Akhirnya kita sampai kepada part yang terakhir. Hihihihihi…

image

Photo credit to si empunya. Aku cuman nyomot dari twitter karena abang ini gantengnya keterlaluan. Hahahaha.

2 years later

“Hamun sayang, aku titip kantor ya. Terserah kau mau apa di kantor ini, itu kekuasaanmu. Pokoknya selama 3 bulan ini, aku serahkan kantor ini padamu. Berkas-berkas pasien tersimpan rapi di lemari. Kalau ada yang tidak kau mengerti, tanya saja kepada asistenku. Aku mau menemui suamiku dulu. Annyeong, my baby!!”

Hamun hanya mengangguk-angguk mendengar celotehan panjang MinAh yang akan pergi ke Yunani selama 3 bulan untuk menemui suaminya. Sebagai intership psikolog lulusan luar negeri yang paling pintar yang berada di kantor itu, Hamun selalu dipercaya untuk menggantikan MinAh.

Hamun sudah hafal luar kepala isi kantor dan cara bekerja para pegawainya. Hamun juga sudah hafal letak-letak dimana MinAh menyimpan berkas-berkas ataupun data histori para pasien. Bahkan sesekali Hamun yang menangani pasien jadi ia tidak terlalu takut ketika MinAh meminta bantuannya untuk menggantikan posisinya sebentar.

“Tuan Marcus datang lima belas menit lagi. Baiklah, mari kita pelajari berkasnya. Tidak bisa melupakan mantan kekasihnya yang sudah menikah. Astaga, pasti tersiksa luar biasa,” gumam Hamun sambil membaca map dengan tulisan M A R C U S di sampulnya.

Pria bernama Marcus datang tepat lima belas menit kemudian. Ia duduk di hadapan Hamun dan langsung bicara tanpa basa basi. “Apa yang harus aku lakukan?”

“Humm… Kenapa Anda berpisah dari mantan kekasih Anda?”

“2 tahun lalu aku pergi ke Amerika untuk mengejar mimpiku menjadi penyanyi Internasional. Aku sangat sibuk bahkan untuk memperhatikan diriku sendiri aku tidak sempat. Begitu aku kembali, ternyata ia sudah menikah. Aku…. Tidak bisa percaya.”

“Apa Anda sudah bertemu dengannya?”

Tuan Marcus menggelengkan kepalanya dengan lemah seakan ia tidak memiliki tenaga sedikit pun.

“Kenapa tidak menemuinya? Coba untuk bicara dengannya?”

Tuan Marcus kembali menggelengkan kepalanya. “Aku tidak berani. Kalau aku menemuinya, aku takut bisa-bisa aku membawanya kabur.”

“Kenapa Anda tidak bisa melupakannya? Apa Anda masih mencintainya?”

Tuan Marcus tidak bergeming. Ia hanya menatap kaca meja kerja Hamun yang memantulkan wajah tuan Marcus yang sama persis. “Aku bahkan sudah lupa apa itu cinta.”

Hamun tersenyum lembut. “Tuan Marcus… Aku hanya punya satu cara untuk membantumu.”

“Apa?”

“Kembalilah ke Amerika. Fokus pada karirmu. Seperti yang kau lakukan dua tahun lalu.”

“Nona, apa Anda pernah jatuh cinta?”

“Pernah.”

“Lalu apa Anda menyerah begitu saja pada orang yang Anda cintai?”

“Menurut anda Tuan Marcus, mantan kekasih Anda sekarang bahagia atau tidak?”

Tuan Marcus terdiam.

“Aku, kalau orang yang aku cintai lebih bahagia tanpa aku, aku akan melepaskannya, Tuan.”

“Aku akan melakukannya persis seperti apa katamu. Aku akan menenggelamkan diri dengan kesibukanku. Terima kasih sudah mendengarkanku.”

“Sama-sama, tuan Marcus.”

Hamun mengecek kembali berkas Tuan Marcus. “Tuan Marcus, boleh aku memfotokopi identitasmu? Hanya untuk arsip kami.”

