Kira-kira beginilah nasib author yg sedang semedi untuk cari lanjutan ff series. Dptnya malah ide bikin ff one shot bgini. Semoga pada suka yaaa…

****

“Kau tidak menemui Henry, Hyun?” Tanya MinAh melihat HyunAh yang sejak kembali ke hotel hanya menghabiskan waktu hanya dengan menonton televisi yang 100 persen diyakini MinAh tidak dapat dimengerti oleh HyunAh. Otak cerdas HyunAh tidak sampai untuk mencerna bahasa Indonesia.

HyunAh menggelengkan kepalanya tanpa melepaskan mata dari televisi yang entah sedang menayangkan lomba menyanyi apa. “Ada Yewon. Mereka sedang syuting,” jawab HyunAh tidak bisa menyembunyikan kekesalannya.

“Dimana?”

“Entahlah.”

HyunAh mengganti channel televisi dengan acara drama berbahasa yang masih tidak dimengerti oleh HyunAh. “Ya Tuhan, Park MinAh… Kenapa sih wanita itu harus mengikuti pacarku sampai ke sini? Tidak cukup syuting di Korea saja? Aku kesal!” Omel HyunAh.

Remote televisi yang daritadi dipegangnya telah berpindah ke bawah tempat tidur. MinAh hanya bisa berusaha menenangkan teman sekamarnya, “Nanti begitu selesai syuting, Henry pasti akan menemuimu.”

Baru saja MinAh selesai bicara, bel kamar MinAh dan HyunAh berbunyi. MinAh mengintip dari lubang kaca di pintu kamarnya. “Henry datang, Hyun. Kubilang juga apa kan.”

MinAh membuka pintunya dan langsung berhadapan dengan laki-laki berwajah menggemaskan yang tidak berhenti tersenyum. MinAh yang sudah tahu tujuan Henry mempersilahkan kekasih temannya itu untuk masuk. “Silahkan. Gunakan waktu kalian sebaik mungkin,” kata MinAh sambil mengumpulkan dompet dan handphone-handphonenya.

“Kau mau kemana, Min?” Tanya HyunAh.

“Aku mau ke tempat Jungsoo Oppa. Kalian berdua baik-baik ya. Jangan bertengkar,” pesan MinAh sebelum keluar dari kamarnya.

Dengan wajah berseri-seri, Henry berlari memeluk HyunAh. “Baby Hyuuuuuuuuun!!! Aku merindukanmu, baby…” Ucap Henry sambil mengecup pipi HyunAh dengan gemas.

Masih sedikit kesal, HyunAh mendorong Henry menjauh dari tubuhnya. “Kau bau Yewon. Euuh!” Keluh HyunAh.

Henry mengernyit bingung, dengan indera penciumannya, ia berusaha mendeteksi bau tubuhnya. “Tidak ada bau apa-apa, baby Hyun,” kata Henry dengan polos.

HyunAh menggelengkan kepalanya dengan pasrah melihat kekasihnya yang memang terlalu polos ini atau pura-pura polos. “Kau pasti baru saja berpelukan dengan Yewon kan? Atau mungkin berciuman. Parfumnya masih menempel di bajumu tahu!”

“Bagaimana kau bisa menciumnya?”

“Hidungku sensitif.”

Henry tersenyum lebar kemudian mencium pipi HyunAh lagi. “Aku lapar. Bagaimana kalau kita pesan makanan?” Ide Henry yang sungguh mengagetkan HyunAh.

“Baby Hen, kau sedang diet. Makan tengah malam begini, yang ada kau akan menggelembung.”

Henry menggelengkan kepalanya dengan yakin. “Aku tidak akan menggelembung hanya karena makan sepiring. Kau mau makan apa?” Tanya Henry sambil melihat-lihat menu makanan hotel yang terletak di atas meja.

“Baby Hen…”

Henry mendengar nada serius dari panggilan HyunAh. Dengan penuh penyesalan, Henry menaruh kembali menu makanan tersebut ke atas meja. “Baiklah, aku tidak akan makan. Aku sedang diet.”

