun sudah menghubungimu?”

Hyejin menggelengkan kepalanya. “Aku sudah mengirimkan 5 pesan tapi belum ada yang dibalas. Mungkin dia sedang sibuk.”

“Kau sabar sekali. Kalau Dara, dia akan meneleponku terus sampai aku mengangkatnya.”

“Cih. Dia pasti tidak punya kerjaan sampai punya waktu untuk terus meneleponmu. Astaga, Lee Donghae. Untung kau putus dengannya. ”

Hyejin mengucapkannya dengan cukup sinis sehingga Donghae terpaksa menyentil pelan mulut Hyejin. “Kau itu harus belajar bertutur kata, Song Hyejin. Kau akan lebih cantik.”

“Terima kasih atas nasihatnya, Lee Donghae-ssi. Tapi aku muak kau masih terus menyebut namanya. Sudah aku bilang berkali-kali…”

“Lupakan dia. Iya, aku tahu. Aku juga sedang berusaha. Masalahnya, tidak semudah itu. Kau mengerti kan?”

Hyejin menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mengerti. Apa susahnya sih melupakan wanita yang muncul kalau ada butuhnya saja denganmu?”

“Meskipun Dara sejelek itu di matamu, aku tetap mencintainya. Kau akan mengerti. Suatu saat, kau pasti mengerti susahnya melupakan orang yang kau cintai.”

“Lee Donghae, kau menyebalkan!!”

Pikiran Hyejin sekarang tertuju kepada Kyuhyun yang sedang jauh di Amerika, tanpa tahu apa yang sedang pria itu lakukan. Sosok pria itu seketika menghantui pikirannya dan tanpa bisa ia kendalikan, air matanya terjatuh.

“Sialan kau, Lee Donghae.”

Donghae menatap Hyejin dengan penuh penyesalan. Buru-buru ia memeluk sahabatnya dan menyembunyikan wajahnya di balik kepala Hyejin. “Aku mohon, jangan menangis. Ya? Maafkan aku.”

Sudah pembawaan dari lahir bahwa Donghae akan menangis jika ada orang yang menangis di dekatnya. “Jangan ikut-ikutan menangis, bodoh. Dasar cengeng.”

—-

Hamun sudah membuka lebar-lebar bukunya di atas meja dengan laptop yang bertengger kokoh tepat di depan matanya.

“Nyonya Mun masih di jalan. Ia akan sampai beberapa menit lagi. Silahkan menunggu. Mau pesan apa?” kata salah satu pelayan kepada Hamun.

“Coklat panas satu cangkir. Terima kasih.”

“Terima kasih, nona. Ditunggu sebentar ya.”

Pelayan itu kembali ke dapur sedangkan Hamun kembali konsentrasi kepada skripsinya yang baru memasuki bab isi dan pembahasan. “Ya Tuhan, kapan tulisan ini akan selesai kalau aku harus bolak-balik revisi?”

“Hamun sayaaaang… Maaf sudah membuatmu menunggu. Sudah lama?”

“Baru 5 menit.”

“Dan kau sudah menyalakan laptop dan menebarkan buku-bukumu. Luar biasa. Kau memang mahasiswi sejati,” kata MinAh melihat Hamun yang tampaknya sudah siap berperang dengan tugas akhirnya itu.

“Demi kelulusan yang lebih cepat.”

Hamun melemparkan senyuman mirisnya yang membuat MinAh menghela nafas panjang. “Aku akan membantumu. Sini.”

MinAh duduk di hadapan Hamun dan memutar laptop Hamun agar menghadap kepadanya. “Siapa sih dosen pembimbingmu? Titik dua saja dikoreksi,” omel MinAh melihat draft skripsi Hamun yang penuh komentar dari dosen pembimbing gadis itu.

“Dosen Oh Chanyeol.”

“Bocah itu. Pantas. Aku tahu dia jenius tapi sok perfeksionisnya itu bikin aku muak.”