“Silahkan.”

Tuan Marcus menyerahkan kartu identitasnya yang segera dikembalikan Hamun begitu selesai difotokopi. “Terima kasih, Tuan Marcus. Sampai jumpa.”

“Sampai jumpa.”

Tuan Marcus pun pergi dan memberikan waktu kepada Hamun untuk menulis resume tentang pasiennya itu. “Marcus… Marcus… Cho… Kyuhyun?”

Hamun memperhatikan kartu identitas tuan Marcus alias Cho Kyuhyun di tangannya. “Mungkinkah?”

“Eonni, ada yang mau aku tanyakan padamu,” kata Hamun begitu Hyejin menjawab panggilan teleponnya.

“Ada apa, Hamun-ku sayang? Apa kau sudah menemukan pacar baru?”

“Heiish… Pertanyaan itu lagi. Belum, belum. Aku masih sibuk dengan pekerjaanku. Eonni, jangan mengalihkan pembicaraan.”

“Baiklah. Baiklah. Apa yang ingin kau tanyakan, nona?”

“Mantan pacarmu bernama Kyuhyun, kan?”

“Heissh. Kau menggali kuburan yang sudah lama kupendam. Iya, memangnya kenapa?”

“Apa marganya Cho?”

“Iya.”

“Ciri-ciri orangnya putih susu, tinggi, badannya berisi, matanya…”

“Matanya cukup lebar dibandingkan dengan kita, wajahnya agak panjang, bibirnya agak tebal, lehernya jenjang. Kira-kira seperti itu.”

“Eonni. Sepertinya aku bertemu dengannya.”

“JINJJA?! Dimana? Dimana?”

“Di kantor. Dia pasien kami.”

“Pasien MinAh?”

“Aku rasa MinAh eonni belum bertemu dengannya, belum ada catatannya diberkas Kyuhyun.”

“Apa yang dia katakan padamu?”

“Eonnie, kode etiknya adalah aku tidak boleh memberitahukan rahasia pasienku,”

“Kau yang mengungkit nama itu dan kau yang menolak untuk cerita? Dasar wanita kejam,”

“Baiklah, karena ini menyangkut eonnie aku akan bercerita. Marcus bilang, dia tidak bisa melupakan mantan kekasihnya yang sudah menikah. Sewaktu di Amerika dia terlalu sibuk sehingga tidak sempat menghubungimu. Sekarang, dia kembali untuk menemuimu tapi…karena eonni sudah menikah jadi dia…tidak berani menemuimu. Dia takut bisa membawamu kabur.”

“Lalu apa yang kau katakan padanya?”

“Kembali ke Amerika saja untuk menyibukkan diri. Kau kan sudah menikah tidak mungkin aku menyarankan untuk merebutmu kembali, kan?”

“….”

“Kau baik-baik saja, eonni?”

“Aku baik-baik saja.”

“Kau hidup bahagia kan, eonni?”

“Hamun-ah, hidup itu semuanya pilihan. Kebahagiaan itu juga pilihan. Dia lebih memilih cita-citanya dibanding aku. Aku lebih memilih menikah dengan Jongwoon Oppa dibanding menunggunya tanpa kepastian. Kalau ditanya bahagia, aku bahagia dengan pilihan-pilihanku.”

“Syukurlah.”

“Semua akan baik-baik saja, sayang. Tidak usah khawatir. Lebih baik kau yang segera cari pacar. Bagaimana dengan Donghae? Apa ia sudah datang menemuimu?”

“Eonni… Mengapa harus membahas itu, sih? Donghae hanya menyukaiku bukan sangat mencintai seperti perasaannya pada Dara dulu. Haisssh! Lupakan. Lupakan. Itu masa lalu…”

“Hamun, kau belum melupakannya, kan? Kau masih mencintainya, kan?” tanya Hyejin.

“Perasaanku tidak akan mengubah apapun. Eonnie, ganti topik,”

“Kalau Donghae datang dan mengatakan kalau ia mencintaimu?”

