Setelah menyelesaikan urusannya di kampus, Hamun pergi menemui pria yang sudah menunggunya di tempat parkir dengan sebuah mobil sedan putih yang siap membawanya kemana-mana. “Hai.” Pria pemilik mobil itu menyapa Hamun.

“Hai.” Hamun membalasnya dengan ramah.

“Hari yang melelahkan?”

Hamun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Tidak terlalu. Hari ini aku ke kampus hanya untuk menyerahkan revisi skripsi ke dosenku.”

“Dan hasilnya?”

“Aku sudah boleh masuk ke bab terakhir. Yeayy!”

“Yeaay! Aku ikut senang mendengarnya.”

“Terima kasih, Oppa.”

Donghae menatap gadis yang sedang duduk di jok penumpang di sebelahnya, dengan tangan siap pada kemudi. “Jadi, kau mau makan di mana siang ini? Sesuai janji, aku akan mentraktirmu.”

“Dimana saja. Aku pemakan segala kok, Oppa.”

“Okay. Sup reptil kalau begitu.”

“Mwo?!!”

Donghae tertawa melihat ekspresi terkejut Hamun. “Hanya bercanda. Bimbimbap saja bagaimana? Kau suka kan?”

“Sama sekali tidak keberatan.”

“Call. Kajja!”

Donghae pun segera menyalakan mesin mobilnya dan membawa Hamun menuju restoran yang paling enak menurutnya.

“Aku akan membawamu ke restoran dengan bimbimbap terenak. Kau pasti ketagihan.”

“Oh ya?”

Donghae mengangukkan kepalanya. “Waktu aku pertama kali mengajak Hyejin ke sana, sampai seminggu berturut-turut selanjutnya dia makan di tempat itu.”

“Oppa…”

“Ne?”

“Sudah berapa lama bersahabat dengan Hyejin eonni?”

“Entah sudah berapa lama. Aku tidak pernah menghitungnya. Yang pasti sejak kami kuliah.”

“Pasti menyenangkan. Seumur hidup aku belum pernah memiliki teman yang dekatnya seperti Oppa dan Hyejin eonni.”

“Oh ya?”

“Iya. Aku punya banyak teman tapi teman untuk belajar kelompok. Ha ha ha ha.”

“Menurutku, itu jauh lebih bagus. Kalau kau tahu betapa sadisnya Hyejin padaku, kau pasti juga memilih untuk tidak berteman dengannya.”

“Memangnya kenapa?”

“Coba kau bayangkan, kau punya sahabat lalu kalian pergi ke pusat perbelanjaan. Tanpa sengaja, sahabatmu melihat sepasang sepatu dan ingin sekali membelinya tapi dia tidak punya uang. Apa yang akan kau lakukan?”

“Meminjamkannya uang?”

“Kalau harganya 1 juta won lebih?”

Hamun mengerutkan keningnya. “Aku tidak punya uang sebanyak itu, Oppa. Aku masih kuliah.”

“Jadi teman belajar kelompok lebih baik kan?”

“Tidak juga. Teman-temanku itu ya Oppa, tiap hari kerjanya hanya belajar. Ke kafe, belajar. Ke mall, belajar. Ke toilet, belajar. Mungkin waktu tidur, mereka juga belajar. Mengerikan kan? Hii..”

Hamun bergidik membuat Donghae tertawa. “Kalau seperti itu sih mengerikan. Sabar ya… Ha ha ha ha.”

“Makanya aku bilang, memiliki sahabat seperti Oppa dan Hyejin eonni pasti menyenangkan.”

“Kalau dibandingkan denganmu sih, tampaknya begitu.”

“Paling tidak ada yang memperhatikan kita kalau kita capek atau lapar. Iya kan, Oppa?”

“Err… Aku dan Hyejin sih tidak seperti itu. Kalau aku capek tapi Hyejin masih ada perlu, dia pasti akan menggangguku. Dia juga tidak pernah bertanya aku lapar atau tidak.”

“Loh, bukannya Hyejin eonni sering membelikan Oppa makanan?”

Donghae tertawa sambil menggelengkan kepalanya. “Aku rasa kau salah paham. Hyejin itu lapar mata. Ia suka belanja tapi tidak bisa menghabiskannya. Dia beli 10 kantong keripik hanya karena ia ingin. 1 kantong ia makan, 9 lagi ia tinggalkan begitu saja di kantorku atau dia bagi-bagi pokoknya tidak di depan matanya. Seperti itu.”

“Luar biasa.”

“Hyejin dan MinAh tidak jauh berbeda. Hanya laki-laki beriman yang bisa menaklukan mereka.”

“Ha ha ha ha. Melihat MinAh eonni selama ini, harus aku akui, aku setuju. Tapi jangan bilang-bilang MinAh eonni. Kelulusanku masih agak tergantung padanya.”

