Annyeong!
Bertemu lagi di part ke 6 dari 7 serial Growing Pains. Growing Love dengan cast utama kita : Lee Donghae!!

image

Photo credit to yang punya ya. Ini ngambil di twitter kok. Hihihi. Ganteng ya…

Let’s Go!

****

Growing Pains… Growing Love…

Donghae sudah tidak sabar menunggu jam tangannya menunjukkan jam 3 sore. Setiap detik yang berdetik terasa seperti satu jam baginya. Donghae juga sepertinya sudah ratusan kali bolak balik mengelilingi ruang kerjanya.

“Yaa Lee Donghae, tidak bisakah kau diam? Sebentar saja. Aku pusing melihatnya.”

“Tidak bisa. Maaf.”

“Tenanglah. Jam 3 itu sebentar lagi. Kalau kita berangkat sekarang, Hamun juga belum selesai sidang. Aku tidak mau menunggu sampai lumutan di dalam mobilmu.”

“Kau yang memaksa ikut. Kalau bukan karena kau, aku pasti sudah di kampus Hamun sekarang.”

“Sambil mengetuk-ngetuk setir mobilmu dengan tidak sabar. Tunggu saja sebentar lagi ah!”

“Errrrh!”

Hyejin bangkit berdiri dari sofa tamu Donghae dan mendekat kepada sahabatnya itu. Tangannya menarik Donghae dan memaksa pria itu berhenti dari kegiatannya yang sangat monoton sejak sejam lalu.

Hyejin menggenggam tangan Donghae dan kemudian memeluk sahabatnya itu dengan erat. “Kau sudah kembali normal. Aku senang melihatnya.”

“Memangnya selama ini tidak normal?”

“Well, melihat terlalu banyak waktu yang kita habiskan bersama. That’s not normal, baby. Makan pagi, siang, malam bahkan cemilan selalu bersama, nonton berdua, bahkan walau kita sibuk dengan dunia maya kita akan tetap duduk berhadap-hadapan. Itu tidak normal.”

“Jadi yang normal?”

Hyejin melepaskan pelukannya dan menatap Donghae dengan lembut.

“Kau pergi dengan pacarmu. Aku pergi dengan pacarku. Kita bertemu kembali hanya saat pemotretan dan saling bertukar cerita.”

“Atau ketika kau sedang bertengkar dengan pacarmu. Kau akan memaksaku menemanimu keliling mall.”

“Yess, that’s called normal.”

“Sayangnya, kita berdua sedang tidak punya pacar dan ketika kita tidak punya pacar maka aku akan mengorbankan kau dan kau akan mengorbankan aku.”

“Emmm… Kau ingat waktu aku bilang waktu akan menyembuhkan sakitmu dengan cepat? Apa kau sudah merasaka lebih baik sekarang?”

Donghae kembali melihat jam tangannya yang masih menunjukkan pukul 14.58. Lidahnya mendecak tidak sabar. “Hyejin-ssi, apa kau sudah tidak bisa membacaku?”

Hyejin menggelengkan kepalanya.

“Jadi kau pasti tahu apa yang terjadi padaku sekarang dan yang akan terjadi. Sekarang, ambil tasmu dan kita berangkat.”

“Ini belum jam 3.”

“14.59 dan kita masih harus menjemput Jongwoon hyung. Ppali!!!”

Donghae keluar lebih dulu diikuti oleh Hyejin yang tidak bisa berhenti bicara. “Apa kau sudah menentukan pilihan?”

“Hye, kau kan tahu sekali tentang diriku. Kau bahkan tahu hal terdalam tentang diriku yang bahkan aku sendiri tidak tahu. Kenapa selalu bertanya?”

“Kau menyukai Hamun?”

“Aku menyukainya.”

“Time heal your pain so fast. Ngomong-ngomong, siapa Jongwoon hyung yang kau maksud?”

“Temanku yang mau kukenalkan padamu. Dia baru keluar wajib militer hari ini.”

“Mwo?! Kau menyuruhku selingkuh?”

“Belum tentu Kyuhyun di sana tidak selingkuh.”

“Yaa Lee Donghae!!!”

