Jjan!
Ini edisi couple Haemun kalo mereka abis selesai konser. Hahahhahaha. Semoga suka. Selamat menikmati. Jangan lupa komen yaaa….

****

Donghae berusaha memecahkan rekor mandi tercepat dengan hasil terbersih yang ia ciptakan sendiri 1 menit 3 detik menjadi 58,7 detik. Alasannya hanya satu, ia ingin segera menelepon kekasihnya, Kang Hamun, yang terpaut hanya beberapa kamar dari kamarnya.

“Hai, gadis kecil,” sapa Donghae ketika Hamun mengangkat teleponnya.

“Oppa, aku bukan gadis kecil lagi. Aku sudah 20 tahun.” Hamun menyuarakan protesnya. Meskipun dirinya dan Donghae terpaut usia 9 tahun tapi usia 20 tahun tidak bisa lagi dibilang kecil, begitu menurut Hamun.

“Baiklah, gadisku yang cantik.”

“Terdengarnya lebih enak kan, Oppa?”

Donghae mengikik geli mendengar suara kekasihnya. Tampaknya Hamun memang sudah tumbuh lebih dewasa. “Sedang apa? Sudah mandi?” Tanya Donghae.

Donghae memilih menelepon Hamun sambil meluruskan tubuhnya di atas tempat tidur. Tangan kanannya memegang handphone yang menelepon Hamun sedangkan tangan kirinya sibuk dengan phablet yang sedang bergerilya di Naver untuk mencari foto-foto Hamun dan kemudian disimpan ke dalam memori phabletnya.

“Belum. Jihyo eonni belum selesai mandi,” jawab Hamun.

“Kau jadinya sekamar dengan Jihyo?”

“Iya. MinAh eonni dengan HyunAh eonni. Hyejin eonni yang dapat kamar sendiri.”

“Aku tidak yakin Hyejin sendirian di kamarnya.”

“Aku juga tidak yakin sih, Oppa. Aku berani bertaruh Kyuhyun Oppa pasti sudah menyusup ke sana.”

Hamun dan Donghae sama-sama tertawa membicarakan leader Super Girls yang tidak mungkin bisa lari dari maknae Super Junior apalagi jika sudah satu panggung seperti SMTOWN ini.

“Kalau begitu kau sedang apa, sayang?”

“Menunggu Jihyo eonni selesai mandi, bertelepon dengan Oppa sambil membereskan koperku. Besok kita pulang pagi-pagi kan?”

“Seingatku juga begitu tapi aku masih malas membereskan koper-ku. Tunggu sampai Hyukjae mengambil barang-barang yang ia titipkan baru aku bisa membereskannya.”

“Alasan. Bilang saja Oppa memang malas membereskannya.”

“Memang. Ha ha ha ha ha.”

Hamun menghembuskan nafasnya dengan kasar karena kesal. “Oppa selalu seperti itu. Ya sudah, nanti habis mandi, aku akan ke kamar Oppa. Kita bereskan koper Oppa malam ini juga,” kata Hamun.

“Memangnya kau diperbolehkan keluar kamar sama eonnideul-mu?”

“Oppa… Setiap Kyuhyun Oppa menyusup ke tempat Hyejin eonni saja tidak ada yang protes, kenapa aku harus dilarang?”

“Mereka berdua itu memang berbeda, sayang. Dibilang seribu kali juga, mereka tidak akan mendengar.”

“Oppa… Aku sudah 20 tahun. Aku sudah bisa memutuskan sendiri mana yang baik untukku dan mana yang tidak.”

“Tapi Hamun sayang…”

“Oppa, aku hanya ingin membantumu membereskan koper,” potong Hamun dengan galak.

Donghae hanya bisa menarik nafas panjang dan kemudian menghembuskannya kembali dengan perlahan. Membayangkan Hamun berada di kamarnya saja sudah membuat jantungnya berdegup tidak karuan, apalagi kalau sampai gadis itu benar-benar muncul di sana malam ini.

“Hamun sayang,” ujar Donghae dengan lembut. “Bukannya aku tidak mau tapi memang kau seharusnya istirahat. Kau pasti lelah.”

“Aku tidak lelah.”

Donghae kembali memutar otaknya. “Dasar anak muda. Loncat-loncat 4 jam di panggung tidak merasa lelah?”

“Tidak,” jawab Hamun dengan singkat dan tegas.

“Besok begitu sampai Seoul, kau harus langsung kuliah, Sayang. Lebih baik kau istirahat.”

“Tidak masalah. Aku bisa tidur selama di pesawat.”

Donghae sudah kehabisan akal. Dia tidak punya lagi ide untuk melarang Hamun menginjakkan kaki di kamarnya. “Baiklah. Tapi kau harus bilang pada eonnideul-mu. Aku tidak mau mereka membuat heboh satu hotel karena merasa kehilangan dirimu.”

Hamun bisa membayangkan akan betapa ributnya hotel ini akibat perbuatan 4 onniedeul-nya jika ia tiba-tiba menghilang dan apalagi ditemukan berada di kamar Donghae. “Tentu saja aku akan bilang pada mereka,” ujar Hamun tidak rela sebuah keributan akan terjadi hanya karena dirinya.