Donghae menarik tangan di depan mulutnya memberikan tanda seolah ia mengunci mulutnya. “You can trust me.”

“I trust you, Oppa. Ngomong-ngomong, di mana restorannya?”

“Aku agak-agak lupa tempatnya. Ini aku sedang mencarinya.”

“Oh.”

“Ngomong-ngomong Hamun, kau sudah punya pacar?”

Hamun menggelengkan kepalanya. “Berteman saja isinya tukang belajar semua. Kalau punya pacar, aku ajak ia belajar, aku takut lama-lama dia jadi gila. Ha ha ha ha.”

“Tidak juga. Siapa tahu malah memberikan warna baru dalam hidupmu?”

“Bisa jadi tapi aku tidak berani menjamin juga.”

“Kau belum mencoba saja.”

“Masalahnya aku tidak punya teman laki-laki, Oppa.”

“Lalu aku apa? Makhluk halus?”

Hamun tidak bisa untuk tidak tertawa melihat ekspresi polos Donghae apalagi dengan wajah tampannya yang seperti anak kecil itu.

“Temanku tentu saja. Well, aku tidak tahu maksud Hyejin dan MinAh eonnideul mengenalkan kita tapi aku senang bisa berkenalan dengan Oppa.”

“Nado. Senang berkenalan denganmu, Hamun-ah.”

—-

“Hye, ngapain sih temanmu itu hanya bolak balik saja? Kau yakin dia akan mengajak makan Hamun di tempat ini kan?”

“Ini satu-satunya restoran kesukaan Donghae dan dia bilang dia akan mengajak Hamun ke sini. Dia tidak mungkin bohong padaku.”

“Lalu kenapa dia hanya lewat saja dari tadi? Kenapa tidak segera parkir ke sini?”

“Aku tidak tahu.”

“Bukankah kau bisa membacanya?”

“Ya tapi tidak sedetil itu, Min. Please…”

Hyejin dan MinAh sama-sama menolehkan kepalanya ke luar jendela, melihat mobil Donghae yang sudah berkali-kali melewati restoran tempat mereka berada.

“Ya Tuhan, aku lapar…”

“Pesan saja makanan. Apa susahnya?”

“Aku sedang diet, sayang. Kau juga, kalau kau lupa.”

“Cih. Kalau kau tidak mengajakku untuk memata-matai mereka, kita bisa tidur di rumah untuk menahan lapar, Min.”

“Lalu membiarkan mahasiswiku sendirian dengan seorang laki-laki? Kalau Donghae berbuat macam-macam pada Hamun bagaimana?”

“Astaga, Park MinAh. Donghae itu laki-laki baik. Dia tidak mungkin berbuat macam-macam.”

“Entahlah tapi kita tetap harus mengawasi mereka. Kau bertanggung jawab atas Donghae dan aku atas Hamun.”

“Ne, nyonya Mun.”

MinAh dan Hyejin masih menatap keluar jendela dan kali ini ada kemajuan. Mobil Donghae sudah memasuki lahan parkir dan kemudian berhenti beberapa mobil di samping mobil MinAh.

“Semoga Hamun tidak melihat mobilmu, Min.”

“Aku bahkan berdoa dia tidak mengenali mobilku. Haiiish. Kenapa kita begitu bodoh?! Seharusnya kita memakai mobilmu. Hamun kan belum pernah melihatnya.”

Beruntung untuk kedua wanita ini, Donghae menghalangi pandangan Hamun terhadap mobil merah menyala milik MinAh ketika mereka berjalan masuk ke dalam restoran.

“Mereka masuk. Mereka masuk,” kata Hyejin dengan panik.

Buru-buru MinAh dan Hyejin memakai kacamata mereka untuk menyamar. Mereka bahkan sudah memakai rambut palsu sejak berangkat dari rumah. Meskipun begitu, Donghae tetap mengenali mereka.

Lee Donghae
Aku tidak tanggung kalau Hamun mengenali kalian.
Selamat menahan lapar. Padahal makanan di sini enak-enak loh.
Kkkkkkk.

“Sialan,” umpat MinAh ketika Hyejin memberikan handphone-nya kepada MinAh agar MinAh bisa membaca pesan dari Donghae.

“Awas kau, Lee Donghae.”

—–

Hyejin dan MinAh memasang telinga mereka lebar-lebar untuk mendengarkan dengan seksama seluruh percakapan Hamun dan Donghae. Mereka bahkan berniat untuk mencuri dengar sampai ke kikik tawa Hamun.

“Oppa, aku merasa aneh dengan dua wanita di dekat jendela itu.”

Donghae melirik sedikit kepada dua wanita yang dimaksud Hamun dan tersenyum simpul. “Memangnya apa yang aneh?”

“Mereka tidak saling bicara dari tadi. Yang mereka lakukan hanya saling berhadapan sambil meminum minuman mereka.”