“Aku tak percaya. 2 tahun sudah terlewati tapi aku belum bisa melupakannya padahal ia belum menjadi pacarku dulu. Kurasa tak akan mudah juga baginya untuk melupakan wanita yang sangat ia cintai dan sudah bersamanya selama 4 tahun,”

“Tuh, kan, kau masih mencintainya,”

Hamun memukul kepalanya sendiri begitu menyadari kebodohannya, “Lupakan yang aku katakan eonni. Erg, jeongmal, eonnie! Berhenti membicarakan pria itu,”

Hyejin tertawa terbahak-bahak. “Barusan aku bilang padanya kau ada di kantor hari ini. Kau tahu, kan, siapa yang kumaksud?”

“Terserah eonni, toh dia tidak akan menemuiku,”

“Kalau dia sampai menemuimu?”

“Tak mungkin,”

“Kau tidak bisa terus menghindar, sayang. Hadapi dia atau kau akan menyesal.”

Sebuah ketukan terdengar menandakan pasien Hamun yang lain sudah datang. Ia merasa beruntung karena akhirnya ia punya alasan untuk menghentikan pembicaraannya. “Eonni, aku ada pasien. Salam buat Jongwoon oppa. Nanti kita ngobrol lagi. Bye.”

“Selamat siang.” sapa pasien itu.

Hamun menutup berkas milik Marcus tadi dan mengambil berkas lain yang ada di sisi mejanya.”Selamat siang, Lee… Donghae-ssi?” balas Hamun setelah ia melihat nama yang tertera dengan jelas diberkas tersebut.

Hamun mau tidak mau mengangkat kepalanya dari dokumen pasien untuk melihat sosok pria di depannya yang sudah lama tidak ia temui namun masih tertanam kuat dalam ingatannya.

“Ada yang bisa kubantu?” tanya Hamun berusaha menguasai diri dari keterkejutannya.

“Hai Hamun-ssi. Apa kabar?” sapa pria itu dengan senyumnya.

“Baik. Silahkan duduk. Apa yang bisa kubantu?” tanya Hamun lagi dengan sikap seprofesional mungkin. Ia tak akan membiarkan pria dihadapannya membuatnya goyah.

“Aku tidak tahu apa kau bisa membantuku atau tidak tapi aku harus mencobanya.”

“Aku akan berusaha sebaik mungkin untukmu. Apa yang bisa aku lakukan?”

Donghae menatap Hamun lekat. “Ada seorang gadis yang pernah datang dan mengisi hari-hariku. Ia membuatku tertawa di masa-masa terpurukku. Tanpa gadis itu sadari, ia membuatku lupa pada mantan kekasihku padahal kupikir aku tak mungkin melupakan kekasih yang pernah sangat kucintai itu. Gadis itu selalu bersamaku dan aku merasa bahagia saat bersamanya. Saat itu kupikir aku hanya menyukainya dan tidak berniat lebih dari sekedar teman. Namun, saat ia tiba-tiba menghilang dari kehidupanku.. aku sadar kalau ternyata gadis itu sudah membuatku mencintainya. Sangat. Rasa sakit yang ia tinggalkan jauh lebih menyakitkan dibandingkan saat mantanku memutuskanku. Selama dua tahun ini, aku tidak dapat melupakannya,” ceritanya. Ia tidak mengalihkan tatapannya dari Hamun sejak tadi.

“Apa kau masih mencintai gadis yang tiba-tiba meninggalkanmu itu?” tanya Hamun.

“Masih,”

“Apa kau pernah memberikan kejelasan padanya kalau kau mencintainya?”

“… Tidak,”

“Kalau begitu, apa kau pernah berusaha mencarinya selama dua tahun ini?”

“Ya,”

“Solusi yang bisa kuberikan padamu hanya satu. Saat kau bertemu dengannya, kau harus menyampaikan padanya kalau kau mencintainya,” jelas Hamun.