“Ya sudah kalau begitu. Apa Jihyo sudah selesai mandi?”

“Belum. Padahal ia sudah setengah jam berada di kamar mandi.”

“Aku rasa Jihyo menelepon Woo Bin sambil buang air.”

“Euuuuuh.” Membayangkannya saja membuat Hamun geli tapi tidak merasa aneh. Pasangan evil magnae itu bisa berbuat apapun yang tidak disangka-sangka oleh orang lain.

“Lalu kalau dia baru selesai sejam lagi, kau baru akan membantuku kira-kira satu setengah jam lagi ya?”

“Sepertinya begitu.”

“Itu sudah jam setengah satu pagi, sayang. Lebih baik kau tidur. Aku juga tinggal melemparkan baju-bajuku ke dalam koper.”

“Oppa…”

“Tenang saja, sayang. Kau lebih baik istirahat.”

Hamun mendengar pintu kamar mandi terbuka dan Jihyo muncul dengan rambut yang sudah digelung di dalam handuk. Buru-buru, Hamun masuk ke dalam kamar mandi.

“Aku akan ke kamar Oppa lima belas menit lagi.”

Donghae hanya bisa mendengar suara telepon terputus dan selama 15 menit kemudian ia hanya bisa menunggu Hamun dengan degup jantung yang tidak karuan.

Donghae bahkan sampai melompat dari tempat tidurnya saat ia mendengar bel kamarnya berbunyi. “Hamun. Hamun. Hamun,” ucap Donghae dengan panik sekaligus berusaha tenang ketika membuka pintu untuk gadis kecilnya.

“Hai, Oppa,” sapa Hamun lalu berjalan masuk ke dalam kamar Donghae yang diikuti Donghae dalam diam.

“Astaga!!! Kenapa barang-barang Oppa berantakan seperti ini?!” Seru Hamun kaget melihat pakaian-pakaian Donghae yang berserakan di sofa dan barang-barang lainnya yang berserakan di meja. Hanya tempat tidur yang bebas dari barang-barang.

“Aku belum sempat membereskannya, sayang.”

Hamun berjalan mengumpulkan semua barang-barang itu, memisahkan pakaian yang telah dipakai dan yang belum dipakai, melipatnya dan kemudian memasukkannya ke dalam koper menjadi dua bagian yang terpisah. Hamun lalu memasukkan barang-barang yang tidak dipakai lagi oleh Donghae, setelah bertanya pada pemiliknya tentu saja. Sedangkan Donghae, hanya duduk di atas tempat tidurnya melihat Hamun hilir mudik di dalam kamarnya.

“Kau sudah memberitahu eonnideul-mu kan?”

“Sudah. Kecuali Hyejin eonni. Aku sudah berkali-kali meneleponnya tapi tidak diangkat jadi aku hanya meninggalkan pesan saja di Kakao Talknya.”

“Gadis pintar,” puji Donghae.

Donghae tidak berpindah sesentipun dari tempat tidurnya sampai Hamun selesai membereskan kopernya dengan rapi.

“Ini barang-barang Hyukjae Oppa, sudah aku pisahkan. Besok pagi, barang-barang Oppa yang sudah selesai dipakai bisa dimasukkan ke dalam koper. Masih ada tempat kok.”

Donghae tersenyum penuh terima kasih atas bantuan Hamun di tengah malam hanya untuk membereskan kopernya. “Kemari,” kata Donghae dengan tangan terbuka lebar menandakan ia ingin memeluk Hamun.

Hamun pun memeluk kekasihnya dengan erat, menunjukkan betapa ia mencintai pria di hadapannya saat ini.

“Terima kasih banyak, sayang,” ucap Donghae dengan Hamun yang berada di dalam dekapannya.

“Sama-sama, Oppa. Senang bisa membantu Oppa.”

“Kau janji kembali ke kamar jam berapa?” Tanya Donghae masih dengan Hamun di dalam pelukannya.

“3 menit lagi,” jawab Hamun.

Donghae melepaskan pelukannya, tanpa menjauhkan Hamun dari dirinya. “Saranghae,” ucap Donghae sambil menangkup wajah mungil Hamun.

“Nado, Oppa,” sahut Hamun.

Hamun sedikit berjinjit agar ia dapat meraih bibir kekasihnya. “Aku sangat sangat sangat mencintai Oppa,” kata Hamun setelah memberikan sebuah ciuman tepat di bibir Donghae.

Donghae tersenyum lembut. “Aku lebih sangat sangat sangat mencintaimu, sayang,” balasnya lalu mencium kening Hamun.

Dengan sedikit tidak rela, Donghae mengantarkan Hamun keluar dari kamarnya. “Sampai jumpa,” ucap Donghae tidak rela. Ia masih menginginkan kehadiran Hamun di sisinya tapi gadis itu harus kembali ke kamarnya.

Hamun melambaikan tangannya sambil tersenyum. “Sampai jumpa besok pagi, Oppa. Selamat tidur. Semoga Oppa mimpi indah tentangku.”

Cup. Hamun memberikan sebuah kecupan di pipi Donghae sebelum ia berjalan meninggalkan Donghae dan kembali ke kamarnya.

Kkeut!