“Kau harus cepat belajar menerima kenyataan. Kau sendiri yang bilang bahwa kalian akan berpisah. Aku pikir kau sudah menyiapkan diri. Lagipula, mau sampai kapan kau memikirkan laki-laki yang bisanya hanya bernyanyi?”

“Donghae-ya, anggap aku sedang berbaik hati hari ini sehingga aku tidak menjambak rambutmu sampai habis!” Seru Hyejin sambil menutup pintu mobil Donghae dengan keras.

—–

Donghae memarkirkan mobilnya di lahan parkir kampus Hamun. Dengan tidak sabar ia menunggu makhluk yang lebih pendek darinya muncul.

Lee Donghae
Aku sudah di parkiran ya.

Kang Hamun
Ne, Oppa.
Tunggu sebentar ya.

Seperti kebiasaan yang suka Donghae lakukan di dalam mobil jika sedang diam, mengetuk-ngetuk setir mobilnya.

“Lee Donghae, aku mau tidur. Tanganmu berisik.”

Donghae melihat ke bagian belakang mobilnya, seseorang sedang tertidur pulas dengan seorang di sebelahnya yang tidak berhenti menatapnya.

“Hyung, aku tahu kau baru keluar dari wajib militer. Tapi bukan berarti kau tidak pernah melihat wanita kan? Kenapa kau tidak bisa berhenti menatap Hyejin?”

“Aku hanya tidak bisa berhenti. Itu saja.”

“Kau selalu begitu. Abstrak.”

Donghae kembali menatap ke depan. Saat itu, ia melihat seorang gadis berjalan mendekat kepadanya dengan beberapa buket bunga di tangannya.

“Melihat banyaknya buket bunga yang kau dapatkan, kau pasti sukses,” sambut Donghae.

“A+,” ujar Hamun tanpa bisa menyembunyikan kebahagiaannya.

“Wow! Chukkae!!! Kalau begitu, kau harus mentraktirku hari ini.”

“Call!”

Hamun pun masuk ke dalam mobil. Saat ia akan menaruh bunga-bunganya ke jok belakang mobil, Hamun hanya mengernyit bingung.

“Hai.”

“Hai,” balas Hamun.

“Ah, ini Jongwoon hyung. Temanku. Karena MinAh tidak jadi ikut, aku mengajak Jongwoon hyung,” jelas Donghae yang dapat dimengerti oleh Hamun.

“Biar wanita ini ada teman untuk menemaninya belanja,” lanjut Donghae dengan berbisik, tertuju kepada Hyejin.

“Ha ha ha ha. Betul, betul. Kalau tidak ada temannya, bisa-bisa kita diseret sepanjang mall hanya untuk sebuah tas. Ya kan, Oppa?”

“Betul.”

“MinAh eonni kenapa tidak jadi ikut?”

“Suaminya, Eric Mun, pulang lebih cepat. Dia pasti lebih memilih tidur-tiduran di kamar dengan suaminya daripada duduk di restoran bersama kita.”

“Oooh, pantas. Aku juga tidak melihat MinAh eonni hari ini. Ternyata Eric Oppa sudah pulang. Oh ya, bagaimana pameran foto Oppa? Kapan dimulai?”

“Besok. Kau mau datang?”

“Humm… Kalau besok aku tidak bisa karena masih ada yang harus aku urus di kampus. Pameran Oppa sampai kapan? Kalau weekend ini aku datang, masih bisa?”

“Tenang saja, pameran foto-fotoku akan selalu terbuka untukmu. Ha ha ha ha.”

“Ha ha ha ha.”

“Yaa Lee Donghae, kapan kau akan menjalankan mobil ini? Aku sudah lapar.”

Donghae melirik jok belakang melalui kaca spion yang terpasang di plafon mobilnya. Ia melihat Hyejin dengan tampang masam, menatapnya sambil melipat tangan di depan dada.

“Tuan Putri sudah mengomel. Kita harus berangkat, Hamun.”

Hamun memutar tubuhnya untuk melihat Hyejin. “Mianheyo, onnie,” jawab Hamun diiringi senyumnya yang membuat Hyejin, mau tak mau, ikut tersenyum. “Dasar kau ini,” balas Hyejin.

“Kajja,” ujar Hamun diiringi senyuman lembut.