“Pria pintar,” puji HyunAh sambil mencubit pipi Henry dan menggoyang-goyangkannya. “Kau sekamar dengan siapa?”

Henry mengambil tempat duduk di pinggir tempat tidur yang menghadap ke televisi, diikuti HyunAh yang duduk di belakangnya.

“Baby Hyuuuun, kenapa duduk di belakangku?”

“Memangnya kenapa?”

“Aku kan jadi tidak bisa melihatmu,” rengek Henry.

HyunAh tertawa geli melihat tingkah Henry. Tanpa diketahui Henry, HyunAh melompat ke punggung Henry. “Jjan! Sekarang kau sudah bisa melihatku kan?” Ujar HyunAh sambil tertawa-tawa dengan wajahnya yang tersembul dari balik bahu Henry.

Henry menatap kekasihnya dengan terkejut. “Haiiiish!! Baby Hyuuun, kau membuatku kaget!”

HyunAh masih saja tertawa. Wajah Henry yang begitu terkejut menjadi pemandangan yang sangat menyenangkan di tengah malam seperti ini, meskipun masih ada bau Yewon di antara mereka.

“Baby Hen, I miss you,” ucap HyunAh lalu mencium Henry dengan lembut.

Ciuman HyunAh adalah salah satu pemicu yang bisa membuat Henry tersenyum lebih lebar dari senyumnya yang bisa dikategorikan sudah lebar.

“I miss you too, Baby Hyun,” balas Henry dan tidak bisa untuk membiarkan bibir HyunAh dengan tenang. “I love you.”

“I love you too.”

Henry dan HyunAh saling melempar senyum sebelum Henry mengacaukan segalanya. “Baby Hyun, kenapa kau begitu bau Jongwoon hyung? Apa kau memeluknya tadi?”

HyunAh memutar matanya dengan kesal karena Henry merusak momen romantis mereka. “Aku hanya memberi selamat karena ia sudah menyelesaikan wajib militernya.”

“Baby Hyuuuun…” Wajah cemberut Henry seketika membuat HyunAh tertawa terbahak-bahak.

“Wajahmu lucu sekali, Hen.”

“Baby Hyuuuuun….”

HyunAh masih sibuk dengan tawanya sedangkan Henry sudah sigap dengan merengkuh tubuh HyunAh. “Kau memang menyebalkan. Aku tidak boleh dekat-dekat Yewon padahal kau sendiri dekat-dekat Jongwoon hyung. Awas kau, baby Hyun!”

HyunAh hanya melongo kaget melihat Henry di depannya yang sudah mendaratkan ciuman di bibirnya dan mendekap tubuhnya dengan erat sampai HyunAh harus mencengkram punggung Henry untuk berpegangan.

“Baby Hen, aku akan kehabisan nafas,” kata HyunAh memberi isyarat dengan memukul-mukul punggung Henry.

Dengan panik, Henry melepaskan ciumannya untuk mengecek keadaan HyunAh. “Baby Hyun, gwencana? Kau baik-baik saja?” Tanya Henry dengan panik. Tangan Henry memegang HyunAh dengan kokoh sedangkan matanya mengecek keseluruhan raga HyunAh.

“Baby Hyun, kau tidak kenapa-kenapa kan? Baby Hyuuuun…” Henry belum bisa menghilangkan paniknya.

HyunAh mendorong Henry sehingga laki-laki itu melepaskan pelukannya. “Aku baik-baik saja. Aku hanya akan hampir kehabisan nafas karena kau sama sekali tidak memberikan aku kesempatan untuk bernafas. Dasar laki-laki!”

Henry menyengir senang mendapati kekasihnya baik-baik saja. Dengan ceria, ia kembali memeluk HyunAh dengan erat. “Baby Hyuuuuun, kenapa kau sangat menggemaskan? Uuuugh!” HyunAh pun hanya bisa pasrah dan mengelus punggung pria yang ia cintai dengan sayang.

Kkeut!