“Mungkin mereka bisu?”

“Tidak. Mereka tadi bicara pada pelayan. Lalu, mereka juga tidak bergerak.”

“Mungkin mereka kaku?”

“Oppaa…”

Handphone Donghae bergetar. Sebuah pesan dari Hyejin mengganggu acaranya.

Song Hyejin
Lee Donghae, sebaiknya kau diam. Diam. Diam.

Lee Donghae
Suka-suka aku.
Weee :p

“Sudah. Tidak usah dipikirkan. Mungkin mereka memang wanita aneh? Bagaiamana bimbimpap-nya menurutmu? Enak?”

“Terenak yang pernah aku makan. Terima kasih sudah mentraktirku, Oppa.”

“Sama-sama. Lain kali, aku bisa mengajakmu lagi. Kalau kau punya waktu.”

“Selesai aku sidang skripsi. Aku akan gantian mentraktir Oppa.”

“Aku tunggu dengan senang hati.”

Donghae membayar makanan mereka dan kemudian mengajak Hamun keluar dari restoran itu. “Kemana saja asal kau tidak membagi dua pikiranmu antara aku dan dua wanita aneh itu. Kajja!”

Hamun hanya tersenyum malu bahwa Donghae menyadari ia tidak bisa melepaskan matanya dari dua wanita yang memakai kacamata hitam duduk di dekat jendela.

Song Hyejin
Kau mau kemana, Lee Donghae?
Jangan coba-coba kabur dariku.

Lee Donghae
Tenang saja.
Aku tidak akan macam-macam.
Aku akan mengantarkan Hamun tepat jam 7 malam di restoran MinAh nanti.

Song Hyejin
Yaaaa!!!

Lee Donghae
Dan aku akan langsung meluncur ke rumahmu.

Lee Donghae
Sekilo masker collagen cukup kan untuk wajahmu? Akan aku belikan nanti. Mumpung aku lagi bahagia.
Kkkkkkk.

Song Hyejin
LEE DONGHAE!! KALAU KAU SAMPAI MACAM-MACAM DENGAN MAHASISWIKU, HABIS KAU! -Park MinAh-

—–

Dengan santai, Donghae memasuki rumah Hyejin dan meletakkan satu kilo masker collagen ke dalam kulkas super besar gadis itu yang tiga perempat isinya adalah produk-produk perawatan tubuh.

“Kau sudah mengantarkan Hamun dengan selamat ke tangan MinAh?”

Donghae duduk di sofa ruang keluarga Hyejin dan tidak lupa merebut remote tv dari tangan sahabatnya. “Tentu saja. Memangnya mau kubawa kemana teman kecilmu itu?”

Hyejin tersenyum lebar. Ia membetulkan posisi duduknya menjadi lebih tegak dan berfokus pada sahabatnya. “So, are you happy today?”

Donghae tersenyum simpul.

“Yaa! Jangan hanya tersenyum padaku. Kau senang kan?”

“Well, dia lebih menyenangkan dari apa yang kubayangkan.”

“Dia?”

“Hamun. Siapa lagi? Song Hyejin, jangan bilang otakmu melambat karena tidak juga ada kabar dari Kyuhyun?”

“Tidak usah membahasnya. Lalu, kalian kemana setelah melarikan diri dari aku dan MinAh?”

“Hanya minum es krim di dekat kantorku. Lalu aku mengajaknya ke kantor untuk menunjukkan beberapa foto yang akan masuk pameran.”

“Kenapa aku tidak kepikiran ke sana?”

“Karena otakmu sedang tersumbat oleh pria yang tidak tahu diri di Amerika sana.”

“Yaa Lee Donghae! Sahabatmu ini mencintai pria tidak tahu diri itu.”

“Saranku, lupakan dia. Bukan karena aku bisa membaca masa depanmu. Aku hanya melihat kenyataan saat ini. Pria seperti itu tidak pantas dicintai. Dia baru pergi beberapa hari tapi tidak ada kabar sama sekali. Aku tidak yakin dia berniat pulang.”

“Lee Donghae, aku bilang jangan bahas dia.”

“Okay,” kata Donghae pada akhirnya karena melihat air mata Hyejin yang sudah tergenang di ujung matanya. “Asal kau menghentikan air matamu itu. Aku mohon, jangan menangis.”

Sebuah bantal sofa melayang dan jatuh tepat mengenai wajah Donghae. “Kau juga jangan ikut-ikutan menangis. Cih!”

Hyejin buru-buru menghapus air matanya sebelum cairan itu jatuh membasahi pipinya. “Jadi, apa kau akan mengajak Hamun keluar lagi?”

“Tentu saja. Tapi nanti setelah urusan skripsinya selesai. Kuliah anak-anak jaman sekarang mengerikan ternyata.”

To be continued
Let’s pray…