—–

Mengikuti selera mahasiswi yang sedang ingin makan ayam goreng, Donghae, Hyejin, Hamun dan Jongwoon akhirnya memilih makan di restoran ayam cepat saji.

“Mian,” kata Hamun menyesal melihat Hyejin yang sama sekali tidak menyentuh ayamnya karena sedang tidak diperbolehkan makan gorengan. Hyejin hanya memakan nasi putih dan meminum air putih.

“Tidak apa. Dia juga sedang diet,” sahut Donghae. Hyejin hanya bisa melemparkan tatapan mematikan kepada sahabatnya itu.

“Sejujurnya aku sangat lapar. Aku tidak kuat hanya makan nasi secuil ini. Jongwoon Oppa, temani aku cari makanan lain. Kajja.”

Entah kenapa, Jongwoon hanya mengikuti Hyejin begitu saja, kemanapun gadis itu pergi.

“Maaf, aku tidak tahu Hyejin eonni tidak bisa makan ayam goreng.”

“Santai saja. Dia akan mencari makanan lain. Tidak usah sedih begitu.”

“Aku tidak enak sama Hyejin eonni, Oppa.”

“Jadi, apa rencanamu sehabis kuliah ini?” Tanya Donghae mengalihkan pembicaraan.

“Kerja tapi kalau dapat beasiswa aku mau melanjutkan Master.”

“Wow!! Luar biasa. Kau sudah daftar kemana saja?”

“Banyak. Di Korea, China. Aku juga daftar di Inggris. Doakan aku lulus ya, Oppa…”

“Hwaiting!!”

“Gomawo, Oppa. Apa Hyejin eonni akan baik-baik saja?”

“Dia akan baik-baik saja, Hamun. Kalau dia sudah kenyang, Hyejin pasti kembali. Dia tidak akan marah hanya karena ayam goreng.”

Hamun memakan makanannya dengan tidak enak tapi begitu melihat Hyejin sudah kembali dengan wajah berseri-seri, Hamun merasa jauh lebih baik. “Eonni, maaf aku tidak tahu kalau eonni sedang diet gorengan,” kata Hamun penuh penyesalan.

Hyejin melambaikan tangannya dengan santai. “Tidak usah dipikirkan. Aku tidak masalah kok. Santai saja,” kata Hyejin dengan ringan.

“Jinjja?”

“Jinjja.”

Hamun masih terus menatap Hyejin dengan ragu. Hyejin bahkan sudah sibuk mengobrol dengan Jongwoon tapi Hamun masih merasa tidak enak.

“Santai saja. Hyejin sudah kembali normal,” bisik Donghae sambil melirik kantong belanjaan di belakang Hyejin. “Dia sudah belanja berarti mood-nya sudah kembali tenang. Kau, makanlah.” Hamun pun kembali memakan makanannya dengan lega.

“Donghae-ya!! Lee Dong Hae!!”

Empat kepala menengok sekaligus begitu mendengar suara seorang gadis memanggil-manggil nama Donghae. Donghae hanya memasang ekspresi datar, Hyejin menghela nafas panjang sedangkan Hamun dan Jongwoon tidak tahu harus bagaimana karena mereka tidak kenal wanita itu.

“Wanita itu lagi,” desis Hyejin kesal. Matanya sudah menatap Donghae memberikan peringatan.

Wanita itu semakin dekat dan tanpa ragu memeluk Donghae ketika ia sudah berada tepat di samping Donghae. “Tidak kusangka akan bertemu kau di sini,” katanya.

Donghae hanya menganggukkan kepalanya. Wanita itu melihat Hyejin dan menyapa, “Hai, Hye.”

“Hai.”

“Kau tidak mau mengenalkan aku pada teman-temanmu yang lain, Donghae-ya?”

Hamun sedikit bingung dengan kehadiran wanita itu. Siapa dia sampai ia bisa memanggil Donghae dengan sebutan ‘Donghae-ya’?

Donghae memperkenalkan Jongwoon terlebih dahulu. “Jongwoon hyung, kenalkan ini Sandara. Dara, ini Jongwoon hyung, temanku yang baru keluar wajib militer.”