“Hamun, Aku…mencintaimu.” kata Donghae akhirnya.

“Mwo?”

“Aku melakukan solusi yang dianjurkan oleh psikologku. Aku mencintaimu,” jelasnya.

“Ha ha ha. Well,”

“Aku serius.”

“Lee Donghae-ssi, kau sudah 2 tahun tidak bertemu denganku dan bagaimana bisa kau bilang kau mencintaiku?”

“Aku memang mencintaimu. Sejak pertama mengenalmu, aku sudah tertarik padamu.”

“Tertarik tidak berarti kau mencintaiku,” jawab Hamun sambil tertawa sinis. “Kau tidak pernah mencariku.”

“Sudah kukatakan tadi, aku berusaha mencari. Kau yang selalu menghindar dariku, cantik.”

Hamun langsung mengalihkan pandangannya pada dokumen yang ada di mejanya mendengar panggilan ‘cantik’ dari Donghae. Ia berusaha tidak tenggelam ke dalam rayuan pria itu.

“Aku hanya ingin menjaga diriku sendiri.”

“Dengan cara tiba-tiba menghilang?”

“Lee Donghae-ssi, hidup itu semua pilihan. Kau memilih kembali pada masa lalumu dan aku memilih menjalani masa depan. Kita tidak akan bisa bertemu.”

Donghae tersenyum lembut yang tidak bisa Hamun dapat dari siapapun. Senyuman lembut khas Lee Donghae. Ia bangkit dari bangku pasien dan berjalan mendekati Hamun. Ia berdiri dan menyandarkan tubuhnya pada meja kerja Hamun sedangkan Hamun tidak bergeming dari kursi kerjanya. Tangannya meraih wajah Hamun dan mendongakan wajah itu sehingga Hamun mau tak mau menatap Donghae. “Aku tidak pernah menengok ke belakang sejak bertemu denganmu. Kau yang membuatku seperti itu. Aku, Lee Donghae, mencintaimu, Kang Hamun. Kau harus segera sadar, aku masa depanmu.”

Donghae berada terlalu dekat sehingga memberikan efek yang tidak terlalu bagus untuk jantung Hamun. “Aku tidak percaya. Tuan Lee, aku masih punya banyak pasien. Kau bisa pulang kalau urusanmu sudah selesai,” elak Hamun sembari menjauhkan tangan Donghae dari wajahnya.

Bukannya menjauh, Donghae membungkukan tubuhnya sehingga mereka semakin mendekat. Kini hanya ada sela setipis kertas antara dirinya dengan gadis pujaannya. “Aku akan selalu menghantuimu sampai kau percaya perasaanku,” kata Donghae sambil tersenyum lalu mencium Hamun tepat di bibir gadis itu.

“Bye, Hamun. Aku akan datang terus sampai kau tidak mengeraskan hatimu lagi,” pamit Donghae. Ia mencium kening Hamun sebelum ia beranjak menuju pintu keluar.

“….”

“Kau curang,” kata Hamun yang membuat Donghae tidak jadi membuka pintu ruangan itu. Ia memutar tubuhnya dan mendapati Hamun menatapnya dengan mata yang sudah berair. “Kau curang,” katanya lagi. Kali ini Donghae mendengar dengan jelas kalau suara Hamun bergetar.

Hamun segera menghapus air matanya yang tetap lolos walaupun ia sudah berusaha keras menahannya. “Kau membuatku tampak seperti gadis bodoh yang tak bisa melupakan seorang pria yang bahkan tidak mencintainya,”

“Aku mencintaimu, Hamun,” sela Donghae meluruskan pemikiran Hamun.

“Diam. Jangan bergerak. Jangan bicara. Aku tak suka disela,” kata Hamun lagi sembari ia kembali mengusap pipinya.

