Akhirnya!
FF couple-couple selesaaaaaaai. Hahhahahhahaa..
Saatnya mencari wangsit GPGL
Hihihi…

Semoga pada suka yaaa bacanya.
Jangan lupa komen.

****

Baru saja Jihyo menginjakkan kakinya kembali di Seoul, ia harus kembali seorang diri menentukan mau kemana ia hari ini. Hyejin, MinAh dan HyunAh eonnideul-nya sudah langsung pergi untuk jadwal mereka masing-masing, magnae Hamun sudah harus kuliah lagi, bahkan Key harus segera syuting Mnet Countdown.

“Haisssh!” Keluh Jihyo sambil menatap kesal koper kecil di sebelahnya.

Jihyo tidak punya pilihan. Satu-satunya yang bisa ia hubungi dan kemungkinan besar mau meluangkan waktu untuk menemaninya adalah kekasihnya sendiri, Kim Woo Bin.

“Oppa, aku sudah sampai. Oppa dimana?”

“Jagiyaaaa!!!!”

Jihyo terpaksa menjauhkan handphone dari telinganya mendengar seruan Woo Bin yang bahkan lebih keras dari teriakan Hyejin kalau sedang bertengkar dengan Kyuhyun.

“Oppa, kecilkan suaramu. Aku tidak tuli.”

Woo Bin tertawa senang. “Mian. Mian. Aku hanya terlalu senang bisa mendengar suaramu lagi. Aku sedang syuting di Gangnam. Kenapa? Kau mau kesini?”

Wajah Jihyo langsung berseri-seri mendengarnya. “Benarkah? Aku boleh ke tempat syuting Oppa?”

“Benar. Ada Jong Suk juga di sini. Ke sini saja.”

“Okay. Tunggu aku ya, Oppa.”

Tidak peduli dengan kopernya, Jihyo pergi meninggalkan dorm, mengambil taksi untuk membawanya ke daerah Gangnam. Jihyo tidak sabar untuk dapat segera sampai.

“Ooooppaaaaa!!!” Seru Jihyo dengan ceria begitu ia bertemu dengan makhluk tinggi putih bernama Kim Woo Bin. Tanpa malu-malu, Jihyo melompat ke dalam pelukan Woo Bin.

“Astaga Choi Jihyo kelakuanmu… Ckckckckck,” komentar Jong Suk sambil menggelengkan kepalanya membuat Jihyo terpaksa melemparkan tatapan mematikannya yang sangat ditakuti Jong Suk.

Jong Suk berubah 180 derajat. Ia tersenyum lebar menyambut kekasih sahabatnya itu. “Hai Jihyo-ya, apa kabar? Bagaimana SM TOWN-mu? Sukses besar pasti ya… Ha ha ha ha ha.”

Jihyo menyengir lebar kepada Jong Suk. “Hai Oppa tampan,” sapanya sambil memeluk Jong Suk sekilas lalu kembali ke pelukan Woo Bin.

“Kalian sedang break syuting ya?” Tanya Jihyo.

“Kami lagi break. Salah satu kamera ada yang rusak jadi tidak bisa syuting. Kau sudah makan, jagi?”

Jihyo mengelus perut kecilnya yang rata sambil menggelengkan kepalanya dengan lemah, minta dikasihani. “Aku belum makan, Oppa. Aku lapar…”

Woo Bin merangkul Jihyo dan mengajaknya ke dalam gedung tempat para kru berkumpul dan artis-artis lain istirahat. Jong Suk? Ditinggalkan begitu saja di luar oleh pasangan itu.

Woo Bin mengambilkan makanan untuk Jihyo sedangkan gadis itu duduk di kursi tempat Woo Bin biasa beristirahat kalau sedang break syuting.

“Ini aku bawakan spaghetti untukmu,” kata Woo Bin.

“Gomawo, Oppa sayang,” balas Jihyo.

Jihyo mengambil spaghetti di tangan Woo Bin dan mulai memakannya. “Kau benar-benar sendirian tadi?” Tanya Woo Bin.

“Yup. Hyejin eonni langsung syuting, HyunAh eonni juga, MinAh eonni ke rumah Eric Oppa sedangkan magnae harus kuliah.”

“Key?”

“Syuting,” jawab Jihyo dengan mulut berisi spaghetti.

“Iyuh. Telan dulu makananmu baru bicara,” tegur Woo Bin.

Jihyo pun segera menelan spaghettinya. Membersihkan saus-saus di pinggir mulut Jihyo? Itu urusan tangan Woo Bin. “Gomawo, Oppa,” kata Jihyo setelah Woo Bin membersihkan mulutnya dari saus spaghetti untuk yang keempat kalinya.

“Oppa tidak makan?”

Woo Bin menggelengkan kepalanya. “Aku sudah makan empat piring sampai seksi konsumsi marah-marah karena kekurangan.”

“Dasar jahil.”

“Siapa suruh pesan makanan pas-pasan?”

