Hahahhahahah.
Upload Ff nya gak tanggung2 yaaah…
Maafkan. Semoga pada suka…

****

Mr. Mun
Aku akan sampai di Seoul jam setengah 11 siang. Kau duluan saja ke rumahku. Tunggu aku di sana ya. Sampai jumpa, yeobo. Saranghaeeeeeeeeek!

MinAh membaca pesan yang masuk ke handphone-nya begitu jaringan sudah bisa digunakan kembali karena ia sudah mendarat. Dengan cepat, MinAh membalas.

Mrs. Mun
Okay.

Sayang, pesan tersebut tidak sampai. Eric sedang berada di pesawat dari Beijing menuju kembali ke Seoul. Dengan taksi, MinAh pergi ke rumah Eric, tentu saja setelah menitipkan sekoper besar barang-barangnya kepada salah satu manajer Super Girls.

Sudah seperti rumah sendiri, MinAh memasuki rumah Eric. Mengetahui password rumah itu, letak-letak benda penting di dalam rumah itu, bahkan MinAh tahu letak dan kunci brankas Eric menaruh sebagian benda-benda berharganya yang belum sempat pria itu taruh ke deposit box bank.

MinAh melepaskan sepatu disambut anjing coklat kecil berbulu ikal yang sedang mengendus-endus ujung kakinya. “Gomdoriiiiii!!!”

MinAh menggendong anjing kecil itu menuju ruang santai tempat Eric biasa berleha-leha. “Haii gomdori kecil, apa kabar? Lama tidak bertemu…”

Dengan senang, Gomdori menjilat-jilat wajah MinAh dengan lidah pendeknya. “Euuuh… Gomdori. Jangan jilat aku,” keluh MinAh sambil menjauhkan Gomdori. Tapi kelucuan anjing itu membuat MinAh memeluknya kembali dengan gemas.

“Gomdori, kenapa kau bau Eric Oppa?”

MinAh menyapu seluruh ruangan dengan matanya dan matanya terhenti ke kamar Eric yang sedikit terbuka dan sebuah bayangan yang terjatuh ke depan pintu kamar itu.

“Oppa… Aku tahu kau ada di situ… Keluar saja. Awas kalau kau mau mengagetkan aku,” kata MinAh.

Dengan kecewa karena tidak berhasil mengejutkan MinAh, Eric keluar dari persembunyiannya. Matanya berkilat, menatap kesal anjing kecil di pangkuan MinAh. “Gomdori bodoh. Kalau kau tidak keluar, kejutanku pasti berhasil. Awas kau!”

Eric lalu memindahkan Gomdori dari pangkuan MinAh ke lantai, digantikan dengan kepalanya. “Bagaimana kau tahu aku bersembunyi di kamar?” Tanya Eric.

Bibirnya masih cemberut akibat gagalnya rencana yang ia buat sepanjang penerbangan Beijing – Seoul tapi berkat sebuah ciuman dari MinAh, cemberut sudah berubah menjadi senyuman.

“Oppa, Kau bawa oleh-oleh apa untukku dari Beijing?” Tanya MinAh.

“Kau sendiri bawakan apa untukku dari Jakarta?” Balas Eric.

“Banyak. Tapi aku taruh di koper. Kopernya aku titip ke manajer untuk dibawa ke dorm.”

“Aku tidak bawa apa-apa. Habis tidak sempat. Tadi saja aku hampir terlambat naik pesawat.”

“Haiiishhh! Oppa, neo… Jinjja!”

Eric tersenyum polos. “Tapi aku bawa wine baru. Aku melihatnya di duty free bandara,” kata Eric dengan semangatt lalu bangkit dari tidurannya dan kembali ke kamar untuk mengambil wine yang dia maksud.

“Katanya hampir terlambat tapi sempat beli wine. Maksudnya apa sih?”

Eric hanya menyeringai polos, wajahnya tidak ada ekspresi. Ia menunjukkan wine-nya dengan bangga kepada MinAh. “Ayo kita minum,” kata Eric.

“Wine-mu beberapa hari lalu kan belum habis, Oppa. Kenapa harus buka yang baru?”

Eric seperti tidak mendengarkan MinAh. Ia pergi ke dapur untuk mengambil pembuka tutup botol wine sekaligus dua gelas anggur untuk MinAh dan dirinya sendiri. “Minwoo dan Junjin sudah menghabiskannya kemarin,” kata Eric.

Eric pun membuka botol wine tersebut dan menuangkannya sedikit-sedikit ke dalam gelas. “Kenapa punyaku lebih sedikit?” Protes MinAh melihat anggurnya yang hanya seperempat gelas sedangkan anggur Eric memenuhi separuh gelasnya.

“Anak gadis tidak boleh minum wine banyak-banyak. Cheers!” Eric menyentuhkan ujung gelasnya ke ujung gelas MinAh dan meminumnya.

“Sudah tahu jelas-jelas aku bukan lagi seorang gadis. Cih!” Gerutu MinAh di dalam gelasnya.

“Apa kau bilang?” Tanya Eric.

“Tidak ada.”

MinAh menghabiskan wine-nya dengan cepat dan kemudian menuangkannya kembali. Kali ini sama banyaknya dengan porsi Eric. “Awas mabuk,” kata Eric memperingatkan.

MinAh hanya mengangguk-angguk tanpa mendengarkan. Ia terus minum dan minum sampai ia merasa pipinya memanas dan kepalanya pusing.