“Senang berkenalan denganmu, Jongwoon-ssi.”

“Lalu ini.” Donghae menunjuk Hamun. “Ini Kang Hamun, temanku.”

“Sandara Park imnida. Senang berkenalan denganmu, Hamun-ssi.”

Hamun memandang wanita bernama Sandara itu, ia memperhatikan cara Donghae menghadapi gadis bernama Dara itu, dan saat ia mendengar sebuah kata ‘teman’ keluar dari mulut Donghae, ketiga hal itu membuat Hamun menjadi kesulitan bernapas. Apa yang terjadi?

—–

Begitu Hamun tiba di rumah, ia tidak bisa tidur. Rasa bahagia karena nilai A+ yang ia dapat seketika sirna saat ia kembali mengingat Donghae dan Dara. Hamun tidak mengerti kenapa ia merasakan sesak yang luar biasa sejak ia melihat Sandara. Ia tidak tahu apa hubungan Sandara dengan Donghae tapi melihat mereka berdua berbicara rasanya seperti ada yang menyumbat saluran pernapasannya. Rasanya berat.

Hamun mencoba untuk mencari jawabannya kepada Hyejin.

Kang Hamun
Selamat malam, eonni. Apa eonni sudah tidur?

Song Hyejin
Belum. Ada apa?

Kang Hamun
Ada yang ingin aku tanyakan. Boleh?

Song Hyejin
Boleh.

Kang Hamun
Wanita yang kita temui tadi di mall siapa ya, eonni?

Song Hyejin
Aku tahu kau pasti akan menanyakannya.
Wanita itu Sandara Park. Mantan kekasih Donghae.

Hamun membuka matanya lebar-lebar untuk lebih jelas membaca pesan dari Hyejin.

Mantan kekasih.
Mantan kekasih.
Mantan kekasih.

Seluruh tulisan pada layar handphone-nya seolah berubah menjadi dua kata saja.

Mantan kekasih. Kata itu membuat dada Hamun terasa sakit.

Song Hyejin
Aku tidak tahu ini akan menyakitimu atau tidak tapi kau harus tahu cepat atau lambat. Donghae PERNAH sangat mencintai Dara tapi itu hanya masa lalu. Aku berani pastikan itu.

Song Hyejin
Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu pada Donghae. Yang aku tahu Donghae menyukaimu.

Song Hyejin
Aku minta maaf kalau mengenalkan Donghae padamu tapi sebagai sahabat yang bisa membacanya, aku melihat masa depan Donghae ada padamu.

Song Hyejin
Aku hanya ingin sahabatku bahagia. Ia pria baik dan harus mendapatkan pasangan yang baik juga. Aku hanya menginginkan itu.

Hamun membaca pesan Hyejin dan membuatnya semakin tidak mengerti. Kepalanya agak sakit, dadanya masih terasa sesak.

Mantan kekasih.
Pernah sangat mencintai.
Donghae menyukaimu.

Sekarang bertambah 5 kata yang bisa dibaca Hamun. Tidak hanya terasa sesak, tapi dadanya juga terasa sakit. Hamun merasa kalimat ‘Donghae menyukaimu’ tidak mengubah apapun. ‘Apakah menyukai sebanding dengan pernah sangat mencintai? Tidak. Tidak. Itu jauh berbeda. Sangat jauh berbeda. Apakah masa lalu sama dengan Donghae oppa sudah melupakan Sandara? Tidak. Tidak. Itu tidak sama. Astaga, astaga, Hamun mengapa kau merasakan sakit seperti ini? Donghae oppa sendiri mengatakan kau temannya. Teman. Ia tidak bilang dirinya menyukaimu.’

Kepala Hamun terasa makin sakit saat dirinya berbicara sendiri.

Kang Hamun
Eonni, maaf aku ketiduran. Aku ngantuk sekali. Aku tidur duluan ya… Sampai jumpa.

Hamun berbohong tapi ia tak kuat untuk melanjutkan percakapan ini. Ia pun menutup aplikasi chattingnya dengan Hyejin dan menghubungi eomma-nya.

“Eomma, aku mau mengambil S2 saja di luar negeri. Menurut eomma lebih baik di London atau New York?”

To be continued
Let’s pray