MinAh membaca skripsi Hamun dari awal dan kemudian memainkan jari-jarinya di atas keyboard dan mouse. “Astaga Kang Hamun. Bagaimana bisa kau tahan dengan si Oh? Kalau aku jadi kau, aku pasti minta ganti dosen.”

Hamun hanya tertawa sambil meraih buku tebal di sebelah kanannya untuk dia ringkas ke dalam catatannya. “Bahkan besok aku harus kuis 2 bab langsung. 70 halaman. Entah bagaimana aku mempelajarinya.”

“Belajar saja untuk kuis besok. Skripsi-mu ini serahkan saja padaku.”

“Tapi eonni, aku tidak mau skripsiku dibuatkan orang lain.”

“Aku hanya membantumu merevisinya. Anggap saja sebagai permintaan maaf karena menyita waktu belajarmu kemarin. Sekarang belajarlah. Kalau ada yang tidak kau mengerti, tanyakan padaku.”

Hamun membuka halaman 1 dari bahan kuisnya dan handphone-nya tiba-tiba bergetar.

Lee Donghae
Hi, mahasiswi. Apa kabar?

Kang Hamun
Buruk
T_T

Lee Donghae
Waae?

Kang Hamun
Revisi skripsiku banyak sekali, Oppa.
Bahkan besok aku ada kuis.
Aku harus begadang.

Lee Donghae
Kasihan.
Aku bahkan sudah tidur-tiduran di rumah

Kang Hamun
Enaknya, Oppa… Aku iri…

Lee Donghae
Ha ha ha ha
Makanya cepat lulus.

Kang Hamun
Ini aku juga sedang berusaha cepat lulus. Doakan aku ya, Oppa.

Lee Donghae
Aku doakan pasti. Hwaiting!

Kang Hamun
Terima kasih banyak, Oppa.

Kang Hamun
Aaah… Aku lapar.

Lee Donghae
Aku punya banyak makanan.
Mau kubagi?

Kang Hamun
Makanan apa?

Lee Donghae
Kue-kue kecil dan keripik
Entah apa saja ini yang dibelikan Hyejin

Kang Hamun
Hyejin eonni sering membelikanmu makanan ya, Oppa?

Lee Donghae
Tidak. Dia hanya suka membelinya. Aku dan teman-teman di kantor yang menjadi korban untuk menghabiskannya.

Kang Hamun
Kalau aku punya teman seperti itu, aku pasti sudah gemuk sekarang

Lee Donghae
Ha ha ha ha.
Kalau yang dikirim makanan bergizi sih pasti gemuk.
Masalahnya yang dikirim Hyejin makanan beracun semua

Kang Hamun
Ha ha ha ha ha

“Hamun. Kang Hamun.”

Hamun mengangkat kepalanya dan bertatapan langsung dengan MinAh yang sudah mengerutkan keningnya karena heran melihat mahasiswinya yang sedang senyum-senyum sendiri dengan handphone-nya.

“Apa ada seseorang yang menganggumu?”

Hamun menggelengkan kepalanya dengan malu-malu.

“Lalu? Apa yang bisa mengalihkan fokusmu dari kuis 2 bab besok?”

“Tidak ada,” tipu Hamun kepada MinAh lalu buru-buru kembali membaca bukunya dengan satu tangannya yang bergerak lincah mengetik di bawah meja.

Kang Hamun
Oppa, mian. Aku harus belajar.
70 halaman menungguku.

Lee Donghae
Selamat belajar, Kang Hamun!
Semoga besok sukses.
Hwaiting!

Lee Donghae
Oh ya, kapan-kapan boleh aku mengajakmu jalan? Kalau kau ada waktu.

Hamun mengintip balasan pesan Donghae dan berusaha mati-matian menahan pekikannya karena MinAh tidak melepaskan matanya untuk mengawasi Hamun.

To be continued
Let’s pray