“Oppa,” racau MinAh dengan tangannya meraih-raih kemeja Eric.

Eric melihat kekasihnya dan sudah hafal luar kepala kebiasaannya jika wanita itu sudah mabuk. Eric meletakkan gelasnya agar dapat memegang MinAh.

“Oppa-ku sayang yang paling tampan.” MinAh kembali meracau dengan tubuhnya yang merangkak mendekati Eric.

“Apa, sayang? Kau sudah mabuk ya?”

“Tidak. Aku tidak mabuk,” kata MinAh. Ia menarik Eric menjadi semakin dekat dengan dirinya lalu mencium pria itu dengan intens.

“Kau makin tampan,” kata MinAh lagi lalu kembali mencium Eric. Tangannya melingkar di leher Eric.

Eric melihat wajah MinAh yang semakin lama semakin merah akibat kebanyakan minum anggur dan bagi Eric itu adalah wajah tercantik MinAh.

“Mun Jung Hyuk-ku tersayang.”

MinAh memberikan jarak antara dirinya dengan Eric tanpa menyadari keseimbangannya yang terganggu. Beruntung, Eric dengan sigap menahan punggung MinAh. “Sebaiknya kau istirahat saja dulu ya,” kata Eric yang ditolak mentah-mentah oleh MinAh.

“Tidak. Aku mau di sini saja,” kata MinAh keras kepala. MinAh mendorong Eric sampai punggung pria itu menyentuh sandaran sofa dan kemudian menduduki perutnya. “Oppa, kau benar-benar tampan.”

Eric tidak punya pilihan selain berada di bawah MinAh, bersiap siaga karena bisa kapan pun wanita itu kehilangan keseimbangan. Ia membiarkan wanitanya berbuat apapun terhadapnya sambil bersusah payah menahan keinginan untuk membalas.

—–

“Kyaaaa!!!” MinAh menjerit kaget melihat dirinya terbangun dengan Eric yang berada di bawahnya membuat pria itu terbangun.

Eric membuka matanya perlahan sambil tersenyum. “Sudah sadar? Kau mabuk tadi. Jadinya begini,” kata Eric menunjuk posisi mereka yang tidak berubah sejak MinAh mendudukinya.

“Tapi kau tidak berbuat yang aneh-aneh kan, tuan Mun?”

“Heii… Aku tidak pernah menyerang wanita yang sedang tidak sadar ya.”

MinAh mengingat-ingat apa dirinya pernah bermesraan ketika sedang mabuk. Jawabannya : pernah!

“YAA! Siapa bilang tidak pernah? Yang di Jeju tahun lalu itu apa?”

Eric berusaha mengingat kejadian ketika ia berlibur dengan member SG dan kekasih mereka. “Bukan aku yang menyerangmu. Kau yang menyerangku.”

“Aaaargh! Molla!”

MinAh bangkit berdiri dan kemudian masuk ke dalam kamar Eric.

“Oppa, kemejamu yang kuning kotak-kotak dimana?” Seru MinAh dari dalam kamar.

“Kotak-kotak kuning yang mana??” Balas Eric dengan suara agak keras supaya terdengar sampai ke kamarnya.

“Yang aku belikan dari Paris! Oppa! Jangan bilang kau melupakannya!”

“Cari saja di lemari. Aku tidak memindahkannya kemana-mana,” kata Eric yang sudah sibuk bermain dengan Gomdori.

Lima belas menit kemudian, MinAh baru kembali muncul dengan memakai kemeja kuning kotak-kotak. “Aku pinjam bajumu ya, Oppa,” kata MinAh dengan cuek.

“Okee,” kata Eric dengan santai.

“Aku pulang ya, Oppa.” Baru membuat Eric tidak santai. Diturunkannya Gomdori dan kemudian menarik MinAh.

“Kau baru 4 jam di rumahku. Kenapa sudah mau pulang?” Tanya Eric sambil merangkul MinAh dengan posesif.

“Mun ahjussi. Aku harus syuting jam 6 sore nanti. Aku tidak mau kena marah manajer karena belum berada di ruang make up jam segini,” jelas MinAh.

“Ini baru jam 3 sore. Masih ada 3 jam lagi.”

“Aku masih harus mandi, make up, menata rambut dan lain sebagainya.”

Dengan kesal, Eric memanyunkan bibirnya lagi. MinAh hanya tersenyum lalu mencium pria kesayangannya dengan mesra. “Selesai syuting, aku akan langsung menemuimu lagi ya, Mr. Mun. Jangan ngambek. Aku mencintaimu.”

“Aku juga tapi aku baru akan tersenyum kalau kau benar-benar kembali nanti.”

MinAh kembali mencium kekasihnya. “Tentu saja aku akan kembali. Aku pulang dulu ya, Mr. Mun tampan.”

“Kau mau makan apa nanti malam?”

“Apa saja asal yang tidak membuatku susah bergerak,” kata MinAh sambil mengerlingkan matanya. “Sampai jumpa, Oppa. Bye!”

Eric hanya tersenyum malu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal membayangkan malam panjang yang akan dilalui dengan MinAh nanti. “Sepertinya aku mengajarinya terlalu banyak. Aaargh!!!” kata Eric di dalam hatinya.

Puk! Puk! Eric menepuk-nepuk pipinya untuk menormalkan kembali imajinasinya.

Kkeut!