“Kau membuat seorang Kang Hamun yang sudah kuliah jauh-jauh di luar negeri tampak kekanak-kanakan karena sebenarnya aku ingin membalasmu. Aku ingin membuatmu merasakan sakit yang aku rasakan selama ini. Aku tak ingin dengan mudah kembali padamu. Aku ingin melihatmu memperjuangkan aku lebih lama lagi. Tapi.. tapi..,” Hamun tak bisa melanjutkan kalimatnya karena tangisnya mulai menderas.

“Tapi aku tak bisa. Aku terlalu menyayangimu,” ujar Hamun akhirnya. Kalimat terakhir itu membuat tangis Hamun menderu. Ia menutup wajahnya karena tak ingin Donghae melihat kondisinya yang sangat kacau.

Tiba-tiba saja, Hamun merasa kursinya diputar dan sebuah tangan menariknya, membuatnya terjatuh dalam sebuah dekapan. Hamun tahu, ini kehangatan yang selalu Donghae berikan untuknya. “Aku yang bodoh. Maafkan aku. Hamun, aku juga sangat menyayangimu. Maaf baru sekarang aku mengatakan hal ini padamu,” kata Donghae. Tangis Hamun membuncah. Ia tak bisa membohongi dirinya lagi. Ia membalas pelukan Donghae dengan erat.

“……”

“Aku masih ada pasien, lepaskan aku,” kata Hamun tiba-tiba sambil mendorong Donghae menjauh dari tubuhnya. Hamun kaget saat ia menengadahkan kepalanya untuk melihat Donghae, ia mendapati wajah pria itu juga memerah dan matanya berair. Mau tak mau, Hamun tersenyum melihat hal itu. “Cengeng,” ejek Hamun sambil mengusap wajah Donghae dari air matanya. Hamun mengambil tisu dan menyeka ingus dari hidung Donghae.

“Biarkan saja. Toh, itu tidak akan mengubah perasaanmu, kan?” tanya Donghae. Kini senyumnya merekah. Ia juga mengusap air mata Hamun dan menyeka hidung Hamun.

“Kau yakin bisa mengatasi pasien dengan emosi seperti ini?” tanya Donghae.

Hamun merapikan bajunya dan kembali duduk di kursi kerjanya. “Oppa, kau terlalu meremehkanku,”

Donghae tertawa mendengar hal itu. Ia mengacak rambut Hamun. “Kebetulan hari ini aku tidak ada kerjaan. Aku akan menunggu di luar. Kita makan siang bersama. Tidak usah bekerja terlalu keras. Aku masih sanggup menanggung biaya hidupmu.”

Hamun kembali menatap Donghae dan merasakan jantungnya seakan berhenti berdetak. Perasaan hangat seolah sedang menyelimuti seluruh tubuhnya dan terasa ada magnet yang membuatnya tidak bisa terlepas dari Donghae.

“Aku masih ada dua pasien lagi,” ujar Hamun kemudian.

Donghae tersenyum lembut dan membelai kepala gadisnya dengan penuh kasih sayang. “Seribu pasienpun aku masih sanggup menunggu, sayang.”

*****

Song Hyejin
Apa kalian tidak punya tempat makan lain?

Minah Mun
Aku sedang diet gorengan!

Lee Donghae
Diam kalian. Diam. Diam. Diam.
Eric hyung, Jongwoon hyung, tolong buat mereka tenang.

Kim Jongwon
Mian. Itu susah. –Eric Jongwon

Minah Mun
Kau lupa berkat siapa kau bisa menemuinya?

Song Hyejin
Dasar kacang lupa kulit!

Lee Donghae
Kalian diam saja disana.
Aku tak tanggung kalau Hamun mengenali kalian.
Kalian berempat terlalu mencolok dengan kostum penguntit kalian.
Ha ha ha ha. Bye.

“Kau sudah bekerja tetap saja mentraktirku di restoran cepat saji,” sindir Donghae yang membuat Hamun menatapnya kesal.

“Cari pacar yang lain sana kalau oppa tidak suka,” balas Hamun.