Pasangan itu pun kemudian tertawa tanpa ada satu pun yang mengerti apa penyebab mereka tertawa kecuali diri mereka berdua sendiri.

“Oppa,”

“Wae?”

“Apa kau tidak merasa bosan menunggu syuting seperti ini? Kalau aku, pasti sudah tidak bisa diam. Memangnya tidak ada korban?” kata Jihyo melihat tidak ada kegiatan yang dilakukan kekasihnya selain menunggu syuting kembali berjalan.

Woo Bin tersenyum. “Aku sudah tidak bisa diam daritadi tapi korbanku sudah dua kali memukulku, aku tidak tega menjahilinya lagi,” kata Woo Bin.

“Siapa korban Oppa hari ini?”

“Jong Suk.”

“Memangnya apa yang Oppa lakukan padanya?”

“Membuatnya tertawa ketika seharusnya dia akting marah dan menyembunyikan handphonenya,” ujar Woo Bin dengan ringan.

Jihyo melihat Jong Suk yang sedang berjalan hilir mudik dengan manajernya dan membayangkan apa yang baru saja dilakukan kekasihnya kepada laki-laki di luar sana yang tidak berdaya jika dibandingkan dengan Woo Bin. “Oppa, kau jahat,” komentar Jihyo namun ia sendiri tertawa terbahak-bahak.

“Kau juga pasti habis mengerjai member-membermu kan? Apa saja yang kau lakukan? Ayo ngaku!”

Jihyo mengingat-ingat kejahilan apa saja yang ia lakukan selama berada di Indonesia dan mengingat-ingat siapa saja korban kejahilannya. “Banyak,” kata Jihyo sambil menyeringai tanpa dosa.

“Kau pasti mengerjai magnae kan?” Tebak Woo Bin tepat sasaran dan Jihyo pun menganggukkan kepalanya.

“Jadi, jam 11 malam kan Hamun minta ijin untuk ke kamar Donghae Oppa dan dia bilang akan kembali jam 12 sampai setengah satu. Aku tidak masalah. Hanya saja ketika Hamun kembali dan memencet bel, ide jahilku langsung datang,” kata Jihyo mulai bercerita.

“Apa yang kau lakukan?”

“Aku pura-pura tidur. Hamun terus memencet bel dan aku tidak membukakan pintu untuknya. Dia juga terus bolak balik meneleponku tapi tidak kuangkat. Terus saja begitu.”

“Sampai? Kau tidak membukakan pintu untuk Hamun ya?”

Jihyo menggelengkan kepala. “Manajerku ternyata meminta kunci cadangan. Ia membuka pintu dengan kunci cadangan itu. Aku mengintip dari balik selimut, tampangnya sangat lucu karena ingin menangis tapi aku tidak berani bangun karena tampang manajerku yang sangat seram. Tampaknya ia tahu aku sedang mengerjai magnae.”

Seketika tawa menggelegar dari mulut Woo Bin. Ia membayangkan tampang kekasihnya yang ketakutan di bawah selimut. “Kau pasti sangat ketakutan. Iya kan? Ha ha ha ha.”

“Yaa Kim Woobin, jangan menertawaiku!” Kata Jihyo kesal.

Jihyo membanting tubuhnya ke sandaran kursi dan menganggap pria yang sedang tertawa-tawa di hadapannya tidak ada. Jihyo mengambil smartphone-nya dan membuka instagram Choi Seunghyun TOP.

Sambil senyum-senyum sendiri, Jihyo menikmati foto-foto abstrak yang diunggah TOP ke dalam instagramnya.

“Kau sedang melihat apa? Kenapa senyum-senyum sendiri?” Tanya Woo Bin menangkap keanehan pada kekasihnya.

Jihyo hanya menggelengkan kepala tanpa melepaskan handphone-nya. “Tidak ada,” jawabnya singkat membuat Woo Bin semakin tidak percaya.

Dengan cepat, diambilnya handphone Jihyo dan hanya menunjukkannya kembali kepada pemiliknya apa yang ada di layar handphone itu. “Kau masih mengikuti instagram pria abstrak ini? Astaga, Choi Jihyo!”

Jihyo hanya menyengir lebar dan merebut kembali handphone-nya dari tangan Woobin. “Pria abstrak itu punya nama, Choi Seung Hyun. Aku merasa dia cukup tampan,” kata Jihyo membuat Woo Bin mendidih.

“Yaa Choi Jihyo!!!”

Jihyo menatap Woo Bin sambil tersenyum lalu memberikan sebuah ciuman untuk pria itu. “Tapi kau jauh jauh lebih tampan dan kau satu-satunya yang aku cintai. Oppa,” kata Jihyo membuat Woo Bin luluh.

“Jihyo-ya…” Woo Bin tidak tahu bagaimana tampangnya sekarang. Ia hanya merasa pipinya memanas. Tapi melihat sekelilingnya yang mengikik geli bisa dipastikan bahwa ia terlihat sangat memalukan. Hanya dengan sebuah ciuman, ia dikalahkan oleh seorang wanita.

Kkeut!