Donghae tersenyum. “Aku senang saat kau mengatakan hal itu. Itu berarti kau sudah mengakui kalau kau sekarang adalah pacarku,”

Melihat wajah pria itu membuat Hamun mau tak mau juga ikut tertawa. Sampai kapan pun ia tak akan bisa benar-benar marah pada pria ini.

“Hamun, apa kau tahu sebenarnya tadi aku hanya pura-pura kuat? Actually, aku sudah mau menangis karena kau berulang kali berkata kalau kau tidak percaya pada perasaanku,” kata Donghae membuka pembicaraan.

Song Hyejin
Dasar cengeng

Minah Mun
Cepat lamar Hamun!!!! Mau tunggu sampai dia ambil S3 di luar negeri?!

Hamun mengangguk sambil memakan ayamnya. “Aku tahu,”

“Bagaimana bisa?” tanya Donghae heran.

“Aku belajar mengenai micro expression saat kuliah disana. Aku beberapa kali ikut training bahkan mendapatkan lisensi. Aku bisa langsung tahu jika ada orang yang berbohong padaku. Saat ini aku sama canggihnya dengan lie detector. Makanya aku tahu oppa tidak berbohong saat menyampaikan semua perasaanmu tadi,” jelas Hamun. “Ah, harusnya aku merekam semua omongan oppa tadi,”

Donghae tersenyum mendengar hal itu. “Aku mencintaimu. Aku akan selalu mengatakan hal itu sampai kau bosan,” ujar Donghae sembari mencuri ciuman Hamun. “Karena kau sudah belajar dengan rajin selama disana, ini hadiah untukmu,”

Donghae memasangkan sebuah cincin di jari manis tangan kiri Hamun. “Mulai detik ini, kau bukan pacarku tapi tunanganku. Aku tidak terima penolakan,”

Song Hyejin
DASAR TIDAK ROMANTIS! KEMANA KEROMANTISANMU SELAMA INI?! –HYEJIN MINAH

Hamun tersenyum melihat cincin itu lalu menatap Donghae lembut. “Aku tak akan menolaknya. Aku tahu sebenarnya kau sangat nervous dan takut kalau aku menolaknya. Iya, kan? Aku yakin, sih, pada kemampuanku jadi aku juga yakin kalau aku tak salah. Terima kasih, kali ini kau tidak membuatku menunggu terlalu lama,” ujar Hamun sambil memberikan kecupan di pipi Donghae.

Donghae tersenyum sambil menggenggam tangan Hamun. “Kau mengerikan,” katanya.

“Ah, sepertinya ada orang lain yang harus kita beritahu kabar baik ini,” ujar Hamun. Ia memutar tubuhnya dan berseru, “Hyejin eonnie! Minah eonnie! Jongwoon oppa! Eric oppa! Donghae oppa sudah melamarku! Terima kasih karena kalian telah membantu Donghae oppa,”

Donghae tertawa terbahak-bahak melihat ke empat orang itu yang sudah mati kutu di tempatnya. Begitu juga dengan Hamun.

Lee Donghae
Aku tak tanggung. Aku tak tanggung. Rasakan! Rasakan! HA HA HA

Song Hyejin
Diam kau Donghae. Diam!

“Bagaimana kau tahu?” tanya Donghae disela tawanya.

“Kau melirik ke meja itu saat kita masuk ke tempat ini. Saat berbicara denganku, kau sesekali melihat ke arah mereka. Makanya aku tahu. Setelah melihat penampilan Hyejin eonnie dan Minah eonni tadi, akhirnya aku sadar kalau mereka yang mengikuti kita saat makan bimbimbap 2 tahun lalu,” kata Hamun.

Minah Mun
Donghae sialan! Ekspresimu terlalu mudah dibaca oleh Hamun! Aish! Aku lupa kalau Hamun sudah dapat lisensi untuk micro expression!

Donghae mengacak rambut Hamun. “Kau mengerikan, tapi aku semakin sayang padamu,”

Hamun tersenyum. Ia tahu kalau apa yang Donghae katakana barusan adalah kejujuran. “Nado. Saranghae,”

Kkeut!